Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-356-Keyakinan, Tekad dan Praktik

  Saudara se-Dharma sekalian, kita harus membangun keyakinan, tekad, praktik, dan akhlak yang baik. Kita harus memilih arah yang baik dan menjaga arah pikiran kita. Jika dapat sungguh-sungguh membangun keyakinan, tekad, praktik, dan kebajikan, maka ada apa lagi yang bisa merintangi kita? Saya sering berbagi bahwa ada banyak ajaran baik yang ada di sekeliling kita. Kita mendengarnya setiap hari. Sesungguhnya, ajaran baik selalu ada di sekitar kita setiap hari, hanya saja keyakinan diri kita belum terbangun dengan teguh. Saya sering berkata bahwa keyakinan adalah pangkal dari segala pahala yang menumbuhkan seluruh akar kebajikan. Tanpa keyakinan, bagaimana kita dapat menumbuhkan akar kebajikan? Karena itu, kita harus membangun keyakinan dan tekad. Selain keyakinan, kekuatan tekad juga sangat penting. Setelah meyakini suatu hal yang benar, kita harus membangun tekad. Membangun tekad saja tidaklah cukup, kita juga harus melakukan praktik nyata. kita juga harus melakukan praktik nyata. Saya sering berkata bahwa kita harus memiliki Buddha di dalam hati, memiliki Dharma di dalam tindakan, dan memiliki samadhi di dalam Dharma. Ini adalah prinsip yang sama. Dengan membangun keyakinan, tekad, dan praktik, secara alami kita akan membangun pahala. Selama tidak berjalan menyimpang dan mengetahui arah yang harus ditempuh, kita akan dapat berpegang teguh pada tekad dan membangun pahala. Sebelum membangun keyakinan, tekad, dan praktik, terlebih dahulu kita harus memilih arah yang bajik. terlebih dahulu kita harus memilih arah yang bajik.

Setelah menentukan arah yang tepat dan membangun keyakinan, tekad, praktik, dan akhlak baik, maka pilihan kita tidak akan salah. maka pilihan kita tidak akan salah. Setelah memastikan bahwa pilihan kita tidak salah, kita harus berusaha untuk kembali pada hakikat kebuddhaan dan menjaga pikiran kita dengan baik. Kita jangan membiarkan pikiran kita berjalan menyimpang. Dengan memahami kebenaran dan menjaga arah pikiran dengan baik, maka tindakan kita akan benar. Bagaimana cara merasakan arah pikiran kita? Itu bergantung pada apakah dalam keseharian kita senantiasa besyukur kepada semua orang atau tidak. Kita harus menilai diri sendiri apakah hati kita senantiasa bersyukur. Jika dalam keseharian, kita selalu hidup penuh rasa syukur dan terus bersumbangsih tanpa henti, dan terus bersumbangsih tanpa henti, maka kita akan senantiasa merasakan sukacita, tenang, dan damai. Sukacita ini adalah sukacita dalam Dharma. Orang yang senantiasa bersyukur dan bersumbangsih dengan penuh sukacita adalah orang yang mengasihi diri sendiri. Kita harus mengasihi diri dan menghormati diri sendiri karena kita semua memiliki sifat hakiki yang setara dengan Buddha. Berhubung memiliki hakikat murni dan kebijaksanaan yang setara dengan Buddha, mana boleh kita tidak mengasihi diri sendiri? Setiap orang harus mengasihi diri sendiri. Dengan mengasihi diri sendiri dan menunaikan kewajiban, maka itulah kehidupan yang paling tenang dan damai. Pelatihan diri sesungguhnya sangat sederhana.

Saudara sekalian, meski Dharma yang saya bagikan setiap hari terdengar sangat rumit, tetapi yang saya katakan tadi bukankah terdengar sangat sederhana? Yang terpenting adalah kita harus membangun keyakinan, tekad, dan praktik, serta menjaga akhlak dengan baik. serta menjaga akhlak dengan baik. Setelah membuat pilihan yang tepat, apa lagi yang membuat kita ragu? Jika kita dapat senantiasa bersyukur dan mengasihi diri sendiri, apakah masih ada noda batin yang bisa merintangi kita? Saat kita merasakan sukacita, tenang, dan damai, maka tak ada hal yang bisa merintangi kita. Namun, jika kita tidak membangun semua itu, maka meski mendengar sangat banyak, maka meski mendengar sangat banyak, kita tetap akan dipenuhi noda batin. Penggalan berikut ini memberi tahu kita bahwa noda batin dapat merintangi kita. “Membangkitkan noda batin yang merintangi pelatihan sepuluh pengetahuan dan sepuluh praktik.” Selain itu, juga merintangi pelatihan sepuluh dedikasi dan sepuluh ikrar. Sesungguhnya, dahulu saya sudah pernah membahas istilah-istilah ini. Sepuluh pengetahuan sesungguhnya juga disebut sepuluh keyakinan. Tanpa hati yang jernih dan murni, Tanpa hati yang jernih dan murni, kita tidak dapat membangun keyakinan. Kita harus melenyapkan kegelapan dan noda batin agar dapat membangun keyakinan benar. Sepuluh pengetahuan juga disebut sepuluh keyakinan.

Sebelumnya saya pernah mengulas tentang 52 tingkatan menuju kebuddhaan. Sepuluh tingkatan yang pertama adalah tentang keyakinan. Ia disebut tingkatan keyakinan. Keyakinan berarti mampu menyadari  ciri pikiran yang timbul dan lenyap. Jadi, dengan memiliki keyakinan yang teguh, maka pikiran kita tidak akan bergejolak karena terpengaruh oleh kondisi luar. Pikiran manusia awam mengalami fase timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Keyakinan yang bangkit di dalam hati Keyakinan yang bangkit di dalam hati dengan sangat cepat terpengaruh orang lain sehingga pikiran kita berubah lagi. Keyakinan ini tidak teguh dan gampang berubah-ubah. Setelah berubah, ia pun lenyap. Kita menjadi tak memiliki keyakinan. Itu karena kondisi luar telah memengaruhi keyakinan kita. Ini disebut kegelapan batin. Kita harus membina sepuluh pengetahuan dan mempraktikkan sepuluh keyakinan. Sepuluh keyakinan meliputi keyakinan, pikiran, semangat, kebijaksanaan, samadhi, ketidakmunduran, usaha melindungi Dharma, dedikasi, sila, dan tekad. Sebelumnya kita sudah pernah mengulas tentang 52 tingkatan menuju kebuddhaan. Yang pertama adalah keyakinan, lalu ada praktik sepuluh kediaman, sepuluh praktik, sepuluh dedikasi, Sepuluh Bhumi, dan pencerahan setara. Secara kesuluruhan, semuanya ada 52 tingkatan. Saya sudah menjelaskan ini semua kepada kalian. Saya sudah menjelaskan ini semua kepada kalian.

Setelah mencapai sepuluh Bhumi, kita juga harus memiliki sepuluh ikrar. Ikrar adalah kekuatan. Jika tidak memiliki ikrar, Jika tidak memiliki ikrar, maka kegelapan batin akan terus bangkit. Di dalam praktik sepuluh Bhumi, masih bisa timbul kegelapan batin. Karena itu, kita harus memiliki tekad yang kuat. Tekad ini dapat menjaga pikiran kita agar dapat teguh. agar dapat teguh. Saya sering bertanya, “Apakah pelatihan diri itu?” Ia adalah cara untuk membina tabiat kita. Kita harus membina tabiat yang baik. Saat tabiat buruk timbul, kita harus berusaha untuk mengendalikannya. Kita harus mengendalikan tabiat yang buruk. Tabiat buruk adalah kegelapan batin. Karena itu, kita harus membangun tekad dan ikrar luhur. Saya sudah pernah mengulas tentang  empat kesetaraan dan empat ikrar agung Bodhisattva. “Berikrar untuk membimbing semua makhluk yang tiada batas.” “Berikrar memutus noda batin yang tiada akhir.” Ada empat ikrar agung Bodhisattva. Kita harus memiliki ikrar agung agar dapat meneguhkan pikiran dan mengendalikan tabiat buruk. dan menaklukkan tabiat buruk. Inilah kekuatan tekad bagaikan intan. Kita harus kuat bagaikan intan. Kita harus memiliki tekad yang kukuh. Jika tidak, maka kita tidak dapat melenyapkan noda batin. Jadi, kekuatan tekad sangatlah penting. Jika tidak ada tekad, maka tidak ada kekuatan. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang sepuluh pengetahuan, sepuluh praktik, dan sepuluh dedikasi. Selain itu, ada pula sepuluh ikrar yang harus kita bangun. Tanpa kekuatan ikrar, maka noda batin kita akan selalu ada. Setelah membina 50 tingkatan, jika kurang kekuatan ikrar, maka ia tetaplah tidak kukuh. Karena itu, kita harus memiliki tekad. Saya sering memberi tahu kalian bahwa membangun keyakinan dan tekad sangatlah penting. Karena itu, kita tidak boleh mengabaikan tekad kita. Saya juga sering berkata bahwa jika kita dapat teguh memegang tekad awal, maka kebuddhaan pasti dapat dicapai. Jika kita dapat senantiasa memegang teguh tekad awal dan kekuatan tekad yang dimiliki, maka untuk mencapai kebuddhaan, bukanlah hal yang sulit. Setiap hari kita melihat program “Bodhisattva Akar Rumput”. Setiap hari kita melihat Bodhisattva lansia dan Bodhisattva daur ulang. Lihatlah lingkungan hidup dan kondisi kesehatan mereka. Apakah benar mereka semua memiliki kondisi memadai untuk melakukan daur ulang? Ada orang yang kondisi kesehatannya tidak baik. Ada pula yang kondisi keluarganya hidup kekurangan. Ada pula orang yang menghadapi tentangan dari orang-orang di sekitar. Akan tetapi, mereka tetap menjaga niat dan kekuatan tekad mereka. Jika kita bertanya, “Mengapa kalian begitu bersiteguh?” Mereka menjawab, Kita sudah mendengar perkataan Master.

“Berhubung telah meyakini ajaran Master, kita harus melakukannya secara nyata.” “Untuk melakukan praktik nyata, kita harus membangun tekad.” Asalkan memiliki tekad, maka akan ada kekuatan. “Karena Master mengatakan demikian, maka kami memercayainya.” “Asalkan memiliki tekad, maka kami dapat mengatasi segala kesulitan.” Kita sering mendengar kata-kata itu dari relawan daur ulang. Baik dari relawan lansia, relawan muda, maupun relawan yang menderita penyakit, kita dapat mendengar mereka membangun keyakinan, praktik, dan tekad. Ini sungguh mengagumkan. Mereka juga telah membina akhlak baik. Mereka telah mencapai semua itu. Jadi, sesungguhnya, membangun ikrar bukan hal yang sulit. Asalkan kita senantiasa memiliki niat dan kekuatan tekad ini, maka tidak ada hal yang sulit untuk dilakukan. Asalkan memiliki tekad dan kekuatan, maka kita dapat mengatasi banyak rintangan. Asalkan memiliki niat, maka tidak ada hal yang sulit di dunia ini. Penggalan berikutnya berbunyi, “Membangkitkan noda batin pemahaman yang merintangi pelatihan Bhumi pertama,  kedua, ketiga,dan keempat; membangkitkan noda batin pandangan yang  merintangi pelatihan Bhumi keenam dan ketujuh; membangkitkan noda batin yang merintangi pelatihan Bhumi kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh.”

Bhumi pertama, Bhumi kedua, Bhumi ketiga, dan Bhumi keempat adalah empat Bhumi pertama dari sepuluh Bhumi. Kita harus melenyapkan noda batin baru dapat mencapai sepuluh Bhumi. Selain Bhumi pertama hingga keempat, kita harus tahu bahwa di belakangnya masih ada Bhumi kelima hingga kesepuluh. Jadi, ia terbagi beberapa tingkatan. Noda batin dapat merintangi kita untuk mencapai sepuluh Bhumi. Sepuluh Bhumi meliputi Bhumi sukacita, Bhumi bebas kotoran, Bhumi cahaya cemerlang, Bhumi kebijaksanaan membara, Bhumi mengatasi kesulitan, Bhumi manifestasi, Bhumi jangkauan jauh, Bhumi tak tergoyahkan, Bhumi kebijaksanaan sempurna, dan Bhumi awan Dharma. Semuanya ada sepuluh Bhumi. Jika dapat mencapai satu per satu Bhumi ini, maka kita akan sangat dekat dengan tataran kebuddhaan. Sayangnya, kita sangat mudah tergoyahkan oleh noda batin. Saat tergoyahkan oleh noda batin, maka sepuluh Bhumi yang sudah terbina dalam batin juga akan rusak. Kita sering mendengar tentang bencana gempa Kita sering mendengar tentang bencana gempa yang mendatangkan kerusakan parah. Kondisi batin kita juga demikian. Kondisi batin kita juga demikian. Tujuan kita melatih diri adalah untuk membina kondisi batin. Benih kita senantiasa ada. Benih kita senantiasa ada. Akan tetapi, dibutuhkan tanah yang subur agar benih-benih dapat bertumbuh di atas lahan ini. Untuk menanam benih ini, juga dibutuhkan air, sinar matahari, dan udara yang segar.

Dengan demikian, baru benih tersebut dapat bertunas, bertumbuh dari pohon kecil menjadi pohon besar. Lalu, pohon besar menghasilkan buah yang lebat. Ini juga bergantung pada sebidang lahan batin kita. Jika di dalam hati kita terdapat noda batin, maka ia bagaikan sebidang tanah yang rusak akibat gempa bumi. Untuk membangunnya kembali akan sangat sulit. Jadi, kita harus menjaga batin kita bagaikan menjaga bumi ini. bagaikan menjaga bumi ini. Jika pikiran kita tidak dijaga dengan baik, maka akan memengaruhi kondisi alam semesta. Untuk menjaga pikiran sendiri saja Untuk menjaga pikiran sendiri saja begitu sulit, bagaimana kita dapat menjaga kondisi alam semesta ini? Benarkah sesulit itu? Seperti yang saya katakan tadi, sebenarnya tidaklah sulit. Asalkan tahu mengasihi diri sendiri dan senantiasa bersyukur, maka dalam kehidupan sehari-hari, bukankah kita akan dapat membangun keyakinan, tekad, dan praktik? Setelah membangun keyakinan, tekad, dan praktik, berarti akhlak yang baik juga ikut terbangun. Saudara sekalian, saya memberi tahu kalian dengan istilah zaman sekarang. Asalkan kita mengasihi diri sendiri dan senantiasa bersyukur terhadap semua orang dan segala hal, maka kehidupan di dunia ini akan harmonis dan bebas dari bencana. Singkat kata, untuk menjaga kedamaian dunia agar bebas dari bencana, harus dimulai dari diri setiap orang. Untuk mencapai tingkat ini, Untuk mencapai tingkat ini, apakah sulit? Tidaklah sulit. Hanya saja orang-orang enggan bekerja sama untuk membangun keyakinan, tekad, praktik, dan akhlak baik. Karena tidak dapat demikian, maka terasa sulit.

Ajaran Buddha sangat sederhana, tetapi ada banyak orang dengan sifat dan daya tangkap beragam. Karena itu, dibutuhkan begitu banyak metode terampil dan istilah yang berbeda-beda untuk menjelaskan kepada orang-orang. Sesungguhnya, ia sangatlah mudah. Untuk mencapai kebuddhaan bukanlah hal yang sulit. Penggalan berikutnya berbunyi, “Membangkitkan noda batin praktik satu juta Asamkhyeya  yang merintangi pelatihan buah kebuddhaan.” Kita melatih diri demi berpaling dari tataran manusia awam menuju tataran kebuddhaan. Di tengah proses ini pasti ada rintangan. Apa rintangan yang menghalangi kita? Noda batin praktik satu juta Asamkhyeya. Sesungguhnya, sangatlah mudah untuk mencapai kebuddhaan. Sama halnya dengan sepasang tangan. Tapak tangan dan punggung tangan hanya beda sisi saja. Keduanya sama-sama disebut dengan tangan, tetapi ia terdiri atas telapak tangan dan punggung tangan. Banyak orang berkata, “Saya ingin menjadi orang yang tangannya menghadap ke bawah.” Apa yang disebut tangan menghadap ke bawah? Dengan tangan menghadap ke bawah, kita dapat melakukan banyak hal. Kita dapat membantu sesama. Jika tangan menghadap ke atas, berarti kita terus meminta bantuan dari orang. Apakah kita ingin menjadi orang yang selalu menerima bantuan dari orang? Tidak.

Setiap orang memiliki tekad untuk menjadi orang yang dapat membantu sesama. Kita dapat membantu orang lain dan menggunakan sepasang tangan kita untuk mendorong mereka agar melangkah maju. Jika ada orang yang mendorong kita dari belakang, gunung yang sangat tinggi sekali pun dapat kita daki dengan mudah. Kita dapat maju selangkah demi selangkah. Kita bukan menggunakan punggung tangan untuk mendorong orang karena punggung tangan tidaklah bertenaga. Dalam mendalami ajaran Buddha, mudah bagi kita untuk mencapai kebuddhaan. Ada berapa banyak rintangan yang menghalangi kita mempraktikkan Dharma? yang menghalangi kita mempraktikkan Dharma? Tadi dikatakan tentang satu juta Asamkhyeya. Satu juta Asamkhyeya adalah tidak terhitung. Segala Dharma terintangi oleh noda batin. Dalam mendalami ajaran Buddha, ada banyak noda batin dan rintangan yang menghalangi kita. Karena itu, Buddha mengajarkan banyak metode kepada kita. Akan tetapi, di dalam setiap metode terdapat noda batin yang menghalangi. “Demikianlah rintangan praktik tidak terhingga.” Ini membuat kita tak mampu melihat jelas. Sesungguhnya, untuk mencapai kebuddhaan begitu mudah.

Asamkhyeya Kalpa adalah waktu yang panjang. Asamkhyeya berarti tidak terhitung. Sejak dahulu, kita memiliki hati yang sangat jernih dan murni, hanya saja tertutupi oleh kegelapan batin selama berkalpa-kalpa lamanya. Mengenai pelatihan, sejak dahulu kala, kita sudah melatih diri. Sejak dahulu, kita sudah membina berkah dan kebijaksanaan, tetapi tetap terus terintangi. “Praktik pengembangan berkah dan kebijaksanaan membawa manfaat Dharma adiduniawi.” Berbagai manfaat Dharma adiduniawi ini terus terintangi oleh noda batin kita terus terintangi oleh noda batin kita yang tiada batas. Karena itu, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus membangun keyakinan, tekad, praktik, dan akhlak yang baik. Ini sangatlah sederhana asalkan dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu membina kebiasaan mengasihi diri sendiri dan memupuk rasa syukur. Mengasihi diri sendiri berarti menunaikan kewajiban, sedangkan bersyukur berarti bersumbangsih dengan hati penuh sukacita dan damai. Dengan demikian, berapa banyak istilah Dharma pun berapa banyak istilah Dharma pun tidak sebanding dengan cinta kasih dan rasa syukur di dalam hari kita. Jika dapat demikian, maka apakah masih ada noda batin yang bisa membelenggu kita? Jadi, kita semua harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888