Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-302-Melenyapkan Keburukan dan Membangkitkan Kebajikan Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus senantiasa memiliki hati yang tulus. Kita harus tulus menghadapi orang dan masalah, terlebih kita juga harus tulus saat memberi hormat pada Buddha setiap hari. Tentu bukan hanya tulus, kita juga harus selalu berintrospeksi apakah di dalam batin kita tersimpan keluh kesah, rasa dendam, atau kebencian. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri. Berhubung kita tahu bahwa di masa lalu kita memiliki banyak noda batin, kini kita harus menggunakan hati tertulus memberi penghormatan kepada para Buddha di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hati yang tulus dapat terdengar oleh para Buddha. Pikiran kita harus waspada dan tulus. Di dalam kehidupan sehari-hari, Di dalam kehidupan sehari-hari, sila haruslah kita pegang teguh. Inilah semangat kita

 Dalam melatih diri, kita harus memiliki semangatuntuk mengembangkan kesucian. Sebagai manusia, kita harus menjadi teladan. Baik untuk menjadi teladan maupun untuk berlatih demi diri sendiri, semuanya membutuhkan sila. Sila harus dijaga dalam keseharian untuk mencegah kesalahandan menghentikan keburukan. Inilah fungsi dari sila. Ia mencegah terwujudnya niat yang keliru. Jika suatu saat niat yang keliru timbul dan hendak terwujud ke dalam tindakan, maka kita harus segera menghentikannya. Inilah yang disebut sila. Sila berguna untuk mengingatkan kita untuk selalu waspada dalam keseharian. Jika kita dapat selalu waspada, barulah di dalam pikiran kita tidak melulu timbul noda batin ataupun kebencian. Jadi, kita harus sangat waspada

 Dengan kewaspadaan ini,barulah pikiran bisa tulus. Tanpa kewaspadaan, tanpa pencegahan terhadap kesalahan ataupun keburukan dalam keseharian, bagaimana mungkin kita membahas ketulusan? Jadi, ketulusan kita tak dapat dipisahkan dari kewaspadaan. Jadi, dengan kewaspadaan dan ketulusan, barulah tubuh, ucapan, dan pikiran kita bisa murni. Sebelumnya, saat membahas 18 keistimewaan, kita juga membahas tentang tubuh, ucapan, dan pikiran. Kita terus diingatkan bahwa segala karma tak lepas dari tubuh, ucapan, dan pikiran. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus waspada terhadap tiga pintu karma ini. Kita harus mengendalikantubuh, ucapan, dan pikiran kita. Tentu, jika kita dapat mengendalikan ketiganya, maka segala perbuatan kita akan didasari ketulusan. Ini bagaikan rantai yang bertautan. Jadi, dengan kewaspadaan dan ketulusan, barulah tubuh, ucapan, dan pikiran kita bisa murni. Dengan begitu, barulah kita dapatmelenyapkan niat buruk dan menjalin jodoh baik

 Saudara sekalian, jika di dalam pikiran kita ada sedikit niat buruk, kita tak dapat menjalin jodoh baikdengan orang lain. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Jangan sampai ada sedikit punniat buruk dalam pikiran kita. Bukan hanya itu, kita pun harus selalu menjaga niat baik. Rasa welas asih harus selalu dipertahankan. Dengan begitu, barulah kitadapat menjalin jodoh baik. Menjalin jodoh baik sangatlah penting. Sering dikatakan bahwa sebelum menjadi Buddha,seseorang harus menjalin jodoh baik. Tujuan kita mempelajari ajaran Buddha adalah demi mencapai kebuddhaan. Jika kita tidak menjalin jodoh dengan orang lain, berarti jalan pelatihan kita masih panjang. Jadi, kita harus menjalin jodoh dengan semua makhluk. Inilah yang sering saya katakan

 Jika dapat melakukan ini, jika jodoh baik sudah terjalin, maka kita akan dapat memengaruhi semua orang. Setiap orang memiliki welas asih dan niat baik di dalam hatinya. Jika semua orang dapat membangkitkan ketulusan dan kewaspadaan di dalam keseharian serta berdoa lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, maka dunia akan bebas dari bencana. Saudara sekalian, hati yang tulus amat penting. Dalam setiap tindak tanduk kita, asalkan dibarengi dengan niat yang tulus, maka akan terdengar oleh para Buddha. Bukankah ini juga yang dikatakanorang zaman dahulu? “Tiga inci di atas kepala adalah dewa.” Terlebih lagi, para Buddha, Bodhisattva,dan makhluk pelindung Dharma, asalkan kita membangkitkan niat tulus, tentu getaran dari ketulusan ini akan terdengar oleh Mereka semua. Jika kita semua memiliki cinta kasih, maka ketulusan ini akan menjadi jembatan penghubung kepada para Buddha. Jadi, kita harus benar-benar bersungguh hati. Sebelumnya kita sudah membahas berbagai noda batin. Segala noda batin ini ada di dalam keseharian kita

 Kita semua sudah tahu bahwa di dalam kehidupan seperti itu, berapa banyak pelanggaran yang tercipta. Noda batin adalah kekeruhan. Berhubung sudah tahu bahwa kita telah mengundang banyak noda batin, maka kita harus bertobat dengan tulus. Dalam bertobat, kita harus mengandalkan kekuatan para Buddha dan Bodhisattva di masa lalu, masa kini, dan masa depan untuk menjadi saksi suara hati kita. Karena itu, kita harus dengan teramat tulus menyebut nama Buddha. Bukan hanya itu, kita juga harus mengingat keluhuran para Buddha. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus meneladani keluhuran para Buddha. Dengan hati yang penuh hormat dan kekaguman, kita mengumandangkan nama Buddha. Tubuh kita pun bersujud dengan tulus, bersyukur atas lindunganpara Buddha dan Bodhisattva. Jadi, kita harus sangat tulus mengumandangkan nama Buddha dan bersujud pada Buddha. Setiap metode pertobatan tak lepas dari sujud dan pengohormatan yang tulus. Dengan demikian, jika kita memiliki hati yang tulus, berarti  kita sudah benar-benar bersujud pada Buddha

 Setelah bersujud kepada Buddha, kita harus terus mengulang pertobatan kita. Bukan berarti hanya dengan sekali bersujud, lalu Buddha pasti melindungi kita. Bukan. Bersujud kepada Buddha berarti membangkitkan keyakinan kita, membangkitkan rasa hormat kita, dan membangkitkan ketulusan hati kita. Inilah yang terpenting saat bersujud pada Buddha. Setelah bersujud pada Buddha, kita harus terus bertobat. Pertobatan adalah pemurnian. Entah berapa sudah berapa kehidupan sejak masa tanpa awal kita terus melakukan kesalahan dan bertobat, kemudian mengulangi kesalahan, lalu berobat. Kita sering melakukan kesalahan dan sering menyatakan pertobatan. Namun, setelah berobat,kita kembali mengulangi kesalahan. Demikianlah makhluk awam. Jadi, kita harus membuat ketetapan hati. Setelah melakukan berbagai kesalahan, setelah bertobat atas satu noda batin, janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama. Contohnya, kita sudah bertobat atas ucapan kita. “Dahulu saya suka memaki orang lain.” “Dahulu saya melukai orang dengan ucapan kasar.” “Saya telah menciptakan banyakkarma dan jodoh buruk dari ucapan.” “Bukan hanya melukai orang lewat makian, saya juga suka bergosip, membuat hubungan orang menjadi tidak baik.” Dalam skala kecil menyakiti perasaan, dalam skala besar mencelakai keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia. Meski ucapan terkesan sederhana, Meski ucapan terkesan sederhana, dari sana kita dapat menciptakan banyak karma. Jika kita pikirkan dengan saksama, kita tahu bahwa karma ucapan sangat berat.

Berhubung kini kita telah bertekad untuk bertobat atas karma ucapan, maka janganlah mengulangi kesalahan yang sama. Tutur kata kita yang kasar harus diperbaiki. Karena emosi sesaat, kita merasa senang setelah memaki orang. Tabiat buruk ini juga harus diubah. Jadi, arti dari pertobatan adalah menyadari kesalahan masa lalu adalah menyadari kesalahan masa lalu dan bertekad memperbaikinya. dan bertekad memperbaikinya. Begitulah karma ucapan. Bagaimana dengan karma lewat tubuh? Karma lewat tubuh pun demikian. Mengenai tindakan, meski tidak memaki orang lewat ucapan, kita juga bisa melukai orang lewat tindakan. Apakah ini dibenarkan? Tidak benar. Ucapan membawa luka yang tak terlihat. Jika pihak lain tidak mengambil hati, dia juga tidak akan terluka. Namun, jika kita melukai orang pada tubuh, maka kesalahan kita lebih berat. Contohnya, membuat makhluk lain berdarah, ini juga merupakan karma berat. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, segala perbuatan kita terhadap orang lain haruslah tulus. Kalian tentu masih ingat Bodhisattva Sadaparibhuta dalam Sutra Teratai

 Meski orang melemparkan batu ke arah-Nya, meski orang memukuli-Nya dengan tongkat, Beliau hanya menghindar, Beliau hanya menghindar, tetapi tetap menghormati orang itu. “Aku tidak berani membenci kalian, Aku tidak berani marah atau dendam dalam merespons perlakuan kalian.” “Aku tetap menaruh rasa hormat karena kelak kalian juga akan menjadi Buddha.” Begitulah Bodhisattva Sadaparibhuta. Dia selalu menghormati semua orang. Berhubung dapat menghormati semua orang, Beliau tidak akan menindas orang lain. Tidak akan. Jadi, pikiran kita juga harus menyimpan rasa hormat seperti ini. Jadi, jika kita dapat memiliki rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih terhadap semua orang, kita tidak akan menciptakankarma buruk lewat tiga pintu tadi. Jadi, pertobatan kita adalah pertobatan atas kesalahan masa lalu. Kini kita sudah mengetahui kesalahan kita lewat tubuh, ucapan, dan pikiran

 Setelah bertobat, kita tidak mengulanginya lagi. Makhluk awam kerap mengulangi kesalahan. Karena itu, setelah bertobat, kita harus ingat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Inilah pertobatan yang sesungguhnya. Bertobat berarti memperbaiki masa lalu, membina masa depan,melenyapkan keburukan, membangkitkan kebajikan. Tadi kita sudah membahas bahwa segala keburukan di masa lalu harus kita perbaiki. Bukan hanya itu, selain memperbaiki segala tindakan, ucapan, dan pikiran buruk masa lalu, kita juga harus membina masa depan. kita juga harus membina masa depan. Apa yang harus dibina? Kita harus melenyapkan keburukandan mengembangkan kebajikan. Jika dalam pikiran timbul sedikit saja niat buruk, kita harus segera melenyapkannya. Jangan kita mengulangi kesalahan yang sama. Di dalam hubungan antarmanusia, timbulnya gejolak perasaan sulit dihindari, tetapi kita yang sudah bertobat haruslah segera melenyapkan pikiran buruk haruslah segera melenyapkan pikiran buruk saat pikiran itu baru timbul. Jadi, kita harus melenyapkan kejahatan. Setelah itu, kita harus mengembangkan kebajikan. Niat baik kita harus segera diwujudkan

 Inilah yang harus kita lakukan terhadap orang lain. Sesungguhnya, Buddha terus berharap kita dapat selalu mengingatkan diri sendiri. Saat Buddha masih berada di dunia, ada sebuah peristiwa di dalam Sangha. Suatu hari, Buddha bersama-sama yang lainnya pergi mengumpulkan dana makanan. Setelah mengumpulkan makanan dan makan, Buddha lalu mencuci kaki dan duduk bermeditasi. Pada saat itu, para anggota Sangha pun menjalani rutinitas yang sama dengan Buddha. Namun, saat para anggota Sangha berkumpul, di antara mereka ada dua orang bhiksu. Dua orang bhiksu ini saling terlibat pertikaian. Mereka pun memulai perdebatan siapa yang benar dan siapa yang salah. Mereka mulai berdebat. Kemudian, salah satu dari mereka merasa pihak lawan amat keras kepala, maka dia terus memaki. Dia merasa benar sehingga bernada tinggi, sedangkan seorang bhiksu lainnya tetap diam. Dia tetap bersabar dan tidak menjawab. Namun, bhiksu yang satu tetap terus memaki. Namun, bhiksu yang satu tetap terus memaki

 Semua orang mengamati dari samping. Kemudian, bhiksu yang terus memaki ini, karena tidak mendapat respons, akhirnya ikut diam. Setelah berpikir, dia merasa bersalah. Dia merasa dirinya salah, lalu segera meminta maaf kepada bhiksu yang dimakinya. Dia segera bertobat dan berkata, “Tadi kita berdua saling berdebat.” saling berdebat.” “Namun, engkau dapat bersabar, sedangkan aku terus memaki.” “Aku salah.” “Saya bertobat padamu.” Namun, bhiksu yang diam ini tetap diam. Dia tidak menerima permintaan maaf itu. Dia tetap diam dan tidak menjawab. Karena itu, para bhiksu di sekeliling mereka mulai berdebat tentang siapa sesungguhnya yang benar dan siapa yang salah. Bhiksu yang satu terus memaki, tentu tidak benar, tetapi setelah memaki, dia menyesal dan bertobat. Mengapa bhiksu satunya tidak memaafkan dan tidak menerima pertobatannya? Jadi, siapa yang benar dan siapa yang salah? Para bhiksu terus berdebat. Saat mendengarnya, Buddha keluar dari ruangan-Nya. Buddha datang ke hadapan para bhiksu, lalu duduk dengan tenang. Para bhiksu mengelilingi Buddha

 Buddha lalu berkata, “Hari ini Aku menjalani rutinitasyang sama dengan kalian.” “Setelah makan, Aku masuk untuk bermeditasi.” Aku masuk untuk bermeditasi.” “Mengapa Aku mendengar suara gaduh di luar?” “Apa yang membuat kalian mengeluarkan suara gaduh?” Salah seorang bhiksu menjelaskan peristiwa yang baru saja terjadi itu. Setelah mendengarnya, Buddha mulai bercerita kepada para bhiksu. kepada para bhiksu. Suatu hari, Dewa Sakra tengah berbicara di aula Surga kepada para dewa. tengah berbicara di aula Surga kepada para dewa. Dewa indra berkata kepada para dewa untuk dapat bersabar dan bahwa kesabaran sangatlah luhur. Jadi, dikatakan, “Mereka yang tanpa kebenciandan tanpa niat mencelakai makhluk lain disebut sebagai para Arya dan murid para Arya.” “Hendaklah senantiasa bergaul dengan mereka.” Artinya, tanpa kebencian, seseorang tak akan  memiliki niat mencelakai makhluk lain. Demikianlah orang bijak dan suci

 Demikianlah orang bijak dan suci. Jika bertemu orang seperti ini, kita harus bergaul dengannya. Jika ada orang seperti ini, kita harus berada dekat dengan mereka. Berikutnya dikatakan, “Mereka yang memiliki kebencian akan menghadapi rintangan bagai gunung.” “Mampu mengendalikannya barang sedikit saat kebencian muncul, itu disebut karma baik.” Artinya, jika orang memiliki kebencian, dia akan menghadapi rintangan berat. Rintangan itu bagaikan gunung. Dengan adanya rintangan bagai gunung, niat baik sulit untuk terwujud. Dengan adanya niat buruk dan kebencian, niat baik sulit untuk bangkit, bagai terhalang oleh gunung berlapis. Inilah yang disebut rintangan. Saat kebencian timbul, jika kita dapat segera mengendalikannya, jika kita dapat membangkitkan niat untuk melenyapkan kebencian meski sedikit, untuk melenyapkan kebencian meski sedikit, dan terus melakukan ini, maka karma baik akan tercipta. Ini sama dengan menjinakkan kuda liar. Kita harus memegang tali kendali. Kita harus memegang tali kendali. Untuk menjinakkan kuda liar, kita harus memiliki alat itu. Artinya, untuk menaklukkan kebencian, kita harus membangkitkan niat baik

 Jika niat buruk timbul, akan ada banyak rintangan yang muncul. Untuk mengatasi rintangan ini, satu-satunya cara adalah melenyapkan kebencian. Setelah Buddha selesai bercerita, Buddha memberi tahu para bhiksu, “Wahai para bhiksu, Dewa Sakra adalah raja para dewa.” “Beliau yang di alam dewa saja masih mengajarkan kesabaran kepada para dewa dan memuji kesabaran, terlebih kalian, bukankah harus begitu?” “Kalian sudah meninggalkan keduniawian.” “Kalian telah bertekad dan telah mencukur rambut kalian.” “Rabalah kepala kalian, kalian sudah bertekad menyebarkan Dharma.” “Berhubung sudah menjadi petapa yang meninggalkan keduniawian, dapatkah kalian bersabar?” “Kalian harus bisa bersabar, bahkan juga memuji orang yang sabar.” Setelah menceritakan kisah ini, Buddha lalu berkata, “Pertama, janganlah membenci, janganlah perhitungan.” “Terhadap mereka yang sudah bertobat, kita pun harus berlapang dada dan menerima pertobatan mereka.” Dengan demikian, kita baru bisa benar-benarmelenyapkan keburukan dan membangkitkan kebajikan. Dikatakan, “Manusia hidup di dunia, siapakah yang bebas dari kesalahan?” “Bahkan mereka yang sudah berlatih pun masih memiliki kesilapan dan kerisauan.” Bayangkan, alangkah baiknya jika kita dapat menjadi seperti yang Buddha katakan, Siapakah di dunia ini yang tak pernah melakukan kesalahan

 Setiap orang memiliki kesalahan. Orang yang sudah melatih diri pun juga adakalanya silap. Lihatlah dua orang bhiksu tadi. Mereka telah meninggalkan keduniawian dan berlatih di bawah bimbingan Buddha, tetapi hanya karena sebuah hal sepele, mereka membangkitkan rasa saling tidak senang dan bertikai. Begitu mulai berbicara, mereka langsung berdebat. Meski salah satu sudah bersabar dan tidak merespons, yang satunya tetap tidak menutup mulut dan tetap memaki. Namun, setelah memaki, dia juga bertobat dan merasa dirinya bersalah. “Orang lain saja sudah tidak membalasku.” Dia sendiri juga merasa bersalah. Karena itu, dia segera bertobat. Namun, berhubung sudah bersabar dan tidak merespons, mengapa bhiksu yang satu tidak rela membuka  pintu maaf dan menerima pertobatannya? Ini juga tidak benar. Jadi, dari kedua bhiksu ini, yang satu bersalah lewat ucapan, sedangkan yang lain bersalah lewat pikiran. Jadi, Saudara sekalian, orang-orang di zaman Buddha pun pernah silap, terlebih lagi kita di zaman sekarang

 Jadi, jika suatu saat kita mendengar seseorang berbicara mengenai diri kita ataupun orang lain, kita harus segera ingat bahwa kita tidak boleh melakukan kesalahan. Namun, kita semua adalah makhluk awam. Berharap kita sepenuhnya bebas dari kesalahan juga tidak mungkin. Kita semua masih makhluk awam. Namun, kita harus mengingatkan diri sendiri. Di saat yang sama, kita juga harus bisa memaafkan. Dengan begitu, kita akan bisa melenyapkankeburukan dan membangkitkan kebajikan. Memaafkan adalah melenyapkan keburukan. Saat rasa memaafkan timbul, itulah kebajikan. Saudara sekalian, kita tetaplah bersungguh hati. Pertobatan haruslah tulus. Kesalahan masa lalu harus segera diakhiri dan janganlah diulangi. Jika terlanjur melakukan kesalahan, segeralah mengakhiri dan memperbaikinya. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.  

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888