Sanubari Teduh-312-Perbuataan Baik dan Buruk Nyata Berbeda
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari saya mengingatkan kalian setiap hari saya mengingatkan kalian untuk menjaga pikiran dengan baik. Pikiran yang tidak dijaga dengan baik akan mudah membuat kita berjalan menyimpang dan jauh tersesat. Perbuatan baik mendatangkan kedamaian tertinggi, perbuatan jahat dapat menciptakan karma buruk. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Orang yang paling kita kasih puntidak dapat mewakili kita menanggung buah karma. Karena itu, kita harus senantiasa menjaga pikiran. Dengan berlandaskan pada niat baik, secara alami setiap tindakan dan ucapan kita akan baik
Pikiran kita harus senantiasa damai. Dengan demikian, saat karma buruk berbuah, kita tetap dapat menerimanya dengan hati lapang. Karena itu, kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Kita harus senantiasa berpikiran baik. Mari kita lihat penggalan berikutnya. Di dalam Sutra dikatakan, Dari penggalan Sutra ini, kita dapat memahami bahwa setelah kehidupan ini berakhir, setelah kehidupan ini berakhir, segala perbuatan kita dianggap baru saja berlalu. Kehidupan manusia sangatlah singkat. Setelah kehidupan ini berakhir,kita akan dibawa pergi ke Istana Raja Yama. Segala perbuatan kita yang jahat akan terpapar dengan sangat jelas. Karena itu, dikatakan, “Hal ini tidak jauh.” Hal ini berlalu tidak lama Itu bukan dilakukan oleh orang lain, tetapi oleh diri kita sendiri. Ia tak ada hubungannya dengan orang lain. Kita melakukan sesuatu hal karena dorongan pikiran sendiri. Meski disuruh oleh orang lain, tetapi karena memiliki niat seperti itu, barulah kita melakukannya. Meski bersekongkol dalam melakukannya, tetap saja kita terlibat. Jadi, kita harus mengakuinya. Kitalah yang akan menerima konsekuensidari perbuatan sendiri. Di depan Raja Yama, kita tidak dapat melepaskantanggung jawab kepada orang lain, bahkan kepada orang tuaataupun anak kandung sendiri
Saat seorang anak durhaka memasukiIstana Raja Yama, meskipun kedua orang tuanya ingin memaafkan, mereka juga tak berdaya. Ada sebuah kisah di Hualien. Sang anak menderita gangguan bipolar. Saat penyakitnya kambuh, si anak akan berbuat kasar terhadap sang ibu dan seluruh keluarga. Saat penyakitnya kambuh, semua orang merasa sangat takut. Karena itu, mereka melapor pada polisi. Bapak polisi tahu bahwa penyakit ini membutuhkan pengobatan. Karena itu, mereka pun memanggil mobil ambulans. Meski penyakitnya tengah kambuh, tetapi anak ini tahu bahwa jika meninggalkan rumah itu, maka dia akan diisolasi. Saat menjalani pengobatan, dia akan kehilangan kebebasan. Karena itu, dia akan berlutut dan memohon kepada ibunya, “Saya akan berubah.” “Ini tidak akan terulang kembali.” Melihat anaknya berlutut sambil memohon, sang ibu pun memohon kepada bapak polisi. Hal ini terjadi sebanyak tiga kali. Terakhir kali penyakitnya kambuh di tengah malam. Anak tersebut curiga bahwa ibunyalebih menyayangi keponakannya. Karena membangkitkan rasa curiga, dia pun terdorong untuk melakukan kejahatan. Dia pun pergi ke kamar sang ibu dan membanting bayi mungil berusia 6 bulan itu ke bawah tempat tidur. Bagaimana bayi yang sedemikian mungil itumampu bertahan? Tengkorak anak itu retak dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Anak itu mengalami koma dan hidrosefalus. Untungnya, anak itu menerima pengobatan darurat sehingga berhasil diselamatkan. Namun, berhubung otaknya pernah terluka, apakah pertumbuhannya akan terganggu kelak, kita tidak tahu. Seperti ibu tadi, meski dia begitu penuh kasih, tetapi berhubung anaknya melakukan kesalahan, akhirnya dia harus membiarkananaknya menjalani perawatan. Anaknya juga telah melukai orang lain
Berhubung peristiwa itu telah terjadi, ibu yang penuh kasih itu pun tidak berdaya. Jadi, meski hubungan orang tuadan anak begitu dekat, tetapi saat karma berbuah dan memunculkan masalah, maka tiada orang yang bisa mewakiliuntuk menanggungnya. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Tabiat buruk kita harus dikikisdan kita harus berlapang dada. Jika hati kita tidak cukup lapang, maka kita mungkin melukai orang laintanpa niat atau tanpa sengaja. Batin kita akan terus merasa risau hingga mengalami depresi atau gangguan bipolar. Meski kita tidak sengaja melukai orang lain, tetapi begitu ada gangguan psikologis, maka segala perbuatan kita tak dapat kita kendalikan sendiri. Kesalahan yang dilakukan di luar kendali ini, apakah kelak harus dipertanggungjawabkandi hadapan Raja Yama? Ya, tetap harus. Itu karena kita sudah melakukan kesalahan dan sudah melukai orang lain. Dengan begitu, berartikita telah menanam karma buruk. Sama halnya dengan di dunia manusia, begitu sebuah tindakan sudah dilakukan, kecuali orang itu harus menjalani perawatan, dia tetap dinyatakan bersalah. Jadi, yang terpenting dalam melatih diri adalah kita harus mencegah kesalahan
Inilah tujuan dari sila. Hal-hal yang tidak benar, janganlah kita pupuk dalam batin. Kalaupun kita pernah dilukai orang lain, kita juga harus mencari carauntuk mengurai belenggu itu. Kita harus mengurai belenggudengan hati yang lapang. Hati kita harus murni dan lapang. Dengan begitu, kita tak akan memupuk noda batin dan mengundang penyakit. Orang yang berbuat salahdan menciptakan karma buruk dikatakan telah didera penyakit batin. Ungkapan kuno menyebutnya kehilangan hati nurani. Ini yang kita sebut batin tertutup oleh noda. Akibat batin yang tertutup oleh noda, barulah perilaku salah terwujud. Karena itu, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus sungguh-sungguhmenjaga pikiran dengan baik. Hati kita harus lapang dan pikiran harus murni. Dalam melatih diri, tentu harus ada realisasi. Setelah mendengar Dharma, harus ada pemahaman. Setelah mendengarnya, kita harus paham. Apa lagi yang perlu kita perhitungkan? Apa lagi yang patut dijadikan keluh kesah? Tidak ada. Semuanya tidak lagi menjadi masalah. Inilah yang disebut paham setelah mendengar. Dengan begitu, barulah pelatihan kita bermanfaat. Pelatihan haruslah membuahkan realisasi
Ini sangat penting dalam mempelajari ajaran Buddha. Jika tidak, kita tetap akanterseret ke Istana Raja Yama dan tak akan lolos dari segala dakwaan, terlebih kesalahan yang kita buatbelum lama berlalu. Saat kita diadili di Istana Raja Yama atas segala kesalahan yang belum lama dilakukan itu, semuanya tidak berkaitan dengan orang lain, semuanya merupakan kesalahan diri sendiri. Semuanya adalah dosa kita sendiri. Dosa di sini berarti kesalahan. Ssemua ini harus kita tanggung sendiri. Kita harus menerimanya dengan ikhlas. Kita harus menerimanya dengan ikhlas. Kita tak bisa melimpahkannya pada orang lain. Sedalam apa pun kasih sayang ayah, anak, ataupun istri, pada saatnya nanti, tak ada yang bisa menggantikan kita. Siapa yang bisa menggantikan kita? Siapa yang bisa menanggung hukuman kita? Kita harus rela menanggunggnya sendiri. Penggalan ini kembali mengingatkan kita. Orang-orang terkasih pun tak bisa menolong kita. Kita harus menerima akibat perbuatan kita sendiri. Sama halnya jika kita merasa haus, tak mungkin kita memintaorang lain yang minum untuk kita. Orang sakit pun tak mungkin diwakiliuntuk minum obat. Semua ini tidak mungkin. Jadi, semua buah karma harus kita tanggung sendiri. Kini kita terlahir sebagai manusia, terlebih lagi memiliki badan yang tidak sakit. Kita memiliki tubuh yang sehat tanpa didera penyakit. Masing-masing dari kita hendaknya giat berusaha. Kita semua harus segera berusaha untuk berlomba dengan kehidupan. Saya sering berkata bahwa kita harusberlomba dengan waktu. Dalam penggalan ini dikatakan bahwa kita harus berlomba dengan kehidupan kita. Kita terus merawat tubuh kita sejak kecil hingga tumbuh dewasa. Kita memberi tubuh ini makanan dan pakaian. Kita berhitungan demi tubuh ini, kita mencari kenikmatan bagi tubuh ini. Jika kita tidak memanfaatkan tubuh ini, maka sungguh sia-sia. Saat tubuh kita masih sehat, jika kita tidak memanfaatkannya, maka akan sia-sia. Saya sering berkata bahwa kita tidak memiliki hak milik atas tubuh kita, kita hanya memiliki