Sanubari Teduh-366-Kesabaran Membawa Kedamaian
Saudara se-Dharma sekalian, kita terus membahas tentang hukum karma. di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi, kita selalu diingatkan kita selalu diingatkan bahwa dalam melatih diri, kita harus memperhatikan hukum sebab akibat agar kelak kita tidak menerima buah karma yang tidak diinginkan. Benih karma kita tanam sendiri. Jalinan jodoh atau kondisi juga kita buat sendiri. Jadi, benih karma buruk yang kita tanam sendiri dan jalinan jodoh buruk yang kita buat sendiri pasti kita terima sendiri akibatnya. Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Jika tidak berpegang pada Dharma, maka kita akan menanam benih buruk. Tanpa belas kasih, kita akan menjalin jodoh buruk. Tabiat buruk mengandung kebencian. Di dalam batin kita sering tersimpan tabiat buruk kebencian. Ini akan mendatangkan buah yang buruk. Merusak keharmonisan dan persatuan pasti mendatangkan akibat buruk. Ini adalah prinsip yang pasti. Kita semua harus meningkatkan kewaspadaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus bersatu hati dan harmonis. Kita harus bergotong royong dan saling mengasihi antarumat manusia. Kita harus memiliki rasa syukur dan kesabaran untuk mencapai kedamaian. Di dalam suatu kelompok, sulit dihindari adanya orang yang tabiat buruknya belum hilang atau belum diperbaiki. Sesungguhnya, itu adalah urusan pribadinya. Kita sering berkata, “Siapa yang berlatih, maka dialah yang akan menerima hasilnya.” “Jika tidak berlatih, maka tak akan ada hasilnya.” Jadi, kita harus mengingatkan diri sendiri. Sebaiknya semua orang di dalam kelompok saling mendukung dalam berlatih. Ini yang disebut kelompok pelatihan diri.
Namun, ada orang yang tabiatnya belum hilang. Dalam kehidupan lampau, dia memupuk tabiat yang tidak baik. Meski saat ini dia bertekad untuk melatih diri, tetapi tabiat masa lalunya belum hilang. Jadi, tabiat buruk sisa ini belum habis. Di dalam kelompok, dia selalu merusak keharmonisan dan persatuan. Dia sangat suka bergosip dan membuat kelompok tidak dapat harmonis. Di dalam Sangha, ada sebuah prinsip yang sangat penting, yaitu enam keharmonisan. Kita harus memegang prinsip yang penting ini. Enam keharmonisan ini harus dijadikan pedoman. Dengan begitu, pelatihan di dalam Sangha baru bisa saling mendukung dan saling menghormati. Saya sering berkata kepada insan Tzu Chi bahwa kita harus bersyukur, menghormati, mengasihi. Dengan kata-kata yang sederhana ini, saya mengingatkan semua orang bahwa di dalam kelompok harus ada enam keharmonisan. Baik dalam berbicara, dalam bertindak, maupun dalam berpikir, haruslah dilandasi rasa syukur terhadap orang lain. Kita harus bersyukur. Baik dalam berbicara, dalam bekerja, maupun saat menghadapi orang, kita harus bersyukur. Dengan begitu, batin kita akan selalu damai. Mengenai rasa hormat, jika kita dapat menghormati orang lain, maka orang lain juga akan menghormati kita. Terhadap orang lain, kita harus penuh pengertian. Kita harus bersumbangsih dengan cinta kasih. Dengan demikian, kita semua akan dapat bersatu hati. Jika sebuah kelompok dapat bersatu hati dan harmonis, maka akan menjadi kelompok yang indah.
Saya sering berkata terima kasih kepada insan Tzu Chi yang saya sebut Bodhisattva dunia. Semua orang memiliki tekad yang sama, sangat bersatu hati, dan harmonis. Karena itu, banyak orang yang melihat bertanya-tanya dari manakah kelompok ini. “Mengapa bisa begitu indah?” Orang yang melihatnya akan diliputi sukacita. Kesatuan hati dan keharmonisan adalah cara untuk menginspirasi orang lain. Bukan hanya itu, tetapi juga membimbing diri sendiri untuk selalu membina hati agar selalu harmonis dengan orang lain. Jika orang lain tidak bersedia membina keharmonisan dengan kita, maka itu adalah urusannya. Kita berusaha untuk tetap harmonis dengannya. Ini adalah jalinan jodoh. Kita mungkin menjalin jodoh buruk dalam kehidupan lampau, maka kini kita tetap harus beramah tamah terhadap orang lain. Dengan begitu, jalinan jodoh buruk ini juga akan terurai pada kehidupan ini seiring pelatihan diri kita. Setelah melenyapkan jalinan jodoh buruk, kita dapat menjalin jodoh baik. Inilah yang terpenting dalam melatih diri.
Kita bersama-sama memberikan cinta kasih dan menciptakan berkah di masyarakat. Dengan begitu, rasa saling mengasihi dan gotong royong akan terbina. Saat kita membutuhkan, orang lain akan membantu kita. Adakalanya orang berkata, “Saya menjadi ketua kelompok, tetapi sulit saat meminta bantuan anggota.” “Ini membuat saya risau.” Begitu pula dalam ladang pelatihan kita di vihara. Saat tiba giliran kita mengerjakan sesuatu, mengapa orang yang membantu hanya sedikit? Ini karena adanya jalinan jodoh buruk. Ini karena adanya jalinan jodoh buruk. Akibatnya, orang lain tidak mendekat. Jadi, dalam melatih diri, baik di rumah maupun di vihara, kita harus memperhatikan benih dan jodoh yang kita tanam. Dengan memiliki jalinan jodoh baik, kita akan didukung banyak orang. kita akan didukung banyak orang. Dengan begitu, masalah akan cepat selesai. Meski dahulu kita pernah menjalin jodoh buruk, kini kita tetap harus memperlakukan orang lain dengan ramah tamah. Jika dia tidak berlatih, maka itu adalah urusannya. Jangan mengambil kesalahan orang lain untuk menghukum diri sendiri. Jadi, melatih diri adalah urusan kita sendiri. Kita harus bersatu hati, harmonis, dan saling mengasihi. Kita harus saling membantu dalam kelompok. Silsilah Dharma Jing Si dan mazhab Tzu Chi kita tak lepas dari masyarakat. Kita terjun ke masyarakat dengan hati Buddha dan mempraktikkan Dharma di tengah masyarakat. Di tengah masyarakat kita tetap mempertahankan Samadhi.
Bukankah saya selalu mengingatkan tentang hal ini? Saya menggunakan kata-kata yang sederhana agar semua orang mudah memahaminya. Jadi, saat kita tidak bisa harmonis, apa yang harus dilakukan? Kita harus membangkitkan rasa syukur dan bersabar. Masih ingatkah kalian? Saat Buddha menjelang wafat, Ananda bertanya kepada Buddha, “Yang Dijunjung, saat Engkau ada di dunia, di dalam Sangha sudah banyak bhiksu yang tidak menjunjung enam keharmonisan.” “Saat Engkau sudah tidak ada, apa yang harus dilakukan terhadap bhiksu yang tidak menaati peraturan?” Buddha berkata kepada Ananda, “Diamkan saja.” “Berusahalah untuk menasihatinya.” “Jika dia tidak bisa dinasihati, maka diamkan saja.” Jangan hiraukan, biarkan saja orang itu. Ini yang disebut mendiamkan. Biarkan saja orang itu. Tak perlu dihiraukan. Ini yang kita sebut bersabar dalam diam. Kita bersabar saja. Kita jangan meninggalkannya. Kita hanya bersabar sedikit. Dengan begitu, hati akan damai. Kesabaran membawa kedamaian. Saya bukan meminta kalian meniggalkan orang itu. Kita hanya diam dan bersabar. Kita tetap harus bersyukur. Kita bersyukur, meski orang itu tidak menambah kekuatan kita, tetapi juga termasuk anggota kita. Singkat kata, ini adalah ladang pelatihan diri. Organisasi Tzu Chi juga merupakan ladang pelatihan diri. Terlebih lagi, Griya Jing Si yang merupakan vihara. Kita semua harus bersungguh hati. Kita harus tahu bahwa tidak berpegang pada Dharma akan menanam benih buruk. Ini adalah prinsip yang pasti. Jika kita tidak berpegang pada prinsip kebenaran, maka batin kita akan menumbuhkan tabiat yang buruk. Ini adalah benih yang buruk. Tiadanya belas kasih akan menjalin jodoh buruk. Begitulah orang yang bertabiat buruk.
Seharusnya, kita mengasihaninya, tetapi kita malah bersikap perhitungan dengannya. Ini akan menjalin jodoh buruk yang semakin dalam. Kelak, jalinan jodoh buruk ini akan berbuah. Tabiat buruk ini mengandung kebencian. Tabiat yang buruk ini akan selalu tersimpan dalam kesadaran ke-8. Kesadaran kedelapan kita akan mengarahkan kita untuk mudah marah. Melihat orang berhasil, kita juga marah. Melihat orang berlatih, kita bilang dia berpura-pura. Kita tidak dapat bersikap pengertian, malah selalu berpikiran negatif. Ini adalah tabiat kita sendiri. Tabiat ini tersimpan dalam kesadaran kedelapan. Jadi, di sini dikatakan bahwa Tabiat buruk mengandung kebencian. Artinya adalah bukan hanya tabiat ini belum dihilangkan, tetapi juga tersimpan di dalam kesadaran dan akan terbawa ke kehidupan mendatang. Kini kita berlatih dengan membawa tabiat buruk. Mengapa tidak segera kita lenyapkan? Mengapa harus membiarkannya terus tersimpan di dalam kesadaran kedelapan kita? Jika terus begini, akibatnya akan buruk karena kita menanam jalinan jodoh buruk untuk kehidupan ini, mungkin kehidupan mendatang, atau berbagai kehidupan selanjutnya. Kita akan menerima akibat buruk karena di dalam kesadaran kedelapan kita benih ini telah tertanam sangat dalam. Jadi, kita tidak boleh terus memupuk tabiat buruk.
Tabiat buruk mengandung kebencian dan mendatangkan akibat buruk. Ini akan menjauhkan kita dari keharmonisan. Jauh berarti melawan. Kita melawan pedoman dan aturan kita. Kita melawan pedoman dan aturan kita. Kita tidak mau mengikuti sistem yang ada. Kita seharusnya menjadikan sila sebagai sistem dan cinta kasih sebagai pola manajemen. Jika kita melawannya, berarti kita melawan keharmonisan. Bahkan, ada orang yang tidak ada hubungan dengan kita, tetapi dia merasa kita ditindas oleh orang lain kita ditindas oleh orang lain dan merasa orang lain sangat tidak masuk akal. Dia terus menyebarkan gosip dan merusak keharmonisan. Karma seperti ini juga sangat berat. Ini disebut merusak keharmonisan. Kita harus memperhatikan hal ini. Orang yang merusak keharmonisan, jika dalam kehidupan ini tidak dijauhi orang, maka kelak juga tetap akan menerima akibatnya. Di kehidupan mendatang mungkin dia akan bertemu dengan orang tua yang jahat, anak yang jahat, teman yang jahat. Banyak hal akan terbawa ke kehidupan mendatang. Karena itu, jangan sampai ada pikiran untuk merusak keharmonisan. Jika sampai ada, akibatnya akan tak terbendung. Penggalan pertama harus diperhatikan. Penggalan kedua adalah yang harus kita latih. Jika dalam kehidupan sehari-hari semua dapat bersatu hati, harmonis, dan saling menolong, maka inilah pelatihan diri. Hanya dengan rasa syukur dan kesabaranlah kita memperoleh kedamaian. Kita harus melatih kesabaran.
Pelatihan diri adalah sebuah tempaan. Tempat ini adalah tempat melatih kesabaran. Kita juga sering membahas bahwa kita hendaknya tidak berlatih hanya demi pencapaian pribadi. Kita harus mempraktikkan Enam Paramita. Berbagai praktik Enam Paramita meliputi praktik dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Kita harus memiliki semuanya. Sulit untuk bisa bertemu ajaran Buddha. Kita harus meneladani orang bijak dan suci. Kita harus meneladani orang bijak dan suci. Jika tidak mengembangkan penggalan kedua tadi, kita mudah dekat dengan penggalan pertama. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. Ini berhubungan dengan hukum karma. Di dalam Sutra dikatakan, Jika orang yang berbuat jahat kini masih bertemu kondisi yang baik, itu karena berbuahnya karma baik dari kehidupan lampaunya.” “Karena itulah, kini ia masih menikmati buah kebahagiaan.” Penggalan ini sangat mudah dipahami. Kita semua seharusnya mengerti. Kita terus membahas hukum karma. Ada orang yang berkata, “Jika memang keburukan berbuah keburukan, tetapi mengapa orang yang dalam kehidupan ini jelas-jelas sangat jahat, orang lain malah tetap baik terhadapnya?” “Mengapa bisnisnya tetap berhasil dan sesuai harapan?” “Dia bukan orang baik.” Yang kita lihat saat ini adalah orang itu bukan orang baik, tetapi hidupnya lancar-lancar saja. Sesungguhnya, kita harus tahu bahwa kehidupannya sangat lancar dan sesuai harapan karena di kehidupan lampau adalah orang baik.
Entah karma baik apa yang dia lakukan di masa lampau. Dia pernah melakukan karma baik yang sangat besar. Mungkin dia juga pernah menjalin jodoh baik dengan orang. “Jika dia ada menjalin banyak jodoh baik, ditambah menciptakan karma baik, lalu mengapa di kehidupan ini dia begitu jahat?” Kita harus tahu bahwa ini karena tabiat buruk yang tidak dilenyapkan. Kita sering membahas tentang batin dan ladang kesadaran kedelapan. Ladang adalah lahan di dalam batin. Di lahan ini, benih apa pun ada tertanam. jika dalam kehidupan ini kita rajin menabur benih, maka benih itu akan tumbuh. Menanam labu akan menuai labu; menanam kacang akan menuai kacang; menanam padi akan menuai padi. Namun, ketahuilah bahwa setelah kita memanen padi dari lahan ini, lalu tidak lagi giat menggarapnya, lalu tidak lagi giat menggarapnya, maka padi tidak akan tumbuh lagi. Yang tumbuh adalah rumput liar. Lihatlah kebun kita. Kita menanaminya sayuran dan merawatnya. Benih sayuran apa pun yang ditanam, asalkan ada yang merawatnya, tanaman pasti akan tumbuh dan bisa dipanen. Jika kita mendiamkan lahan itu setelah memanen, maka rumput liar akan tumbuh. Apakah rumput itu kita yang menanamnya? Rumput itu sejak awal sudah ada di lahan itu.
Saat kita hendak memanen sayuran, yang kita lihat adalah tanaman sayur, tetapi sesungguhnya di dalam tanah sudah ada benih rumput liar. Demikian pula prinsipnya, kini kita tidak sedang mementingkan panen. Kini kita sedang berusaha membersihkan lahan ini. Praktisi monastik tidak mengejar hasil. Kita tidak memikirkan berapa hasil yang didapat. Kini yang kita harapkan adalah membuang semua rumput liar yang tumbuh. Rumput yang tumbuh harus segera dibersihkan. Sebagai anggota Sangha, kita harus membuang rumput liar dalam batin agar orang lain berbahagia saat melihat kita. Dengan begitu, mereka menanam benih baik. Ini yang dimaksud Sangha sebagai ladang berkah, membuat orang lain memiliki rasa sukacita. Kita juga harus memberi. Memberi berarti menciptakan berkah. Jadi, kita harus melatih diri agar orang yang bertemu kita merasakan sukacita. Di satu sisi, kita melenyapkan rumput liar dalam batin, di sisi lain kita juga harus menanam berkah. Jika kita hanya membuang rumput liar, Jika kita hanya membuang rumput liar, tetapi tidak menciptakan berkah, berarti kita hanya mementingkan diri sendiri. Namun, saat menciptakan berkah, kita juga tak boleh lupa membuang rumput liar. Jadi, jika kita melihat orang jahat yang hidupnya masih baik-baik saja, maka kita hendaknya berpikir bahwa dia pernah menanam berkah di masa lampau dan kini telah memanen hasilnya. Namun, kita juga harus tahu bahwa terkandung benih rumput liar pada lahan batin.
Mengenai rumput liar ini, kita tahu dia memilikinya karena kita melihat dia tidak lagi menanam benih berkah. Kita tahu bahwa setelah memanen buah berkah, rumput liar di batinnya amat banyak. Musim panen berikutnya adalah kehidupan mendatang. Di musim berikutnya, rumput liar ini akan tumbuh. Berkah yang dia terima di kehidupan ini adalah hasil dari yang dia tanam di kehidupan lalu. Pada kehidupan lampau, dia pernah menanam berkah dan kini dia menuai hasilnya. Ini karena benih karma baiknya sudah matang. Karma dapat berbuah pada kehidupan berikutnya. Kini dia menikmati buah dari kehidupan lampau. Kini dia menikmati buah dari kehidupan lampau. Karena itu, kini kita melihat dia sedang memanen hasil. Buah karma masa lampaunya matang. Ini adalah karma masa lampau yang dituai pada kehidupan sekarang. Karena itu, kini dia dapat memiliki kebahagiaan. Kita harus tahu dan harus ingat bahwa karma baik dan buruk sangat jelas berbeda. Namun, kini kita masih berada dalam tataran makhluk awam. Kita masih melakukan hal yang baik dan buruk. Kita melakukan kebaikan juga keburukan. Kadang tekad kita untuk berlatih bangkit. Ini adalah niat yang baik. Namun, tabiat kita belum benar-benar hilang.
Saat melihat orang lain, kegelapan batin bisa muncul. Kegelapan batin membuat kita gemar bergosip dan membentuk kelompok. Ini adalah tabiat yang buruk. Kita berniat untuk berbuat baik dan berkumpul bersama orang-orang yang baik. Namun, di dalam kelompok, tabiat belum hilang. Ini juga sering membuat risau. Ada sebuah kisah. Ini adalah kisah uang lima puluh sen. Kisah ini terjadi di Tiongkok. Di Tiongkok ada sebuah keluarga. Orang tua muda harus pergi bekerja di luar kota. Tinggallah cucu bersama kakek dan neneknya. Nenek ini sangat menyayangi cucunya, tetapi cucunya ini sejak kecil sering sakit-sakitan. tetapi cucunya ini sejak kecil sering sakit-sakitan. Sakitnya ini menusuk hingga tulang. Meski orang tuanya mengirimkan uang dari kota dan kakek neneknya mengumpulkan uang dari hasil kerja mereka untuk berobat sang cucu, tetapi penyakit itu tak kunjung sembuh. Hingga saat sang cucu berada di ambang ajal, sang nenek bermimpi. Di dalam mimpi dia bertemu seekor keledai yang menarik pedati. Pedati tersebut penuh dengan barang dan hampir kelebihan muatan. Keledai itu terengah-engah. Sang nenek berjalan di depan keledai itu. Keledai itu seakan berkata, “Kamu masih berutang lima puluh sen padaku.” Akhirnya, dia pun terbangun. Setelah terbangun, dia melihat cucunya sepertinya sudah akan pergi.
Namun, sang cucu berkata, “Nek, bisa beri saya sebuah cermin kecil?” “Nek, bisa beri saya sebuah cermin kecil?” Sang nenek berpikir, “Baiklah, napasnya sudah hampir berhenti, lebih baik saya penuhi saja keinginannya.” Sang nenek pergi ke luar untuk membeli cermin. Tetangganya bertanya, “Kamu sedang apa?” Si nenek menjawab, “Saya ingin beli cermin.” Tetangga itu berkata, “Kamu jaga saja cucumu, biar saya yang pergi beli.” “Saya akan segera kembali.” Setelah cermin dibeli dan diberikan kepada sang cucu, sang cucu mengembuskan napas terakhir sambil tersenyum. Melihat cucunya sudah pergi, sang kakek menangis tersedu-sedu. Lalu, sang nenek teringat mimpinya saat tidur. Dia lalu bertanya pada tetangganya, “Berapa harga cermin tadi?” Tetangganya itu menjawab, “Lima puluh sen.” Si nenek berpikir, “Ternyata begitu.” “Kurang lima puluh sen saja dia tidak mau pergi.” “Hartaku sudah habis untuk membayar utang pada keledai itu.” “Sisa lima puluh sen saja, dia belum bersedia pergi.” Saudara sekalian, inilah buah karma. Sesedikit apa pun, kita tetap harus membayarnya. Jadi, lebih baik kita menanam benih karma dan jodoh baik. Harap kalian bersatu hati dan harmonis serta saling membantu dalam berlatih. Harap semua selalu bersungguh hati.