[ST-041] 除滅三障的七種心(六) Tujuh Kondisi Pikiran (Bagian Keenam)
Saudara se-Dharma sekalian, pada pagi hari seperti saat ini setiap hari kita akan dapat merasakan bahwa segala sesuatu di alam amatlah harmonis. Pagi hari adalah waktu yang sangat indah. Namun, dengan dunia yang begitu indah, apakah orang-orang benar-benar memperlakukan segala sesuatu dengan cinta kasih? Buddha memberi kita petunjuk agar kita tahu bahwa pikiran makhluk awam dipenuhi noda batin. Buddha mengajarkan kita cara mengikis noda batin melalui pengembangan Tujuh Kondisi Pikiran. Pertama, kita harus memiliki rasa malu; kedua, membangkitkan rasa takut; ketiga, memiliki hati yang berpaling. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sungguh harus terus mengamati kondisi luar sekaligus berintrospeksi. Setiap pikiran yang timbul,//semuanya menciptakan karma. Itulah sebabnya mengapa kita harus senantiasa memiliki rasa takut dan meningkatkan kewaspadaan.
Janganlah kita memiliki pandangan salah maupun tindakan yang keliru. Inilah yang disebut meningkatkan kewaspadaan dan membangkitkan rasa takut. Jika kita dapat berpikir bahwa di dunia ini Jika kita dapat berpikir bahwa dalam hidup ini kita menghadapi banyak rintangan noda batin, karma, dan buah karma yang tiada habisnya dalam enam alam kehidupan, maka kita haruslah segera berpaling. Ini karena kehidupan tidaklah kekal, diliputi Lima Kekeruhan dan Tiga Bencana. Kehidupan sangat singkat bagai gelembung. Selain itu, dalam kitab suci dikatakan bahwa tubuh manusia memiliki 36 bagian yang semuanya sangat tidak bersih. Terhadap tubuh yang tidak bersih ini, mengapa kita masih melekat dan tamak sehingga timbullah pemikiran buruk dan menciptakan karma buruk? Janganlah kita begitu, karena kita sudah mengetahui bahwa tubuh manusia sungguh tidak bersih.
Jadi, kini kita harus membangkitkan Bodhicitta. Ini adalah kondisi pikiran keempat. Buddha telah dengan sabar membimbing kita mengembangkan pikiran tahap demi tahap. Jika tidak memiliki rasa malu, kita tak akan bersikap waspada. Tanpa hati yang waspada, kita tidak akan menyadari bahwa tubuh fisik manusia sangat tidak bersih dan tidak kekal seperti gelembung air. Buddha telah membimbing kita langkah demi langkahuntuk menyelami kebenaran ini. Setelah kita memahami bahwa hidup ini penuh penderitaan dan tidak kekal, kita harus menggunakan tubuh ini sebagai sebagai sarana pelatihan diri. Meski dalam struktur tubuh kita terdapat 36 bagian yang tidak bersih, namun karena hidup ini tidaklah kekal, maka kita harus segera memahami bahwa kita tak punya hak milik atas tubuh ini. Ini karena tubuh tidaklah kekal dan juga tidak bersih. Mengapa kita harus begitu melekat padanya? Jadi, kita harus memahami bahwa kita memiliki hak guna atas tubuh ini. Sangat sulit terlahir sebagai manusia,// namun kini kita sudah terlahir.
Jika tidak mencerahkan diri sendiri//pada kehidupan ini juga, maka sampai kapan kita harus menunggu? Bagaimana kita mencerahkan diri sendiri? Kita harus memanfaatkan tubuh ini untuk melatih diri. Tubuh adalah sarana untuk melatih diri. Untuk melatih diri, kita harus membangkitkan Bodhicitta dari lubuk hati terdalam. Inilah yang ke-4 dari 7 Kondisi Pikiran. Seperti yang tertulis dalam teks, “Bergembiralah melihat tubuh Buddha karena tubuh Buddha// merupakan manifestasi tubuh Dharma-Nya yang terealisasi berkat pahala// dan kebijaksanaan yang tak terhingga.” Mari kita lihat penggalan ini. Kita tahu bahwa kita perlu membangkitkan// Bodhicitta. Buddha mulai membimbing kita tentang langkah pertama untuk membangkitkan Bodhicitta, yakni membangkitkan sukacita. Artinya, kita harus membangkitkan sukacita saat melihat tubuh Buddha. Sukacita berarti merasa gembira.
Ketika melihat tubuh Buddha, kita harus merasa sangat gembira. Lihatlah saat umat Buddha memasuki vihara, mereka akan tulus menghormat pada Buddha. Buddha hidup di zaman jauh sebelum kita, yakni lebih dari 2.000 tahun lalu. Demi membangkitkan keyakinan setiap orang, maka meski tubuh Buddha pada hakikatnya adalah tanpa wujud, namun manusia mengukir tiruan wujud Buddha. Ini karena di dunia wujud masih diperlukan untuk membantu orang memahami kebenaran. Untuk meyakini sebuah agama, dibutuhkan suatu citra yang nyata. Jadi, di dunia ini, wujud diperlukan untuk menyelami kebenaran. Meski rupang Buddha yang kita lihat tidak sepenuhnya dapat mewakili Buddha karena Buddha tak terikat oleh wujud, namun untuk menyelami kebenaran ini, dibutuhkan adanya suatu wujud nyata. Itulah sebabnya para umat Buddha memasuki vihara dengan sikap khidmat. Beberapa rupang Buddha diukir hingga membuat yang melihatnya merasa gembira. Kita bukan saja merasakan sukacita, melainkan juga menumbuhkan rasa hormat yang tulus. Inilah “gembira melihat tubuh Buddha”. “Tubuh Buddha merupakan manifestasi dari tubuh Dharma-Nya.” Ketika kita menghormat di hadapan rupang Buddha, pada pemahaman yang lebih dalam, itu merupakan penghormatan pada tubuh Dharma Buddha. Tubuh Dharma mengacu pada//kebenaran ajaran Buddha. Meski Buddha telah wafat sejak lebih dari 2.000 tahun lalu, namun selama lebih dari 2.000 tahun ini, ajaran Buddha tetap bertahan hingga sekarang. ajaran Buddha tetap bertahan hingga sekaramg. Ajaran Buddha sungguh tak lapuk oleh waktu.
Bahkan hingga saat ini, lebih dari 2.000 tahun kemudian. Kini teknologi berkembang pesat dan pengetahuan manusia semakin tinggi. Manusia dapat mengetahui berbagai prinsip hukum alam semesta. Para ilmuwan dan ahli masa kini baik dari bidang astronomi, geografi, dll, terus meneliti sesuai bidang masing-masing. Semakin mereka meneliti, temuan mereka semakin sesuai dengan ajaran Buddha. Lebih dari 2.000 tahun lalu, Buddha membabarkan kebenaran dengan cara yang sederhana, dan ini telah mendorong para ahli dan ilmuwan masa kini meneliti sesuai bidang masing-masing. Sebuah contoh sederhana adalah ketika Buddha sedang berjalan di pegunungan, Beliau merasa haus dan berkata, “Ananda, Aku haus.” Ananda segera pergi mencari air ke dalam hutan. Ia akhirnya menemukan sebuah sungai yang airnya sangat jernih. Ananda segera mengambil mangkuk dan mengisinya dengan air.
Ia membawanya ke hadapan Buddha dan mempersembahkannya dengan hormat. Buddha menerima mangkuk itu dan memandang ke dalamnya. Lalu Buddha berkata kepada Ananda, “Lihatlah banyak organisme dalam air ini.” Ananda melihat dan berkata, “Tetapi, aku tidak melihat apa-apa.” “Airnya sangat jernih.” Buddha kemudian melanjutkan, “Ada 84.000 organisme di dalamnya.” Ananda merasa hal ini sungguh sulit dipercaya karena air itu terlihat begitu jernih. Buddha berkata pada Ananda, “Engkau melihat air ini sangat jernih, namun sesungguhnya terdapat banyak kehidupan organisme di dalamnya.” Di kemudian hari, ketika ditahbiskan, para biarawan/wati memperoleh mangkuk, sebuah sikat, dan sehelai karung putih. Sikat berguna untuk membersihkan mangkuk. Ketika ingin minum air, harus menggunakan karung putih ini untuk menyaringnya terlebih dahulu.
Jika kita merenungkan praktik ini, kita bisa merasakan bahwa kebijaksanaan Buddha// sangatlah ilmiah. Air yang kita minum di masa kini juga telah melewati proses penyaringan. Benar, harus melewati proses penyaringan. Bukankah kebutuhan untuk menyaring ini telah Buddha temukan lebih dari 2.000 tahun lalu? Buddha adalah seorang yang menemukan segala prinsip kebenaran alam semesta. Karena itu, ajaran Buddha ini dapat terus bertahan hingga sekarang. Semakin berkembang ilmu pengetahuan, semakin membuktikan kebenaran ajaran Buddha.
Jadi, kebijaksanaan Buddha dan tubuh Dharma-Nya sungguh patut dihormati. Jadi, dari dalam lubuk hati, kita harus membangkitkan sukacita//kala melihat tubuh Buddha serta harus menghormati ajaran-Nya. Buddha mencapai kebuddhaan dengan mengakumulasi pahala dan kebijaksanaan yang tak terhingga. Buddha telah mencapai kebuddhaan sejak berkalpa-kalpa yang tak terhingga//bagai butiran pasir. Berkalpa-kalpa yang bagai butiran pasir berarti waktu yang sungguh sangat lama. Bukan baru pada lebih dari 2.000 tahun lalu Buddha Sakyamuni mencapai kebuddhaan.
Sesungguhnya, sebelum itu Beliau telah mencapai kebuddhaan selama berkalpa-kalpa. Terlebih lagi, pelatihan sebelum pencapaian itu membutuhkan waktu yang sungguh sangat panjang. Beliau terus-menerus kembali ke 6 alam atas dasar cinta kasih terhadap semua makhluk. Dalam kitab Jataka sering dikisahkan bahwa dalam pelatihan diri-Nya, Buddha tidak hanya lahir sebagai manusia, namun juga sebagai makhluk di alam-alam lain. Ada Sutra yang mengisahkan bahwa saat menjalani pelatihan diri, Buddha pernah terlahir di sebuah hutan rimba sebagai seekor burung merak. Burung merak ini amat penuh welas asih, menganggap semua makhluk sebagai anaknya. Dengan welas asih seorang ibu, ia mengasihi semua makhluk di dunia. Suatu hari, di hutan itu ia bertemu dengan seekor harimau buas.
Harimau ini sedang memangsa hewan lain. Burung merak ini sungguh merasa sedih melihat pemandangan yang memilukan ini. Namun, hewan tersebut sudah dimangsa oleh harimau sehingga darahnya bercucuran. Sang harimau terlihat begitu senang melahap hewan itu, bahkan hingga tulang-tulangnya. Namun, setelah melahap hewan kecil itu, entah mengapa harimau ini berguling-guling kesakitan. Sang burung merak segera mendekat. Ternyata, setelah harimau ini memakan mangsanya, sepotong tulang panjang tersangkut di taringnya sehingga ia tak dapat menutup mulutnya. Terlebih lagi, karena tulang itu terjepit di antara taring dan mulutnya, maka ia pun kesakitan dan meraung-raung sambil berguling-guling. Karena tak sampai hati melihat, burung merak ini mencoba masuk ke dalam mulut harimau. Ia terus mematuk dengan paruhnya untuk membantu mengeluarkan tulang itu. Beberapa hari telah berlalu, burung merak telah berusaha sekuat tenaga dan penuh kesabaran serta berhati-hati mematuk tulang tersebut. Akhirnya, burung merak berhasil mematuk keluar tulang itu.
Setelah harimau itu tertolong, burung merak segera terbang dan bertengger pada dahan pohon, lalu berkata pada sang harimau, “Semua kehidupan sangatlah berharga.” “Karena hidup di bumi yang sama, maka kita semua harus hidup berdampingan.” “Dunia ini penuh dengan makhluk bajik.” “Jangan lagi membunuh makhluk hidup.” “Jangan semata-mata demi kepentingan sendiri lalu membunuh makhluk lain.” Burung merak berkata dengan lembut, namun harimau buas ini sangat marah dan membalas, “Engkau baru keluar dari mulutku, sekarang malah berani mengajariku.” Harimau ini membalas dengan sangat berang. Saat burung merak melihat sang harimau mengamuk, sesungguhnya ia tak mengerti mengapa. Ia merasa kasihan sekaligus tidak berdaya dan akhirnya terbang. Buddha lalu berkata, “Ananda, kisah yang baru Aku ceritakan ini terjadi berkalpa-kalpa yang lalu.” “Ketahuilah, burung merak itu adalah Aku, saat ini Buddha Sakyamuni.” “Dan harimau buas itu saat ini adalah Devadatta yang memecah belah Sangha.” Lihatlah, dahulu saat masih berada di enam alam kehidupan, Buddha juga pernah terlahir sebagai binatang. Banyak kisah yang menceritakan hal ini. Lihatlah, merak itu penuh cinta kasih, mengasihi semua makhluk bagai anak sendiri, memandang mereka dengan hati seorang ibu.
Ia juga sangat berani ketika menghadapi harimau itu, dan bahkan rela masuk ke dalam mulutnya. Ia tahu jelas buasnya harimau itu, namun rela menerjang bahaya untuk menolong dengan harapan harimau itu dapat berubah. Tetapi, yang ia dapat adalah kemarahan. Jadi, ia harus bersabar dan tidak mengeluh. Ia hanya merasa tak berdaya. Inilah proses pembinaan diri Buddha. Beliau melatih diri selama berkalpa-kalpa bagaikan butiran pasir yang tak terhingga. Karena kini kita telah mengetahui bahwa Buddha melatih diri dengan penuh kesabaran dan rasa hormat terhadap semua makhluk, maka sebagai manusia, kita harus melatih diri//bukan hanya pada satu kehidupan, melainkan dalam banyak kalpa yang tak terhingga. Kita pun perlu berlatih selama itu dan tidak boleh lalai menjaga pikiran. Janganlah berpikir hanya dengan berlatih dalam satu kehidupan ini kita akan mencapai buah pencerahan. Janganlah berpikir demikian. Ingatlah bahwa pelatihan diri Buddha berlangsung selama berkalpa-kalpa.
Kini kita telah bertekad, dapat melatih diri dan mendengar ajaran Buddha. Bukankah kita harus segera memanfaatkan tubuh kita ini untuk berlatih sesuai ajaran Buddha yang merupakan tubuh Dharma-Nya? Kita harus memanfaatkan tubuh duniawi ini//dan menjadikannya tubuh Buddha serta senantiasa memiliki hati Buddha. Karena itu, saya sering berkata bahwa makna dari melafalkan nama Buddha adalah menanamkan pikiran Buddha dalam hati kita. Inilah yang sering saya katakan. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memiliki kesabaran serta welas asih. Kita harus menghormati kehidupan dan segala sesuatu di alam semesta. Sebelumnya, kita membahas hati yang berpaling. Berpaling artinya karena dunia diliputi Lima Kekeruhan dan Tiga Bencana, dan juga karena kita menyadari bahwa tiada satu pun yang bersih pada tubuh kita, maka kita berusaha untuk menyucikan batin agar tidak menciptakan karma buruk dan tidak menciptakan karma buruk hanya demi tubuh yang kotor ini, yang dapat membuat kita menerima akibatnya terus-menerus dalam enam alam kehidupan. Janganlah kita melakukan itu. Karena itu, kita harus berpaling untuk terbebas dari enam alam kehidupan.
Namun, dalam melatih diri, kita tidak dapat meninggalkan enam alam, harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita, dan tetap harus kembali ke Dunia Saha ini. Buddha Sakyamuni pernah terlahir sebagai raja rusa, raja burung merak seperti kisah tadi, seekor raja burung, juga seekor kera dan masih banyak lagi. Dalam enam alam kehidupan, Beliau juga pernah lahir di neraka untuk turut merasakan derita makhluk di sana. Buddha tak tega melihat makhluk yang menderita. Beliau pun pernah lahir di alam manusia, dewa, maupun 3 alam rendah. Sama halnya dengan Bodhisattva Ksitigarbha yang berjanji untuk tidak mencapai kebuddhaan sebelum neraka kosong. Kita mungkin bertekad untuk melatih diri, namun tubuh kita tetap kotor. Kita harus lahir ke dunia dengan sebuah misi cinta kasih, dan bukan semata-mata menanggung buah karma. Jika sebaliknya, kita akan sangat menderita.
Saudara sekalian, kita harus bersukacita saat melihat tubuh Buddha. Tubuh Buddha adalah tubuh Dharma. Kita harus melatih diri sesuai ajaran Buddha karena Buddha merealisasikan tubuh Dharma-Nya dengan pahala dan kebijaksanaan tak terhingga. Jadi, tubuh Dharma diperoleh dari kebijaksanaan yang tak terhingga. Oleh karena itu, kita harus selalu ingat untuk mengasihi dan menghormati segala sesuatu di dunia ini. Apa pun yang kita temui, kita harus menghormatinya karena segala sesuatu mengandung Dharma dan tengah memberi ajaran bagi kita. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa Karena itu, saya sering mengatakan janganlah kita menjadikan masalah antarmanusia sebagai sumber perselisihan. Inilah pelatihan diri. Kita harus memiliki rasa syukur. Jika ada masalah yang timbul, kita harus mengingatkan diri sendiri. Masalah harus kita jadikan sebagai pelajaran. Kita harus menjadikan masalah sebagai pelajaran. Jangan menjadikannya sebagai sumber pertikaian. Inilah cara agar dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengakumulasi dan membangkitkan kebijaksanaan. Untuk itu, dibutuhkan waktu yang panjang dan berbagai masalah untuk mengasah diri kita.
Jadi, harap semua orang dapat bersukacita melihat tubuh Buddha, berbahagia di dalam Dharma, dan mengakumulasi pahala serta kebijaksanaan. Inilah praktisi Buddhis yang sejati. Jadi, harap semua orang lebih bersungguh hati. to love ourselves and love others untuk mencintai diri kita sendiri dan sesama Yang keempat adalah Sutra-Sutra mengatakan, bergembiralah melihat tubuh Buddha karena tubuh Buddha merupakan manifestasi dari tubuh Dharma-Nya yang terealisasi berkat Tujuh Kondisi Pikiran untuk Melenyapkan Tiga Rintangan: – Rasa malu – Rasa takut – Berpaling dari Samsara – Membangkitkan Bodhicitta – Memandang setara semua makhluk – Rasa syukur pada Buddha – Pengamatan pada kosongnya hakikat kejahatan Senantiasalah renungkan kotornya tubuh ini hingga sungguh-sungguh memahami kebenaran tentang kehidupan.
Bersumbangsihlah untuk menciptakan berkah bagi semua makhluk dan jadikanlah tubuh ini Yang keempat adalah membangkitkan Bodhicitta. bergembiralah melihat tubuh Buddha karena tubuh Buddha merupakan manifestasi dari tubuh Dharma-Nya yang terealisasi berkat pahala dan kebijaksanaan yang tak terhingga. Ajaran Buddha mengandung kebenaran yang tak terhingga. Praktisi Buddhis hendaknya memiliki hati yang tulus dalam menghormati tubuh Buddha dan menghargai ajaran-Nya Pelatihan diri tak dapat selesai hanya dalam satu kehidupan, melainkan harus belajar dalam banyak kehidupan, meneladani dan menanamkan hati Buddha dalam hati sendiri sehingga setiap pikiran kita menjadi sama dengan pikiran Buddha.