Sanubari Teduh

[ST-014] Berbuat Baik, Melatih Moralitas dan Menjalankan Kewajiban

Saudara se-Dharma sekalian, kita semua adalah praktisi Buddhis. Karena telah mempelajari ajaran Buddha, kita harus berusaha memahami kebenaran. Jika tak dapat memahami kebenaran, bukan hanya dalam kehidupan ini, melainkan selamanya kita akan menderita. Karenanya, kita harus segera mempelajari Dharma dan sungguh-sungguh memanfaatkan kehidupan ini.

Sebagai praktisi Buddhis, hati harus penuh rasa hormat dan syukur, dan harus membangkitkan welas asih. Inilah kebenaran yang harus kita pahami. Sebelumnya, kita telah membahas bahwa sebagai praktisi Buddhis, kita harus membersihkan noda dan kegelapan batin. Baik pelanggaran di masa lampau maupun kejahatan di masa kini, mulai hari ini di saat ini, kita harus membangkitkan ketulusan di dalam hati dan bertobat atas semua kesalahan masa lalu. Pertobatan adalah pemurnian. Menurut ajaran Buddha, Dharma bagaikan air. Air jernih ini dapat membersihkan berbagai kesalahan kita di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita harus bersungguh-sungguh membersihkan kesalahan di masa lampau. dan mencegah kesalahan di masa depan.

Membersihkan batin dengan pertobatan, membersihkan kesalahan  masa lalu, menghadapi masa depan dengan senantiasa mawas diri. Jangan mengabaikan perbuatan baik yang kecil, jangan pula melakukan perbuatan jahat meskipun kecil. Kesalahan masa lalu disebabkan kegelapan batin. Karena tidak tahu, kita melakukannya. Kini, setelah mempelajari ajaran Buddha, kita harus bertobat dengan tulus. Pertobatan adalah pemurnian. Karena telah paham dan bertobat, mulai saat ini kita harus menjaga dengan baik keadaan batin yang murni ini. Kesalahan yang belum dilakukan Terhadap kesalahan yang belum dilakukan, janganlah kita lakukan. kita harus merasa takut, Kita harus takut untuk melakukan pelanggaran, takut untuk kembali membuat kesalahan.

Kita sering berbuat kesalahan karena tak takut akan akibatnya. karena tidak merasa takut. “Hanya kesalahan kecil, saya tidak takut.” Ingat, jangan melakukan kejahatan walaupun kecil. Jangan merasa karena itu hanya kejahatan kecil, maka tak ada yang perlu ditakutkan. Janganlah berpikir demikian. karena kejahatan kecil yang terus terakumulasi juga akan menjadi kejahatan besar. Jangan pula berpikir bahwa kebajikan kecil tidak mendatangkan pahala. “Saya hanya mau melakukan kebajikan yang besar.” “Kebajikan kecil mana ada pahalanya?” Jika memiliki pikiran seperti ini, berpikir bahwa hanya kebajikan besar yang mendatangkan pahala, maka akan banyak kesempatan menciptakan berkah yang kita sia-siakan. Jadi, kebajikan kecil pun harus kita lakukan.

Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Jangan mengabaikan perbuatan baik yang kecil.” Jadi, kita harus mengerti untuk selalu mengingatkan diri sendiri, jangan menganggap bahwa kejahatan kecil boleh saja dilakukan. Jangan pula mengira kebajikan kecil tak berpahala jika dilakukan. Janganlah berpikir demikian. Jika setiap orang mengerti bahwa berbuat kebajikan adalah kewajiban manusia, menghindari kejahatan merupakan aturan hidup; jika semua orang mengerti aturan dan dapat menunaikan kewajiban, mereka tak akan melakukan kesalahan dalam hidup. Inilah kehidupan yang benar. Berbuat baik dan melatih moralitas adalah kewajiban manusia Menghindari perbuatan jahat adalah aturan hidup manusia. Dengan menjalankan kewajiban dan mematuhi aturan, kehidupan manusia tak akan menyimpang.

Jadi kita kelak, setelah bertobat atas kesalahan masa lalu dan memulai lembaran baru, di masa depan melakukan hal yang baik dan sungguh-sungguh menjaga hati, jangan sampai ternoda sedikit pun. Jangan ada lagi penyimpangan dalam tindakan. Jadi, tak berani melakukan kesalahan, Jadi, takut membuat kesalahan yang belum dilakukan, takut mengulangi kesalahan yang sama.

Kini, setiap hari semua orang harus menjaga baik-baik pikirannya. Dengan sepenuh hati berlindung kepada para Buddha di sepuluh penjuru. karena batin kita harus memiliki sandaran, harus memiliki tempat berlindung.

Jika batin kita memiliki sandaran, kehidupan kita pun akan memiliki arah. Arah ini terdapat dalam agama (zongjiao). “Zong” berarti tujuan hidup manusia. “Jiao” berarti pendidikan seumur hidup, pendidikan seumur hidup kita, pendidikan di dalam kehidupan kita. Semua ini terdapat dalam agama. Agama apa pun yang Anda anut, selama kita sungguh-sungguh memilihnya, dan memilih yang mengajarkan keyakinan dan ajaran yang benar, maka arah hidup kita tak akan salah. Jika kita belum memilih keyakinan agama, minimal kita menjalankan kewajiban sebagai manusia dan tidak meninggalkan tujuan hidup manusia. Manusia pada hakikatnya bersifat bajik. Terlahir di dunia ini sebagai manusia,

Sebagai manusia yang terlahir di dunia ini, kita harus menuju pada kebajikan, berjalan ke arah yang baik. Inilah tujuan hidup kita. Kita hendaknya bekerja keras dan bersemangat. Janganlah bermalas-malasan. Jika tekun dan bersemangat di jalan benar, orang seperti ini pasti akan berhasil. Orang yang malas dan tak bersemangat pasti mengalami kegagalan.

“Zong” berarti tujuan hidup manusia. “Jiao” berarti pendidikan seumur hidup. Agama adalah arah hidup manusia. Selama kita memilih tujuan dan arah yang benar, menjalankannya dengan giat dan bersemangat, kita akan memperoleh kehidupan yang sukses.

Dalam dunia Tzu Chi, banyak kisah hidup yang inspiratif dan dapat kita jadikan teladan dalam hidup.  Seperti Relawan Li Zong-ji. Lihatlah. Semasa kecil, keluarganya hidup dalam kekurangan. Ia pun lahir di masa kekacauan, saat Tiongkok berada dalam masa-masa kelam. Jepang menginvasi dari udara. Akhirnya Jepang pun menguasai Tiongkok. Masa ini penuh penderitaan bagi orang Tiongkok. Ditambah lagi, ayahnya sudah meninggal lebih awal. Demikian pula dengan kakak laki-lakinya. Ketiga kakak perempuannya telah menikah. Ia tinggal bersama ibu dan adik perempuannya. Dalam satu rumah tinggal tiga orang, yaitu  ibu, adik perempuan, dan dirinya. Guna menghindari tekanan dari orang Jepang dan serangan udara Jepang, mereka pindah ke Pulau Gulangyu.

Pulau itu adalah daerah konsesi asing, Pulau itu adalah suatu daerah, maka pihak mana pun dilarang menjatuhkan bom di sana. Karenanya, daerah itu lebih aman. Di sana mereka dibantu oleh sebuah keluarga mampu. Di sana mereka hidup menumpang. Keluarga yang menampung mereka tergolong mampu, namun wanita tradisional seperti Ibu Li memiliki semangat dan sifat yang hemat. Ia berpikir, asalkan dapat hidup dengan aman, tak masalah bila harus kekurangan.

Ia tak mau menerima bantuan ekonomi dari orang lain. Ia merasa, mereka telah mau menampung kita dan memberi mereka tempat berteduh, dan memberikan tempat untuk tinggal, ini merupakan utang budi yang sangat besar. Karenanya, ia tak bisa menerima lebih banyak lagi. Tak boleh lagi mengharap lebih banyak bantuan. Ia mendidik anaknya dengan pandangan ini. Maka, masa kecil Relawan Li Zong-ji dilaluinya dalam kondisi seperti ini.

Ia harus menjalankan kewajibannya sebagai anak. Ayahnya telah tiada, begitu pula dengan kakak laki-lakinya, kakak perempuannya pun sudah menikah, dan ibunya sudah semakin tua. Karenanya, ia harus memikul tanggung jawab demi rasa bakti kepada ibunya dan rasa sayang terhadap adiknya. Ini adalah tekadnya. Meski ketika duduk di bangku sekolah dasar gurunya selalu memujinya rajin, tekun, dan bersemangat belajar, namun ketika akan ujian masuk sekolah menengah, ia harus membayar biaya pendaftaran sebesar 6 dolar. Karena tidak memiliki uang 6 dolar itu, saat itu ibunya  ingin menggadaikan gelangnya untuk meminjam uang, tetapi tiada yang bersedia. Pada situasi yang tidak menentu itu, tiada yang lebih berharga daripada beras. Kala itu, bahan pangan sangatlah berharga. Di masa yang kacau itu, segala perhiasan tidak ada harganya. Karena itu, tidak ada yang bersedia menukar gelang dan meminjamkannya uang 6 dolar.

 

Akibatnya, ia tak dapat melanjutkan sekolah. Meski kala itu paman yang rumahnya mereka tempati bersedia membiayainya, sang ibu tak mau menerimanya. Ia pun terpaksa menjadi buruh anak. Meski baru berusia belasan tahun, demi tidak membuat ibunya menderita, demi tidak menambah beban ibunya, ia rela membakar semua buku sekolahnya. Ia merasa bertanggung jawab menyokong keluarga. Karenanya, ia bersedia menjadi buruh anak. Ia sangat jujur dan setia. Melihat kejujuran dan ketekunannya, majikannya merasa bahwa anak ini dapat dididik dan dibina. Atasannya itu beberapa kali mengujinya. Beberapa kali majikannya sembarang menaruh uang, sengaja hendak menguji anak ini. Anak ini sangat jujur, tiap kali menemukan uang di lantai, baik satu dolar maupun lima puluh sen, pasti segera ia kembalikan kepada majikannya atau pada bagian keuangan. Ia berkata, “Saya menemukan 50 sen di sana.” “Saya menemukan satu dolar di sana.” Setelah majikannya mengamati bahwa anak ini begitu tekun, rajin, setia, dan jujur, ia yakin anak ini pasti menjadi orang sukses, dan sudah tentu harus dibimbing. Majikannya pun membinanya dengan sungguh-sungguh.

Dengan demikian, ia memulai perjalanan kariernya dan melalui banyak kesulitan. Baik menjadi pengawas dapur, pengawas kapal, maupun pekerjaan berat lainnya, melewati berbagai ombak dan angin di lautan yang sangat berbahaya, semua pernah dirasakannya. Ia selalu menjalankan kewajibannya, dengan tekun, giat, dan tekad yang teguh. Akhirnya, ia datang ke Taiwan, dan menjadi pengusaha di bidang perkapalan yang sangat sukses. Bukan hanya sukses dalam usahanya, baktinya terhadap sang ibu tetap tak berubah. Setelah berhasil, ia mengajak ibunya ke Taiwan. Rasa baktinya sungguh tiada banding. Saya teringat kisah yang ia ceritakan sendiri. Ia memiliki sebuah harapan. Ketika berlayar, ia melihat kapal Jepang. Ia pun bertekad, “Kelak jika saya sukses, saya ingin membeli kapal yang lebih besar dari kapal Jepang itu.” Dengan adanya kekuatan tekad, harapannya akhirnya dapat terpenuhi. Ketika akan melakukan pelayaran perdana, pengusaha lain biasanya akan mengundang pejabat, orang ternama, penyanyi, maupun artis terkemuka untuk memeriahkan acara peluncuran.

Namun, ia tidak demikian. Ia berkata, “Di lubuk hati saya, bintang yang paling bersinar adalah ibu saya.” “Di lubuk hati saya, yang paling saya hormati dan posisinya paling tinggi juga adalah ibu saya.” “Maka pada pelayaran perdana, saya mengundang ibu untuk meresmikan peluncuran kapal ini.” Sungguh perkataan yang menyentuh. Upacara tersebut sangat meriah. Ia menamakan kapal tersebut dengan nama ibunya dan mengundang beliau meresmikannya. Kapalnya diberi nama sesuai nama ibunya, dan ibunya sendiri yang meresmikannya. Hal seperti ini sungguh jarang ditemui. Ia selalu ingat dari mana ia berasal. Inilah sikap memegang teguh prinsip dasar manusia. Berbakti adalah dasar dari segala kebajikan. Ia memegang teguh baktinya. Sehingga ketika berhasil dalam usaha, ia tetap berbakti dan menghormati ibunya, Bahkan ketika ibunya meninggal dunia, ia membuatkan makam yang indah di Yang Ming Shan. Dahulu, umumnya untuk menunjukkan rasa bakti, anak menjaga makam orang tuanya selama tiga tahun. Namun, Relawan Li tidak demikian. Ia setiap hari membersihkan makam ibunya. Demi menjaga makam ibunya ini, ia dan istrinya pindah ke Yang Ming Shan. Meski anak-anaknya ada yang merantau ke Taipei dan usaha mereka telah sukses, ia dan istrinya tetap tinggal di Yang Ming Shan, di dekat makam ibunya. Makam tersebut setiap hari terlihat bersih dan terawat tiada sebatang pun ada rumput liar atau debu sedikit pun. Semua ini dapat terlihat.

Bahkan istrinya pun berkata, “Ia melakukannya dengan teliti, bahkan di kala badai maupun hujan.” Setiap hari ia pasti mengunjungi makam ibunya dan membersihkannya. Ini adalah rutinitasnya setiap hari. Setelah membersihkan makam ibunya, ia akan pulang untuk mandi dan sarapan, lalu berangkat bekerja. Inilah kehidupannya sehari-hari. Ini menunjukkan kepada kita semua bahwa inilah yang disebut menjalankan kewajiban. Inilah kehidupan manusia yang penuh perjuangan.

Jika manusia dapat berjuang dan menjalankan kewajiban, kehidupannya pasti akan berhasil. Inilah arah dan tujuan yang dijalankan Relawan Li. Dengan ketulusan, kebenaran, keyakinan, kejujuran, berbuat kebajikan dan berbakti, menunaikan kewajiban dan giat berusaha. pasti akan memperoleh keberhasilan dalam kehidupan ini. Meski saat itu ia belum memeluk agama Buddha, namun ibunya sering menasihatinya, “Setiap kali bertemu bahaya, lafalkankah nama Buddha Amitabha.” “Amitabha selalu berada di sisi kita.” “Ketika bertemu dengan kesulitan dan bencana, kamu harus segera melafalkan nama-Nya.” Karena itu, tiap menemui badai dan angin ribut, ia melafalkan nama Amitabha dalam hati. Semua kerja kerasnya adalah demi ibu dan keluarganya. Inilah tujuan hidupnya. Ia selalu bersikap waspada agar tidak membuat ibunya khawatir.

Demi untuk Agar tidak membuat ibunya khawatir. Untuk itu, dalam kehidupannya sehari-hari, ia menetapkan syarat yang ketat bagi diri sendiri. Ia adalah orang yang menyayangi dirinya sendiri. Saya sering mengatakan bahwa menyayangi diri sendiri merupakan balas budi. Inilah kehidupan Relawan Li. Jadi, berlindung kepada para Buddha memberikan arah dan sandaran bagi batin kita.

Selain para Buddha, ada para Maha Bodhisattva, Pratyekabuddha, dan Arhat. Mereka adalah makhluk yang mencapai kesucian. Bodhisattva memberi manfaat bagi diri sendiri dan makhluk lain.  Mereka berusaha mencapai kebuddhaan dan membimbing semua makhluk. Mereka memegang teguh ajaran Buddha, secara aktif berada dekat dengan umat manusia dapat berada sangat dekat dengan semua makhluk dan menyelamatkan mereka. Inilah Bodhisattva. Berusaha mencapai kebuddhaan dan membimbing semua makhluk, dengan aktif memberi manfaat bagi orang lain dan diri sendiri, itulah Bodhisattva. Mengenai Arhat dan Pratyekabuddha, Pratyekabuddha muncul pada masa kekosongan Dharma, tetapi mereka dapat tercerahkan atas usaha sendiri.

Dengan mengamati lingkaran kehidupan manusia, melihat bahwa segala sesuatu di dunia terus mengalami fase timbul dan tenggelam, mengamati musim yang berubah-ubah, mereka memahami empat fase umum yang dialami manusia, benda materi, dan pikiran; timbul, berlangsung, rusak, hancur pada materi; lahir, tua, sakit, mati pada manusia; timbul, berlangsung, berubah, lenyap pada pikiran.Dengan mengamati semua ini, Pratyekabuddha akhirnya mencapai pencerahan. Meski disebut masa kekosongan Dharma, namun sesungguhnya, Dharma tetap ada di mana-mana.

Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Mereka yang berkemampuan tajam, meski berada di masa kekosongan Dharma, tetap dapat mencapai pencerahan. Melalui pengamatan akan segala fenomena, mereka dapat membangkitkan benih pencerahan. Inilah yang disebut Pratyekabuddha, yang mencapai pencerahan dengan usaha sendiri. Muncul di masa kekosongan Dharma, dengan mengamati segala perubahan pada materi, manusia, dan pikiran, tercapailah pencerahan sebagai Pratyekabuddha.

Arhat dapat muncul di masa Buddha hadir di dunia maupun di masa ketika Buddha telah parinirvana. Mereka berlatih untuk mencapai kesucian sendiri. Namun, mereka takut pada hukum sebab-akibat, maka hanya berharap melenyapkan karma masa lalu, namun tak dapat menciptakan berkah masa depan, karena berkah hanya dapat diciptakan di tengah-tengah orang banyak, sementara Arhat mengasingkan diri dan berlatih bagi dirinya sendiri. Inilah yang disebut Arhat. Berlatih untuk diri sendiri, merealisasi dan menyadari kekosongan, memutus akar kekotoran batin, dan terbebas dari lingkaran tumimbal lahir, itulah Arhat.

Baik para Buddha yang tercerahkan dan mencerahkan orang lain maupun Bodhisattva yang berlatih untuk mencapai kebuddhaan dan membimbing makhluk lain, semuanya menjadi teladan kita.

 

Para Pratyekabuddha dan Arhat pun patut kita jadikan pelajaran. Jika kita tak dapat melatih kesucian dan menyayangi diri sendiri, maka meski telah bertobat, kita akan segera melanggarnya kembali. Karenanya, kita harus menyayangi  dan menjaga kemurnian diri. Kita bertobat atas kesalahan masa lalu, dan berpegang pada prinsip hidup yang benar di masa depan.

Kita harus giat dan bersemangat tanpa henti. Kita harus menghargai hakikat sejati kita. Inilah yang disebut menyayangi diri sendiri. Sulit terlahir sebagai manusia, kini sudah terlahir.Sulit bertemu ajaran Buddha, kini telah bertemu. Jika tidak tercerahkan pada kehidupan ini, kapankah baru akan tercerahkan?

Sebagai praktisi Buddhis, janganlah kita bermalas-malasan. Jika tidak tercerahkan pada kehidupan ini, sampai kapan kita baru tercerahkan? Sulit bagi kita untuk bertemu ajaran Buddha. Namun, hanya menjaga kemurnian diri saja tidaklah cukup. Kita harus meneladani Bodhisattva yang berlatih sekaligus membimbing makhluk lain, Tujuan kita adalah mencerahkan diri sendiri dan orang lain.

Inilah tujuani pelatihan diri kita. Karenanya, harap semua selalu bersungguh-sungguh.

Leave A Comment