Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 320-Empat Landasan Noda Batin

Saudara se-Dharma sekalian, sejak masa tanpa awal, kita semua memiliki hakikat kesadaran yang murni memiliki hakikat kesadaran yang murni dan sama dengan Buddha. Hanya saja, karena sebersit kegelapan batin, kemelekatan berdiam di batin kita. Kita selalu berada dalam kemelekatan. Dengan adanya kemelekatan, kita menciptakan karma dari tubuh, ucapan, dan pikiran. Inilah yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Kebijaksanaan hakiki kita pun tertutupi. Kegelapan batin membawa kekacauan. Karena itu, kita menciptakan karma lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Terhadap Empat Kebenaran Mulia dan 12 Mata Rantai Sebab Akibat, kita tidak memahami dengan jelas. kita tidak memahami dengan jelas. Empat Kebenaran Mulia dan 12 Mata Rantai Sebab Akibat adalah kunci dari misteri kelahiran dan kematian. Isi dari Empat Kebenaran Mulia harus kita pahami.

Kehidupan penuh dengan penderitaan. Penuh ketidakberdayaan dalam hidup ini. Apa yang menyebabkan penderitaan ini? Sebab apa yang terhimpun sehingga banyak orang terbelenggu dalam noda batin dan mengakibatkan banyak hal yang berujung pada berbagai bencana alam dan ulah manusia pada berbagai bencana alam dan ulah manusia ataupun berbagai masalah kehidupan pribadi? ataupun berbagai masalah kehidupan pribadi? Semua ini mengganggu kita dan sangat mendesak. Apa sebab dari semua ini? Apa sebab dari semua ini? Kita harus merenungkannya dengan cermat. Jika tidak memahami sumber penderitaan, kita tak akan tahu cara melenyapkan penderitaan. Berhubung kita tidak tahu semua ini, maka Buddha datang ke dunia untuk membuka sebuah jalan bagi kita agar kita tahu bahwa penderitaan datang karena adanya sebab. Untuk melenyapkan sebab penderitaan ini, kita harus berlatih sesuai sang jalan. Inilah Empat Kebenaran Mulia.

Namun, kita tidak bersungguh hati. Akibat ketidaksungguhan ini, kita pun terus terjebak dalam 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Mata rantai ini dimulai dari kegelapan batin. Sebersit kegelapan batin memicu dorongan karma, lalu menimbulkan kesadaran, nama dan rupa, dan seterusnya hingga membentuk 12 mata rantai. Kesadaran kita terus berlanjut sehingga kita terus berada di dalam 12 mata rantai ini. Kesadaran gudang dari kehidupan lampau adalah satu-satunya yang kita bawa. Kesadaran kedelapan ini berisi benih perbuatan kita di masa lampau yang telah terakumulasi dan terbawa ke kehidupan sekarang mengikuti berbagai jalinan jodoh. Jadi, dalam kehidupan sekarang, jika kita tidak segera melatih diri, berarti kita menyia-nyiakan kehidupan di mana kita telah terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha. Setelah memahami Empat Kebenaran Mulia dan 12 Mata Rantai Sebab Akibat, kita harus mendalami Empat Kebenaran Mulia ini dan segera berlatih untuk melenyapkan penderitaan. Untuk itu, kita merunut mundur 12 mata rantai. Kematian disebabkan oleh kelahiran. Kelahiran disebabkan oleh eksistensi. Eksistensi disebabkan oleh kemelekatan. Kemelekatan disebabkan oleh keinginan.

Keinginan disebabkan oleh sensasi. Semua ini adalah runutan mundur dari 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Jika kita memahami seluruhnya, barulah kita dapat benar-benar melenyapkan penderitaan. Jadi, kita harus tahu bahwa seluruh noda batin berawal dari ketidaktahuan. Ketidaktahuan ini hanya berada pada sebersit niat. Jika kita tidak sungguh-sungguh untuk senantiasa berintrospeksi dan menjaga kebijaksanaan yang murni, maka kebijaksanaan ini akan tercemar dan tidak lagi terpancar. Dikatakan, “Akibat kegelapan batin tanpa awal, terhimpunlah landasan noda batin sebanyak pasir Sungai Gangga.” Kita terus mengalami kelahiran kembali mengikuti 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Berikutnya dikatakan, “Akibat kegelapan batin tanpa awal…” Sejak masa lalu yang tak berujung, entah kapan kegelapan batin ini bangkit. Setelah itu, kemelekatan mulai ada dalam batin kita. Kegelapan batin kita sering kali bangkit.

Jika kita tidak melekat, maka masalah akan segera terurai. Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Saat noda batin muncul, kita harus segera melenyapkannya. Jadi, jangan sampai kita terbelenggu kegelapan batin. Jika kita dapat melakukan ini bagi batin kita, Jika kita dapat melakukan ini bagi batin kita, maka noda batin akan bisa dilenyapkan. Jadi,  akibat kegelapan batin tanpa awal, terhimpunlah landasan noda batin yang membawa penderitaan berkelanjutan sesuai 12 Mata Rantai Sebab Akibat. Entah kapan penderitaan ini dimulai, sejak sebersit ketidaksadaran bangkit sehingga menimbulkan noda batin dan kemelekatan yang menciptakan banyak benih yang terakumulasi di dalam kesadaran kita. Karena itu, kita terus terlahir kembali di enam alam. Jadi, noda batin sebanyak pasir Sungai Gangga menggambarkan jumlah yang tak terhingga. menggambarkan jumlah yang tak terhingga. Akibat noda batin ini, kita terjerat di Tiga Alam, menerima buah penderitaan, dan mengganggu orang suci. Saya sering berkata bahwa kita sering risau terhadap empat fase alamiah. Kita mengenal fase pembentukan, kelangsungan, kerusakan, dan kehancuran.

Di alam semesta ini, tubuh kita juga mengalami lahir, tua, sakit, dan mati. Inilah empat fase pada tubuh kita. Ada pula empat fase pada pikiran, yaitu timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Semua perubahan ini terjadi dengan sangat halus.  Adakalanya semua itu sangat halus. “Apakah kamu sedang marah?” “Kalau kamu tidak menunjukkannya, saat saya berbicara, saya tidak tahu bahwa kamu sedang marah.” Semua ini sangat halus. Apakah kita ada menyinggung orang lain? Jika orang lain tidak mengungkapkannya, mungkin saja tiada yang tahu. Fenomena pikiran ini sangat halus. Karena kita menyinggung orang lain, maka di dalam batin orang itu, terpupuk rasa tidak suka terhadap kita. terpupuk rasa tidak suka terhadap kita. Jika rasa tidak suka ini terus dipelihara dan disimpan di dalam batin, maka saat kita mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu, orang itu akan merasa iri jika kita benar, dan akan membenci jika kita salah. dan akan membenci jika kita salah.

Ada banyak hal yang dirasakan orang lain dan tak kita sadari. “Mengapa kamu kamu bersikap begitu?” Ini dapat memicu perselisihan. Semua ini terpupuk secara halus tanpa disadari. Semua ini terpupuk secara halus tanpa disadari. Proses ini terus berjalan. Dengan begitu, di dalam batin setiap orang muncullah noda batin. Kegelapan batin pun tinggal di dalam batin mereka. Saat sebersit niat baik bangkit, kita harus segera melakukannya. Kita juga harus bertekad untuk melatih diri. Saat muncul pikiran seperti ini, Saat muncul pikiran seperti ini, apakah ia akan bertahan selamanya? apakah ia akan bertahan selamanya? Kita sudah mengetahui kebenaran dan jalan yang Buddha tunjukkan pada kita untuk kita tapaki, tetapi apakah kita berketetapan untuk menapakinya? Tekad kita ini, apakah dapat dipertahankan? Jika dapat dipertahankan, maka kita dapat terus menapaki jalan ini. Namun, kita adalah makhluk awam yang mengalami pasang surut. Pikiran kita mengalami empat fase. Pada saat ini, kita memang membangkitkan niat yang baik.

Setelah berselang beberapa waktu, noda batin mulai terpupuk perlahan dan membelenggu batin kita. Mulanya, kita sudah bertekad melatih diri, tetapi kita mulai dikuasai oleh noda batin. tetapi kita mulai dikuasai oleh noda batin. Noda batin ini bisa merusak tekad kita sehingga tekad kita perlahan-lahan berubah. Pikiran kita sering kali berubah. Sulit untuk mempertahankan tekad sejak dibuat hingga masa tak terhingga. Sulit sekali. Jadi, setelah pikiran berubah, ia dapat lenyap. Dengan begitu, tekad kita juga bisa lenyap. Jika tekad lenyap, noda batin akan bangkit. Begitulah prinsipnya. Meski kita memiliki noda batin, jika kita dapat membangkitkan tekad untuk melatih diri dan memegangnya dengan teguh, maka noda dan kegelapan batin serta kemelekatan batin kita akan dapat dikikis perlahan-lahan. Saat kita memegang teguh tekad, saat itulah fase keberlangsungan. Saat berbagai noda batin kembali muncul, kita tidak terpengaruh, sebaliknya malah semakin teguh. Dengan memegang teguh tekad, maka tekad ini tidak akan lenyap.

Kita akan kembali pada hakikat kesadaran yang murni. Namun, makhluk awam sulit melampaui sifat awam dan kembali pada sifat hakiki. Kebanyakan dari kita malah terjerumus ke dalam sifat awam. Kita semua pada dasarnya memiliki kesadaran hakiki yang sama dengan Buddha. Hanya karena sebersit kegelapan batin, kita terus tenggelam dalam keduniawian. Akibatnya, kita selalu mengacaukan batin kita sendiri. Kita jelas-jelas sudah bertemu ajaran dan tinggal mempraktikkannya, tetapi kita malah sering kali terjebak dalam berbagai noda batin dan empat fase pikiran. Kita jelas-jelas pernah membangkitkan tekad dan tekad ini pernah ada di dalam hati kita. Namun, setelah beberapa waktu, tekad ini pun berubah dan mudah lenyap. Begitulah pikiran yang timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Semuanya berlangsung dengan halus. Karena itu, noda batin yang tak terhingga bisa muncul dan terpupuk. Karena itu, dikatakan seperti pasir Sungai Gangga. Saudara sekalian, pikiran memiliki fase timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap.

Kita hendaknya kembali pada hakikat sejati. Kita harus menyadari bahwa kita telah memiliki noda dan kegelapan batin. Jika kita tahu cara untuk meneguhkan tekad dan memantapkan hati kita untuk kembali pada kesadaran hakiki yang murni, maka alangkah baiknya. Namun, manusia cenderung mengikuti arus. Arus noda batin adalah arus yang keruh. Manusia cenderung mengikuti kekeruhan ini. Itulah sebabnya kita menderita. Jadi, di sini dibahas mengenai empat fase pikiran dan sembilan alam. Empat fase pikiran sudah kita bahas tadi. Sembilan alam juga sudah pernah dibahas. Di Tiga Alam, ada lima alam samsara. Secara keseluruhan, selain alam alam Buddha atau para suci, ada sembilan alam yang juga diliputi noda batin. Secara umum, alam-alam ini dapat dikelompokkan menjadi Tiga Alam. Tiga Alam meliputi alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa. Di alam mana pun dari sembilan alam ini, semua makhluk terbelenggu oleh buah karma langsung dan pengondisi. Buah karma pengondisi adalah karma yang menentukan orang tua kita dan kondisi tempat kita lahir. Buah karma langsung adalah perbuatan baik dan buruk yang kita bawa.

Jika karma buruk kita sangat berat, maka meski kita memiliki orang tua yang sangat kaya dan berprinsip, yang sangat kaya dan berprinsip, meski kondisi keluarga kita baik, tetapi kita juga masih harus menanggung karma buruk akibat tabiat masa lalu. Contohnya, kita jadi sulit dididik. Contohnya, kita jadi sulit dididik. Lihatlah di masyarakat kita sekarang ini, ada banyak anak yang sulit dididik. Mereka berkeliaran di luar dan membuat orang tua harus berpikir keras. Meski diberikan les tambahan di rumah, mereka juga tidak bisa menyerap pelajaran. Mereka juga tak bisa berkonsentrasi belajar. Kasus seperti ini juga ada. Jika ada jodoh buruk dengan orang tua, seorang anak bisa lahir dalam keluarga yang kurang baik atau bahkan menyimpan kebencian. Anak ini membenci orang tuanya Anak ini membenci orang tuanya dan mungkin mencelakai mereka. Saya pernah melihat sebuah berita tentang seorang anak muda. Anak itu berusia 20-an tahun. Dia sendiri sudah memiliki anak. Namun, dia tidak peduli pada keluarganya dan tidak berbakti pada orang tuanya.

Suatu hari, dia mengambil uang dari orang tuanya. Orang tuanya tidak mau memberikannya karena menganggap dia pasti berjudi atau mabuk-mabukan. Ayahnya dengan tegas menolaknya serta menasihatinya. Dia lalu marah dan membunuh ayahnya itu. Dia mengiris-iris tubuh ayahnya. Dia mengiris-iris tubuh ayahnya. Kebetulan anaknya baru pulang sekolah. Meski anaknya masih kecil, tetapi melihat darah berceceran, dia sendiri meminta mereka masuk kamar, menutup pintu, dan menonton televisi, sedangkan dia sendiri terus menyiksa ayahnya. Dia terus menunggu ayahnya memberikan uang, tetapi ayahnya tetap menolak. Darah terus bercucuran. Setelah tiga sampai empat jam,  sang ayah ditemukan dan dilarikan ke RS, tetapi beliau sudah kehilangan banyak darah dan akhirnya meninggal. Pengadilan menjatuhi hukuman mati kepada pemuda ini. Namun, dia memutuskan untuk naik banding dan menunda hukuman hingga 5-6 tahun. Meski telah dipenjara, dia tidak menyesal. Dia tidak merasa bersalah meski telah membunuh ayahnya dengan menyiksanya selama beberapa jam.

Di dalam hatinya tidak muncul rasa iba. Dia tetap bersikap kejam. Melihat darah bercucuran dari tubuh ayahnya, dia tidak berniat menolong. Dia dijatuhi hukuman mati. Entah berapa kali dia dijatuhi hukuman mati karena terus naik banding. Bagaiamana pun, hukuman tidak berkurang, tetapi dia tetap tidak menyesal dan terus menganggap dirinya tidak bersalah. Orang seperti ini, meski dijatuhi hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup juga tidak akan menyesal. Kebencian selalu ada di hatinya. Inilah karma. Entah mengapa jalinan jodohnya dengan ayahnya begitu buruk. Mengenai buah karma langsung dan penopang, anak ini bukan hanya tidak berintrospeksi, tetapi juga menciptakan lebih banyak karma baru. Belum lama ini kita membahas istana Raja Yama. Saat kita diadili di sana, keluarga terdekat pun tidak dapat membantu. Pengadilan di neraka berbeda dengan di alam manusia. Hukuman di alam manusia berada di tangan hakim. Adakalanya hakim juga bisa menyimpang karena mendapat tekanan dari masyarakat. Mungkin banyak orang yang tak bersalah, tetapi tetap dihukum. Ada pula orang yang bersalah tetapi dihukum ringan. Kasus seperti ini sangat banyak.

Karma apa pun yang kita lakukan, kita sendirilah yang akan menerima akibatnya. Ada orang bertanya, “Apakah neraka benar-benar ada?” Ada. Meski tidak terlihat mata, neraka tetap ada. Bahkan, kita bisa melihat neraka di alam manusia. Lihatlah kondisi di Afrika, terutama di Etiopia, sebuah negara yang sangat tertinggal. Di sana kita dapat melihat kondisi neraka di alam manusia. Selain itu, kita bisa melihat-lihat di rumah sakit. Ada orang yang diamputasi kakinya, tangannya, lidahnya dijulurkan, dibedah, dan sebagainya. dibedah, dan sebagainya. Jadi, jangan menganggap neraka tidak ada ataupun hukum karma tidak ada. Akibat sebersit kegelapan batin, empat landasan noda batin pun bangkit mengikuti fase timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Ini membuat kita makhluk awam memiliki keinginan terhadap sembilan alam. Makhluk di Tiga Alam dipenuhi keinginan. Makhluk di Tiga Alam dipenuhi keinginan. Akibatnya, semua makhluk membangkitkan niat dan menciptakan banyak karma. Saat menuai buah karma pengondisi yang buruk, kita bisa saja terlahir di tempat yang kurang baik.

Berhubung berjodoh dengan tempat itu, kita pun terlahir di sana. Selain itu, ada pula buah karma langsung. Meski kita terlahir dalam lingkungan yang berada dan keluarga yang baik serta memiliki orang tua yang baik pula, itu hanyalah buah karma pengondisi kita. Kita mungkin memiliki buah karma langsung yang membuat kita tidak ingin belajar dan malah terus memupuk karma buruk. Inilah buah karma langsung. Ada orang yang meski terlahir dalam lingkungan yang kurang baik dia tetap bisa berhasil karena dirinya sangat rajin dan tekun. Berkat jalinan jodoh baik, dia bisa bertemu penyelamat hidupnya. Karena itu, dia juga bisa mengalami kemajuan. Kisah seperti ini juga ada. Jadi, akibat kegelapan batin, kita membangkitkan noda batin yang membawa penderitaan. Jenis-jenis noda batin ini sungguh banyak dan tak terbatas. Namun, kita tidak memahami jalan para suciwan, malah sebaliknya membuat para suciwan prihatin. Mereka datang untuk membimbing kita. Mereka adalah orang baik.

Kita telah bertemu guru yang baik, orang tua yang baik, dan orang-orang yang baik, tetapi kita malah membuat mereka risau. Kita membuat orang tua khawatir. Orang tua sudah bersusah payah merawat anak, tetapi anak malah membuat mereka khawatir. Saat guru yang baik hendak mendidiknya, dia malah membuat guru pusing. Banyak orang-orang baik di sekitarnya yang ingin membimbingnya, tetapi tidak bisa. Ini yang disebut mengganggu orang suci dan bijak. Kita hidup tidak sesuai dengan jalan para suciwan. Kehidupan seperti ini sungguh menderita. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memiliki keyakinan. Buddha datang ke dunia dan melihat berbagai penderitaan. Karena itu, Beliau mencari cara untuk menemukan sebab penderitaan. Beliau telah menemukan bahwa berbagai akumulasi noda batin membawa penderitaan. Berhubung noda batin ini adalah hasil akumulasi, maka ia pasti dapat dilenyapkan. Berhubung noda batin ini adalah hasil akumulasi, maka ia pasti dapat dikikis. Untuk itu, dibutuhkan cara, yaitu berlatih sesuai sang jalan. Karena itu, Buddha menunjukkan jalan di dunia ini. Beliau adalah penemu dan pembabar sang jalan, juga merupakan penempuh sang jalan. Kita harus meyakini Dharma yang dibabarkan oleh Buddha. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment