Sanubari Teduh-340-Empat Jenis Pengamatan Bagian 6
Saudara se-Dharma sekalian, kita tak boleh meremehkan hukum sebab akibat. Segala sesuatu di alam, baik berwujud maupun tidak, tidak luput dari hukum alam. Hukum ini tidak pernah berubah dan selalu berkaitan dengan sebab akibat. Lihatlah, saat musim semi tiba, udara mulai menghangat. Saat musim panas tiba, udara mulai panas. Saat musim gugur tiba, segala tanaman mulai layu. Saat musim dingin tiba, udara sangat dingin, dedaunan pun sudah rontok. Inilah hukum alam yang bekerja pada segala sesuatu di dunia. Hukum ini pun tidak pernah berubah. Jadi, sebab mendatangkan buah, kondisi mendatangkan akibat. Kita sudah membahas tentang sebab dan kondisi. Berikutnya adalah pengamatan pada buah dan akibat. Perbuatan baik ataupun buruk membawa akibat. Jika sebab atau benih yang buruk ditanam, buah yang buruk cepat lambat pasti terwujud. Jika kita menanam benih sebab yang baik, maka hasil yang baik juga akan terwujud. Sama seperti tanah. Benih apa yang kita tabur di tanah, secara alami akan tumbuh dan berbuah. Jadi, semua ini tak lepas dari benih yang ditanam. Benih apa yang ditanam, maka pada saatnya buah pasti akan tumbuh. Ini adalah sesuatu yang alami.
Benih ditanam di masa lalu, kondisi ada di masa kini, sedangkan buah dan akibat ada di masa depan. Siklus dari masa lalu, masa kini, dan masa depan ini tidak pernah berakhir. Di dalam Sutra Makna Tanpa Batas juga dikatakan bahwa dari satu dapat tumbuh menjadi tak terhingga, sedangkan yang tak terhingga berawal dari satu. Sebutir benih saja dapat terus berkembang dan semakin banyak. dan semakin banyak. Sedikit saja benih keburukan dapat mendatangkan berbagai kondisi. Jadi, sebab dan kondisi Jadi, sebab dan kondisi terus-menerus terpupuk sehingga buah penderitaan menjadi tak terhingga. Jika kondisi buruk semakin banyak, maka manusia akan semakin terjerumus. Inilah yang disebut kekuatan karma yang berat. Ini diawali timbulnya sebersit kegelapan batin. Jadi, hari ini kita akan membahas tentang ungkapan “tenggelam di lautan luas”. Kita tahu “malam gelap dan lautan luas” melambangkan noda batin. “Malam gelap” adalah perumpamaan untuk kegelapan batin.
Kita sering berkata bahwa ketidaktahuan adalah kegelapan atau bagai malam yang panjang, membuat batin kita kehilangan kecemerlangan. Jadi, di sini diumpamakan sebagai “malam gelap dan lautan luas”. Itulah kegelapan batin kita. Kegelapan batin membuat kita tenggelam di tengah kelahiran kembali. Kelahiran kembali di enam alam penderitaannya sungguh tak terkira. Semua makhluk tak bisa menentukan ingin terlahir di mana. Kita tak bisa mengendalikan diri dan memilih untuk terlahir di mana. Kita tak dapat memilih. Meski tidak dapat memilih, tetapi semua adalah hasil perbuatan kita sendiri. Jika kita memiliki hati yang baik dan banyak menjalin jodoh baik dengan orang, maka kita akan memiliki karma baik yang akan menuntun kita untuk lahir dari orang tua yang baik pula. untuk lahir dari orang tua yang baik pula. Selain lahir dari orang tua yang baik, kita juga akan tumbuh di lingkungan yang baik. Kita akan berkembang di tengah kondisi yang baik. Dengan begitu, kita bisa kembali menjalin jodoh baik dan berbuat baik. Kita akan terus memupuk sebab dan kondisi yang baik serta menuai buah dan akibat yang baik pula.
Jika bisa terus memupuk jalinan jodoh yang baik, kita akan dapat bertemu guru bijak dan ajaran benar sehingga kita dapat berjalan di jalan yang benar, dapat mendalami kebenaran, dan memahami hukum sebab akibat. Dengan begitu, kita bisa terus mengingatkan diri tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Semua ini adalah jalinan jodoh yang baik. Tanpa jalinan jodoh yang baik ini, kita akan terjerat kegelapan batin dan tak dapat mengendalikan diri sehingga terombang-ambing di enam alam. Karena itu, di sini ada ungkapan “lautan luas”. Ini menggambarkan kelahiran kembali yang tak bertepi. Saat berada di lautan yang luas, kita tidak akan dapat melihat tepian, kecuali perahu kita menepi. Jika tidak, kita akan terombang-ambing di tengah laut. Kita akan sulit mendapat pertolongan. Jadi, malam gelap menggambarkan ketidaktahuan. Lautan luas menggambarkan kelahiran kembali. Kita tenggelam di tengah malam gelap dan lautan luas ini. Ini diakibatkan oleh noda batin.
Berbagai noda batin membuat kita tenggelam semakin dalam. Jadi, dikatakan bahwa malam gelap dan lautan luas menggambarkan segala noda batin. Apakah yang disebut noda batin? Ia digambarkan dengan perumpamaan lain, yaitu makanan para raksasa. “Kelak mengalami kelahiran kembali yang tak bertepi.” Jika kita membaca Syair Pertobatan Air Samadhi, Jika kita membaca Syair Pertobatan Air Samadhi, kita akan memahami bahwa penderitaan dan kegelapan batin saling berkaitan. Kita terombang-ambing di lautan kelahiran kembali dan tidak tahu ke mana arah yang dituju. Kita tidak tahu mengapa kita terombang-ambing. Di sini kembali dikatakan, “Menjadi makanan para raksasa; kelak mengalami kelahiran kembali yang tak bertepi.” Kita penuh ketidaktahuan. Raksasa di sini memiliki sebutan lain, yaitu “setan yang bergerak cepat”. Ia bergerak sangat cepat. Ia bergerak sangat cepat. Ini juga menggambarkan ketidakkekalan yang dapat terjadi dalam sekejap. Ketidakkekalan digambarkan sebagai raksasa. Kegelapan dan noda batin kita bagaikan setan atau raksasa yang selalu mengelilingi kita setiap waktu dan mengamati kita.
Mereka menunggu saat kegelapan kita bangkit, lalu mulai bertindak untuk membuat noda batin kita semakin berkembang. Karena itu, di sini mereka digambarkan sebagai setan yang bisa memakan manusia. Sesungguhnya, apa yang mereka makan? Mereka memanfaatkan noda batin kita dan kegelapan batin kita yang bangkit untuk melukai jiwa kebijaksanaan tubuh Dharma kita. Raksasa ini khusus memburu dan melukai jiwa kebijaksanaan dan tubuh Dharma kita. Inilah yang digambarkan sebagai “setan yang bergerak cepat”. Mengendarai noda batin kita, Mengendarai noda batin kita, mereka langsung menyerang dan membuat hakikat kebuddhaan yang mulanya murni dan sama dengan Buddha langsung tertutupi. Mereka membuat tubuh Dharma kita yang murni dan jiwa kebijaksanaan kita menjadi rusak. Ini sungguh menakutkan. “Setan yang bergerak cepat” ini sangat berbahaya bagi jiwa kebijaksanaan kita. Mereka membuat kita tidak mengetahui ke mana kelak kita akan terlahir. Mereka membuat kita berada dalam kegelapan. Raksasa perusak jiwa kebijaksanan ini selalu melukai tubuh Dharma dan jiwa kebijaksanaan kita sehingga noda dan kegelapan batin kita terus tumbuh dan membuat kita terus tenggelam di dalam sebab buruk, kondisi buruk, buah buruk, dan akibat buruk, selamanya tidak ada kesempatan untuk beristirahat dari enam alam. Karena itu, dikatakan, “Kelak mengalami kelahiran kembali yang tak bertepi.”
Bagaikan berada di tengah lautan luas, tanpa adanya tubuh Dharma dan jiwa kebijaksanaan, kita tidak akan bisa mengamati sebab dan kondisi dan tidak bisa mengamati buah dan akibat dengan saksama. Demikianlah makhluk awam. Akibat ketidaktahuan, kita terus melakukan kesalahan. Saat menerima buah penderitaan, kita juga tidak bisa berintrospeksi dan melakukan perenungan. Kita sudah jauh tersesat, lalu mulai mengeluh. lalu mulai mengeluh. Keluh kesah ini memupuk rasa dendam dan benci. Rasa dendam dan benci ini kembali menumbuhkan kegelapan batin. Ini akibat kurangnya pengamatan terhadap sebab, kondisi, buah, dan akibat. Inilah akibat kurangnya kebijaksanaan untuk mengamati dengan saksama. Akibatnya, kita tenggelam di tengah malam gelap dan lautan luas ini. Kita tenggelam dalam kegelapan dan noda batin dan di tengah kelahiran kembali. Penggalan ini sungguh harus kita renungkan, sungguh menakutkan.
Berikutnya dikatakan, “Meski terlahir sebagai Raja Cakravartin yang menguasai dunia, dapat terbang dengan bebas, dan kaya akan tujuh jenis permata, pada akhir hayat tetap tak akan terhindar dari alam rendah.” Ini menggambarkan kegelapan batin yang membuat kita terus berada di tengah sebab akibat yang buruk dan tidak dapat terbebas dari malam gelap dan lautan luas. Ini tadi sudah kita bahas. Kini, penggalan berikutnya mengatakan bahwa meski kita memiliki banyak berkah di masa lalu dan telah berbuat banyak kebajikan sehingga memupuk karma baik, maka berkah tertinggi yang didapat hanyalah menjadi Raja Cakravartin yang menguasai dunia, dapat terbang bebas, dan dapat menikmati tujuh jenis permata. Ini adalah berkah yang sangat besar. Berkah apa yang didapat? Dapat terlahir di zaman saat usia manusia berada pada rentang yang sangat panjang, yaitu 84.000 tahun. yaitu 84.000 tahun. Dalam usia yang panjang itu, di tengah kondisi dunia yang damai dan iklim yang bersahabat, dia menjadi Raja Cakravartin. Berkahnya sangat besar karena dia menguasai empat benua. Dia disebut raja dari empat benua. Dia disebut raja dari empat benua. Empat benua sangatlah luas. Dia juga berwewenang memutar empat roda. Apa yang dimaksud empat roda? Roda emas, roda perak, roda perunggu, dan roda besi. Roda yang dimaksud adalah roda alam.
Dia juga memiliki banyak prajurit dan pengawal. Sebagai Raja Pemutar Roda Emas, ke mana hendak pergi, dia tinggal membangkitkan niat dan dapat langsung menuju ke arah tujuan, baik barat, selatan, maupun utara. baik barat, selatan, maupun utara. Singkat kata, dia sangat bebas. Dia juga memiliki segala jenis harta yang ada di dunia. Tujuh jenis harta berharga yang dimiliki meliputi gajah, kuda, emas, perak, dan harta lainnya. Segala yang ada di sekelilingnya adalah harta yang paling berharga di dunia. Dia bisa terbang bebas, memiliki tujuh jenis harta, berkahnya sungguh besar. Namun, sebagai praktisi, yang kita cari bukanlah berkah seperti itu. Jadi, kita harus memahami hukum sebab akibat. Jadi, kita harus memahami hukum sebab akibat. Meski dia dapat menikmati berkah yang begitu banyak dan besar, memiliki usia yang panjang, memiliki kekayaan yang banyak, dan dapat melakukan segala yang diinginkan dengan bebas, tetapi saat berkah tersebut habis dinikmati, tetapi saat berkah tersebut habis dinikmati, dia tetap tidak terhindar dari alam rendah. Sama dengan makhluk lainnya, saat berkah habis dinikmati, jika dia memiliki sedikit saja benih buruk, benih ini bisa mengundang kondisi buruk. Dengan perpaduan sebab dan kondisi buruk itu, buah akan muncul dan akibat buruk akan diterima. buah akan muncul dan akibat buruk akan diterima. Karena itu, saya sering berkata bahwa sebersit kegelapan batin membangkitkan tiga aspek halus.
Sedikit saja pikiran bergejolak, benih sebab ini bisa muncul dan kondisi akan mengikuti. Dengan lengkapnya sebab dan kondisi, buah dan akibat akan terwujud. penderitaannya sungguh tak terkira. Jadi, jangan mengira bahwa setelah menanam banyak berkah, kita tinggal menikmati hasilnya. Benar, kita memang bisa menikmati hasilnya, tetapi berkah yang besar dan usia yang panjang suatu saat juga akan berakhir. Seperti halnya manusia, meski kita makan beragam hidangan dan sangat kenyang, tetapi seiring berjalannya waktu dan seiring metabolisme tubuh, semua makanan itu akan dicerna. Nutrisi akan diserap ke dalam tubuh. Apakah nutrisi itu berguna bagi tubuh kita Apakah nutrisi itu berguna bagi tubuh kita atau malah mendatangkan penyakit, itu bergantung pada apa yang kita makan. itu bergantung pada apa yang kita makan. itu bergantung pada apa yang kita makan. Ini juga bergantung pada apakah tubuh kita mampu menyerap nutrisi itu. Jika nutrisi dapat diserap dengan baik, maka akan dapat membantu fungsi tubuh. Jika tidak bisa, maka sebanyak apa pun makanan yang kita makan, hanya akan menjadi sisa pembuangan.
Tak peduli selezat dan sebanyak apa pun makanan kita. Di dalam tubuh kita, Di dalam tubuh kita, terjadi proses yang alami. Setelah nutrisi diserap oleh tubuh, sisa pencernaan juga harus dibuang. Setiap hari kita harus makan tiga kali. Meski kini sudah kenyang, berselang beberapa waktu kita akan lapar kembali. Kita kembali menyerap nutrisi. Segala hal yang baik dan yang buruk memiliki awal dan memiliki akhir. Intinya, ini juga bagian dari hukum alam. Meski kini memiliki berkah yang besar, suatu saat berkah itu juga akan habis mengikuti hukum sebab akibat. Kita harus memahami penggalan berikut. “Meski terlahir sebagai Raja Cakravartin yang menguasai dunia, dapat terbang dengan bebas, dan kaya akan tujuh jenis permata, pada akhir hayat tetap tak akan terhindar dari alam rendah.” Ini dapat kita jadikan pengingat. Jangan mengira kini kita sehat sehingga tidak perlu waspada. Jika tidak menjaga diri dan kehilangan kesehatan, kita juga bisa tersiksa oleh penyakit. Jangan mengira kini kita bisa bersenang-senang, maka terus mengumbar kesenangan. Jangan tidak peduli pada ketidakkekalan. Buah dan akibat bisa sangat menakutkan. Hari ini kita hidup seperti ini, entah bagaimana kehidupan mendatang. Jadi, kita harus selalu mengingatkan diri dan senantiasa bersungguh hati.