Sanubari Teduh

[ST-015] Dengan Hati yang Tenang Segalanya Terlihat Jelas

Saudara se-Dharma sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti kita harus senantiasa menjaga hati dan pikiran. Dengan hati hening, segalanya terlihat jelas. Perlu kita ketahui bahwa noda dalam batin kita timbul akibat sentuhan dengan dunia luar. Jika kita tak dapat melihat dengan jernih dan bersikap ikhlas, maka noda batin kita akan semakin tebal.

Setelah mengetahui semua ini berusahalah membersihkan batin dari noda. Setelah membersihkan batin, kita hendaknya tidak membuat kesalahan yang belum dilakukan. Karena kita telah membersihkan batin, lembaran baru dalam kehidupan dimulai. Noda batin timbul akibat sentuhan dengan dunia luar. Karenanya, jagalah hati dengan baik, bersihkan batin dari noda, lebih bermawas diri di masa depan, dan tidak lagi melakukan pelanggaran.

Kita harus ingat bahwa batin kita harus memiliki sandaran, yaitu agama. Selama agama itu mengajarkan hal yang benar, batin kita dapat menemukan sandaran di dalamnya, dan kita dapat menjalani hidup dengan benar. Dengan demikian, kita tak akan melakukan kesalahan. Tentu, umat Buddha berlindung pada Tiga Permata. Jadi, sandaran bagi batin kita yaitu para Buddha di sepuluh penjuru, bukan hanya Buddha Sakyamuni dari Dunia Saha.

Sesungguhnya, ketika berlindung kepada satu Buddha, berarti berlindung pada para Buddha di masa lalu, masa kini, dan masa depan di sepuluh penjuru. Kita harus sepenuh hati mengambil perlindungan tersebut. Berlindung kepada Buddha berarti sepenuh hati dan pikiran menjadikan ajaran Buddha sebagai pedoman hidup. Dalam pikiran, ucapan, dan tindakan, tiada yang tak sejalan dengannya. Buddha mencerahkan diri sendiri, orang lain, serta sempurna dalam kesadaran dan praktik. Dengan kesadaran yang dicapai-Nya, Beliau mengajar mereka yang berkebijaksanaan tajam. Jika seseorang dapat menerima ajaran Buddha, ia dapat berikrar mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Inilah yang disebut “Mencari pencerahan dan membimbing makhluk lain”.

Meski di Jalan Bodhisattva ia mampu membimbing semua makhluk, ia sendiri pun terus mendalami Dharma dari para Buddha karena Dharma yang diajarkan Buddha sangat luas. Meski angkasa bertepi, Dharma tidaklah berbatas. Karenanya, kita harus senantiasa memiliki niat belajar tanpa henti. Untuk itu, kita harus giat dan bersemangat. Pepatah kuno berbunyi, “Belajar tidaklah mengenal batas usia.” Bahkan hingga hembusan napas terakhir, masih banyak yang belum tuntas kita pelajari. Terutama bagi kita yang berikrar untuk menyelamatkan semua makhluk, harus terus mempelajari Dharma. Untuk mempelajari kebenaran ajaran Buddha, kita harus membangun rasa hormat yang tulus serta pikiran yang terfokus. Karenanya, kita harus “Sepenuh hati berlindung kepada para Buddha di sepuluh penjuru serta para Maha Bodhisattva”. Bodhisattva merupakan teladan bagi kita.

Mereka sesungguhnya berada di sekitar kita. Mereka dapat membimbing kita dan mengoreksi kesalahan kita, serta menuntun kita ke jalan yang benar. Mereka adalah mitra yang baik bagi kita. Mereka yang giat berlatih di jalan Buddha dan dapat membimbing kita ke jalan yang benar merupakan Bodhisattva. Baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan, ketika bertemu dengan mereka, hendaknya kita berlindung dan mengikuti langkah mereka. Mereka yang dapat membimbing kita, mengoreksi kesalahan kita, dan menuntun kita ke jalan yang benar adalah mitra yang baik bagi kita. Bertemu Bodhisattva seperti mereka, kita hendaknya senantiasa mengambil perlindungan. Selain Bodhisattva, ada pula Pratyekabuddha. Mereka memiliki kemampuan yang tajam. Dari pengamatan akan perubahan segala hal, mereka menyadari kebenaran tentang ketidakkekalan, penderitaan, dan kekosongan. Karenanya, mereka tahu bahwa kehidupan harus dimanfaatkan untuk segera melatih diri hingga mencapai pencerahan. Karena itu, mereka disebut Yang Tercerahkan Sendiri. Artinya, mereka mencapai pencerahan dengan usaha sendiri.

Buddha, selain mencerahkan diri sendiri, juga mencerahkan orang lain, serta sempurna dalam kesadaran dan praktik. Kebuddhaan tercapai saat tiga aspek ini terealisasi. Namun, Pratyekabuddha hanya mencerahkan diri sendiri, dan tak berikrar mencerahkan orang lain. Jadi, belum benar-benar sempurna, masih terdapat kekurangan. Karena itu, ia disebut Yang Tercerahkan Sendiri. Meskipun hanya berlatih bagi diri sendiri demi pencapaian pribadi, namun ia telah mencapai kebijaksanaan murni dan patut kita teladani. Pratyekabuddha dapat mencerahkan dirinya sendiri. Meski tak bertekad mencerahkan orang lain, kebijaksanaannya yang murni tanpa noda patut kita jadikan teladan.

Arhat pun demikian, melatih diri sendiri. Mereka berlatih sesuai petunjuk Buddha mencapai tingkat kesucian pertama hingga keempat tahap demi tahap hingga mencapai tingkat kesucian Arhat. Pelatihan mereka didasarkan pada petunjuk Buddha. Namun, mereka takut pada hukum sebab-akibat sehingga mengasingkan diri dari masyarakat. Inilah praktik penyepian dalam Sravakayana. Namun, mereka juga patut kita hormati. Orang yang berhati bajik dan tak berbuat jahat, semuanya patut kita hormati. Apalagi mereka mengikuti petunjuk Buddha berlatih menyempurnakan tindak-tanduknya. Karenanya, mereka juga menjadi teladan bagi kita.

Arhat mengikuti petunjuk Buddha, berlatih tahap demi tahap hingga mencapai pencerahan. Meski hanya berlatih demi diri sendiri, mereka dapat melenyapkan noda batin Semangat mereka dalam melatih diri patut kita teladani. Kemudian, ada Mahabrahma, Dewa Sakra, Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma, dan para makhluk suci lainnya.

Selain para makhluk suci dalam ajaran Buddha tadi, masih ada Mahabrahma dan para dewa di alamnya yang juga berlindung pada ajaran Buddha. Kehidupan di alam dewa penuh kenikmatan. Kita sering kali berkata, mereka yang hidup dalam kelimpahan sulit mempelajari kebenaran. Namun Mahabrahma, Dewa Sakra yang merupakan raja para dewa, ternyata juga berlindung pada ajaran Buddha. Mereka mempelajari kebenaran di tengah kenikmatan. Hal ini juga patut kita hormati. Terlebih lagi, mereka dapat terlahir di alam dewa karena memiliki sepuluh kebajikan yang cukup. Bila memiliki kebajikan yang cukup, baru dapat terlahir di sana. Karenanya, mereka pun patut kita hormati. Mahabrahma, Dewa Sakra, Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma, serta makhuk suci lainnya, semoga turut menjadi saksi.

Mahabrahma dalam kepercayaan tradisional disebut dewa langit. Dewa Sakra, dalam Sutra Ksitigarbha disebutkan sebagai raja Surga Trayastrimsa (alam 33 dewa) Ia merupakan dewa pelindung Dharma. Karena itu, kita juga harus menghormatinya. Terhadap 8 Kelompok Makhluk Pelindung Dharma dan makhluk suci lainnya, kita juga harus menaruh rasa hormat yang tulus. Karena itu dikatakan, “Semoga turut menjadi saksi.” Kita berharap mereka turut menjadi saksi dan melihat bahwa kita menyesali segala kesalahan masa lalu, dan bertekad untuk berubah. Mulai hari ini, kita sepenuh hati berlindung dalam ajaran Buddha. Untuk itu, kita mengundang Pratyekabuddha, Arhat, Mahabrahma, Dewa Sakra, dan Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma untuk menjadi saksi pertobatan kita sekaligus mengawasi kita. Ini menunjukkan tekad kita yang sangat teguh dan tulus.

Jadi, kita mengundang para Pelindung Dharma untuk menjadi saksi dan mengawasi tindakan kita di masa depan. Dengan sepenuh hati, berlindung dalam ajaran Buddha dan mengundang para makhluk suci menjadi saksi dan mengawasi tekad pertobatan kita. Dengan hati yang tulus, kita mulai memberi penghormatan pada Buddha. Ketika melantunkan Syair Pertobatan Air Samadhi, setelah tiba pada bait tertentu, kita akan memberi penghormatan pada Buddha. Ini menunjukkan bahwa kita telah berketetapan hati dan tulus, dan karenanya kita menghormat pada Buddha.

Hal ini menunjukkan rasa hormat. Sesuai syair tersebut, setelah memberi penghormatan pada Buddha, sekali lagi kita bertobat dari lubuk hati terdalam. “Setelah menghormat pada para Buddha, sekali lagi aku menyatakan pertobatan.” Pertobatan bukan hanya dilakukan sekali. Pembukaan syair ini memberi tahu kita bahwa makhluk awam bertindak bodoh akibat noda batin, Jadi, kini kita bertekad kembali ke ajaran Buddha dan dengan tulus menghormat pada Buddha. Kemudian, kita menyatakan pertobatan sekali lagi. Sewaktu bertobat, kita sering melantunkan ikrar Samantabadhra, yaitu “Segala karma burukku di masa lalu, yang berasal dari ketamakan, kebencian, dan kebodohan sejak masa tanpa awal, yang tercipta melalui tindakan, ucapan, dan pikiran, kini aku bertobat atas semuanya.

Kita semua hafal syair ini dan dapat melantunkannya. “Segala karma burukku di masa lalu.” “Masa lalu” ini dimulai sejak masa tanpa awal. Kita tak dapat menghitung berapa kali kita telah terlahir di enam alam tumimbal lahir secara berulang-ulang. Dimulai dari munculnya kegelapan batin, ditambah masalah dengan orang lain sebagai kondisi, kegelapan batin kita terus-menerus tertimbun selapis demi selapis.

Di tengah kegelapan batin yang tebal ini, kita menciptakan karma buruk, dan karma buruk ini mempertebal kegelapan batin, dan akibatnya kembali menciptakan karma buruk. Ini merupakan lingkaran tak berujung. Kita sering mendengar tentang virus penyakit. Ketika muncul satu virus saja, ia akan berkembang biak dengan sangat cepat terus-menerus, sehingga virus ini menyebar tak terkendali. Noda dan kegelapan batin kita, sama seperti virus itu. Ketika virus muncul dalam batin kita, batin kita akan terinfeksi oleh virus ini dan sulit untuk menyembuhkannya.

Satu-satunya cara adalah memiliki hati yang penuh kerendahan dan pertobatan. Kegelapan dan noda batin, yaitu Ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, keraguan merupakan virus yang menjangkiti batin. Satu-satunya cara melenyapkannya adalah bertobat dengan kerendahan hati. Seperti SARS yang menimbulkan kepanikan di dunia. Semua orang diliputi ketakutan dan merasa terancam. Saat seperti ini, yang terpenting adalah membangkitkan kerendahan hati. Kita harus bersikap mawas diri dan tulus. Sungguh harus tulus dan mawas diri. Kita harus memiliki ketulusan dari lubuk hati terdalam. Menyadari bahwa di masa lalu kita tidak waspada terhadap virus ini, tidak berjaga-jaga sehingga terjangkiti olehnya, kini kita harus menggunakan cara yang terbaik untuk melenyapkan virus ini.

Bagaimana melenyapkannya? Dengan menjaga kebersihan lingkungan, saling meningkatkan kewaspadaan antarsesama, dan mengembangkan cinta kasih. Kita juga harus memahami ruang lingkup penyebaran virus ini. Kita harus menjaga jarak dengannya. Namun, kita tak boleh bersikap tak acuh. Kita harus menjaga jarak dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan. Ketika seseorang harus diisolasi, lakukanlah.

Ketika kepedulian perhatian dibutuhkan, kita pun harus tetap berkontribusi melakukannya. Ada orang yang tetap bersemangat berdedikasi. Contohnya, para dokter dan perawat, tim medis. Mereka tak memikirkan apa pun dan tetap berdiri di garis depan menyelamatkan nyawa orang. Mereka rela mengorbankan diri untuk memasuki daerah penyebaran wabah yang paling berisiko sekalipun. Bukankah ini seperti para Buddha dan Bodhisattva yang datang ke dunia? Para Buddha dan Bodhisattva meninggalkan tanah suci-Nya dan datang ke dunia yang diliputi Lima Kekeruhan ini, tak lain adalah untuk menyelamatkan jiwa kebijaksanaan semua makhluk hidup. Kita semua diliputi Lima Kekeruhan, terus-menerus terjangkiti oleh berbagai “virus penyakit” di berbagai kondisi dan lingkungan. Tim medis menyelamatkan nyawa, para Buddha menyelamatkan jiwa kebijaksanaan. Para tenaga medis berada di garis depan di masa-masa wabah penyakit berjangkit. Sungguh berbahaya.

Dalam keadaan darurat, ada orang yang bersedia menolong seperti ini, maka kita harus menghormati dan berterima kasih kepada mereka. Berjuang tak memikirkan diri sendiri mendatangi daerah yang terjangkit wabah penyakit, berusaha menyelamatkan orang lain. Orang-orang seperti ini, apa pun status dan identitasnya, patut kita hormati dan syukuri. Ketika masyarakat berada dalam ketakutan, kita menjaga mereka dengan cinta kasih serta menghibur hati orang-orang. ini disebut melindungi kesehatan.

Manusia tak boleh kekurangan kebijaksanaan dan cinta kasih. Dari lubuk hati terdalam, kita harus membangkitkan rasa bertobat. Bertobat berarti membersihkan dengan Dharma, membersihkan keegoisan kita, serta membersihkan kegelapan batin kita. Orang yang egois akan diliputi kegelapan batin dan ketidaktahuan. Kegelapan  ini terus meliputi batin kita, hingga kita hanya mengasihi diri, dan tidak bisa mengasihi orang lain. Ini juga merupakan virus penyakit batin. Baik penyakit berwujud maupun tidak, harus diobati dengan cinta kasih dan perhatian. Bertobat atas kesalahan masa lalu, menggunakan air Dharma yang murni tanpa noda membersihkan kekeruhan fisik dan batin, barulah manusia dapat pulih kembali. Untuk itu, kita harus mengembangkan cinta kasih dan harus mengembangkan kebijaksanaan yang murni dan tajam. Inilah tindakan yang benar. Jika manusia tak memiliki paham kesalingtergantungan dalam hidup dan tak dapat saling mengasihi, serta tak dapat menjaga diri sendiri dan mengembangkan cinta kasih, jika manusia tak dapat berbuat seperti ini, maka di setiap tempat akan terdapat kemungkinan untuk terjangkiti virus.

Intinya, virus batin sangatlah menakutkan, lebih menakutkan daripada virus SARS di luar. Sebagai praktisi Buddhis, penting bagi kita menggunakan air Dharma untuk membersihkan kondisi batin. Kita harus senantiasa membersihkan batin kita. Pertobatan merupakan pemurnian. Bertobat berarti memakai air Dharma untuk membersihkan noda batin.

Untuk itu, harap semua selalu bersungguh-sungguh.

Leave A Comment