Sanubari Teduh

[ST-024] 染著為緣生三業 Kemelekatan sebagai Kondisi Terciptanya Karma

Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar mengendalikan pikiran. Jika kita memiliki sedikit saja noda batin, maka seperti yang sebelumnya telah dibahas, ia berhubungan dengan tiga pintu karma, yakni tubuh, ucapan, dan pikiran. Namun, akar dari segalanya adalah pikiran, pikiran kita, batin kita. Jika batin kita dipenuhi pikiran buruk, maka niat buruk ini akan terus bertambah dan terus tumbuh, memperkuat belenggu dan membuat kita semakin terjerumus. Begitulah sebagai makhluk awam, kita memiliki noda  batin karena tak dapat mengendalikan pikiran dengan baik. Karena batin terpengaruh kondisi luar, timbullah kemelekatan. Kemelekatan ini sungguh mengkhawatirkan.

Lihatlah, sehelai kain putih, jika kita tak hati-hati membuatnya ternoda, maka untuk membersihkannya hingga menjadi putih kembali tidaklah mudah. Inilah yang disebut terpengaruh, terpengaruh dengan sangat dalam. Demikian pula dengan hati kita, sulit untuk dibersihkan dari noda batin ini. Inilah yang disebut kemelekatan. Kemelekatan adalah kondisi terciptanya karma. Ketamakan, kebencian, kebodohan mempertebal noda batin. Sesungguhnya, kemelekatan timbul karena kondisi batin yang tidak benar sehingga mengarah pada pemikiran menyimpang. Ketika batin menyimpang, pemikiran buruk pun terus timbul. Dengan demikian, pikiran kita menjadi benih karma buruk. Pikiran menyimpang ini menjadi sebab yang membawa kita pada kemelekatan akan objek luar.

Ketika bertemu hal yang indah, timbul ketamakan. Semua kondisi yang indah dan baik seperti ketenaran, keuntungan, harta, kecantikan, dll, ini semua disebut kondisi yang indah. Kita orang awam melihat ini semua sebagai hal yang paling indah dan harus dikejar sebagai tujuan hidup. Maka, akibat adanya kondisi-kondisi ini, timbul kemelekatan dalam diri kita. Kemelekatan ini pun menjadi sebuah kondisi. Ada sebab, ada kondisi. Harta, kecantikan, ketenaran, keuntungan merupakan pembentuk kondisi yang memengaruhi batin kita. Sekali terpengaruh, kita akan sulit untuk melepaskan diri, terus terbelenggu di sana, dan semakin terbuai di dalamnya. Jadi, kemelekatan menjadi pembentuk kondisi. Oleh karena itu, harta, kecantikan, ketenaran, dan makanan menimbulkan ketamakan dalam batin kita. Dengan adanya ketamakan, baik terhadap harta maupun kecantikan, kita menjadi mudah melakukan karma membunuh, terutama ketika tamak akan makanan.

Semua ini karena kita memiliki tubuh fisik. Dalam kondisi yang buruk, kondisi yang tidak diinginkan, timbullah kebencian dalam hati. Inilah pikiran yang bertemu kondisi. Ketika kondisi tak sesuai dengan yang diharapkan, muncul kebencian di dalam hati. Ada sebuah berita tentang seorang pria yang mengangkut 15 galon minyak dengan truk dan menabrak gedung Departemen Transportasi. Ledakan pun terjadi seketika. Pintu masuk dan ruang tengah departemen ini terbakar habis. Karena lokasinya dekat dengan istana presiden, semua orang sangat panik. Polisi, tentara, pemadam kebakaran, ratusan orang segera berusaha memadamkan api. Tentu saja sang pengemudi tewas di tempat.

Tampaknya ini adalah kasus bunuh diri. Pria ini sepertinya di masa lalunya telah sering berada di jalan yang salah dan bergaul dengan mafia serta sering keluar masuk penjara. Kini, ia ingin melepaskan diri dari lingkungannya yang dulu. Ia bersedia untuk berubah dari cara hidupnya yang dulu. Karena itu, ia bekerja sebagai sopir truk. Mungkin karena tabiat lamanya yang penuh kebencian sulit dikendalikan atau karena sifatnya yang temperamental, dalam pekerjaannya ini, kadang ia bertindak lebih sembrono dan sedikit mengebut dalam mengemudi hingga akhirnya ditilang oleh polisi. Mungkin karena itu, timbul kebencian dalam hatinya. Ia merasa, ketika ia ingin berubah, mengapa orang lain tidak memberinya kesempatan. Mungkin ia berpikir demikian, Mungkin karena pikiran ini, ia mengemudikan truk yang penuh muatan, menabrakkannya ke Departemen Transportasi, dan membuat warga Taipei panik.

Lihatlah, karena kondisi tidak sesuai harapan, kebencian pun timbul dalam hatinya. Saat kebencian muncul, tindakan dapat menjadi tak terkendali. Dengan bertindak tak terkendali, segala yang dilakukan akan membawa penyesalan. Dalam Kata Perenungan sering dikatakan bahwa kemarahan adalah kegilaan sesaat. Kita tahu bahwa ketika emosi memuncak, kegelapan batin menyelimuti hati kita sehingga kita tak dapat berpikir jernih. Maka, kebencian sungguh mengkhawatirkan. Setiap orang pada dasarnya bersifat bajik. Pria ini, meski menyimpang di masa mudanya, namun pada akhirnya ia berniat untuk kembali ke jalan yang benar dan mencari pekerjaan yang baik. Hanya saja tabiat lamanya mungkin lebih sulit diredam. Temperamennya sungguh buruk. Sering bertengkar dengan orang lain karena sifatnya yang emosional, atau suka mengebut di jalan, ini semua merupakan tabiat buruk.

Namun, kita dapat membuktikan bahwa dalam hatinya ada kebajikan karena ia berniat untuk berubah. Sayangnya, lingkungan kurang mendukung. Di lingkungannya, tiada orang yang mendampingi. Jika memiliki lingkungan yang mendukung dan ada orang-orang yang mendampingi, saya yakin ia memiliki banyak kesempatan berubah menjadi lebih baik. Jadi, jika pikiran tidak dijaga dengan baik, maka ketika berada dalam situasi yang buruk atau timbul kondisi yang tidak diinginkan, kebencian pun akan muncul. Dengan demikian, timbullah kemarahan. Jikalau kita berada dalam kondisi yang bukan baik dan bukan pula tidak baik, tidak mengejar keuntungan maupun nama, juga tidak berada dalam kondisi tertekan, biasa-biasa saja, tidak baik dan tidak buruk, tidak bagus juga tidak jelek, maka pikiran kita di saat itu kerap diliputi kebodohan. Kebodohan disebut juga ketidaktahuan, tidak mengerti kebenaran, tak dapat membedakan baik dan buruk.

Meski dalam keadaan ini pikiran bersifat netral, namun masih diliputi kebodohan. Begitu suatu kondisi muncul, ia akan mudah terpengaruh. Inilah yang disebut kebodohan. Baik harta, nafsu, ketenaran, dan keuntungan, ketika kondisi-kondisi ini muncul, batin yang bodoh akan mudah terpengaruh. Ketika menemui kondisi yang tak diinginkan, jika tak memiliki jodoh baik untuk bertemu orang yang dapat membimbingnya, orang ini akan mudah terjerumus oleh pengaruh buruk. Karena itu, noda batin ini disebut kebodohan.

Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Segera menari begitu mendengar bunyi.” Apa pun yang didengar, membuat diri sendiri menjadi tak terkendali dan segera bergerak tak terarah. Inilah kebodohan. Kebodohan membuat manusia tak memahami kebenaran dan kehilangan kemampuan membedakan yang baik dan buruk sehingga membawa pada perbuatan menyimpang. Saat virus SARS mewabah, semua orang diliputi ketakutan dan merasa panik. Ketika mendengar kabar bahwa di rumah sakit tertentu ada pasien yang terjangkit SARS, semua orang menjadi ketakutan dan menyebarkannya dari mulut ke mulut hingga membuat semakin banyak orang ketakutan. Banyak orang tak berani datang ke rumah sakit meski dirinya menderita sakit. Ini juga merupakan kebodohan.

Bila sakit tentu seharusnya segera berobat supaya lekas sembuh. Namun, karena mendengar ada kasus SARS yang dirawat di rumah sakit tertentu, kabar seperti ini membuat orang-orang menjadi takut terhadap rumah sakit tersebut. Contohnya di Hualien, di Rumah Sakit Tzu Chi ada seorang pasien dirawat di UGD. Setelah diperiksa dengan sinar X, tidak ditemukan gejala penyakit dan ia diperbolehkan pulang. Keesokan harinya, ia datang lagi, sekali lagi diperiksa dengan sinar X, tetap tidak ditemukan masalah. Tetapi, ia mengalami gejala demam, merasa ngilu, dan kedinginan. Gejala ini sangat mirip SARS. Meski tidak ditemukan masalah ketika diperiksa dengan sinar X, namun beberapa jam kemudian, keadaannya tak kunjung membaik. Pemeriksaan kembali segera dilakukan, dan ditemukan bahwa paru-parunya sudah terinfeksi. Kita segera menanganinya. Selama prosesnya, para staf medis terus memantau kondisinya dan memastikan keamanan di rumah sakit.

Ketika pertama kali mendengar bahwa kasus SARS telah muncul di Taipei, kita terus meningkatkan kewaspadaan serta pengawasan di setiap bagian. Jadi, ketika pasien itu masuk ke UGD, para staf medis kita telah melakukan antisipasi yang ketat. Pasien ini akhirnya meninggal esok harinya. Warga Hualien pun sangat panik. Semua orang sangat ketakutan. Bukan hanya takut datang ke rumah sakit, bahkan saat anak-anak bersekolah, para orang tua juga sangat ketakutan. Saya berpikir, apa sebabnya? Bukankah pasien berada di rumah sakit, sedangkan anak-anak di sekolah, jadi apa yang ditakutkan? Ternyata, yang membuat orang tua takut adalah banyak anak yang bersekolah di sana merupakan anak dari staf rumah sakit.

Karena itu, para orang tua sangat ketakutan jika anak mereka belajar bersama anak-anak para staf rumah sakit. Ketika sesuatu terjadi, orang-orang merasa ketakutan. Mereka hanya memikirkan anaknya sendiri, tidak memikirkan Hualien secara keseluruhan. Semua orang seharusnya meningkatkan kewaspadaan, menenangkan hati, dan melakukan antisipasi. Inilah yang seharusnya dilakukan. Namun, ada sebuah kisah yang menarik. Ada seorang kakek berusia 66 tahun yang menderita penyakit jantung. Ia dibawa ke UGD dalam keadaan gawat sehingga Wakil Kepala Rumah Sakit Wang Zhi-hong segera melakukan prosedur bedah bypass pada jantung kakek itu. Ia pulang dari rumah sakit dalam keadaan sehat. Namun, ia masih harus berobat jalan. Dalam waktu lebih dari sebulan, setiap akan memeriksakan diri, ia selalu merasa takut. Ia datang dua kali sebulan. Ia cukup pintar. Ia mengenakan jas hujan di dalam kemejanya dan memakai plastik untuk menutupi dadanya.

Namun, karena cuaca sangat panas, lantas harus bagaimana? Ia melubangi plastik tersebut agar ada sirkulasi udara. Ketika kembali, ia langsung mencari Dokter Wang. Ia berkata, “Saya benar-benar ketakutan.” “Dulu saya tak berani memberi tahu Anda, tetapi lihatlah, saya mengenakan jas plastik.” “Saya pikir, harganya hanya 15 NT dan dapat melindungi tubuh.” Karena memiliki penyakit jantung, ia merasa harus melindungi dadanya. Ia berkata, “Setelah pulang ke rumah, karena harga plastik ini hanya 15 NT, maka tidak sayang jika dibuang, lagi pula ini dapat melindungi tubuh.” Ia juga mengenakan masker sebanyak dua lapis, selapis masker biasa ditambah masker tipe N95. Saat Wakil Kepala RS Wang melihatnya, ia menggelengkan kepala dan berkata, “Apa yang Anda takutkan?” “Selama Anda mengenakannya dengan baik, maka meski hanya satu lapis, itu sudah cukup aman.” Kakek ini pun menjawab, “Bukan hanya saya yang takut.” “Teman saya yang juga menderita sakit jantung kini tak berani ke rumah sakit untuk berobat ke dokter.” “Saat penyakitnya kambuh, ia pergi ke apotek membeli obat jadi.” Wakil Kepala RS Wang berkata padanya, “Tolong jangan begitu.” “Anda adalah pasien saya, jangan membuat saya putus asa.” ”Bila tiba waktunya diperiksa, Anda harus datang.” “Saya sudah  merawat Anda sebaik-baiknya hingga sehat seperti ini dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit.” “Anda harus datang pada waktu yang ditentukan.” “Anda juga harus bilang kepada teman Anda untuk tidak mengonsumsi obat jadi.” “Berbahaya jika terjadi sesuatu.” dalam kondisi seperti ini, ia tidak diliputi ketamakan maupun kebencian, tetapi sayangnya ia diliputi kebodohan. Saudara sekalian, contoh kebodohan pada kondisi ini dapat kita lihat dengan jelas.

Jika sakit, hendaknya berobat. Pada masa-masa sekarang, mengapa timbul virus penyakit seperti ini? Dahulu virus ini tidak ada. Dahulu virus ini belum ada, namun kini ia muncul dan menimbulkan kekhawatiran orang-orang. Namun, serahkanlah kekhawatiran ini pada para ahli. Sebagai orang awam, tanggung jawab kita adalah menjaga diri dengan baik. Kemudian terhadap mereka yang dengan sepenuh hati melakukan penelitian maupun tim medis yang berdiri di garis depan, kita harus menjaga, menghormati, dan mendukung mereka. Terlebih lagi, kita harus berterima kasih pada mereka. Jika bukan berkat mereka yang ada di garis depan dan mencegah penyebaran virus ini, mungkin kita semua pun sudah terinfeksi. Karena itu, kita seharusnya jangan memiliki pikiran yang bodoh. Keadaan ini mengajarkan kita untuk memegang teguh kewajiban. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus menunaikan kewajiban dengan baik. Kewajiban sebagai praktisi Buddhis itu adalah menjaga hati dan pikiran kita agar tidak terinfeksi virus batin. Virus batin adalah noda batin. Ia muncul dari ketamakan, kebencian, kebodohan. Ketiganya berasal dari pikiran yang menyimpang. Jika dalam pikiran ada penyimpangan, maka kondisi dunia luar akan mencemari batin kita. Noda ini akan semakin tebal dan dalam. Di tengah banyaknya noda batin ini kita akan terbelenggu. Bagaikan kain yang tercelup ke dalam tinta, nodanya semakin lama semakin dalam. Ketika pikiran menyimpang timbul, kemelekatan akan timbul dalam batin kita. Kemelekatan ini timbul ketika kita melihat kondisi yang penuh ketenaran, keuntungan, dan kedudukan sebagai kondisi indah bagi kita makhluk awam sehingga timbullah ketamakan.

Ketika kondisi tidak seperti yang diharapkan, dalam hati timbullah kebencian, kemarahan pun bangkit, dan barakibat pada tindakan yang tak seharusnya. Dalam kondisi yang tidak buruk maupun tidak baik, yang sedang-sedang saja, kebodohan batin sering kali meliputi kita sehingga tidak memahami kebenaran. Dengan ketidaktahuan ini, kita memercayai apa saja yang didengar dan bereaksi tanpa berpikir panjang. Ini akan menimbulkan keresahan masyarakat. Jadi, untuk menciptakan masyarakat yang damai dan stabil, kita semua harus melenyapkan kebodohan batin. Dengan lenyapnya kebodohan, kebencian akan dapat diredam. Jika kebencian dapat diredam, maka ketamakan juga akan terhenti. Kebodohan berarti tidak memahami kebenaran. Jika kebodohan ini dapat dilenyapkan, maka kebencian akan dapat diredam dan ketamakan dapat dihentikan, masyarakat pun akan hidup harmonis dan damai. Kesimpulannya, di antara tiga racun ini, yang paling menakutkan adalah kebodohan, diikuti dengan kebencian, dan ketamakan. Namun, ketiganya merupakan penyakit batin.

Karena itu, Saudara sekalian, kita semua harus meningkatkan kesadaran. Kebodohan batin ini bagaikan virus penyakit. Wakil Kepala RS Jian berkata, virus tidak memiliki otak, namun sangat pintar. Virus pada dasarnya tidak bernyawa, ia bergantung pada makhluk lain untuk dapat terus berkembang dan menyebar. Demikian pula, kebodohan batin ini pada dasarnya tak memiliki kendali. Ketika suatu kondisi memancingnya, ia baru akan muncul dan akibatnya sungguh tak terbayangkan. Ia bergantung pada kondisi dunia luar. Jadi, kita semua harus bersungguh-sungguh melenyapkan kebodohan ini. Janganlah berkata, ”Saya tidak tamak.” “Saya juga tidak bertemperamen buruk.” ”Berarti saya telah melatih diri dengan baik.” Saya katakan pada Anda sekalian, secara tak sadar, kita telah diliputi oleh kebodohan. kebodohan batin kita sering kali tanpa kita sadari menciptakan lebih banyak noda batin. Karena itu, mari kita lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment