[ST-032] 三障滅除清淨現 Munculnya Kemurniaan di Kala Tiga Rintangan Lenyap
Saudara se-Dharma sekalian, hati kita masing-masing apakah telah dijaga dengan baik? Kita terus mengatakan bahwa segala sesuatu dipelopori oleh pikiran. Sebersit niat//dapat membawa kita mencapai kebuddhaan, dan sebersit niat juga dapat membawa kita pada 3 alam sengsara. Jika dapat menjaga kemurnian hati, pada dasarnya setiap orang memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Jadi, pada dasarnya semua orang adalah Buddha. Kita sering mengatakan, “Jadikan hati Buddha sebagai hati sendiri.” Hati setiap orang pada dasarnya penuh welas asih. Hati yang penuh welas asih ini//hendaknya dipertahankan dan dijaga dengan baik agar tetap jernih dan murni. Dengan demikian, kebijaksanaan kita akan dapat melihat segala hal di dunia dengan jelas dan menyeluruh, tidak akan disesatkan oleh segala permasalahan duniawi. Teringat saat berencana mendirikan RS di Hualien, saya sering berkunjung ke Taipei. Di sana saya membabarkan Sutra.
Di sana saya bertemu ibu-ibu dengan berbagai status dan latar belakang. Ada yang berprofesi sebagai pekerja kasar, ada pula yang merupakan istri pengusaha besar. Latar belakang mereka sungguh beragam. Para istri pengusaha selalu memiliki banyak bahan pembicaraan. Mereka sering bercerita, “Waktu itu saya pernah menghadiri jamuan bersama suami saya.” “Tadinya, saya pikir jika pergi dengan mengenakan gaun ini sudah sangat cantik.” “Saya pikir berlian saya sudah cukup besar.” “Tetapi, saya kaget saat melihat orang memakai gaun yang konon bernilai 200 ribu dolar NT lebih.” “Saya tak mungkin menandinginya.” “Saya punya 5 karat, tetapi ia punya 7 karat.” Mereka tidak habis-habisnya membandingkan. Saat mereka mengeluhkan hal-hal tersebut, saya terus mendengarkan dan berkata, “5 karat dan 7 karat, sebenarnya seberapa jauh bedanya?” “Sewaktu kamu membeli barang tersebut, berapa banyak uang yang sudah dihabiskan?” Ia menjawab, “Saya juga tidak tahu, waktu itu suami saya entah menghabiskan berapa juta dolar NT.” Jutaan dolar NT dihabiskan hanya untuk perhiasan di tangan. Saya berkata, “Kamu memakainya begitu lama, tetapi sesungguhnya saya tidak melihatnya.” “Coba saya lihat sebentar.” Ia pun mengulurkan tangannya, kuku-kukunya dibentuk hingga runcing dan dicat hingga begitu indah. Saat itu, saya melihat sebentar dan berkata, “Ya, saya lihat memang indah.” “Kamu yang kenakan, tetapi saya sekarang tahu harganya, dan kini saya juga tahu seperti itulah berlian.” “Saya kini tahu di dunia ini ada benda yang begitu bernilai.” “Sudah cukup bagi saya untuk tahu dan juga melihatnya.” “Tetapi, kamu yang mengenakannya//mungkin bisa terancam.” Salah satu dari mereka, ada seorang yang benar-benar setelah pukul 2.30 siang setiap harinya pasti tidak lagi membuat janji dengan orang lain. Ia hanya bertemu orang pada pagi hari, sore harinya tidak akan keluar lagi. Saya bertanya, “Mengapa?” Ia menjawab, “Mendengar yang Master bilang tadi, saya merasa sangat malu.” “Yang Master bilang, itulah yang saya alami.” Saya kembali bertanya mengapa. Ia pun mengulurkan tangannya. Ia bukan hanya punya yang berwarna putih, melainkan masih ada yang berwarna hijau, ada pula yang berwarna merah, semuanya besar. Selain itu, di dadanya pun penuh perhiasan. Yang duduk di sampingnya adalah anggota komite yang membawanya datang. Ia berkata, “Master, tahukah Anda semua perhiasan di tubuhnya jika dihitung-hitung berapa nilainya?” Saya balik bertanya, “Berapa?” 