[ST-029] 虔心持善法 Mempraktikan Jalan Kebajikan Dengan Tulus
Kita harus menyadari bahwa noda batin bagaikan butiran debu, begitu kecil dan halus. Lihat saja sebuah kamar yang jendelanya tertutup. Jika kita biarkan kamar itu tertutup, kemudian setelah 1 atau 2 hari kita membuka pintunya dan melihat ke atas meja, tetap terlihat ada debu yang menempel dan kita tetap harus membersihkannya. Dari mana debu tersebut masuk? Semua pintu dan jendela sudah tertutup. Tentu dari celah-celah yang ada, karena debu memang sangat halus. Itulah sebabnya, sedikit saja angin bertiup, debu di sekitar kita akan beterbangan lalu menempel di meja kita. Semua peralatan sangat mudah terkotori debu.
Demikian juga dengan pikiran kita, mudah tercemar oleh noda batin. Ini sama dengan meja tadi. Seperti yang kita ketahui, noda batin begitu banyak,//dikatakan ada 84.000 jenis, bahkan sebanyak butiran debu yang tak terhingga. Debu digunakan untuk melukiskan noda batin yang begitu banyak. Rintangan yang banyak ini timbul dari tiga faktor. Yang pertama adalah noda batin, kedua adalah karma. Noda batin timbul dalam pikiran, sedangkan karma terwujud lewat perbuatan. Yang ketiga adalah buah karma, yakni akibat dari perbuatan kita. Inilah kehidupan kita yang selalu terlahir di enam alam kehidupan dan tidak mampu melepaskan diri. Karena tak mampu melepaskan diri, kita mengandalkan para Buddha, Bodhisattva, dan para suci untuk membimbing kita.
Jadi, Dharma yang dibabarkan Buddha bagaikan embun manis yang murni. Jika kita bisa menerimanya, maka debu di dalam batin ini tidak akan beterbangan lagi. Untuk itu, kita harus tahu caranya. Itulah sebabnya Buddha mengajarkan banyak metode yang berbeda kepada kita. Seberapa banyak noda batin semua makhluk, sebanyak itu pulalah metode Dharma yang diajarkan Buddha. Mengenai noda batin, apabila kita tidak sungguh-sungguh Tiga faktor ini dapat merintangi Jalan Mulia serta menghalangi kelahiran baik di alam manusia dan dewa. menaklukkannya dengan Dharma, maka sesungguhnya tiga faktor tadi serta menghalangi kelahiran baik//di alam manusia dan dewa.
Kita harus memahami bahwa tiga faktor ini adalah yang kita bahas tadi, yakni noda batin, karma, dan buah karma. Semua ini menghalangi//kelahiran di alam manusia maupun dewa. Jika kita melakukan kejahatan atas dasar noda batin yang timbul, berarti kita telah menciptakan karma buruk, dan buahnya akan bertumpuk-tumpuk. Buah karma ada yang baik dan yang buruk. Jika kita menciptakan karma buruk, maka karma ini akan menghalangi kita. Apa yang terhalang? Kelahiran di alam manusia atau dewa. Buddha mengajarkan kepada kita bahwa jika kita ingin tetap terlahir sebagai manusia di kehidupan mendatang, hanya ada satu cara, yaitu menjalankan lima sila. Anda hendaknya bisa menjalankan lima sila yang telah kita ketahui bersama, yakni tidak membunuh, tidak mencuri,//tidak berbuat asusila, tidak berucap yang tidak benar,//dan tidak minum minuman keras.. Inilah yang disebut lima slia.
Jika kita melanggar sila-sila tersebut, berarti kita melakukan karma buruk. Jika kita menjalankan sila dengan baik, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berkata kasar atau berdusta dan lain-lain, serta tidak minum minuman keras, berarti kita telah berbuat kebajikan. Dengan demikian, pada kehidupan mendatang kita masih akan terlahir di alam manusia. Kita yang lahir di alam manusia sangat beruntung, karena di sinilah kita baru bisa mendengar Dharma. Makhluk di alam manusia ini penuh noda batin. Di sini penderitaan dan kebahagiaan silih berganti. Di sini kita dapat melihat hal-hal yang tidak baik sekaligus belajar hal-hal yang baik. Jadi, sebagai manusia kita dapat melihat begitu banyak hal. Sebagai manusia, kita dapat mendengar banyak Dharma duniawi. Karena itu, untuk mencapai kebuddhaan, kita harus lahir di alam manusia. Untuk dapat tetap terlahir sebagai manusia dan tidak jatuh ke alam lain, kita harus memegang teguh lima sila. Jika manusia memegang teguh lima sila, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berucap tidak benar, dan tidak minum minuman keras, serta tulus mengembangkan kebajikan, maka kelahiran berikutnya pasti terjamin.
Jika kita menganggap//kehidupan manusia penuh penderitaan, lebih banyak yang tidak sesuai harapan, dan merasa terlahir di surga lebih baik, maka kita harus mempraktikkan sepuluh kebajikan. Sepuluh kebajikan ini lebih dari sekadar tidak membunuh,//tidak mencuri, dan tidak berbuat asusila. Contohnya, bukan hanya tidak membunuh, namun juga harus melepas makhluk hidup. Kita mungkin masih ingat sebuah kisah dalam ajaran Buddha. Ada seorang raja yang melihat sekelompok rusa. Ia merasa daging rusa hasil buruan sangat enak. Ia berpikir bahwa dengan keahlian juru masak, daging ini dapat dimasak//menjadi berbagai menu lezat. Raja sangat menyukainya. Karena itu, raja memerintahkan bawahannya//untuk berburu rusa setiap hari.
Di dalam hutan, raja rusa melihat bahwa tindakan raja mengirim pemburu rusa setiap hari telah membuat seluruh hewan di hutan itu melewati hari-hari dalam ketakutan. Akhirnya, raja rusa membuat kesepakatan dengan sang raja. Raja rusa setiap hari akan mengutus seekor rusa datang mengantar nyawa ke dapur istana. Ini berlangsung hingga beberapa lama. Meski setiap hari harus kehilangan seekor rusa, namun hutan ini menjadi lebih damai. Meski rusa yang mengantarkan nyawa tersebut sangatlah menderita, tetapi sebagai gantinya, lingkungan hidup para hewan menjadi tenang. Demikianlah yang mereka lalui setiap hari. Hingga suatu hari, tibalah giliran seekor rusa betina yang sedang hamil. Ia memohon kepada raja rusa, saya bukan takut mati, “Saya bukan takut mati.” “Saya hanya ingin menyelamatkan nyawa rusa kecil dalam rahim saya ini.” “Jika saya diizinkan untuk melahirkannya dulu, saya akan mengantarkan nyawa dengan ikhlas.” Setelah mendengarnya, raja rusa merasa sudah sepantasnya ibu rusa itu diizinkan melahirkan rusa kecil terlebih dahulu.
Tetapi, siapa yang bisa menggantikannya? Rusa mana yang akan bersedia mati lebih awal? Tidak ada yang bersedia. Bisa mempertahankan nyawa sehari berarti hidup sehari lebih lama. Karena itu, tidak seekor pun rusa yang bersedia menggantikan ibu rusa. Akhirnya raja rusa berkata, “Karena tidak ada yang bersedia menggantikan, maka biar saya yang pergi menggantikannya.” Maka, raja rusa pun pergi ke dapur istana. Juru masak melihat bahwa rusa yang ini berbeda dengan rusa-rusa sebelumnya. Bulunya berwarna-warni dan memancarkan cahaya. Rusa yang bulunya berwarna-warni ini sangat gagah dan indah, sehingga juru masak tidak tega menyembelihnya.
Maka, ia pun melapor pada raja, “Rusa yang datang hari ini berbeda dengan yang sebelumnya.” Bagi raja, rusa hanyalah seekor hewan, apanya yang beda? Setelah dilihat, ternyata adalah raja rusa, Raja bertanya, “Apa sudah tidak ada rusa lagi?” Raja rusa menjawab, “Bukan.” “Kebetulan ini giliran rusa yang sedang hamil, dan rusa-rusa yang lain, sementara rusa-rusa yang lain,” raja rusa melanjutkan, bisa hidup lebih lama satu hari. “berharap dapat hidup sehari lagi.” “Siapa yang tak ingin dapat hidup satu hari lebih lama?” “Maka, saya datang menggantikan ibu rusa itu.” Raja sangat terharu mendengarnya dan berkata kepadanya, “Masih ada begitu banyak rusa yang lain, engkau bisa memaksa seekor menjadi pengganti, mengapa malah menyerahkan nyawa sendiri?” Raja rusa berkata, “Setiap makhluk berharap dapat memperpanjang masa hidupnya.
Tidak ada satu pun makhluk hidup yang bersedia mati lebih awal.” “Pergumulan antara hidup dan mati adalah hal yang membawa banyak penderitaan.” “Jika bukan saya yang datang, sungguh tidak ada lagi yang bersedia.” “Karena memahami perasaan mereka, maka saya pun datang kemari.” Raja sungguh terharu mendengarnya. “Meski saya adalah seorang raja, ternyata saya haya memiliki sebuah tubuh dan sebuah kepala manusia.” “Namun, saya tidak pernah memikirkan hubungan Saya malah tidak memikirkan hidup orang lain, kehidupan saya dengan kehidupan makhluk lain, melainkan hanya memikirkan hidup saya sendiri dan mementingkan kesenangan sendiri tanpa memikirkan penderitaan makhluk lain.” “Saya benar-benar malu.” “Saya tidak pantas disebut sebagai manusia.” Meskipun engkau adalah rusa, “Meski engkau adalah seekor hewan dengan wujud tubuh dan kepala rusa, namun engkau memiliki hati manusia.” “Saya benar-benar merasa menyesal dan sangat malu.” “Saya bahkan lebih rendah dari seekor rusa.”
Karena kejadian tersebut, raja memerintahkan, “Sejak saat ini, selain tidak boleh membunuh, semua orang harus melindungi seluruh hewan di dalam hutan.” Bila kisah ini kita terapkan di masa kini, maksudnya adalah dapatkah kita bervegetarian, meskipun hanya untuk satu hari, atau tiga hari, ataupun satu bulan? Pahala dari perbuatan ini sungguh besar, bagaikan pengampunan bagi semua makhluk sehingga mereka bisa hidup bebas lebih lama. Jasa pahala ini sungguh besar. Jasa pahala adalah berkah. Apabila berkah dari semua orang terhimpun, maka bencana pun akan lenyap. Karena memiliki tubuh jasmani, disertai adanya ketamakan dalam batin, maka manusia melakukan karma membunuh.
Jika selain tidak membunuh kita juga melepas makhluk hidup,//ini merupakan kebajikan. Tidak membunuh berarti menaati sila, namun itu pun belum cukup. Kita harus melakukan kebajikan, bukan hanya tidak membunuh, tetapi juga melindungi kehidupan. Inilah salah satu karma baik melalui tubuh. Kita pun hendaknya tak hanya tidak mencuri. Akibat ketamakan dalam batin, kita tidak bersedia hidup sederhana. Atau karena kita tidak bisa mengendalikan diri dari kebiasaan mencuri, berjudi,//minum minuman keras, memakai obat terlarang, dan sebagainya, membuat kita terpaksa mencuri atau merampok. Kasus-kasus seperti ini sering terjadi. Jadi, tindakan mencuri timbul akibat tabiat buruk dan noda batin kita. Jika kita memiliki kebiasaan buruk atau noda batin yang tebal, maka dengan sendirinya badan jasmani kita akan melakukan perbuatan jahat. akan melakukan perbuatan jahat seperti ini.
Karena itu, sebagai manusia, kita harus menaati peraturan. Dengan berlaku demikian, kehidupan sesungguhnya sangatlah sederhana, cukup makan 3 kali dan ada tempat bernaung. Berapa jumlah sandang, pangan, dan papan//yang kita butuhkan? Sesungguhnya tidaklah banyak. Karena itu, hidup sederhana pun sudah cukup. Bahkan ada orang yang meski hidup kekurangan, masih bisa berdana dan bersumbangsih. Lihatlah para insan Tzu Chi, tidak semuanya merupakan orang berada. Ada yang hidupnya sangat sulit, harus berjuang untuk mencari nafkah, namun tetap berdana dan bersumbangsih.
Mereka menyumbang dana amal setiap bulan dan melakukan praktik nyata daur ulang. Mereka juga berpartisipasi dalam Empat Misi Tzu Chi. Di dalam Tzu Chi, ada yang kaya materi sekaligus spiritual, ada juga yang miskin materi namun kaya batinnya. Mereka hidup dalam kesederhanaan, namun tetap dapat bersumbangsih//membantu sesama dengan penuh cinta kasih. Ini juga merupakan sebuah kebajikan. Jadi, bukan hanya tidak mencuri, tidak semata-mata menaati sila, mereka juga giat berbuat bajik dengan beramal. Berikutnya, mengenai perbuatan asusila,// ini berkaitan dengan hubungan pria dan wanita. Dalam norma masyarakat, sebuah keluarga yang terdiri atas satu suami dan satu istri adalah keluarga yang normal.
Namun, ada orang//yang tidak dapat mengendalikan berahinya. Ada huruf “pisau” pada huruf Mandarin “berahi”. Ini sungguh dapat melukai jiwa kebijaksanaan kita. Maka, selain tidak berbuat asusila, kita juga harus menjaga moralitas. Menjaga kesucian jiwa dan raga, Dengan demikian, jiwa dan raga menjadi jernih. Jadi, tubuh dapat melakukan 3 jenis kebajikan selain menghindari 3 kejahatan. Tiga kejahatan melalui tubuh menciptakan karma buruk. Jika tubuh dapat mempraktikkan tiga kebajikan, yakni tidak membunuh, tidak mencuri, dan tidak berbuat asusila, maka karma buruk akan terkikis. Untuk ucapan, selain tidak berkata kasar, berdusta, berkata-kata kosong, ataupun bergunjing, kita juga bisa menyampaikan Dharma, menyampaikan hal-haal baik yang kita dengar, atau menjadi jembatan bagi orang-orang yang sedang saling bertikai. Karena itu, relawan di Rumah Sakit Tzu Chi memiliki 4 pedoman perilaku, yaitu bermulut manis, murah senyum, penuh hormat, dan cekatan. Bermulut manis bukan berarti omong kosong, melainkan bertutur kata lembut. Pasien yang dirawat di rumah sakit hatinya sangat gelisah, takut, dan cemas. Kita harus bertutur kata yang baik dan menggunakan kebijaksanaan untuk menenangkan hati mereka.
Intinya, empat perbuatan buruk melalui ucapan harus kita lenyapkan, dan kita harus giat melakukan 4 kebajikan. Empat kejahatan melalui mulut Jika mulut dapat mempraktikkan empat kebajikan, yakni tidak berkata-kata kasar, tidak berdusta, tidak berkata-kata kosong, dan tidak bergunjing, Dengan demikian jumlahnya menjadi 7 kebajikan. Kita harus menyadari bahwa semua permasalahan berasal dari noda batin. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan merupakan tiga racun dalam batin. Jika 10 kejahatan bisa kita lenyapkan, maka kita tidak akan melanggar norma hidup. Jika selain tidak melanggar norma kita masih bisa berbuat baik, itulah yang disebut sepuluh kebajikan. Kebajikan inilah yang membuat kita terlahir kembali di alam manusia atau surga.
Sebaliknya, jika kita melakukan 10 kejahatan, atau melanggar 5 sila, atau melakukan 5 jenis karma berat, kita akan terhalang untuk terlahir//di alam manusia ataupun dewa. (Ada teks hilang) Sepuluh kebajikan merujuk pada: – Tiga kebajikan melalui tubuh: Tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila – Empat kebajikan melalui ucapan: Tidak berkata-kata kasar, tidak berdusta, tidak berkata-kata kosong, tidak bergunjing – Tiga kebajikan melalui pikiran: Tidak tamak, tidak membenci, tidak berpandangan salah Saudara sekalian, Dengan menjalankan 5 sila, kita dapat terlahir kembali sebagai manusia. Jika kita ingin memiliki cukup berkah untuk dengan terlahir di alam surga, maka kita harus menjalankan 10 kebajikan.
Dengan menjalankan 10 kebajikan dan 5 sila, ditambah dengan tekad yang kuat, kita dapat terbebas dari kelahiran kembali. Inilah yang disebut praktik kebajikan, dapat membebaskan kita dari kelahiran kembali. Tetapi, jika kita melekat pada kebajikan ini dengan sering berkata dalam hati, “Saya adalah orang yang baik, saya menjalankan 5 sila, juga melakukan 10 kebajikan; saya telah menolong orang lain,” maka ini justru akan menjadi penghalang bagi kita untuk mencapai pencerahan. Para Bodhisattva sekalian, bukankah saya sering mengatakan bahwa selain bersumbangsih tanpa pamrih,//kita juga harus bersyukur? Kita harus bersyukur sebab jika bukan karena keberadaan mereka, kita tidak punya kesempatan berbuat kebajikan.
Dalam melakukan kebajikan, teruslah maju dan jangan menoleh ke belakang. Janganlah kita melekat dan terus berpikir, “Saya telah menolong orang lain.” “Saya sudah banyak berbuat baik, mengapa masih tidak beruntung dan tidak mendapatkan apa yang diinginkan?” Janganlah kita berpikir demikian. Jika kita berpikir demikian, maka akan mengikis kebajikan itu sendiri. Kita harus bersumbangsih tanpa pamrih. Meski hanya berupa segelas air, orang lain akan tetap berterima kasih pada kita. Dan meski hanya berupa sepiring nasi, kita pun harus bersyukur pada sang penerima.
Singkat kata, janganlah bersikap sombong dan arogan dengan berpikir bahwa kita telah berbuat baik, karena ketika kesombongan muncul, maka semua pahala yang dilakukan akan lenyap, dan ia akan terus menghalangi praktik dan pencapaian kita di Jalan Bodhisattva. Karena itu, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menjaga hati dengan sebaik-baiknya. Memang kekotoran batin (penderitaan) Bila hendak dibahas, noda batin sangat banyak, noda ini juga sangat halus. Kita harus menutup “celah pikiran” rapat-rapat. Namun, tentu sebelum menutupnya, kita harus terlebih dahulu membersihkan debu dalam pikiran kita, barulah “celah pikiran” ini dapat ditutup rapat. Setelah “celah pikiran” tertutup rapat, noda batin pun tidak akan lagi mencemari batin kita. Semoga hati kita terbebas dari debu dan kotoran. Ini merupakan hal terpenting bagi kita//dalam mempelajari ajaran Buddha.