Sanubari Teduh-361-Jalan Mulia Cemerlang bagai Mentari
Saudara se-Dharma sekalian, dalam keseharian, kita harus sangat berhati tulus. Kehidupan ini bagaikan mimpi dan ilusi. Apakah yang nyata? Apakah yang tidak nyata? Yang terpenting kita harus memahami jelas kenyataan di tengah ilusi dan ilusi di tengah kenyataan. Kita harus membedakannya dengan jelas. Meski hidup di tengah ketidakkekalan, Meski hidup di tengah ketidakkekalan, tetapi setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan yang tak berubah. Kita harus memahaminya dengan jelas. Jadi, “Jalan Mulia cemerlang bagaikan mentari.” Jalan Mulia selalu sangat terang. Di manakah Jalan Mulia berada? Di dalam hakikat setiap orang. Sifat hakiki kita sangat murni dan jernih, hanya saja manusia awam seperti tengah bermimpi atau seperti diliputi kabut yang menghalangi pandangan kita. Setelah memahami hal ini, kita harus membangkitkan ketulusan. Karena itu, kita harus tulus meyakini para Buddha dan Bodhisattva. Buddha dan Bodhisattva datang ke dunia demi menunjukkan sebuah jalan yang benar kepada kita dan mengajari kita cara melenyapkan noda batin. Kini setelah mengetahuinya, kita harus dengan tulus meyakini para Buddha dan Bodhisattva dan yakin bahwa ajaran para suciwan tidaklah menyimpang. Semua ajaran kebenaran dari Buddha, Bodhisattva, dan para suciwan pastilah tepat dan tidak menyimpang. Yang paling menakutkan dari kehidupan ini adalah berjalan menyimpang sedikit saja dan jauh tersesat.
Jalan Mulia berisi ajaran kebenaran yang pasti tidak menyimpang. Ke manakah kita harus mencari ajaran kebenaran yang tidak menyimpang? Kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Untuk mendekatkan diri dengan Buddha, kita harus selalu memiliki hati Buddha di dalam hati. Kita harus senantiasa mengingatkan diri untuk memperlakukan semua orang dengan hati Buddha. Ini dapat mendekatkan diri kita dengan Buddha. Kita harus menyadari hakikat kebuddhaan di dalam diri dan meyakini bahwa setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Ini membuat kita dekat dengan Buddha. Jadi, jika kita memperlakukan semua orang dan menangani segala sesuatu dengan tulus, maka tidak ada hal yang tidak berjalan harmonis. Saat hubungan antarmanusia dan segala hal harmonis, maka kebenaran pun akan selaras. Jika demikian, kondisi di dunia akan harmonis dan segala sesuatu di alam semesta akan terang dan jernih. Hanya saja, cermin kebijaksanaan dalam hati kita sering kali tertutup kegelapan batin. Kegelapan batin ini tak terlepas dari manusia, hal, dan segala sesuatu. Karena itu, untuk mewujudkan cermin kebijaksanaan, kita harus berusaha membina keharmonisan dengan semua orang sehingga segala hal bisa dihadapi dengan baik. Jika manusia dan hal dapat berjalan harmonis, berarti kita telah sesuai dengan kebenaran. Artinya, kita harus memperlakukan orang dengan baik dan sesuai kebenaran.
Segala perbuatan kita tak terlepas dari kebenaran. Dengan demikian, secara alami kita dapat memahami segala sesuatu dengan jelas tanpa menyimpang sedikit pun. Kita dapat memahami prinsip kebenaran. Kita selalu menganggap bahwa ajaran Buddha sangat dalam, tetapi sesungguhnya ia tak terlepas dari keseharian kita. Saat kita memperlakukan orang dengan hati Buddha, maka setiap orang bagaikan Buddha. Jika manusia dan masalah dapat dihadapi dengan tulus, maka segala sesuatu akan berjalan harmonis. Mana mungkin ia tak sempurna? Jadi, yang kita kejar dalam kehidupan ini adalah sebuah prinsip kebenaran yang sempurna. Untuk itu, kita harus bersungguh hati. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang rintangan noda batin. Ada banyak hal terjadi karena kita terintangi oleh noda batin. Mengetahui bahwa rintangan merintangi semua kebaikan, maka kita hendaknya mempraktikkan ajaran Buddha dan menggunakan air Dharma untuk membersihkan batin kita. Setelah noda dan kotoran batin dibersihkan, Setelah noda dan kotoran batin dibersihkan, kita menyatakan perlindungan kepada Buddha. Kita juga harus bertekad untuk lebih mendekatkan diri dengan Buddha dan memberi penghormatan kepada Buddha. Jadi, saat mengikuti kebaktian pagi setiap hari, kita mengingatkan diri untuk senantiasa memuja para Buddha dengan tulus. Jadi, dikatakan, “Setelah menghormat pada para Buddha, kami kembali menyatakan pertobatan.” Setiap hari kita memuja Buddha dan mendengar Sutra.
Kita tahu banyak noda batin merintangi kita, tetapi apakah kita sudah memurnikan hati? Saudara sekalian, meski telah mendengar Dharma, tetapi kita tetap menjalani hari-hari seperti biasa. tetapi kita tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Sudahkah kita melenyapkan noda batin? Mari kita lihat penggalan Sutra berikutnya. “Kami para murid pernah secara ringkas bertobat atas rintangan noda batin.” “Kini kami kembali bertobat atas rintangan karma.” Kita baru bertobat secara ringkas. Ringkas berarti secara sederhana. Artinya, ia hanyalah tahap awal dari pertobatan. Kita baru menyelesaikan pertobatan tahap awal. “Kini kami kembali bertobat atas rintangan karma.” Sebelumnya kita bertobat atas rintangan noda batin. Setiap hari kita membiarkan noda batin membelenggu pikiran kita. Penggalan tadi membuat kita tahu bahwa noda batin terus merintangi kita. Setelah mengetahuinya, kita harus bertobat lebih lanjut. Kita bertobat atas rintangan karma. Karma berarti segala yang kita perbuat. Sebelumnya adalah bertobat atas noda batin. Kita belum tentu sudah melakukan karma buruk. Kita mengantisipasinya di awal. Namun, untuk mengubah tabiat lama dan membina kebajikan di masa depan. kita terintangi oleh noda batin. Kini kita kembali bertobat atas kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu. Bagaimana bertobat atas karma yang telah dilakukan? Semua sudah dilakukan, kita harus bagaimana? Yang sudah dilakukan sudah berlalu. Namun, yang belum dilakukan tentu harus kita waspadai. Kita harus tulus memperbaiki kesalahan masa lalu. Kita sering mendengar orang berkata, “Mengapa nasib saya sangat buruk?” Banyak orang sering berkeluh kesah.
Sebagian besar relawan Tzu Chi memahami prinsip kebenaran. Mendengar hal tersebut, mereka akan berkata, “Itu karena benih yang Anda tanam pada masa lalu sehingga kini Anda harus menerima buahnya.” “Anda harus menerimanya dengan sukarela.” “Berhubung dahulu Anda melakukannya dengan sukacita sehingga terjalin jodoh buruk, maka kini setelah bertemu dengannya, Anda harus menebusnya dengan sukarela.” “Ternyata demikian.” “Baik, saya akan membayarnya dengan sukarela.” Jadi, dalam segala hal, kita harus ingat untuk bertobat. “Karena dahulu saya memperlakukan Anda seperti itu, maka kini saya menebusnya dengan sukarela.” Dengan demikian, hati kita akan sangat lapang. Benih karma yang pernah ditanam pada masa lalu menghasilkan buah di masa sekarang. Karena itu, kita harus menebusnya dengan tulus dan sukarela. Ini juga merupakan salah satu jenis pertobatan. Kita harus sangat tulus. Bagaimana dengan masa depan? Kita harus lebih mawas diri. Setelah mengetahui bahwa benih karma yang ditanam pada masa lalu menghasilkan buah karma di masa sekarang, maka kita harus bertobat. Selanjutnya, kita harus lebih berhati tulus. Dalam berinteraksi dengan orang atau menangani masalah, kita harus sangat berhati-hati dan tulus. Dalam segala hal, kita harus menggunakan hati yang bertobat. Tak peduli baik atau buruknya orang memperlakukan kita, kita harus merespons mereka dengan tulus. Dalam melakukan segala sesuatu, janganlah kita membangkitkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan.
Kita harus senantiasa mawas diri. Kita harus menggunakan hati yang tulus, mawas diri, dan penuh pertobatan dalam menghadapi buah karma. Dalam menghadapi karma yang sudah tercipta ataupun karma yang belum tercipta, kita harus selalu tulus, mawas diri, dan bertobat. Ini sama seperti air bersih yang membersihkan kotoran. Contohnya ada sehelai baju kita yang kotor. Kita hendak mencuci baju itu. Apakah bagian yang tidak kotor juga harus dicuci? Kita harus mencuci seluruh baju itu. Jadi, baik bagian yang kotor maupun bagian yang tidak kotor, tetap harus kita cuci dengan air bersih. tetap harus kita cuci dengan air bersih. Sama halnya dengan saat kita menyeka cermin. Sama halnya dengan saat kita menyeka cermin. Kita juga harus menyeka seluruh bagiannya, bukan hanya menyeka bagian yang kotor saja. bukan hanya menyeka bagian yang kotor saja. Jika kita hanya menyeka bagian yang kotor, Jika kita hanya menyeka bagian yang kotor, maka bagian yang lainnya juga akan ikut ternoda. Jadi, untuk membersihkan kotoran, kita juga harus membersihkan bagian lain yang tidak kotor. Jadi, kita harus bertobat atas masa lalu dan mawas diri terhadap masa depan. Inilah cara air Dharma membersihkan batin. Jadi, kita harus membersihkan cermin batin kita. Kita ambil kabut sebagai contoh. Kita ambil kabut sebagai contoh. Kita sering mendengar tentang gurun pasir di Mongolia. gurun pasir di Mongolia. Saat memasuki musim gugur, begitu angin bertiup, Beijing dilanda kabut tebal. Kabut itu disebabkan oleh debu. Kabut itu disebabkan oleh debu. Kabut yang tebal membuat jarak pandang menjadi berkurang. Kabut itu disebabkan oleh debu yang terbang dari tempat jauh, yakni dari Mongolia ke Beijing.
Sesungguhnya, menurut laporan berita, kabut tebal juga sudah mencapai Taiwan. Karena itu, saat pagi hari di Taiwan, kita juga melihat adanya kabut. kita juga melihat adanya kabut. Kabut ini bisa menghalangi sinar matahari di pagi hari. Jadi, kita harus melenyapkan kegelapan batin secara tuntas. Kita harus menggunakan cara untuk melenyapkan kabut di dalam hati agar cermin batin kita dapat cemerlang, bagaikan ada mentari pagi yang menerangi cermin batin kita. Karena itu, kita harus bertobat dengan tulus, baik terhadap masa lalu maupun masa depan. Kita harus menggunakan hati yang tulus dalam menjalan setiap hari. Dalam segala hal, kita harus membangkitkan pertobatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus senantiasa melatih diri dan menjaga pikiran dengan baik. Bagaimana cara melatih diri? Pelatihan diri harus dilakukan dalam keseharian. Berikutnya dikatakan, “Karma ini dapat menghiasi kesenangan duniawi kapan pun dan di mana pun.” Penggalan Sutra ini berarti terkadang karma terlihat sangat indah di dunia ini. terkadang karma terlihat sangat indah di dunia ini. Lihatlah, ada orang yang terus terbuai oleh dunia ini. Karena karma ini, mereka tak dapat melihat dengan jelas dan saling membelenggu. Jika kita berkata, “Dunia ini penuh penderitaan,” ada orang akan menjawab, “Tidak, saya sangat menyukai dunia ini.” “Tidak ada penderitaan di dunia ini.” Ini karena mereka tidak mendalami kebenaran.
Ada orang yang sejak lahir kehidupannya sangat lancar. Karena itu, mereka merasa kehidupan ini penuh kegembiraan. Orang yang hidupnya sangat lancar sekalipun tetap memiliki karma penderitaan yang mengikuti. Contohnya beberapa nyonya muda yang sejak kecil sudah bernasib baik. Mereka lahir di keluarga berada dan memiliki kehidupan yang indah. Mereka berparas cantik dan menikah dengan pasangan yang baik. Karena itu, mereka merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hidup ini. Mereka sangat menikmati hidup dan bahagia. Apa yang paling mereka khawatirkan? Kulit hitam terjemur matahari. Mereka lebih khawatir pada munculnya flek di wajah. Karena itu, kini ada banyak produk kecantikan yang berharga puluhan ribu dolar NT. Mereka berusaha mempertahankan kecantikan. Mereka berusaha mempertahankan kecantikan. Yang paling ramai di rumah sakit sekarang adalah para nyonya muda yang datang untuk perawatan. Dengan menggunakan teknik laser, kabarnya flek di wajah mereka dapat menghilang. Hanya ini yang mereka khawatirkan. Mereka tak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan. Hanya ini yang mereka khawatirkan. Mereka tak sadar bahwa sesuai hukum alam, mereka tetap akan menua. Saat tua, flek hitam tetap akan muncul. Pada saat itu, kerisauan mereka akan semakin banyak. Seiring bertambahnya usia, rambut mereka juga perlahan-lahan beruban. Mereka lalu pergi mengecat rambut.
Tubuh mereka juga perlahan-lahan membungkuk. Tubuh mereka yang langsing dan tegap akan perlahan-lahan membungkuk. Apakah mereka bahagia? Apakah pria yang mereka cintai akan selamanya tampan dan menawan? Apakah bisnis mereka akan selamanya sukses? Sulit untuk dikatakan. Di dalam perubahan hidup manusia tersimpan bahaya dan benih penyebab penderitaan. Mereka tidak menyadarinya. Karena itu, mereka terbuai oleh berbagai ilusi dan terus terbelenggu oleh keduniawian. Kita semua tahu bahwa sebelum meninggalkan keduniawian, Buddha Sakyamuni adalah seorang pangeran. Demi membuai-Nya dengan keduniawian, Demi membuai-Nya dengan keduniawian, sang ayahanda membangun istana tiga musim agar Pangeran tidak merasakan penderitaan akibat suhu panas atau dingin. Selain itu, ada banyak wanita cantik yang menemani siang dan malam. Meski demikian, mereka tetap harus berisitirahat. Suatu malam, Pangeran terbangun dan melihat banyak dayang tertidur. Gaya tidur mereka sungguh jelek. Apakah kita tahu bagaimana gaya tidur orang? Kita pernah mempelajari cara untuk tidur bagaikan busur. Namun, orang yang tidak pernah mempelajari tentang ini, tidur dengan berbagai posisi. Saat terbangun di tengah malam, Beliau melihat wanita-wanita yang cantik di pagi hari Beliau melihat wanita-wanita yang cantik di pagi hari ternyata tidur dengan jelek di malam hari. Rambut mereka berantakan dan wajah mereka tidak dirias.
Ada pula yang tidak membersihkan riasan wajah mereka. Semuanya sangat berantakan. Semuanya sangat berantakan. Melihat hal tersebut, Pangeran berpikir, “Di mana letak keindahan hidup ini?” “Semua itu hanyalah hiasan semu.” Melihat orang-orang itu, Melihat orang-orang itu, Pangeran lalu tersadarkan. Karena itu, keinginan-Nya untuk meninggalkan istana pun semakin kuat. Beliau lalu memutuskan untuk meninggalkan istana. Orang bijaksana tidak terbuai oleh ilusi di dunia ini. Sesungguhnya, ilusi dalam kehidupan ini Sesungguhnya, ilusi dalam kehidupan ini dapat terlihat di mana pun berada. Karma ini terus mengikat kita. Karma bagaikan sesuatu yang membelenggu kita. Karma bagaikan sesuatu yang membelenggu kita. Ini disebut karma. Jadi, kita terpengaruh oleh belenggu karma yang menghiasi keduniawian. Di dunia ini, karma terbagi atas karma tercela dan karma tanpa cela. Karma tercela adalah karma yang didasari oleh berbagai noda batin. Setelah memahami ini, ada orang yang mulai ingin berlatih untuk mengembangkan karma tanpa cela. Akan tetapi, mereka sering terbelenggu kemelekatan. Mereka masih memiliki noda batin.
Ada orang yang tamak dan ekstrem dalam berlatih sehingga malah tersesat. Belenggu karma sungguh membawa penderitaan. Kini kita hanya membahas karma makhluk awam di enam alam kehidupan. di enam alam kehidupan. di enam alam kehidupan. Akibat belenggu karma, kehidupan di dunia ini menjadi penuh penderitaan. Saudara sekalian, jika masih tidak membangkitkan kesadaran, kita akan selamanya terbelenggu oleh kekuatan karma dan terjebak di enam alam kehidupan. Meski ingin melatih diri, jika arah menyimpang sedikit saja, kita tetap akan terbelenggu oleh karma. kita tetap akan terbelenggu oleh karma. Ini sangat menderita. Jadi, selanjutnya kita harus bertobat atas rintangan karma. Saudara sekalian, pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Harap semuanya senantiasa bersungguh hati.