Sanubari Teduh-394-Cinta dan Welas Asih Menumbuhkan Kebijaksanaan dan Berkah
Saudara se-Dharma sekalian, sering dikatakan bahwa kita harus menjaga jiwa kebijaksanaan kita. Janganlah melukai cinta kasih kita. Kita harus mengasihi segla sesuatu. Jangan merusak welas asih kita. Untuk mengembangkan welas asih, pertama kita harus menjaga pikiran dengan baik. Menjaga cinta kasih berarti harus menjaga jiwa kebijaksanaan. Jiwa kebijaksanaan adalah kebijaksanaan kita. Jika kita memiliki kebijaksanaan, maka hati kita akan sangat lapang. Ketenteraman semua orang adalah ketenteraman kita. Kebahagiaan semua orang adalah kebahagiaan kita. Jadi, Jika kita melihat keberhasilan dan kebahagiaan orang lain, maka kita harus turut berbahagia. Kebahagiaan adalah berkah. Mampu berpengertian adalah kebijaksanaan. Jadi, kita harus melindungi jiwa kebijaksanaan kita. Yang terpenting adalah tidak melukai cinta kasih kita. Jika cinta kasih tak terluka, maka jiwa kebijaksanaan pasti bertumbuh. Jika kita mengasihi segala sesuatu, maka kita tak akan melukai welas asih kita. Jika kita dapat selalu mengembangkan cinta kasih, maka kita akan mengasihi semua kehidupan. Semua ini sudah pernah kita bahas sebelumnya. Semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Kita juga sering membahas tentang makhluk berwujud. Makhluk hidup memiliki wujud yang beragam. Jadi, janganlah kita mengira mereka tidak ada kaitannya dengan kita sehingga kita bebas membunuh mereka. Tidak boleh. Kita harus menjaga dan mengasihi kehidupan.
Manusia dan makhluk hidup lain memiliki kehidupan yang setara. Jika ktia dapat sungguh-sungguh mengasihi mereka, maka kita tak akan melukai welas asih. Kita sering berkata, “Saat orang lain terluka, kita ikut merasa sakit; saat orang lain menderita kita turut merasa sedih.” Inilah welas asih atau empati. Jadi, hewan apa pun, bagaimana pun wujudnya, jika kita dapat mengasihinya, maka ini berarti melindungi welas asih kita. Cinta dan welas asih adalah kebijaksanaan. Dengan adanya cinta kasih, kebijaksanaan akan tumbuh. Dengan adanya welas asih, berkah akan tumbuh. Kini saya akan berbagi sebuah kisah. Pada zaman dahulu ada seorang cendekiawan. Di jalan, tanpa sadar dia berjalan hingga menemukan batas antara laut dan sungai. Di sana dia melihat seorang nelayan. Di sana dia melihat seorang nelayan. Nelayan itu menangkap seekor ikan mas merah. Melihat ikan mas ini ditangkap, cendekiawan ini merasa mata ikan mas itu terus menatap dirinya. Cendekiawan ini bermarga Qu dan bernama Shi. Dia adalah seorang yang terpelajar. Melihat ikan mas tadi, dia berpikir mengapa mata ikan tersebut seakan sedang menatap ke arahnya. Di arah mana pun dia berdiri, tatapan matanya seakan mengikuti. Kemudian, di dalam hatinya timbul rasa tidak tega. Dia lalu berkata kepada si nelayan, “Apakah ikan ini dijual?” “Ya,” jawab si nelayan. “Kalau begitu, biar saya beli,” jawabnya lagi. “Baik, jika harganya cocok, saya jual kepadamu.” Akhirnya, meski ikan itu sangat mahal, demi menolong nyawa ikan itu, dia tetap membelinya. Setelah membelinya, dia melepaskannya ke sungai.
Dia melihat ikan ini berenang dengan gembira menuju lautan. Setelah melihatnya, dia sendiri juga merasa gembira. Dia pun bergegas pulang. Malam harinya, dia bermimpi. Dia bermimpi bertemu seseorang berpakaian merah memberi hormat kepadanya dengan gembira. Orang ini mengundangnya ke rumahnya. Dia melihat lautan luas. Dia mengikuti pemuda berbaju merah ini masuk ke dalam lautan. Ternyata, dia dibawa ke istana raja naga. Di dalamnya terdapat banyak permata. Di sana berdiam Raja Naga. Raja Naga menyambutnya dengan penuh hormat. Raja Naga membungkuk di hadapannya dan berterima kasih dengan penuh hormat. Di sana, dia dijamu dengan makanan. Saat itu, Raja Naga berkata, “Terima kasih telah menyelamatkan anakku.” “Berkat cinta kasihmu dalam melindungi kehidupan, usiamu akan ditambah 20 tahun.” Dia lalu terbangun dari mimpi. Saat itu dia berusia 48 tahun. Lalu, saat nasibnya diramal, sang peramal berkata, “Aneh, menurut hitungan, usiamu seharusnya berakhir tahun ini.” “Namun, kini sepertinya berbeda.” “Saya tak bisa menghitung usiamu.” Orang ini hidup damai dan sehat hingga akhirnya meninggal pada usia 60 tahun. Usianya benar-benar bertambah 20 tahun. Apakah cerita ini benar atau tidak, tak perlu memedulikannya. Intinya, pada zaman dahulu, ada yang menuliskan cerita ini. Kita hanya perlu meneladani nilai-nilainya. Perbuatan baik hendaknya kita lakukan. Paling tidak, setelah berbuat baik, kita merasa gembira.
Saat tiba-tiba terjadi sesuatu, kita berpikir, “Beruntung, saya banyak berbuat baik, hal-hal yang membahayakan berlalu begitu saja.” “Penyakit berat tidak jadi merenggut nyawa saya.” Meski dikatakan bersumbangsih tanpa pamrih dan hanya memiliki rasa syukur serta cinta kasih, tetapi yakinlah bahwa berkah tetap ada. Dahulu kita juga pernah membahas bahwa karma buruk membunuh sangatlah berat. Sebelumnya kita membahas cerita belut yang menggigit tangan orang yang hendak memilih dan membelinya. orang yang hendak memilih dan membelinya. Semua belut di dalam ember itu mengarah ke tangan orang itu. Si pembeli sangat gemar makan belut. Seumur hidupnya, entah berapa banyak belut yang sudah dimakannya. Inilah buah karma yang berbuah saat ini juga. Hari ini kita membahas kisah orang yang melepaskan makhluk hidup. Dia pun menuai berkah di kehidupan ini juga. Namun, janganlah kita mengharap balasan saat berbuat baik. Kita juga tidak meminta orang menangkap ikan agar bisa kita lepaskan kembali. Bukan begitu. Jika Anda meminta nelayan menangkap ikan, berarti kita lebih dahulu melukai welas asihnya. Tanpa welas asih, dia menebar jala untuk menangkap ikan. Saat ikan meninggalkan air, itu bagaikan manusia hidup tanpa udara. Penderitaannya sungguh tak terkira. Jika kita menangkapnya terlebih dahulu, baru kemudian melepaskannya, maka mungkin ia mati sebelum dilepaskan. Ini berarti melukai kehidupan.
Jadi, kita tidak meminta orang menangkap, baru kemudian melepaskannya kembali. Ini berarti meminta orang mencelakai hewan, lalu kita melepaskan hewan itu dan menganggapnya sebagai perbuatan baik. Ini tidak benar. Lain halnya dengan Qu Sheng tadi. Dia kebetulan lewat dan melihat nelayan, lalu merasa tak tega ikan tadi ditangkap. Dia merasa bahwa meski wujudnya adalah ikan, tetapi ia tetap makhluk bernyawa. Mata ikan itu bagai menatap dirinya. Mata ikan itu bagai menatap dirinya. Ikan itu bagai meminta tolong. Jadi, kebijaksanaan yang berlandaskan welas asih ini dapat memahami makhluk hidup. Kehidupan semua makhluk adalah setara. Inilah cinta kasih yang bijaksana. Jadi, kita harus menjaga cinta dan welas asih kita untuk dapat menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Dengan begitu, barulah berkah akan tumbuh. Namun, harus jkita perhatikan bahwa melepas satwa bukan dilakukan dengan sengaja menangkapnya dahulu. Jika melihat hewan akan dibunuh, kita bisa menolongnya. Ini berarti menambah berkah. Jadi, di dalam Sutra juga dikatakan bahwa hukum karma tidaklah buta. Membunuh berarti menciptakan karma buruk. Membunuh berarti menciptakan karma buruk. Karma buruk ini adalah benih. Dengan adanya benih, buah karma akan matang, baik berat maupun ringan. Jika kita melakukan karma membunuh tanpa rasa belas kasih, pasti akan mendatangkan buah penderitaan di tiga alam rendah. Kita akan jatuh ke alam neraka.
Karena itu, dikatakan, “Dapat membuat semua makhluk jatuh ke alam neraka.” Karma buruk seperti ini dapat membuat kita jatuh ke alam neraka. dapat membuat kita jatuh ke alam neraka. Inilah akibat kekuatan karma. Kekuatan karma ini, meski tak terlihat dan tak dapat diraba, tetapi dapat membuat kita tak dapat menentukan arah. Ini sangat menakutkan. Jadi, mengenai jeratan karma ini, kita sudah pernah membahasnya. Begitu kita melakukan kesalahan ringan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, maka ini akan menjadi rintangan bagi kita di kehidupan mendatang. Hal baik akan mendapat rintangan. Kita akan bertemu kondisi yang tak diharapkan. Karena itu, dikatakan bahwa dari sepuluh hal, delapan hingga sembilan hal tak sesuai harapan. Karena itu, pikiran sering kali tersiksa dan menderita serta sulit untuk terlepas dari belenggu. Ini juga disebut kekuatan karma. Selain buah karma di alam manusia ini, masih ada yang lebih berat dan membuat makhluk hidupĀ tak bisa melepaskan diri dari jeratannya, yaitu buah karma di alam rendah. Karma buruk alam rendah adalah alam neraka, alam binatang, dan alam setan kelaparan. Ini disebut buah karma alam rendah. Dikatakan, “Di alam binatang, berwujud sebagai harimau, macan, serigala, elang, burung buas, dan sebagainya; atau sebagai ular, kalajengking, dan sebagainya.” Tadi kita sudah membahas alam neraka, setan kelaparan, dan binatang.
Di alam binatang, wujudnya adalah harimau, macan, serigala, burung elang, rajawali, dan sebagainya. Ada pula ular dan kalajengking. Banyak sekali. Jadi, binatang hanyalah sebutan umum. Selain manusia, ada makhluk hidup dengan wujud lain yang secara umum disebut binatang. yang secara umum disebut binatang. Ada binatang yang dipelihara oleh manusia. Sapi, kambing, kuda, ayam, bebek, dll., semua ini dipelihara untuk menghasilkan uang. Jadi, manusia beternak hewan. Ada pula hewan liar lainnya yang jumlahnya tak terhitung. Selain itu, di pegunungan atau di pedalaman, ada pula harimau dan serigala. Ini adalah hewan buas. Ada pula ular dan kalajengking. Hewan-hewan ini lebih banyak di pegunungan. Hewan-hewan ini bisa melukai manusia. Ada pula burung elang yang termasuk unggas. Burung elang termasuk hewan buas di udara. Di antara burung-burung di udara, ia termasuk yang lebih buas dan merupakan hewan pemangsa. Ia bisa menggigit burung lain atau ayam. Pernahkah kalian mendengar burung elang menggigit ayam? Seharusnya pernah. Waktu kecil, kita sering mendengar orang tua meminta anak-anak yang punya waktu luang untuk menjaga ayam-ayam peliharaan agar tidak diserang elang. Elang juga termasuk burung buas.
Demi bertahan hidup dan membesarkan anak, ia memangsa hewan yang lebih kecil. ia memangsa hewan yang lebih kecil. Ini disebut “yang kuat memakan yang lemah”. Yang lemah menjadi makanan yang kuat. Inilah contoh hewan di udara. Ada pula ular beracun dan kalajengking. Ini adalah hewan yang ada di darat. Di bumi ini, hewan buas di pedalaman jenisnya sangat banyak. Ada pula unggas yang terbang di udara atau hewan beracun di darat. Semua ini termasuk alam binatang. Berbagai jenis hewan ini sangat menakutkan. Berbagai jenis hewan ini sangat menakutkan. Saat melihat ular, manusia ingin memukulnya. Saat melihat serigala, manusia juga merasa takut, ingin menangkapnya atau menyingkir. Singkat kata, semua ini adalah alam rendah. Hewan termasuk alam rendah. Dunia mereka juga penuh penderitaan. Jadi, kita harus mengerti untuk menjaga pikiran kita dengan baik. Jika pikiran kita menyimpang sedikit saja, maka setiap langkah kita akan salah sehingga tak dapat memasuki jalan kebajikan dan mendengar Dharma. Dengan demikian, sangat mudah untuk jatuh ke alam neraka atau alam binatang. Meski merupakan binatang buas dan membuat manusia takut, tetapi binatang-binatang itu juga menderita. Jadi, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Di dalam manusia kita berkesempatan melatih diri. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.