Sanubari Teduh-313-Tidak Belajar Berakibat Kesesatan
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari dan setiap waktu, kita hendaknya memperhatikan pikiran kita. Jika pikiran tersesat, noda batin akan muncul. Karma buruk akan bertambah hari demi hari. Jika pintu hati kita tertutup, maka kita akan makin jauh dari kebajikan. Inilah saat batin kita terutupdan kebijaksanaan kita terhalang. Kita harus selalu waspada akan hal ini. Jika batin kita tersesat, maka noda batin pasti muncul. Dengan begitu, karma buruk pun akan terus bertambah seiring waktu. Semua ini disebabkan karena pintu hati kita sudah tertutup. Karena itu, ajaran yang baik tidak dapat masuk. Kita menjadi sangat mudah menyalahi Dharma. Hanya kebajikan yang dapatmelindungi pikiran kita. Jika kita kehilangan pikiran baik, maka pikiran buruk akan terus merasuki batin kita. Jadi, pikiran bajik sangatlah penting.
Sering dikatakan bahwa hati, Buddha,dan semua makhluk pada hakikatnya tak berbeda. Setiap orang memiliki cermin batin yang jernih. Hanya saja, karena cermin ini tertutup, maka pikiran kita bisa tersesat. Dengan begitu, kebijaksanaan akan terhalang. Kondisi luar menutupi kita sehingga mata kebijaksanaan kita menjadi kabur. Dengan kalimat yang sederhana ini, diharapkan setiap orang dapat senantiasa mengingatkan diri sendiri. Di dalam teks dikatakan, Dari beberapa kalimat ini kita dapat memahami bahwa kita semua adalah murid Buddha. Setiap hari kita mengikuti kebaktian pagi di aula. Ketika menghadap Buddha, Dharma, dan Sangha, apakah kita menunjukkan ketulusan? Kita membaca Sutra di dalam kebaktian. Kita dikelilingi oleh para anggota Sangha. Jadi, setiap hari kita harus membangkitkan hati yang tulus untuk bertanya pada diri sendiri. Sejak masa tanpa awal, kita terus terombang-ambing di lautan penderitaan. Di Dunia Saha ini, siapakah yang tidak menderita? Hanya saja, hati nurani kita tertutup sehingga tenggelam dalam pengejaran kenikmatan. Sesungguhnya, orang seperti ini juga menderita. Ada orang yang minum minuman kerasdengan alasan ingin mengurangi kerisauan.
Sesungguhnya, setelah sadar,penderitaan pun bertambah. Orang yang mabuk oleh minuman keras tidak tahu kondisi diri sendiri saat mabuk. Sesungguhnya, dia hanya semakin menderita sehingga tidak sadarkan diri dan tidak tahu apa yang dirinya perbuat. Ada orang yang berteriak-teriak, menangis, melempar barang, dan sebagainya. Bukankah mereka berarti semakin menderita? Seperti kita sendiri, untuk mengurai dan melenyapkan penderitaan di dalam hati, manusia memikirkan berbagai cara. Ada orang yang bersolek hingga sangat cantik, hingga seluruh tubuhnya seperti pohon natal. Mereka mengira itu benar-benar cantik. Sesungguhnya, mereka tetap menderita. Saya teringat saat saya berkunjung ke Taipei, ada seorang istri dari seorang pengusaha kaya yang datang. Sekujur tubuhnya dihiasi batu perhiasan. Mulai dari telinga, bagian dada, tangan, hingga kaki, seluruh tubuhnya dipenuhi perhiasan. Saat berbincang dengan saya,dia terus melihat jam dan berkata, “Saya harus segera pulang.” Meski dia merasa pembicaraan yang ada sangat menarik, tetapi dia tetap harus segera pulang. Dia datang dengan didampingi orang dan harus segera pulang. Dia kemudian kembali membuat janji. “Besok saya akan datang lebih pagi.“
Setelah dia pergi, seorang anggota komite memberi tahu saya, “Dalam keadaan apa pun, dia harus pulang sebelum pukul tiga sore.” Saya bertanya, “Apa dia harus pergi ke bank?” Anggota komite ini menjawab, “Bukan, dia merasa lebih aman pulang sebelum pukul tiga.” Saya kembali bertanya,”Mengapa takut tidak aman?” Dia menjawab, “Master lihatlah seluruh tubuhnya.” “Dia tidak mau pulang terlalu malam.” “Di rumah pun dia dijaga tiga sif pengawal.” “Pengawalnya juga harus berganti sif.” “Dia tidak bisa pulang terlalu malam.” Saya bertanya lagi, “Untuk apa begitu?” Anggota komite ini menjawab,”Perhiasan di tubuhnya bernilai puluhan juta dolar.” Saya pun teringat, “Sungguh, entah berapa banyak perhiasan mahal yang dia kenakan pada tubuhnya.” “Tentu saja dia merasa tidak aman.” Mengapa dia harus membelenggu diri sendiri? Mengapa dia harus membelenggu diri sendiri? Apakah dia bahagia? Mungkin. Suatu ketika, dia terus meminta sayauntuk berkunjung ke rumahnya. Kebetulan suatu hari saya juga keluar untuk melakukan survei. Dalam perjalanan pulang, anggota komite yang membawanya berkata kepada saya, “Master, dia sudah berkali-kali menelepon saya agar saya mengajak Master untuk singgah di rumahnya.” Saya berkata, “Bukankah kamu yang mengatakan kepadanya bahwa jadwal saya sudah diatur?” Anggota komite ini menjawab,”Dia terus bertanya, maka saya terpaksa memberitahunya dan menyetujuinya.” “Master, tolong singgah sebentar saja.” Berhubung dia yang menyetir, maka dia langsung membawa sayake rumah orang itu.