20 hingga 30 juta dolar NT (Rp9 miliar). Kalian tentu tahu bahwa pada saat itu saya sedang berencana membangun rumah sakit. Mendengar nilai 20 hingga 30 juta dolar NT, saya berpikir mengapa ada manusia yang dalam hidupnya bisa mengenakan perhiasan hingga bernilai 20–30 juta dolar NT. “Benar,” ia berkata, “Sekarang saya baru sadar dan sangat malu.” Saya pun langsung bertanya, “Mengapa malu?” Ia berkata, “Saya tak punya kegemaran apa pun.” “Saya hanya suka membeli permata, suka membeli giok, suka membeli mutiara.” “Perhiasan saya sangat banyak.” “Setiap hari saya menyesuaikan pakaian saya// dengan perhiasan yang dikenakan.” “Saya menyesuaikan pakaian dengan perhiasan, yang merah, yang hijau, dan yang putih.” “Semuanya disesuaikan dengan warna pakaian.” “Jadi, jika saya membeli baju baru, saya pasti harus pergi ke toko perhiasan.” “Itulah sebabnya, saya bisa memiliki banyak perhiasan.” “Keluar rumah pun saya sangat khawatir, khawatir jika orang lain tahu nilai perhiasan saya, saya akan terancam saat keluar rumah.” Anggota komite di sampingnya pun berkata, “Buat apa takut?” “Ke mana kamu pergi, ada pengawal dan sopir, buat apa takut?” Wanita ini menjawab, “Kamu tidak tahu, segala kemungkinan bisa terjadi.” Kejadian ini sangat berkesan bagi saya. Perhiasan mulanya berasal dari bumi dan sama-sama berupa batu, ada yang berwarna putih, ada yang berwarna biru, ada yang berwarna merah. Ada yang dinamakan batu safir, batu mirah delima, atau berlian. Namanya berbeda-beda, tetapi semuanya sama-sama batu. Jadi, saat itu saya mengatakan, “Sungguh kasihan.” “Wanita sungguh kasihan.” “Sesungguhnya, mengapa harus mengenakan serpihan batu di tubuh?” “Meski kalian datang mengenakan pakaian indah dan memakai banyak perhiasan, bagi saya tidak ada yang luar biasa.” “Saya tidak merasa semua itu mewah.” “Tetapi, jika kamu memberi tahu saya nilai perhiasan ini, saya paling-paling akan melihatnya sebentar, sekadar ingin tahu.” “Itu saja.” “Yang akan merasa terancam tetaplah kalian, sedangkan saya hanya tinggal menikmatinya.” “Jadi, saya sangat berterima kasih pada kalian.” Setelah mendengarnya, mereka merasa,//“Benar juga, mengapa kita harus saling membandingkan?” “Jika orang lain mengulurkan tangannya dan bilang perhiasannya lebih besar dari milik kita, kita cukup menikmatinya sebentar saja.” Jika kita dapat mengubah pola pikir, maka sesungguhnya, dari semua benda di dunia, manakah yang patut kita lekati dan risaukan? Kita hanya perlu tahu bahwa ada benda seperti itu, tidak perlu sampai harus memilikinya. Jika kita memilikinya, maka kerisauan akan timbul. Kita akan risau jika tak dapat memiliki, dan juga risau karena takut kehilangan. Kita ingin memiliki dan takut kehilangan. Inilah sifat makhluk awam. ************* Jika pikiran tamak dan selalu ingin memiliki, maka kerisauan pasti muncul. Jika pikiran tak mengharapkan apa pun, kita akan dapat mengenal rasa puas dan senantiasa bahagia. **************** Sesungguhnya, terhadap segala sesuatu di dunia, kita dapat menggunakan kebijaksanaan dalam memandang semuanya. Kita dapat memahami banyak hal dan memperluas wawasan kita. Jika wawasan ini dapat diubah jadi kebijaksanaan, maka dengan segala yang dimiliki, kita hendaknya dapat bersumbangsih. Saat bersumbangsih dengan segala yang dimiliki, kebahagiaan yang ada akan terus terasa. Saya masih ingat, pada masa saya hendak membangun rumah sakit, ada seorang wanita mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Ia menaiki anak tangga. Saat itu, di jalan Jilin, karena banyak orang datang//untuk mendengar ceramah saya, maka elevator pun penuh. Karena itu, ia menaiki anak tangga dengan napas terengah-engah sampai lantai 7. Melihat begitu banyak orang, ia lalu berkata, “Master, mohon beri saya waktu beberapa menit saja.” “Saya harus segera pulang.” Sejujurnya, saat itu saya langsung berpikir apakah ia memiliki masalah yang memerlukan bantuan kita. Saya pun mendengarkan dengan saksama, ia berkata, “Saya tidak apa-apa, saya hanya harus segera memberikan benda ini kepada Master.” “Setelah itu saya harus segera pulang.” “Perjalanan saya memakan waktu dua jam.” Saya bertanya, “Anda datang dari mana?” Ia menjawab, “Saya dari Sanchong, dekat Luzhou.” “Rumah saya ada di perbatasan antara Sanchong dan Luzhou.” Saya bertanya,“Anda naik apa?” “Sepeda,” jawabnya. “Saya berangkat sekitar pukul 5 pagi//karena takut terlambat.” “Saya sudah mengayuh dengan cepat.” Ia membawa benda yang dibungkus kertas koran. Ia berkata,“Saya hanya ingin mengantarkan ini untuk Master.” Selapis demi selapis kertas korannya dibuka, dan terlihatlah sebuah kaleng minuman ringan. Saat saya memegangnya, kaleng ini terasa berat. Saya berpikir, “Sekaleng minuman ringan, mengapa harus khusus diantarkan jauh-jauh dengan mengayuh sepeda selama 2 jam lebih?” “Ada apa sebenarnya?” Begitu sampai ke tangan saya, terasa berat, dan ketika dibuka, ternyata isinya adalah emas batangan. Belasan batang emas diletakkan di dalam kaleng. Saya sangat terkejut, lalu bertanya, “Apa ini?” Ia berkata, “Master, Anda terima saja.” “Jangan khawatir, ini adalah hasil kerja keras saya sendiri.” “Sebenarnya, saya hendak membeli rumah karena seumur hidup ini hanya bisa menyewa dan selalu tinggal di loteng.” “Saya memiliki empat orang anak.” “Saya dan suami bekerja sebagai buruh kasar.” “Kami hanya berharap punya rumah sendiri.” Saya menjawab, “Kalau begitu, seharusnya Anda bisa segera membeli rumah dengan emas ini.” ini hanya beberapa belas batang, harus mengumpulkan sampai kapan baru bisa membeli sebuah rumah?” “Tetapi, Master, Anda hendak membangun RS.” “Dan setelah berdiri, RS bisa langsung digunakan.” “Karena itu, saya buru-buru membawa emas ini.” “Saya sudah berpikir masak-masak.” “Membeli rumah sendiri tidak jauh beda dengan menyewa.” “Saya sering mendengar rekaman ceramah Master.” “Saya sudah paham, Master tenang saja.” Saya lalu bertanya, “Suami Anda mengetahuinya?” Ia menjawab, “Sudah saya bicarakan dengannya, ia sudah tahu dan sangat setuju.” “Master hendak mendirikan rumah sakit//untuk menolong orang, apalagi sekarang proyek sudah dimulai, pasti membutuhkan banyak dana.” Ada banyak orang di sana. Ada yang gemar membanding-bandingkan berlian dan permata kepunyaan mereka, ada yang gemar memakai perhiasan bernilai jutaan dolar NT di jari maupun di dada. Namun, ada pula yang harus membanting tulang//dan menabung sedikit demi sedikit hanya untuk membeli sebuah rumah. Tidak disangka mereka begitu berani. Hasil jerih payah mereka selama puluhan tahun, semuanya disumbangkan. Ini sungguh mencengangkan banyak orang dan sangat menyentuh. Wanita ini tak bicara panjang lebar, hanya berkata, “Saya harus segera pulang.” “Jika jalan sekarang, mungkin tiba pukul 8 atau 9.” Ia pergi dengan terburu-buru. Sampai saat ini, jika menceritakan kisah ini, masih ada rasa haru dalam hati saya. Inilah kebijaksanaan. Inilah keuletan. Inilah cinta kasih universal. Kelihatannya ia hanya wanita biasa yang harus bekerja membanting tulang, namun tak disangka ia rela berdana sebesar itu. Dibandingkan dengan wanita ini, saya merasa wanita-wanita kaya tadi adalah orang kaya yang miskin batinnya. Mereka semua masih merasa kekurangan. Ketika melihat wanita yang datang dari jauh tadi, saya mengira ia datang untuk meminta bantuan. Tak disangka, ia datang untuk membantu kita. Inilah orang yang kaya meski hidup sulit. Di sinilah letak nilai kehidupan manusia. Kita harus memiliki hati yang penuh syukur, bersyukur dapat terlahir sebagai manusia, terlebih lagi bersyukur atas adanya jalinan jodoh untuk bertemu ajaran Buddha. Kita harus lebih bersyukur lagi//karena selain bertemu ajaran Buddha, kita dapat berjalan di Jalan Bodhisattva. Buddha bagaikan Tabib Agung. Mungkin Anda dan saya pernah mengalami penyakit batin. Beruntung, kita dapat bertemu Tabib Agung