Sanubari Teduh

[ST-022] 聽聞佛法認真修行 Mendengarkan Ajaran Buddha dan Membina diri dengan Sungguh-sungguh

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita tinggal di tempat yang tenang ini. Dalam suasana tenang ini, apakah batin kita juga dapat merasa tenang? Ini tergantung apakah setiap hari kita menyerap Dharma ke dalam hati. Jika tetesan air Dharma dapat meresap ke dalam hati, maka sedikit demi sedikit noda batin kita dan selapis demi selapis rintangan akan berangsur-angsur lenyap. Dengan demikian, batin kita pun menjadi suci. Semua makhluk hendaknya segera bertobat. Pertobatan adalah pemurnian.

Bertobat berarti membersihkan semua noda dalam batin kita. Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma maupun kelalaian melalui enam indra; muncul akibat dari pikiran salah dari dalam batin. Dalam kitab suci dikatakan bahwa karma buruk muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma. Semua orang di dunia ini, apa pun status sosialnya, pernah melakukannya baik sengaja maupun tidak. Yang disengaja disebut pelanggaran, yang tak disengaja disebut kelalaian. Di awal kita telah membahasnya.

Jadi, kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja sesungguhnya banyak kita lakukan. Jumlahnya tak terhingga. Karma buruk yang tak terhingga ini, semua tercipta melalui tiga pintu. Tiga pintu karma: – Tubuh – Ucapan – Pikiran Dari tiga pintu karma, muncul 10 kejahatan: Tubuh: Membunuh, mencuri, berbuat asusila Ucapan: Bertutur kata kasar, berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing. Pikiran: Ketamakan, kebencian, kebodohan. Sebelumnya kita pernah membahas bahwa tiga pintu karma adalah tubuh, ucapan, dan pikiran.

Tiga pintu karma ini terbagi lagi menjadi 3 karma melalui tubuh, 4 ucapan, dan 3 pikiran, 7 yang pertama disebut 7 cabang karma, yakni 3 melalui tubuh dan 4 melalui ucapan, yang jika dijumlahkan menjadi 7 jenis, semuanya tercipta akibat batin kita yang memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Dunia dipenuhi kekacauan. Pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, semua berawal dari ketamakan dalam pikiran. Jika menyimpan kebencian di dalam hati, kita mudah mengeluarkan kata-kata kasar. Kata-kata kasar dapat melukai banyak orang dan kita tak menyadarinya, hanya mengikuti emosi sesaat. Ketika bertemu orang lain dan ia mengatakan sesuatu, lalu kita merasa tidak senang dan langsung membalas dengan kata-kata yang sangat kasar.

Kita tak menyadari bahwa kata-kata kasar begitu mudah terucap. Ketika kata-kata itu keluar, ia dapat menyakiti orang lain dan kita tak menyadarinya, Sesungguhnya ketika menyakiti orang lain, kita juga menyakiti diri sendiri. Pertama, niat buruk ini telah tertanam dalam batin kita dan menjadi benih karma. Ini menciptakan Dengan begitu, hubungan antarsesama menjadi tidak baik dan integritasn diri sendiri pun rusak. Jadi, dalam batin kita sendiri bertambah sebutir benih kejahatan. Selain rusaknya hubungan antarmanusia, Selain retaknya hubungan antarmanusia, kualitas pelatihan diri kita pun rusak. Karakter kita menjadi rusak. Kata-kata kasar juga berawal dari pikran, yaitu pikiran yang penuh kebencian. Kebencian dapat menciptakan banyak karma buruk. Baik disengaja maupun tidak, kebencian membawa tabiat yang buruk. Tabiat ini sangat tidak baik. Baik disengaja maupun tidak, semua berawal dari kebencian. semua berawal dari kebencian. Selain itu, masih ada kebodohan. Bodoh berarti tak memahami kebenaran. Banyak ajaran kebenaran yang sesungguhnya berada di hadapan kita.

Sesungguhnya, jika semua orang dapat memegang teguh kewajiban dan mematuhi aturan, maka kehidupan mereka tak akan menyimpang dan tiada kesalahan yang akan diperbuat. Namun, karena kebodohan, kita menyimpang dari jalan yang benar. Kita seharusnya menerima pelajaran untuk dipraktikkan, tetapi kita malah tak dapat mematuhi peraturan yang harus dipatuhi. Semua ini disebabkan oleh kebodohan. Ketika orang baik datang menasihati, membuka jalan yang lapang bagi kita, menunjukkan ajaran Buddha untuk kita pegang teguh baik-baik, nasihatnya memang terdengar masuk akal, namun karena tabiat kita yang buruk, jalan ini pun cepat terlupakan. Kita berjalan di jalan kita sendiri sehingga menyimpang dari jalan yang seharusnya diambil. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus lebih sadar dan waspada.

Kita semua adalah murid Buddha. Baik sebagai bhiksu/bhiksuni atau bukan, maupun baru bertekad untuk membiara, semua harus mematuhi sila. Umat awam mematuhi 5 sila dan 10 kebajikan. Ini adalah ajaran Buddha. Bagi kaum monastik, ada banyak sila, lebih dari 300 sila bagi bhiksu dan lebih dari 500 sila bagi bhiksuni. Coba pikirkan, dalam kehidupan sehari-hari, berapa banyak dari sila tersebut yang telah kita pegang teguh? Dengan memegang teguh satu sila, kita terhindar dari satu kesalahan. Meski sebagai praktisi kita tak kan sengaja melakukan kesalahan, namun masih bisa lalai secara tak sengaja. Kita tak sengaja melakukannya. Kita tak sengaja, mengapa kita begitu bodoh, tidak menjalankan yang kita tahu benar dan malah tersesat? Kita tidak bertindak sesuai aturan. Ketidaksengajaan ini terus melukai orang lain dan menciptakan karma buruk bagi diri sendiri sehingga menghambat pelatihan diri. Bukankah ini suatu kebodohan?

Karena itu, kita harus mawas diri. Jangan berpikir bahwa apa yang ingin kita lakukan dan apa yang kita anggap benar pasti benar. Banyak orang yang diliputi kebodohan dan sering melakukan kesalahan. Setelah dinasihati orang lain, ia pun tak berusaha memperbaiki diri. Ini bukan hanya bodoh, melainkan juga keras kepala. Orang bodoh lebih bersifat keras kepala. Mereka sulit menerima nasihat Mereka sulit menerima nasihat maupun jalan yang ditunjukkan orang lain. Meski mereka mengetahui kebenarannya, namun enggan mempraktikkannya. Ini akibat adanya tabiat buruk yang menghambat mereka. Noda batin makhluk awam ini senantiasa membelenggu mereka sehingga tak mampu melepaskan diri. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus sungguh-sungguh menjaga hati dan pikiran. Tak mempraktikkan meski mengerti kebenaran, tidak mematuhi peraturan, Sehingga tak sengaja melukai orang lain, menghambat pelatihan diri sendiri, dan menanam karma buruk, inilah tindakan yang didasari kebodohan. Sesungguhnya, kita semua tahu tentang kebenaran ini.

Semua orang akan berkata, “Kami sudah tahu, mengapa ajaran tentang tiga pintu karma ini dibabarkan berulang-ulang?” Karena dengan adanya ketamakan, kebencian, kebodohan dalam pikiran, 7 jenis kejahatan dapat tercipta. ketika kejahatan tercipta, ia bagai sebuah panah yang melesat yang akan membawa pada lebih banyak kesalahan. Jika kita ingin mengetahui cara meminimalkan kesalahan dan mengendalikan diri, kita harus menjaga pikiran kita. Jadi, tiga pintu karma melahirkan banyak kejahatan yang tak terhitung. Enam indra: Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran Enam objek: Rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, objek-objek pikiran Dikatakan bahwa karma buruk timbul akibat kelalaian melalui enam indra. Mengenai enam indra, semua orang sudah tahu, yakni mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran.

Enam indra ini senantiasa bersentuhan dengan enam objek luar. Kondisi dunia luar membuat enam indra kita membuat penilaian terhadap objek. Contohnya, ketika kita melihat bunga yang sangat indah ini, sebagian orang mungkin berpikir, “Mengapa warnanya tidak ungu saja?” “Bukankah akan lebih indah?” Ada pula yang bilang warna merah lebih ceria. “Mengapa tidak warna putih?” “Warna putih lebih terlihat bersih.” Setiap orang memiliki pendapat berbeda. Ketika mata mengalami kontak dengan objek, meski hanya warna yang sederhana, dapat menimbulkan perselisihan antarmanusia, apalagi beragam wujud dan bentuk yang ada di dunia. Selain itu, kita juga mendengar beragam suara.

Ada orang yang bijaksana. Ketika mendengar kata-kata buruk, orang yang bijaksana akan menyimpan rasa syukur dalam hatinya. Ia menganggap kata-kata itu pemicu untuk maju. Ia sangat bersyukur dengan adanya orang yang mengingatkan sehingga ia dapat menyadari kesalahannya. Kata-kata buruk ini ia jadikan pelajaran. Saya sering mengatakan bahwa jika kita terlalu mempermasalahkan sesuatu, hati kita akan terus diliputi kerisauan. Inilah kebodohan. Jika kita dapat melihat masalah sebagaimana adanya, menjadikannya sebuah pelajaran, ini akan menjadi jodoh yang baik. Baik ataupun buruk kondisi yang kita hadapi, jika kita memiliki kebijaksanaan, semuanya dapat dianggap sebagai pelajaran untuk meningkatkan kebijaksanaan dan pengetahuan. Semua ini adalah pelajaran bagi kita.

Inilah orang yang bijaksana. Dalam keadaan yang sama dan juga suara atau komentar yang sama, bagi orang bijaksana ini semua merupakan Dharma. Sementara orang bodoh akan merasa risau. Inilah indra pendengaran yang mengalami kontak dengan dunia luar. Kata-kata yang buruk dari orang lain janganlah dianggap masalah sehingga membawa kerisauan, tetapi anggaplah sebagai pelajaran yang menumbuhkan kebijaksanaan. Objek bunyi atau suara sangatlah banyak. Sebagai praktisi, terhadap enam objek yang diterima enam indra, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Baik rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, maupun objek-objek pikiran, jika dapat kita manfaatkan dengan baik, semua merupakan Dharma yang berharga dan mengandung kebijaksanaan. Sayangnya, kita sering kehilangan atau menyia-nyiakan banyak kesempatan baik. Setiap hari kita berhubungan dengan orang lain dan mengerjakan banyak hal. Di tengah-tengah semua ini, kita banyak melihat,banyak mendengar, kita banyak melihat,banyak mendengar, dan banyak merasakan. Semua ini adalah pelajaran berharga.

Sayangnya, kita sering kali melewatkannya. Saudara sekalian, Kita hendaknya tak menyia-nyiakan waktu. Segala hal yang kita temui, segala pemikiran yang timbul, merupakan bahan pembelajaran dan sarana penumbuh kebijaksanaan. Namun jika pikiran buruk timbul karenanya, maka kita menciptakan karma buruk dan menambah noda batin. Enam indra dan enam objek tentu melibatkan kesadaran kita. Segala hal yang kita lakukan, semua berpulang pada kesadaran. Seperti yang tadi saya katakan, sepatah saja kita mengucapkan kata-kata yang tak enak didengar, dan memperlihatkan wajah tak ramah, sehingga melukai hati orang lain, maka kita telah menanam benih karma buruk dan menjatuhkan integritas diri. Semua orang harus memahami hal ini. Jadi, mata melihat rupa, telinga mendengar suara, lidah mengecap rasa, kemudian, selain mata, telinga, dan lidah, ada hidung yang mencium aroma dan tubuh yang merasakan segala kondisi luar, segala benda materi, cuaca, dan sebagainya.

Mendengar dengan kebijaksanaan, segalanya merupakan Dharma. Mendengar dengan kebodohan, segalanya membawa kerisauan. Intinya, pikiran adalah pelopor segalanya. Dengan timbulnya pemikiran, timbul perasaan terhadap segala objek, yakni bahagia, marah, sedih, gembira, yang terus berubah mengikuti kondisi. Semua ini tersimpan di dalam kesadaran. Harap semua selalu sadar dan waspada terhadap pelanggaran melalui tiga pintu karma maupun terhadap kelalaian melalui enam indra. Ketika tak sengaja melihat sesuatu, tabiat buruk kita muncul, tabiat buruk kita muncul, inilah yang disebut kesalahan. Saya yakin setiap orang pada hakikatnya bajik. Kita telah bertekad melatih diri, hanya saja tak mampu membendung tabiat kita. Jika kita dapat mengendalikan tabiat kita, enam indra dan enam objek dapat menjadi sarana melatih diri. Namun sayangnya, kita sering melewatkan kesempatan ini. Bukan hanya itu, kita juga terus melakukan kesalahan. Inilah yang sangat disayangkan.

Kita hendaknya lebih bersungguh-sungguh. Pada pagi hari saya juga harus meluangkan waktu untuk berbicara kepada semua orang. Semua pun harus meluangkan waktu duduk di sini. Saya harus bicara dengan sungguh-sungguh. Bolehkah kalian tak sungguh-sungguh mendengar? Bagaimana pun, saya sangat berterima kasih ada banyak orang yang bersedia mendengarkan. Ini membuat saya merasa harus lebih giat. Saya pun berkesempatan belajar banyak hal. Meski menghabiskan banyak waktu, saya tetap bersyukur karena dapat memahami banyak hal dan membuat saya lebih waspada. Di masa-masa yang penuh dengan kerisauan ini, banyak masalah yang membuat kita risau. Di tengah kondisi seperti ini mau tak mau kita harus mendalami kitab suci untuk memahami kebenaran tentang kehidupan. Jadi, kita pun harus menghargai kondisi ini. Saudara sekalian, ketika duduk di sini, dalam kondisi ini, ketika duduk di sini, dalam kondisi ini, bukankah kita harus bersyukur? Setelah mendengarkan Dharma, dalam aktivitas satu hari ini, ketika indra kita bersentuhan dengan objek luar, bagaimanakah seharusnya sikap batin kita dalam menghadapinya? Jika kita mengerti cara menyikapinya dengan benar dan senantiasa meningkatkan kewaspadaan, inilah praktisi yang sejati. Janganlah kita lalai sehingga dengan tidak sengaja melakukan berbagai kesalahan lewat enam indra. “Sekali terjatuh dari alam manusia, perlu ribuan kalpa untuk kembali.” Terlahir sebagai manusia dalam kehidupan ini dan berkesempatan mempelajari banyak hal, jika kita tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya serta tak menghargai kesempatan dalam hidup ini untuk mempelajari ajaran Buddha; jika kita menyia-nyiakan kesempatan ini, maka sekali terjatuh ke alam rendah, butuh ribuan kalpa untuk kembali.

Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Sulit terlahir sebagai manusia, sulit pula bertemu ajaran Buddha. Sekali terjatuh kea lam rendah, Sekali terjatuh ke alam rendah, butuh ribuan kalpa untuk kembali. Di enam alam, hanya di alam manusia kesempatan melatih diri itu muncul. Karena itu, hargailah kehidupan ini, pelajari ajaran Buddha dan praktikkan. Jika malah menanam dan menimbun karma buruk, maka di kehidupan mendatang mungkin tidak terlahir sebagai manusia dan kehilangan kesempatan melatih diri. Dikatakan bahwa karma buruk muncul akibat pikiran salah dari dalam batin. Kita sudah tahu jelas jalan yang benar, namun tak berjalan sesuai dengannya, tahu jelas ajaran Buddha, namun tak mempraktikkannya, malah bertindak sesuka hati, dan terus mengarah ke jalan yang salah sesuai pemikiran di dalam batin.

Kita sungguh harus merenung dan menenangkan pikiran. Namun sebaliknya, kita tidak berusaha menenangkan pikiran kita. Meski kondisi luar sangat kacau, kita tak dapat mengasingkan diri. Kita harus berlatih untuk tetap tenang di tengah kebisingan atau kekacauan. Karena telah bertekad melatih diri, kita telah melepaskan nafsu akan ketenaran dan kekayaan. Kita telah rela melepaskan keluarga. Bahkan orang-orang yang paling kita kasihi telah kita lepaskan, apa lagi yang kita risaukan? Apa lagi yang harus diperhitungkan?

Jika tidak menghitung untung rugi, kita tak akan dilanda kerisauan dan tetap memiliki pikiran benar. pikiran kita tetap di jalan benar. Lihatlah, banyak orang bertindak tanpa berpikir demi cinta. Biasanya, pikiran mereka terjaga sangat baik. Namun, ketika cinta yang penuh ego muncul dan masalah timbul, batin mereka akan diliputi kerisauan. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Lihatlah, ada orang yang haus akan kekayaan hingga nekat melanggar hukum. Sebagian lainnya terbuai kecantikan sehingga melukai diri sendiri dan orang lain. Semua ini disebut pemikiran sesat yang membawa pada tindakan yang seharusnya tidak dilakukan.

Jadi, inti dalam mempelajari ajaran Buddha adalah mempelajari kebenaran: pikiran benar, pandangan benar, ucapan benar, perhatian benar, perbuatan benar, penghidupan benar. Dahulu saya sudah sering menjelaskannya. Kebenaran ini merujuk pada jalan benar yang harus kita tempuh. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus berjalan di jalan yang lapang yang Buddha tunjukkan bagi kita, bukan menyimpang ke jalan kita sendiri. Jika begitu, mungkin akan sulit untuk kembali. Kita akan sulit kembali pada hakikat yang murni. Saudara sekalian, Jalan Buddha adalah jalan yang lapang dan lurus menuju pencerahan. Jalan menuju pencerahan ini sangat lurus dan sederhana. Jagalah pikiran dengan baik. Jika kita dapat menjaga pikiran dengan baik, maka dalam kehidupan sehari-hari, segala kontak antara indra dan objek luar menjadi kesempatan melatih diri.

Dalam Sutra Amitabha dikatakan, bahkan burung pun dapat membabarkan Dharma, apalagi antarsesama manusia. Ketika kita mendengar dengan kebijaksanaan, semua yang kita dengar merupakan Dharma. Jika mendengar dengan kebodohan, maka segala pemikiran yang timbul akan menciptakan karma buruk. Bukan hanya menanam benih karma buruk yang akan terbawa ke kehidupan mendatang, melainkan juga membunuh karakter kita sendiri. Saudara sekalian, kita sendirilah yang menciptakan semuanya. Karena itu, waspadalah dengan pikiran kita. Setelah mendengar ajaran, praktikkanlah. Jika kita dapat menyerap setiap ajaran ini ke dalam hati, maka kondisi apa pun yang kita hadapi akan menjadi sumber pencerahan. Untuk itu, senantiasalah bersungguh-sungguh.

Leave A Comment