Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 088 – Mewujudkan Tanah Suci di Bumi

Saudara se-Dharma sekalian, pada pagi yang tenang ini, suasana lingkungan seperti ini membuat kita merasa nyaman dan damai. Akan tetapi, kedamaian hati baru benar-benar dapat dicapai ketika tidak ada noda batin dalam diri kita. Berapa lama jangka waktu kehidupan manusia? Berapa banyak karma yang kita miliki? Lantas, berapa banyak waktu yang kita punya  untuk merasakan kedamaian? Semua ini membutuhkan waktu. Manfaatkanlah waktu yang ada  dalam kehidupan kita untuk melakukan sesuatu  dengan perencanaan yang sungguh-sungguh. Jika tidak demikian, maka kita akan menghabiskan waktu dalam kegelapan batin yang menakutkan. Jika kita dapat merencanakan hidup dengan baik, maka dalam masa hidup ini, kita akan memiliki lebih banyak waktu untuk mencapai kedamaian hati. Kita sering berbicara tentang hukum sebab dan akibat. Pikiran kita sejak lama telah memiliki banyak kekotoran dan menciptakan banyak karma, baik karma baik maupun karma buruk.

Jika memiliki lebih banyak karma buruk, maka hidup seseorang akan lebih menderita. Jika seseorang memiliki sedikit benih karma baik atau benih berkah, maka saat benih karma buruk yang tertanam dalam batinnya selesai berbuah, giliran karma baiknya yang akan berbuah seiring munculnya jalinan jodoh baik. Saya sering berkata bahwa melatih diri sama seperti menggarap sawah. Kita harus mengerjakannya dengan tekun. Karena itu, kita membahas tentang semangat. Semangat berarti kita harus sangat tekun menyingkirkan rumput liar dalam batin kita agar tidak ada satu pun benih buruk tersebut bersemayam dalam pikiran kita. Jika ada benih buruk dalam batin yang tidak berbuah dalam kehidupan ini, mungkin akan muncul di kehidupan mendatang. Intinya, kita harus bersungguh-sungguh memanfaatkan kondisi yang mendukung dan jalinan jodoh baik untuk segera bertobat dengan sungguh-sungguh. “Hari ini kami menggunakan pikiran bajik yang mendukung ini untuk memohon belas kasihan dan bertobat.” Ini telah kita bahas sebelumnya. Setelah memahami tentang kebenaran hukum karma, kita harus menjaga pikiran dengan waspada.

Karena itu, kita harus memanfaatkan kondisi yang mendukung praktik kita dan harus bertobat dengan tulus. Selanjutnya tertulis, “Para siswa.” Kita semua adalah umat Buddha yang menyebut diri sebagai siswa Buddha. “Sejak masa tanpa awal hingga hari ini telah menuai akibat karma di enam alam kehidupan.” “Dengan adanya kesadaran pikiran ini, kebodohan batin senantiasa memenuhi hati kami.” Saudara sekalian, syair ini menyatakan bahwa dengan mengetahui prinsip tersebut, maka kita harus memahami bahwa sejak masa tanpa awal— suatu periode waktu yang tak terukur— suatu periode waktu yang tak terukur, tentu jumlah kelahiran dan kematian kita tidaklah terukur. Setiap orang telah berada di dalam siklus samsara sejak masa tanpa awal. Dalam Sutra Bakti Seorang Anak hal ini telah dijelaskan. Buddha mengatakan bahwa tulang-tulang// orang tua Beliau dari banyak kehidupan lampau dapat ditumpuk menjadi seperti gunung. Buddha mengambil dirinya sebagai contoh bahwa betapa banyaknya orang tua Beliau di berbagai kehidupan lampau. Dalam setiap kehidupan.

Dengan begitu, jika tulang-tulang orang tua dari berbagai kehidupan lampau ditumpuk, akan tampak seperti sebuah gunung. Dari sini kita akan tahu bahwa tidak mungkin bagi kita untuk menghitung  berapa jumlah kehidupan yang telah kita lalui dalam enam alam kehidupan. Sungguh tak terhitung. Karena alasan inilah, dikatakan “sejak masa tanpa awal”. Kita tidak dapat menjelaskan manakah kehidupan kita yang pertama. Hingga saat ini, kita “menuai buah karma di 6 alam kehidupan”. Dalam lingkaran kelahiran dan kematian, kita mungkin pernah terlahir di alam surga jika banyak melakukan perbuatan baik, yaitu Sepuluh Kebajikan. Jika seseorang mempraktikkan 10 Kebajikan, dia akan terlahir di alam surga. Surga dipenuhi dengan kebahagiaan. Akan tetapi, saat berkah di alam tersebut telah habis dituai,  juga akan terjatuh kembali ke alam manusia atau tiga alam rendah. Alam neraka, alam setan kelaparan,// dan alam binatang sungguh menderita. Akan tetapi, ketika penderitaannya berakhir, mereka juga dapat terlahir kembali//di alam manusia. Jadi, dengan mempraktikkan Sepuluh Kebajikan, seseorang akan terlahir di alam surga.

Kebalikannya adalah Sepuluh Kejahatan. Orang yang melakukan Sepuluh Kejahatan akan terjatuh ke neraka,//alam setan kelaparan, atau binatang. Baik terlahir di surga maupun neraka, ini adalah akibat perbuatannya sendiri semasa di alam manusia. Hanya di alam manusia kita dapat melatih diri. Di dalam Sutra, Buddha sering berkata bahwa kebuddhaan tidak dapat dicapai di alam surga. Kebuddhaan hanya dapat dicapai di alam manusia karena di alam ini penderitaan dan kebahagiaan datang silih berganti. Di alam manusia  ada penderitaan dan kebahagiaan. Kini kita dapat melihat orang yang hidupnya berlimpah//bagaikan hidup di surga. Kita pernah mengunjungi rumah seorang umat. Rumahnya sangat mewah. Begitu masuk ke rumah itu, orang bisa tahu betapa kaya pemiliknya. Perlengkapan kamar mandi misalnya, seperti bak mandi, wastafel, keran air, dll., entah sudah dapat menafkahi berapa banyak keluarga hingga kebutuhan sandang dan pangan mereka tercukupi. Ukuran sebuah kamar mandi saja sudah dapat menjadi tempat bernaung entah bagi berapa banyak keluarga.

Saat pertemuan pagi relawan, saya juga menyebutkan bahwa di Indonesia ada orang yang tinggal di sisi rel kereta, bahkan di tengah-tengah dua lintasan. Mereka mendirikan gubuk secara ilegal. Bangunannya sangat rapuh. Di tempat tersebut, jarak gubuk mereka dengan rel kereta hanya kurang dari satu meter. Kita melihat seseorang keluar dari rumah untuk mencuci pakaian, dan saat membawa ember untuk mengambil air, sebuah kereta melintas hanya beberapa inci dari ember tersebut. Tampaknya sangat berbahaya. Ketika kita akan naik kereta api di stasiun, di pelatarannya akan terlihat garis kuning. Banyak orang yang datang ke stasiun untuk mengantar kerabat mereka. Jika mereka berdiri melewati garis kuning, saya selalu mengingatkan mereka  untuk berdiri di belakang garis dan menjauh dari lintasan kereta. Garis ini berjarak satu meter dari kereta. Melihat mereka berdiri melewati garis, membuat saya sangat khawatir. Jika berdiri lebih dekat ke posisi kereta yang sedang melintas, embusan anginnya seolah-olah  akan membuat orang terhempas. Akan tetapi, para warga tadi tinggal di Jakarta, sebuah kota besar. Banyak kereta melintas di kota tersebut.

Setiap beberapa menit, ada satu kereta yang melintas. Lihatlah, gubuk warga di sisi rel kereta saling berdempetan dan tidak teratur. Gubuk-gubuk tersebut sangat bobrok, bagaikan pakaian yang ditambal berulang kali. Dalam keseharian, mereka sering terluka//oleh kereta yang melintas. Kita juga melihat warga yang tinggal di sana ada yang kehilangan tangan mereka, mungkin disebabkan oleh kecelakaan kereta. Kita bahkan mendengar bahwa banyak warga yang tertabrak kereta hingga meninggal akibat kecerobohan mereka sendiri. Banyak keluarga yang bahkan tinggal di gubuk yang hanya seluas 10 hingga 13 meter persegi. Dua atau tiga keluarga tinggal di satu gubuk yang disewa bersama. Mereka harus tidur secara bergantian, sebagian siang, sebagian malam. Gubuk mereka begitu kecil, bobrok, bau, dan kotor. Luasnya hanya 7 hingga 10 meter persegi. Yang paling luas hanya 13 meter persegi. Dua atau tiga keluarga saling berbagi//dalam satu gubuk. Mereka telah tinggal puluhan tahun. Sebaliknya kita lihat rumah keluarga kaya, kamar mandi saja seluas//23 hingga 26 meter persegi dan ada sauna di dalamnya. Jika kita bandingkan dua kondisi tadi, tidakkah kita merasa bahwa surga dan neraka ada di kehidupan ini?

Karena itu, yang kita perjuangkan adalah menginspirasi orang yang berada agar mereka menyadari berkah, menghargai berkah, dan memiliki kemampuan untuk segera menciptakan berkah kembali, yaitu menolong orang yang menderita, menolong keluarga yang tinggal di gubuk kecil dengan berimpitan, terlebih lagi di sisi rel kereta// yang sangat berbahaya. Kita berharap warga tersebut dapat segera terbebas dari kondisi demikian. Kita berharap mereka atau warga yang tinggal di bangunan ilegal sepanjang Kali Angke dapat segera memiliki tempat yang menenangkan raga, menenteramkan jiwa,// dan menstabilkan kehidupan. Tempat tinggal yang menenangkan raga, selain aman, juga harus memiliki sanitasi, ventilasi, dan penerangan yang baik. Bukankah kondisi seperti ini tersedia di Perumahan Cinta Kasih? Ini merupakan tempat di mana orang dapat menjalani hidup dengan stabil. Selain itu, orang-orang penuh berkah yang adalah Bodhisattva dunia ini, memikirkan lebih lanjut dan memerhatikan kehidupan warga agar warga dapat hidup stabil. Setelah kebutuhan jasmani mereka terpenuhi dengan stabil, hati mereka menjadi damai secara alami. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, selanjutnya mereka diberikan pendidikan.

Selain kehidupan yang stabil, anak-anak mereka juga diberikan pendidikan yang baik. Jadi, Perumahan Cinta Kasih memerhatikan seluruh sendi kehidupan mereka. Perubahan kondisi ini sungguh bagaikan dari neraka menuju ke surga. Kita membebaskan mereka dari kondisi neraka dan menempatkan mereka di surga. Akan tetapi, apakah kehidupan di surga bersifat kekal? Di dunia ini, segala sesuatu yang berwujud akan mengalami kerusakan. Setelah beberapa dekade, jika mereka yang tinggal di sini tidak mengubah cara berpikir mereka, maka sebersih apa pun atau sebaik apa pun lingkungan sekarang, akan tetap menjadi kotor. Bangunan juga akan lapuk dan rusak. Ini akan terjadi setelah beberapa dekade. Jadi, yang paling penting sekarang adalah menyelamatkan hati dan pikiran. Kita juga mendengar bahwa orang tua yang pindah ke Perumahan Cinta Kasih memiliki harapan yang sangat besar.

Mereka berharap  dapat bekerja keras untuk mencari nafkah agar memiliki kehidupan yang layak dan memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak mereka. Mereka berharap bahwa di masa mendatang, presiden Indonesia berasal dari anak-anak Perumahan Cinta Kasih. Cita-cita ini tentu sangat baik. Saya sangat bahagia ketika mendengar// seorang warga berkata, “Kita jangan takut untuk menerima pemberian Tzu Chi.” “Meski Tzu Chi adalah organisasi Buddhis, mereka tak akan memengaruhi keyakinan kita.” “Mereka semua adalah orang baik.” “Mereka datang untuk menolong dan mencurahkan cinta kasih bagi kita.” “Kita harus mengikuti jejak mereka.” “Saat diajari untuk memerhatikan orang lain, kita harus segera mengikuti.” Ini adalah semangat relawan yang telah meresap ke dalam hati mereka. Semangat dan kebijaksanaan mereka  telah bertunas. Saya percaya ini adalah harapan terbesar kita.

Di Perumahan Cinta Kasih, setiap orang telah terinspirasi. Setiap keluarga dan individu di sini merupakan benih yang baik. Jika kita dapat menanamkan hati Bodhisattva Jika kita dapat menanamkan hati Bodhisattva di dalam diri orang-orang tersebut, mereka akan memiliki potensi untuk menciptakan berkah bagi dunia. Dengan begitu, saya percaya di dunia ini   akan semakin banyak kebahagiaan surgawi. Semoga kebahagiaan surgawi ini juga dapat semakin ditingkatkan menjadi kebahagiaan Tanah Suci di dunia. Jadi, kondisi enam alam kehidupan,  baik alam surga, neraka, setan kelaparan, maupun alam binatang, dapat ditemukan di alam manusia. Anda akan terlahir di alam surga atau di alam manusia dengan kebahagiaan lebih banyak//dari penderitaan. Lihatlah di dunia ini, banyak juga orang yang sangat bahagia. Jika kita berkata, “Hidup ini menderita.” Mereka akan berkata, “Siapa bilang?” “Saya merasa hidup ini menyenangkan.” Pemikiran inilah yang kita khawatirkan.

Berkah di surga saja dapat habis, apalagi berkah di alam manusia. Berkah di alam manusia juga dapat habis pada saatnya. Kita sering mendengar para relawan berbagi tentang hidup mereka. Ada yang hidupnya sangat baik di masa lalu, namun saat memasuki usia tua atau paruh baya, terjadi perubahan pada karier mereka. Kehidupan mereka pun berubah. Perubahan juga terjadi pada keluarga mereka. Kesehatan mereka juga mulai menurun. Ada yang jatuh miskin, menjadi tunawisma, menderita penyakit, atau kehilangan orang yang dicintai. Banyak keluarga yang mengalami hal ini. Jika kita bertanya bagaimana kondisi kehidupan mereka dahulu, mereka akan menjawab bahwa//hidup mereka sangat makmur. Jadi, kehidupan ini tidaklah kekal. “Kekayaan tak bertahan lebih dari 3 generasi.” Ini adalah pepatah terkenal dari Tiongkok.

Jadi, kekayaan duniawi tidaklah kekal, namun orang menganggapnya kekal. Kehidupan ini sungguh tidak kekal, namun mereka masih larut dan terbuai dalam kenikmatan duniawi dan menganggap semua itu kekal. Ketika masih memiliki kemampuan untuk menolong orang yang hidup dalam kesulitan, mereka tak bersedia mengulurkan tangan. Hal ini sangat disayangkan. Karena itu, kita berharap dapat terus// menyebarkan cinta kasih di dunia dan menyucikan hati manusia agar para warga mampu//juga kaya dari sisi spiritual dan cinta kasih mereka dapat tumbuh sehingga kehidupan mereka//menjadi kaya dan bermakna. Selain kaya secara materi, mereka juga kaya secara spiritual. Orang yang kaya materi sekaligus spiritual barulah benar-benar memiliki berkah. Ada orang yang hidupnya berkelimpahan, namun tidak disukai oleh banyak orang. Ini karena mereka bergaya hidup mewah, namun bersikap tamak dan kikir. Banyak yang telah mereka miliki, tetapi selalu merasa belum cukup.

Mereka tidak pernah puas. Ketamakan mereka sungguh tanpa batas. Orang-orang seperti ini amat sulit untuk diminta membantu orang lain. Akan tetapi, kita sangat beruntung karena di keluarga besar Tzu Chi ada banyak orang//yang kaya materi sekaligus spiritual. Lihatlah insan Tzu Chi di Indonesia. Di antara mereka terdapat banyak orang yang kaya materi sekaligus spiritual. Mereka memiliki kekayaan materi dan juga pengaruh yang besar. Mereka juga kaya cinta kasih. Dengan kemampuan dan pengaruh mereka, mereka memiliki akses untuk bertemu presiden. Mereka sering menjadi tamu istimewa Presiden sehingga dapat berkoordinasi dengan Beliau. Mereka juga berinteraksi dengan warga biasa. Para pengusaha ini bersedia terjun langsung untuk bersumbangsih dalam kegiatan sosial. Lihatlah, mereka juga memikul beras// hingga dipenuhi keringat. Mereka melakukannya dengan penuh sukacita. Jika kita berkata,//“Kalian telah bekerja keras.” Mereka akan menjawab, “Ini adalah berkah, bukan kerja keras.” “Memiliki berkah// baru berkesempatan mengangkat beras.” “Jika tidak punya berkah, sebutir beras pun tidak akan dimiliki.” Benar, inilah yang disebut orang yang kaya// secara materi sekaligus spiritual.

Jadi, saya sungguh berterima kasih atas banyaknya orang seperti itu  dalam keluarga besar kita, yang memudahkan kita melakukan banyak hal sehingga banyak orang yang menderita dapat segera tertolong. Kehidupan seperti ini sungguh merupakan//kehidupan yang penuh berkah. Karena itu, dapat terlahir di alam surga  atau menjadi manusia yang memiliki berkah, kita harus memanfaatkan kehidupan ini. Alam surga tidaklah kekal, apalagi alam manusia. Di dunia yang tidak kekal ini, kita harus memanfaatkan sebaik mungkin   kondisi baik yang mendukung ini untuk mengembangkan kebajikan. Baik di alam manusia, alam surga, maupun alam lainnya, kita harus menggenggam jodoh baik yang ada. Harap semua selalu bersungguh-sungguh.

Leave A Comment