ini. Obat yang diberikan Buddha bagi kita adalah Dharma yang luar biasa. Jika kita berobat ke dokter dan dokter telah memberikan obat pada kita, maka kita harus segera meminumnya. Dengan minum obat, baru penyakit dapat sembuh. Demikian pula dengan penyakit batin kita. Ketika batin diliputi noda dan kerisauan, maka setelah mendengar ajaran Buddha, kita harus mempraktikkannya untuk membuka//satu per satu belenggu batin ini. Setelah mendengar begitu banyak ajaran Buddha, masa, pandangan kita masih belum terbuka? Jika dapat berpandangan terbuka, kita akan jauh dari noda batin. Jadi, kita harus dengan penuh syukur menerima ajaran Buddha. Kita harus mempraktikkannya dalam keseharian. Jika kita menerima ajaran Buddha, namun tidak mempraktikkannya dalam keseharian, maka ini bagai berobat ke dokter,//tetapi tidak menebus obat. Bagaimana penyakit bisa sembuh? Setelah pergi periksa ke dokter, kita harus menebus obat, dan meminum obat itu. Jangan hanya menebus, tetapi tidak meminumnya. Janganlah berpikir, “Kini saya sudah mengerti ajaran Buddha, saya sudah membaca banyak Sutra, dan sudah menghafalnya di luar kepala.” Jika Anda membaca banyak Sutra, tetapi hanya menghafalnya, maka ini bagaikan setelah menebus obat, Anda hanya tahu obat ini untuk sakit kepala, obat itu untuk menyembuhkan radang, tetapi tidak meminumnya. Penyakit tetap tidak akan sembuh. Jadi, kita harus tahu bahwa kita menderita penyakit, harus periksa ke dokter, menebus obat dan meminumnya. Kita harus memahami bahwa// semua makhluk mewarisi karma. Karena dulu telah melakukan banyak karma buruk, kita harus sungguh-sungguh mencari Dharma. Setelah Dharma meresap ke dalam batin kita, kita harus segera mengubah tabiat buruk. Dengan begitu, barulah karma buruk dapat terkikis. Jika sebaliknya, kita akan semakin banyak menciptakan dan mengakumulasi karma buruk. Dengan demikian,//karma buruk selamanya tak akan terkikis. ******************* Oleh sebab itu, para Buddha dan Bodhisattva mengajarkan metode terampil dan pertobatan agar Tiga Rintangan ini terkikis. ******************* Oleh sebab itu, para Buddha dan Bodhisattva mengajarkan metode terampil dan pertobatan agar Tiga Rintangan ini terkikis. Mereka menggunakan berbagai metode terampil//untuk membimbing sesuai sifat dan kemampuan kita agar kita dapat menerima berbagai ajaran yang semuanya bertujuan agar kita bertobat. Pertobatan merupakan pemurnian. Ketika kita menemukan selapis demi selapis kekeruhan dalam batin kita, kita harus sungguh-sungguh membersihkannya. Karena sudah mengetahui diri sendiri bersalah, maka kita harus segera bertobat, sama dengan jika kita tahu suatu tempat itu kotor, Dengan demikian, barulah kotoran akan lenyap. **************** Praktisi Buddhis harus senantiasa bertobat dengan hati yang tulus untuk mengikis noda batin, karma, dan buah karma. Ketika Tiga Rintangan ini lenyap, maka tercapailah kemurnian. ****************** ************** Tiga Rintangan ini terkikis dan enam indra, sepuluh kejahatan, serta 84.000 kekotoran dimurnikan. ***************** “Tiga Rintangan ini terkikis serta 84.000 kekotoran dimurnikan.” Jika Tiga Rintangan ini terkikis, 6 indra kita akan dimurnikan dari 10 kejahatan. Kita semua sudah tahu tentang enam indra, yakni mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Saat 6 indra ini mengalami kontak dengan 6 objek, timbullah 6 kesadaran dalam batin kita. Enam indra meliputi: Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran Enam objek meliputi Rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, objek-objek pikiran Manusia bergantung pada fungsi enam indra untuk membedakan enam objek sehingga melahirkan enam kesadaran. Enam kesadaran: – Kesadaran melihat – Kesadaran mendengar – Kesadaran mencium – Kesadaran mengecap – Kesadaran menyentuh – Kesadaran berpikir Seperti wanita-wanita kaya tadi, mereka memakai berbagai perhiasan di tubuh. Mereka memiliki banyak perhiasan, ketika memakai baju dengan warna tertentu, mereka memilih perhiasan yang sesuai. Mereka rela menghabiskan uang demi perhiasan. Namun, jika diminta berdana, kesediaan mereka pasti terbatas. Begitulah mereka melewati hari-hari, tak berani keluar rumah pada malam hari, takut dirampok. Setelah melihat dengan indra mata, timbullah ketamakan pada objek rupa sehingga terjerumus dalam pandangan salah. Jika benda-benda tersebut disumbangkan, betapa banyak kebajikan yang dapat dibuat. Namun, akibat adanya ketamakan, maka timbullah sifat kikir sehingga tidak rela memberi, karena benda-benda itu adalah kesayangannya. Benda kesayangan tentu amat sulit direlakan. Inilah tabiat manusia. Karena telah tertanam di dalam kesadaran, kemelekatan ini sangat sulit dihilangkan. Ketika mata mengalami kontak dengan objek, sangat sulit untuk tidak timbul ketamakan karena tabiat ini sejak masa tanpa awal sudah tertanam dalam kesadaran kita. Tabiat ini terus ada. Karena itu, saat indra bersentuhan dengan objek, kesadaran pun bereaksi dan tabiat lama ini pun muncul kembali, sehingga timbullah ketamakan dan sifat kikir. Kita tahu bahwa enam indra ini dapat membawa pada sepuluh kejahatan. Kita pernah membahas sepuluh kejahatan, yakni 3 melalui tubuh, 4 ucapan, dan 3 pikiran. ******************** Sepuluh Kejahatan Tubuh: Membunuh, mencuri, berbuat asusila Ucapan: Bertutur kata kasar, berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing Pikiran: Ketamakan, kebencian, kebodohan Tiga kejahatan melalui tubuh adalah membunuh,//mencuri, dan berbuat asusila. Empat kejahatan melalui ucapan adalah berdusta, berkata-kata kosong, bergunjing,//dan bertutur kata kasar. Semua ini disebut 7 jenis kejahatan. 7 jenis kejahatan ini bagaikan 7 berkas sinar. Semua ini bermula pada pikiran. Ketika ketamakan timbul dalam batin, 7 kejahatan ini tercipta dengan cepat bagai sinar. Lihatlah, saat menjalani rontgen di rumah sakit. Kita hanya perlu berdiri sebentar, mungkin hanya selama satu tarikan napas, proses rontgen pun selesai. Sangat cepat, hanya selama satu tarikan napas. Beginilah proses radiasi sinar X. Demikian pula dengan pikiran kita, membawa pada terciptanya karma dengan cepat. Dalam satu tarikan napas, tujuh jenis kejahatan dapat tercipta, tiga melalui mulut, empat melalui ucapan. Karma buruk ini dapat tercipta bersamaan. Semua ini tidak terlepas dari Tiga Racun Batin. Tiga racun dalam pikiran ini dapat membuat tubuh dan ucapan kita//menciptakan kejahatan. menciptakan karma buruk. Jika semuanya digabungkan, lengkaplah sepuluh kejahatan. Begitu tubuh dan pikiran//bersentuhan dengan kondisi luar, badan jasmani dan kondisi, sepuluh kejahatan dapat tercipta dengan cepat. Jadi, jika kita dapat mengikis habis Tiga Rintangan, maka dengan sendirinya keenam indra kita, yakni mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, meski mengalami kontak dengan dunia luar, tidak akan terbelenggu maupun ternoda. Kita dapat melihat segala kondisi dengan jelas. Orang bijaksana mampu memandang bahwa setiap kondisi yang ia hadapi bagai tengah membabarkan Dharma baginya. Inilah sikap orang bijaksana dalam melihat segala sesuatu. Lihatlah para Pratyekabuddha. Pratyekabuddha tercerahkan//karena mengamati segala kondisi seperti pergantian musim//dari musim semi, panas, gugur, hingga dingin. Melihat musim datang dan pergi silih berganti, calon Pratyekabuddha menyadari ketidakkekalan, memahami bahwa tubuh ini tak berhenti berproses dan kehidupan tidaklah kekal. Dengan begitu, ia pun tercerahkan. Inilah yang disebut kebijaksanaan. Pratyekabuddha adalah orang suci yang muncul pada masa tidak adanya seorang Buddha di dunia. Ia mengandalkan kekuatan sendiri untuk mencapai pencerahan dan berhasil terbebas dari lingkaran kelahiran kembali. ****************** Orang bijaksana melihat segala sesuatu dengan sangat jelas, berbeda dengan mereka yang diliputi kebodohan. Orang yang diliputi kebodohan akan selalu terbelenggu oleh kondisi luar. Karena itu, di tengah belenggu karma ini, mereka terus menciptakan karma buruk baru. Karma buruk ini terus terakumulasi. Sama seperti saat kita meminjam uang, bunganya akan terus bertambah. Analogi ini dapat melukiskan akumulasi karma. Utang tentu harus dibayar. Jika Anda menanam karma buruk,//tentu akan menuai buahnya. Prinsipnya sama. Jadi, jika Tiga Rintangan dapat kita kikis habis, 6 indra, 10 kejahatan, dan 84.000 kekotoran akan termurnikan. ******************** Sejak lama saya sudah mengatakan bahwa Dharma bagaikan air. Batin semua makhluk diliputi kekeruhan. Air Dharma ini dapat menyucikan pikiran. Air Dharma ini sangat sederhana, dan pikiran pada hakikatnya murni. Ketika hati bersatu dengan air Dharma, bukankah berkah dan kebijaksanaan//menjadi lengkap? Dengan pikiran yang murni dan penuh kasih, Anda dapat mencipakan berkah. Inilah hati yang penuh cinta dan welas asih, sedangkan air Dharma ini mengandung sukacita dan keseimbangan batin. Sukacita dan keseimbangan batin//adalah wujud kebijaksanaan. Dalam bersumbangsih menciptakan berkah, kita juga harus penuh sukacita dan ikhlas. Jadi, mengembangkan berkah dan kebijaksanaan//berarti mengembangkan cinta, welas asih,//sukacita, dan keseimbangan batin. Dengan cinta dan welas asih,//kita menciptakan berkah. Inilah Dharma. Jadi, ketika hati bersatu dengan Dharma, atau ketika pikiran berpadu dengan air Dharma, bukankah pikiran kita akan jernih setiap hari? Semua makhluk di enam alam kehidupan diliputi kegelapan dan noda batin, terus berputar-putar dalam lingkaran kelahiran kembali sesuai karmanya. Hanya dengan air Dharma, batin mereka dapat disucikan. Dengan demikian, 84.000 kekotoran dapat termurnikan. Sesungguhnya, kekotoran ini adalah noda batin. Ketika ada celah dalam pikiran kita, noda batin akan masuk. Karena itu, kini kita harus berusaha menutup satu demi satu pintu noda batin ini. Bukan hanya menutupnya, bahkan sampah di dalamnya pun harus dibuang. Jika kita dapat melakukan ini, batin kita akan bersih dan jernih. Noda batin sangatlah halus. Tadi kita membahas 6 indra dan 10 kejahatan. Kedua hal ini adalah aspek yang lebih kasar, sedangkan 84.000 kekotoran adalah aspek yang lebih halus, sulit untuk dibabarkan jenisnya satu per satu. sehingga karma buruklah yang terjadi. Kekotoran ini sangatlah halus, bagai debu yang dapat masuk melalui celah. Jika kita dapat senantiasa membasahi batin kita dengan air Dharma, maka meski ada angin bertiup, debu-debu ini tak akan beterbangan. Apa pun kondisi yang kita hadapi, hati kita akan tetap hening. Jadi, dalam hati kita harus ada Dharma, barulah ketika angin berhembus, debu-debu batin ini tak akan beterbangan, dan batin kita pun tak akan lagi tertutup oleh noda batin. Sebelumnya kita pernah membahas hal ini. Jadi, 84.000 kekotoran ini hanya dapat dibersihkan dengan air Dharma. Setelah mengetahui semua ini, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan ini untuk bertobat dengan semangat yang teguh. Kita telah memiliki jalinan jodoh yang istimewa karena telah terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha. Ini adalah jalinan jodoh yang istimewa. Karena itu, kita harus segera menggenggamnya. Inilah yang disebut memanfaatkan. Dengan memanfaatkan jalinan jodoh istimewa ini, kita dapat mengembangkan tekad Mahayana. Harap kalian dapat saling memberi dorongan, saling mendukung, dan saling menjaga tekad yang baik ini.