Sanubari Teduh-314-Lima Kecenderungan Tumpul
Saudara se-Dharma sekalian, pagi-pagi sekali, kita dapat mendengar kicauan burung di luar. Dari sana kita bisa tahu bahwa hari ini cerah. Saat mendongakkan kepala,kita juga bisa melihat bulan. Meski kita mendengar suara burung yang sangat nyata di luar dan melihat bulan di langit saat kita mendongakkan kepala, tetapi semua ini berada jauh dari kita. Jika kita menatap ke permukaan air, kita mungkin melihat bayangan bulan. Namun, bulan di permukaan air bersifat semu. Jika kita mengusik permukaan air itu, Jika kita mengusik permukaan air itu, maka bulannya tidak lagi terlihat. Untuk apa kita terlalu serius dalam banyak hal? Kita penuh keinginan dan kemelekatan, baik terhadap kecantikan, harta, benda, nama, maupun keuntungan. Kita berhitungan dengan sangat serius untuk memperjuangkan keinginan tersebut. Bukankah ini akan membuat batin kita penuh kerisauan dan kegalauan? Dengan begitu, kita akan sulit untukmembedakan yang benar dan salah. Kita tak tahu yang baik dan buruk. Dengan begitu, kita tak bisa membedakankarma buruk dan berkah. Demikianlah makhluk hidup.
Inilah noda batin. Jika kita melekat pada lima nafsu keinginan, kita akan terbuai oleh enam objek. Kita semua tahu tentang enam objek, yaitu rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan,dan objek pikiran. Semua objek ini diingini oleh indra mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran kita. Kita tamak akan enam objek luar karena adanya enam indra kita yang mengalami kontak dengan kondisi luar. Karena itu, kita mengikuti ketamakan ini. Pikiran kita akan terus mengejar kondisi luar. Saat pikiran kita menyatu dengan kondisi luar, maka sulit untuk tidak tamak. Karena itu, kita terus tamak. Dengan begitu, noda batin akan bangkit. Ini disebut kegelapan batin. Kegelapan batin manusia sungguh membuat kita seumur hidup mengalami penderitaan tak terkira. Lihatlah, ada orang yang tadinya memiliki nama, kedudukan, talenta, dan dihormati banyak orang, tetapi karena sebersit keinginan dan kemelekatan, batinnya dilanda kekacauan. Batinnya penuh kerisauan dan kegalauan, sangat kacau. Jadi, begitu ketamakan timbul, segalanya menjadi tidak jelas.
Apakah kebahagiaan yang sejati? Ada sebuah keluarga yang bahagia. Akibat ketamakan akan kecantikan, sang suami meninggalkan kehangatan keluarga dan memilih cinta yang tak sepatutnya. Jadi, orang zaman dahulu berkata, “Lebih memilih kecantikan daripada negeri.” Inilah ketamakan pada kecantikan. Kebahagiaan sesungguhnya dalam hidup adalah keharmonisan keluarga. Jika ada yang terbuai oleh kecantikan di luar, maka keluarga ini mudah terganggu dan bisa hancur atau retak. Ada orang berkata, “Cangkir yang tadinya sempurna dan indah, malah sompek pada salah satu sisinya.” Tentu, orang yang penuh cinta kasih tidak perlu melihat sisi yang sompek itu, dan jika diputar, cangkirnya masih terlihat baik. Bagaimana pun sikap batin kita, jika kita tidak melihat bagian yang sompek itu, maka cangkir tadi masih terlihat baik dan masih dapat digunakan. Namun, cangkir ini memang jelas-jelas sudah sompek. Inilah yang dikatakan orang zaman dahulu. Cangkir itu sudah sompek, sama halnya manusia memiliki kekurangan. Sompek di sini menggambarkan kekurangan.
Mengapa manusia selalu tidak pernah sempurna? Jika tidak ada kekurangan, bukankah akan sangat berharga dan sangat indah? Jadi, manusia kadang merasa sayang. Keinginan dan kemelekatan inidisebut ketamakan. Dengan adanya ketamakan, noda batin akan timbul di pikiran kita. Ada pula kebencian dan kemarahan. Ada orang yang setelah berbuat kesalahan lalu dinasihati oleh orang lain yang bisa berpikir lebih jernih, tetapi apakah orang ini mau mendengar? Mungkin bukan saja tidak mau mendengar, tetapi juga marah dan membenci. Ini akibat ketamakan dan nafsu keinginan yang membangkitkan noda batin lainnya. Nasihat yang baik tidak mau didengar, malah membenci orang yang menasihati. Banyak orang yang menasihatinya, tetapi bukan hanya tidak mau dengar, dia malah marah dan membenci. Dalam batinnya tersimpan niat untuk mencelakai. Di dalam Sutra ada kisah seperti ini. Kita bisa melihat bahwa watak manusia bisa menjadi bagaikan Buddha atau Mara.
Setiap orang pada dasarnya memiliki hati Buddha, tetapi begitu ketulusan hatinya hilang, manusia akan mudah mendekat pada Mara. Dengan begitu, mereka akan memilikinoda batin yang mampu mencelakai. Batin mereka penuh kegalauan dan kerisauan. Batin mereka telah rusak. Batin mereka telah rusak. Kualitas luhur sebagai manusia sudah hilang. Akibatnya, mereka risau, seperti orang yang tidak sadar dan terus tertidur. dan terus tertidur. Manusia seperti ini bagai tengah bermimpi. Dia bagai diperdaya Mara, bagaimana pun dibangunkan, tetap tidak sadar. Inilah noda batin yang tidak berkesudahan. Berhubung noda batin ini tak kunjung berakhir, maka orang ini tidak akan bisa sadar. Ini sungguh disayangkan. Manusia memiliki keinginanterhadap enam objek. Ketamakan dan keinginan seperti ini sungguh membawa penderitaan yang tak terkira. Akibat adanya kebencian dan kemarahan saat terjadi kondisi yang tak diinginkan,pikiran untuk mencelakai timbul.
Kebencian ini menyalahi hati nurani manusia, juga menyalahi prinsip sebagai manusia. Inilah yang disebut kebencianmenyalahi hati nurani. Inilah yang disebut kebencianmenyalahi hati nurani. Akibat kemarahan terhadapkondisi yang tak diinginkan, banyak orang bertindak aneh dan tidak jelas. Orang yang melihat mungkin berkata, “Aneh, mengapa dia berbuat begitu?” Saat akan ditegur, dia menjadi marah. Dengan begitu, perasaan negatif dan niat yang jauh dari perikemanusiaan pun muncul. Saat orang lain hanya menatapnya saja, dia sudah membangkitkan niat untuk mencelakai, ingin memukul, membunuh, dan sebagainya. Dia telah kehilangan perikemanusiaan. Ini menyalahi hati nurani dan menyalahi akal sehat. Orang seperti ini mudah marahsaat kondisi tidak sesuai harapan. Dia memberontak terhadap hati sendiri, terlebih terhadap orang tua. Saat dinasihati sedikit, dia pun bertindak sama, yakni langsung memberontak dan marah, lalu timbul niat untuk mencelakai, seperti membunuh, bahkan terhadap orang tua sendiri.
Kita sering melihat siaran berita tentang ayah dan anak yang bertikai di pengadilan bagaikan musuh bebuyutan. Sesungguhnya, dahulu kita juga pernah membahas tentang hubungan orang tua dan anak. Meski orang tua dan anakberselisih di alam manusia, tetapi sesampainya di hadapan Raja Yama dan diadili bersama-sama, seberapa erat pun hubungan mereka, mereka tidak bisa saling meringankanhukuman satu sama lain. Akibat sedikit penyimpangan dalam pikiran, segala kebaikan di dalam batin pun runtuh. Manusia menjadi tidak memahamiperbuatan buruk dan baik, mengabaikan hukum karma, dan membangkitkan noda batin yangtidak berkesudahan. Penggalan ini mengingatkan kita bahwa pikiran kita harus dijaga dengan baik. Jika terjadi penyimpangan sedikit saja dan timbul sedikit kekurangan, maka bangkitlah kegelapan batinyang mengabaikan hukum karma. Ini menyalahi hati nurani dan akal sehat. Manusia berpandangan tidak ada hukum karma. Mereka tak percaya hukum karma. Selanjutnya, setelah membahas ketamakan,kebencian, dan kebodohan, kini kita akan membahas kesombongan.
Mengenai kesombongan, dahulu kita pernah membahasnya. Jika kesombongan bangkit, manusia akan menindasdan merendahkan orang lain. Inilah kesombongan. Jika manusia bersifat sombong, maka saat dia berbuat kesalahan, maka saat dia berbuat kesalahan, bagaimana pun dinasihati, dia tidak akan mau mendengar. Ini karena dia sering meremehkan orang lain dan menganggap diri sendiri selalu benar. Ini sering terjadi pada orang yang berpendidikan atau berpengetahuan tinggi. Semakin tinggi pengetahuan atau pendidikannya, kesombongannya bisa semakin besar. Sebaliknya, orang yang tidak berpendidikan sering merasa rendah diri. Mereka menganggap pokoknyadiri mereka tidak mampu. “Apa pedulimu dengan yang saya lakukan?” “Saya memang tidak mengerti.” “Saya memang tidak bisa.” “Saya tak mau berurusan denganmu.” “Kamu bilang saja apa yang harus saya lakukan.” Ini juga termasuk kesombongan. Ini juga termasuk kesombongan. Kesombongan bisa dimiliki oleh orang yang berpengetahuan atau berpendidikan tinggi, juga bisa dimilikioleh orang yang tidak berpengetahuan. Inilah jenis kesombongan inferior.
Semua ini adalah noda batin. Pada dasarnya kita memilikikebijaksanaan yang setara. Seseorang memiliki tingkat pendidikanyang lebih tinggi karena dia berkesempatanmenyerap lebih banyak dari masyarakat sehingga memperoleh banyak pengetahuan. Karena itu, dia hendaknyakembali bersumbangsih bagi masyarakat. Selain menggunakan pengetahuannya, dia seharusnya lebih maju selangkah, yakni mengubah pengetahuanmenjadi kebijaksanaan. Meski dia mengerti banyak, tetapi seharusnya dia juga bijaksana, yaitu bersyukur terhadap orang tua, terhadap guru, terhadap sumber daya masyarakat yang dia serap. Jadi, manusia hendaknya bersyukur, terlebih harus merendahkan hati. Kehidupan seperti ini, barulah disebut kehidupan yang berhasil. Jika sebaliknya, manusia hanya akan merasa diri sendiri pandai dan berpendidikan tinggi. Setiap orang dilahirkan ke dunia tidak lagsung mengerti segala hal. Semua orang harus melalui proses bimbingan. Jadi, manusia tak sepatutnya bersikap sombong. Namun, kita makhluk awam malah penuh kesombongan.
Ada pula orang yang lahir di lingkunganyang tidak baik. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya. Masyarakat setempat tidak dapatmemberinya pendidikan. Ini karena orang yang kurang mampu seakan tersisih di masyarakat. Jika bertemu orang baik, mereka dapat terbimbing. Jika tidak bertemu orang baik, mereka mungkin berjalan menyimpang. Ada orang yang berpikir, “Untuk apa saya memohon pada orang lain?” Ini juga termasuk sejenis kesombongan. Ini disebut kesombongan inferior. Ini juga disebut rasa rendah diri. Apakah ini berguna? Tidak. Buddha memberi tahu bahwa semua orangadalah setara asalkan kita dapat bersungguh hati. Dengan kesungguhan hati,kita dapat menjadi profesional di dalam bidang keterampilan tertentu. Orang yang berpengetahuan tinggi punbelum tentu bisa menguasainya. Namun, selain memiliki keterampilan, kita juga harus memiliki pengetahuan. Konfusius pun masih bertanyasaat memasuki kuil kerajaan. Bukankah Konfusius menekankan tata krama? Beliau menekankan pengendalian diri dan tata krama. Namun, saat memasuki kuil. Namun, saat memasuki kuil, masih banyak hal yang belum beliau mengerti. Karena itu, beliau terus bertanya. Beliau bertanya dengan rendah hati.