hak guna atasnya. Kita merawat tubuh kita hingga gemuk dan sehat. Alangkah baiknya jika kita dapat memanfaatkan tubuh yang sehat ini untuk berlatih. Dahulu saya sering mengatakan bahwa tubuh adalah sarana untuk melatih diri. Kita ingin berlatih, ingin menjalankan praktik Bodhisattvadi tengah masyarakat, tetapi tanpa tubuh ini, kita tak akan bisa menjalankan Enam Paramita itu. Kita semua seharusnya tahu bahwa tubuh ini adalah sarana melatih diri. Tubuh kita ini adalah alat untuk melatih diri. Dengan memiliki tubuh ini, barulah kita dapat menjalankan Enam Paramita. Jadi, kita harus tahu bahwa kita harus berjuang dan berlomba dengan kehidupan
Kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan tubuh ini. Dengan memiliki tubuh ini, kita baru bisa menjalankan praktik Bodhisattvauntuk menciptakan berkah di dunia. Sangat disayangkan jika kita tidaksungguh-sungguh memanfaatkan tubuh ini. untuk sungguh-sungguh melatih diri, mendengar Dharma, merenungkan,dan mempraktikkannya. Setelah mendengar Dharma,kita harus memahaminya. Kita harus serius dalam melatih diri. Pelatihan haruslah membuahkan realisasi. Kita harus memanfaatkan waktu yang ada saat ini, saat tubuh kita masih sehat dan masih bisa dimanfaatkan, untuk sungguh-sungguh menjalankan Enam Paramita. Enam Paramita dan berbagai praktik bergantung pada perbuatan oleh tubuh kita. Jika kita kehilangan kesehatan tubuh, maka energi kita untuk berlatih akan melemah. Berhubung kondisi fisik melemah, tentu gerakan kita juga akan semakin terbatas. Kita harus memanfaatkan kondisi sehat dan bebas bergerak saat ini untuk mempraktikkan Enam Paramita dan menciptakan berkah bagi dunia. Jangan menunggu hingga tubuh tidak mampu lagi. Banyak orang yang saat menderita sakit,baru bertekad, “Baiklah, saya akan berbuat baik jika bisa sehat kembali.” Apakah kita akan dapatpulih dari penyakit? Ada orang yang sudah pulih, lalu berkata, “Baiklah, saya akan berbuat baik jika bisa bergerak bebas.” Apakah kita berkesempatan untuk pulih dan dapat kembali bergerak bebas? Mungkin sulit
Saat jatuh sakit atau menjelang ajal, kita menghadapi ketakutan besar. Yang paling manusia takutkan adalah penyakit, terlebih lagi kematian. Inilah yang disebut ketakutan besar, sangat menakutkan. Saat jatuh sakit, tentu manusia merasa takut. Pada saat-saat itu, menyesal pun sudah terlambat. Manusia mungkin menyesal dan berkata, “Saat itu, orang menasihati saya untuk berbuat baik, mengapa saya tidak mau?” “Saat itu masih banyak kesempatan untuk menolong orang lain dan berbuat baik untuk menciptakan berkah, mengapa saya tidak melakukannya?” Menyesal pun sudah terlambat. Karena itu, dengan tulus kita menyatakan pertobatan. Kita harus senantiasa bertobat sebelum terlambat dan sebelum ajal menjemput. Kita semua harus tahu bahwa kita semua adalah makhluk awam. Siapa yang tidak memiliki kesalahan? Jangan berpikir bahwa dalam kehidupan ini kita tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Pasti pernah. Berapa banyak? Dari berbagai niat dan perbuatan yang kita wujudkan, dalam seumur hidup ini tak mungkin kita tidak pernah melakukan kesalahan. Kalaupun benar dalam hidup inikita tak pernah berbuat kesalahan, kita tak tahu bagaimana dengan kehidupan lampau. Memanfaatkan kehidupan ini, yaitu saat kita terlahir sebagai manusiadan mengenal ajaran Buddha, kita hendaknya sungguh-sungguh bertobat atas segala kesalahan di tiga masa. Kita bertobat atas masa lalu, masa kini,dan masa depan. Kita bertobat atas kesalahan masa laludan bertekad tidak mengulanginya di masa depan. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati
Kita harus senantiasa bertobat kepada Buddha. Bukan hanya bertobat di hadapan Buddha, sesungguhnya orang-orang di sekeliling kitajuga merupakan Buddha dan Bodhisattva. Kita harus bertobat terhadap semua orang dan senantiasa mengingatkan diri sendiri. Sesungguhnya, segala perbuatanharus ditanggung sendiri. Di dalam Sutra ada sepenggal kisah. Pada zaman Buddha, ada seorang pemuda yang memohon ajaran kepada Buddha. Dia berkata, “Saya sering pergi memohon sedekah.” Pemuda ini bukanlah petapa. Dia adalah seorang pengemis yang tidak mampu. Dia meyakini agama Brahmana. Namun, suatu hari dia datang meminta petunjuk Buddha. Dia bercerita, “Saya sering memohon sedekah, tetapi sedekah ini saya gunakan untuk menghidupi orang tua saya.” “Orang tua saya sudah lanjut usia.” “Keluarga saya sangat miskin.” “Saya tidak bisa bekerja ataupun berdagang “Saya tidak bisa bekerja ataupun berdagang karena harus menjaga kedua orang tua saya.” “Saya sangat miskin, maka saya terpaksa meminta-minta.” “Namun, saat mengumpulkan sedekah, saya melakukannya dengan cara yang patut.” saya melakukannya dengan cara yang patut.” “Jika diberi oleh orang lain, saya sangat berterima kasih.” “Jika tidak diberi, saya tetap berterima kasih.” “Saya tidak berani mengeluh.” “Saya berpegang pada norma.” “Saya memohon sedekah hanya demi menghidupi orang tua saya.” “Entah apakah saya melakukan kesalahan.” “Apakah saya mendapat berkah dari hal ini?” Buddha tersentuh saat mendengarnya
Pemuda ini sangat berbaktidan selalu menyokong orang tuanya. Meski dia menyokong orang tuadengan meminta sedekah, Meski dia menyokong orang tuadengan meminta sedekah, tetapi Buddha tetap memuji pemuda itu. tetapi Buddha tetap memuji pemuda itu. Buddha berkata kepadanya, “Uttara, engkau tentu akan memperoleh berkah karena engkau telah menyokong orang tuamu.” karena engkau telah menyokong orang tuamu.” “Engkau bukan malas bekerja ataupun tidak mau berdagang, melainkan harus menjaga kedua orang tuamu.” “Jadi, engkau tentu akan mendapat berkah.” Buddha sangat memuji pemuda ini. Beliau lalu mengucapkan sebuah syair, “Engkau menyokong orang tua bagaikan memberi persembahan kepada Buddha.” “Engkau memandang orang tua bagai Buddha.” “Engkau memberi persembahandengan penuh rasa hormat.” “Dalam kehidupan sekarang engkau bertindak patut dan sesuai dengan Dharma.” dan sesuai dengan Dharma.” “Ini tidak salah, bahkan sesuai Dharma.” “Kelak setelah meninggal, engkau akan terlahir di alam surga.” Menanam berkah tentu akan menuai berkah. Dia memang bukan petapa dan tidak melatih diri sebagai petapa
Dia hanya memohon sedekah untuk orang tuanya. Ini juga termasuk berkah. “Jadi, berkat perbuatanmu saat ini, kelak engkau akan terlahir di alam surga.” Dari penggalan Sutra ini kita tahu bahwa pemuda ini sangat berbakti. Dia memohon sedekahdemi menyokong orang tuanya. Dia begitu penuh rasa hormat. Kelak dia sendiri pula yang akan menuai berkah dari perbuatannya. Dia sendirilah yang akan lahir di alam surga. Dia tidak bisa membawa kedua orang tuanya. Tidak bisa. Berkah juga hanya dapat diterima oleh si penanam. Setelah Buddha mengucapkan syair tadi, semua orang sangat gembira. Mereka memahami ajaran Buddha bahwa karma baik dan buruk buahnya berbeda. Akibat perbuatan buruk harus ditanggung sendiri, demikian pula buah perbuatan baik. Jadi, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dengan baik. Penggalan teks tadi menggambarkanberbagai penderitaan. Jika kita melakukan karma buruk, maka kita mungkin harus diseret ke Istana Raja Yama dan harus menerima hukuman di neraka yang penuh penderitaan
Semua ini sangat jelas. Kini kita terlahir sebagai manusia dan memiliki tubuh yang sehat. Bagaimana boleh kita tidak segera berbuat baik? Kita harus menggenggam waktu yang ada dan memanfaatkan tubuh yang sehat ini. Meski harus mengeluarkan usaha keras, meski kita harus mengerahkan kemampuan fisik hingga harus mengorbankan nyawa, kita harus berlatihdengan penuh tekad dan semangat. Jika tidak, kelak saat ketakutan besar datang, hanya akan tersisa penyesalan. Jangan menunggu hingga merasa haus, baru kita mencari sumur. Di saat itu, sumur yang digali pun belum tentu mengeluarkan air. Jangan menanti hingga jatuh sakit atau menjelang ajal, baru kita berikrar. Ini akan terlambat. Singkat kata, selama masih bisa, kita harus segera bergerak. Buah perbuatan baik dan perbuatan buruk berbeda dan harus diterima oleh diri sendiri. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.