Saat ingin masuk ke rumahnya, keadaannya sangat tidak leluasa. Pintu dan penjagaannya begitu banyak. Rumahnya memang sangat mewah dan membuka wawasan. Si tuan rumah membawa saya melihat-lihat setiap sudut rumahnya. Dia bahkan membuka benda-benda koleksinya. Berbagai batu permatayang tak bisa dikenakan di badan, dia simpan di rumah. Berbagai batu giok, batu permata lain, dan berbagai jenis perhiasan dia punya. Baginya, semua itu sangat berharga. Ini memang membuka wawasan karena sayabelum pernah melihat yang seperti itu. Sesungguhnya, saya ingin berkata kepadanya, “Jika kamu mengambil salah satu dan menjualnya, maka kamu bisa menolong banyak orang.” Dia sesungguhnya memiliki banyak potensiuntuk menolong banyak orang asalkan dia mampu merelakan satu saja batu atau perhiasan miliknya.
Sayangnya, kita di Taipei sempat mengadakan beberapa kali bazar amal, tetapi dia tidak pernah mendonasikan miliknya. Sungguh disayangkan. Di kemudian hari, saya mendengar kabar bahwa dia telah meninggal dunia. Lalu, bagaimana dengan barang-barangnya? Tentu tidak dapat dibawa pergi. Jadi, apa gunanya semua itu? Untuk apa tenggelam dalam lautan penderitaan? Dia memiliki banyak uang, memiliki lingkungan hidup yang baik, tetapi malah tenggelam dalam penderitaan. Untuk bepergian saja, dia harus dikawal. Untuk masuk ke rumahnya sajaharus melewati banyak penjagaan. Sungguh menderita. Dia sungguh tenggelam dalam lautan penderitaan. Ini karena ketidaksadaran sejak awal. Saat kita terlahir di dunia ini, kita sudah membawa ketidaksadaran seperti ini. Meski wanita tadi banyak berbuat baik dan menciptakan berkah dalam kehidupannya, tetapi jika arah hidupnya menyimpang akibat ketidaksadaran, dia menjadi tersesat. Inilah yang disebut kegelapan batin. Inilah yang disebut kegelapan batin. Ketidaksadaran ini disebut kegelapan batin. Akibat kesesatan ini,kegelapan batin semakin terpupuk.
Berhubung sudah diliputi kegelapan batin, maka kita semakin tersesat di dunia ini. Kita tenggelam dalam kesombongan. Jadi, orang berada kadangtenggelam dalam kesombongan. Berbagai kesombongan ini telah terbawa selama berkalpa-kalpa lamanya. Dengan adanya kegelapan batin ini, meski kita meyakini Buddha, kita tetap tidak tahu buah karmayang akan kita terima di masa depan. Kita memahami hukum sebab akibat, tetapi tidak mengetahui jalinan jodohdan buah karma. Karena itu, banyak orang memilih untukmemohon keselamatan dengan berdoa kepada Buddha, membangun kuil atau vihara, dan sebagainya. Mereka hanya ingin memohon berkah. Ini adalah kesesatan. Saat menciptakan berkah, mereka tidak mengerti untuk merendahkan hati, tidak mengerti untuk merelakan harta yang dimiliki untuk berdonasi. Mereka tidak mengerti hal ini. Apakah mereka termasuk menciptakan berkah? Meski kita mendengar mereka ada berbuat baik, tetapi hati mereka masih penuh kesombongan. Mereka masih menginginkan milik orang lain. Apakah ini tidak menciptakan karma buruk? Tentu ada. Jadi, ini sudah berlangsung selama berkalpa-kalpa, entah berapa lama tepatnya. Semua ini terus terakumulasi. Terlebih lagi, sejak masa tanpa awal, kita semua entah sudah melakukan berapa banyak kejahatan, menciptakan berapa banyak karma buruk, menjalin berapa banyak jodoh buruk, dan menanam berapa banyak benih buruk. Segala benih karma yang tertanam ini terus terakumulasi selama berkalpa-kalpa lamanya. “Kalpa” bagaikan butiran pasir, sungguh sulit untuk menghitungnya. Karena itu, disebut “terus menghimpun”. Kita terus menghimpundan memupuk karma buruk tanpa berkesempatan untuk membersihkannya. Menurut pembahasan kita selama ini, pertama kita harus mencegah kesalahan, kedua kita harus mengikis karma buruk. Kita harus terlebih dahulu mencegah kesalahan.
Janganlah kita menciptakan karma buruk. Batin kita jangan sampai tertutup oleh kegelapandan noda batin. Inilah fungsi dari sila, yaitu mencegah kesalahan. Bagaimana dengan yang kedua? Kita tak dapat mengetahui apakah di masa lampau kita ada menciptakan karma buruk. Karena itu, dalam kehidupan ini, kita harus terus mengikis tabiat buruk dan noda batin kita. Berhubung kita masih dapat bertemu denganajaran Buddha pada kehidupan ini, maka meski kita tidak mengetahui masa lampau, dalam kehidupan sekarang kita hendaknya terus membangkitkan pertobatan dan terus mengikis tabiat buruk kita dengan segera. Meski memiliki noda batin, kita juga harus segera membersihkannya. Pertobatan adalah pemurnian. Kita harus senantiasa bertobat dan senantiasa mencegah terjadinya kesalahan. Meski sebagai insan Tzu Chikita terus menciptakan berkah, tetapi janganlah kita hanya mencariberkah alam dewa atau berkah untuk menikmati keduniawian yang dilandasi kebodohan. Bertemu ajaran Buddhaadalah kesempatan langka. Setelah mendengar ajaran,kita harus memahaminya. Jika kita dapat membuka hati dan pikiran setelah mendengar Dharma, maka pintu hati kita tidak akan lagi tertutup. Jika pintu hati kita tertutup, maka sebanyak apa pun Dharma yang kita dengar, kita tak akan mampu memahaminya. Jadi, setelah mendengar, kita harus paham. Berhubung telah bertekad untuk melatih diri, maka kita harus juga berusaha mencapai realisasi. Contohnya, saat menjadi relawan di rumah sakit, saat melihat penderitaan pasien, kita juga harus menyadari penderitaan hidup. kita juga harus menyadari penderitaan hidup.
Kita harus mengingatkan diri sendiri untuk sungguh-sungguh menjaga kesehatan. Kita harus sungguh-sungguh bertobat dan melatih diri sesuai ajaran di dalam Sutra agar realisasi benar-benar tercapai. Untuk itu, kita harus mendengardan melihat langsung. Setelah melihat kenyataan,kita harus berintrospeksi dan membangkitkan kesadaran. Jadi, janganlah kita terus memupuk noda batin dan konflik. Jadi, kita tidak boleh menghimpun semua ini. Kalian semua seharusnya sudah tahu. Dahulu, saya tidak bosan-bosannya menjelaskan Dahulu, saya tidak bosan-bosannya menjelaskan bahwa noda batin halus terdiri atasketamakan, kebencian, dan kebodohan. Apakah kalian masih ingat? Sebersit kegelapan batinmemunculkan tiga aspek halus. Inilah ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Ketamakan, kebencian, dan kebodohansungguh sangat halus. Bayangkan, manusia sering berkata, “Siapa bilang saya tamak?” “Kamu tidak bisa melihat isi hati saya, jadi bagaimana kamu tahu apa yang saya pikirkan saat ini?” “Sebaliknya, saya mungkin tahu apa yang kamu pikirkan.” Isi hati masing-masing orang tidak dapat kita ketahui dengan jelas. Meski isi hati hanya kita ketahui sendiri, tetapi kita juga tak boleh terus tamak. Dari contoh yang saya ambil tadi, meski kejadiannya sudah berlalu bertahun-tahun, tetapi saya masih ingat penampilan orang itu.
