Sanubari Teduh-380-Bersikap Pengertian dan Lapang Dada
Bersikap Pengertian dan Lapang Dada Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita harus bersungguh hati. Batin harus dijaga agar tetap murni tanpa noda. Cinta kasih yang murni mengandung pengertian, toleransi, dan rasa puas diri tanpa pamrih. Jika setiap orang dapat menjaga kemurnian ini, tidak tercemar oleh kondisi luar, dan dapat mempertahankan kemurnian hakiki, serta cinta kasih di dalam hati, maka kehidupan kita akan sangat luas dan bermakna. Hari-hari pun akan dilalui dengan baik. Kita hendaknya bersikap pengertian terhadap segala hal, bertoleransi terhadap semua orang, serta membangkitkan rasa puas setiap saat. Lihatlah, di dunia ini banyak penderitaan. Membayangkan semua ini, kita seharusnya berpuas diri dan bersyukur. Apa lagi yang hendak kita kejar? Dengan begitu, kehidupan akan terasa lapang dan bahagia. Tiada lagi yang membelenggu. Namun, batin makhluk awam malah terbelenggu hingga menjadi sempit. Jika hati kita sempit, maka kita tak akan bisa melihat kebaikan orang. Kepandaian, kebijaksanaan, dan kebahagiaan orang lain tak mampu kita lihat dan terima jika hati kita sempit. “Reputasi itu seharusnya milik saya.” “Saya yang seharusnya menikmati itu.” “Saya yang seharusnya menikmati itu.” Hati yang sempit seperti ini tak mampu menerima kebahagiaan orang lain. Jadi, di dalam teks dikatakan, “Hati menyimpan rasa iri, menciptakan karma tidak membimbing orang lain; membedakan antara yang dikasihi dan dibenci, menciptakan karma tiada kesetaraan; tenggelam dalam lima nafsu, menciptakan karma tiada berpaling dari samsara.” Jadi, jika hati kita sempit, kita akan mudah menciptakan karma buruk.
Karma buruk apa? Karma buruk akibat iri hati. Karma buruk akibat iri hati. Iri hati berarti iri terhadap kemampuan orang lain. Melihat orang lain berprestasi, hati kita merasa tidak senang. Melihat orang lain berkemampuan besar kita juga risau. Kita harus memiliki hati yang lapang. Kita juga harus belajar dari orang kelebihan orang. Saat melihat orang lain berprestasi, kita harus turut bergembira. Kita harus belajar darinya tentang bagaimana dia bisa berprestasi, bagaimana dia bisa disukai orang lain, bagaimana dia bisa dikagumi semua orang. Semua ini perlu kita pelajari. Karena itu, kita sering mendengar ungkapan, “Belajar dan meneladani orang bijak.” Saat orang lain memiliki bakat tertentu atau memiliki cita-cita yang tercapai, kita juga harus turut berbahagia. Jika mendengar anak orang lain lulus ujian dan diterima di sekolah terbaik, kita hendaknya berkata, “Hebat sekali.” “Anakmu hebat sekali.” Kita bukan berkata, “Yang seharusnya diterima di sekolah itu adalah anak saya, mengapa jadi anakmu yang diterima?” Hati kita penuh rasa tidak senang. Ini disebut iri atas kemampuan orang. “Dalam usaha ini, saya harus menjamu klien dengan susah payah.” “Saya bisa menyelesaikan pekerjaan ini, mengapa malah diambil olehnya?” “Mengapa dia yang mendapat laba?” “Mengapa bukan saya?” Hati kita juga merasa tidak senang. Kita seharusnya berkata, “Selamat, kamu mendapat pekerjaan ini, bekerjalah dengan sungguh-sungguh.” “Jika butuh bantuan saya, jangan sungkan untuk beri tahu saya.” “Saya pasti akan membantu kamu agar usahamu berhasil dengan baik.” Ini yang disebut berlapang dada.
Meski ada persaingan dalam dunia usaha, tetapi orang lain memiliki kemampuan dan berkahnya sendiri, sehingga mendapat kesempatan. kita harus turut bergembira dan mendoakannya. Hati kita juga harus lebih lapang sedikit untuk membantu kekurangannya. Kita harus memiliki hati seperti ini. Dengan begitu, kita baru bisa membimbing orang lain, dapat membantu orang lain, dan menginspirasi orang. Jika hati kita sempit, maka kita tak akan bisa menginspirasi orang. Jadi, hati kita harus lapang dan terbuka. Berikutnya dikatakan, “Membedakan antara yang dikasihi dan dibenci, menciptakan karma tiada kesetaraan.” Sebagai manusia, sulit dihindari adanya perasaan “Yang ini saya suka,” “Yang ini saya sayang.” Saat orang itu berhasil, kita sangat gembira. Jika kita tidak suka terhadap orang ini, maka segala yang dilakukannya akan selalu kita sangkal. Kita merasa segala pencapaiannya tidak selayaknya dia dapatkan. Yang seharusnya mendapatkan adalah orang yang kita kasihi. Jadi, di sekeliling kita, baik terhadap kerabat kita, teman kita, maupun rekan-rekan di vihara seperti saat ini, kita harus memiliki pandangan setara. Kita jangan membeda-bedakan. Kita harus bersungguh hati. Hati yang penuh rasa iri akan merusak pelatihan diri kita.
Di zaman Buddha ada juga sebuah kisah yang menceritakan seseorang yang berhati lapang, murni, dan memahami Jalan Agung. Dia memahami bahwa segala hal di luar adalah ilusi. Jadi, dia merasa harus berbagi dengan semua orang karena dia merasa berkah harus dibagikan. Dia memiliki banyak kekayaan. Saat melihat banyak orang yang kekurangan, dia merasa berhubung dia memiliki lebih, maka dia bisa membuat orang turut berkecukupan. “Jika saya bisa berkecukupan, maka orang-orang yang kekurangan itu juga seharusnya bisa hidup tenang.” Jadi, dia membangkitkan cinta kasih untuk berdana. Dengan hati yang lapang, dia terus berdana. Dia berdana atau beramal setiap hari. Hatinya dipenuhi rasa puas. Jadi, setiap hari dia berdana dengan sukacita. Saat Dewa Sakra melihatnya, beliau berpikir, “Di alam manusia ada orang yang setiap hari berdana ada orang yang setiap hari berdana dengan hati yang lapang dan sukacita.” dengan hati yang lapang dan sukacita.” Beliau berpikir, “Mungkinkah orang ini memiliki rencana untuk merampas kedudukanku di alam dewa?” Jadi, beliau mengutus seorang dewa untuk mengamati orang tersebut. Dewa itu menjelma menjadi seorang biasa untuk mendekati tetua tadi. Dia berkata, “Untuk apa kamu bersusah payah?” “Dengan hartamu yang melimpah dan tak habis dinikmati, dan tak habis dinikmati, mengapa kamu terus membagikan hartamu?” mengapa kamu terus membagikan hartamu?” “Bagaimana jika hartamu habis karena kamu terus memberi?” Tetua ini menjawab, “Segala materi adalah kepunyaan semua, bukan milik saya sendiri.” “Jadi, saya sudah seharusnya berbagi.” Dewa ini berkata, “Jika suatu saat hartamu habis, maka yang akan kau tuai adalah karma buruk.”
“Saya melakukan banyak hal agar orang-orang bisa hidup berkecukupan, karma buruk apa yang saya ciptakan?” Dewa ini berkata, “Kelak kau akan jatuh ke neraka.” “Apa benar seperti itu?” “Benar, jika tidak percaya, kau tanya saja orang lain yang mengerti kebenaran.” Tetua ini bertanya kepada orang yang dianggap mengerti kebenaran. Orang itu berkata, “Jika kau melakukan itu, maka setelah hartamu habis, kamu akan jatuh ke dalam neraka.” “Berbuat baik kelak akan jatuh ke neraka.” Tetua itu lalu bertanya, “Kalau begitu, bagaimana dengan orang-orang yang pernah saya bantu?” “Orang-orang yang pernah kau bantu “Orang-orang yang pernah kau bantu kelak akan terlahir di alam dewa.” Tetua itu menjawab, “Jika benar bahwa orang yang saya tolong akan terlahir di alam dewa, maka apa buruknya jika hanya saya seorang yang jatuh ke neraka?” “Justru inilah yang saya harapkan.” “Buddha mengajarkan untuk berdana dengan tulus bagi semua orang yang menderita di dunia.” “Welas asih berarti melenyapkan penderitaan semua makhluk.” “Berhubung semua makhluk dapat terlahir di alam dewa setelah menerima pemberianku dan terbebas dari penderitaan, maka aku rela dan turut berbahagia.” “Aku bahkan harus lebih giat.” “Kebahagiaan semua makhluk adalah kebahagiaanku.” “Jika semua makhluk terlahir di alam dewa, maka aku juga bagai berada di sana.”
“Meski harus terlahir di neraka, aku rela.” Mendengar kelapangan hatinya dan semangat kesetaraannya dalam berdana yang menganggap semua orang bagai dirinya sendiri, tidak membedakan musuh atau kerabat, tidak membedakan musuh atau kerabat, Dewa Sakra akhirnya menampakkan diri dan memberi hormat kepada tetua ini serta memohon maaf. Beliau berkata, “Hatimu selapang hati Buddha.” “Engkau berdana dengan hati Buddha.” “Aku telah salah sangka terhadapmu.” “Saya bersalah padamu.” “Harap engkau bermurah hati.” “Aku bertobat di hadapanmu.” Benar, inilah yang harus kita latih. Kita harus selalu mengenal rasa puas. Dengan hati yang murni, kita berlapang dada dan bertoleransi. Inilah pelatihan diri yang sesungguhnya. Pembebasan semua makhluk adalah pembebasan bagi diri kita. Bukankah kita ingin membimbing semua makhluk? Jadi, kita tak boleh membedakan yang dibenci atau dikasihi. Jika kita membedakan, berarti kita menciptakan karma ketidaksetaraan. Jadi, dalam melatih diri, kita harus memiliki pandangan kesetaraan. Semua makhluk adalah kerabat kita. Kita harus mengasihi semuanya dengan setara. Inilah cinta kasih yang murni. Jadi, kita janganlah tenggelam dalam lima nafsu. Jika kita dapat selalu merasa puas dan berlapang dada, maka kita tak akan tenggelam dalam lima nafsu atau ketamakan dan tidak pernah berpaling. Kita hanya tahu mengejar kenikmatan dan tidak memiliki penolakan pada samsara. Ini juga merupakan karma buruk. Jadi, saat melihat orang yang lebih berbakat, kita harus lebih rendah hati.
Saya sering berkata bahwa kita harus mengecilkan diri kita. Jangan menganggap diri selalu sangat mampu dan paling hebat di dunia ini. Saat melihat orang lain juga mampu, kita berpikir, “Mana mungkin dia sehebat saya.” “Saya sangat berbakat.” Saat melihat orang lain mencapai harapan, hati kita merasa risau. Kita tak boleh seperti ini. Kita harus tahu bahwa di atas langit masih ada langit, di atas kita masih ada yang lebih mampu. Jadi, kita tak boleh terlalu sombong. Kita harus sangat rendah hati. Hati kita harus lapang. Jadi, jangan ada rasa iri di dalam hati kita. Jika kita memiliki rasa iri, maka tekad yang telah kita bangun untuk membimbing semua makhluk akan pudar oleh rasa iri ini dan kita tak akan bisa membimbing orang. Ini juga menciptakan karma buruk. Jelas-jelas ada makhluk lain yang perlu dibimbing, tetapi kita tidak mau membimbingnya. Ini tidaklah benar. Pembedaan antara yang dikasihi dan dibenci juga hendaknya kita hilangkan hingga menjadi benar-benar setara. Jangan tenggelam dalam lima nafsu keinginan. Jadi, berikutnya dikatakan, “Adakalanya menciptakan karma kelengahan akibat terbuai pakaian, makanan, dan pemandangan.” “Adakalanya menciptakan berbagai pelanggaran akibat sikap sembrono dan semaunya di masa muda.” Artinya, nafsu keinginan kita begitu banyak. Dari segi pakaian dan makanan, manusia gemar memilih-milih pakaian. Begitu juga dalam hal makan. Banyak orang yang pemilih dalam hal makan. Begitu pula dalam hal pakaian. Berbagai barang yang digunakan bahkan tempat tinggal juga begitu penuh kemewahan. Mereka memerlukan tempat yang luas. Kita sering melihat orang tinggal di rumah mewah dengan pemandangan yang begitu luas.
Sepanjang hari mereka memanjakan diri di tempat tinggal seperti itu atau mencari tempat pemandian yang luas dan berendam di sana. Ada suatu masa, orang-orang gemar mandi dengan susu sapi. Kabarnya ini baik untuk perawatan kulit. Mereka begitu memanjakan diri, bahkan berendam di dalam air wangi. bahkan berendam di dalam air wangi. bahkan berendam di dalam air wangi. Air itu dipenuhi harum bunga. Mereka menikmati kondisi itu sepanjang hari. Inilah karma kelengahan. Inilah sikap memanjakan diri tanpa batas. Mereka berendam sepanjang hari hanya demi merawat kulit dengan susu sapi dan air wangi. Sesungguhnya, dalam melatih diri, kita sering membahas bahwa kita harus mengamati bahwa tubuh tidak bersih. Tubuh kita sesungguhnya tidaklah bersih. Saat cuaca panas, kita berkeringat. Seluruh tubuh akan terasa tidak bersih. Saat banyak orang berkumpul dan sirkulasi udara kurang baik, maka aroma tubuh akan tercium. Entah dari mana aroma itu berasal. Aromanya bercampur aduk. Begitulah kondisi tubuh manusia. Saat masih hidup, manusia mandi setiap hari. manusia mandi setiap hari. Namun, begitu berkeringat setelah melakukan sedikit aktivitas, saat orang-orang berkumpul dan sirkulasi udara kurang baik, aroma yang tercium sangat tidak sedap. Tubuh manusia pada dasarnya memang tidak bersih. Lihatlah, saat seseorang sakit, jika tubuhnya tidak dibersihkan, dari sana kita semakin merasakan bahwa berbagai kotoran bisa keluar dari tubuh manusia. Apa lagi yang perlu dikejar dan dilekati? Hanya demi tubuh ini, manusia menyia-nyiakan waktu. Mereka berendam dalam waktu lama. Kamar mandi pun dirancang dengan sangat indah. Ada orang yang melakukan ini. Ada pula orang yang membuat kolam di luar ruangan dengan dikelilingi pemandangan.
Bayangkan, bukankah ini merupakan karma kelengahan dan pemanjaan diri? Mereka hanya menyia-nyiakan waktu dan memboroskan sumber daya alam. Hanya demi tubuh ini, mereka menciptakan karma buruk. Ada pula orang yang di masa muda, di masa remaja, di masa produktif, atau di usia paruh baya bersikap lengah saat harus mengerjakan sesuatu. Mereka tidak bekerja dengan sungguh-sungguh, melainkan mencari hiburan dari nyanyian dan tarian atau tidak melakukan apa-apa. Mereka melewati hari-hari dengan seperti itu. Ini yang disebut sembrono dan semaunya. Berbagai pelanggaran mungkin terjadi di masa muda, ketika darah muda masih membara. Begitu tidak hati-hati, mereka bisa terjerumus, baik karena seks, harta, ataupun yang lainnya. Mereka menghalalkan segala cara dan melakukan berbagai karma buruk dengan tubuh mereka yang masih bugar. Sikap sembrono dan semaunya ini mendorong terciptanya berbagai karma buruk. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar untuk membuat batin kita senantiasa murni tanpa noda hingga kembali pada hakikat yang murni, yang penuh cinta kasih tanpa batas. Kita harus berusaha bersikap pengertian dan berlapang dada. Setiap hari, kita harus mengenal rasa puas tanpa memiliki pamrih. Kita harus menggenggam waktu yang ada. Kita sungguh harus bersumbangsih di tengah masyarakat. Menyadarkan diri sendiri dan orang lain serta sempurna dalam kesadaran dan praktik, inilah tujuan dari pelatihan diri kita. Untuk itu, kita harus selalu menjaga batin kita. Senantiasalah bersungguh hati.