Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-367-Bertoleransi dan Mengendalikan Diri

Saudara se-Dharma sekalian, kita semua tak dapat lepas dari masyarakat. Manusia adalah makhluk sosial. Bagaiamana manusia hendaknya saling berinteraksi? Ada orang yang terhadap orang lain sangat ketat, tetapi sulit untuk mengatur diri sendiri. Kita seharusnya dapat mendisiplinkan diri sendiri. Kita hendaknya mendisiplinkan diri sendiri sesuai peraturan dan pedoman hidup yang ada. Kita juga hendaknya bertoleransi terhadap orang lain. Jika kita dapat berinteraksi seperti ini dengan orang lain, maka akan diliputi sukacita. Jika kita ketat terhadap orang, tetapi longgar pada diri sendiri, maka sulit untuk membina hubungan baik. Kita akan mudah merasa tidak suka dengan orang karena kita selalu menuntut mereka. Kita selalu melihat orang lain salah. Dengan begitu, saat melihat orang lain, kita tidak dapat membangkitkan rasa sukacita. Inilah orang yang sombong. Jika kita terlalu sombong, selamanya kita akan kesepian. Kita hidup di tengah masyarakat. Jika kita menutup diri, maka kita akan menderita dan tak bahagia. Jadi, kita harus bertoleransi terhadap orang dan mendisiplinkan diri sendiri. Inilah cara menumbuhkan berkah dan kebijaksanaan. Inilah prinsip interaksi yang benar. Jika kita tahu cara memperlakukan orang, kita akan tahu cara mengatur diri sendiri. Jika tak dapat mengatur diri sendiri, kita tak akan mampu menghadapi orang lain. Berhubung kita hidup di masyarakat, maka kita harus bertoleransi dan mendisiplinkan diri. Inilah orang yang penuh berkah dan kebijaksanaan. Kita terus membahas tentang hukum karma.

Ada karma yang berbuah pada kehidupan ini, ada yang berbuah pada kehidupan mendatang, ada yang berbuah pada kehidupan-kehidupan berikutnya. Hukum karma ini tak dapat dilihat. Namun, kita tak luput darinya. Kini, dalam interaksi antarmanusia, setiap hari kita tak lepas dari hukum karma. Terlebih dahulu saya hendak bercerita. Ada seorang raja bernama Aleksander Agung. Namanya termasyhur di seluruh dunia. Hampir semua orang mengenalnya. Wilayah kekuasaannya membentang luas. Dia juga merupakan orang yang terkenal di dalam sejarah. Suatu hari dia berjalan-jalan di taman. Saat berjalan-jalan, dia melihat seorang penjaga muda yang terlihat kelelahan. Penjaga ini tertidur dengan bersandar pada pilar. Dia mendekat hendak membangunkannya. Namun, saat dilihat lebih jelas, di mata penjaga itu ada air mata. Saat dilihat lebih jelas lagi, di kantongnya ada sepucuk surat. Surat ini jatuh dari kantong karena tertiup angin. Aleksander Agung memungunt dan melihatnya. Ternyata, itu adalah surat dari ibu si penjaga di kampung halaman. Sang ibu memberi tahu anaknya, “Uang yang kamu kirimkan sudah Ibu terima.” “Ini cukup untuk membeli obat beberapa hari.” “Ini cukup untuk membeli obat beberapa hari.” “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Ibu.” “Kamu harus setia pada pekerjaanmu.” Setelah melihat surat itu, Aleksander Agung tahu bahwa penjaga ini tetap bekerja meski ibunya sakit. Dia tidak dapat berbakti di sisi ibunya. Kini, ditambah ibunya sakit, dia semakin khawatir. Karena itu, dia meneteskan air mata. Dia kelelahan hingga tertidur. Jadi, pada saat itu, Aleksander Agung mengambil uang dari sakunya, mengambil uang dari sakunya, lalu menaruhnya ke saku si penjaga bersamaan dengan sepucuk surat tadi. Dia lalu pergi. Saat penjaga ini sadar, dia kembali meraba sepucuk surat di sakunya.

Saat mengambil surat ini dari sakunya, dia menemukan sebungkus uang. Dia melihat uang itu terbungkus dalam sebuah kantong. Pada kantong pembungkus itu, terukir nama Aleksander Agung. Dia merasa aneh dan juga ketakutan. Dia segera memohon untuk bertemu raja itu. Pengawal raja bingung. “Untuk apa seorang penjaga bertemu Raja?” Sebelum diizinkan, Aleksander Agung sudah melihatnya. Saat melihat sosok di luar pintu, dia tahu bahwa itu adalah penjaga tadi. Dia meminta pengawal mengizinkannya masuk. Dia meminta pengawal mengizinkannya masuk. Saat masuk, penjaga itu langsung berlutut di hadapan raja. Dia terus berlutut dan berkata, “Saya tidak menjalankan tugas dengan baik.” “Saat bertugas saya kelelahan sehingga lalai.” “Saya tertidur di dekat pilar.” “Saya datang meminta hukuman.” “Saya tidak menjalankan tugas dengan baik.” “Saat terbangun, saya menemukan sebuah kantong saat ingin mengambil surat dari keluarga saya.” “Saya menemukan bahwa di dalamnya ada uang.” “Itu bukan uang saya.” “Jadi, saya harus segera melapor kepada Yang Mulia.” saya harus segera melapor kepada Yang Mulia.” “Ini bukan uang saya.” “Entah itu uang siapa.” “Kiranya Yang Mulia dapat membantu mencarikan titik terang siapa pemilik uang itu.” Dia mengangkat kantong itu dan menyerahkannya kepada Aleksander Agung. Namun, Aleksander Agung tidak menerimanya. Dengan ramah beliau menjawab, “Kelihatannya engkau adalah orang yang jujur.” “Uang itu adalah balasan untuk kejujuranmu.” “Jadi, engkau hendaknya segera mengirimkan uang itu untuk ibumu agar dapat membeli obat.” “Sampaikan salamku padanya.” Penjaga itu sangat terharu.

Dari cerita ini kita dapat memahami bahwa meski memiliki kekuasaan besar, mampu menaklukkan Yunani serta Persia, termasuk penakluk yang hebat, dan merupakan raja Makedonia, tetapi perlakukannya terhadap penjaga tetap penuh toleransi. Jadi, inilah kesungguhan hatinya. Dia juga sangat lapang dada. Seorang raja seperti ini pastilah seorang raja yang sangat kuat karena dia dapat mengambil hati tentaranya. Jadi, banyak orang yang setia kepadanya dan berusaha untuk berkontribusi bagi negara. Jadi, inilah cerita yang kini kita bahas. Dapat kita bayangkan, raja itu amat lapang dada. Penjaga itu juga sangat mematuhi aturan. Dia sungguh merupakan orang yang jujur. Meski dia sedikit lengah karena tertidur akibat kekelahan, tetapi begitu sadar, dia langsung mengaku salah. Bahkan semua uang di kantong itu dia akui sebagai bukan miliknya. Atasan berhati lapang, bawahan berdisiplin. Inilah manusia yang//penuh berkah dan kebijaksanaan. Manusia seperti ini baru bisa berhati lapang dan berdisiplin diri. Kita semua harus mempelajari ini. Di awal kita sudah membahas hukum karma. Apakah sudah selesai? Belum. Berikutnya dikatakan, “Jika orang yang berbuat jahat kini masih bertemu kondisi yang baik, itu karena berbuahnya karma baik dari kehidupan lampaunya.” Jadi, di masa lalu karma baiknya banyak. Berkah ini belum habis dinikmati. Ini adalah buah karma yang diterima pada kehidupan selanjutnya. Meski kini kelihatannya orang itu amat jahat, tetapi dia tetap hidup dalam kenikmatan.

Jadi, ini bukan akibat karmanya di masa kini, melainkan buah karma baik masa lampaunya. Di kehidupan lampau dia menciptakan banyak berkah. Buah karma ini tiada hubungannya dengan perbuatannya di masa kini. Meski dia banyak berbuat jahat pada kehidupan ini, tetapi berkah kehidupan lampaunya belum habis. Karena itu, dia lahir di tengah kondisi penuh berkah. Selanjutnya dikatakan, “Orang yang berbuat baik kini malah dipenuhi penderitaan.” Ada orang yang berbuat baik pada kehidupan ini. Kita melihatnya cukup baik, tetapi mengapa anak-anaknya mengalami masalah yang tidak diinginkan? Dirinya sendiri didera penyakit dan kekurangan. Namun, orang ini tetap baik. Mengapa banyak penderitaan menimpanya? Banyak hal buruk masih terjadi padanya. Kita pasti mempertanyakan hal ini. Selanjutnya dikatakan, “Itu karena berbuahnya karma buruk dari kehidupan lampaunya.” Ini adalah buah karma masa lampaunya. Seperti yang sering kita lihat, seseorang banyak melakukan kejahatan, lalu mengapa hidupnya lancar-lancar saja? Dia masih memiliki berkah. Orang ini mungkin pada kehidupan berikutnya baru akan menerima akibat perbuatannya saat ini. Orang yang kita lihat begitu baik, mungkin pada kehidupan lampaunya juga pernah berbuat hal yang tidak baik, menanam benih karma dan jodoh buruk. Karena itu, benih ini terbawa hingga kehidupan ini. Jalinan jodoh buruk juga menjeratnya. Jelas-jelas dia adalah ayah yang baik, mengapa anaknya sangat jahat? Jelas-jelas dia mendidik anak dengan tegas, mengapa anaknya tidak patuh? Orang berkata bahwa jika anak tidak baik, berarti didikan orang tua tidak baik atau ajaran guru kurang tegas.

Namun, belum tentu seperti itu. Ada guru yang sangat baik dan telah mengajar dengan sepenuh hati, tetapi muridnya tetap tidak mau belajar. Ada pula ayah yang sudah bersungguh hati membanting tulang demi pendidikan anak dan demi membesarkannya. Akhirnya, anaknya tidak berbakti. Ini adalah akibat jalinan jodoh buruk masa lalu. Pada kehidupan ini sang anak menagih utang. Jadi, hukum sebab akibat ini kadang tak dapat dilihat hanya pada kehidupan ini. kadang tak dapat dilihat hanya pada kehidupan ini. Hukum ini terangkai dari kehidupan lampau dan juga hingga kehidupan-kehidupan selanjutnya. Jadi,  seseorang kelihatannya sangat baik, mengapa banyak masalah menimpanya? mengapa banyak masalah menimpanya? Kita harus tahu, ini adalah buah karma dari kehidupan lampaunya. Mungkin di masa lampau dia menciptakan banyak karma buruk dan buahnya harus diterima pada kehidupan ini. Mungkin juga belum akan habis pada kehidupan ini dan harus berlanjut di kehidupan mendatang. Namun, saat ini dia juga berbuat baik. Jadi, kebaikan dan kejahatan berdampingan. Mungkin kebaikan pada kehidupan sekarang akan diterima buahnya pada kehidupan mendatang. Jadi, jika karma buruk matang, saat itu buahnya akan diterima. Jika akar kebajikan pada saat ini lemah, maka tak dapat mengikis karma buruk. Karena itu, di dalam keseharian sering kita temui orang yang berniat untuk memperbaiki diri, untuk memperbaiki diri, tetapi kondisi lingkungannya tidak mendukung. Jalinan jodoh buruk masih membelenggu. Lihatlah, kini banyak orang yang sudah sadar setelah mengonsumsi narkoba dan hendak berubah. Namun, setelah berhenti beberapa saat, mereka kembali bertemu teman yang tidak baik. Diajak sebentar saja, mereka kembali masuk ke lingkaran itu. Ini yang disebut akar kebajikan lemah, sulit untuk berubah.

Berhubung di sekitarnya ada banyak jebakan, maka sulit baginya untuk berjalan dengan aman. Saat ingin membuang kebiasaan buruk, godaan teman-teman yang jahat sulit ditolak. Inilah orang yang memiliki akar kebajikan lemah. Akar kebajikannya masih sangat lemah. Meski berniat untuk berubah, tetap sulit baginya. Kebiasaan ini tak dapat dihilangkan. Karena itu, saya berpesan agar kita semua memperdalam akar kebajikan dan menciptakan lingkungan yang lebih baik. Karena itu, kita harus banyak menyebarkan benih cinta kasih agar orang baik semakin banyak. Kita harus membimbing orang dan melingkupi lingkungan kita dengan kebajikan agar semakin sedikit kesempatan untuk menciptakan karma buruk. Contohnya, kita ingin membimbing seseorang. Orang ini mulai menerima kehadiran kita, tetapi kebaikan dan keburukan masih tarik-menarik. Kita ada di sisi kebaikan dan ingin menolongnya, tetapi sisi keburukan juga ingin terus menariknya. Kita harus menambah kekuatan orang baik. Kita harus menambah kekuatan yang baik ini. Kita membutuhkan lebih banyak orang. Jadi, semakin banyak cinta kasih yang ada, maka semakin besar kesempatan kita untuk menolong orang yang hendak berubah. Karena itu, kita semua harus menciptakan lingkungan yang baik agar orang-orang dapat menarik orang-orang yang ingin memperbaiki diri. Dengan demikian, barulah orang baik akan terus bertambah dalam dunia kita dan orang jahat akan terus berkurang. Jadi, berikutnya dikatakan, “Karena itulah, kini ia masih mengalami buah penderitaan.” “Bukan berarti segala kebaikannya saat ini membuahkan akibat yang buruk.” Sesungguhnya, mengapa? Mengapa orang yang kelihatannya baik Mengapa orang yang kelihatannya baik malah harus menghadapi berbagai kondisi buruk yang meliputi dirinya? Anaknya jahat, cucunya jahat, suaminya jahat, istrinya jahat. Semua membuatnya tersiksa.

Hubungannya dengan suami atau istri, dengan orang tua dan anak, atau dengan teman-teman di luar, semuanya tidak baik. Orangnya tidak jahat, mengapa nasibnya begitu? Ini yang disebut buah penderitaan. Ini bukan urusan satu kehidupan saja, melainkan karma buruk dari kehidupan lampau. Tentu, semua ini pasti ada sebabnya. Saudara sekalian, harap kita semua bisa bersungguh hati. Dalam kehidupan sehari-hari, di tengah masyarakat, kita harus lebih lapang dada terhadap orang lain. Jangan terlalu perhitungan dengan orang lain. Kita hendaknya bisa mundur selangkah. Terhadap batin sendiri, kita harus disiplin dan memegang teguh pedoman. Kita harus mendisiplinkan diri. Dengan begitu, meski dalam kehidupan ini berbagai hal tidak berjalan lancar atau tidak semua orang bersikap baik pada kita, kita hendaknya dapat memahami bahwa itu adalah jodoh yang kita jalin di kehidupan lampau. Kini kita harus berlapang dada terhadap orang lain, tetapi tetap harus menjaga pikiran sendiri. Dengan begitu, berkah dan kebijaksanaan akan tumbuh. Bagaimana pun, yang lalu sudah berlalu. Kita harus berfokus pada saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana kita berperan sebagai manusia, bagaimana kita menjalin jodoh baik? Inilah yang paling penting. Jadi, harap selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment