Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-372-Waspada terhadap Penyimpangan

Saudara se-Dharma sekalian, Saudara se-Dharma sekalian, kita harus tahu bahwa kehidupan sehari-hari tak luput dari Dharma. Jika tidak ada metode dalam bekerja, maka apa pun tidak akan berhasil. Metode ini harus selalu ada dalam keseharian. Setiap metode mengandung prinsip kebenaran di dalamnya. Seperti bunga yang kalian lihat ini. Sebenarnya, ini seharusnya disebut bunga atau pohon? Semua mungkin berkata ini adalah pohon. Namun, pohon seharusnya berada di luar dan tertanam di tanah. Pohon di luar sangat besar. Pohon punya bayangan yang memberi keteduhan. Ini baru disebut pohon. Oh, kalau begitu ini adalah pohon kecil. Namun, mengapa pohon ini disebut pohon kecil? Sebelum menjadi pohon kecil, ia disebut tunas. Sebelum menjadi tunas, ia disebut kecambah. Sebelumnya lagi, ia disebut benih. Mengapa sebutannya begitu banyak? Kini, di hadapan kita, mengapa pohonnya begitu kecil? Ini karena metode yang berbeda. Pohon ini ditanam di dalam pot. Di dalam pot, akarnya tidak bisa meluas. Jadi, beberapa puluh tahun lagi pun ia tetap kecil. Namun, jika ia diangkat dari pot dan dipindahkan ke tanah, maka akarnya akan bertumbuh dan dapat menjadi pohon besar. Pohon ini tumbuh dari benih, tunas, lalu pohon kecil. Istilahnya berbeda-beda, tetapi esensinya adalah sama. Benih ini dapat bertumbuh menjadi pohon. Namun, dengan metode yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan cara tanam yang berbeda, hasilnya juga berbeda. Intinya, segala Dharma pada hakikatnya sama, tetapi memiliki makna yang tak terhingga. Di dalamnya ada banyak prinsip kebenaran. Dengan demikian, jika kita bisa menggunakan prinsip-prinsip ini, maka kita akan dapat mencapai Bodhi. Begitulah ajaran.

Metode pengajaran ada banyak. Namun, kemampuan setiap makhluk berbeda. Bukan hanya itu, jalinan jodohnya juga berbeda-beda. Dengan jalinan jodoh yang berbeda-beda, sebuah Dharma atau ajaran yang sama dibabarkan oleh orang yang berbeda, hasilnya juga berbeda. Dharma ini mungkin jadi tidak berguna. Dharma yang sama, jika dibabarkan oleh orang yang berjodoh dengan penyampaian yang berbeda, maka orang lain mungkin akan dapat menerima. Dengan menerima Dharma ini, orang itu akan membangkitkan tekad. Hakikat bajik manusia tetap tak pernah berubah. Inilah watak manusia sejak dahulu. Bukankah kita sering mendengar ungkapan yang berkata manusia pada hakikatnya bajik? Bukankah Buddha juga mengatakan bahwa setiap orang memiliki hakikat yang sama dengan Buddha? Hakikat ini adalah bajik. Hanya saja, bagaimana Dharma dapat meresap ke dalam hatinya, itu bergantung pada jalinan jodoh. Metode harus sesuai dengan kemampuan orangnya. Kita melihat para guru TK di Malaysia menggunakan metode dalam mengajar anak berusia empat lima tahun. Metode yang digunakan benar. Prinsip kebenaran yang dalam dapat meresap ke dalam hati anak-anak. Mereka menjadi begitu penuh pengertian. Jangan mengira anak-anak itu masih kecil karena baru berusia empat atau lima tahun, lalu kita bertanya apakah mereka paham apa arti menghargai berkah, bagaimana memanfaatkan air, bagaimana tata cara saat makan, dan bagaimana menghargai setiap butir nasi.

Daya tangkap orang dewasa sangat beragam. Jika kita diajarkan prinsip ini dengan metode  atau lingkungan yang kurang tepat, kita tetap akan bersikap boros. Lihatlah, anak berusia empat sampai lima tahun, jika diajarkan dengan metode yang tepat, maka prinsip kebenaran yang dalam pun juga dapat mereka terima. Mereka juga bisa menerapkannya dalam keseharian, Bukankah ini berarti metodenya tepat sehingga dapat menginspirasi mereka? Benih Bodhi di hati mereka tumbuh dengan cepat menjadi tunas Bodhi, pohon Bodhi, hingga hutan Bodhi yang rindang. Ini karena sifat hakiki manusia adalah bajik. Setiap orang memiliki kebajikan dalam hati. Berbagai prinsip kebenaran terkandung dalam segala sesuatu di dunia, seperti berbagai jenis tanaman dan hewan. Di dunia ini begitu banyak hal dengan bentuk yang tak terhitung banyaknya. Kita tidak akan pernah habis melihat semua itu. Begitu banyak benda, tetapi setiap beda wujudnya berbeda-beda. Ambil contoh manusia. Si A, si B, si C, semua memiliki rupa yang berbeda-beda. Bukan hanya wajah, emosi dan kebiasaan pun berbeda-beda. Ada begitu banyak perbedaan Ada begitu banyak perbedaan dan rupa yang beragam. Contohnya kita yang duduk di sini saat ini. Saya adalah saya. Akankah kalian memanggil saya dengan nama orang lain? Tidak.

Setiap orang memiliki nama. Setiap orang memiliki rupa masing-masing. Meski ada orang yang bernama sama, tetapi saat dipanggil dan ayah mereka diminta untuk mengenali, tidak pernah ayah salah mengenali anaknya. Tidak akan. Ini karena rupanya berbeda. Namun, di balik rupa yang berbeda-beda ini, ada suatu kebenaran yang sama, yang sangat luar biasa. Kebenaran ini tidak habis kita pelajari seumur hidup. tidak habis kita pelajari seumur hidup. Namun, ajaran Buddha dibabarkan bagi semua makhluk dengan berbagai daya tangkap agar semua dapat mengenal kebenaran ini. Kebenaran sejati yang dibabarkan hanya satu, Kebenaran sejati yang dibabarkan hanya satu, tetapi Buddha membabarkan ajaran yang beragam selama 49 tahun. Mengapa Buddha yang telah datang ke dunia dan mengajar begitu lama, tetap tidak bisa membuat semua makhluk langsung kembali pada hakikat sejati? Setiap orang memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Tujuan Buddha hanya satu, yaitu berharap semua orang kembali pada hakikat sejati yang murni ini. Namun, manusia kehilangan hakikat ini. Lalu, apa yang terjadi? Sebelumnya kita sudah membahas berbagai jenis kesalahan dan karma buruk. berbagai jenis kesalahan dan karma buruk. Sebelumnya kita membahas lima karma celaka. “Adakalanya menciptakan belenggu kekeruhan yang tebal akibat lima karma celaka.” Ada berbagai bentuk karma buruk. Ada berbagai bentuk karma buruk. Berbagai karma buruk ini berbeda-beda. Namun, yang terparah adalah lima karma celaka.

Lima karma celaka terus membelenggu kita. Lima karma celaka terus membelenggu kita. Belenggu ini dikatakan sangat keruh dan tebal. Keruh berarti kotor, ibarat air yang kotor. Yang lebih kotor lagi adalah lumpur. Saat air dan tanah bercampur, jadilah lumpur. Saat orang terkena lumpur, tubuh akan penuh kotoran pekat. Ini yang disebut kekeruhan tebal. Kekeruhan ini membelenggu kita. Jika kita terjerumus dalam lumpur, maka bukan seperti jatuh ke air, bisa selamat dengan berenang ke tepian atau menarik sesuatu. Tidak. Jika terjatuh ke dalam lumpur, kita akan terus tenggelam. Orang yang ingin menolong juga tak berdaya. Kekeruhan yang tebal ini benar-benar membelenggu kita dan membuat kita terus terperosok. Begitulah karma celaka. Karma celaka membawa kita ke neraka. Ia benar-benar bagaikan neraka. Neraka ini tidak memiliki jeda. Di alam manusia ini, adakalanya penderitaan juga bertubi-tubi dan datang silih berganti. Penderitaan ini sungguh banyak. Satu masalah belum selesai, masalah lainnya sudah datang. Ini membuat hati diliputi penderitaan Ini membuat hati diliputi penderitaan dan berlapis-lapis noda batin. dan berlapis-lapis noda batin. Inilah buah karma di alam manusia. Ini bagaikan neraka di alam manusia. Ini bagaikan neraka di alam manusia. Penderitaan begitu bertubi-tubi. Kita yang melihat pun bertanya-tanya mengapa ada orang seperti itu, menderita sekali. Jadi, inilah karma celaka yang tanpa jeda.

Ini membawa penderitaan bagi semua makhluk. Buddha tidak sampai hati. Batin kita jelas-jelas pada hakikatnya murni, mengapa bisa terbelenggu kekeruhan hingga begitu dalam dan tebal? Ini karena karma buruk kita terlalu banyak. Kita sungguh tak berdaya. Selain lima karma celaka yang membelenggu begitu dalam, di dalam teks juga dikatakan, “Menciptakan karma buruk ‘icchantika’ yang memutus akar kebajikan; menciptakan karma menuduh kata-kata Buddha, memfitnah ajaran Vaipulya.” Apa yang dimaksud “icchantika”? Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta, diterjemahkan menjadi “pandangan salah”. Jenis-jenis pandangan salah sangat banyak. Tidak dapat diterjemahkan dengan satu kata. Jadi, hanya ditransliterasi menjadi “icchantika”, sama seperti “prajna”. “Prajna” berarti kebijaksanaan. Sesungguhnya, maknanya sangat banyak. Berhubung maknanya sangat banyak, maka tetap digunakan istilah “prajna” yang menggambarkan kebijaksanaan dan kebijaksanaan tak terhingga. Istilah ini sulit untuk diterjemahkan. Kini kita tiba pada istilah “icchantika”. Ini juga merupakan bahasa Sanskerta. Pandangan salah ada banyak jenis dan sulit untuk benar-benar dijabarkan. Begitu banyak benih, karma, dan jodoh buruk terus tercipta akibat sebuah pandangan salah. terus tercipta akibat sebuah pandangan salah.

 Inilah yang disebut “icchantika”. “Icchantika” adalah pandangan salah. Bisa dikatakan, itu adalah orang yang tidak yakin dan malah memfitnah Tiga Permata. Karena itu, disebut memutus akar kebajikan. Tiga Permata adalah Buddha, Dharma, dan Sangha. Ada orang yang saat diajak meyakini Buddha, bukan hanya tidak mau, tetapi juga memfitnah. Saat kita berbagi mengenai ajaran Buddha dan mengatakan bahwa ajaran ini baik, dia tidak hanya tidak percaya, tetapi juga tidak meyakini hukum sebab akibat dan malah memfitnah ajaran. Saat kita berbagi bahwa tekad meninggalkan keduniawian adalah baik, dan mengajaknya untuk bertekad memikul misi Buddha serta berbagi padanya bahwa ajaran Buddha membutuhkan Sangha untuk mewariskannya, dia tidak hanya tidak menaruh rasa hormat, tetapi juga mengacaukan Sangha. Kita sebut dia memecah belah Sangha. Orang seperti ini bukan hanya tidak yakin, tetapi juga memfitnah dan merusak. Bukan hanya diri sendiri yang memfitnah, tetapi juga menghasut orang lain untuk turut memfitnah dan merusak. Selain melakukan sendiri, juga menghasut yang lain. Ada orang yang tak dapat membedakan benar dan salah sehingga menyetujui kata-kata yang buruk. Orang seperti ini tidak bisa membedakan mana benar mana salah. Dengan begitu, dia mudah terpengaruh untuk turut memfitnah dan merusak. Semua ini disebut “icchantika”. Ini disebut pandangan salah. Pandangan yang baik tidak mau dia terima, malah menerima pandangan salah. Akibatnya, segala yang dia lakukan bukan hanya merusak bagi Buddha, Dharma, dan Sangha, melainkan juga merusak bagi masyarakat. Di dalam Sangha, mereka bergunjing. Semua ini adalah pandangan salah.

Segala hal duniawi pun bisa rusak akibat hal ini, terlebih lagi kelompok Sangha. Timbulnya rasa iri atau sikap meremehkan juga merupakan bagian dari pandangan salah. Bukan hanya tidak menghormati, tetapi juga meremehkan dan menghina ajaran Vaipulya. Vaipulya adalah nama dari kategori ajaran. Ajaran ini berisi cara memberi manfaat bagi semua makhluk. Buddha membabarkan Dharma dalam 5 periode, yaitu periode Agama, periode Vaipulya, dll. Ajaran Vaipulya mengajarkan bagaimana beralih dari semangat Hinayana menuju Mahayana. Ini lebih maju selangkah dari praktik Hinayana. Ajaran Vaipulya menekankan untuk tidak melekat pada apa pun, melainkan harus berpegang pada kebajikan. Ada orang-orang yang memfitnah ajaran ini. Ini disebut menuduh kata-kata Buddha. Saat Buddha membabarkan Dharma atau kita mewariskan ajaran Buddha, orang-orang ini meremehkan dan memfitnah sehingga menyebabkan pewarisan terputus. Ini disebut karma memfitnah ajaran Vaipulya atau menuduh kata-kata Buddha. Meski kini Buddha sudah tidak ada, tetapi Sutra Buddha adalah perkataan-Nya. Namun, kita malah memfitnahnya, juga memfitnah Sutra Vaipulya. Semua ini menciptakan karma buruk. Karma ini memutus akar kebajikan orang. Kita sering berkata bahwa kita ingin membimbing semua makhluk dan membangkitkan niat baik setiap orang karena manusia pada hakikatnya bajik. Jadi, kita harus terus memikirkan cara untuk membangkitkan akar kebajikan orang dan bagaimana menumbuhkannya seperti benih pohon menjadi tunas, pohon kecil menjadi pohon besar yang rindang. Inilah yang harus kita usahakan.

Tujuan Buddha datang ke dunia tak lain berharap agar kita membuang ego individu untuk merealisasi “diri universal”. Kita tidak berlatih demi kepentingan sendiri, melainkan juga memberi manfaat bagi orang lain. Inilah tujuan Buddha datang ke dunia. Namun, meski ajaran kebajikan begitu banyak, tetapi banyak makhluk malah melanggarnya. Dengan melanggar prinsip kebenaran, maka akan merusak segalanya. Berikutnya dikatakan, “Menciptakan karma enghancurkan Tiga Permata, merusak ajaran benar; tidak percaya pada hukum karma, menciptakan karma dari sepuluh kejahatan, tersesat dari kebenaran, menciptakan karma dari kebodohan.” Saudara sekalian, kita semua seperti ini. Berhubung tidak menghormati Tiga Permata dan ada niat memfitnah yang timbul, maka disebut merusak Tiga Permata. Tindakan merusak Tiga permata ini sama dengan karma memfitnah ajaran benar. Ini menciptakan karma buruk. Pada saat niat timbul, karma sudah tercipta. Selain membangkitkan niat, manusia juga mewujudkannya ke dalam tindakan. Dia menyebarkan keburukan di mana-mana dan memfitnah dengan sikap negatif. Karma dari memfitnah Dharma ini sangat berat. Ini juga disebut perbuatan “icchantika”, yaitu sesuatu yang didasari pandangan salah. Dia tidak percaya hukum karma. Dia tidak percaya perbuatan buruk membawa keburukan; tak percaya perbuatan baik membawa kebaikan. Dia tidak percaya semua ini. Karena itu, dia melakukan sepuluh kejahatan. Karena itu, dia melakukan sepuluh kejahatan. Akibatnya, karma buruk kembali tercipta. Dia tersesat dan berpaling dari kebenaran.

Prinsip kebenaran malah dilanggar olehnya. Lawan dari kebenaran adalah kepalsuan. Lawan dari kebajikan adalah kejahatan. Jadi, dia telah tersesat dari kebenaran dan malah berbuat jahat. Prinsip dan ajaran yang benar juga ditentang olehnya. Jadi, kesesatan ini membuatnya melawan kebenaran. Inilah karma dari kebodohan. Ini juga termasuk pandangan salah. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus sungguh-sungguh memahami bahwa Dharma bermakna tanpa batas. Makna tanpa batas ini bermula dari satu Dharma. Kewajiban kita adalah menciptakan keharmonisan masyarakat. Untuk itu, kita harus membangkitkan cinta kasih dan Bodhicitta dari setiap orang. Kita harus percaya hakikat semua makhluk selamanya adalah bajik. Meski rupa semua makhluk berlainan, tetapi di dalamnya terkandung kebenaran sejati. Jadi, kita tak boleh menyimpang dari kebenaran. Jika kita tersesat dari kebenaran, maka berbagai karma buruk akan tercipta. Kelak, yang kita dapat adalah penderitaan tanpa jeda. Tanpa jeda berarti tanpa henti. Penderitaan datang bertubi-tubi dan berlapis-lapis. Banyak hal akan tidak sesuai harapan. Jadi, kita semua harus yakin ajaran benar yang dibabarkan Buddha. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment