Sanubari Teduh-325-Jalan Mulia Beruas Delapan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, dalam melatih diri, kita harus mempraktikkan jalan kebenaran. Kita bukan berlatih semangat Hinayana, tetapi bertekad untuk berlatih Jalan Bodhisattva. Jadi, kita harus selaluberpegang pada Jalan Agung ini. Apa yang disebut Jalan Agung? Jalan benar. Ini adalah prinsip yang lurus dan jalan yang benar. Jalan ini tak lepas dari kebenaran. Jika terlepas dari kebenaran, ia bukanlah jalan. Artinya, jika sebuah prinsip kebenaran itu lurus, ia disebut jalan benar. Jika sebuah prinsip menyimpang, maka ia tak dapat disebut jalan benar. Jika sebuah jalan tidak benar, maka ia bukan jalan yang sejati. Saudara sekalian, tujuan belajar ajaran Buddhaadalah mempelajari jalan benar. Kita sudah membahas bahwa kita hendaknya tahu empat unsur bagaikan ular beracun,lima agregat bagaikan pencuri kejam. Kita juga harus mengerti bahwa enam indra bagaikan desa kosong dan keinginan bagaikan teman palsu. Di dalam kehidupan kita sehari-hari, berhubung banyak hal yang semu, kita sering terpengaruh oleh lima agregat ataupun enam indra, membuat kita terbuai oleh keinginan yang bagai teman palsu.
Kita tidak sadar bahwa kita terjerat oleh cinta yang palsu. Apakah cinta yang sesungguhnya? Manusia sering terbuai oleh cinta yang palsu sehingga menciptakan banyak karma buruk akibat melakukan berbagai kesalahan. Jadi, kita harus memahami kebenaran secara menyeluruh. Jalan ini adalah halan yang lurus dan sederhana. Jika kita dapat mengetahui ketidakkekalan hidup, maka kita harus memahaminya secara menyeluruh. Buddha telah memberi tahu kita dan membabarkannya dengan jelas. Saat empat unsur pada tubuh tak selaras, ketidakkekalan bisa datang. Untuk apa kita terbawa perasaan akibat buaian rupa dan kondisi luar sehingga menimbulkan pikiran yang keliru yang akhirnya berbuah pada tindakan? Ini akan membawa belenggu yang berkepanjangan dan membuat kita membawa benih karmadi dalam kesadaran kita. Saat melihat suatu kondisi, kita tetap mudah terbuai dan terbelenggu. Jadi, kita harus tahu bahwa segala sesuatu tidaklah kekal. Semuanya bersumber dari kekosongan. Janganlah terbelenggu oleh cinta yang semu.
Jadi, selain diri sendiri yang tahu akan hal ini, kita seharusnya juga membimbing orang lain. Setelah memahami dengan jelas, kita harus segera berbagi dengan orang lain. Di dalam proses pelatihan diri kita, di Griya Jing Si kaliansering mendengar ceramah saya. Di luar juga banyak umat perumah tangga yang mempraktikkan Dharma yang mereka dengar dan terima. Dharma yang mereka dengar dan terima. Dharma yang mereka dengar dan terima. Kita telah melihatnya dan turut terharu. Sesuatu yang benar haruslah kita dukung. Bukan hanya kita dukung, bahkan tindakan mereka yang sesuai dengan Dharma itu haruslah kita puji. Kita bisa membagikannya dengan orang banyak, seperti saat kita berkumpul seperti ini atau saat para umat berlatih bersama. Mereka begitu menghormati guru dan Dharma. Nasihat saya yang begitu sederhana segera mereka sebarkan agar semua orang mengetahui harapan saya.
Berhubung mereka begitu menghormatiguru dan Dharma, maka kita hendaknya menyebarkan hal ini. Kita hendaknya segera berkumpul dan memperbaiki tata cara kita. Di dalam hati harus ada Buddha,di dalam tindakan ada Dharma. Kita harus membangun ladang pelatihan yang baik untuk membimbing umat. Di dalam hati setiap orang ada Buddha, tetapi di dalam keseharian harus ada Dharma. Jadi, kita tidak hanya meminta umatmengingat nama Buddha, melainkan juga membimbing agar merekamemahami Dharma. Kita harus berusaha agar Dharmabisa menyerap ke dalam hati mereka. Setelah menyerap ke dalam hati,ia dapat dipraktikkan dalam keseharian agar mereka memahami bahwapintu Dharma yang tanpa batas dapat terpapar di hadapan kita. Bukan semata-mata memiliki tekad luhur, Bukan semata-mata memiliki tekad luhur, kita harus membuat mereka paham bahwadengan menenangkan hati dan meneguhkan tekad,maka jalan yang kita praktikkan berada di dalam Dharma. Segala jalan Dharma ada di sisi kita. Jika kita dapat mempraktikkannya di tengah masyarakat, maka kita dapat belajar dari banyak orang. Bagaimana orang lain membuat kita terharu, bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat, setelah kita memahami semua ini, kita hendaknya mengingatkan semua orang. Semua ini adalah Dharma. Dharma tak lepas dari kehidupan sehari-hari.
Jadi, berbagai pintu Dharma yang tanpa batasdapat terpapar di hadapan kita. Asalkan kita hidup dengan bersungguh hati, maka setiap saat kita dapat melihat Dharma. Kita juga berharap setiap orang pahamsaat mendengar Dharma. Setelah memahami Dharma, kita juga harus membimbing orang lain. Inilah yang disebut mewariskan. Jadi, jangan sampai di tengah masyarakat kita malah terjerat kemelekatan pada perasaan yang menyesatkan batin kita. Inilah yang harus kita latih. Jika sesuai dengan kebenaran, berarti kita berada di jalan yang benar. Inilah yang disebut Jalan Agung. Jalan dan prinsip yang kita pegang harus benar. Pikiran yang lurus dan benaradalah ladang pelatihan diri. Dengan memiliki pikiran benar,barulah kita disebut melatih diri. Jadi, di dalam keseharian kita harusmelatih pikiran kita sesuai Jalan Mulia Beruas Delapan. Kita harus berlatih di Jalan Mulia Beruas Delapan.
Kita sendiri harus memahami ini dan juga membimbing orang lain agar dapat turut berlatih sesuai jalan ini. Jika kita dapat memahami Jalan Benar ini, barulah kita dapat memutus akar kegelapan batin. Mengapa kita bisa menyimpang? Karena pikiran kita tidak benar sehingga kita salah jalan. Saat pikiran keliru muncul, maka berbagai hal selanjutnya akan menyimpang. Jadi, kita harus selaluberlatih Jalan Mulia Beruas Delapan. Selain diri sendiri berlatih,juga membimbing orang lain. Jalan Mulia Beruas Delapan juga disebutJalan Benar Beruas Delapan. Apa yang dimaksud “benar”? Tidak sesat disebut benar. Tidak sesat. “Jalan” berarti sesuatu yang dapat dilalui. “Jalan” berarti sesuatu yang dapat dilalui. Jika tidak bisa dilalui, berarti tidak ada jalan. Ada orang yang saat berjalan, diberi tahu bahwa di depannya buntu. Jika kita berjalan di jalan buntu, berarti kita sudah salah jalan. Jika kita tahu bahwa jalan di depan buntu, maka saat bertemu orang yang tersesat, kita harus segera memberi tahu mereka agar mereka tidak terus berjalan. Kita harus memberi tahu bahwa jalan itu buntu sehingga orang lain tidak perlu membuang-buang waktu dan tenaga untuk berjalan di jalan buntu. Jadi, kita harus segera memberi tahu orang lain jalan yang benar dan tidak sesat. Sesuatu yang bisa dilewati baru disebut jalan. Jalan ini disebut jalan benar karena tidak menyimpang. Ia adalah jalan yang bisa dilewati.
Inilah yang disebut jalan benar. Faktor pertama dari jalan iniadalah pandangan benar. Mengenai pandangan benar, saya sering memberi tahu kalian bahwa kita harus memiliki pengetahuan dan pandangan benar. Tanpa pengetahuan dan pandangan benar, kita akan terjerumus oleh pemikiran sesat dan terus tenggelam dalam enam alam kelahiran. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, yang paling ditakutkan adalah pandangan sesat. Dahulu kita sudah banyak membahas tentang penyimpangan pandangan. Jadi, jangan sampai kita menyimpang. Inilah pandangan benar. Dengan pandangan benar, barulah kitabisa menembus kebenaran. Tanpa pandangan benar, kita tidak akan memahami kebenaran. Jadi, pandangan benar sangat pentingdalam pelatihan diri. Dahulu kita sudah banyak membahas bahwa dalam belajar Dharma, kita hendaknya banyakmendengar, merenung, dan mempraktikkan. Gunakan ajaran yang dahulu pernah kita dengar dalam melihat masa kini. Berhubung dahulu saya sudah sering membahas tentang apa yang disebut pandangan sesat, maka kalian hendaknya menilik kembali tentang pandangan salah, pandangan keakuan, individu, dll.
Kita harus menilik kembali semua itu. Inilah yang disebut mendengar, merenung, praktik. Setelah mendengar, jangan sampai belalu begitu saja. Kita harus terus merenungkannya. Segala ajaran yang kita dengar saat ini dapat membantu kita untuk memahamimasa kini dan masa depan. Jadi, kita harus selalu memiliki pandangan benar. Kita harus berpegang padapandangan dan pengetahuan benar. Yang kedua adalah pikiran benar, yaitu pikiran yang bebas dari niat menyimpang. Jika kita memiliki pikiran benar, berarti pikiran kita lurus. Dengan demikian, segala yang kita pikirkan tak akan menyimpang. Jadi, kita harus senantiasamengembangkan pikiran yang benar ini dan menghindari pikiran menyimpang. Konfusius juga berkata, “Dari 300 puisi dalam Kitab Nyanyian, jika diringkas secara garis besar, isinya tak lain adalah pikiran tidak menyimpang.” Karya sastra yang baikjuga harus tidak menyimpang. Jadi, 300 puisi dalam Kitab Nyanyian Jadi, 300 puisi dalam Kitab Nyanyian mengapa bisa begitu indah? Karena bebas dari penyimpangan. Semua kata-katanya sangat baik. Jadi, jika pikiran kita bebas dari penyimpangan, maka segala pemikiran akan benar dan tidak akan menyimpang. Yang ketiga adalah ucapan benar.
Artinya, ucapan kita bebas dari omong kosong. Bukankah Buddha memiliki ucapan benar, bebas dari omong kosong, bebas dari ucapan kasar, dan bebas dari dusta? Berhubung kita sedang mempelajari ajaran Buddha, maka terhadap orang lain, kita harusmempraktikkan ucapan benar. Kita tidak boleh berdusta. Buddha sangat menekankan hal ini. Karena itu, Buddha membabarkan 10 kebajikan. Dalam hal pikiran, Buddha membabarkan tiga hal yang harus dihindari, yaitu ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Ini berkenaan dengan kesalahan lewat pikiran. Dalam tindakan juga ada tiga yang harus dihindari, yaitu membunuh, mencuri, dan berbuat asusila. Pelanggaran atas hal ini jugamenciptakan karma yang berat. Namun, dalam ucapanada empat yang harus dihindari karena lidah berkemungkinan untuklebih banyak menciptakan karma buruk. Jadi, karma buruk lewat ucapan ada empat jenis. Kita harus tahu bahwa dalam setiap ucapan, kita tak boleh berdusta, menjilat, atau bergunjing. Berdusta, menjilat, dan bergunjing termasuk dalam ucapan yang tidak benar. Jadi, kita harus hati-hati dalam berbicara. Orang lain memercayai dan menilai budi pekerti kita lewat ucapan kita. Untuk berhasil dalam usaha, kita harus menjaga kepercayaan. Ada sebuah kisah. Ada sepasang ayah dan anak. Suatu hari, mereka menjalankan usaha seperti biasa. Usaha mereka adalah menjual lemari es. Usaha mereka adalah menjual lemari es.
Sang ayah sering menasihati putranya bahwa dalam berdagang haruslah tulus dan menjaga kepercayaan. Anaknya pun mendengar nasihat itu. Namun, suatu hari, sang ayah pergi keluar dan membiarkan putranya yang menjaga toko. Saat itu ada seorang pelanggan yang merasa toko itu sangat menjaga kepercayaan sehingga dia membeli pendingin ikan di sana. Dia tertarik dengan salah satu barang. Namun, dia berpikir toko ituselalu menjaga kepercayaan, maka barang mana pun yang dijual di sana pasti adalah barang yang bagus. Jadi, dia memilih sebuah pendingin. Putra dari pemilik toko itu menjual barang itu begitu saja. Dia berpikir toh itu pelanggan itu yang memilih, maka dia langsung menjualnya. maka dia langsung menjualnya. Saat sang ayah kembali dan menemukan bahwa barang itu sudah terjual, dan menemukan bahwa barang itu sudah terjual, dia sangat marah dan mulai menasihati anaknya, “Dalam berdagang harus menjaga kepercayaan.” “Kamu jelas-jelas tahu lubang pembuangan barang itu bermasalah karena ada kepingan plastik yang menyumbatnya.” “Ayah sudah memberitahumu kelemahan barang itu, mengapa saat ada pelanggan yang mau membelinya, kamu tidak menjelaskan padanya, tetapi malah langsung menjualnya?” Sang ayah langsung berkata pada anaknya, “Ayo, kemudikan mobil.” Mereka segera mencari pelanggan yang baru membeli barang tadi. Sang ayah sangat marah. Jika seseorang marah, tentu raut wajahnya tidak enak dipandang.
Saat sang ayah bertemu teman lamanya, teman lamanya ini memanggil dan bertanya, “Mengapa hari ini raut wajahmu terlihat kurang baik?” “Sebenarnya, apa yang membuatmu marah?” Sang ayah lalu bercerita kepada temannya itu tentang apa yang dilakukan oleh putranya. Setelah mendengar ceritanya, temannya itu berkata, “Sudahlah, tidak perlu terlalu serius, anggap saja itu pelajaran untuk putramu.” “Untuk apa kamu begitu serius?” Putranya lalu berkata, “Saya kira berhubung dia sudah memilih, berarti dia sudah tahu.” “Jika ada masalah saat digunakan, dia mungkin sudah bisa memperbaikinya.” Ayahnya menjawab, “Dalam berdagang tidak boleh seperti itu.” “Kamu harus beri tahu pelanggan di mana kekurangan dari produk itu.” “Meski nanti dia bisa memperbaikinya sendiri, tetapi kita wajib memberi tahu terlebih dahulu.” “Jadi, kita tidak boleh melupakan itu.” Selesai sang ayah berbicara, mereka masuk ke mobil dan berangkat untuk mencari pelanggan tadi, tetapi dia tidak ada di rumah. Mereka ingin menjelaskan kepada pelanggan itu bahwa pendingin yang dia beli dapat terganggu akibat adanya sumbatan. Mereka ingin mencari pelanggan itu, tetapi tidak menemukannya. tetapi tidak menemukannya.
Mereka akhirnya pulang. Keesokan harinya, mereka datang kembali ke toko milik si pelanggan. ke toko milik si pelanggan. Toko tersebut sudah buka dan ikan sudah disimpan di dalam pendingin itu, tetapi belum dijual. Ikan-ikan itu baru disimpan di dalam pendingin. Ketika pendingin itu dibuka, Ketika pendingin itu dibuka, ditemukan bahwa ikan-ikan itu sudah busuk dan beraroma tidak sedap. Jadi, sang ayah berkata kepada anaknya, “Coba lihat ada berapa banyak ikan di dalam dan timbanglah berapa beratnya.” dan timbanglah berapa beratnya.” Dia memberi tahu anaknya agar bertanggung jawab. “Berapa berat semua ikan itu, berapa harganya, kita harus menggantinya.” Setelah selesai menimbang ikan, mereka juga mengangkut kembali mesin pendingin itu untuk diperbaiki. Sang ayah kembali berpesan, “Lihatlah kerugian yang dideritanya.” “Siapa yang melakukan kesalahan, dialah yang harus bertanggung jawab.” Berhubung kamu sudah ceroboh dan mengabaikan kepercayaan, maka kamu harus membantu dan bekerjauntuk pedagang ikan itu.” “Kita lihat berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mengganti ikan-ikan yang rusak.” Inilah ucapan benar. Inilah kepercayaan. Mengenai berdagang, saya sering berkata, “Kita harus menjaga ucapan dan perbuatan benar.” Ada orang bertanya, “Master, kami adalah pedagang, jika kami berkata jujur, bukankah usaha akan hancur?” “Saat ada pelanggan bertanya apakah suatu barang itu bagus, tentu saya harus menjawab bagus, baru pelanggan akan membelinya.” “Jika ada yang bertanya tentang kualitas barang, saya juga pasti bilang kualitasnya bagus, baru pelanggan akan membelinya.” Apakah ini benar? Berdagang tentu harus menjaga kepercayaan, bukan hanya mementingkan laba. Di dalam berdagang tentu ada prinsip berdagang.
