Sanubari Teduh-271-Racun Batin Menutupi Kebijaksanaan
Saudara se-Dharma sekalian, di seluruh dunia, cinta kasih insan Tzu Chi mengandung kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Mereka memandang semua makhluk bagai keluarga dan tidak tega melihat semua makhluk menderita. Kita harus bersumbangsih semaksimal mungkin. Baik tsunami yang disebabkan oleh gempa maupun topan akibat kondisi iklim ekstrem, dalam setiap bencana yang timbul, insan Tzu Chi selalu mendampingi warga korban sejak awal hingga mereka pulih. Ini berlaku di berbagai tempat. Mereka memiliki cinta kasih yang sama. Dalam setiap waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia, sikap mereka selalu sama. Selain itu, ada dua kisah dari dua orang yang berusia sama, ada dua kisah dari dua orang yang berusia sama, tetapi memiliki pemikiran berbeda. Di Australia ada seorang lansia berusia 97 tahun. Nenek ini ingin mewujudkan mimpinya, yaitu memiliki sebuah rumah sendiri. Namun, dia sendiri sudah berusia 97 tahun dan hidup sebatang kara. Namun, dia tetap ingin mewujudkan impiannya. Dia mengajukan pinjaman untuk membeli sebuah rumah yang dibayar dengan cicilan selama 27 tahun. Bayangkan, saat lunas, berarti dia akan berumur 100 tahun lebih. Akan tetapi, dia sangat berani. Dia merasa dirinya pasti dapat hidup sampai saat itu. Dia juga merasa dia masih dapat menghuni rumah itu hingga sekitar 20 tahun lagi. Cerita ini cukup menarik. Namun, impiannya hanya bagi dirinya sendiri. Ada sebuah kisah lain dari seorang lansia yang juga berusia 97 tahun. Di Australia ada banyak imigran gelap atau imigran baru yang tidak memiliki tempat tinggal. yang tidak memiliki tempat tinggal. Nenek ini juga berusia 97 tahun. Dia hidup sulit seumur hidupnya dan mengandalkan tenaganya sendiri untuk mencari nafkah sebagai penjahit. Namun, usianya juga sudah lebih dari 90 tahun. Dia telah bekerja dengan mesin jahitnya selama hampir delapan puluh tahun.
Namun, kini daya penglihatan nenek itu sudah tidak baik. Mendengar ada sebuah keluarga beranggotakan 10 orang yang tak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan yang tak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan serta mengalami kesulitan hidup, nenek ini pun berniat untuk menyumbangkan mesin jahit yang mulanya dia gunakan untuk mencari nafkah itu kepada keluarga ini. Ini juga salah satu wujud cinta kasih. Saat usianya sudah begitu lanjut, dia merasa bahwa sudah saatnya dia merelakan. dia merasa bahwa sudah saatnya dia merelakan. Dia dapat memilih untuk menolong sebuah keluarga beranggotakan 10 orang dengan memberikan mesin jahitnya dan mengajari mereka membuat pakaian untuk mencari nafkah. Ini juga merupakan satu sikap hidup. Nenek dalam dua kisah tadi berusia sama dan sama-sama hidup sebatang kara, tetapi memiliki pemikiran berbeda. Demikianlah semua makhluk. Semua makhluk sangat menderita. Semua makhluk hidup di dunia ini dan melewati setiap hari dengan sibuk dan risau. dengan sibuk dan risau. Semua makhluk belum lepas dari batin awam, kecuali mereka memasuki Jalan Bodhisattva dan mampu mengikhlaskan segalanya, termasuk uang dan tenaga, demi orang lain. Jadi, untuk bisa bebas dari kondisi batin awam, kita harus memiliki hati Bodhisattva. Makhluk awam penuh kekikiran dan ketamakan. Ketamakan, kemelekatan, kesombongan, kebencian, dan sebagainya, inilah yang harus kita tinggalkan sebagai praktisi Buddhis untuk dapat terus melangkah maju. Intinya, Buddha membabarkan tentang tiga racun. Semua makhluk awam di dunia ini tidak lepas dari tiga racun, yaitu ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Dengan adanya ketamakan, batin kita akan teracuni, niat baik kita akan teracuni. Sebaliknya, jika kita dapat membuang ketamakan, maka niat untuk berdana dan cinta kasih kita akan segera tumbuh. Jadi, kita harus tahu bahwa asalkan dapat mengubah cara pikir dan mengubah niat, kita akan mampu bersumbangsih. Jika dikuasai oleh pikiran awam, maka seperti nenek yang hampir berusia 100 tahun, tetapi masih ingin hidup 20 tahun lagi tadi. Ini juga merupakan sejenis ketamakan.
