[ST-042] 回歸清淨本性 Kembali Pada Hakikat Yang Murni
Saudara-saudara se-Dharma, hari berlalu begitu cepat. Sejak kemarin sampai hari ini, bila dihitung secara sederhana, panjangnya adalah 24 jam. Waktu 24 jam ini, jika dihitung dalam satuan detik, sama dengan 86.400 detik. Jumlah tersebut kelihatannya banyak namun sesungguhnya hanya 24 jam. Namun, dalam waktu satu hari ini, kita begitu sibuk sampai tak menyadari bahwa waktu terus berjalan, dan kita melaluinya dengan tanpa arah. Jumlah detik yang begitu banyak ini berlalu begitu saja dengan sia-sia. Entah sudah berapa banyak hari// yang terlalui seperti ini. Karena itu, Buddha selalu mengingatkan kita untuk senantiasa waspada menjaga pikiran kita. Ini karena pikiran kita dalam waktu yang sangat singkat mampu membawa kita menuju pembebasan abadi. Namun, jika pikiran ini tidak dijaga dengan baik, dalam waktu singkat pula dapat membuat kita jatuh dari alam manusia dalam masa yang lama.
Itu pun bermula dari pikiran kita. Itulah sebabnya Buddha mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Jika dapat senantiasa menjaga pikiran dengan baik, maka dapat mencapai pembebasan dengan seketika. Namun, jika tidak waspada terhadap pikiran sendiri, sebaliknya akan jatuh ke alam-alam rendah. Beberapa waktu terakhir ini setiap hari kita membahas tentang pikiran. Jika kita membiarkan pikiran kita ternoda, batin kita akan dipenuhi dengan noda batin. Sebagai makhluk awam,// sekali terjatuh dari alam manusia, akan sulit untuk kembali. Kita akan terus berputar di alam-alam rendah dan sangat sulit untuk membebaskan diri. Berapa lama waktu yang diperlukan? Puluhan ribu kalpa. Mungkin saja puluhan ribu kalpa lalu Buddha pun sama seperti kita, terlahir sebagai makhluk awam. Mungkin juga kita dan Buddha bersama-sama melatih diri pada masa itu.
Namun, Buddha sejak saat itu sungguh-sungguh menjaga pikiran-Nya. Oleh karena itu, Beliau telah mencapai pencerahan untuk waktu yang lama. Kemungkinan pada waktu itu kita tidak menjaga pikiran dengan baik sehingga kita terus berkelana di 6 alam dan masih menjadi makhluk awam. Itulah sebabnya kita sering mengatakan bahwa kita harus membangkitkan hati yang bertobat. Hanya dengan bertobat kita dapat merasa malu dan memahami bahwa ternyata dunia ini penuh dengan bahaya dan jebakan. Khususnya di masa sekarang ini, kita hendaknya menjadi lebih sadar bahwa kita hidup di dunia dengan beragam makhluk, terdapat pula mikroorganisme yang sangat kecil yang tidak terlihat dengan mata telanjang. Banyak hal yang tidak terlihat oleh mata kita khususnya virus. Ada puluhan juta virus yang entah kapan akan menginfeksi organisme lain hingga menimbulkan wabah penyakit.
Terhadap orang-orang dan berbagai hal yang kita hadapi dan tangani, kita harus senantiasa meningkatkan kesadaran dan senantiasa membangkitkan rasa takut bahkan untuk hal-hal yang tak terlihat. Di dalam Sutra, Buddha mengatakan bahwa banyak makhluk jahat yang berlalu-lalang di antara kita. Namun, kita tidak bisa melihatnya karena mereka hidup di alamnya sementara kita hidup di alam kita (manusia). Karena itu, orang-orang sering berkata, “Hati-hatilah saat bicara.” “Tiga inci di atas kepala adalah dewa.” Begitulah yang dikatakan orang zaman dulu. Sungguh, kita mungkin tak menyadarinya. Dalam setiap tindakan yang Anda lakukan atau setiap tindakan yang saya buat, setiap ucapan Anda, setiap ucapan saya. janganlah kita beranggapan setelah kita bicara, // kata-kata kita tidak meninggalkan jejak Sesungguhnya, itu tidak benar. Jangan berpikir apa yang telah Anda lakukan juga akan berakhir tanpa jejak. Ada, jejak itu masih ada. Entah melalui ucapan maupun dengan perbuatan fisik, semuanya akan menjadi benih karma, bagai benih yang tertanam di dalam tanah.
Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan, memerhatikan sikap dan perilaku kita, dan senantiasa berhati-hati. Hanya dengan memiliki rasa takut, barulah kita dapat berpaling. Kehidupan di 6 alam sungguh mengerikan,// maka kita harus berpaling darinya, dan berusaha untuk segera terbebas darinya. Tujuan dari mempelajari ajaran Buddha// adalah untuk mencapai kebuddhaan. Jika tidak, untuk apa kita mempelajarinya? Apa maksudnya mencapai kebuddhaan? Yaitu meraih pencerahan,//kembali pada hakikat sejati kita, kembali pada hakikat Kebuddhaan dalam diri kita. Jika kita dapat mempertahankan hakikat kebuddhaan kita yang murni ini, bertekad untuk kembali ke dunia ini atas dasar cinta kasih demi menyelamatkan semua makhluk Dunia Saha dan membimbing mereka, inilah yang disebut kembali pada hakikat sejati, bebas dari noda batin, bebas dari pandangan salah.
Dengan hati Buddha dan kebijaksanaan, kita mempraktikkan pelatihan diri secara nyata untuk memberi teladan bagi orang lain. Inilah hakikat sejati yang murni. Melenyapkan noda batin dan segala pemikiran yang kompleks, kembali pada hakikat sejati yang sederhana, murni, dan tanpa noda, inilah tujuan mempelajari ajaran Buddha. Sampai kapan kita harus melatih diri hingga dapat kembali ke hakikat diri yang murni? Saat ini juga. Jika saat ini juga kita dapat meresapi Dharma dan terus menjaga pikiran; jika selama 86.400 detik yang ada kita selalu menjaga pikiran dengan baik, tidak membiarkan pikiran buruk dan noda batin mencemarinya, maka niscaya pikiran yang murni, hakikat kebuddhaan, akan muncul Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mempertahankan//niat baik yang muncul seketika. Itu sebabnya saya sering mengatakan, “Genggamlah saat ini, pertahankan niat baik yang timbul seketika.” Setiap niat yang timbul setiap saat adalah yang terpenting dalam ajaran Buddha. Jika pada detik ini batin kita tidak diliputi noda, maka hakikat murni yang sama dengan Buddha saat itu akan muncul. Yang terpenting dalam mempelajari ajaran Buddha adalah menggenggam saat ini dan mempertahankan niat baik yang timbul seketika.
Jadi, dimulai dari pikiran untuk berpaling dari penderitaan di 6 alam, kita harus membangkitkan Bodhicitta. Inilah kondisi pikiran ke-4 yang harus dimiliki. Dalam tujuh negara bagian pikiran, Dari tujuh kondisi pikiran, yang keempat adalah membangkitkan Bodhicitta, yakni tekad mencapai kebuddhaan. Dalam Sutra disebutkan bahwa kita hendaknya bergembira melihat tubuh Buddha. Semoga setiap orang dapat membangkitkan sukacita// setelah mendengar ajaran Buddha, dan dapat membangkitkan rasa hormat saat melihat sosok Buddha. Yang keempat adalah membangkitkan Bodhicitta. Sutra-Sutra mengatakan, bergembiralah melihat tubuh Buddha karena tubuh Buddha merupakan manifestasi dari tubuh Dharma-Nya yang terealisasi berkat pahala dan kebijaksanaan yang tak terhingga. Inilah yang dimaksud// “Tubuh Buddha adalah manifestasi// dari tubuh Dharma-Nya.” Kini, yang dimaksud tubuh Buddha adalah Dharma atau ajaran-Nya, karena Buddha hidup lebih dari 2.000 tahun lalu.
Saat ini, yang kita lihat di vihara adalah rupang yang menggambarkan wujud Buddha. Jadi usai era Kemurnian Dharma (masa Buddha) berikutnya adalah era Kemiripan Dharma. Pada era ini, banyak sekali orang yang menciptakan patung dari sosok Buddha. Saya masih ingat saat kita pergi ke Afganistan untuk melangsungkan misi bantuan kemanusiaan, terlihat sebuah pegunungan di Afghanistan yang penuh dengan pahatan sosok Buddha. Yang paling mencolok adalah// pahatan 3 sosok Buddha raksasa. Salah satu pahatan berukuran amat besar, setinggi 53 meter. Seorang relawan, Stephen Huang, sempat berdiri di pahatan kaki Buddha tersebut. Dalam foto pahatan Buddha berukuran penuh itu, ia hanya seperti titik hitam di kaki patung itu, bagaikan seekor semut yang ada di kaki kita. Kita dapat menggunakan ukuran tubuh manusia untuk membayangkan// besarnya pahatan patung itu.
Masa pembuatan pahatan patung tersebut adalah era Kemiripan Dharma. Agama Buddha berkembang pesat. Di Tiongkok pun demikian. Tidak hanya di Afganistan, di Dunhuang, Provinsi Gansu, Tiongkok pun sama, banyak sekali pahatan sosok Buddha. Ada sederet gunung yang dipenuhi pahatan Buddha. Begitu juga yang terlihat di Angkor Wat, Kamboja. Bisa dikatakan di berbagai tempat di dunia, ada banyak tempat yang terdapat rupang Buddha. Maka dapat dilihat, setelah Buddha parinirvana simbolisasi Buddha mulai berkembang. Sosok Buddha dipahat di berbagai tempat. Orang-orang pada masa itu menghormati Buddha, mewariskan pahatan sosok Buddha di dunia ini dengan harapan perasaan sukacita muncul di hati orang-orang yang melihat pahatan ini, agar semua orang mengetahui bahwa Buddha pernah hidup di dunia dan pernah membabarkan Dharma serta membimbing semua makhluk di dunia.
Jadi, mereka memakai cara duniawi untuk menampilkan kebijaksanaan dan ajaran Buddha. Inilah era Kemiripan Dharma yang muncul setelah era Kemurnian Dharma. Lalu apa era setelah Kemiripan Dharma? Selanjutnya adalah era Kemunduran Dharma. Semua makhluk diliputi noda batin yang tebal dan memiliki banyak kerisauan. Dharma murni tidak meresap dalam hati manusia dan pahatan dari era Kemiripan Dharma semakin lama semakin rusak. Di Afganistan, kita dapat melihat akibat perusakan oleh manusia dan juga akibat proses pelapukan alami, jika kita kembali ke sana sekarang, terbesar dari Buddha raksasa patung-patung Buddha yang terbesar telah hancur seluruhnya. Segala sesuatu yang memiliki bentuk di dunia akan mengalami kehancuran pada saatnya. Ini adalah siklus alami pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, kehancuran. Semua benda yang memiliki bentuk, pasti akan melapuk dan hancur.
Ini adalah proses yang sangat alami. Namun, saat ini Dharma yang diajarkan Buddha secara berangsur hilang dari hati manusia. Banyak orang berpikir bahwa bukankah Dharma yang diajarkan oleh Buddha sekarang ini banyak diteliti orang. sekarang ini banyak diteliti orang? Selain itu, kini teknologi komputer sangat maju. Zaman dahulu, Sutra disimpan di perpustakaan khusus sehingga orang-orang yang ingin membaca Sutra harus pergi ke perpustakaan untuk membacanya. Sekarang itu tidak perlu lagi dilakukan, asalkan Anda memiliki piranti lunak yang tepat dan mengunduhnya ke komputer Anda, siapa pun bisa membaca Sutra-Sutra tersebut. Apalagi, sekarang banyak orang berkecukupan, dan biaya cetak pun relatif murah, sehingga cukup mudah untuk mendapat salinan sebuah atau beberapa Sutra.
Jadi, baik dalam bentuk cetakan tertulis maupun yang tanpa bentuk, yaitu piranti lunak dalam komputer, sungguh mudah untuk dapat membaca Sutra Buddha. Tetapi, berapa banyak orang yang benar-benar menyerap ajaran Buddha ke dalam hati dan sungguh-sungguh menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari kita? Sepertinya cukup sulit. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa era Kemurnian Dharma telah berlalu, begitu juga era Kemiripan Dharma. Sekarang kita ada di era Kemunduran Dharma. Namun, sesungguhnya dalam hati setiap orang pada hakikatnya terdapat Tiga Permata yang tidak timbul dan tidak lenyap. Kita memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Buddha, Dharma, Sangha ada di dalam hati kita.
Di dalam diri kita terdapat benih kebuddhaan, dengan sendirinya kita juga memiliki hati yang sama dengan Buddha. Di dalam hati kita terdapat Dharma, sejatinya nilai-nilai kebenaran ini selalu ada dan tidak berubah. Di manakah nilai-nilai itu berada? Di dalam pikiran kita. Maka, karena pada dasarnya kita memiliki kebijaksanaan yang sama dengan Buddha, dengan sendirinya ada Dharma dalam hati kita, disebut “Dharma yang hakiki dalam diri”. Namun, untuk membangkitkan “Buddha dan Dharma di dalam hakikat diri”, kita perlu memiliki “Sangha hakiki dalam diri”. Ini berarti kita harus menjalankan sila. Pedoman perilaku yang diajarkan Buddha hendaknya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah kita menerapkannya dalam keseharian? Jika kita dapat menerapkannya dalam keseharian, berarti telah ada Dharma di dalam hati kita. Jika kita tidak menerapkan sila dalam kehidupan kita sehari-hari, maka Dharma sudah tidak ada dalam hati kita. Tiga Permata yang hakiki dimiliki oleh setiap orang. Buddha yang hakiki adalah sifat welas asih, Dharma yang hakiki adalah kebijaksanaan, Sangha yang hakiki adalah kedisiplinan diri. Mereka yang mempelajari ajaran Buddha dan berlindung pada Tiga Permata harus meneladani perilaku Buddha, mempraktikkan Dharma ajaran-Nya, dan menghormati Permata Sangha; lewat perlindungan formal pada Tiga Permata, berusaha maju dengan membangkitkan Tiga Permata yang hakiki di dalam diri. Maka, dalam Sutra tertulis, “Bersukacitalah melihat tubuh Buddha karena tubuh Buddha adalah manifestasi//dari tubuh Dharma-Nya.” Tubuh Buddha adalah tubuh Dharma. Tubuh Dharma ini terealisasi berkat akumulasi kebajikan dan kebijaksanaan yang tak terhingga.
Dharma yang adalah kebenaran sejati, dari manakah asalnya? Dari timbunan pahala dan kebijaksanaan// yang tak terhingga. Kita harus terus memupuk dua hal tersebut. Ada sebuah pepatah, “Jika tak menghadapi masalah, kebijaksanaan tak akan tumbuh.” Dalam melatih diri, janganlah hanya berlatih demi diri sendiri. Jika kita mengasingkan diri dan menutup diri dari orang lain, kita tidak dapat berinteraksi dengan baik// dengan orang lain. Seperti yang sering saya sampaikan, “Dalam kelompok yang terdiri atas tiga orang,// kita pasti dapat menemukan seorang guru.” “Teladani segala sifat baiknya, ambillah pelajaran dari sifat buruknya.” Saat kita berjalan bertiga dengan dua orang lain, mungkin ada yang baik dan ada yang tidak baik. Orang yang baik ini kita jadikan teladan Kita harus belajar kebiasaan baik dari orang ini, meniru perbuatan dan cara hidupnya.
Jika orang yang satu lagi kurang baik, kita tetap harus menjadikannya sebagai guru, sebab ia menunjukkan Dharma lewat perilakunya. Kita bisa memahami betapa sulitnya bergaul dengan orang yang bertabiat buruk dan mengerti bagaimana mereka//tidak disukai orang lain. Dengan melihat mereka yang bertabiat buruk, kita dapat berintrospeksi diri, “Apa saya juga punya tabiat buruk yang sama?” Jika ada, kita harus segera memperbaiki diri. Orang bertabiat buruk tidak mematuhi sila, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, dan tidak peduli terhadap orang lain. Saat bertemu orang seperti ini, tidakkah kita berpikir kalau mereka amat egois? Tentu kita akan berpikir demikian. Maukah kita mendengar orang lain juga berkata bahwa kita seorang yang egois? Tentu tidak. Oleh karena itu, kita harus segera mengubah sikap egois kita, mau berbagi serta peduli terhadap semua orang.
Maka, kita harus berterima kasih atas Dharma yang ditunjukkan// orang-orang yang bertabiat buruk karena membuat kita mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Karena itu, kita sering mengatakan, “Jika tak menghadapi masalah,// Karena itulah, kita harus melatih diri dalam masyarakat. Dengan hidup dalam masyarakat, kita akan mendapatkan banyak pelajaran dan memahami banyak nilai kebenaran. Jika kita bertemu orang yang kurang baik, kita bisa belajar dari kesalahannya. Jika kita bertemu orang baik, kita akan belajar banyak nilai kebenaran. Semua ini adalah pendidikan kehidupan. Oleh karena itu, kita harus menjaga “Sangha yang hakiki dalam diri” kita dan mematuhi sila serta aturan. Jika kita bisa melakukannya, maka kehidupan kita akan selalu// berada dalam Dharma. Karena itu dikatakan// “Buddha, Dharma, Sangha yang hakiki” bersemayam dalam hati kita.
Dan inilah yang dimaksud dengan mengumpulkan// Kita harus terus belajar dari orang lain dan bersumbangsih bagi masyarakat. Kita belajar sambil bersumbangsih. Karena itu, Bodhisattva dikatakan//“Mencari ajaran Buddha”, dengan terus-menerus belajar dan “membimbing semua makhluk” dengan meringankan penderitaan mereka. Dengan berinteraksi dengan beragam orang, kita bisa mempelajari banyak hal. Dengan demikian, kebijaksanaan pun bertumbuh dan pahala semakin bertambah. Beginilah, dalam jangka waktu yang panjang kita mengumpulkan// Inilah cara merealisasi// tubuh Buddha atau tubuh Dharma.
Semua ini diawali dengan mengumpulkan// pahala dan kebijaksanaan yang tak terhingga, melalui pengembangan Enam Paramita dan praktik cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Enam Paramita meliputi: Dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, kebijaksanaan “Paramita” berasal dari bahasa Sanskerta yang diterjemahkan sebagai “menyeberang” dalam bahasa Mandarin. Karena itu, dalam bahasa Mandarin Enam Paramita disebut juga “Enam Cara Penyeberangan”. Seperti kita ketahui, Enam Paramita disebut juga praktik Enam Kesempurnaan, yaitu dana, disiplin moral, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Ini adalah hal yang sangat penting bagi kita yang mempelajari ajaran Buddha. Yang pertama adalah dana. Berdana sangatlah penting. Berdana berarti bersumbangsih secara terus-menerus tanpa pamrih dan tanpa keakuan, hanya terus bersumbangsih. Dalam 12 bagian Tripitaka, ajaran-ajaran yang ada tak terlepas dari ajaran Enam Paramita ini. Berdana berarti bertekad untuk bersumbangsih.
Memberi dengan pemahaman tentang kekosongan tiga aspek dana, tidak melekat pada wujud dana tersebut, pikiran senantiasa tak tergoyahkan dan berada dalam kesadaran yang jernih, inilah praktik Bodhisattva yang tertinggi, inilah pahala kebajikan yang sesungguhnya. Saat ini ketika kita ada di alam manusia, melatih Enam Paramita menjadi semakin penting. Paramita dana berarti bersumbangsih. Bila dalam hubungan antarsesama//kita tidak bersumbangsih, berarti kita bersikap egois. Berdana sungguh sangat penting. Dalam Sutra Buddha, sering dibahas tentang hal ini. Pada suatu kali, Buddha berkata bahwa dahulu sewaktu Beliau masih melatih diri pada berkalpa-kalpa yang lampau, Beliau adalah seorang bapak tua. Ia sangat kaya dan menyukai ajaran Buddha. Buddha yang hadir pada masa itu juga mengajarkan tentang berdana. Menyadari kehidupannya yang makmur orang tua ini berpikir bahwa ia harus// mempraktikkan Enam Paramita, khususnya Paramita yang pertama, yaitu dana.
Baginya, ini adalah hal yang mudah. Karena itu, ia berkeliling ke seluruh negeri untuk mencari tempat dan orang yang membutuhkan bantuannya. Namun pada saat itu, raja di sana adalah seorang yang baik hati sehingga rata-rata penduduk dapat hidup dengan berkecukupan. Namun, orang tua ini mengamati bahwa meski orang-orang hidup berkecukupan, ketika mereka jatuh sakit mereka tetap membutuhkan tabib dan obat. Meski memiliki harta untuk hidup namun saat sakit mereka tetap menderita. Karena itu, ia mendapat gagasan untuk mendatangkan bermacam obat dari luar negeri, serta mempekerjakan orang untuk// mengolah obat-obatan ini agar bermanfaat. Sejak itu, setiap orang yang jatuh sakit akan datang padanya. Dan orang tua ini akan memanggil tabib untuk mengobati// secara cuma-cuma hingga orang tersebut sembuh. Reputasinya semakin meluas dan banyak orang datang meminta bantuannya. Orang tua itu pun mulai mengunjungi tempat-tempat terpencil untuk memberikan pengobatan gratis, mirip baksos yang kita adakan sekarang.
Orang yang datang pun semakin banyak dan ia pun harus mengeluarkan lebih banyak biaya hingga hartanya pun habis. Ia pun menghadap raja demi meminjam uang// untuk membeli obat. Meski telah mendapat pinjaman dan menyediakan lebih banyak obat, namun orang yang membutuhkan makin banyak dan cakupan lokasi pengobatan cuma-cuma ini juga semakin luas. Sementara, uang yang dipinjam dari raja// tentu harus dikembalikan. Maka dari itu, orang tua ini kemudian pergi ke luar negeri untuk berdagang. pergi ke luar negeri untuk berbisnis. Ia berhasil dan menghasilkan banyak uang. Dalam perjalanan pulang ke negerinya, setelah kapalnya merapat, ia harus melanjutkan dengan perjalanan darat. Ia membawa banyak harta hasil usahanya dan berjalan bersama sekelompok pedagang.
Mereka tiba di suatu tempat yang sangat kering, semua orang kehausan, namun tidak ada air. Kemudian mereka menemukan sebuah sumur di sebuah tempat yang tak berpenduduk. Anggota rombongan yang lain melihat orang tua ini membawa banyak barang berharga. Mereka pun bersekongkol, “Meski semua harta kita dikumpulkan, tetap lebih sedikit dibanding harta miliknya.” “Ayo kita bunuh saja dia, hingga kita bisa memperoleh harta miliknya.” Bangkitlah niat jahat dalam hati mereka. Saat melihatnya sedang melongok ke sumur untuk mengamati airnya dan memikirkan cara untuk menimba air itu, mereka semua pun segera menjorokkannya ke sumur. Namun, saat terjatuh ke dalam sumur orang tua ini tersangkut oleh sesuatu. Sementara orang-orang yang telah melihatnya jatuh ke dalam sumur segera membagi-bagi harta miliknya dan bubar.
Bagaimana dengan bapak yang masih berada di dasar sumur ini? Ia tidak marah ataupun mengeluh, melainkan dengan tenang mencari jalan keluar, namun air sumur sangat dalam. Kemudian ia melihat seberkas cahaya. Ternyata ada sebuah gua. Ia pun mengikuti gua tersebut dan setelah berjalan selama tujuh hari, ia pun tiba di kota asalnya. Ia pun menghadap raja untuk melaporkan bahwa ia tidak mendapat hasil apa-apa// dari kepergiannya ke luar negeri. “Baginda, aku akan mengembalikan uangmu sedikit demi sedikit.” Raja sulit memercayai bahwa kepergiannya yang begitu lama tidak menghasilkan apapun, sehingga terus menanyainya tentang apa yang telah terjadi dalam perjalanannya. Ia terus berkata, “Tidak ada apa-apa.” “Aku memang tidak mendapat hasil apa-apa.” Akhirnya, raja memahami bahwa orang tua ini adalah seorang yang sangat baik hati dan tidak akan mengadukan// kejahatan terhadap dirinya. Maka, raja memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki.
Dan diketahuilah bahwa dalam perjalanan telah terjadi perampokan. Raja pun memanggil para pedagang tersebut dan berkata pada mereka, “Yang bersedia mengaku akan dibebaskan.” Akhirnya ada yang mengakui kejadian sebenarnya. Raja pun memerintahkan para pedagang itu, “Kembalikan semua barang yang kalian rampas.” Setelah barang-barang itu dikembalikan, orang-orang itu dijebloskan ke penjara. Orang tua ini merasa sangat tidak enak hati. Hanya karena beberapa barang ini, banyak orang dijebloskan ke dalam penjara. Ia pun memohon agar raja membebaskan mereka. Raja tersentuh oleh sikap orang tua ini. Raja mengembalikan barang miliknya dan membebaskan orang-orang tersebut. Orang-orang ini juga merasa orang tua ini bagaikan Buddha, sehingga ia dapat berbesar hati untuk memaafkan kejahatan mereka dan membebaskan mereka dari penjara. Dan orang-orang ini pun tersadar dari kesalahan mereka.
Ini adalah suatu kejadian saat Buddha Gautama belum meraih pencerahan. Lihatlah, bahkan pada saat itu Buddha telah memberikan pengobatan gratis. Dalam Sutra pun dijelaskan bahwa segala tindakan memberi bantuan pada orang lain dapat disebut berdana. Inilah cinta kasih. Semua perbuatan bajik ini harus diakumulasi dalam waktu yang panjang melalui cinta kasih universal dan// sumbangsih tanpa pamrih, Karena itu, dalam Enam Paramita, yang pertama adalah berdana. Jadi, kita semua harus bersungguh-sungguh memerhatikan setiap waktu yang kita miliki, yaitu dalam 86.400 detik sehari selalu menjaga niat pikiran kita setiap detiknya. Hidup tidaklah kekal, niat pikiran kita harus dijaga dengan baik agar kita dapat mempertahankan “Tiga Permata yang hakiki dalam diri”. Semua orang hendaklah//lebih bersungguh-sungguh.