Sanubari Teduh-311-Buah Karma Ditanggung Sendiri Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, hindari segala kejahatan, jalankan segala kebaikan, inilah ajaran para Buddha. Keyakinan kita haruslah teguh. Jangan meremehkan kebajikan kecil sehingga tidak melakukannya. Jangan pula melakukan kejahatan meskipun kecil. Kita semua harus sangat memperhatikan hal ini. Ajarang yang diberikan Buddha kepada kita hendaknya kita jalankan sepenuh hati. Jadi, kita sebagai umat Buddha harus terlebih dahulu membangun keyakinan. Dharma bagaikan air. Setiap kalimat ajaran bagai aliran air jernih yang tengah membersihkan batin kita. Jadi, di mana kita menemukan air ini? Intinya, asalkan kita dapat menyerap ajaran Buddha, maka kita akan memiliki mata air jernih. Asalkan kita bisa memanfaatkan mata air ini, aliran airnya tidak akan pernah kering. Jadi, kita harus menggunakan Dharma dalam hati. Jadi, syair berikutnya berbunyi, Ada orang yang tidak sadar saat berbuat jahat. Ada pula yang setelah berbuat jahat, lalu berkata, “Saya lupa.” Inilah yang sering terjadi. Ada orang yang menganggap di dunia ini semua orang harus bersaing. Jadi, saling berebut dan bersaing sepertinya menjadi hal yang lumrah. Begitu pula para pedagang pada umumnya. Semua orang merasa harus bersaing dengan mengatakan dagangannya sendiri lebih bagus dan dagangan orang lain kurang bagus atau mengatakan apa hal buruk yang telah orang lain lakukan dan mengaku diri sendiri lebih baik
Agar barang dagangan mereka yang sesungguhnya sama atau tak lebih baik dari orang lain dapat dipandang lebih baik, mereka mencari cara untuk menjatuhkan dagangan orang lain. Mereka menganggap hal ini lumrah dalam berbisnis. Begitu pula dalam menangani suatu proyek. Banyak orang menerima proyek dengan harga rendah, tetapi kemudian menurunkan kualitas bahan. Mereka berusaha agar mendapat laba di tengah harga proyek yang tidak bagus. Baik dalam bidang industri maupun perdagangan, semua ini dianggap sebagai hal yang lumrah. Jadi, orang-orang melakukan ini dan mengabaikan hati nurani sendiri. Mereka tak merasa bahwa hal tersebut jahat. Dikatakan, “Lupa bahwa telah melakukan berbagai kesalahan.” Meski telah melakukan banyak kesalahan, tetapi mereka tidak merasa bersalah, atau meski jelas-jelas sadar telah berusaha menjatuhkan orang lain, tetapi setelah melakukannya, mereka berkata bahwa mereka sudah lupa. Setelah melukai orang dengan ucapan kasar, Setelah melukai orang dengan ucapan kasar, mereka juga berkata bahwa mereka sudah lupa. Kejadian seperti ini sangat banyak. Jadi, saat ajal menjemput, saat dihadapkan pada penghakiman di neraka, tiada orang yang diadili secara keliru
Sedikit pun tidak akan keliru. Tidak seperti di dunia manusia. Di dunia manusia, apa pun kasusnya, kekuasaan juga berpengaruh. Jika orang itu memiliki kekuasaan besar, dia dapat bebas dari jeratan hukum. Ada pula uang jaminan. Jika dapat membayar uang jaminan, orang dapat bebas dari jeratan hukum dan hidup bebas sekehendak hati. Inilah yang sering berlaku di alam manusia. Ada pula orang yang terkena salah dakwaan. Mereka harus menjadi tahanan puluhan tahun dan didakwa dengan hukuman berat. Kesalahan seperti ini juga sering terjadi di alam manusia. Saya teringat bertahun-tahun yang lalu, ada seseorang yang mengirimkan sepucuk surat. Orang ini adalah terdakwa hukuman mati. Dia sendiri tahu bahwa hidupnya tidak lama lagi. Dia menulis surat untuk memohon Trisarana. Kemudian, saya mengutus Guru De Xuan dan anggota komite kita untuk menjenguknya untuk memahami siapakah dia sebenarnya, mengapa dia memohon Trisarana, memahami suara hatinya, dan memahami kondisi keluarganya. Dari kata-kata yang dia ucapkan, kita merasakan pepatah kuno yang berbunyi, “Ucapan orang yang menjelang ajal penuh kebajikan; kicauan burung yang menanti maut sangat memilukan.” Mulanya dia didakwa hukuman berat, kemudian didakwa hukuman seumur hidup, hingga akhirnya didakwa hukuman mati
Dia tahu jelas bahwa naik banding tidak berguna. Jadi, dia hanya bisa menumpahkan suara hatinya. Dia adalah seorang sopir taksi. Suatu hari ada orang yang memanggil taksi. Sopir ini juga tidak tahu siapa orang itu. Dia mengantarkannya ke tempat tujuan. Penumpang ini memintanya menunggu, lalu melakukan kejahatan. Setelah itu, dia kembali menumpang taksi itu. Sopir ini sama sekali tidak tahu apa-apa, tetapi akhirnya menjadi terdakwa hukuman mati. Pada selang waktu itu, di dalam tahanan dia membaca beberapa buku. Salah satunya adalah majalah bulanan Tzu Chi. Dia memahami hukum sebab akibat. Meski di kehidupan ini dia tidak berbuat jahat, dia paham bahwa itu mungkin akibat dari perbuatannya di masa lampau. Karena itu, dia menulis surat untuk memohon Trisarana. Saya ingat sekembalinya dari sana, Guru De Xuan berkata bahwa orang itu terlihat seperti seorang praktisi. Saat ditemui, dia memakai sepatu kain. Setiap hari dia memuja Buddha dengan tulus. Dia tidak berharap untuk kehidupan sekarang. Dia sudah menerima apa adanya. Dia hanya berharap bagi kehidupan mendatang. Dia juga ingin mendonorkan tubuh setelah meninggal. Dia juga ingin dapat mengenakan jubah Haiqing saat meninggal. Inilah keinginannya sejak lama. Intinya, di dunia manusia kadang dakwaan bisa salah.
Namun, akhirnya orang ini dapat memahami hukum karma. Dia memahami, “Meski pada kehidupan ini saya tak berbuat jahat, tetapi mungkin ini buah perbuatan saya pada kehidupan lampau.” Dia juga tidak menaruh dendam. Inilah yang terjadi di dunia manusia. Namun, lain halnya di alam baka. “Di neraka, dakwaan tidak akan salah.” “Ada orang yang pernah melakukan kejahatan, tetapi melupakannya.” Jika ada orang seperti itu, penguasa neraka akan memeriksanya. Karena itu, tidak akan ada dakwaan yang salah. Ini karena Raja Yama sang penguasa neraka tidak akan salah mendakwa orang. Segala yang manusia lakukan di alam manusia dicatat dengan jelas dan tepat. Jadi, meski kita tidak mengaku, di sana akan ada cermin yang akan menampilkan perbuatan kita bagai rekaman atau siaran televisi. Jadi, ternyata teknologi di sana lebih maju daripada di alam manusia. Kita kadang melihat pada pendeta Tao melakukan upacara untuk membebaskan makhluk di 18 lapis neraka. Konon di sana orang-orang yang pernah berbuat jahat menerima hukuman. Mereka sungguh menderita. Bagi orang yang pernah berbuat jahat, berapa berat pun kejahatannya, meski orang itu tidak mengaku atau mengaku sudah lupa, atau mengaku sudah lupa, itu tidak berpengaruh. Dia akan diperlihatkan kembali mengenai perbuatan yang pernah dia lakukan. Jadi, Raja Neraka tak pernah salah mendakwa. Menjelang ajal, segala perbuatan buruk yang pernah dilakukan di alam manusia akan tampak. Banyak orang akan bersaksi bahwa dia pernah melakukan kejahatan. Bagaimana dia dapat mengelak? Saat itu mereka tidak bisa bersembunyi lagi. Penggalan teks ini kembali mengingatkan kita bahwa saat menjelang ajal, bahkan sebelum napas berhenti, segala perbuatan buruk akan tampak di hadapan kita. Meski napas belum berhenti, segala perbuatan buruk kita sudah mulai diadili di istana Raja Yama
Lalu, penjaga neraka pun mulai menyeret kita. Kita harus hati-hati untuk hal ini. Kita semua yang sampai di tempat itu, bukan hanya kejahatannya akan dibeberkan, bahkan orang yang pernah kita celakai akan datang menuntut keadilan di sana. akan datang menuntut keadilan di sana. Masing-masing dari mereka akan menuntut balas dan ramai-ramai membeberkan kesalahan kita. Mereka akan bersaksi tentang kejahatan kita. “Dahulu, kamu pernah melakukan ini.” “Kamu jelas-jelas pernah melakukannya, kini bagaimana bisa kamu mengelak?” “Kini kau tidak dapat berbohong lagi.” Saat itu orang yang bersalah tak dapat lagi menyembunyikan kesalahannya. Ke mana pun orang itu menghindar, ke mana pun wajahnya menoleh, semua orang di sana tetap menuntutnya dengan tatapan penuh kemarahan. Inilah kondisi di hadapan Raja Yama. Sedikit pun tak ada tempat untuk menghindar. Pada saat itu, kita harus ikhlas menerima hasil perbuatan kita sendiri. Jika itu benar hasil perbuatan kita sendiri, maka tiada orang yang dapat menggantikan kita menanggung akibatnya. Meski kesalahan itu adalah kesalahan ringan, kita tetap harus menerima akibatnya sendiri. Jadi, kita sering mengulang ungkapan hindari segala kejahatan, jalankan segala kebaikan. Janganlah melakukan kejahatan meskipun kecil. Jangan meremehkan kebajikan kecil sehingga tidak melakukannya
Sesungguhnya, sedikit kebajikan juga akan memupuk berkah. Sedikit kejahatan yang kita lakukan juga akan memupuk karma buruk. Jadi, segala buah karma buruk harus kita terima sendiri. Di dalam Sutra Ksitigarbha juga dijabarkan dengan jelas. Di dalam teks Pertobatan Kaisar Liang dan Syair Pertobatan Air Samadhi juga dijabarkan dengan jelas. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kesadaran. Kalian hendaknya tahu bahwa orang yang melakukan kejahatan sungguh dibenci oleh orang lain. Kita sering melihat siaran berita di televisi yang memberitakan pelaku kriminal. Jika orang itu berhasil ditangkap dan polisi menggelar rekonstruksi kejadian, kita bisa melihat begitu banyak orang berkumpul meneriakinya dan ingin memukulnya. Jika kita berbuat jahat di alam manusia, orang-orang akan melihat kita dengan kemarahan dan kebencian yang dalam, terlebih lagi di istana Raja Yama. Jika pelaku kejahatan tak mau mengaku, Raja Yama akan sangat marah dan menjatuhkan hukuman dengan keras. Di alam manusia saja pelaku kejahatan sudah mengundang kebencian, terlebih lagi di istana Raja Yama. Jika dia tidak mau mengaku, Raja Yama benar-benar akan murka Raja Yama benar-benar akan murka dan menjatuhkan hukuman lebih berat. Hukuman itu bisa berlangsung berkalpa-kalpa. Sulit untuk terbebas darinya. Kejahatan bisa menjadi semakin berat jika kita tidak mau mengakuinya. Jika kita masih mengelak dan membela diri, kesalahan kita akan bertambah berat. Jadi, terhadap orang-orang seperti ini, Raja Yama sangat keras. Jadi, terhadap pelaku kejahatan, orang-orang saja menaruh benci mendalam, terlebih lagi Raja Yama. Saya teringat saat akan membangun rumah sakit, setiap bulan saya membabarkan Sutra di Taipei. Suatu hari, datang sekelompok pengusaha. Mereka sering bertemu para pejabat pemerintah. Mereka menceritakan kisah seorang pejabat penting di Taiwan. seorang pejabat penting di Taiwan. Suatu hari, saat mereka sedang menghadiri jamuan di hotel, pejabat ini berkata bahwa mulai saat itu, dia harus benar-benar berubah? Apa maksudnya? Dia ingin berhenti minum alkohol untuk menghindari kesalahan lebih lanjut. Dia berkata dia ingin berubah untuk menghindari perbuatan jahat dan menciptakan berkah bagi masyarakat
Apa yang terjadi. Dia mulai menceritakan bahwa suatu hari, dia dirawat di rumah sakit karena flu dan demam tinggi. Saat itu dia bermimpi. Mimpi seperti apa? Dia bercerita bahwa saat tidur, dia seakan bertemu sekelompok orang yang terus menyeretnya hingga ke dalam hutan yang sangat dingin. hingga ke dalam hutan yang sangat dingin. Di sana dia melihat banyak makhluk berwajah garang, ada yang berkepala kerbau dan berwajah kuda. Banyak makhluk yang berwujud aneh di sana. Di sana pun sangat bising. Banyak terdengar suara teriakan. Entah apa isi teriakan dan raungan itu. Dia bercerita bahwa di sana ada sebuah meja yang sangat besar. Di atas meja tersebut ada benda berbentuk seperti dokumen di alam manusia. Jumlahnya banyak sekali. Pada saat itu dia melihat orang yang sangat galak. Suaranya sangat menggelegar. Orang itu berkata, “Kamu sudah datang.” Dia lalu bertanya kepada orang di sampingnya, “Apakah waktu orang ini sudah tiba?” Orang di sampingnya itu terus membolak-balik dokumen dan berkata, “Waktunya belum tiba.” Orang ini berbicara sangat pelan sehingga pejabat ini tak dapat mendengarnya. Lalu, orang bersuara menggelegar tadi Lalu, orang bersuara menggelegar tadi berkata, “Saya beri Anda kelonggaran waktu, tetapi Anda harus membayar uang jaminan.” Dia menjawab, “Baiklah, asalkan boleh begitu.” “Berapa yang harus dibayar?” Orang tadi menjawab, “Satu dolar.” Pejabat ini berpikir satu dolar sangat murah. Dia lalu mencari ke seluruh tubuhnya, ternyata satu dolar pun tidak ditemukan. “Saya tidak punya uang,” katanya. Tiba-tiba dia diseret oleh penjaga di sana
“Saya tidak punya uang.” “Saya tidak bawa uang.” Orang bersuara menggelegar tadi pun berkata, “Meski di alam manusia kau punya banyak uang, tetapi saat datang kemari, kau tidak membawa uang sepeser pun, apalagi satu dolar.” “Kau pasti tidak punya.” “Kau hanya punya satu cara, yaitu memupuk kebajikan.” “Jika kau memupuk kebajikan dan memiliki kebajikan yang lebih besar dari kejahatan atau bahkan memiliki kebajikan sempurna, maka engkau tidak perlu datang kemari.” Pejabat ini kembali mendengar suara gaduh. Sebuah suara nyaring kembali terdengar olehnya. Saat itu dia sangat terkejut hingga sadarkan diri. Tubuhnya penuh keringat dan basah. Orang-orang di sekelilingnya seperti tengah memberi pertolongan darurat. Saat dia sadarkan diri, Tubuhnya penuh keringat. Semua orang berkata, “Baik, dia tertolong.” Suhu tubuhnya yang tadinya menurun, akhirnya berangsur-angsur normal. Dia berpikir apa maksud dari mimpinya itu. Di dalam pakaiannya saat itu memang tidak ada uang sedikit pun. Namun, orang bersuara menggelegar tadi berkata bahwa meski dia memiliki banyak orang, tetapi saat datang ke tempat itu, manusia tidak membawa apa-apa. Semuanya tak dapat dibawa serta. Para pengusaha yang datang menemui saya itu menceritakan kisah pejabat ini pada saya. Kisah ini masih segar dalam ingatan saya. Saat menceritakan kisah ini, mereka menambahkan, “Lebih baik kita melakukan kebajikan.” Mereka berkata, “Jika ada melakukan kebajikan barang sedikit, kita tidak perlu pergi ke sana.” “Jadi, berbuat lebih banyak kebajikan lebih baik.” Saudara sekalian, janganlah meremehkan kebajikan kecil sehingga tidak melakukannya. Jangan pula melakukan kejahatan meskipun kecil. Kita hendaknya memperbanyak kebajikan
Lebih banyaklah bertutur kata yang baik. Lakukanlah lebih banyak perbuatan baik. Lebih banyaklah membangkitkan tekad yang baik. Saudara sekalian, tubuh, ucapan, dan pikiran kita harus senantiasa kita jaga. Jika kita sampai di hadapan Raja Yama, maka argumen apa pun tak akan berguna. Ini berbeda dengan di alam manusia. Di alam manusia orang bisa membayar jaminan, tetapi catatan kriminal tetap ada. Meski harus menerima salah dakwaan dan dihukum, mungkin orang itu tak perlu ke hadapan Raja Yama. Seperti sopir taksi tadi yang sudah bertekad dan giat melatih diri, dia mungkin telah terlahir kembali dan menjadi insan Tzu Chi atau menjadi anggota Tzu Ching. Singkat kata, buah perbuatan ditanggung diri sendiri. buah perbuatan ditanggung diri sendiri. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.