Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 084 – Noda Batin Bagaikan Belenggu

Saudara se-Dharma sekalian, banyak hal di dunia ini yang menambah noda batin. Akan tetapi, sebagai praktisi Buddhis, kita dapat berlatih mengurangi noda batin. Sebagian orang memendam noda batin mereka. Kerisauan mereka bukan disebabkan masalah kondisi alam, juga bukan karena penderitaan semua makhluk di dunia. Sebaliknya, mereka risau karena masalah pribadi, masalah perasaan, masalah hubungan dengan orang lain, atau karena cinta, benci, dan dendam. atau karena cinta, benci, dan dendam. Hal ini mudah menimbulkan   “badai topan” dalam batin. Kita tahu bahwa badai muncul// akibat ketidakselarasan cuaca dan ketidakseimbangan tekanan udara. Tekanan udara ini tidak dapat dilihat ataupun disentuh. tidak dapat dilihat ataupun disentuh. Mari kita perhatikan noda batin dalam diri kita. noda batin dalam diri kita. Noda batin juga tidak dapat disentuh. Noda batin juga tidak dapat disentuh. Akan tetapi, ketika noda batin ini muncul, bukankah kasusnya menyerupai tekanan atau arus udara yang tidak stabil di alam? Ia mengakibatkan gejolak atau badai// dalam pikiran kita. Lihatlah kerusakan di bumi. Bukankah ini adalah akibat dari ketidakselarasan unsur angin, air, dll. yang membawa bencana banjir, kebakaran, dan badai?

Demikian pula, bukankah ketamakan, kebencian, dan kebodohan telah merusak lahan batin kita? Sesungguhnya, bumi telah menopang segala bentuk kehidupan di dunia. Akan tetapi, di antara semua makhluk yang ada, manusialah yang menyebabkan rusaknya bumi. Padahal dalam lahan batin kita Padahal dalam lahan batin kita kita memiliki hakikat welas asih yang sama dengan Buddha, mampu mengasihi semua makhluk di dunia. mampu mengasihi semua makhluk di dunia. Akan tetapi, sifat welas asih ini juga telah rusak. Apa yang merusak lahan batin kita? Noda batinlah yang merusaknya. Noda batinlah yang merusaknya. Karena itu, noda batin sungguh menakutkan. Buddha dan para suci// yang telah memahami kebenaran sudah menggunakan beragam metode untuk mengajar dan membimbing kita. untuk mengajar dan membimbing kita. Akan tetapi, semua makhluk diliputi kebodohan sehingga tidak dapat menyadari kebenaran yang diajarkan oleh para suciwan. 

Akibatnya, noda batin kita terus bermunculan bagaikan musuh yang datang menyerang. Musuh seperti ini  akan terus berusaha menghancurkan kita. Yang terparah adalah menghancurkan// akar jiwa kebijaksanaan. Dalam berlatih ajaran Buddha,  tujuan kita adalah mengembangkan jiwa kebijaksanaan. Dengan tumbuhnya kebijaksanaan, kegelapan batin baru dapat lenyap. Akan tetapi, musuh ini terus berusaha membasmi// akar jiwa kebijaksanaan kita. Sungguh menakutkan. Jadi, kita harus berusaha mencegah munculnya noda batin dalam pikiran kita. Noda batin juga disebut bagaikan perampok. Noda batin juga disebut bagaikan perampok. Noda batin sama seperti pencuri ataupun musuh, juga bagaikan perampok. juga bagaikan perampok. Diumpamakan sebagai pencuri karena pencuri selalu mengincar barang berharga. Begitu juga dalam batin setiap orang, terdapat permata alami yang berharga. Permata alami tersebut adalah cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin.

Kita memiliki timbunan jasa kebajikan yang sangat berlimpah.   Akan tetapi, tanpa kebijaksanaan, timbunan jasa kebajikan kita tidak terlindungi, pencuri malah berkesempatan untuk masuk dan membawanya pergi. Dalam Sutra Bunga Teratai juga terdapat perumpamaan yang menggambarkan bahwa setiap orang memiliki permata berharga. Dikisahkan ada seseorang yang meski memiliki permata yang tak ternilai pada dirinya, hidupnya tetap sangat menderita, bahkan masih mengemis pada orang lain untuk bertahan hidup. Kemudian dia berjumpa dengan seseorang yang pernah menaruh permata ke dalam bajunya tanpa sepengetahuan dirinya. Suatu hari, mereka berjumpa kembali, lalu orang itu bertanya, “Aneh, mengapa kamu masih hidup melarat seperti ini?” “Saya telah menaruh sebutir permata ke dalam bajumu.” “Seharusnya kamu dapat menjualnya agar dapat hidup dengan baik.” Pria ini memeriksa bajunya dan berkata, “Ternyata benar, sejak kapan saya memiliki permata yang tak ternilai ini?” Apakah kalian memahami perumpamaan ini? Orang yang sempurna memahami kebenaran// adalah Buddha.

