Sanubari Teduh

[ST-020] 罪業滅 福就生 Berkah Muncul Kala Karma Buruk Lenyap

Saudara se-Dharma sekalian, tadi sewaktu saya akan keluar, terlihat dua kuntum bunga pioni di altar Buddha, sungguh amat indah. Sejak memasuki ruang puja, menyalakan dupa dan menghormat pada Buddha, dengan melihat dua kuntum bunga pioni itu, saya merasa dunia bunga sungguh amat indah. Ada ratusan bahkan ribuan ragam bunga, tiap bunga mempunyai keindahan tersendiri, terutama bunga pioni. LIhatlah bunga pioni yang sedang mekar penuh dengan sempurna, sungguh sangat indah. Setelah selesai puja, saya pun duduk. Tadi, saat akan keluar saya berdiri dan membalikkan badan, tiba-tiba mahkota dari salah satu kuntum bunga jatuh berguguran semuanya.

Saya merasa terkejut. Dunia sungguh tidak kekal. Baru saja saya merasa senang melihat bunga pioni yang mekar dengan indah ini, tetapi dalam waktu singkat tiba-tiba ia sudah gugur. Lihatlah, dalam waktu yang singkat, bunga mekar lalu gugur. Ketidakkekalan tak hanya terjadi pada tanaman, melainkan juga pada segala hal di dunia ini. Hanya saja ada yang waktunya lebih lama, ada yang lebih singkat, namun semuanya tak terlepas dari pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran.

Itulah gambaran dunia ini. Begitu juga dengan manusia, tak terlepas dari lahir, tua, sakit, dan mati. Yang paling mengkhawatirkan adalah batin. Pikiran kita pun timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Perubahan kondisi batin ini terjadi sangat singkat. Timbul dengan sangat cepat, berlangsung di batin kita tidak lama, berubah dengan sangat cepat, dan lenyap dalam waktu singkat.

Pikiran kita tidaklah kekal. Segala hal yang ada di dunia ini, bahagia atau tidaknya kehidupan manusia, kebanyakan berawal dari batinnya sendiri, karena jika ada kemelekatan dalam batin kita, maka kerisauan akan terus mengganggu. Bagaimana pun kondisi dunia luar, apa yang disebut dengan kebahagiaan? Jika dalam hidup tak pernah merasa puas, maka selamanya tak akan merasa bahagia. Jika dalam hati kita bisa merasa puas, meski dalam keadaan serba sulit juga akan merasa bahagia. Inilah fenomena pikiran yang selalu berubah. Bukan hanya selalu berubah, yang lebih buruk, pikiran selalu bimbang. Inilah batin manusia awam. Seperti yang kita bahas sebelumnya, jika batin kita memiliki perlindungan, memiliki keyakinan, dengan sendirinya kita akan dapat mengikis banyak karma buruk. Ketika karma buruk terkikis, berkah pun timbul.

Sama seperti sebidang tanah, jikalau Anda mencabut semua rumput liar dan menebarkan benih yang baik, benih ini akan tumbuh berkembang sehingga rumput liar tak bisa tumbuh. Sama halnya, Kedua hal ini adalah serupa. Maka, bila kita ingin memiliki berkah, hanya ada satu cara yaitu melenyapkan noda batin. Dengan tulus berlindung kepada Tiga Permata, senantiasa membersihkan noda batin, sehingga karma buruk tidak dilakukan dan berkah datang dengan sendirinya.

Kehidupan manusia pada dasarnya senantiasa diliputi ketidakkekalan danterus berubah. Usia manusia yang hanya beberapa puluh tahun dimulai dari masa kecil, masa remaja, masa muda, perlahan-lahan beranjak dewasa, dan tua. Setelah melewati perubahan ini, kondisi fisik kita pasti tidaklah sama. Kondisi fisik berubah seiring berjalannya waktu dan kita tidak menyadarinya. Mengapa kita bisa tidak menyadari sejak kapan tubuh kita ini menjadi tua tanpa bisa dihindari? Kita tidak menyadarinya. Dan karena kita tidak menyadarinya, kita tidak bisa mencegahnya.

Jika kita menyadarinya, maka kita mungkin berusaha menghindar dan berpikir, “Saya ingin terus hidup di masa remaja agar selamanya tidak menjadi tua.” Kecuali kita meninggal di usia muda, kita tidak akan terhindar dari usia tua. Banyak yang tidak kita ketahui, dan karena ketidaktahuan ini, akibatnya kita memiliki banyak noda dan kegelapan batin. Penyakit, semua orang takut akan penyakit. Bagaimana cara menghindari penyakit dan hidup panjang umur? Makhluk hidup yang diliputi ketidaktahuan akan terus menciptakan karma.

Banyak orang yang sewaktu sakit tak mau berobat ke dokter dan malah mencari pengobatan alternatif, kadang sampai mengambil nyawa makhluk hidup lain demi mempertahankan nyawanya sendiri. Inilah yang disebut ketidaktahuan membawa kegelapan batin. Kegelapan batin ini lalu menimbulkan noda batin.

Inilah batin manusia yang terus berubah. Ketidaktahuan ini membuatnya merasa panik, risau, dan terus menghasilkan karma buruk. Benih-benih karma buruk ini semuanya berawal dari dalam batin. Karena ketidaktahuan, manusia diliputi kegelapan batin. Karena kegelapan batin, noda batin pun terus bertambah. Dengan bertambahnya noda batin, karma buruk pasti tercipta. Ada orang yang mengerti bahwa kehidupan dan kematian merupakan hukum alam.

Karena itu, ia bisa berpandangan terbuka, melihat kematian sebagai proses alamiah, dan mengerti bahwa suatu saat kehidupannya pasti berakhir. ”Hari ini mata saya masih bisa terbuka, berarti saya masih mempunyai kehidupan dan bisa merasakannya, maka saya harus menjalani kehidupan ini dengan penuh sukacita.” ”Saya seharusnya menjalin jodoh baik dengan semua orang.” Apakah kalian masih ingat ada beberapa orang yang pada saat-saat terakhir kehidupannya bisa bersikap begitu tenang dan mengucapkan salam perpisahan. Mereka mengatakan, “Saya akan kembali lagi, saya akan segera pergi dan segera kembali.”

Hati mereka begitu terbuka, batin mereka begitu jernih. Meski ajal sudah di depan mata, mereka tidak merasa gugup. Inilah yang dimaksud dengan mengetahui, juga disebut menyadari. Mereka tahu bahwa tak ada gunanya menghindar. Kehidupan kita, baik panjang maupun singkat, suatu saat pasti akan berakhir. Kita hendaknya menerimanya dengan sukacita. Itulah yang disebut dengan terbebas, terbebas dari penderitaan akan kehidupan dan kematian. Dengan berpikiran terbuka, kita akan mencapai pembebasan. Jadi, yang terpenting sebagai praktisi Buddhis adalah mampu mencapai tahap ini, mampu menemukan jalan pembebasan dan sandaran bagi batin kita.

Jalan kebenaran yang baik ini harus kita tempuh dengan sungguh-sungguh. Yang terpenting bagi praktisi Buddhis adalah mencari kembali potensi kebuddhaan sehingga batin memiliki sandaran dan tidak terbelenggu noda batin. Setelah batin kita memiliki sandaran, kita akan lebih memiliki kesadaran sewaktu kita menciptakan karma buruk, dan setelah menyadarinya, kita bisa segera bertobat. Bertobat merupakan metode Dharma yang terbaik.

Jadi, dengan mengambil perlindungan dan mempunyai sandaran batin, setiap hari kita harus berintrospeksi diri. Lihatlah murid-murid Konfusius yang setiap hari berintrospeksi diri. Zengzi berkata, “Dalam sehari, saya berintrospeksi diri sebanyak tiga kali.” Apalagi sebagai murid Buddha, kita hendaknya senantiasa berintrospeksi diri. Jika menyadari adanya kesalahan, kita harus segera bertobat. Maka dikatakan, pertobatan adalah pemurnian. Karena kita adalah makhluk awam, sejak masa tanpa awal, karma yang kita perbuat sungguh banyak. Karena dalam ketidaktahuan kita telah membuat banyak karma buruk, maka sekarang kita hendaknya segera bertobat.

Aku yang bertobat saat ini, terlahir di dunia sejak masa tanpa awal, apa pun status sosialku, telah melakukan karma buruk yang tak terhingga. Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma maupun kelalaian melalui enam indra. ”Apa pun status sosialku, telah melakukan karma buruk yang tak terhingga.” Baik yang memiliki status sosial yang tinggi maupun hanya rakyat biasa, semua orang membawa benih karma dari kehidupan lampau.

Jadi, ada banyak kesalahan masa lalu yang tak kita sadari, dan kita belum bertobat atasnya. Kini kita telah mengetahuinya karena kita merupakan murid Buddha. Jadi, kita harus tahu bertobat. Sebenarnya, berasal dari manakah karma? Dalam kitab suci dikatakan, “Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma maupun kelalaian melalui enam indra.” Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma maupun kelalaian melalui enam indra. Apakah tiga pintu karma? Semua orang seharusnya sudah tahu, yaitu tubuh, ucapan, dan pikiran. Inilah tiga pintu karma.

Melalui tubuh kita, karma apa saja yang mungkin tercipta? Karma melalui tubuh yang mungkin kita buat yakni membunuh, mencuri, dan berbuat asusila. Banyak kejahatan dilakukan melalui tubuh. Namun, pada dasarnya karma terbagi tiga jenis. Tiga pintu karma: Karma melalui tubuh, ucapan, pikiran Karma melalui tubuh: Membunuh, mencuri, berbuat asusila Membunuh merupakan karma terberat. Lihatlah, sejak lahir hingga kini, hanya untuk memenuhi nafsu makan saja, sudah berapa banyak hewan yang kita telan?

Begitu banyak unggas dan hewan di dunia yang dikorbankan demi nafsu makan manusia. Bayangkan, berapa banyak nyawa telah dibunuh? Pernah ada orang mengatakan bahwa hewan memang merupakan makanan manusia. Sebelum membunuh hewan, tukang jagal berkata, “Jika orang lain tidak meminta, saya pun tidak akan membunuhmu.” “Jika kamu dendam dan ingin membalas, cari saja orang yang memakan dagingmu.”

Lihat, inilah pembunuhan. Semua orang merasa dirinya tidak membunuh, merasa tak bersalah jika hanya memakannya. Semua orang hendaknya jangan berpikiran, “Saya hanya makan, saya tidak membunuh.” Sesungguhnya, justru karena Anda ingin makan, maka tukang jagal membunuh hewan. Dalam sehari, berapa banyak karma membunuh yang telah kita ciptakan? Flu burung merupakan virus yang ditularkan ke manusia lewat unggas peliharaan.

Karena itu, Uni Eropa terus melakukan pembantaian terhadap unggas peliharaan. Puluhan juta ekor unggas telah dibunuh. Demi memenuhi kebutuhan makan manusia, mereka dipelihara dengan berbagai cara yang sungguh kejam dan tidak layak. Kini, setelah muncul wabah penyakit, manusia pun tak segan menggunakan segala cara untuk membunuh mereka. Karma pembunuhan ini, baik yang dilakukan langsung maupun tidak, entah sudah berapa banyak tercipta.

Demi tubuh fisik inilah, begitu banyak makhluk hidup dibunuh, di samping demi memuaskan nafsu mulut. Noda batin manusia yang tak terkendali menciptakan karma membunuh antarsesama. Ada yang membunuh karena asmara, ada yang membunuh demi keuntungan pribadi, juga ada yang membunuh karena dendam. Dendam ada karena berbagai kebencian yang terkumpul hingga menimbulkan niat membunuh. Ada yang tanpa sebab yang jelas, hanya karena merasa tidak senang lalu membunuh. Tak hanya membunuh demi ketenaran, keuntungan, nafsu berahi, dan semua kepentingan pribadi, bahkan terhadap orang tua atau gurunya, ia juga berbuat yang sama.

Singkat kata, karma membunuh tercipta karena adanya tubuh ini. Tubuh kita ini bisa melakukan tindakan merampok dan mencuri. Merampok adalah mengambil paksa. Sekarang ini, di siang hari saja ada yang sudah berani merampok. Tak hanya merampok barang, bahkan juga membunuh pemilik barang maupun menculik. Masalah sosial semakin bertambah. Berita setiap hari di masyarakat sungguh menggetarkan hati. Beginilah pencurian yang dilakukan manusia. Apakah merampok semata-mata demi bertahan hidup? Jika kita memegang teguh kewajiban, sebenarnya berapa banyakkah yang kita butuhkan untuk bertahan hidup?

Untuk bisa bertahan hidup dan menjaga kondisi fisik, makanan yang kita butuhkan sesungguhnya tidak banyak. Berapa banyakkah sumber daya yang hendak kita habiskan? Kita hendaknya menghargai dan menyayangi sumber daya. Sesungguhnya, yang kita butuhkan tidak banyak, namun karena manusia tak bisa memegang teguh kewajiban, maka batinnya mudah menyimpang. Secara alamiah, ia merasa berhak untuk hidup bersenang-senang, dan bila kenikmatan tidak didapatkan, ia akan melakukan hal yang nekat seperti merampok atau menculik dan sebagainya, sehingga tak bisa lepas dari jeratan hukum. Namun, karena kegelapan batin dan ketidaktahuan, ia melakukannya. Selain mencelakai diri sendiri, tentu saja juga merugikan orang lain. Pemikiran untuk merampok atau mencuri juga akan menimbulkan berbagai masalah bagi masyarakat.

Selain merusak masa depan diri sendiri, perbuatan ini juga merupakan karma buruk. Selanjutnya adalah perbuatan asusila. Saya pernah membahas tentang sebuah berita. Suatu ketika di Iran, di jalanan yang banyak dilalui orang didirikan sebuah panggung untuk melangsungkan hukuman mati. Di depan kerumunan orang, para terdakwa ini digantung hingga mati.

Ada lima orang terdakwa. Sesungguhnya, apa yang telah mereka perbuat hingga harus dihukum gantung di depan umum? Kejahatan mereka adalah menodai wanita. Mereka telah melakukan kekerasan dan pemerkosaan terhadap wanita. Di Iran, pelanggaran ini termasuk pelanggaran berat. Penodaan terhadap wanita ini adalah perbuatan asusila. Pemerintah Iran menganggap tindak asusila merupakan sumber kekacauan negara. Karena itu, hukumannya jauh lebih berat daripada pelanggaran lain. Lihat, inilah perbuatan asusila. Sebuah ungkapan berbunyi, “Segala kejahatan dimulai dari tindak asusila.” “Segala kebaikan diawali dari sikap berbakti.” Segala kejahatan dimulai dari perbuatan asusila. Jadi, banyak karma buruk yang tercipta dari tubuh kita ini. Membunuh, mencuri, dan berbuat asusila merupakan tiga jenis karma melalui tubuh.

Jadi, ada 3 jenis karma melalui tubuh, 4 karma ucapan, dan 3 jenis karma dari pikiran. Jika dijumlahkan, semuanya ada 10 jenis, semuanya berawal dari sini. Sepuluh Jenis Karma Buruk

Tubuh: Membunuh, mencuri, berbuat asusila

Ucapan: Bertutur kata kasar, berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing

Pikiran: Ketamakan, kebencian, kebodohan

Saudara sekalian, baik membunuh, mencuri, maupun berbuat asusila, semua terjadi karena adanya noda batin. Sejak masa tanpa awal, kita terus diselubungi noda batin selapis demi selapis sehingga terbentuklah tabiat buruk yang bersumber dari kegelapan batin dan ketidaktahuan. Karena itulah, kita menciptakan karma buruk. Saat ini kita hendaknya lebih banyak bertobat. Bertobat bagai mencuci noda dengan air bersih. Dharma bagaikan air, saya terus-menerus mengatakan hal ini.

Jadi, sebagai  praktisi Buddhis, dalam hidup sehari-hari, senantiasalah bertobat, tak cukup berintrospeksi tiga kali sehari. Kita hendaknya senantiasa bertobat atas semua karma yang kita ciptakan. Jadi, harap semua selalu bersungguh-sungguh.

Leave A Comment