[ST-016] 心靈的病毒 Virus Penyakit Bathin
Saudara se-Dharma sekalian, sebagai praktisi Buddhis, yang terpenting adalah niat dalam hati. Kita harus menjaga hati dan pikiran setiap detik, setiap hari, dan setiap waktu, karena jika dapat menjaga pikiran dengan baik, kita akan dapat kembali kepada hakikat sejati dan hati kita akan semakin dekat dengan jalan para bijaksana, semakin dekat dengan ajaran Buddha, dan yang terpenting semakin dekat dengan Buddha.
Setiap orang melatih diri tak lain adalah demi mencapai kebuddhaan. Mencapai kebuddhaan adalah tujuan praktisi Buddhis. Makhluk awam dan Buddha hanya terpisah oleh noda batin. Noda batin dapat membuat kita berjalan menuju arah yang salah, di jalan yang menyesatkan dan menyimpang, sehingga menciptakan banyak karma buruk. Jika kita dapat menyadari bahwa semua ini hanya disebabkan oleh noda batin, maka sesungguhnya, noda batin itu adalah Bodhi.
Yang telah sadar disebut Buddha, yang belum sadar disebut makhluk awam. Yang sadar merealisasi Bodhi, yang belum sadar diliputi noda batin. Baik Buddha maupun makhluk awam, Bodhi maupun noda batin, sesungguhnya sama. Semua orang memiliki hakikat kebuddhaan. Hanya saja kita dliputi kegelapan batin yang tanpa disadari menimbulkan Tiga Aspek Halus, yaitu noda batin yang sangat halus. Jadi, virus batin ini telah menginfeksi hakikat sejati kita. Dan virus ini terus berkembang biak, menghasilkan lebih banyak lagi virus batin. Kita pun masih tidak menyadarinya dan membiarkan virus ini terus berkembang. “Noda batin tak berbeda dengan Bodhi.” Yang belum sadar disebut makhluk awam, yang telah sadar disebut Buddha. Makhluk awam dan Buddha hanya terpisah oleh “noda batin”.
Kini, dengan proses yang tidak mudahkita telah bertemu seorang Tabib Agung yang merupakan tabib bagi jiwa kebijaksanaan kita. Beliau adalah Buddha. Beliau telah memberikan resep obat, yaitu Dharma. Meski kita para manusia telah mengenal Tabib Agung ini, dan Beliau telah memberikan banyak resep langsung kepada kita, namun virus apa yang menjangkiti batin kita, kita pun belum mengetahuinya dengan jelas. Meski obat telah tersedia, kita tak tahu bagaimana cara menggunakannya. Racikannya pun harus tepat. Kaum monastik adalah orang yang ketika mengenal ajaran Buddha, timbul rasa hormat yang tulus dalam hatinya, mempraktikkannya secara nyata, dan mengikuti jejak para Buddha dan Bodhisattva. Bukan hanya hatinya saja yang berlindung, melainkan juga jasmaninya, berlindung pada Tiga Permata lahir dan batin.
Orang yang bertekad menjadi kaum monastik, bagaikan perawat di rumah sakit. Ada dokter, ada ahli farmasi, dan perawat yang menjaga pasien. Perawat memberikan obat kepada pasien, memerhatikan para pasien, memerhatikan kapan waktunya minum obat, kapan waktunya memberi suntikan, dan merawat mereka dengan amat teliti. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus senantiasa bersyukur, bersyukur kepada Buddha, Dharma, Sangha. Dalam kehidupan lalu, jiwa kebijaksanaan kita tanpa sengaja telah ternoda oleh banyak kegelapan serta noda batin, sehingga menciptakan banyak karma buruk.
Setelah berkesempatan mendengar ajaran Buddha, kita harus membangkitkan rasa hormat, kita harus berlindung pada Tiga Permata, dan menjalankan praktik nyata. Kini, kita telah mengetahui makna pertobatan. Bila ingin bertobat, bagaimana dan di manakah melakukannya? Apakah dengan pergi ke vihara, melantunkan berbagai syair pertobatan, menghormat pada Buddha, dan bertobat di hadapan-Nya?
Inikah yang disebut bertobat? Bukan. Bukan hanya begitu. Pertobatan yang sesungguhnya dilakukan di hadapan sesama manusia. Karena itu, dalam Sutra Pengamatan Batin dikatakan, “Mereka yang menutupi kesalahan, kesalahannya menjadi berlipat.” Ketika kita melakukan kesalahan dan menutupinya agar tak diketahui orang lain, ini disebut menutupi noda batin.
Sikap menutupi kesalahan ini disebut kesombongan rendah. Tahu diri ini sudah berbuat salah, timbul penyesalan dalam hati, namun tak mau mengutarakannya karena takut diketahui orang lain. Takut diketahui orang lain karena takut dipandang rendah oleh orang lain. Ini yang disebut kesombongan rendah, karena takut dipandang rendah oleh orang lain. Sikap seperti ini tidaklah benar. Bila kita telah melakukan kesalahan, kita harus berani mengakuinya pada semua orang, berkata secara terbuka pada semua orang bahwa dahulu kita pernah melakukan berbagai hal. Inilah yang disebut menunjukkan pertobatan. “Dengan menunjukkan pertobatan, karma buruk akan terkikis.”
Jika kita menutupi kesalahan, karma buruk akan menjadi berlipat ganda. Jika kita menunjukkan pertobatan, karma buruk yang ada akan terkikis. Inilah yang disebut berani mengakui kesalahan. Berani mengakui kesalahan, bertobat secara terbuka, karma buruk baru dapat terkikis. Takut orang lain mengetahui kesalahannya, tak berani mengakui kesalahan, dan tak bersedia bertobat, hanya akan berputar dalam lingkaran karma buruk selamanya. Kita semua mungkin masih ingat belum lama ini di Rumah Sakit Tzu Chi Dalin ada sebuah kasus. Ada seorang nenek yang dibawa ke UGD dengan luka di sekujur tubuhnya. Ia sungguh berada dalam kondisi kritis. Kemudian setelah diobati, ia pun dipindahkan ke Ruang Perawatan Intensif (ICU). Di ruang ICU, kerja organ tubuhnya sudah sangat lemah. Namun, ia belum meninggal. Ia belum menghembuskan napas terakhirnya. Kemudian, para relawan Tzu Chi bertanya tentang nenek ini kepada keluarganya, “Kita semua telah berusaha sekuat tenaga.” “Sebenarnya, mengapa sekujur tubuh ibu kalian bisa terluka seperti ini?” Anak-anaknya sangat sedih.
Kemudian, mereka bercerita bahwa ayah merekalah yang memukulnya. Sang ayah memiliki temperamen yang buruk. Memarahi anak-anak dan memukul istri sudah menjadi kebiasaannya. Relawan kita pun bertanya, “Usia mereka sudah lanjut, nenek berusia 80 tahun lebih, kakek seharusnya juga seusia itu, apakah tabiatnya memang seburuk itu?” Anaknya menjawab, “Memang begitu.” “Sekarang kami semua sudah dewasa, semua memiliki keluarga masing-masing.” “Tetapi, tabiat ayah masih sama seperti dulu.” “Ia tak memiliki tempat pelampiasan, anak-anak tak lagi di sisinya untuk menjadi limpahan amarahnya, maka ia menjadi lebih kasar terhadap ibu.” “Jadi, ibu seperti ini karena dipukul ayah.” Lukanya amat parah. Anak-anaknya pun berkata, “Ibu kami sangat menderita.” “Ia terus mengeluh.” “Ia sering berkata, entah berapa besar hutangnya pada ayah di kehidupan lampau, dan kini ia rela menebusnya, namun mengapa utangnya tak kunjung habis?” “Begitulah ia berkeluh kesah.” Setelah para relawan mendengar hal ini, suatu hari mereka menyarankan pada anaknya, “Carilah cara untuk mengajak ayahmu kemari.” “Saya akan berbicara pada ayahmu untuk melepaskan belenggu di hati ibumu.” Anaknya pun menjawab, “Ayahku tampaknya juga ingin datang menjenguk, namun sepertinya ia tidak berani datang.” Mereka mencari cara agar ia datang. Akhirnya, ia pun datang. Kakek ini telah berusia 85 tahun, sedangkan sang nenek berusia 81 tahun.
Di luar ruang ICU, sikap kakek terlihat sangat risau, namun ia tetap tak berbicara. Ketika diminta masuk melihat istrinya, ia pun menolak. Kemudian, seorang komite Tzu Chi menggandengnya masuk dengan setengah lembut dan setengah kuat, “Kek, sekarang ini bagi nenek yang paling dibutuhkannya adalah Anda.” “Yang bisa membuatnya sedikit bahagia juga adalah Anda.” “Kehidupan tidaklah kekal.” “Anda saat ini tidak mau menjenguknya, tetapi saya rasa dalam hati Anda sudah menyesal.” “Master berkata, ‘Hukuman terberat manusia adalah penyesalan.’ Sekarang Anda menyesal, namun jika tidak segera dikatakan kepada nenek, kelak Anda akan semakin menyesal.” “Mari, masuklah melihat nenek.” Akhirnya, dengan menggandeng sambil berbicara, relawan mengajak sang kakek masuk ke ruang ICU. Melihat istrinya terbaring di depan mata, kakek ini tak dapat menahan tangis. Ia menangis sangat keras. Tanpa disadari, ia berbicara kepada nenek. dan memanggil nama nenek, “Maafkan aku.” “Karena emosi sesaat,aku mengamuk dan menjadi gelap mata, hingga memukulmu sampai seperti ini.” “Maafkanlah aku.”Kakek itu berbicara sambil menangis. Inilah pertobatan secara terbuka.
Komite Tzu Chi itu pun segera menghibur kakek dan berkata kepada sang nenek, “Nek, apakah Anda mendengarnya?” “Kakek sudah meminta maaf di hadapanmu.” “Ia menangis sampai begitu. Anda juga tahu ia tak tega.” “Nek, seumur hidup ini, Anda telah banyak menderita.” “Kini, kakek sudah meminta maaf padamu.” “Bukalah hatimu.” “Jangan lagi menyimpan rasa benci dan dendam.” “Memaafkan orang lain adalah keindahan moral.” “Jika kita dapat memiliki tubuh yang baru, terlahir kembali dalam wujud bayi yang lucu, kita berkesempatan berbuat baik dan menjadi Bodhisattva.”
“Nek, jangan lagi membenci.” Terlihat di ujung mata sang nenek air mata berlinang keluar. Sang kakek bagaikan setumpuk salju yang mencair seluruhnya. Ia merasa sangat menyesali dirinya. Dua hari kemudian, sang nenek pun meninggal dengan tenang. Sang kakek yang berusia 85 tahun bertobat di hadapan nenek yang berusia 81 tahun. Bayangkan, mereka telah menikah selama 60 tahun lebih.
Kabarnya, mereka menikah di usia muda dan telah menjadi suami istri selama 60 tahun lebih. Selama 60 tahun lebih ini, sang nenek selalu mengikuti suaminya. Berdasarkan penuturan anaknya, sejak muda kakek sering memarahi anak-anak dan memukuli istrinya. Hingga di usia 80 tahun lebih, ia masih memukulinya hingga terluka parah. Dapat kita bayangkan nenek ini mengalami penderitaan selama 60 tahun lebih. Namun, ia masih memegang kewajibannya sebagai istri dan tetap setia mendampingi suaminya. Ia menerima nasibnya. Setelah anaknya lahir, ia merawatnya sekaligus merawat keluarga. Nenek ini seumur hidupnya meski tidak melatih diri sebagai bhiksuni, ia melatih dirinya dalam kehidupan rumah tangga. Meski rumah tangganya penuh masalah, ia dapat menjaga hatinya dan memenuhi kewajibannya sebagai istri. Sungguh seorang nenek yang mengagumkan. Sedangkan kakek yang bertabiat buruk ini, apakah ia tak memiliki cinta kasih? Apakah ia tak mengasihi keluarganya? Jika tidak mengasihi keluarganya, ia tentu sudah menelantarkan mereka, tak mungkin mempertahankan rumah tangganya selama enam puluh tahun lebih.
Jadi, dapat dikatakan bahwa ia juga mengasihi keluarganya, hanya saja ia memiliki tabiat buruk. Tabiat buruk ini sungguh harus diubah. Maka, sering saya katakan bahwa ungkapan “Hati manusia berbeda-beda seperti wajahnya” adalah tidak benar. Seharusnya dikatakan tabiatlah yang berbeda. Tabiat manusia ini pada masing-masing orang tidaklah sama, seperti halnya wajah manusia. Meski semua adalah manusia, namun semuanya berbeda. Tetapi, tetap disebut manusia. Hati kita pun demikian. Hati kita dan hati Buddha seharusnya adalah sama. Hanya saja karena noda dan kegelapan batin kita yang merupakan virus batin kadarnya tidak sama, maka yang tampak keluar, tindakan, tabiat, dan penyakit batin masing-masing orang berbeda.
Jadi, tabiat setiap orang berbeda seperti wajahnya. Dalam melatih diri kita saat ini, yang utama adalah melenyapkan tabiat buruk. Setiap orang memiliki hati yang baik dan penuh kebajikan. Begitu juga dengan kakek tadi. Hanya tabiatnya suka memaki dan memukul orang. Ia sangat baik terhadap orang luar. Namun, hal tak menyenangkan yang dialami di luar dibawanya pulang ke rumah dan dilampiaskan kepada anak dan istri. Ini adalah penyakit batinnya dalam bentuk tabiat buruk. Kakek ini sudah berusia lanjut, namun masih dapat membawa malapetaka. Saya yakin kakek itu dapat mengubah tabiatnya. Seperti yang dikatakan anaknya, mereka semua sudah berkeluarga dan tinggal di luar. Akibatnya, kakek sering memukul nenek. Kini nenek telah tiada, saya rasa kini kakek kalaupun tabiatnya muncul, tak ada lagi tempat pelampiasan. Sungguh kehidupan yang penuh penyesalan. Kakek ini telah benar-benar menyesal. Jika anak-anaknya berbakti, mungkin bersedia mengajaknya tinggal bersama.
Mungkin kakek sudah mengubah tabiatnya dan menjadi ayah yang baik. Jadi, dalam kehidupan, adakalanya orang harus mengalami pukulan berat barulah ia dapat tersadar. Ia terus-menerus melakukan kesalahan. Ia terus-menerus melakukan kesalahan. Sampai suatu hari, ketika mengalami peristiwa besar, ia baru menyesal dan terlambat untuk bertobat.
Kita harus mengerti, dalam kehidupan sehari-hari, dalam setiap tindakan dan perkataan kita, semua menciptakan karma. Setiap perbuatan kita menghasilkan benih karma. Lihatlah, mengapa rumah sakit kita harus dibersihkan beberapa kali dalam sehari? Mengapa pegangan tangga disterilisasi berkali-kali? Karena kita semua sering melewatinya, sehingga lantai tangga harus terus dibersihkan. Pegangan tangga telah disentuh banyak orang, karenanya juga harus dibersihkan. Bahkan meja pun harus sering dibersihkan. Ini menunjukkan, meski hanya sedikit tindakan, kemungkinan untuk terjangkit virus tetap besar, karena virus penyakit terdapat di mana-mana. Ketika hati kita bersentuhan dengan dunia luar, mungkin saat orang lain mengucapkan sepatah kata, kata-kata yang ringan sekalipun, kata-kata ini dapat masuk ke dalam hati kita. Baik yang membuat kita senang atau sebaliknya, ini semua adalah virus.
Jika kita merasa senang, kita akan melekat padanya. Karena merasa senang, kita lalu melekat. Kesenangan ini akan membawa kemelekatan membuta. Contohnya, semua orang selalu memuji saya, saya telah melakukan perbuatan baik, mengapa Anda tidak memberi tepuk tangan? Kita sering mendengar banyak orang ketika berbicara maupun berpidato, tiba-tiba berkata, ”Ayo beri tepuk tangan.” Saat berbicara pun ia ingin diberi tepuk tangan. Ini dinamakan kemelekatan, selalu mengharapkan pujian dan kekaguman dari orang lain. Sikap seperti ini tidaklah benar. Atau karena sepatah kata orang lain, kita menjadi marah dan benci. Ini akan semakin menambah timbunan noda batin.
Suatu hari, jika bertemu orang itu, hati kita bukan hanya merasa tak senang, melainkan kita juga dapat bersikap kurang baik atau sengaja mencari masalah dengannya. Ini semua adalah virus penyakit batin. Ketika bersentuhan dengan dunia luar, Kondisi dunia luar, baik perkataan orang lain, maupun keadaan lingkungan dan lain-lain, perasaan yang timbul dalam hati kita, yang menimbulkan perasaan dalam hati kita, rasa yang timbul dalam hati kita sesungguhnya hanyalah perasaan kita saja. selama itu menimbulkan perasaan dalam hati kita, sesungguhnya hanyalah reaksi perasaan kita saja.
Semua ini maka hal-hal itu tak lain adalah noda batin. Inilah yang disebut virus penyakit batin. Ucapan ringan dari seseorang yang masuk ke dalam hati kita, baik yang membuat kita senang maupun kesal, ketika kita menjadi melekat padanya, berarti kita telah menanam virus batin. Dalam melatih diri, kita harus bisa menjaga batin. Apa pun kondisi di luar yang harus kita hadapi setiap hari, betapa pun kecilnya masalah yang ditemui, baik yang menyenangkan maupun yang membuat kita cemas atau marah, ketika masalah-masalah ini muncul, maka karena kita adalah makhluk awam, kita masih diliputi emosi dan nafsu keinginan. Apa pun kondisi yang kita hadapi dan perasaan yang kita rasakan, apakah dendam, kebencian, cinta, nafsu keinginan, maupun perasaan yang rumit lainnya, perasaan seperti ini, hendaknya jangan terus dipendam di dalam hati.
Apa pun kondisi yang kita hadapi, kita harus dapat menyaringnya. Setelah menyaringnya, lihatlah apa yang harus kita lakukan, dan lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Sesuatu yang tak perlu kita lakukan, harus segera kita lenyapkan dari dalam hati. Inilah yang disebut benih dalam hati. Benih yang baik kita tanam sungguh-sungguh, benih yang buruk harus segera kita buang. Jadi, hati bagaikan sepetak sawah. Hati bagaikan sebuah dunia. Di dunia masa kini, betapa banyak bencana yang terjadi.
Sesungguhnya, ini juga merupakan penyakit. Terhadap penyakit di luar batin ini, kita harus melakukan praktik nyata dalam hubungan antarsesama manusia dengan saling mengasihi dan menghimpun kekuatan orang banyak untuk menolong dunia serta melenyapkan penyakit dunia ini.
Namun, kita harus lebih giat lagi melenyapkan virus di hati setiap orang. Jika virus batin ini tidak dilenyapkan, maka untuk dapat bersatu hati, ramah tamah, saling mengasihi, dan bergotong royong sulit untuk diwujudkan.
Saudara sekalian, makhluk awam dan Buddha pada hakikatnya setara, hanya saja kita memiliki seberkas kegelapan batin. Kegelapan batin ini merupakan virus, yaitu virus bagi batin kita, yang menyebabkan kita setiap hari terus-menerus menciptakan karma buruk. Kita harus bersyukur karena para Buddha dan Bodhisattva datang ke dunia sebagai tabib yang memberi obat sesuai penyakit. Sebagai kaum monastik, kita harus memiliki tekad yang benar, berdiri di garis depan dalam masyarakat untuk memerangi virus batin. Kita harus menjaga dan merawat orang lain. Ajaran Buddha membuat kita tahu obat apa yang harus kita gunakan, dan kapan obat itu harus diminum. Kita harus memiliki kesabaran dalam membimbing dan membimbing semua makhluk agar mereka tahu agar semua makhluk mengetahui obat yang harus mereka gunakan pada saatnya. Semua ini adalah tanggung jawab kita.
Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha tak lain adalah mengasihi diri kita dan orang lain. Kita harus waspada terhadap virus dalam batin kita dan tak boleh terjangkiti olehnya.
Dengan demikian, barulah kita memiliki kebijaksanaan yang terang untuk menjaga dan merawat begitu banyak makhluk yang diliputi kebodohan batin. makhluk yang diliputi ketidaktahuan dan kegelapan.
Karena itu, kita harus senantiasa berusaha menjaga hati dan pikiran kita.