Sanubari Teduh-351-Delusi Pikiran Merintangi Kebajikan
Saudara se-Dharma sekalian, pikiran kita gemar memikirkan yang tidak-tidak. Karena itu, kita sering merintangi diri sendiri. Delusi membangkitkan pikiran buruk dan merintangi kebajikan. Dengan menghentikan noda batin dan delusi, kita memahami keluhuran hakiki yang pada dasarnya dimiliki setiap orang tanpa bertambah atau berkurang. Saya juga sering mengatakan bahwa kita terus berada dalam delusi pikiran. Bagaimana kita mengendalikan pikiran kita agar dapat melenyapkan pikiran keliru? Inilah tujuan dari melatih diri. Begitu pikiran keliru muncul, maka di belakangnya pikiran buruk akan mengikuti. Semua ini mudah menjadi perintang bagi kita. Merintangi apa? Kebajikan. Yang dikejar oleh semua orang, bukankah kembali pada kesejatian? Namun, jika pikiran keliru terus ada, maka pikiran buruk akan terus timbul. Jadi, meski di hadapan kita ada ajaran baik, kita mudah melewatkannya dan mengabaikannya. Jadi, kita harus paham bahwa semua itu diakibatkan oleh pikiran keliru. Bagaimana mengatasinya? Kita sudah membahas lima metode meditasi. Ada lima cara yang bisa kita gunakan untuk menghentikan delusi pikiran kita. Mengenai lima metode ini, saya sudah mengatakan kepada kalian bahwa jika ketamakan kita bangkit, maka kita harus mengatasinya dengan pengamatan pada kekotoran. Jika kebencian kita bangkit, maka kita harus mengatasinya dengan perenungan welas asih.
Jika pikiran kita kacau, maka kita harus mengatasinya dengan meditasi napas. Jika kita memiliki kebodohan dan tidak memahami kebenaran, maka kita harus mengatasinyadengan pengamatan pada sebab dan kondisi. Jika kita memiliki banyak rintangan, maka segeralah mengatasinya dengan perenungan terhadap Buddha. Berhubung kita memiliki banyak rintangan, maka kita harus segera mengamati diri sendiri. Segala sesuatu di dunia tidak bersih dan tidak kekal. Jika kita dapat meneladani Buddha, maka kita akan dapat selangkah demi selangkah menuju kualitas Buddha. Jadi, lima metode ini bertujuan untuk menghentikan delusi pikiran kita. Jika lima jenis delusi pikiran tidak dilenyapkan, maka segala yang hendak kita pelajari akan terhalangi. Jadi, kita harus menghentikan noda batin dan delusi. Caranya adalah menggunakan lima metode tadi. Dengan demikian, barulah kita dapat memahami keluhuran hakiki. Bukankah sebelumnya kita sudah pernah membahas keluhuran hakiki ini? Kita mengamati tubuh Buddha. Tubuh Buddha adalah tubuh Dharma. Tubuh Dharma ini adalah keluhuran hakiki. Kita semua memilikinya. Ia tidak bertambah pada Buddha, juga tidak berkurang pada makhluk awam.
Semua seharusnya memahami kebenaran ini. Dengan memahaminya, maka kita tidak akan sering membangkitkan pikiran buruk akibat kekeliruan atau delusi yang akan melenyapkan kebajikan. Jadi, kita seharusnya memahami keluhuran hakiki. Manusia telah memilikinya, tidak bertambah dan tidak berkurang. Saudara sekalian, kedengarannya sederhana, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah membangkitkan pikiran keliru sehingga banyak merintangi diri sendiri. Jadi, penggalan berikutnya berbunyi, Membangkitkan noda batin yang merintangi pelatihan kehangatan, puncak, kesabaran, Dharma duniawi tertinggi, tujuh metode terampil, dan lainnya. Membangkitkan noda batin yang merintangi pelatihan cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin, mendengar, merenungkan, praktik, dan lainnya. Pikiran keliru atau delusilah yang merintangi kita. Ia merintangi kita untuk belajar. Kita harus belajar. Kita semua masih berada pada tataran awam. Kita harus mempelajari empat akar kebajikan. Empat akar kebajikan ini meliputi Dharma kehangatan, Dharma puncak, kesabaran, dan Dharma duniawi tertinggi. Semua ini sudah pernah kita bahas, tetapi karena sudah cukup lama berlalu, kita mungkin saja lupa. Apa yang disebut Dharma kehangatan? Hangat ini dapat digambarkan seperti orang zaman dahulu menyalakan tungku. Sebelum kayu bakar ditemukan, bagaimana mereka menyalakan api? Dengan menggesekkan kayu. Dengan menggesekkan ranting dengan penuh tenaga, percikan api akan muncul.
Kita sering mendengar di Amerika Serikat atau Australia terjadi kebakaran hutan. Ini bisa disebabkan oleh ulah manusia atau tiupan gelombang panas. Tiupan ini membuat ranting saling begesekan sehingga lama-kelamaan timbul percikan api. Demikian pula, saat kita membuat api dari kayu, maka sebelum api menyala, asap muncul terlebih dahulu dan akan terasa panas. Setelah panas, asap akan muncul lebih dahulu. Setelah asap, penggesekan harus terus dilakukan Setelah asap, penggesekan harus terus dilakukan agar api menyala. Jadi, sebelum api menyala, asap muncul lebih dahulu. Munculnya asap membuktikan adanya panas. Munculnya asap membuktikan adanya panas. Demikian pula dalam pelatihan diri kita. Saat mulai melatih diri, kita belum tahu apa-apa. Kita juga belum merasakan apa-apa. Setelah mulai giat, kita dapat menjalankan yang harus dijalankan. Seperti yang sebelumnya kita bahas, kita dapat berlatih meditasi napas. Anapana adalah meditasi napas yang bertujuan agar kita dapat mengendalikan pikiran kita sehingga terfokus. Jangan sampai begitu duduk, pikiran kita langsung mengembara bagaikan kera dan kuda. Begitu duduk, pikiran kita langsung tidak terfokus. Karena itu, kita diajarkan metode tadi. Karena itu, kita diajarkan metode tadi. Kita dapat menghitung keluar masuknya napas. Ini juga salah satu metode untuk mengendalikan pikiran. Jika metode ini dapat selalu kita gunakan begitu kita duduk, maka lambat laun kita akan terbiasa.
Ada orang yang begitu duduk, mungkin baru menghitung satu sampai tiga, pikirannya mulai memikirkan hal lain lagi. Kita harus menghitung satu sampai sepuluh mengikuti keluar masuknya napas. Mungkin saja untuk memusatkan pikiran pada keluar masuknya napas ini pada keluar masuknya napas ini dan menghitung terasa sangat sulit. Untuk bisa menghitung dari satu sampai sepuluh dengan sangat jelas tanpa adanya pikiran pengganggu, mungkin dibutuhkan latihan. Kalian tentu pernah mengalami proses ini. Untuk dapat fokus dalam satu selang waktu, tentu dibutuhkan latihan sungguh-sungguh. Kita hendaknya dapat berlatih perlahan-lahan mulai dari menghitung satu sampai tiga. Kemudian pikiran mungkin mengembara. Kita berlatih lagi dengan menghitung satu sampai lima. Saat itu mungkin pikiran bisa terfokus. Lalu, kita lanjutkan dengan hitungan satu sampai tujuh. Mungkin pikiran kembali mengembara. Lalu, kita lanjutkan lagi dengan menghitung satu sampai sepuluh. Kita melatih pikiran kita berulang-ulang seperti itu selama 10 menit, 20 menit, 30 menit. Jika kita bisa memusatkan pikiran pada keluar masuknya napas tanpa ada pikiran pengganggu, itu menunjukkan bahwa pelatihan kita mulai membuahkan hasil. Kita sudah mulai “panas”. Kira-kira begitulah Dharma kehangatan. Kita sudah berlatih dari masih “dingin” hingga mulai “panas”. Inilah Dharma kehangatan. saat akan duduk bermeditasi, jangan berpikir, “Saya ingin berlatih meditasi ini itu.” Kita tidak perlu berpikir terlalu jauh.
Meditasi napas saja sudah sangat baik. Jika dapat berlatih dari lima menit, sepuluh menit, hingga dua puluh menit, dan dapat terus meningkatkan konsentrasi, maka itulah Dharma kehangatan. Kita sudah mulai merasakan langkah awal. Berikutnya adalah Dharma puncak. Dharma puncak adalah langkah selanjutnya. Di tahap ini, pelatihan diri kita sudah meningkat, bagai dari kaki gunung ke lereng gunung. Di kaki gunung, saat melihat sesuatu, kita mudah terhalang. Sama halnya dengan pandangan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya seberapa banyak kita memahami manusia dan masalah? Mungkin saja dengan pikiran awam, kita mengikuti saja yang orang lain katakan. Orang lain berkata apa, kita langsung menganggapnya benar. Berbagai permasalahan dan kabar burung memenuhi pikiran kita sehingga kita membangkitkan banyak keraguan atau berbagai pikiran keliru dan kegelapan batin. Demikianlah makhluk awam. Dalam melihat suatu kondisi, kita dapat memiliki banyak rintangan. Lalu, kita melangkah ke Dharma kehangatan. Kita mulai memiliki pencapaian dan mampu merasakan. Kita sudah maju selangkah. Pemikiran dan pandangan kita telah sejalan dengan Dharma. Kita telah memahami Dharma. Jadi, saat mendengar orang lain berbicara, kita mulai dapat membedakan benar salah.