Saya masih ingat bagaimana kesepuluh jari orang itu memakai perhiasan. Jika orang itu sempat untuk sadar, maka dia akan bisa menciptakanlebih banyak berkah. Meski dia juga menyumbang untukpembangunan rumah sakit kita dan merupakan salah satu komisaris kehormatan, tetapi dia sesungguhnya bisamerelakan lebih banyak. Di Tzu Chi, dia hanya sampai padapintu komisaris kehormatan, sesungguhnya amat disayangkan. Apa yang menyebabkan hal itu? Tiga aspek halus. Baginya, semua hartanya adalah permata. Jadi, dia berharap mendapat lebih banyak. Jadi, dia berharap mendapat lebih banyak. Ada sebuah toko perhiasan yang khusus menjual perhiasan kelas atas. Wanita ini memberi tahu saya bahwa dirinya adalah pelanggan setia di sana. Harga barang di sana berada di kisaran puluhanhingga ratusan juta dolar NT. Lihatlah, apakah dia merasa cukup? Sepuluh jarinya sudah penuh oleh perhiasan, belum lagi perhiasan yang dia simpan di bank. Namun, setiap kali mampir ke toko itu, dia masih bertanya, “Ada produk baru apa?” Sungguh luar biasa. Ketamakannya sungguh tiada batas. Demikian pula dengan kemarahan. Saat orang akan meluapkan kemarahan, ketahuilah bahwa kerisauan, kebencian, dan keluh kesahdi dalam batinnya telah membangkitkan banyak energi negatif.
Kita juga tak dapat melihatnya. Selain itu, ada pula kebodohan. Bodoh berarti sama sekali tidak paham. Mengapa ada ketamakan? Mengapa ada kebencian? Mengapa ada kebodohan? Karena batin sudah tertutup. Kondisi luar telah mengaburkanmata kebijaksanaan sehingga noda batin terpupuk. Terlebih lagi, akar noda batin inisangat dalam dan kuat. Ini disebut noda batin akar. Tiga aspek halus tadi adalah noda batin akar. Kondisi luar adalah pengondisi yang menyebabkan timbulnya enam aspek kasar. Ini sebelumnya sudah pernah kita bahas. Kontak dengan kondisi luarmenimbulkan enam aspek kasar. Inilah kegelapan batin cabang atau turunan. Kita pernah membahasnya dengan saksama. Kita pernah membahas 108 jenis noda batin yang semuanya diawali oleh noda batin akar dan noda batin cabang tadi.
Sesuatu yang tadinya amat sederhana, tetapi akibat tidak kunjung disadari, akhirnya terpupuk hingga menjadi kesesatan komplek. Jadi, kegelapan batin menyebabkan kesesatan. Jadi, dikatakan bahwa kegelapan batin menutupi kebijaksanaan. Kebijaksanaan di sini adalahkebijaksanaan untuk membedakan, yakni memilah berbagai masalah duniawi berdasarkan akal sehat. Semua ini membutuhkan kebijaksanaan yang mampu membedakan. Selain itu, dibutuhkan kebijaksanaan setara. Tanpa terlebih dahulu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, bagaimana kita bisa mengembangkanlebijaksanaan setara untuk merangkul semua makhluk di dunia? Jadi, kegelepan batin menutupimata dan hati kebijaksanaan kita.” Kita memang harus setara.
Namun, tanpa kemampuan membedakan, kita tak dapat memilah yang baik dan buruk. Jadi, sebelum memiliki kebijaksanaan setara, kita harus memilikipengetahuan untuk membedakan. Sering kali kita menyayangkan bahwa manusia awam seperti kita tidak mampu membedakan yang benar dan salah. Ada orang yang bahkan tak bisamembedakan baik dan buruk, tetapi terus berkata bahwa kita harus setara. Namun, kesetaraan seperti itu tidak disaring oleh kebijaksanaan. Untuk dapat merangkul semua makhlukdengan setara, kita juga harus tahu cara membimbing orang. “Dahulu kamu pernah melakukan kesalahan, saya memaafkan kamu.” Namun, kita juga harus membimbingnya agar berubah ke arah yang lebih baik. Yang benar kita katakan benar. Yang benar kita katakan benar. Yang tidak benar kita maafkan, tetapi bukan berarti bisa kita biarkan. Suatu ketika, ada orang berkata pada saya, “Si A berperilaku begitu.” Saya menjawab,”Tiada orang yang tidak saya kasihi, tiada orang yang tidak saya percayai, dan tiada orang yang tidak saya maafkan.” Sikap saya ini setara terhadap semua orang. Saya mengasihi semua orang. Namun, jika seseorang melanggar aturan, tentu saya tidak dapat membiarkannya. Membiarkan di sini tentu berbeda dengan memaafkan.
Tiada orang yang tidak saya maafkan berarti orang yang bersalah hendaknya tidak mengulangi. Meski sudah bersalah, dia masih memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. Inilah kebijaksanaan. Jika ada orang yang melakukan kesalahan, kita harus berlapang dada dan memaafkan. Cinta kasih kita tetap setara, yaitu tetap memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Inilah yang disebut mata kebijaksanaan murni. Untuk memaafkan orangdengan prinsip kesetaraan, kita harus terlebih dahulumemiliki kebijaksanaan. Cinta kasih kita tetap ada selamanya. Hanya saja, jika kita disesatkan oleh kondisi luar, lalu tidak dapat membedakan benar dan salah, maka kita juga akan membuat kesalahan. Inilah yang disebut mata dan hati kebijaksanaan tertutup dan terhalang. Jadi, jika batin kita tertutup oleh noda, kita juga bisa melakukan kesalahan di luar. Ini sungguh menakutkan. Jika kebijaksanaan batin kita tertutup oleh noda batin, lalu kita menjadi orang yang hanya ingin terlihat baik, maka itu juga tidak benar. Kita tidak memberi tahu orang lain apakah mereka salah atau tidak.
Ini juga tidak benar. Jika kita terus seperti ini, orang lain juga tidak tahu jika mereka salah. Jika begitu, orang akan terus mengikuti noda batinnya. Sifat-sifat yang dikandung noda batin ini lambat laun akan menjadi tabiat buruk. Tabiat buruk masih bisa kita perbaiki perlahan. Namun, jika ia sudah menjadi watak dan merasuk ke dalam lubuk hati kita, ia akan merusak hati nurani kita. ia akan merusak hati nurani kita. Noda batin telah merusak sifat hakiki manusia. Dengan kata lain, hati nurani kita menjadi buta. Dengan demikian, manusia akan dapatmelakukan lima karma celaka. Lima karma celaka adalah pelanggaran berat yang tidak terampuni dari sepuluh kejahatan. Di hadapan Raja Yama, kejahatan-kejahatan ini tidak bisa diampuni. Ini bahkan disebut sebagai pelanggaran tiga masa. Setelah menjalani masa hukuman di neraka, jika sifat buruk itu masih ada, seorang makhluk harus kembaliterlahir di alam manusia dan menerima sisa buah karmanya. Dia tetap akan menderita. Di alam manusia, dia tidak akan berjodoh dengan penolong atau penyelamat hidupnya karena dia telah memutus jodoh ini. karena dia telah memutus jodoh ini.
Di tengah penderitaan itu, dia tetap akankembali melakukan karma buruk dan kesalahannya akan berlanjutke kehidupan berikutnya. Karena itu, lima karma celaka disebutpelanggaran tiga masa. Saudara sekalian, semua ini hanya dimulaioleh sebersit niat. Batin kita harus senantiasa bersih, barulah mata kebijaksanaan kita tidak terhalang. Jangan hanya berusaha terlihat baik. Jika kita hanya ingin terlihat baiktanpa memegang prinsip, maka kita tak akan dapat membedakanbenar dan salah dengan jelas. Inilah yang disebut mata kebijaksanaan terhalang. Kalimat ini mungkin agak sulit dimengerti. Saya kembali mengulangnya untuk kalian. Segala hal yang kita lihat dan segala prinsip harus kita cerna dengan jelas. Kita harus bisa membedakanbenar dan salah dengan jelas. Saudara sekalian, kita sungguh harus menjaga pikiran dengan baik. Jika batin kita tersesat, kita tentu akan risau dan karma buruk kita akan semakin bertambah. Jika pintu hati kita tertutup,kita akan jauh dari kebajikan. Mata kebijaksanaan kita akan terhalang. Meski mata kita jelas-jelas terbuka dan dapat melihat benda dengan jelas, tetapi kebijaksanaan kita akan terhalangoleh berbagai kondisi luar. Karena itu, harap semua lebih bersungguh hati.