Prinsip ini haruslah lurus dan benar. Jadi, mengenai ucapan, saat berdagang pun harus sesuai prinsip. saat berdagang pun harus sesuai prinsip. Prinsip ini harus lurus dan benar. Jadi, ucapan benar berarti tidak berdusta. Kita tidak boleh berdusta. Inilah ucapan benar. Selanjutnya adalah perbuatan benar. Kita sungguh harus tahu apakah yang kita lakukan benar atau tidak. Perbuatan baik dengan niat tulus,baru disebut benar. Perbuatan baik yang tidak tulustidak termasuk perbuatan benar. Dalam mempelajari ajaran Buddha,kita harus meningkatkan kewaspadaan. Dalam segala hal yang kita lakukan, kita haruslah tulus. Ini baru disebut perbuatan benar. Selanjutnya ada pula penghidupan benar, yaitu penghidupan yang sesuai Dharma. Buddha berkata kepada para murid-Nya, “Batin kita harus bebas dari kemelekatan.” Beliau memberikan keteladanan nyata dengan meninggalkan keduniawian. Mulanya, Beliau adalah seorang pangeran. Beliau tinggal di istana yang penuh kenikmatan. Demi mencari jalan kebenaran dan memahami kebenaran alam semesta, Beliau meninggalkan segala kemewahan untuk menjalani petapaan. Setelah mencapai pencerahan, Beliau membabarkan Dharma bagi semua makhluk.
Beliau juga teringat dengan negara dan rakyat-Nya sendiri. Jadi, Beliau kembali ke Kapilavastu dan mulai membabarkan Dharma di sana. Ayah-Nya juga menjadi penyokong. Ayah-Nya sangat mendukung-Nya sehingga anggota keluarga kerajaan yang berputra lebih dari satu diminta untuk mengirimkan satu putrauntuk meninggalkan keduniawian. Karena itu, banyak kerabat istanayang meninggalkan keduniawian. Selain itu, ada pula ibu tiri Buddha, putra-Nya sendiri, dan istri-Nya, Yasodhara, yang meninggalkan keduniawian. Akhirnya, di dalam Sangha terdapat perbedaan golongan. Jika di dalam Sangha terdapat perbedaan, maka makna pelatihan diri akan hilang. Karena itu, Buddha menetapkan agar setiap anggota sangha mematuhi aturan untuk mengumpulkan sedekah makanan. Aturan ini dibuat tentu dengan alasan tersendiri. Untuk dapat hidup sehat, manusia tentu harus makan. Demi pertumbuhan jiwa kebijaksanaan yang bebas dari ketamakan dan diskriminasi, maka setiap anggota Sangha, baik dari golongan atas maupun bawah, harus mengumpulkan sedekah makanan.
Aturan ini dibuat demi kesetaraan. Karena itu, pada masa Buddha hidup, para anggota Sangha bertahan hidupdengan mengumpulkan sedekah makanan. Tentu, kebiasaan ini memiliki makna tersendiri. Jadi, kita semua harus lebih dahulu bersungguh hati. Kehidupan seperti apa yang disebut penghidupan benar? Ucapan seperti apa yang disebut ucapan benar? Pikiran apa yang disebut tidak menyimpang? Bagaimana agar memiliki pandangan benar dan memahami kebenaran dengan jelas? Kita harus lebih dahulu menenangkan hati agar hati kita tidak meninggalkan jalan, jalan kita tidak meninggalkan Dharma, dan Dharma tidak lepas dari keseharian kita. Harap semua lebih bersungguh hati.