Sanubari Teduh

[ST-028] 修行者的本分事 Kewajiban Dasar Seorang Praktisi

Saudara se-Dharma Sekalian, di setiap saat, apakah kita sudah menjaga pikiran dengan baik? Jika pikiran kita tidak dijaga dengan baik, maka akan terus bergejolak bagai seekor kera atau seekor kuda liar. Batin ini akan terus dipenuhi noda dan terus terombang-ambing bagai pasir di gurun yang kering, langsung beterbangan ketika angin bertiup, atau seperti saat sekawanan kuda liar berlari melintasi gurun, mengakibatkan debu beterbangan. Begitu pula, angin karma dapat menerbangkan segala debu yang menumpuk dalam batin kita. Kita harus senantiasa membasahinya dengan air. Dharma bagaikan air. Tanpa air Dharma, sebagai makhluk awam batin kita akan dipenuhi noda. Entah karena angin yang bertiup atau kawanan kuda liar yang melintas, debu dalam batin kita akan beterbangan//dan menciptakan kabut debu.

Setiap hari saya selalu mengatakan bahwa kita harus sungguh-sungguh menjaga kebersihan hati dan pikiran. Menurut saya ini adalah kewajiban dasar kita sebagai praktisi. Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menunaikan kewajiban dan berdisiplin dalam menaati peraturan, barulah debu dan noda batin ini tidak beterbangan. Demikianlah sepuluh kejahatan tumbuh dan menghasilkan 84.000 kekotoran. Bentuk kesalahan begitu banyak, namun semuanya tak terlepas dari tiga faktor, pertama, noda batin; kedua, karma; ketiga, buah karma. Sesungguhnya, noda batin yang saya maksud tadi sangat banyak, bukan hanya 84.000 jenis, melainkan seperti banyaknya butiran pasir dan debu yang ada di bumi. Inilah noda batin kita, dikatakan ada 84.000 jenis.

Namun, jika dikelompokkan, tak lepas dari tiga faktor. Yang pertama adalah noda batin, yaitu ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Tentu kalau dianalisis lebih lanjut, dapat dijabarkan menjadi lebih banyak lagi. Namun, semuanya timbul dari pikiran. Faktor-faktor yang mengganggu kedamaian batin termasuk dalam kategori ini. Yang kedua adalah karma. Karma diciptakan melalui pikiran dan terwujud melalui perbuatan. Seperti yang telah kita ketahui, karma terwujud melalui tubuh dan ucapan. Ada 3 jenis karma tubuh dan 4 karma ucapan. Karma buruk melalui tindakan oleh tubuh hanya terdiri atas 3 macam, yakni membunuh, mencuri, dan berbuat asusila. Ini adalah sumber dari kejahatan. Karma buruk ucapan adalah berdusta, berkata-kata kosong, dan bergunjing. Sesungguhnya, apa yang dipikirkan orang lain, kita sendiri tidak tahu. Apa yang kita pikirkan, orang lain pun tidak tahu sama sekali. Niat baik ataukah jahat yang ada di dalam hati, orang lain tidak bisa memahaminya. Ketika timbul ketamakan, kebencian, dan kebodohan dalam pikiran dan terwujud dalam perbuatan, saat itulah karma tercipta.

Salah satu karma buruk ucapan adalah berdusta. Ini bukan semata-mata berbohong, melainkan juga menutup-nutupi fakta. Ada hal-hal yang sebenarnya  sudah mengandung banyak kesalahan yang dalam, namun kita tidak mau mengungkapkannya. Kita tahu persis ada yang akan berbuat jahat, tetapi kita masih menutup-nutupinya. Padahal kita tahu dengan jelas bahwa masalah akan segera terjadi, Baik karena noda batin masa lampau maupun pandangan keliru di dalam batin, jika kita tidak mengatakan apa rencana kita, meski kita tidak berbohong, tidak berkata-kata kasar, tidak bergunjing, namun kita telah menutup-nutupi fakta. Perbuatan menutupi fakta ini, bagi kita sendiri, pikiran menyimpang ini mungkin membahayakan.

Ketika menyembunyikan pemikiran kita, karma yang kita ciptakan juga bisa sangat menakutkan. Lihatlah di dunia ini betapa banyak orang yang menyesali perbuatannya seumur hidup. Bila ditanya mengapa hal ini bisa terjadi, bahkan orang terdekatnya sekalipun berkata, “Entahlah, ia tak pernah menceritakannya.” Ini sangat disayangkan. Seandainya dikatakan sebelum terjadi sesuatu, mungkin saja ada orang yang dapat membimbing, memperbaiki kesalahan kita, atau mencarikan jalan keluar agar kita dapat berpikir jernih, agar kita paham. Jika dapat berpikiran terbuka, tentu kita tidak akan melakukan kesalahan, kejahatan, atau hal-hal yang mendatangkan penyesalan. Jika seseorang jelas-jelas mengetahui bahwa sesuatu itu berbahaya, namun tidak memberitahukan orang lain, dan membiarkannya semakin terjerumus, ini juga disebut menutup-nutupi.

Oleh karena itu, karma ucapan bukan hanya 4, menutupi kenyataan termasuk salah satunya. Singkatnya, adakalanya mulut melakukan banyak kesalahan, dan ini menciptakan karma buruk; menyebarkan banyak gosip, memfitnah orang lain, atau… kita sering mendengar tentang semua ini. Kita harus melatih perbuatan baik melalui ucapan. Kita bukan hanya harus menjaga tindakan, ucapan juga harus disadari dan diwaspadai. Jadi, melalui tubuh dan ucapan dapat tercipta banyak sekali karma yang tak dapat dianalisis satu per satu. Kata-kata kasar, dusta, omong kosong, dan pergunjingan adalah empat kejahatan melalui ucapan. Pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila adalah tiga pelanggaran melalui tubuh. Disebut karma buruk melalui tubuh, ucapan, dan pikiran karena semuanya tercipta ketika timbul niat, terwujudnya tindakan, dan keluarnya ucapan.

Menciptakan karma bagai menabur benih di sebuah ladang. Ladang ini disebut ladang karma, dalam ajaran Buddha disebut kesadaran aktivitas  atau Alaya-vijnana. Baik ucapan, tindakan, maupun pikiran kita, yang dilakukan terhadap diri sendiri maupun yang mencelakai orang lain, semuanya akan menjadi butir-butir benih. Benih-benih ini masuk dalam kesadaran aktivitas. Saudara sekalian, hal ini harus kita perhatikan. Meski pernah mengatakannya, mengapa saya masih mengulanginya? Baru kemarin dikatakan, mengapa hari ini diingatkan lagi? Itu karena kita mudah lupa. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengira segala tindak-tanduk kita berlalu begitu saja setelah dilakukan.

Setelah selesai dilakukan, ucapan atau perbuatan jahat dianggap berlalu begitu saja, tidak mendatangkan masalah sama sekali. Tentu ada. Ini masalah besar, karena setelah benih karma ditanam, ia akan tertanam dalam Alaya-vijnana, sama seperti melemparnya ke dalam tanah. Jika benih tersebut jatuh di atas tanah, asalkan kondisi mendukung, yaitu adanya cahaya matahari dan air, maka benih yang ada di tanah ini akan bertunas dan tumbuh, kemudian bercabang, berbunga, dan berbuah. Saat itulah buah karma muncul. Menciptakan karma bagaikan menanam benih dalam ladang aktivitas. Ketika kondisi mendukung untuk benih ini berbuah, inilah yang disebut buah karma. Karma buruk yang pernah kita lakukan sudah tidak terhitung banyaknya, bukan hanya dalam  kehidupan sekarang, tetapi dalam setiap kehidupan.

Benih-benih yang tersimpan dalam ladang aktivitas, akan terus berbuah. Jika benih dan kondisi bertemu, ia akan berbuah. Perbuatan baik masa lalu akan berbuah berkah. Lihatlah dalam kehidupan sekarang ini, betapa banyak orang yang hidup sukses. Kita sudah bekerja keras, tetapi mengapa kita tidak bisa seperti mereka, memiliki usaha yang begitu besar? “Saya lebih giat darinya, namun mengapa saya selalu gagal dalam usaha?” “Sama-sama menjalankan usaha yang sama, namun mengapa saya selalu merugi?” “Setelah usaha ini dijual, mengapa orang lain bisa mendapat banyak laba?” Barang yang sama, bidang usaha yang sama, orang lain bisa menjalankannya dengan baik, tetapi kita tidak. Orang lain menjalankannya dengan santai, tidak sungguh-sungguh, bahkan dibantu oleh orang lain, namun ia begitu berkembang, sedangkan kita yang sudah bekerja sangat keras tetap saja tidak berhasil.

Sebenarnya, apa penyebabnya? Karena mereka dulu pernah menciptakan berkah, pernah melakukan kebajikan. Jadi, jika pernah melakukan kebajikan, pasti menuai berkah. Meski Anda merasa pada hidup ini ia tidak demikian, malah sebaliknya, sangat kikir, hanya tahu bersenang-senang, jika diminta berbuat baik pun tidak mau, kita pun berpikir, “Siapa bilang ia baik?” Memang sekarang ia tidak melakukan apa-apa, namun ia menanam berkah di kehidupan lampau. Meskipun saat ini Anda melihat ia seakan tidak melakukan apa-apa, namun akumulasi berkahnya sudah sangat banyak. Namun, meskipun banyak, jika kini ia hanya bisa terus menikmati, maka berkahnya akan habis dalam kehidupan ini. Sama seperti tabungan di bank, jika kita terus menarik uang, hari ini menarik uang dan berfoya-foya, besok tarik uang lagi, maka saldo di bank akan terus berkurang hingga akhirnya habis. Inilah yang kita lakukan. Tidak peduli baik atau buruk, benih karma yang kita tanam, janganlah dikira akan hilang begitu saja.

Janganlah kita berpikir bahwa jika hidup berakhir, maka semuanya sudah selesai. Tidak selesai, dan belum berakhir. Oleh karena itu, dalam kehidupan ini kita harus menanam karma baik dan berkah yang baik pula. Segeralah tanam dan kumpulkan karma baik. Karena itu, kita sering mengatakan, “Timbunlah karma baik.” Jangan karena merasa tidak bernasib baik, baru berencana melakukan kebajikan untuk mengikis karma buruk. Jangan berbuat baik hanya demi mengikis karma. Saat bahagia, kita harus menciptakan berkah, saat mengalami kesulitan, kita menerimanya dengan sukacita. Kita harus menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk menciptakan berkah. Jika belum menerima buahnya di kehidupan ini, maka pasti menerimanya di kehidupan mendatang.

Setidaknya kita bisa menyempurnakan hidup ini. Lihatlah tayangan “Bodhisattva Akar Rumput”, begitu banyak Bodhisattva lanjut usia. Setiap menyaksikan program tersebut, saya merasa sangat senang. Timbul rasa hormat dari lubuk hati saya. Suatu pagi, saya turun dari aula utama dan melihat tayangan “Bodhisattva Akar Rumput”, mengagumkan sekali. Ada sepasang suami istri yang dulunya hidup menderita, meskipun sekarang masih begitu sibuk, namun mereka menjadi relawan Tzu Chi. Mereka bahagia di tengah kesederhanaan. Setiap kata-kata mereka adalah perkataan baik yang tidak saya duga. Karena itu, saya mengatakan, sungguh mengagumkan. Lihatlah mereka. Inilah yang disebut ladang pelatihan diri. Inilah yang dimaksud menyempurnakan diri. Saya benar-benar kagum terhadap mereka.

Coba pikirkan, sebagai relawan Tzu Chi yang terjun langsung, mereka harus menghabiskan banyak waktu. Selain harus menyokong kehidupan sendiri, mereka masih harus menyisihkan waktu. Mereka mempergunakan waktu dengan baik, dan bangun pada pukul 3 pagi. Pada saat itu, mereka mulai melakukan daur ulang hingga pukul 7 atau 8. Setelah itu, tiba saatnya mereka harus bekerja mencari nafkah dengan berjualan kecil-kecilan. Malam hari, setelah selesai berjualan, setelah pulang dari bekerja, jika masih ada waktu, mereka akan melakukan daur ulang lagi, kadang-kadang hingga pukul 12 malam. Lihatlah sekelompok relawan ini, siang cari nafkah, malam melakukan daur ulang. Setelah mereka menyalakan lampu, satu per satu kereta daur ulang berdatangan, ada yang mendorong gerobak, ada yang menggunakan truk, semuanya berkumpul di posko daur ulang dan mulai memilah-milah sampah daur ulang.

Sungguh pemandangan yang mengharukan. Mereka harus mencari nafkah. Pekerjaan dan usaha sendiri harus tetap mereka urus dengan baik. Tetapi, mereka memanfaatkan waktu sebelum atau sehabis bekerja untuk melakukan daur ulang dengan sukacita, mereka bahkan merasa sangat bersyukur. Mereka berkata, “Jika tidak ada Tzu Chi, saya mungkin masih suka memaki dan memukul orang.” Ada yang mengatakan, “Jika tidak ada Tzu Chi, mungkin sekarang saya masih mabuk-mabukan.” “Mungkin saya sudah melarikan diri, utang judi entah sudah berapa banyak.” Lihatlah, dengan waktu yang sama, mereka bisa berjudi, mabuk-mabukan, memaki dan memukuli orang. Mereka bisa menggunakannya untuk itu semua.

Tetapi, dengan adanya Tzu Chi, pikiran mereka pun berubah. Lihatlah, sedikit demi sedikit, baik kertas maupun karton, akan mereka pungut untuk didaur ulang. Setelah dikumpulkan, lihatlah, sampah pun menjadi cinta kasih, menjadi emas, emas menjadi aliran jernih, aliran jernih mengitari bumi dalam bentuk siaran Da Ai TV. Tahukah kalian, sumbangsih relawan daur ulang telah memengaruhi berapa banyak orang? Ini mengajarkan agar kita jangan meremehkan tindakan kecil. Berapa besar manfaat tindakan kecil bagi manusia? Banyak sekali. Asalkan kita memiliki niat yang tulus, dengan kesatuan hati dari semua orang, kebajikan kecil juga bisa terhimpun. Jika ke dalam sebuah guci yang besar kita masukkan air setetes demi setetes, lama-kelamaan guci itu pun akan penuh. Jangan mengira kejahatan kecil tak berpengaruh, jika terakumulasi juga akan membawa bencana.

Oleh karena itu, janganlah berpikir untuk tidak melakukan kebajikan yang kecil. Kita harus tetap melakukannya. Jangan berpikir, “Ini hanya kejahatan kecil, apakah akan berpengaruh jika dilakukan?” Pengaruhnya sangat besar. Kita harus bisa membedakan baik dan buruk. Kenalilah setiap butir benih ini. Kejahatan adalah benih yang buruk. Kebajikan adalah benih yang baik. Ingin menghapus benih kejahatan yang tertanam dengan melakukan sedikit kebajikan,// itu tidak mungkin. Janganlah berpikir untuk tidak melakukan kebajikan yang kecil. Jangan pula melakukan kejahatan meskipun kecil. Kenailah setiap kebajikan dan kejahatan dengan jelas. Jadi, saat karma berbuah, kita harus menerimanya dengan sukacita. Dengan sukacita menerima,// barulah dapat mengikis karma. Jika kita tidak rela menerimanya, dan terus memupuk keluh kesah selapis demi selapis, maka benih karma ini akan terus terpupuk. Ini sungguh menakutkan. Jadi, ada sebab pasti ada akibat.

Bila Anda menanam benih karma, ia pasti akan berbuah. Dalam Sutra Bunga Teratai dikatakan bahwa Karma yang ditanam akan mematangkan kondisi dan menghasilkan buah serta akibat. Jika Anda menciptakan karma, berarti menciptakan sebab atau benih. Maka, Anda akan bertemu suatu kondisi. Ketika benih ini bertemu kondisi yang sesuai, maka akibat pasti akan berbuah. Karma baik ataupun karma buruk, akibatnya pasti berbuah. Inilah akhirnya, dan batin kita dapat merasakannya.

Jadi, ketika karma matang, kita memiliki satu pilihan, yakni jika kita memahami hukum karma, kita akan menerimanya dengan sukarela. Sebagian orang, contohnya para relawan daur ulang kita, mereka telah memahami hukum karma sehingga tetap bahagia meski dalam kondisi sulit. Kondisi kesehatan // atau lingkungan apa pun yang mereka hadapi, mereka pahami  sebagai buah karma masa lampau dan mereka terima dengan sukarela.

