[ST-036] 除滅三障的七種心(一) Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Pertama)
Saudara Se-Dharma, waktu berlalu dengan cepat. Menit dan detik terus bergulir dan terlewati. Kehidupan kita adalah kendaraan yang terbaik untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Dengan adanya kehidupan, kita memiliki kesempatan mengenal Dharma. Namun, kehidupan tidaklah kekal. Usia terus berkurang seiring berjalannya waktu. Karena itu, kita harus menghargai waktu dan menggunakan kehidupan kita ini untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan serta membangkitkan pikiran yang jernih. Kita mengetahui bahwa noda batin menutupi hakikat sejati diri kita yang murni. Lalu, bagaimana cara untuk mengikisnya? Buddha menggunakan beragam metode terampil untuk membimbing kita mengikis noda batin.
Hal ini perlu kita pelajari dengan sepenuh hati agar kita dapat memahami cara// untuk mengikis noda batin. Ada 7 langkah untuk mengikis noda batin. Tujuh Kondisi Pikiran untuk mengikis Tiga Rintangan: Pertama, rasa malu; kedua, rasa takut; ketiga, berpaling dari keburukan; keempat, membangkitkan Bodhicitta; kelima, memandang setara semua makhluk; keenam, rasa syukur pada Buddha; ketujuh, pengamatan pada kosongnya hakikat kejahatan. Langkah pertama adalah harus memiliki rasa malu. Dengan memiliki rasa malu, akan menimbulkan rasa takut pada buah karma. Kita perlu memahami Tiga Rintangan, yaitu noda batin, karma, dan buah karma. Akibat adanya kegelapan batin,// maka kita pun menciptakan karma. Dengan menciptakan karma,// maka kita harus menerima buah karma. Ada karma yang baik dan buruk. Karma baik mendatangkan berkah, karma buruk mengundang bencana.
Karena itulah kita perlu memahami bahwa sejak masa tanpa awal, karma telah menyebabkan kita berputar dalam lingkaran kelahiran kembali tanpa henti dari kehidupan ke kehidupan. Pada tiap kelahiran, kita membawa karma lampau dan bertemu dengan kondisi pendukungnya. Saat benih karma lampau yang terbawa bertemu dengan kondisi pendukungnya, maka pada saat itu kita dapat kembali menciptakan karma. Karma yang baru tercipta itu pun menjadi benih yang akan terakumulasi untuk tumbuh berbuah di masa mendatang. Demikianlah seterusnya tanpa pernah berakhir. Kini kita telah menyadarinya. Buddha membuka banyak sekali metode terampil untuk menyadarkan kita, maka kita harus terlebih dahulu membangkitkan rasa malu dari lubuk hati yang terdalam.
Setiap orang harus memiliki rasa malu bahwa kita memiliki banyak kekurangan// dibanding orang lain; menyadari diri sendiri diliputi kebodohan batin sementara orang lain dapat melihat jelas. Orang lain dapat melihat jelas jalan kebenaran// dan teguh menapakinya, sebaliknya kita justru//tidak sungguh-sungguh berusaha di jalan kebenaran yang lapang ini, sehingga tidak mengalami kemajuan. Dengan kondisi demikian, kita pun selayaknya merasa malu, karena diri sendiri masih kurang dari orang lain, dan karena diri kita terus melakukan kesalahan. Maka, kita harus senantiasa memiliki rasa malu. Dengan memiliki rasa malu,// barulah akan timbul rasa takut. Kita perlu memahami, mengapa kita perlu merasa takut?
Karena kita meyakini hukum sebab akibat. Kita harus meyakini apabila berbuat karma buruk kita akan terjatuh ke alam neraka. Hukum ini berlaku bahkan bagi murid Buddha sendiri, tak terkecuali bagi Nanda, saudara sepupu Buddha sendiri. Meski kehidupan manusia// adakalanya penuh kenikmatan, namun Buddha berharap agar keluarga dekat-Nya dapat terbebaskan selamanya dari lingkaran kelahiran kembali dan ketersesatan di enam alam kehidupan. Beliau berharap orang-orang terdekat-Nya juga dapat meraih pembebasan sejati. Karena itu, Beliau menggunakan metode terampil membawa Nanda ke vihara dan menjadi seorang bhiksu.
Namun, karena hati Nanda masih melekat pada berbagai keinginan duniawi, Buddha kembali menggunakan metode terampil untuk menunjukkan padanya bahwa orang-orang yang melakukan perbuatan baik hanya akan terlahir kembali di alam surga dan menikmati kebahagiaan surgawi, sementara jika pikiran seseorang tidak benar maka semakin tinggi kedudukan dan kekuasaan seseorang, karma buruk yang diciptakan pun semakin banyak dan bila orang itu tak berhati-hati, ia akan terlahir kembali di alam neraka. Lihatlah, Buddha ingin menunjukkan pada Nanda bahwa dalam kehidupan di dunia berkah dan bencana datang silih berganti. Dan Buddha berharap Ananda dapat terbebaskan Dan Buddha berharap Nanda dapat terbebaskan dari penderitaan di enam alam kehidupan ini. Karena itu, berharap Nanda dapat membangkitkan// rasa malu.
Orang lain bisa menenangkan diri dan berkonsentrasi melatih diri dengan damai, mengapa Nanda tidak bisa? Setelah melihat alam surga dan neraka, khususnya kondisi di alam neraka, dalam hati Nanda timbul rasa takut. Dengan adanya rasa takut setelah mengetahui penderitaan di 3 alam rendah, maka ia mulai memiliki hati yang berpaling dari kesenangan duniawi. Maka, yang kedua adalah rasa takut, dan ketiga adalah hati yang berpaling. Berpaling dari apa? Berpaling dari segala suka dan duka duniawi. Ada orang yang meski hidupnya menderita, namun ia belum juga tersadarkan. Ia malah mempertanyakan, “Mengapa kemalangan menimpa saya?” “Mengapa?”
Karena itu, dalam hatinya pun timbul rasa iri dan dengki terhadap kehidupan. Ia merasa iri, mengapa orang lain dapat hidup senang dan serba berkelimpahan? Selain merasa iri, ia juga merasa dengki. Adanya perasaan seperti ini dapat menimbulkan sikap menyalahkan kondisi. Sikap tidak dapat berintrospeksi diri ini membuat mereka membenci hidup dan dunia. Saat timbul rasa takut terhadap penderitaan di tiga alam rendah, pikiran untuk berpaling akan timbul. Setelah melihat penderitaan, mereka yang tidak sadar akan membenci dunia ini, sedangkan mereka yang sadar akan membangkitkan Bodhicitta dan masuk dalam Jalan Bodhisattva. Dalam kitab sejarah Tzu Chi, ada banyak kisah nyata kehidupan manusia. Ada seorang bapak bernama Qiu Wen-ji yang tinggal di wilayah selatan Taiwan. Ketika saudara sekalian mendengar nama ini tentu masih banyak yang mengingat dirinya. Kehidupan yang dilaluinya sungguh keras. Saat kecil, ia diangkat anak oleh keluarga lain.
Orang tua angkatnya tidak memiliki anak sehingga mengadopsinya. Namun, kemudian orang tua angkatnya melahirkan seorang anak. Dan mereka mulai memperlakukan anak angkat ini dengan buruk. Ia diperlakukan buruk sejak kecil hingga dewasa. Saat ia masih kecil, ia hanya disuruh bekerja, tetapi tak diberi makan. Ketika ia disuruh memelihara ayam, karena lapar ia memakan pakan ayam dan ia dipukuli karenanya. Sejak kecil, ia sungguh tumbuh dalam kondisi yang keras. Maka, selama hidupnya ia tidak pernah merasakan penghargaan sedikit pun dari orang lain karena ayah angkatnya selalu menyebutnya sampah. Maka, ia pun beranggapan bahwa dirinya memang sampah. Demikianlah ia tumbuh dewasa. Setelah ia dewasa, orang tua angkatnya pun mencarikan jodoh. Mereka mencarikannya jodoh dengan maksud agar memperoleh menantu yang dapat membantu melayani sang mertua.
Maka, mereka mencarikan jodoh seorang anak perempuan kerabatnya, dan menjadikannya menantu. Namun, mertua ini, meski sang menantu berasal dari kerabatnya sendiri, apakah ia lantas menyayanginya? Sama sekali tidak. Karena tidak menyukai putranya yang bukan anak darah dagingnya sendiri, ia pun memperlakukan menantunya sama buruknya seperti perlakuan terhadap putranya. Ia merasa putranya telah “dibeli” dengan uang, begitu pun menantunya, telah “ditukar” dengan mas kawin. Karena itu, ia tidak menyukai putranya,// maupun menantunya, mempekerjakan mereka, mempermalukan mereka, dan menyiksa mereka. Sama sekali tidak memberi mereka sedikit pun kedamaian. Hingga, mereka diam-diam meninggalkan rumah. Namun, akhirnya sama saja. Pada suatu hari adiknya yang telah dewasa mengalami kecelakaan lalu lintas dan tidak dapat disembuhkan. Ibu angkatnya yang sangat percaya takhayul//mencari orang pintar.
Orang pintar ini cukup baik hati. Mengetahui perlakuan buruk suami istri ini// terhadap anak angkat mereka, ia pun berkata, “Jika Anda ingin putra Anda sembuh, dewa penolong baginya adalah Qiu Wen-ji.” “Jika ia dan istrinya kembali ke rumah dan Anda memperlakukan mereka dengan baik, maka jiwa putra Anda akan terselamatkan.” Ibu angkat ini berpikir, “Asalkan putra saya dapat disembuhkan, saya akan memohon mereka untuk pulang.” Qiu Wen-ji dan istrinya berhati baik. Dahulu mereka pergi dengan diam-diam, tetapi sekarang ayah dan ibu angkatnya bersikap baik padanya, maka demi adik laki-lakinya yang juga sangat disayanginya, ia dan istrinya memutuskan untuk pulang. Begitu pulang ke rumah, apakah orang tua angkatnya menunjukkan// rasa terima kasih dan memperlakukan mereka dengan baik serta menganggapnya bagian dari keluarga? Malah banyak sekali pekerjaan yang dibebankan// pada mereka. Tahun-tahun berlalu, usia orang tua angkatnya makin lanjut. Saat itu, yang paling mereka khawatirkan adalah apakah kelak rumah dan harta mereka setelah mereka meninggal akan direbut oleh Qiu Wen-ji dari tangan putra kandungnya.
Karena itu, mereka pun memakai seribu satu cara untuk menyiksa Qiu Wen-ji dan istri, Apalagi karena putranya telah sembuh, ibu angkatnya kembali mengusir mereka. Dan pada kali ini pun, Qiu Wen-ji menerima dengan ikhlas. Ia bekerja sangat keras, namun sewaktu bekerja, ia sering mendengar bagaimana ibu angkatnya setelah mengusirnya dari rumah, juga menyebarkan cerita buruk tentangnya. Ia memberi tahu warga desa, “Jangan mempekerjakan anak ini, dia adalah seorang anak yang sangat tidak berbakti.” Ia menyebarkan banyak hal buruk tentangnya, sehingga semua orang di desa tersebut meski ada yang tahu betapa menderita dirinya, namun mereka sadar bila mempekerjakannya, akan dipersalahkan oleh orang tua angkatnya. Karena itu, tiada yang berani mempekerjakannya. Begitulah ia tak memperoleh pekerjaan. Sementara, setelah keluar dari rumah, istrinya melahirkan seorang anak dan membutuhkan biaya hidup yang besar, dan ia pun bekerja sebagai buruh di pelabuhan.
Saat itulah ia mulai minum alkohol, menjadikan alkohol sebagai tempat pelarian, menyerah terhadap hidupnya, dan mabuk-mabukan setiap hari. Ia pulang ke rumah dalam kondisi mabuk lalu memukuli istri dan anaknya. Ia sering kali menceritakan kisah tersebut saat mengantar relawan lain pulang ke Griya Jing Si. Kemudian ia didiagnosis menderita penyakit lever yang kondisinya sudah sangat parah. Namun, ia masih terus minum dan memukuli istri-anaknya, sampai anaknya tumbuh dewasa. Ketika sang anak menemukan seorang kekasih, keluarga perempuan itu tidak setuju bila anak mereka menikahi anak laki-laki Qiu Wen-ji, karena semua orang telah mengetahui bahwa Qiu adalah orang yang suka memukuli istri sehingga tak seorang pun mau menjadikan anak perempuan mereka sebagai menantunya.
Kemudian ia pun tersadar, “Mengapa diriku benar-benar telah menjadi sampah? Bahkan meski putraku begitu baik, tak seorang pun mau menikahinya karena diriku.” Maka, ia sangat tertekan dan menderita. Meski demikian, ia tidak menghentikan kebiasaan minumnya. Suatu hari ketika ia sedang duduk di taman dalam kondisi setengah mabuk setengah sadar, ia melihat relawan Tzu Chi di taman sedang mengumpulkan barang daur ulang. Mereka menyapu dan memilah sampah. Saat melihatnya, ia merasa heran dan berpikir, “Orang-orang ini bila diamati tampaknya bukan orang-orang yang miskin, tapi mengapa mereka memunguti sampah?” Saat itu seorang anggota komite Tzu Chi mendekat karena di dekatnya ada sebuah kaleng minuman yang dibuangnya sehabis minum. Relawan menyapanya dan mengambil kaleng tersebut. Didorong rasa ingin tahu, ia pun bertanya dan relawan Tzu Chi mulai menjelaskan, “Kami sedang mengumpulkan barang daur ulang, ini merupakan salah satu kegiatan Tzu Chi.”
Dalam hatinya mulai muncul kekaguman, ”Ternyata dengan memungut sampah pun// bisa membantu orang lain.” Sejak saat itu, setiap kali ia ke taman, di sana ia akan bertemu relawan Tzu Chi. Perlahan-lahan relawan Tzu Chi mulai mengenalnya lebih jauh, dan mengetahui kebiasaannya mabuk-mabukan. Mereka mulai membimbingnya dengan sabar hingga suatu kali, relawan komite kita dapat berbicara dari hati ke hati dengannya dan memahami latar belakang keluarganya, serta mengetahui bahwa hal yang paling// membebani pikirannya saat ini adalah anaknya tak dapat menikah karena dirinya. Putranya sangat menderita, dan saat melihat putranya menderita, dirinya sendiri pun sangat menderita. Maka, relawan komite Tzu Chi itu pun berkata padanya, “Tak ada jalan lain, satu-satunya jalan Anda harus mengubah diri.” ”Anda harus bangkit dari kegagalan, karena penderitaan putra Anda disebabkan perbuatan Anda sendiri, yang menyebabkan orang lain tak bersedia// menjalin pernikahan dengan keluarga Anda.”
“Bila Anda ingin keluarga perempuan itu menyetujui pernikahan dengan putra Anda, maka Anda harus memulai hidup baru, membangun rumah tangga yang baik,// menjadi ayah yang dapat diteladani. Hanya dengan begitu,// mereka akan menyetujui pernikahan tersebut.” “Benarkah demikian,” pikir Qiu. Demikianlah, ia mulai berusaha keras. Ia berkata pada relawan itu, “Bagaimana jika saya ikut melakukan daur ulang?” “Tentu sangat baik,” jawab relawan itu. Para relawan mulai membimbingnya, dan sejak saat itu kebiasaan minumnya pelan-pelan berkurang. Ia mulai mengenai Tzu Chi lebih jauh. Kelompok relawan Tzu Chi ini selalu penuh sukacita, dan mereka sangat menghormatinya. Ia tak lagi merasa tidak berharga seperti sampah. Ia merasa setiap orang sangat mengasihinya dan menghargainya. Di tengah lingkungan yang baik ini, pelan-pelan sifatnya mulai berubah menjadi lebih baik. Tentu saja, selama perubahan dirinya, tidak ada yang percaya ia mampu melakukannya.
Namun, berkat kekuatan tekadnya untuk berubah, ia sungguh telah membuka lembaran baru. Saat itu, banyak orang tidak memercayainya, bahkan menghina dan mencelanya, namun ia tetap bersabar. Proses ini berjalan beberapa tahun lamanya. Karena dirinya telah membulatkan tekad untuk berpaling dari kesalahan masa lampaunya, ia menyadari bahwa ia harus menghargai kesempatan yang ada saat ini untuk berubah, Ketika dalam hatinya timbul niat untuk berpaling dari kesalahan di masa lalu, ia menyadari kekeliruannya di masa lampau, dan melihat betapa dirinya sangat buruk di masa lalu. Namun, sekarang ia dapat berkumpul dengan sekelompok Bodhisattva dunia dan merasakan penghargaan dari orang lain, hingga ia pun harus menghargainya diri sendiri. Ia menghentikan kebiasaannya minum alkohol. Sesungguhnya, ia telah kecanduan alkohol sehingga merasa sangat tersiksa saat berhenti.
Namun, dengan kekuatan tekad dan kegigihan, ia memutuskan untuk mengubah kehidupannya. Walaupun proses yang dijalani menyakitkan, ia terus memperbaharui diri. Akhirnya siksaan rasa sakit selama bertahun-tahun itu sungguh-sungguh berhasil dilaluinya. Ia telah berubah. Ia pun mengumpulkan dana amal/ dan melakukan kegiatan daur ulang. Ia menceritakan kisah masa lalunya yang buruk tanpa menutup-nutupinya sedikit pun. Tidak ada yang percaya bahwa ia dulu sedemikian buruk. Bila ada anak muda yang tidak percaya kisahnya, maka ia akan mengundang orang yang mengenalnya sebagai saksi, ia berkata, “Ceritakanlah pada mereka bagaimana kelakuan buruk saya dahulu.” Ia mulai memanggil istrinya sebagai “nenek”, karena ia merasa dahulu perlakuannya pada istri sungguh keterlaluan sehingga ia harus menebusnya dengan sikap bakti seperti cucu terhadap neneknya sebagai wujud pertobatannya.
Sejak berubah, di rumah ia membantu istrinya mencuci pakaian dan mencuci piring. Sayangnya, masa indah ini tak berlangsung lama. Pada dasarnya ia telah mengidap penyakit lever. Alkohol telah merusak levernya dan racun minuman telah merusak tubuhnya. Setelah memperbaiki diri, selama beberapa tahun ia bersikeras untuk tetap bersumbangsih meski sedang sakit. Ia berkata bahwa karma buruk// yang dilakukannya dalam kehidupan ini, hendak dikikisnya dalam kehidupan ini pula, agar tidak terbawa ke kehidupan berikutnya.” Karena itu, ia begitu sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, saat dokter memberitahunya untuk mempersiapkan diri karena mungkin hidupnya tinggal 2 sampai 3 bulan lagi, ia tidak takut sedikit pun. Ia merasa ini adalah jalan hidupnya. Waktu yang tinggal 2 sampai 3 bulan ini, harus dimanfaatkan dengan lebih baik lagi. Maka, ia tetap mengumpulkan dana amal dan mempersiapkan agar kelak hal ini dapat diserahterimakan pada istri dan anaknya.
Putranya pun akhirnya telah beristri. Istri putranya adalah menantu yang sangat baik dan sangat mendukung suaminya untuk meneruskan misi Tzu Chi mertuanya. Demikian juga istrinya. Meski dulu sang istri sering dipukulinya, namun dalam satu jangka waktu perubahan selama beberapa tahun kasih sayang dan penghargaan dari Qiu Wen-ji membuat sang istri pun berat melepaskannya. Saat berpikir tentang suaminya, ia sungguh berterima kasih pada Tzu Chi karena telah membuat suaminya berubah.
Karena itu, ia bersedia memikul tanggung jawab suaminya di Tzu Chi. Sampai pada bulan terakhirnya, ia kembali menjalani perawatan di RS Tzu Chi Hualien. Namun, ia tidak terus-menerus berbaring, ia berkeliling untuk berbagi pengalaman dan membuat kesaksian hidup, agar orang-orang dapat melihat bahwa, “Saya dulu orang yang sangat jahat hingga kalian mungkin tidak mempercayainya.” “Ini istri saya,” katanya sambil menggandeng istrinya, ”Saya dulu jahat padanya dan suka memukulinya. Ia dapat bersaksi atas hal itu.” “Namun, saya telah bertobat dan berubah. Bagaimana saya melakukannya?” Ia pun melanjutkan cerita tentang caranya mengubah diri. Selama masa ini, ia telah menginspirasi banyak orang untuk berubah. Dan terakhir, ia memohon satu hal pada saya, yaitu untuk menjadi saksi dalam pernikahannya. Saya berpikir, aneh sekali, bukankah ia bahkan telah punya menantu, mengapa sekarang malah ingin menikah lagi? Ia menjelaskan, “Bukan begitu.” “Dulu saya pernah begitu marah hingga menyobek foto pernikahan kami, maka sekarang di akhir hidup saya, saya ingin// mengenakan pakaian pengantin bersama istri dengan Master yang menjadi saksi bahwa kami telah menikah.”
Maka, di ruang perawatan paliatif, pasangan suami istri ini// mengenakan pakaian pengantin yang indah dan meminta saya menjadi saksi pernikahan serta memberikan pemberkatan. Beberapa hari kemudian, ia menandatangani persetujuan//mendonasikan tubuh bagi siswa kedokteran Tzu Chi//untuk mempelajari anatomi tubuh. Ia telah menjadi Silent Mentor. Ia berkata, ia tak pernah mengenyam pendidikan, dan dapat menjadi “guru” bagi para siswa merupakan harapannya. Akhirnya, ia mendonasikan tubuhnya untuk studi anatomi. Hidupnya penuh dengan penderitaan, namun juga sungguh berharga. Dahulu ia begitu jahat dan berperilaku buruk, penuh rasa iri dan dengki. Karena kehidupannya sendiri penuh penderitaan, maka ia merasa iri terhadap kehidupan orang lain, dan merasa dengki karena semua orang memperlakukannya dengan buruk, maka ia pun membenci dirinya sendiri.
Orang seperti ini tidak memiliki rasa malu ataupun rasa takut. Namun, rasa malu telah bangkit dalam dirinya. Ia menyadari bahwa semua yang dialaminya adalah akibat karma lampaunya. Jika ia terus berlaku demikian selama hidupnya, ia tidak hanya akan menyiksa istri dan putranya, tetapi juga menciptakan karma buruk yang terus mengikuti di setiap kehidupannya. Karena itu, timbullah rasa takut yang membuatnya berpaling dari kesalahan masa lampaunya dan mulai melangkah maju di jalan yang benar. Lihatlah, bahkan saat sedang sakit ia terus mendedikasikan dirinya dengan penuh kegembiraan dan sukacita. Ia telah menumbuhkan Bodhicitta Ia telah membangkitkan Bodhicitta. Maka dari itu, kita harus memiliki// rasa takut pada buah karma agar hati yang berpaling dapat bangkit. Setelah pikiran tersebut timbul, barulah Bodhicitta akan bangkit. Lihatlah, bertahun-tahun lamanya ia mengidap penyakit lever.
Dan saat dokter menyatakan bahwa penyakitnya sudah cukup parah, ia baru mulai bergabung dengan Tzu Chi, dan masih berteguh hati untuk bersumbangsih. Ia tidak hanya berupaya menebus karma buruknya// di masa lalu, namun juga berusaha menanam karma baik// untuk masa mendatang. Pada akhirnya, ia meninggal dengan damai dan mendonasikan tubuh bagi ilmu kedokteran. Kisah ini tersimpan dalam Kitab Sejarah Tzu Chi, dan juga pernah diangkat menjadi drama Da Ai TV. dan juga pernah diangkat menjadi Drama Da Ai. Ini merupakan kisah kehidupan nyata. Bagi warga di Qijin, Kaohsiung, jika mereka mendengar kisah ini, semuanya akan membenarkan betapa sungguh menyedihkan masa kecilnya dan betapa buruk dirinya saat dewasa. Ia selalu memukuli istrinya, bahkan memukuli dengan galah di atas perahu sampai istrinya terjatuh ke dalam laut.
Dengan sifatnya yang begitu buruk, lihatlah bahwa ia pun dapat menyesal dan merasa malu, merasa takut, dan berpaling dari masa lalunya, serta menumbuhkan Bodhicitta. Perubahan hidup yang seperti ini// sungguh sesuatu yang berharga. Untuk mengikis Tiga Rintangan, praktisi Buddhis harus memiliki Tujuh Kondisi Pikiran yang dikembangkan secara berurutan, dimulai dari rasa malu yang membangkitkan rasa takut, sehingga timbullah tekad untuk berpaling dari samsara, sungguh-sungguh membangkitkan Bodhicitta, memandang setara terhadap semua makhluk, bersyukur pada Buddha, hingga menyadari kosongnya hakikat kejahatan. Singkat kata, semua ini mengandung Dharma.
Keberadaan sekelompok orang dalam organisasi Bodhisattva ini menjadi kekuatan yang dapat mengubah hati seseorang dan kemudian menyelamatkan banyak orang, karena Qiu Wen-ji sangat suka berbagi kisahnya// dengan orang lain tentang bagaimana ia yang dalam ketersesatan dapat menyadari kekeliruannya dan berbalik arah ke jalan yang benar. Kondisi saling menginspirasi ini sungguh meraupakan pahala yang tak terhingga. Saudara sekalian, hanya ketika memiliki rasa malu, seseorang dapat memiliki rasa takut, berpaling dari semua kesalahan, dan perlahan-lahan memulai langkah di Jalan Bodhisattva. Jadi, harap semua orang bersungguh-sungguh.