Berikutnya adalah kebencian. Kebencian juga merupakan racun. Ini membuat batin dipenuhi kemarahan. Jika kebencian dan kemarahan timbul, Jika kebencian dan kemarahan timbul, ia akan menjadi bagai kobaran api. Inilah yang disebut api kemarahan atau racun kebencian. Saat di dalam batin timbul kemarahan, kita akan merasa sangat tidak tenang. Api kemarahan akan terus berkobar. Sesungguhnya, di masa sekarang ini, banyak orang yang marah tanpa sebab, mudah terbakar api kebencian. Akibatnya, demikian pula yang terjadi dengan alam. Sebuah lahan yang luas di Australia terbakar habis dalam beberapa hari. terbakar habis dalam beberapa hari. Lebih dari enam puluh ribu hektare lahan terbakar. Kebakaran besar ini sangat menakutkan. Apakah penyebabnya? Ada kabar bahwa itu disebabkan oleh ulah manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa itu adalah murni bencana alam. Yang dimaksud bencana alam adalah gelombang panas. Akibat gelombang panas ini, muncullah titik-titik api. Akibat titik-titik api yang kecil, lahan yang begitu besar hangus terbakar. Ada pula kabar yang mengatakan bahwa ada orang yang sengaja menyulut api. Bayangkan, jika memang disengaja, apa isi pikiran orang yang melakukan itu? apa isi pikiran orang yang melakukan itu? Racun kebencian. Orang ini pasti memiliki rasa jengkel atau ketidakpuasan terhadap dunia ini. atau ketidakpuasan terhadap dunia ini. Kejengkelan dan dendam ini berasal dari racun kebencian. Ini membuat batinnya tidak seimbang. Ini sungguh menakutkan apabila benar-benar disebabkan oleh manusia. Ulah manusia di dunia ini sungguh banyak menyebabkan malapetaka. Kita juga mendengar di Hualien juga ada kisah sebuah keluarga. Suami dan istri dalam keluarga ini mengalami pertikaian karena kondisi hidup yang dialami. Sang suami gemar berjudi dan mabuk-mabukan. Dia tidak bertanggung jawab terhadap keluarga. Sang istri harus bekerja membanting tulang. Jadi, batin kedua orang ini tidak seimbang.
Jadi, batin kedua orang ini tidak seimbang. Yang satu harus membanting tulang demi keluarga sehingga timbul ketidakpuasan dalam hatinya, sedangkan yang lainnya tidak mampu mengendalikan pikiran sehingga menjalani hidup yang menyimpang, tidak bertanggung jawab terhadap keluarga, dan gemar mabuk-mabukan serta berjudi. Jadi, sikap batin seperti ini bagaikan dua buah api yang saling bertemu. Akibatnya, terjadilah ledakan gas sungguhan. Kobaran api membakar tempat tinggal mereka. Tiga orang dalam keluarga itu mengalami luka-luka baik luka berat maupun ringan. Mereka dirawat di rumah sakit kita. Mereka dirawat di rumah sakit kita. Entah apakah mereka bisa selamat atau tidak. Sang suami mengalami luka bakar puluhan persen. Kondisinya sangat kritis. Kondisi yang demikian sungguh membawa penderitaan. Dia mengalami luka bakar di sekujur tubuh dan pasti mengalami rasa sakit yang luar biasa. Jika dia tahu bahwa nyawanya akan selamat tetapi akan mengalami rasa sakit yang menyiksa, dia mungkin akan menyesal mengapa dahulu dia bersikap begitu dan melakukan tindakan yang merugikan dan membawa malapetaka bagi keluarga. Sang suami mengalami luka berat, begitu pula dengan anaknya. Bagaimana dengan istrinya? Jika dia tahu akan tertimpa musibah ini, mungkin setelah bersabar sekian lama, dia tidak akan terpancing emosi sesaat. Sesungguhnya, kapankah batin manusia dapat tenang dan terkendali? Beginilah makhluk awam. Kemarahan sesaat dapat membawa dampak panjang. Begitulah, sebersit kemarahan sesaat menyebabkan malapetaka bagi satu keluarga. Selain itu, ia juga bisa menimbulkan kerusakan bagi alam dan bumi ini. Bayangkan, semua ini hanya diawali sebersit pikiran yang penuh racun kebencian yang kemudian membangkitkan kemarahan. Contoh seperti ini sangat banyak di dunia. Contoh seperti ini sangat banyak di dunia. Berikutnya adalah kebodohan. Berikutnya adalah kebodohan. Kebodohan juga termasuk racun. Kebodohan sama dengan kegelapan batin. Ini dapat menyesatkan pikiran, kehidupan, dan hubungan antarmanusia. Akibatnya, kita tak dapat berpikiran terbuka dan tidak dapat memahami masalah dengan jelas. Inilah kegelapan batin. Ketamakan dan kebencian bersumber dari kegelapan batin ini.
Jadi, racun kebodohan atau kegelapan batin membutakan pikiran kita. Semua makhluk bisa memiliki ketamakan dan memiliki kebencian akibat adanya kebodohan batin ini. Jadi, racun ini lebih berbahaya dari yang sebelumnya. Dengan adanya kebodohan, semua makhluk tidak memahami kebenaran dan terjebak kekeliruan sehingga melakukan banyak tindakan salah. Inilah racun kebodohan. Di dalam Sutra Seratus Perumpamaan dikisahkan sebuah cerita yang menarik. Ada seorang penggembala kambing. Ada seorang penggembala kambing. Dia memelihara banyak kambing. Di dalam hidupnya, sejak kecil dia sudah memelihara kambing, mulai dari satu ekor, dua ekor, empat ekor, dan terus bertambah hingga dia berusia puluhan tahun. hingga dia berusia puluhan tahun. Bayangkan, berapa banyak kambing peliharaannya? Kambing peliharaannya sangat banyak. Setiap hari orang ini menghitung kambingnya. Melihat kambingnya bertambah karena ada induk kambing yang melahirkan anak, dia sangat gembira. Namun, usianya sudah setengah baya. Dia melihat orang lain yang sebaya dengannya sudah berkeluarga, memiliki istri dan anak. Dia juga merasa agak iri. Akan tetapi, dia sendiri setiap hari hanya menghitung kambing-kambingnya. Hari demi hari pun berlalu. Usianya terus bertambah lanjut. Meski dia merasa dirinya harus berkeluarga, memiliki istri, dan memiliki anak, Namun, pola hidupnya tidak berubah, dia hanya terus menjaga kambing-kambingnya. Suatu hari, ada seseorang mengatakan kepadanya, “Kamu harus mencari istri.” “Kamu harus membangun keluarga.” “Kamu sangat kaya.” “Lihatlah, kambingmu sangat banyak.” “Kamu adalah yang terkaya di desa ini, tetapi masih saja turun tangan untuk menggembala.” “Sudah waktunya kamu berkeluarga.” Mendengarnya, penggembala ini sangat senang dan berkata, “Mau, saya sangat ingin berkeluarga.” “Saya juga tahu saya seharusnya mencari istri dan melahirkan anak.” Orang ini berkata, “Ya, mari saya kenalkan dengan seorang perempuan.” “Baik, bantu kenalkan pada saya,” jawabnya. “Baik, bantu kenalkan pada saya,” jawabnya. Berselang beberapa waktu, orang ini datang lagi dan berkata, “Sudah ada, mari saya kenalkan padamu.” “Gadis ini sangat cantik.” “Benarkah,” tanya si penggembala. “Namun, dia butuh uang,” kata orang itu. “Baiklah, butuh berapa?” Orang ini mengatakan jumlahnya. Penggembala ini segera menjual kambingnya dan memberikan uang pada orang itu. Berselang lagi beberapa waktu kemudian, orang ini berkata, “Istrimu akan melahirkan.” “Benarkah,” tanya si penggembala. “Namun, melahirkan perlu uang.” “Segera saya berikan,” jawabnya. Dia pun segera memberikan uang sejumlah yang dibutuhkan. Berselang beberapa waktu kemudian, orang ini datang lagi dan berkata, “Anakmu sudah boleh menikah.” “Benarkah?” “Saya akan segera menjadi kakek.” “Bagus, cepat, saya harus memberinya uang.” Dia kembali memberi orang itu uang. Setelah kembali berselang beberapa waktu, orang ini datang lagi dan berkata, “Sekarang saya membawa kabar duka bagimu.” “Anakmu sakit.” “Lagu bagaimana?” “Perlu uang.” Penggembala ini kembali memberinya uang. Tak lama kemudian, orang ini kembali dan berkata, “Saya membawa berita duka, anakmu telah meninggal.” Penggembala ini lalu menangis dan membentur-benturkan kepalanya hingga berdarah.
Dia merasa sangat menderita. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha mengatakan bahwa semua makhluk diliputi kebodohan seperti penggembala itu. Dia terus menjaga kekayaannya, tetapi juga ingin memiliki hal lainnya. Dia tidak mampu membangun keluarga sendiri dan terus terjebak pada pikiran keliru. dan terus terjebak pada pikiran keliru. Dia mengira dirinya sudah memiliki segalanya dan bergembira di atas ketidaktahuan. Dia tidak tahu batinnya memiliki celah dan mengalami kebocoran kebijaksanaan. Inilah kebodohan. Jika cerita ini direnungkan baik-baik, Jika cerita ini direnungkan baik-baik, bukankah ini yang terjadi pada manusia di dunia? Ini adalah sebuah perumpamaan. Manusia seperti itu sangat banyak. Dengan perumpamaan ini, sungguh terlihat bahwa kita manusia memiliki banyak pikiran dan pandangan keliru. Banyak ketidakrelaan di dalam batin. Penggembala tadi penuh ketamakan dan tidak mampu mengikis penyakit batinnya. Demikianlah, bukankah kehidupan kita juga seperti itu? bukankah kehidupan kita juga seperti itu? Jadi, adakalanya, saat merasa marah, ada orang yang berkata, “Saya langsung mengingat Kata Renungan Jing Si yang berbunyi marah adalah kegilaan sesaat.” “Saya mengingatkan diri untuk tidak marah dan segera mengendalikan emosi.” Ini bergantung pada kondisi batin. Jika tahu diri ini memiliki ketamakan, mengapa tidak mengubah kekikiran dan ketamakan itu menjadi niat berdana? Sesungguhnya, dalam hidup ini, jika Anda dapat mengulurkan sedikit cinta kasih, maka orang-orang akan mengasihi Anda. Jadi, ketamakan dan kegelapan batin atau kebodohan serta racun kebencian, semuanya merupakan racun pikiran. Saudara sekalian, kita hendaknya dapat selalu menenangkan hati dan sungguh-sungguh merenungkan di dunia ini, dalam hubungan antarmanusia, sesungguhnya bagaimana seharusnya perilaku kita dan bagaimana seharusnya pikiran kita. Harap semua selalu bersungguh hati.