Beliau merendahkan hati dan bertanya barang-barang apa saja yang digunakan dan tata cara seperti apa yang dilakukan dalam waktu-waktu atau upacara tertentu dalam waktu-waktu atau upacara tertentu. Semuanya ditanyakan oleh Konfusius saat beliau datang ke kuil kerajaan. Inilah orang yang berpengetahuan dan bijaksana. Beliau mampu merendahkan hati, barulah dapat membangkitkankebijaksanaan yang tinggi. Konfusius juga tidak merendahkan seorang pun. Beliau menghormati semua orangdari berbagai latar belakang. Beliau juga bertanya tentang pertanian. Saat melewati sawah dan melihat petani bercocok tanam, beliau juga meminta petunjuk tentang cara bercocok tanam yang benar, musim tanam dan metode yang tepat, cara menyebar benih, cara memberantas hama, dan cara merawat tanaman sehingga memiliki hasil panen yang baik. Begitulah Konfusius. Meski beliau sangat bijaksana, tetapi beliau tidak sombong. Tidak. Jadi, untuk menjadi teladan manusia yang luhur dan sempurna, kita harus membuang kesombongan dan sikap meremehkan orang lain.
Semua ini juga merupakan noda batin. Berikutnya dikatakan, “Ragu terhadap jalan benar,noda batin keraguan bangkit.” Kita dapat terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha, maka hendaknya dapat menghormati ajaran Buddha yang mengandung keyakinan benar, perhatian benar,dan pikiran benar. Namun, sebagai agama, banyak orang meragukan ajaran Buddha. Jika memiliki keraguan terhadap ajaran Buddha, mereka tidak dapat memasuki jalan benar ini. Itu karena mereka ragu akan jalan benar. Terhadap jalan yang lapang dan lurus, mereka memiliki keraguan. Jalan ini jelas-jelas baik untuk ditapaki, tetapi mereka ragu. Mereka tidak yakin bahwa ajaran Buddhaadalah obat mujarab. Di dalam batin kita semua terdapat penyakit. Di dalam Sutra Bunga Terataijuga dibahas mengenai hal ini.
Ibarat sepasang ayah dan anak, meski ayahnya adalah seorang dokter, tetapi jika sang anak tidak percayaterhadap resep obat dari ayahnya, maka anak-anak dari dokter ini tetap menderita sakit baik fisik maupun batin. Melihat anak-anaknya tidak mau minum obat, sang ayah pergi jauh. Setelah berselang beberapa waktu, dia mengutus orang untuk menyampaikan pada anak-anaknya bahwa dia telah meninggal. Mendengar ayahnya yang adalah dokter telah meninggal, anak-anak itu tak tahu apa yang harus diperbuat untuk menyembuhkan penyakit fisik dan batin mereka. fisik dan batin mereka. Beruntung, sebelum pergi, sang ayah pernah menyampaikan resep obat kepada anak-anaknya jika suatu saat dibutuhkan. jika suatu saat dibutuhkan. Ini adalah sebuah perumpamaan yang ada dalam Sutra Bunga Teratai. Di Tiga Alam ini, bukankah banyak makhluk yang merupakan murid dari Yang Mahasadar? Namun, banyak orang tidak yakin dan meragukan jalan benar. Mereka tidak percaya pada obat dari Buddha. Inilah yang disebut noda batin keraguan.
Semua noda batin yang kita bahas tadi disebut Lima Kecenderungan Tumpul, terdiri atas ketamakan, kebencian, kebodohan,kesombongan,dan keraguan. Lima indra yang bersentuhan dengan lima objek, ditambah indra dan objek pikiran,memicu ketamakan yang membangkitkan banyak noda batin. Inilah Lima Kecenderungan Tumpul. Tumpul di sini berarti kacau. Lima noda batin ini membuat pikiran kita kacau dan mendorong kita untuk melakukan banyak kesalahan. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mengembangkan pengetahuan, pandangan, keyakinan, pikiran, dan ucapan benar, serta delapan faktor dari Jalan Mulia. Jadi, setiap saat, dalam kontak antara batin dan kondisi luar, setiap orang orang hendaknya bersungguh hati.