Sanubari Teduh

[ST-037] 除滅三障的七種心(二) Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Kedua)

Saudara se-Dharma sekalian, setelah mendengarkan ajaran, jika kita tidak kembali mengulangnya,  ajaran itu akan segera terlupakan, seperti batu yang disinari matahari. Saat Anda menyiramnya dengan air, permukaan batu menjadi basah, namun karena batu itu sangat panas, air itu akan segera menguap. Jika kita kembali melihat batu tersebut, tak lama ia pun kembali kering. Jadi, apa pun yang dipelajari, kita harus mengulangnya. Tujuh Kondisi Pikiran untuk mengikis Tiga Rintangan: – Rasa malu – Rasa takut – Hati yang berpaling – Membangkitkan Bodhicitta – Memandang setara semua makhluk – Rasa syukur pada Buddha – Pengamatan pada kosongnya hakikat kejahatan Tujuh Kondisi Pikiran telah kita bahas hingga yang keempat, yakni membangkitkan Bodhicitta. Sejak masa tanpa awal, pikiran kita diliputi kegelapan dan noda batin. Untuk melenyapkan kegelapan batin ini, kita harus menjalankan langkah-langkah berikut.

Pertama, memiliki rasa malu. Jika kita tidak dapat merendahkan hati dan malah mengumbar ego sendiri, menganggap diri sendiri yang terbaik, maka berbagai penyakit spiritual akan muncul. Setelah memiliki rasa malu, barulah kita akan memiliki rasa takut. Kita harus menyadari bahwa jika kita tidak merendahkan hati dan tak memiliki rasa malu, maka kita tidak akan dapat menerima atau mempelajari ajaran. Jika kita dapat menerima ajaran, kita akan memahami hukum karma, hukum sebab dan akibat. Karena itu, kita harus memiliki rasa takut. Kita melakukan banyak hal buruk tanpa menyadari akibatnya. Kita perlu takut akan akibat perbuatan buruk. Setelah itu, kita harus berpaling dari keburukan. Karena kita memiliki ketamakan dan berbagai nafsu keinginan duniawi seperti perasaan cinta duniawi, maka sulit terbebas dari kelahiran kembali. Kita terus berputar-putar dalam enam alam kehidupan– alam dewa, alam manusia, neraka, alam setan kelaparan, alam binatang. Semua ini adalah akibat pikiran kita yang tamak, tak rela melepas maupun berpaling. Karena itulah kita semua terus berada dalam enam alam kehidupan.

Kelahiran kembali sesungguhnya adalah//sesuatu yang membawa derita. Karena itu, kita seharusnya berpaling. Untuk melakukannya, kita harus berpaling dari nafsu keinginan. Jadi, yang ketiga adalah berpaling. Keempat, yaitu membangkitkan Bodhicitta. Ketika membuang semua kemelekatan, barulah kita dapat melepas. Pertama, melepas noda batin; kedua, melepas nafsu keinginan. Lihatlah orang-orang yang berdana. Mereka bersumbangsih tanpa pamrih. Mereka telah membangkitkan Bodhicitta, melenyapkan segala noda batin dan kemelekatan masa lalu, serta memberi dengan hati yang murni. Inilah Bodhicitta. Cinta kasih yang dimiliki setelah tersadarkan, inilah yang disebut pikiran Bodhi. Jika kita tak memiliki kesadaran, berbuat baik hanya demi reputasi dan keuntungan, maka ini bukanlah Bodhicitta. Tanpa Bodhicitta, berkah yang tercipta hanya membuahkan kelahiran di alam manusia dan dewa. Tujuan kita bukan hanya berkah seperti itu. Tujuan kita adalah melatih diri di Jalan Buddha agar benar-benar terbebas dari kelahiran kembali.

Kita berharap dapat menempuh Jalan Buddha, jalan menuju pencerahan agung, dan menjadi orang yang tercerahkan sempurna. Inilah yang kita cari. Jika berbuat baik dengan masih didasari oleh ketamakan pada keuntungan dan reputasi, maka berkah yang didapat hanyalah kelahiran di alam manusia atau dewa, belum terbebas dari kelahiran kembali di enam alam kehidupan. Hanya dengan membangkitkan ikrar untuk bersumbangsih dengan hati yang murni, barulah kelak dapat terbebas dari enam alam, memperoleh pencerahan, dan mencapai kebuddhaan. Dalam melatih diri, Bodhicitta harus dimiliki. Karena itu, yang keempat, kita harus membangkitkan Bodhicitta. Setelah Bodicitta bangkit, cinta dan kasih sayang kita akan meluas kepada semua makhluk di dunia. Kita akan mengasihi semua makhluk dengan setara. Inilah yang kelima, yakni tak membedakan musuh dan teman. Demikianlah orang yang telah tercerahkan. Orang yang tercerahkan sadar bahwa semua makhluk di dunia memiliki kehidupan yang setara. Maka, hanya setelah Bodhicitta tumbuh, barulah kita dapat mengasihi//semua makhluk dengan setara.

Membangkitkan Bodhicitta berarti selain mengasihi semua makhluk dalam kehidupan sekarang yang hidup bersama-sama dengan kita, namun juga terus-menerus kembali ke dunia ini untuk membimbing mereka. Para Buddha dan Bodhisattva tidak pernah meninggalkan Dunia Saha ini. Mereka terus kembali atas dasar cinta kasih demi membimbing semua makhluk. Mencari jalan menuju kebuddhaan dengan hati yang murni tanpa noda; menyelamatkan semua makhluk dengan cinta kasih yang setara tanpa ego, selamanya tidak meninggalkan Dunia Saha. Ada relawan yang berprofesi sebagai guru berkata bahwa suaminya sering mendengar ceramah saya. Ia pernah mendengar banyak orang bertanya di mana saya memilih untuk lahir kelak. Mereka berpikir saya seharusnya dapat terlahir di Tanah Suci Sukhavati.

Namun, saya selalu mengatakan pada semua, jangan mencari kelahiran di Sukhavati demi diri sendiri. Praktisi Buddhis seharusnya kembali ke Dunia Saha ini. Suami relawan tersebut sangat tersentuh mendengarnya. Kepada semua murid saya yang tengah menghadapi saat-saat terakhir, saya selalu berkata, “Cepat pergi dan segeralah kembali.” Setelah meninggalkan tubuh ini, kita harus segera kembali ke dunia ini karena sebagai orang yang melatih diri, tidak boleh tamak akan kelahiran di suatu tempat, melainkan harus memiliki sebuah tekad untuk menolong semua makhluk. Di manakah kesempatan itu ada? Hanya di Dunia Saha ini.

Di sini suka dan duka silih berganti. Selain umat manusia, di sini juga banyak makhluk dengan beragam wujud yang semuanya memiliki nyawa. Hal ini hanya dapat ditemui di dunia ini. Kita harus terus membimbing semua makhluk. Kita semua tahu bahwa makhluk hidup bukan hanya manusia. Semua yang memiliki kesadaran disebut makhluk hidup. Jadi, untuk menyelamatkan mahluk hidup, satu-satunya cara adalah berada di Dunia Saha. Dunia Saha tempat semua makhluk tinggal dipenuhi suka dan duka yang silih berganti sehingga merupakan kondisi yang menunjang pelatihan diri. Karena itu, ia adalah tempat terbaik jika ingin membimbing semua makhluk melatih diri hingga mencapai pembebasan. Para Buddha dan Bodhisattva tidak pernah meninggalkan semua makhluk, apalagi Buddha Sakyamuni. Buddha Sakyamuni adalah guru utama Dunia Saha. Tanah Buddha-Nya, tempat Beliau mengajar, adalah Dunia Saha ini. Karena telah berikrar untuk menjadi murid Buddha Sakyamuni, kita tentu harus berada di sini untuk menerima ajaran. Karena belum mencapai kebuddhaan, kita harus mendalami satu jalan ini.

Karena memasuki pintu Dharma berkat ajaran Buddha Sakyamuni, maka kita harus mengikuti metode pelatihan Buddha Sakyamuni, meneladani Buddha Sakyamuni, Bodhisattva Avalokitesvara, Ksitigarbha, Manjusri, dan Samantabhadra. Para Bodhisattva yang tak terhitung jumlahnya telah berikrar sama dengan Buddha Sakyamuni untuk kembali ke Dunia Saha// demi menyelamatkan semua makhluk. Inilah cinta kasih abadi, cinta kasih para Bodhisattva. Kita harus mengembangkan cinta kasih hingga selama-lamanya untuk terus menolong semua makhluk karena kita tidak tega melihat penderitaan mereka. Inilah pengembangan Bodhicitta. Inilah pikiran yang tidak membedakan. Kita tidak membedakan manusia dengan makhluk hidup lain. Kita tidak berpikir, “Yang ini saya suka, yang itu tidak.” Saya teringat perkataan Master Hong Yi. Saat menjelang wafatnya, beliau berpesan kepada muridnya mengenai hal yang perlu dilakukan terhadap jasadnya sebelum dimasukkan dalam peti. Ia meminta muridnya menyiramkan air di sekeliling petinya. Saat ditanya tujuannya, beliau menjelaskan bahwa jasadnya tidak akan langsung dikremasi dan akan disemayamkan beberapa hari.

Dalam jangka waktu itu, tubuh akan membusuk dan semut akan masuk ke dalam peti. Air dimaksudkan untuk mencegah semut masuk ke dalam peti. Dengan demikian, saat tubuh dikremasi, tak akan ada semut yang terbunuh karena ikut terbakar. Jadi, itu dimaksudkan//untuk melindungi semut-semut itu. Lihatlah, guru besar ini telah memberikan hatinya bagi semua makhluk. Bahkan terhadap makhluk kecil seperti semut, Master Hong Yi tetap menaruh perhatian hingga akhir hayatnya. Pesan beliau ini juga menginspirasi para muridnya untuk menyadari bahwa meski makhluk itu kecil, tetap harus kita kasihi. Inilah cinta dan welas asih yang penuh kebijaksanaan dan universal terhadap semua makhluk. Dengan memiliki welas asih dan kebijaksanaan, manusia akan dapat mengasihi semua makhluk tanpa kecuali sekaligus memahami bahwa semua makhluk adalah setara dan memiliki hakikat kebuddhaan. Saya juga pernah melihat film dokumenter tentang lumba-lumba.

Ada sebuah kapal tengah berlayar di lautan. Saat tiba di sebuah pulau, tiba-tiba terlihat banyak lumba-lumba. Awalnya, hanya terlihat satu ekor yang berenang mendekati kapal. Kemudian, terlihatlah 3 ekor, 5 ekor, 10 ekor, Kemudian, terlihatlah 3 ekor, 5 ekor, 10 ekor, hingga menjadi sekelompok lumba-lumba. Para lumba-lumba ini mengelilingi dan terus mengikuti kapal. Ketika kapal berlayar, para lumba-lumba pun berenang mengikuti seakan sedang berlomba dengan kapal itu. Mereka terus berenang mengikuti kapal. Banyak orang keluar untuk menyaksikan. Di antaranya, ada seorang pelajar yang merasa sangat tersentuh. Ia pun menyadari berharganya setiap kehidupan. Ia merasa bahwa pada awalnya, hanya seekor lumba-lumba yang perlahan-lahan mendekat. Lumba-lumba itu mungkin datang untuk melihat apakah manusia akan menyakiti mereka. Setelah melihat manusia menyukainya, ia pun memanggil kawan-kawannya dan memberi sinyal aman. Saat semakin banyak orang menyaksikannya, para lumba-lumba ini beramai-ramai keluar. Manusia dan satwa laut menyatu dalam keharmonisan.

Orang-orang gembira melihat lumba-lumba, dan lumba-lumba merasakan bahwa manusia sangat bersahabat. Perjalanan kapal itu sangatlah panjang, namun lumba-lumba tersebut masih terus mengikuti kapal itu berlayar jauh. Orang-orang terus melambai ke arah lumba-lumba seakan berkata, “Kalian telah menemani kami sampai sini, sudah terlalu jauh, kalian dapat berhenti sekarang.” Lumba-lumba itu seakan mengerti. Mereka menggerakkan kepala dan menjauh seakan mengucapkan selama tinggal. Di dunia ini manusia dan makhluk hidup lainnya adalah setara, sama-sama memiliki perasaan. Asalkan kita memiliki cinta kasih dan mengamati semua makhluk ini dengan saksama, kita dapat melihat bahkan semut yang kecil pun dapat memiliki kekuatan besar saat bersatu. Tidakkah kita sering melihat semut-semut kecil memindahkan makanan? Ketika sepotong makanan kita terjatuh di lantai dan terlalu besar bagi seekor semut, semut lainnya akan berkumpul bersama dan bergotong royong mengangkat makanan itu ke sarang untuk dibagi bersama-sama. Lihatlah, semut juga memiliki semangat kerja sama tim dan cinta terhadap sesama. Mereka tidak hanya mementingkan diri sendiri.

Mereka mengerahkan segenap kekuatan untuk membawa pulang potongan makanan besar itu agar semua mendapatkan bagian. Lihatlah, mereka pun memiliki perasaan. Semua makhluk memiliki perasaan ini. Hanya saja kita sebagai umat manusia telah diselimuti berlapis-lapis noda batin sehingga hati nurani kita tertutup dan mampu berlaku kejam. Saat nafsu keinginan bertambah kuat, kita mulai mengabaikan keberadaan makhluk hidup lain dan bahkan memakannya. Sebagai umat manusia, kita seharusnya malu, merasa takut akan buah karma, dan berpaling dari keburukan. Dengan demikian, barulah kita dapat benar-benar membangkitkan Bodhicitta. Dengan memiliki Bodhicitta, barulah kita dapat memandang setara semua makhluk. Jika kita dapat memandang setara semua makhluk dan menyadari kesalingterkaitan antarmakhluk, kita tidak akan bersikap egois. Tanpa egoisme, kita tidak akan berbuat jahat. Dengan memiliki Bodhicitta dan pandangan kesetaraan, kita akan mampu merangkul semua makhluk dan memahami kebenaran.

Kita dapat memahami perasaan semua makhluk dan memahami kebenaran hidup. Bagaimana kita mampu melakukannya? Ini  adalah berkat ajaran Buddha Sakyamuni. Jadi, yang keenam adalah bersyukur pada Buddha. Jika bukan karena Buddha Sakyamuni yang sudah membangkitkan hati nurani kita; jika bukan karena Buddha Sakyamuni yang telah membimbing kita, kita tidak akan pernah tahu bahwa semua makhluk pada dasarnya sama dengan Buddha. Hati Buddha dan hati semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Welas asih dan kebijaksanaan senantiasa ada. Karena itu, Buddha mengatakan, “Bukan hanya Aku yang dapat mencapai kebuddhaan.” “Kalian semua dapat menjadi Buddha.” “Bukan hanya Aku yang memiliki kebijaksanaan untuk memahami semua kebenaran mutlak di alam semesta.” “Kalian pun dapat menjadi sama seperti-Ku.”  “Kalian dan Aku adalah setara.” “Setara dalam hakikatnya.” Hakikat yang murni dalam diri kita adalah sama dengan hakikat kebuddhaan.

Setiap orang memiliki hakikat murni ini. Hanya saja kita tidak menyadarinya. Seperti perumpamaan dalam Sutra Bunga Teratai tentang seorang laki-laki miskin. Laki-laki miskin itu hidup mengembara tanpa memiliki tempat tinggal. Keadaannya sungguh menyedihkan. Kemudian datanglah seorang tua. Selain menyediakan makanan bagi laki-laki itu, ia menjahitkan sebuah permata pada pakaian laki-laki tersebut. Kemudian mereka pun berpisah. Laki-laki miskin ini tetap hidup mengembara. Sungguh menyedihkan. Ia hanya dapat mengemis untuk bertahan hidup. Suatu hari, orang tua ini bertemu lagi dengannya dan bertanya, “Mengapa engkau tetap begitu menyedihkan?” Laki-laki itu menjawab, “Ya, sejak dahulu aku memang sudah miskin.” Orang tua itu berkata, “Engkau salah.

Sesungguhnya, di tubuhmu terdapat sebuah permata yang berharga.” “Bagaimana mungkin,” tanya laki-laki itu. “Rabalah jahitan pakaianmu,” jawab si orang tua. Laki-laki itu pun sadar, “Ternyata benar, aku memiliki permata yang berharga.” “Mengapa aku tak pernah menyadarinya?” “Berjuang keras demi memperoleh sandang dan pangan untuk bertahan hidup, menjalani kehidupan yang amat sulit, merasa cukup dengan sedikit yang didapat tanpa berusaha mencari lebih; tidak sadar bahwa pada pakaiannya terdapat permata yang tak ternilai.” (Saddharma Pundarika Sutra bab 8 – Ramalan tentang 500 Siswa) Bukankah perumpamaan ini menggambarkan diri kita semua? Kita semua sama-sama memiliki hakikat kebuddhaan yang murni dan kebijaksanaan yang tak terbatas bagaikan permata berkilau yang tak ternilai harganya di dunia ini. Demikianlah, dalam diri setiap orang terdapat hakikat sejati yang murni.

Kita memiliki kebijaksanaan yang tak terbatas, namun tak mengerti cara menggunakannya karena kita telah diliputi kegelapan batin. Akibatnya, cahaya kebijaksanaan ini menjadi pudar karena terhalang oleh kegelapan batin. Jadi, setelah tahu cara untuk melenyapkan kegelapan batin selapis demi selapis, kita pun tahu bahwa semua makhluk adalah setara dan memahami bahwa kehidupan kita terkait erat dengan alam semesta. Coba kalian pikirkan, setelah kebijaksanaan ini bangkit, bukankah kita harus bersyukur pada Buddha? Hanya jika kita berusaha membalas budi Buddha, barulah kita dapat berpikiran sama dengan Buddha, yaitu tidak tega untuk meninggalkan dunia ini dan bertekad kembali menolong semua makhluk.

Untuk dapat membimbing semua makhluk, Anda harus menjalin jodoh baik secara luas. Saat menjalin jodoh baik dengan setiap orang lewat sumbangsih yang penuh cinta kasih, berarti kita tengah membalas budi Buddha. Karena Buddha yang telah membimbing kita sehingga kita memahami kebenaran, maka kita harus mempraktikkan ajaran-Nya sebagai wujud balas budi. Berkat bimbingan Buddha, kita memahami metode untuk mengikis kegelapan batin dan menuju pencerahan. Wujud rasa syukur dan balas budi yang terbaik untuk ini adalah sepenuh hati mempraktikkan ajaran.

Dan sesungguhnya, Buddha yang dimaksud adalah Buddha di dalam diri kita sendiri karena di dalam diri kita semua terdapat permata yang berharga. Kita semua memiliki permata di dalam diri. Karena itu, kita harus bersyukur bahwa kehidupan kita begitu kaya makna dengan adanya permata di dalam batin ini yang juga merupakan kebijaksanaan hakiki. Kita harus selalu menghargainya dan bersyukur. Dengan begitu, barulah kita dapat maju selangkah dan memahami kosongnya hakikat kejahatan. Kita selalu membahas tentang kegelapan batin dan berbagai karma buruk. Noda batin, karma, buah karma, dan berbagai kejahatan ini, sesungguhnya bagaimana agar dapat terkikis habis?

Sesungguhnya, jika kita dapat benar-benar memahami kebenaran sejati, maka kegelapan batin dan berbagai karma buruk akan terkikis habis dengan sendirinya. Saudara sekalian,// pemahaman akan kosongnya hakikat kejahatan dapat kita capai saat kita benar-benar memahami kebenaran sejati. Saat kita dapat memahami kebenaran sejati, noda batin, karma, dan buah karma akan terkikis habis. Inilah yang dimaksud//kosongnya hakikat kejahatan. Pikiran harus bertobat karena kejahatan timbul dari pikiran. Ketika pikiran buruk lenyap, kejahatan pun sirna. Pikiran buruk lenyap, kejahatan sirna, keduanya pada hakikatnya kosong. Inilah yang disebut pertobatan sejati. (Gatha Pertobatan) Jadi, setiap hari kita semua hendaknya merenungkan Tujuh Kondisi Pikiran ini.

Tujuh Kondisi Pikiran ini dikembangkan berurutan agar kita dapat sungguh-sungguh memahami kebenaran ajaran Buddha. Setelah memahami kebenaran ini, barulah kita memiliki cara untuk membersihkan kekeruhan dalam batin. Dharma bagaikan air. Karena itu, kita harus senantiasa menerima tetesan air Dharma Agar tetes-tetes air Dharma ini dapat membasahi batin kita, kita harus terus mengulang ajaran dan terus mengingat ajaran yang kita dengar kemarin sehingga kita tahu apa yang harus diperbuat hari ini. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment