Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-379-Melihat Penderitaan, Menyadari Berkah

Saudara se-Dharma sekalian, sakit, miskin, dan risau adalah penderitaan manusia. Kita harus selalu menyadari berkah setelah melihat penderitaan. Saat melihat orang lain sakit, kita harus segera bersyukur karena masih bisa hidup sehat. Memiliki tubuh yang sehat, kita harus bersumbangsih dan memberi perhatian bagi mereka yang sakit. Buddha memberi tahu kita tentang delapan ladang berkah. Yang utama adalah merawat orang sakit. Ini karena penderitaan terbesar adalah penyakit. Kita dengan tubuh yang sehat hendaknya merawat orang yang kurang sehat. Orang yang kurang sehat atau sakit paling membutuhkan perhatian. Jadi, kita harus membangkitkan niat untuk menolong orang sakit. Ini karena kita bersyukur diri sendiri memiliki kesehatan. Jadi, kita harus bertekad untuk menolong makhluk hidup yang sakit. Saat melihat orang lain kesulitan dan sakit, kita juga harus bersyukur atas kehidupan kita yang lebih baik dari orang lain. Melihat orang-orang yang menderita, kita bersyukur bahwa kita masih mampu untuk membantu orang lain. Melihat derita kemiskinan dan penyakit, kita harus bertindak nyata memberi bantuan. Tentu kita juga perlu memberikan penghiburan batin dan bimbingan. Karena itu, kita sering menyebut istilah menolong yang menderita dan membimbingnya. Saat bertemu orang yang menderita, kita harus membantunya. Kita juga harus membimbing batinnya agar dia tahu bahwa dia bukanlah orang yang paling menderita. Masih ada orang yang lebih menderita darinya. Kita harus membimbingnya untuk menjadi “kaya”. Bagaimana caranya? Batin harus terlebih dahulu kaya. Jika batin setiap orang bisa kaya, maka kehidupan pun akan terasa kaya. Jika batin kaya, maka materi akan terasa berlebih. Batin yang kaya adalah sumber penciptaan berkah. Jadi, kini kita terus membahas bahwa kita harus membantu orang lain.

Saat dia dilanda kesulitan, kita membantunya dengan harapan setelah mendapat bantuan, dia juga dapat berniat membantu orang lain. Saat mendapat sepuluh atau seratus, dia dapat memberikan satu untuk orang lain. Dengan kebajikan yang dipupuk dan dihimpun, maka selain dapat menolong orang lain, juga dapat menanam berkah. Jadi, menciptakan berkah di masyarakat bukan hanya bisa dilakukan oleh orang mampu. Tidak. Saat kita mendapat bantuan, saat memperoleh seratus, kita juga bisa menggunakan satu untuk membantu orang lain. Ini yang disebut menolong yang yang tak mampu dan membimbingnya untuk menjadi kaya. Jadi, dalam memberi perhatian, kita harus membimbing dan menghiburnya agar dia tahu bahwa dirinya juga dapat membantu orang lain. Meski tak bisa membantu dari segi uang, tetapi juga bisa memanfaatkan tubuh yang sehat untuk turut merawat orang yang kurang sehat. Di sekitar tempat tinggal mungkin ada lansia atau orang yang tinggal sebatang kara. Kita juga dapat memberi perhatian pada mereka. Inilah batin yang kaya, bisa membantu orang dengan kekuatan yang ada. Ini yang disebut memberi perhatian. Namun, untuk membimbing dan menghibur orang, kita juga harus mengingatkan diri sendiri apakah diri sendiri juga sudah melakukannya. Terhadap orang yang sakit, sudahkah kita berempati, mengasihi, dan memperhatikan mereka? Terhadap orang yang kurang mampu, dapatkah kita membangkitkan welas asih? Dapatkah kita membantu meringankan sedikit beban hidupnya? Kita mengucapkan begitu banyak kata-kata yang indah didengar, tetapi sudahkah kita mampu melakukannya? Jadi, selain memberi perhatian bagi orang lain, kita juga harus selalu mengingatkan diri sendiri apakah pikiran kita menyimpang atau tidak.

]Begitulah, sebelum membimbing orang lain, kita harus membimbing diri sendiri. Kita harus menyadarkan diri sendiri, baru bisa menyadarkan orang lain. Jika kita dapat berpikir jernih dan mampu melakukan yang kita ucapkan, barulah kita dapat membimbing orang lain agar dia juga bisa berpikiran terbuka dan melakukan hal yang sama. Jadi, kita harus mengingatkan diri apakah pikiran kita menyimpang atau tidak. Kita semua hendaknya tahu bahwa di dunia ini penderitaan semakin banyak. Dari diri kita, kita bisa membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Kita mungkin lebih baik dan lebih berlebih dari orang lain. Karena itu, kita harus bersumbangsih. Ini disebut kehidupan yang kaya dan bahagia. Kita telah membahas, “Dalam delapan Hari Raja sepanjang tahun menciptakan berbagai karma buruk; menjalankan 16 jenis pekerjaan, menciptakan karma pelanggaran tata krama.” Penggalan ini mengingatkan kita bahwa di dalam empat musim dalam setahun, betapa banyak karma yang kita ciptakan. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri. Karma ini kadang tercipta tanpa disadari. Selain pedoman yang tertera jelas di dalam Sutra dan berbagai sila yang sering kita bahas, dan berbagai sila yang sering kita bahas, sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa di dalam keseharian, banyak orang yang melakukan usaha yang termasuk dalam 16 jenis pekerjaan. Di dalamnya termasuk beternak babi, beternak ayam, menjadi pejagal, penangkap ikan, penangkap burung, atau berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan nyawa makhluk hidup serta perdagangan obat terlarang, minuman keras, dll.

Banyak orang menjalankan pekerjaan ini sebagai mata pencaharian. Bahkan,  pewarna termasuk salah satunya. Pewarna di sini berarti orang yang memberi warna. Ada beberapa jenis pekerjaan dalam 16 jenis ini yang menurut kita biasa-biasa saja. Namun, jika kita tilik pada masa kini, sepertinya memang menciptakan karma buruk. Contohnya, sekarang sedang populer sebagian anak muda orang berusia paruh baya, atau bahkan lansia mewarnai rambut. Para lansia dan orang berusia paruh baya rambutnya sudah mulai memutih. Rambut yang memutih adalah sesuatu yang alami. Ini adalah fase alami kehidupan. Sesuatu yang alami mengandung keindahan. Saat kita menginjak usia paruh baya, sudah mulai tumbuh satu dua helai uban. Manusia kadang merasa tak nyaman melihatnya, lalu mulai mewarnai rambut. Ini sesungguhnya tidak alami. Ini sesungguhnya tidak alami. Orang-orang ini tidak rela mengaku tua. Sesungguhnya, ini hanya penampilan luar saja. Sesungguhnya, begitu rambut diberi warna, zat pewarna ini akan meresap ke dalam pori-pori kepala dan membawa dampak buruk bagi kesehatan. Ini sudah dibuktikan oleh para ahli kesehatan dan ilmuwan. Orang berusia paruh baya dan lanjut usia tidak pernah memikirkan ini karena mementingkan penampilan. Ini merugikan kesehatan mereka. Terlebih lagi, anak muda tidak seharusnya mewarnai rambut. Mereka mewarnai rambut dengan aneka warna. Mereka masih muda. Jika kesehatan mereka terganggu, lalu bagaimana? Ini mengancam nyawa dan merugikan kesehatan sendiri. Ini bukan hanya mencemari manusia secara fisik, tetapi juga mencemari masyarakat.

Sesungguhnya, kita yang memiliki rambut hitam seharusnya merasa beruntung. Ini adalah ciri-ciri ras Tionghoa. Ini adalah ciri-ciri ras Tionghoa. Di dalam ras Tionghoa, orang muda memiliki rambut berwarna hitam dan orang tua berambut putih. Ini sangat sesuai dengan hukum alam. Namun, sebagian anak muda sengaja mewarnai rambut hitam dengan warna lain. Kita harus tahu bahwa sebagai manusia janganlah meremehkan ras. Sesungguhnya, terlahir di suatu ras bukanlah hal yang mudah. Usia mereka masih muda, tetapi sudah mewarnai rambut dengan warna merah, biru, putih, kuning, atau berbagai warna lainnya. atau berbagai warna lainnya. Mereka berasal dari ras Tionghoa, tetapi malah ingin menjadi bukan Tionghoa dengan berambut merah. Namun, mereka sendiri tetap tidak bermata biru. Orang yang berambut merah atau kuning biasa memiliki mata yang berwarna biru, sedangkan mereka tidak. Lagi pula, kulit mereka berwarna kuning, tidak bisa berubah menjadi putih. Intinya, bukankah kealamian sangat indah? Ketidakalamian sudah merusak kondisi yang alami. Anak-anak muda ini merusak kealamian diri sendiri. Selain itu, mereka juga mengundang penyakit bagi diri sendiri. Banyak penyakit langka terus bermunculan. Ini juga berarti kita melukai diri sendiri. Intinya, pekerjaan sebagai pewarna membawa kerugian besar bagi manusia. Karena itu, ini termasuk dalam 16 jenis pekerjaan yang tidak patut.

Banyak pengusaha di masa kini yang sesungguhnya menjalankan usaha yang berkaitan dengan 16 jenis pekerjaan tadi. Ini disebabkan oleh tiadanya welas asih. Karena itu, di dalam teks dikatakan, “Melukai semua makhluk, menciptakan karma tiada belas kasihan; tak memiliki rasa simpati, menciptakan karma tiada welas asih; tidak menolong makhluk lain, menciptakan karma tidak melindungi.” Artinya, terhadap semua makhluk, 16 jenis pekerjaan yang kerap dilakukan demi mencari nafkah ini sangatlah merugikan. Tidak memedulikan orang lain atau makhluk hidup lain, inilah yang disebut tiada belas kasihan. Tanpa belas kasihan, mereka melukai semua makhluk. Saya melihat siaran berita yang isinya sangat kejam. Seekor ikan yang masih hidup, kepalanya dipegangi oleh seorang juru masak, lalu digoreng di dalam minyak panas. lalu digoreng di dalam minyak panas. Kepalanya tidak ikut dimasukkan, yang digoreng hanya tubuhnya saja. Tubuh ikan itu terus memberontak. Saat disajikan di atas piring Saat disajikan di atas piring dan ditambahkan beberapa bumbu, jadilah masakan yang dinamai “ikan yin yang”. Kepala ikan itu masih hidup, sedangkan tubuhnya sudah mati. Manusia mulai menyantap hidangan itu. Manusia mulai menyantap hidangan itu. Kepala ikan itu masih hidup, mulutnya masih terus sekali-sekali membuka. Mungkin ia sedang berteriak atau sedang memaki. “Jika saya terlahir kembali, kalian yang memakan daging saya dan memasak tubuh saya, harus menunggu pembalasan saya.” “Saya pasti membalas dendam.” Bukankah ini mirip kisah pembuka Syair Pertobatan Air Samadhi? Yuan Ang mengelabui Chao Cuo dan memenggal kepalanya hingga terus menggelinding dan sebuah batu masuk ke dalam mulutnya. Batu itu pun bagaikan terus digigit.

Selama 10 kehidupan, dia terus berusaha membalas dendam. Melihat hidangan ikan yin yang tadi, Melihat hidangan ikan yin yang tadi, mulutnya juga terus membuka. Manusia duduk di sekeliling meja makan dan menyantap dagingnya sedikit demi sedikit. dan menyantap dagingnya sedikit demi sedikit. Bayangkan, inilah karma melukai semua makhluk tanpa belas kasihan. Karma ini sungguh sangat buruk. Mereka tak memiliki rasa simpati. Melihat orang yang kekurangan atau sakit, tidak timbul rasa iba sedikit pun. Ini menciptakan karma tiada welas asih. Melihat orang yang kesulitan, tidak timbul rasa iba sehingga tidak menolong. Ini juga menciptakan karma. Welas asih tidak dapat bangkit untuk menolong makhluk yang menderita. Sungguh,  melihat orang lain menderita di depan mata, kita tidak merasa iba. Karmanya tentu sangat berat. Pada tanggal 28 sampai 29 Juli 2007, Pada tanggal 28 sampai 29 Juli 2007, ada insan Tzu Chi dari tiga negara menyalurkan bantuan bencana ke Swaziland bagi warga yang kekurangan dan menderita. Tiga negara ini adalah Afrika Selatan, Mozambik, dan Swaziland sendiri. Relawan dari 10 wilayah di tiga negara itu berkumpul di Swaziland. Sesungguhnya, Swaziland adalah negara kecil di Afrika. Luasnya tidak sebesar Taiwan, lebih kecil dari Taiwan. Populasinya mencapai sekitar satu juta orang. Sebagian besar rakyatnya hidup kekurangan karena iklim di negara itu sangat kering. Curah hujan di sana juga sangat kurang. Pertanian kerap mengalami gagal panen. Sulit untuk menghidupi satu juta rakyat. Bahkan, para petani sendiri juga kekurangan. Kadang, mereka tidak memiliki makanan. Di antara satu juta penduduk ini, yang tidak memiliki makanan adalah sekitar seperempatnya. Artinya, lebih dari 250 ribu jiwa mengalami kelaparan. Mereka tidak memiliki bahan pangan, dan lebih dari 250 ribu orang mengalami kelaparan.

Mereka juga hidup dalam kemiskinan. Namun, raja negara itu hidup dalam kemewahan. Dia tidak menyadari penderitaan rakyat. Dalam usianya yang sekitar 30 tahun, dia sudah menikahi sebelas istri. Setiap tahun dia memilih selir. Pada bulan September setiap tahunnya digelar festival Tari Alang-alang. Tubuh bagian bawah para perempuan mengenakan alang-alang, sedangkan bagian atasnya terbuka. Perempuan berusia 16 sampai 18 tahun harus mengikuti acara ini. Ini adalah waktu bagi raja untuk memilih selir. Acara ini digelar pada sekitar bulan September. Ini pernah diberitakan di surat kabar. Ini pernah diberitakan di surat kabar. Kehidupan kerajaan sangat mewah. Terlebih lagi, demi para selir dan permaisuri, raja juga membangun tiga buah istana. raja juga membangun tiga buah istana. raja juga membangun tiga buah istana. Biaya yang dikeluarkan mencapai 10,5 juta dolar AS. Pola hidup raja sangat boros. Setiap selir Setiap selir dan permaisuri diberikan sebuah mobil sedan.

Kehidupan mereka sangat mewah, sedangkan rakyat amat menderita. Negara ini memiliki utang sebesar lebih dari 145 juta dolar AS. sebesar lebih dari 145 juta dolar AS. Kehidupan keluarga kerajaan sangat mewah, sebaliknya dua per tiga populasi negara itu setiap hari hidup dalam penderitaan. Jika dirata-rata, pendapatan warga setempat tidak sampai satu dolar AS per hari. Dari sini bisa diketahui bahwa rakyat sangat miskin, tetapi hidup raja begitu mewah. Ini menanam karma tiadanya belas kasihan, juga karma tidak memberi pertolongan. Semua ini adalah karma buruk. Negara itu kerap dilanda bencana. Rakyatnya begitu menderita. Ini adalah karma kolektif. Jika raja tidakk memiliki cinta kasih, rakyat pasti menderita. Intinya, dapat lahir di negara ini, kita harus selalu bersyukur. Yang terpenting, iklim harus bersahabat, hati manusia pun harus damai dan harmonis. Dengan begitu, hari-hari yang kita lalui akan tenteram. Jadi, kita harus selalu menggunakan rasa syukur untuk membangkitkan welas asih. Baik terhadap orang yang sakit maupun kekurangan, kita harus menghibur dengan rasa empati. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment