[ST-023] 道場在我們內心 Ladang Pelatihan Terletak Pada Batin Sendiri
Beginilah kehidupan. Kita harus senantiasa berteguh hati menghadapi kondisi yang berubah-ubah. Apa yang tidak berubah? Itulah hakikat diri kita, benih kebuddhaan yang murni tanpa noda. Namun, kita telah membuat hakikat yang murni tanpa noda dan tidak berubah ini tertutupi lapis demi lapis noda batin yang timbul karena kontak dengan dunia luar. Meski hakikatnya tak pernah berubah, namun dengan adanya kontak dengan dunia luar, pikiran kita mengalami penyimpangan. Sebagai akibat dari berbagai kondisi yang muncul, batin yang seharusnya tidak tergoyahkan ini, mulai terpengaruh secara perlahan. Karma buruk ini muncul akibat pelanggaran melalui tiga pintu karma maupun kelalaian melalui enam indra; muncul akibat pikiran salah dari dalam batin atau akibat kemelekatan akan kondisi luar.
Kita pun pernah membahas bahwa batin memiliki kecenderungan menyimpang. batin memiliki kecenderungan menyimpang. Suatu ungkapan berbunyi, “Kondisi luar demikian adanya, kondisi batin pun demikian adanya.” Namun, kenyataannya batin kita mudah terpengaruh kondisi luar. Pepatah kuno mengatakan, “Bunga tidak membuai, manusialah yang terbuai; arak tidak memabukkan, manusialah yang mabuk.” Begitu banyak hal terjadi di luar. Selama hati kita tidak tergoyahkan, kondisi apa pun itu, tiada hubungannya dengan kita. Kita pun tak akan terpengaruh olehnya.
Demikian pula, pikiran salah muncul dari dalam batin kita sendiri, dari tabiat yang terakumulasi sejak lama. Karena itu, saat bersentuhan dengan kondisi luar, batin kita pun bereaksi, pikiran serta pandangan kita pun akan mengarah pada arah yang menyimpang. Begitu pikiran menyimpang, kita akan mudah terpengaruh oleh objek luar seperti suara, rupa, rasa, dan objek lainnya. seperti suara, rupa, rasa, dan objek lainnya. Ketika enam indra mengalami kontak dengan enam objek, indra akan terangsang dan kita akan terpengaruh.
Di saat yang sama, kesadaran berpikir kita juga ikut bereaksi. Jadi, enam indra yang terangsang enam objek menggerakkan kesadaran berpikir kita. Kemudian, kesadaran berpikir ini menggerakkan tujuh cabang karma. Tujuh cabang karma ini pernah kita bahas, yaitu tiga karma melalui tubuh dan empat melalui ucapan. Karma melalui tubuh: Membunuh, mencuri, berbuat asusila Karma melalui ucapan: Bertutur kata kasar, berdusta, berkata-kata kasar, bergunjing Karena adanya kesadaran dalam batin yang menggerakkan, maka terciptalah pembunuhan, pencurian, dan perbuatan asusila. Ada pula dusta, omong kosong, gosip, dan kata-kata kasar.
Semua perbuatan buruk ini adalah hasil dari pikiran menyimpang yang muncul dari dalam batin kita sendiri. Karena berbagai macam kontak, banyak pemikiran timbul dalam batin. Jika pikiran menyimpang dan salah, yang artinya pikiran kita menjadi keliru, maka jalan hidup kita pun akan menyimpang dan keliru. Saudara sekalian, dalam melatih diri, kita sungguh harus menjaga fisik dan batin. Artinya, kita harus senantiasa berintrospeksi apakah hal yang baru kita ucapkan itu salah, apakah hal yang baru kita lakukan mengandung kesalahan.
Setelah berbicara atau bertindak, kelak kita masih dapat memperbaiki yang salah. Karena kita adalah makhluk awam, kita memiliki akumulasi tabiat buruk sejak dahulu yang sering muncul tanpa disadari. Inilah energi dari tabiat atau kebiasaan. Tabiat ini sering kali bersentuhan dengan dunia luar dan terwujud dalam perbuatan. Jika kita biasa bertemperamen tinggi, ketika kondisi tidak sesuai dengan harapan, kemarahan dan kebencian kita akan bangkit. Sikap dan tutur kata kita menjadi tidak baik. Sikap dan tutur kata kita menjadi tidak baik.
Inilah yang disebut tabiat buruk Setelah bertekad untuk melatih diri, kita harus meningkatkan kesadaran. “Mengapa saya berbicara begitu keras?” “Mengapa nada bicara saya tidak mengenakkan?” “Mengapa begitu cepat saya menuturkan ucapan yang menyakiti orang lain?” Jika kita dapat mengendalikan diri, Jika kita dapat mengendalikan diri dan menjaga baik-baik hati kita, kebencian dan kemarahan ini dapat segera kita kendalikan dan tak sampai terwujud keluar. Dahulu kita pernah membahas bahwa tujuh cabang karma bagaikan anak panah, tak dapat ditarik kembali setelah dilepaskan. Inti melatih diri adalah ketika tabiat ini muncul, kita harus segera mengendalikannya dan mengembalikannya ke arah yang positif.
Inilah yang disebut melatih diri. Jika kita tidak sungguh-sungguh memulainya dari dalam batin, maka ketika pikiran salah muncul, kita akan berjalan ke arah yang menyimpang. Ketika pemikiran kita menyimpang sedikit saja, maka segala perilaku kita juga akan ikut menyimpang. Jagalah kesadaran selalu. Ketika tabiat buruk muncul, kendalikan dan perbaikilah segera. Inilah yang disebut melatih diri. Dahulu ketika virus SARS berjangkit, saat seseorang diketahui telah mengalami kontak dengan penderita, cara terbaik adalah dikarantina.
Selama dua minggu masa karantina, orang lain dapat mengantarkan makanan baginya. Saat-saat seperti ini menurut saya adalah waktu yang baik untuk melatih diri. Namun, ada orang yang merasa takut. Takut bila orang lain mengetahui bahwa ia telah mengalami kontak dengan penderita. “Jika saya beri tahu orang lain, apakah saya akan dikarantina?” Karena itu, ia pun menutupinya. Inilah yang disebut menutupi. Jika terus ditutupi, ketika ia benar-benar terjangkit, maka sudah terlambat, bukan hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga bisa menulari orang-orang di sekitarnya. Virus ini adalah analogi bagi kita para praktisi yang menggambarkan noda batin. Kita sering menyebut ketamakan, kebencian, kebodohan dalam batin sebagai tiga racun atau virus. Jika virus dalam batin setiap orang ini Jika virus dalam batin setiap orang ini tidak segera dibasmi, maka kapan pun juga ia mungkin menular pada orang lain, memengaruhi pelatihan batin orang lain, dan membuat jalannya menyimpang. Kita harus menyayangi diri sendiri sekaligus mengasihi orang lain. Lahan pelatihan memiliki energi pelatihan. Energi pelatihan ini bagaikan karantina bagi kita. Dengan adanya energi pelatihan ini, kita bisa terhindar dari ketidakmurnian.
Lihatlah rumah sakit masa kini, dilengkapi dengan ruang steril. Bagaimana cara mensterilkan ruangan? Dengan menggunakan sinar ultraviolet. Setelah sistem ini diimplementasikan, maka setiap orang yang lewat, akan segera tersterilisasi. Di sana, daerah di luar jangkauan sistem itu tercemar, namun daerah di dalamnya steril. Kini teknologi seperti ini telah ditemukan. Sesungguhnya, sejak zaman dahulu Buddha sudah menemukan dan membabarkan bahwa kesucian dicapai dengan mengubah pola pikir. Karena itu, ada sebuah ungkapan berbunyi, “Noda batin tak berbeda dengan Bodhi, Bodhi tidak berbeda dengan noda batin.” Jika kita terpengaruh kondisi luar dan kehilangan kemurnian kesadaran kita, maka masalah akan terus timbul. Noda batin dan tabiat buruk ini tak hentinya mengaduk batin kita sehingga terus ternoda. Hakikat yang ternoda ini, sesungguhnya murni dan suci.
Saudara sekalian, dengan berbagai cara saya menjelaskan ini semua dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa pikiran benar adalah inti pelatihan diri. Pikiran menyimpang menciptakan karma buruk. Pikiranlah sumber segala kesalahan. Jadi, pikiran ini harus sungguh-sungguh kita jaga. Kita harus menjaga pikiran kita sendiri dengan baik. menjaga pola pikir kita dengan baik. Jika tidak, kita akan menciptakan karma buruk dalam setiap ucapan dan tindakan. Kita harus senantiasa menjaga pikiran. Selanjutnya dikatakan bahwa karma buruk muncul akibat kemelekatan akan kondisi luar. Mengenai kondisi luar, dalam pikiran kita sering timbul kemelekatan akibat kondisi luar ini. Barusan saya membahas bahwa dalam menghadapi kondisi luar, semua tergantung pada pola pikir dan sikap yang kita gunakan. pola pikir dan sikap yang kita gunakan.
Segala yang ada di luar diri, bunga, rumput, kayu, jika kita dapat melihatnya dengan hati yang jernih dan hening, semua akan terlihat indah. Kita hendaknya dapat menghargai segala sesuatu dan bersyukur atas apa yang ada di bumi, baik bunga-bunga, rerumputan, maupun pepohonan; Kita harus bersyukur melihat semua ini, bersyukur atas bumi, bersyukur atas iklim, air, dan udara, yang memungkinkan kita memiliki tempat tinggal yang indah. Lihatlah, bila melihat segala sesuatu dengan penuh rasa syukur, bukankah kita akan diliputi kebahagiaan? Kita berjalan dengan rasa syukur, melangkah lembut agar tak menyakiti bumi. Sikap menyayangi bumi seperti ini ada karena rasa syukur. Bayangkan, jika sepanjang hari kita berpikiran demikian, manakah yang tidak membuat kita bahagia? Kita memiliki banyak cara untuk mengubah kondisi luar dengan mengubah pola pikir kita. Jangan malah membiarkan kondisi luar yang mengubah keadaan batin kita. Jika demikian, kita akan menderita. Jika kita terpengaruh dunia luar, kemelekatan akan mudah timbul dalam batin kita, dan ini akan membawa kerisauan. Dengan adanya berbagai kondisi, jika dalam batin kita timbul ketamakan atasnya, kondisi ini akan merasuk ke dalam batin dan meninggalkan jejak yang dalam. Ini yang disebut kemelekatan. Ketika melihat suatu kondisi, kita merasakan keindahan dan bersyukur. Setelah berlalu, kita pun tidak melekat.
Namun, jika batin kita ternoda oleh kondisi tersebut, ia akan merasuk ke dalam batin kita. Contohnya, ketika orang lain mengimbau kita, “Berhentilah merokok.” “Merokok dapat mencelakai diri sendiri, juga mencemari lingkungan sekitar, berhentilah!” Sungguh menderita rasanya bila ingin berhenti. Kadang kita tak habis pikir. Apa enaknya merokok? Mengapa sangat sulit untuk berhenti? Ia hanya dihisap sebentar, di dalamnya pun tiada apa-apa. Hanya asap yang terlihat. Mengapa sulit untuk lepas darinya? Tekad manusia demikian tipis. Dalam batin manusia pada dasarnya terdapat potensi dan hakikat yang murni. Namun, hakikat yang murni ini belum dapat terbangkitkan. Karena itu, kita dapat tersesat. Ketika hakikat ini terbangkitkan, inilah yang disebut pencerahan. Namun, kita tak mampu sadar, sehingga terus terpengaruh kondisi luar. Inilah kemelekatan. Mengubah kondisi luar dengan mengubah pola pikir merupakan sikap bijaksana. Membiarkan kondisi luar memengaruhi kondisi hati merupakan noda batin.
Di Amerika Serikat tersiar sebuah berita. Ada seorang wanita yang merokok hingga terkena kanker paru-paru. Setelah mengidap kanker paru-paru, ia mengetahui penyebabnya adalah rokok. ia mengetahui penyebabnya adalah rokok. Ia pun menuntut perusahaan rokok tersebut, sebuah perusahaan rokok besar di sana, dan meminta ganti rugi. Berapakah yang diminta? 28 miliar dolar AS. 28 miliar, bukan dolar Taiwan, melainkan dolar AS, sekitar 900 miliar NT (Rp280 triliun). Bukan 90 juta, tetapi 900 miliar. Berita ini sangat menyita perhatian. Mereka bertikai lama di pengadilan. Wanita ini sudah merokok selama 40 tahun. Putrinya memintanya berhenti. Ia menjawab, “Saya orang dewasa, memiliki kebebasan.” Saat masih belia, ia mulai merokok di usia belasan tahun. Orang tuanya juga sudah memintanya berhenti, namun ia tak menghiraukannya. Ia terus merokok sampai terkena kanker. Putrinya terus membujuknya untuk berhenti, namun ia tetap tak mampu melakukannya. Dokter sudah memperingatkannya. Ia pun tetap tidak dapat berhenti. Lama-kelamaan penyakitnya menjadi akut. Dalam keadaan seperti itu, dokter memvonisnya berada di stadium akhir.
Kemudian, ia menuntut perusahaan rokok itu. Perusahaan rokok pun menjawab bahwa dalam kemasan sudah ada peringatan dan petunjuk komposisi rokok tersebut. dan petunjuk komposisi rokok tersebut. Juga tertulis efek yang dapat timbul bagi manusia. “Anda sendiri yang tidak mau berhenti, namun sekarang malah meminta ganti rugi.” “Apakah ini masuk akal?” Karena masing-masing melakukan pembelaan dan nominal tuntutannya sangat besar, persidangan ini pun berlangsung lama. Akhirnya, perusahaan rokok pun kalah. Namun, tuntutan tak dipenuhi seluruhnya. Lihatlah, bukankah ini akibat kemelekatan? Rokok itu ada di sana, namun tak meminta wanita itu menghisapnya.
Pikiran wanita itu sendirilah yang melekat. Karena itu, ia mengabaikan peringatan dokter dan tak peduli akan perkataan anaknya, hingga akhirnya akibat kemelekatan ini, ia pun sakit dan meninggal dunia. Lihat, inilah kemelekatan. Tadi sempat saya sampaikan bahwa arak tidak memabukkan, manusialah yang mabuk; bunga tidak membuai, manusialah yang terbuai. Dari kedua ungkapan ini kita tahu bahwa bukan rokok yang berisi candu, manusia sendirilah yang kecanduan. Rokok tak meminta kita menghisapnya. namun banyak orang tak dapat berhenti merokok. Sesungguhnya, inilah yang disebut melekat. Kemelekatan ini sudah sangat dalam. Kemelekatan ini sudah sangat dalam. Karena itu, kemelekatan ini sulit untuk dilepaskan. Hidup ini kita lewati dengan penuh noda batin. Tiga racun atau virus dalam batin manusia ini memenuhi keseharian kita. Karena adanya virus ini dalam batin kita, Karena adanya virus ini dalam batin kita, maka segala perbuatan kita menjadi penuh kesalahan. Sepatah kata yang terucap tanpa sengaja, mungkin ini dapat membawa potensi masalah.
Mungkin juga kata-kata sangat mudah diucapkan, hanya perlu membuka mulut saja. Namun ketahuilah, baik dalam organisasi maupun hubungan antarmanusia, antarkeluarga, dan sebagainya, kata-kata yang diucapkan dengan ringan dan sambil lalu dapat menimbulkan masalah. Jagalah hati selalu. Setiap ucapan dan tindakan merupakan pintu gerbang terciptanya karma. Saudara sekalian, akar noda batin terletak pada pikiran kita sendiri. Jadi, harap kita semua ingat bahwa dalam batin kita terdapat sesuatu yang tak pernah berubah dalam kondisi apa pun, yaitu hakikat dan potensi diri kita. yaitu hakikat dan potensi diri kita. Ketika berhadapan dengan noda batin, kita memiliki potensi untuk mengikisnya. Asalkan kebijaksanaan kita terbuka dan potensi yang ada dalam diri kita terbangkitkan, dan potensi yang ada dalam diri kita terbangkitkan, kita dapat mengikis berbagai masalah yang tidak perlu. Ini bagaikan antibodi bagi kita.
Dengan adanya antibodi ini, dengan sendirinya semua permasalahan hidup akan lenyap ketika ia sampai pada kita. Karena itu, sering dikatakan bahwa tertawa membuyarkan segala kerisauan. Jadi, selalulah bergembira. Hadapilah kehidupan dengan hati yang terbuka. Hadapilah kehidupan dengan hati yang terbuka. Saya berharap semua orang dapat memiliki hati yang terbuka dan menyadari potensi yang murni dalam diri ketika menghadapi kondisi dan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Harap semua orang bersungguh-sungguh untuk menjauhkan noda batin dari hakikat diri kita yang murni. Dalam tutur kata kita terhadap orang lain, Dalam tutur kata kita terhadap orang lain, jika tabiat buruk kita muncul, segeralah mengubah dan menghentikannya. segeralah mengubah dan menghentikannya.
Jika ketika tabiat buruk muncul, kita tak segera mengendalikannya, maka kerugian bagi kita akan sangat besar. Inti dari melatih diri adalah ketika tabiat buruk muncul, kita harus segera meredamnya. Inilah yang disebut melatih diri. Lahan pelatihan diri terletak pada batin kita. Kehidupan sehari-hari merupakan sarana bagi kita untuk melatih diri. Jadi, harap semua selalu bersungguh-sungguh.