Saat melihat kondisi luar, perlahan kita memahami apa yang disebut pengamatan terhadap sebab dan kondisi, apa yang disebut pengamatan terhadap buah dan akibat. Perlahan kita dapat memahami rangkaian sebab akibat. Ini berarti kita telah maju selangkah lagi. Ini disebut Dharma puncak. Dari lereng gunung, mungkin kita dapat kembali maju melangkah hingga puncak. Pada tahap ini, segala yang kita lihat terlihat lebih lapang. Inilah yang disebut Dharma puncak. Batin kita sudah lebih lapang. Berikutnya adalah Dharma kesabaran. Meski kita telah melihat berbagai kondisi dan telah memahaminya dengan jelas, tetapi saat kembali ke tengah masyarakat, dalam menghadapi berbagai kondisi baik urusan duniawi maupun bukan, di tengah masyarakat ini, kita harus maju selangkah lagi, yaitu harus sabar. Meski kita telah bertekad, jika kita kurang kekuatan kesabaran, maka berada di puncak gunung pun kita mungkin bisa terjatuh kembali. Kita akan mudah terpengaruh oleh kondisi luar. Jika tidak, meski kita semua memiliki keluhuran hakiki yang sama dengan Buddha, kita tetap akan jauh dari Buddha. Jadi, kita harus memulai dari awal, seperti menggesek kayu untuk menyalakan api. Berhubung perasaan sudah timbul dan kita sudah memiliki sebagian pemahaman terhadap kebenaran di dunia ini, maka kita harus maju selangkah lagi. Kita telah memiliki pemahaman. Meski telah memiliki pemahaman dan mampu melihat kebenaran, tetapi jika kurang kesabaran, kita mungkin akan terhenti di lereng gunung.
Kekuatan kita tidak cukup, mungkin hanya bisa sampai setengah perjalanan. Tanpa kekuatan kesabaran, kita tak akan dapat mencapai puncak. Jadi, kita masih perlu kesabaran. Ada sebuah ungkapan berbunyi, “Di atas langit ada langit, di atas orang ada orang.” Jadi, jangan mengira diri sendiri sudah mencapai puncak. Apakah itu benar? Di atas langit masih ada langit. Di atas orang masih ada orang. Di atas Dharma masih ada Dharma. Jadi, kita harus melakukan praktik nyata. Dalam melakukan praktik nyata, jika tak memiliki kesabaran, kita tak akan mencapai kebuddhaan. Jadi, di dalam Enam Paramita, praktik dana dan sila memang penting. Namun, tanpa kesabaran, disiplin sila mudah untuk hilang. Enam Paramita harus lengkap, barulah berbagai praktik bisa sempurna. Di antaranya, kesabaran sangatlah penting. Jadi, jika kita bisa mempertahankan Dharma kehangatan, puncak, dan kesabaran, maka langkah selanjutnya adalah Dharma duniawi tertinggi. Di dunia ini, bagaimana kita mempelajari ajaran Buddha? Ini sangatlah penting. Dunia ini penuh dengan masalah yang rumit. Untuk benar-benar memahami hal-hal di dunia, bahkan tidak tercemar oleh hal-hal duniawi ini, sungguh bukanlah hal yang mudah. Jadi, kita harus kembali maju selangkah.
Jika kita dapat mempertahankan kesabaran, maka kita baru dapat merealisasi Dharma duniawi tertinggi. Ini adalah langkah dari tataran awam menuju tataran Bodhisattva atau tingkatan kesucian. Artinya, kita sudah menyerupai orang suci atau hampir mencapai tingkatan Bodhisattva tingkatan kesucian. Ini adalah tataran orang bijak. Empat akar kebajikan ini harus lebih dahulu kita pahami. Dharma kehangatan, Dharma puncak, Dharma kesabaran, Dharma duniawi tertinggi. Inilah empat akar kebajikan. Jika di dalam batin kita ada pikiran keliru, maka kita akan terintangi untuk memperoleh empat akar kebajikan ini, terlebih lagi tujuh metode terampil. Tujuh metode terampil juga akan terhalang. Jika tujuh metode terampil ini tidak dicapai, banyak noda batin akan ada di dalam batin kita dan tak bisa dilenyapkan. Ini akan menghalangi pelatihan cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin. 4 pikiran tanpa batas ini kita semua sudah tahu. Pendengaran, perenungan, dan praktik juga kita sudah tahu. Semua ini akan terhalang oleh pikiran keliru kita. Ingin belajar cinta kasih, welas asih, sukacita, keseimbangan batin, mendengar, merenung, dan praktik juga tidak begitu mudah. Semua ini juga terhalang oleh rintangan. Berhubung terhalang oleh rintangan, maka saat kita baru mulai merasakan, ia segera tenggelam kembali. Karena itu, dikatakan, “Mudah untuk bertekad, sulit untuk mempertahankan.” Manusia mudah membangkitkan semangat.
Ada ungkapan berbunyi, “Tak perlu tiga hari bagi semangat untuk padam.” Artinya sama saja. Jadi, untuk mempelajari ajaran Buddha, harus membangkitkan semangat. Untuk menumbuhkan dan mempertahankannya juga tidak mudah. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus mempertahankan tekad dan menggenggam saat ini. Tekad yang timbul seketika harus kita pertahankan. Ini sesuai dengan ungkapan yang selalu kita bahas. “Tekadnya luas dan luhur, teguh tak tergoyahkan.” Kita harus mengembangkan akar kebajikan dari langkah pertama, kedua, ketiga, hingga keempat. Untuk itu, kita harus teguh. Jika kita tidak memulai dari langkah pertama, maka meski istilah cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin telah kita hafal di luar kepala, telah kita hafal di luar kepala, kita juga tidak mudah untuk mempertahankan cinta kasih tanpa penyesalan, welas asih tanpa keluh kesah. Terlebih lagi, dalam mendengar Dharma. Diperlukan keteguhan dalam mendengar Dharma. Saat mendengar Dharma, mungkin saja noda batin bangkit. Ini mungkin saja. Untuk mendengar Dharma, orang zaman dahulu harus mencari guru di tempat yang jauh. Kini, Dharma ada di hadapan kita. Apakah setiap orang mendengarnya dengan sungguh-sungguh? Setelah mendengar Dharma, apakah seharian kita bagai bermandikan Dharma? apakah seharian kita bagai bermandikan Dharma? Apakah dari sini kita benar-benar telah mendapatkan kebijaksanaan? Mampukah kita? Sudahkah kita berlatih sesuai
Dharma dan membangkitkan kebijaksanaan? Ini sepertinya masih cukup jauh. Jadi, di manakah letak sulitnya melatih diri? Sulitnya ada di sini, yaitu semangat yang mudah dibangkitkan, tetapi sulit dipertahankan. Jadi, kita menggunakan metode terampil. Tujuh metode terampil mencakup tiga keunggulan. Ini harus dikembangkan selain lima metode meditasi. Ini membawa ke tingkat orang bijak atau unggul. Orang bijak belum memasuki kesucian, tetapi sudah menyerupai. Saat kita telah mengembangkan empat akar kebajikan tadi, yaitu Dharma kehangatan, puncak, kesabaran dan Dharma duniawi tertinggi, kita baru mencapai tahap menyerupai orang suci. Ini berarti hampir memasuki kesucian. Tahap ini disebut tahapan orang bijak atau unggul. Tiga keungulan ini tidak mudah dicapai, tetapi semuanya bergantung pada pikiran dan tekad. Kita memiliki keluhuran hakiki. Keluhuran hakiki ini dimiliki setiap orang, hanya saja kualitas kebajikan kita telah dihalangi oleh berbagai delusi. Jadi, jika kita dapat menghentikan noda batin dan berbagai delusi atau pikiran keliru, dan berbagai delusi atau pikiran keliru, maka kita akan dapat memahami keluhuran hakiki yang selalu dimiliki setiap orang tanpa bertambah atau berkurang. Sesungguhnya, dalam hal keluhuran hakiki, ia tidaklah lebih banyak pada Buddha, dan tidak lebih sedikit pada diri kita. Keluhuran hakiki ini selalu sama, hanya delusi pikiranlah yang membedakan sehingga kita harus belajar lebih jauh untuk memahaminya. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.