Beliau sudah memberi tahu kita sejak awal bahwa kita sama seperti Beliau, memiliki harta kebijaksanaan yang berlimpah. Hanya saja kita telah melupakannya sehingga masih berpegang pada kebodohan dan kegelapan batin dalam menjalani kehidupan awam, terus terbelenggu oleh perasaan cinta, benci, dan dendam. Jadi, kita hendaknya selalu waspada terhadap noda batin ini, bagaikan mewaspadai pencuri atau perampok yang masuk ke dalam lahan batin kita untuk mengambil permata yang kita miliki, yaitu kebijaksanaan. Karena itu, disebutkan bahwa noda batin dapat merampas kebajikan semua makhluk. Pencuri seperti ini sungguh keji, begitu juga dengan kegelapan batin yang merenggut kebajikan dalam batin kita. Akibatnya, kita menjadi tersesat. Ketika pikiran baik ditutupi oleh pikiran jahat, kita akan berani melakukan kejahatan. Semakin banyak kejahatan yang dilakukan, kita akan semakin tidak takut. Akibatnya, kita berani melanggar yang tidak seharusnya dilanggar.

Noda batin dan pikiran jahat ini seharusnya adalah hal yang kita waspadai karena dengan munculnya pikiran jahat, kemampuan kita untuk menunaikan kewajiban menjadi hilang. untuk menunaikan kewajiban menjadi hilang. Begitu juga dengan para praktisi. Umat perumah tangga harus menaati lima sila. Akan tetapi, dengan munculnya pikiran jahat atau kegelapan batin, kita melanggar lima sila.  kita melanggar lima sila.  Begitu juga dengan anggota Sangha monastik. Kita harus menjaga kemurnian sila dalam tubuh dan pikiran. Begitu noda batin muncul dan kegelapan batin bangkit, maka noda batin yang muncul ini akan membuat kita semakin nekat, lalu melanggar panduan moral. Noda batin ini sungguh buruk karena telah menambah kenekatan kita hingga berani melanggar sila. Karena itu, kita sungguh harus berhati-hati. Jadi, noda batin juga bagaikan// sungai yang deras karena dapat menghanyutkan semua makhluk ke lautan derita kelahiran kembali. Noda batin kita bagaikan sungai, juga bagaikan banjir bandang. Tahukah kalian tentang banjir bandang? Yaitu gelombang arus yang dahsyat. Kita sering menyaksikan berita luar negeri tentang betapa banyak bencana yang melanda akibat kondisi cuaca ekstrem seperti hujan yang sangat lebat yang menyebabkan banjir dan tanah longsor. yang menyebabkan banjir dan tanah longsor. Kita dapat melihat bahwa mulanya alam begitu indah dan tenang. Akan tetapi, hujan yang sangat lebat mengubah hamparan tanah menjadi luapan sungai. Gelombang arus yang dahsyat menyapu orang-orang dan bangunan.

Rumah-rumah juga tergenang oleh banjir akibat hujan lebat. Rumah-rumah terlihat mengapung di air dan terseret oleh gelombang besar. Banyak pohon besar juga terlihat tumbang dan terbawa oleh air banjir. Yang paling memilukan hati adalah  orang-orang yang berjuang di tengah arus air dengan nyawa yang terancam. Keluarga mereka berteriak dan mengulurkan tangan untuk menolong. Akan tetapi, jarak mereka terlalu jauh. Melihat pemandangan ini, dapat kita bayangkan ketidakseimbangan alam  ketidakseimbangan alam  yang telah mengakibatkan kehancuran bagi semua bentuk kehidupan di bumi. Kini, mari kembali amati batin manusia. Noda batin muncul bagaikan banjir bandang. Ia menyeret semua makhluk ke dalam lautan penderitaan kelahiran kembali. Jika bukan karena noda batin, kita tak mungkin terlahir di tiga alam rendah, yaitu alam neraka, setan kelaparan,// dan binatang.

Ketika buah karma di alam tersebut habis, Ketika buah karma di alam tersebut habis, kita masih terlahir kembali di alam manusia. Jika masih memiliki kebiasaan buruk, masih bersikap keras kepala dan bodoh, kita akan terus menciptakan karma buruk. Lagi pula, saat kembali ke alam manusia, banyak hal yang berada di luar kendali kita. Ada yang terlahir dengan cacat fisik atau berwatak keras kepala dan bodoh. Ada pula yang berhati kejam dan dengki. Sungguh sulit untuk menjelaskan mengapa pikiran tertentu dapat muncul dalam batin kita, karena saat noda batin muncul, kita seperti terseret oleh arus yang deras yang berada di luar kendali kita. Hal ini sungguh menakutkan. Jadi, noda batin bagaikan sungai yang deras yang dapat menghanyutkan semua makhluk ke dalam lautan penderitaan kelahiran kembali. ke dalam lautan penderitaan kelahiran kembali. Noda batin juga bagaikan belenggu yang mengunci semua makhluk// dalam penjara samsara hingga tidak dapat membebaskan diri. Saudara sekalian, noda batin bagaikan rantai yang membelenggu kita. Jika kita melihat para narapidana sedang berjalan, suara rantai borgol mereka// akan terdengar lebih dahulu. Terkadang di rumah sakit, kita juga melihat pasien yang diawasi polisi. Kita akan tahu pasien itu adalah tahanan.

Saat masuk untuk memerhatikan mereka, kita akan menemukan ada borgol terkunci di ranjang pasien. Saat melihatnya, terlintas dalam pikiran saya, “Kondisi sakit sudah cukup menderita.” “Ditambah dengan terborgol di atas ranjang, penderitaannya sungguh tak terkira.” Ini seperti neraka ranjang besi yang digambarkan dalam Sutra Ksitigarbha. Baik terbelenggu sendirian maupun berama-ramai di atas ranjang besi, para makhluk di sana akan tetap merasa sesak. Ditambah lagi dengan rantai yang membelenggu, mereka sungguh menderita. Demikian pulalah di alam manusia, saat seseorang melakukan pelanggaran berat, dia akan menerima hukuman seperti diborgol atau dirantai. Sesungguhnya, bukankah noda batin kita sama seperti belenggu ini? Pada dasarnya kehidupan sudah penuh derita dan tak dapat dikendalikan. Kita malah menambahnya lagi dengan berbagai noda batin seperti cinta asmara dll. untuk membelenggu diri kita. Ikatan cinta dan benci serta ketamakan, kebencian, kebodohan,// kesombongan, dan keraguan yang tak berwujud nyata inilah yang terus bergelut tiada henti   dalam pikiran kita. Betapa menyedihkan.

Jadi, noda batin ini bagaikan rantai belenggu yang menjerat kita sehingga kita tidak dapat terbebas darinya. Jadi, dikatakan bahwa noda batin dapat mengunci semua makhluk dalam penjara kelahiran kembali. Benar, ini membuat semua makhluk selamanya tidak dapat terbebas dari enam alam kehidupan karena mereka terikat dengan rantai belenggu noda batin. Karena itu, noda batin bagaikan sungai deras. Noda batin bagaikan pencuri. Noda batin bagaikan belenggu. Noda batin bagaikan musuh. Saudara sekalian, noda batin saja telah membuat kita begitu menderita dan saling bertikai antarsesama.   Jika kondisi batin stabil, kita akan memiliki pikiran yang baik, memiliki disiplin dan tata karma.  memiliki disiplin dan tata karma.  Pada dasarnya kita telah memilikinya. Ini merupakan kebenaran. Saat berada dalam ketenangan dan kedamaian, inilah kondisi batin kita yang alami.

Jika pikiran tidak stabil, kondisi batin kita akan bermasalah. Saat penyakit batin muncul, ketika perasaan cinta, benci, dan dendam// datang menjerat, ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan akan muncul. Jadi, semua penderitaan ini berasal dari noda dan kegelapan batin. Saudara sekalian,   tujuan mempelajari ajaran Buddha adalah melenyapkan noda dan kegelapan batin. adalah melenyapkan noda dan kegelapan batin. Akan tetapi, jika tidak memanfaatkan  kesempatan untuk berlatih, kita akan segera terjatuh lagi ke dalam penjara kelahiran kembali. Kehidupan ini tidak kekal.  Karena itu, kita harus//memanfaatkan waktu yang ada. Jika hari ini telah memahami kebenaran, maka kita harus segera berintrospeksi. Setelah sadar, kita harus segera mengikis noda dan kegelapan batin kita. Semua ini tergantung pada niat kita. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita semua harus meningkatkan kewaspadaan. Jadi, bersungguh-sungguhlah setiap saat.

Leave A Comment