Jadi, mereka menerima kondisi dengan ikhlas. Tetapi, mereka sangat gembira karena bisa bersumbangsih bagi masyarakat. Jadi, jika kita memahami hukum karma, maka pikiran kita tidak akan terseret. Jika pikiran kita semakin terseret, maka buah karma ini tak akan ada habisnya. Jika dalam kehidupan ini // Anda tidak ikhlas menerimanya, dan malah berusaha menyembunyikan benih ini, maka begitu terjadi sesuatu, pikiran akan terus risau dan menciptakan noda. Ada orang yang melakukan karma buruk, tetapi takut diketahui orang lain. Ketakutan ini akan membawa kerisauan. Ia akan menjadi sangat risau. Oleh sebab itu, kini banyak orang yang depresi. Ini juga merupakan noda batin, karena saat karma berbuah, pikiran kita ikut terbelenggu di sana.

Jadi, orang yang menerima dengan sukarela, buah karmanya akan terasa lebih ringan. Karena itu, ada orang mengatakan, // “Master berkata jika ikhlas membayar, maka diskon 20 persen, namun jika tidak ikhlas, malah harus membayar bunga lagi.” Benar, begitulah buah karma. Jika kita ikhlas menerima hasil perbuatan kita di masa lampau yang kini telah berbuah, kita akan lebih cepat terbebas dari belenggu itu. Karma ini pun akan lebih cepat terkikis dan akibatnya akan terasa lebih ringan. Karma ini tetap berbuah, namun akibatnya terasa lebih ringan. Seperti analogi sederhana tadi bahwa malah harus membayar bunga. Begitulah analoginya. Saudara sekalian, buah karma amat menakutkan.

Namun, meski buah karma menakutkan, jika Anda tidak menanam benihnya, maka buahnya tak akan ada. Jadi, jika kita tidak melakukan karma buruk, maka tidak akan menerima buahnya. Jika kita banyak melakukan kebajikan, tentu akan menuai berkah. Berkah adalah buah perbuatan baik. Sebab yang ditanam adalah benih. Saat benih bertemu kondisi yang sesuai, Jadi, noda batin terletak pada pikiran. Karma diciptakan melalui tubuh dan ucapan, namun akhirnya pun tertanam dalam batin. Benih karma ini terus bertambah. Sungguh menakutkan. Intinya, dari tiga faktor yang kita bahas tadi, yang pertama adalah noda batin. Noda batin membuat kita buta akan kebenaran. Tadi saya mengatakan bahwa kekotoran ada sebanyak butiran debu dan pasir.

Inilah kegelapan batin, inilah noda batin. Karena batin kita tidak disirami dengan air Dharma, maka batin kita penuh dengan debu. Ketika ada sedikit angin yang berhembus atau ada sesuatu yang lewat, semua akan samar karena debu beterbangan. Noda batin ini sungguh menakutkan, membuat kita diliputi ketidaktahuan sehingga tak sadar kala menciptakan karma buruk. Jadi, kekuatan karma sangatlah besar. Karma menentukan nasib kita. Banyak orang menyalahkan takdir. Banyak pula yang berbicara tentang peruntungan. “Akhir-akhir ini peruntungan saya buruk.” Sesungguhnya sama saja, peruntungan adalah sebuah pergerakan, terus mengikuti kita dari satu tempat ke tempat yang lain, dari kehidupan lampau ke kehidupan sekarang, dari kehidupan sekarang ke kehidupan berikutnya. Jadi, apa pun tak dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Kita telah membawa serta banyak karma hingga pada kehidupan sekarang. Ketika kondisi dan jalinan jodoh matang, kekuatan karma ini pun akan muncul. Jadi, banyak hal berada di luar kendali kita. Jika pintu hati tidak terbuka, maka ketika karma berbuah, ia akan menambah tebal noda batin kita. Saudara sekalian, dalam kehidupan sehari-hari kita harus menjaga hati dengan baik. Saat karma berbuah, hati kita harus tebuka. terimalah dengan hati yang terbuka. Dengan begitu, ia akan cepat berlalu.

Leave A Comment