Teguh Menapaki Jalan Bodhisatwa dengan Keharmonisan dan Kesatuan Hati
“Kali ini, relawan yang kembali berjumlah 180 orang. Meski perjalanan dari wilayah timur AS butuh hampir 17 jam dan perjalanan dari wilayah barat AS butuh hampir 15 jam, tetapi gunung dan lautan tidak dapat memutus jalinan kasih sayang antara kami dan Master selama 60 tahun,” kata Li Qiong-xun, Ketua Tzu Chi Amerika Serikat.
Saya sangat sukacita melihat kalian kembali. Kehidupan tidaklah kekal. Kita harus senantiasa ingat akan ketidakkekalan hidup. Bagaimanapun, sulit untuk terlahir sebagai manusia. Bisa terlahir sebagai manusia dan memiliki tubuh ini, kita harus menghargainya. Sulit bagi manusia untuk bertemu ajaran Buddha. Lihatlah, di dunia ini, berapa banyak orang yang mengenal ajaran Buddha? Selain itu, lebih sulit lagi untuk memiliki pemahaman benar terhadap ajaran Buddha.
Sebagai insan Tzu Chi, kita berpegang pada ajaran Buddha. Meski ada relawan yang menganut agama yang berbeda, kita tetap saling menghormati dan mengasihi sebagai sesama insan Tzu Chi. Jadi, sesama insan Tzu Chi selalu sangat dekat dan saling mengasihi. Kita dekat sebagai saudara se-Dharma. Hendaklah kita menghargai jalinan kasih sayang antarsaudara se-Dharma. Insan Tzu Chi memang penuh cinta kasih. Kita mengasihi semua orang tanpa memandang perbedaan agama. Inilah semangat keagamaan yang diajarkan oleh Buddha.
Sebagai insan Tzu Chi, kita berpegang pada ajaran Buddha. Meski ada relawan yang menganut agama yang berbeda, kita tetap saling menghormati dan mengasihi sebagai sesama insan Tzu Chi. Jadi, sesama insan Tzu Chi selalu sangat dekat dan saling mengasihi. Kita dekat sebagai saudara se-Dharma. Hendaklah kita menghargai jalinan kasih sayang antarsaudara se-Dharma. Insan Tzu Chi memang penuh cinta kasih. Kita mengasihi semua orang tanpa memandang perbedaan agama. Inilah semangat keagamaan yang diajarkan oleh Buddha.
Saudara sekalian, kalian kembali dari tempat yang jauh. Tzu Chi sudah lama dijalankan di Texas, AS. Ji En dan Ci Ming juga kembali ke Griya Jing Si. Inilah jalinan jodoh. Asalkan kalian kembali ke sini, kita bisa mempererat jalinan kasih sayang. Jalinan jodoh ini sangatlah berharga. Kita harus saling menghargai dan mengasihi. Sulit untuk terlahir sebagai manusia dan memiliki jalinan kasih sayang antarsaudara se-Dharma seperti ini. Ini sungguh tidak mudah. Yang lebih mengagumkan lagi ialah kita mendedikasikan diri untuk menjalankan Tzu Chi.
Kita menapaki Jalan Bodhisattva. Menapaki Jalan Bodhisattva berarti tidak ada orang yang tidak saya kasihi di dunia ini. Melihat orang lain mengalami kesulitan dan penderitaan, kita merasa tidak tega. Karena itu, kita selalu berusaha untuk melenyapkan penderitaan mereka secepat mungkin. Jadi, kita mengasihi orang bagai mengasihi diri sendiri. Ini benar-benar telah kita jalankan.
Saudara sekalian, kembangkanlah nilai kehidupan kita dengan kesungguhan hati dan cinta kasih. Selama dua hingga tiga tahun ini, saya terus mengingatkan orang-orang untuk menginventarisasi kehidupan masing-masing dan mengembangkan nilai kehidupan. Terhadap setiap tim relawan yang kembali, saya selalu berkata demikian. Inilah yang selalu saya tekankan beberapa tahun ini.
Kita harus mengimbau orang-orang untuk menginventarisasi kehidupan masing-masing. Bagaimana kita menghargai nilai kehidupan kita? Ini bukan berarti hanya mementingkan diri sendiri. Kita harus menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Kita harus memiliki arah dan jalan yang benar. Untuk itu, kita harus memiliki pikiran dan pandangan benar. Dengan pikiran dan pandangan benar, barulah kita bisa menapaki jalan yang benar.
Kita menapaki Jalan Bodhisattva. Menapaki Jalan Bodhisattva berarti tidak ada orang yang tidak saya kasihi di dunia ini. Melihat orang lain mengalami kesulitan dan penderitaan, kita merasa tidak tega. Karena itu, kita selalu berusaha untuk melenyapkan penderitaan mereka secepat mungkin. Jadi, kita mengasihi orang bagai mengasihi diri sendiri. Ini benar-benar telah kita jalankan.
Saudara sekalian, kembangkanlah nilai kehidupan kita dengan kesungguhan hati dan cinta kasih. Selama dua hingga tiga tahun ini, saya terus mengingatkan orang-orang untuk menginventarisasi kehidupan masing-masing dan mengembangkan nilai kehidupan. Terhadap setiap tim relawan yang kembali, saya selalu berkata demikian. Inilah yang selalu saya tekankan beberapa tahun ini.
Kita harus mengimbau orang-orang untuk menginventarisasi kehidupan masing-masing. Bagaimana kita menghargai nilai kehidupan kita? Ini bukan berarti hanya mementingkan diri sendiri. Kita harus menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita. Kita harus memiliki arah dan jalan yang benar. Untuk itu, kita harus memiliki pikiran dan pandangan benar. Dengan pikiran dan pandangan benar, barulah kita bisa menapaki jalan yang benar.
Saudara sekalian, kita harus membina cinta kasih dan melapangkan hati. Saya sering berkata bahwa di kehidupan ini, saya tidak memiliki kemampuan apa pun. Saya hanya tidak pernah bertikai. Saya tidak pernah bertikai dalam hal apa pun dengan siapa pun di dunia ini. Saya tidak pernah bertikai dengan dunia, hal, dan orang. Menginventarisasi kehidupan saya, inilah ciri khas saya. Setelah melakukan inventarisasi, saya memberi diri sendiri nilai yang baik. Kehidupan saya sungguh bermakna.
Kini, saya telah lanjut usia. Memimpin Tzu Chi hingga sekarang, saya merasa sangat tenang karena setiap insan Tzu Chi telah menuju arah yang benar. Terlebih lagi, saat kalian kembali, saya bisa melihat kesatuan hati dan keharmonisan kalian. Inilah yang membuat saya paling sukacita. Selain bekerja sama menjalankan Tzu Chi, kita juga harus mewariskan semangat Tzu Chi.
Saat ini, kita harus bekerja sama dengan harmonis. Kita harus harmonis dan saling mengasihi. Lewat kerja sama yang harmonis, barulah kita bisa memperluas jangkauan Tzu Chi dan menjalankan misi dengan sempurna. Yang lebih penting lagi, kita harus bergotong royong. Jadi, kita harus mengerahkan tenaga. Kalian mungkin akan berkata, “Master, kami sudah lanjut usia.” Namun, ingatlah bahwa jiwa kebijaksanaan kita tidak akan tua. Kita hendaknya terus mengembangkan kebijaksanaan untuk bersumbangsih. Asalkan menjaga kesehatan dengan baik, kita akan selalu memiliki kekuatan dan keberanian untuk bersumbangsih bagi dunia.
Melihat kalian kembali, saya sangat sukacita. Kita hendaknya memotivasi satu sama lain. Saya juga ingin memotivasi kalian meski sejak akhir tahun lalu hingga sekarang, saya merasa sulit untuk membuka pintu hati saya. Ketidakkekalan hidup sungguh tidak terhindarkan.
Kini, saya telah lanjut usia. Memimpin Tzu Chi hingga sekarang, saya merasa sangat tenang karena setiap insan Tzu Chi telah menuju arah yang benar. Terlebih lagi, saat kalian kembali, saya bisa melihat kesatuan hati dan keharmonisan kalian. Inilah yang membuat saya paling sukacita. Selain bekerja sama menjalankan Tzu Chi, kita juga harus mewariskan semangat Tzu Chi.
Saat ini, kita harus bekerja sama dengan harmonis. Kita harus harmonis dan saling mengasihi. Lewat kerja sama yang harmonis, barulah kita bisa memperluas jangkauan Tzu Chi dan menjalankan misi dengan sempurna. Yang lebih penting lagi, kita harus bergotong royong. Jadi, kita harus mengerahkan tenaga. Kalian mungkin akan berkata, “Master, kami sudah lanjut usia.” Namun, ingatlah bahwa jiwa kebijaksanaan kita tidak akan tua. Kita hendaknya terus mengembangkan kebijaksanaan untuk bersumbangsih. Asalkan menjaga kesehatan dengan baik, kita akan selalu memiliki kekuatan dan keberanian untuk bersumbangsih bagi dunia.
Melihat kalian kembali, saya sangat sukacita. Kita hendaknya memotivasi satu sama lain. Saya juga ingin memotivasi kalian meski sejak akhir tahun lalu hingga sekarang, saya merasa sulit untuk membuka pintu hati saya. Ketidakkekalan hidup sungguh tidak terhindarkan.
“Tahun 2000, Kakak Ji Cheng mengemban misi dari Master untuk menjalankan Tzu Chi di Dallas. Dengan tekun dan sungguh-sungguh, beliau mengemban misi selama lebih dari 20 tahun. Baik pembagian beasiswa, penyaluran bantuan bencana, maupun pengadaan bazar amal, dalam setiap aktivitas Tzu Chi di setiap tempat, selalu terlihat sosok Kakak Ji Cheng dan kecermatannya. Kakak Ji Cheng sungguh dipenuhi berkah,” kata Ge Ji Jie, Ketua Tzu Chi Dallas, AS.
“Sebelum meninggal dunia, beliau menerima arahan dari Master. Master berkata padanya bahwa di kehidupan sekarang, Masterlah yang membimbingnya dan di kehidupan berikutnya, Kakak Ji Cheng yang akan membimbing Master menapaki Jalan Bodhisatwa Tzu Chi,” pungkas Ge Ji Jie.
Saya merasa sangat kehilangan. Dia merupakan murid saya yang baik. Saya membimbingnya menapaki Jalan Tzu Chi dan berharap kelak dia dapat membimbing saya untuk terus menapaki jalan ini. Saya yakin bahwa dia pasti telah kembali dan bertumbuh dalam keluarga Tzu Chi. Saya sangat yakin padanya. Meski sangat kehilangan, kita tetap harus tulus bersyukur kepada dirinya yang telah menginspirasi banyak orang untuk bergabung dengan Tzu Chi. Saya berharap dia dapat terus melakukannya dari kehidupan ke kehidupan.
Sebagai insan Tzu Chi, kita harus berpegang pada semangat Tzu Chi serta selalu harmonis, bersatu hati, saling menghargai, dan saling mengasihi. Singkat kata, kita harus meneguhkan tekad untuk menapaki Jalan Bodhisattva dari kehidupan ke kehidupan. Janganlah kita melupakan tekad ini.
Sebagai insan Tzu Chi, kita harus berpegang pada semangat Tzu Chi serta selalu harmonis, bersatu hati, saling menghargai, dan saling mengasihi. Singkat kata, kita harus meneguhkan tekad untuk menapaki Jalan Bodhisattva dari kehidupan ke kehidupan. Janganlah kita melupakan tekad ini.
Hargailah jiwa kebijaksanaan dan kesempatan langka terlahir sebagai manusia
Tidak pernah terlibat pertikaian serta senantiasa tekun dan bersemangat
Teguh menapaki Jalan Bodhisattva dengan keharmonisan dan kesatuan hati
Mewariskan semangat Tzu Chi dan bekerja sama dengan pikiran benar
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 17 April 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 19 April 2026