Sanubari Teduh – 089 – Tiga Racun Batin Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, sudahkah kita senantiasa meningkatkan kewaspadaan? Noda batin bagaikan musuh yang membuat batin kita// penuh kebencian dan kemarahan. Noda batin bagaikan pencuri yang merenggut harta kebajikan kita tanpa kita sadari. Noda batin bagaikan arus deras yang membuat kita tenggelam ke dalamnya jika tidak hati-hati. Noda batin sungguh menakutkan. Sudahkah kita senantiasa mawas diri? Ketika noda batin muncul dalam pikiran, apakah kita dapat segera melenyapkannya? Jika ya, berarti kita tekun dalam berlatih. Sebaliknya, jika belum, kita harus segera memulainya. Berapa banyak waktu kita dalam hidup ini? Jika tidak segera memulai, kita akan segera tenggelam dalam noda batin. Kita harus berjuang menggapai kemajuan. Meski melawan arus sangatlah sulit, tetapi jika berusaha sekuat tenaga, kita masih dapat menyelamatkan diri. Seiring dengan berlalunya waktu, usia hidup semakin berkurang, namun jiwa kebijaksanaan harus senantiasa ditingkatkan.
Jadi, kita harus senantiasa bersungguh-sungguh. Kita tahu bahwa banyaknya noda batin sejak masa lampau timbul dari// interaksi kita dengan orang dan masalah. Setelah mengetahui bahwa inilah pemicu timbulnya noda batin, maka kini kita pun seharusnya melenyapkan noda batin dari sumber tersebut. Jika telah menyadarinya, kita seharusnya membangkitkan rasa bertobat. Jadi, kita seharusnya sadar dan segera memulai pada hari ini, tidak lagi menunda hingga esok hari. Jika kita selalu menunggu hingga esok hari atau menundanya hingga lain waktu, kita akan selamanya menunggu esok hari yang tiada habisnya. Kita hendaknya selalu menyadari ketidakkekalan seakan-akan tidak ada hari esok. Jadi, kita harus memulai hari ini juga. Di mana pun kita berada, baik di surga maupun alam lainnya, kita sesungguhnya dapat menemukan kondisi alam-alam tersebut di alam manusia. Surga dapat dirasakan di alam manusia. Demikian pula neraka. Mereka yang hidup dalam kelimpahan dan menikmati kehidupan yang baik berarti sedang menikmati surga di alam manusia. Bagi mereka yang menderita akibat kemiskinan, penyakit, dan kesulitan, berarti saat ini sedang berada di neraka. Pada masa sekarang ini, bukan hanya surga dan neraka, alam setan kelaparan dan binatang pun// dapat kita temukan kondisinya. Dalam satu hari saja, di alam manusia ini kita dapat melihat kondisi//lima ataupun enam alam kehidupan. Enam alam kehidupan adalah lima alam ditambah asura yang dikategorikan tersendiri. Makhluk alam asura tidak dapat memahami kebenaran. Mereka memiliki temperamen yang buruk, suka membuat perhitungan, berselisih, dan tamak.
Mereka tidak memikirkan orang lain. Selama suatu hal mereka sukai, tiada yang tidak boleh dilakukan. Jadi, di manakah enam alam kehidupan itu? Di alam manusia pun banyak terlihat suka duka yang disebabkan oleh sikap batin yang sama dengan asura, yaitu diliputi kebencian dan kebodohan. Demikianlah sikap batin asura. “Kebodohan batin senantiasa memenuhi hati kami.” Bodoh berarti tidak memiliki kebijaksanaan. Kebanyakan orang diliputi kebodohan, sehingga pikiran mereka sering tersesat. Banyak negara terbelakang memiliki adat dan kepercayaan takhayul yang sungguh membuat kita tercengang. Di Provinsi Benggala Barat, India misalnya, mereka memiliki legenda dalam tradisi, namun bersifat takhayul. Mereka berkata bahwa saat gigi seorang anak berganti ke gigi tetap, jika gigi seri atau gigi bagian depan atas tumbuh terlebih dahulu, berarti anak itu ditakdirkan bernasib buruk.
Bagaimana cara mengubah nasibnya? Bagaimana cara mengubah nasib buruk itu? Mereka berkata jika anak tersebut perempuan, maka saat menginjak usia delapan tahun, dia harus dinikahkan dengan seekor anjing. Manusia dinikahkan dengan anjing. Begitulah ritual yang harus mereka lakukan. Akhir-akhir ini, ada seorang anak perempuan cantik usia 8 tahun dinikahkan dengan seekor anjing. Upacara ini diselenggarakan untuk mengubah nasib anak tersebut. Setelah anak ini berusia 18 tahun, tentu dia boleh menikah kembali dengan manusia. Jadi, menikah dengan seekor anjing bertujuan untuk mengubah nasib. Lihatlah, bukankah hal ini sangat konyol? Kepercayaan takhayul seperti ini sungguh tidak dapat dipercaya. Ini merupakan kebodohan yang juga merupakan pandangan salah. Kebodohan dan kegelapan batin seperti itu sungguh memprihatinkan. Jadi, kita harus memiliki keyakinan//yang bijaksana.
Kita tidak boleh percaya secara membuta. Bernasib baik atau tidak, itu bergantung pada sikap dan perbuatan kita. Sikap, perbuatan, dan pikiran yang muncul dalam batin kita terhimpun menjadi benih karma. Nasib pada kehidupan ini bergantung pada karma yang kita ciptakan di kehidupan lampau. Apakah mungkin cara tumbuh gigi seseorang menjadi penentu nasibnya? Apakah mungkin nasib seseorang dapat diubah dengan menikahi seekor anjing? Hal ini sungguh tidak berdasar dan tidak dapat dipercaya. Ini merupakan kepercayaan takhayul. Pikiran manusia awam seperti kita sering diliputi noda dan kegelapan batin. Kebodohan dan kegelapan batin yang terbawa dari kehidupan ke kehidupan membuat kita terus terlahir kembali dalam enam alam kehidupan sejak kehidupan lampau yang tak terhitung. Di alam manusia saja terdapat berbagai budaya dengan bermacam-macam tabu dan tradisi, belum lagi membahas alam-alam lain. Intinya, kebodohan ini menjadi tabiat kita.
Dalam teks dikatakan bahwa kita senantiasa memiliki kebodohan//yang memenuhi batin. Memenuhi batin berarti pikiran kita selalu penuh kegelapan dan noda batin. Noda batin terus timbul dalam pikiran kita saat kita menghadapi kondisi luar. Lihatlah, dalam berbagai hal yang dihadapi, ketika ada sedikit yang tak sesuai harapan, banyak orang mulai mencari jalan pintas. Batin seperti ini tak akan damai. Apa pun masalah yang melanda hidup kita, jika kita dapat bersikap tenang, ini merupakan praktik sila, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Jika kita dapat menjalankan kewajiban, menjaga sila, dan menaati peraturan dengan baik, pikiran kita akan menjadi stabil. Jika tidak menjalankan kewajiban dengan baik, maka saat bertemu hal yang tak diinginkan, kita akan cenderung mencari jalan pintas. Akibatnya, pikiran kita akan menjadi kacau. Jika pikiran kacau, maka saat menghadapi kondisi luar, noda batin kita akan semakin banyak. Jadi, kita semua harus bersungguh-sungguh dan jangan membiarkan pandangan sesat merasuk ke dalam batin kita.
Selanjutnya, dikatakan mengenai Tiga Racun, “Adakalanya menciptakan segala karma buruk//akibat Akar Tiga Racun.” Sebelumnya telah dibicarakan tentang 3 racun, yaitu ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Kita terus-menerus membicarakan hal ini mengingat kita mudah lupa dan tersesat. Meski kemarin kita telah membicarakannya, mungkin hari ini kita sudah melupakannya tanpa ingat sedikit pun. Kita sepenuhnya lupa akan hal tersebut, sedangkan kondisi luar terus muncul di hadapan kita. Ajaran yang didengar pada pagi hari akan segera hilang dari ingatan kita setelah kita bersentuhan dengan kondisi luar, apalagi ajaran yang kita dengar kemarin, terlebih lagi sebulan yang lalu atau lebih lama lagi. Waktu mudah membuat kita tersesat. Karena itu, Buddha dengan welas asih-Nya beserta para suciwan dengan semangat mereka tanpa hentinya mengingatkan kita tentang sumber kejahatan, yakni noda batin. Mereka terus mengingatkan kita. Karena itu, di dalam Sutra juga berulang kali kita diingatkan. Jadi, dalam teks juga dikatakan, Tiga racun adalah ketamakan, kebencian, kebodohan.
Semua karma buruk berasal dari tiga racun ini. Kebodohan berhubungan dengan landasan pikiran. Landasan pikiran sama dengan pikiran. Ketamakan dan kebencian//juga timbul dari pikiran. Kebodohan membuat kita tidak dapat membedakan benar dan salah sehingga kita mengeluarkan kata-kata kasar. Hal ini disebabkan oleh kebodohan yang membuat kita tidak dapat berpikir jernih, sehingga saat kebencian muncul, kita pun bereaksi dengan memarahi orang. Jika kebodohan dikaitkan dengan tubuh fisik, maka saat kita tidak memahami kebenaran, ditambah munculnya kebencian, saat bertemu kondisi yang tidak menyenangkan, kita akan memukul, menyakiti orang, atau melakukan kejahatan fisik lainnya. Ketamakan juga berawal dari kebodohan. Jika seseorang tidak memahami kebenaran, ia akan tamak dan tak pernah puas. Jadi, semuanya berawal dari kebodohan. Singkat kata, kebodohan dalam pikiran dapat membuat kita menciptakan karma buruk lewat tubuh dan mulut. Jadi, ketamakan, kebencian, dan kebodohan bagaikan racun. Kebodohan batin juga bagaikan virus. Ketika suatu tempat terserang wabah, lingkungan di sana akan bermasalah karena virus akan terus menyebar.
Jadi, ini adalah racun yang jahat. Dari ketamakan, kebencian, dan kebodohan, yang paling berbahaya adalah kebodohan. Kebodohan berarti ketidakpahaman. Kebodohan berarti tanpa kebijaksanaan. Kebodohan juga berarti ketersesatan. Jadi, seseorang yang melakukan sesuatu tanpa kebijaksanaan akan membuat banyak kesalahan. Semuanya bersumber dari kebodohan semata. Karena itu, kebodohan sungguh menakutkan. Manusia juga tamak akan harta, ketenaran,//dan keuntungan. Ketamakan akan harta mengakibatkan//terjadinya perampokan dan pencurian. Lihatlah,//jika ditanya mengapa seseorang dipenjara, kebanyakan menjawab bahwa//ketamakanlah penyebabnya. Ketamakan mengakibatkan seseorang mencuri,//merampok, merampas, menipu, dan berbuat curang. Semua berawal dari pikiran tamak. Bahkan ada yang tamak dengan seks. Dengan munculnya ketamakan ini, orang akan berbuat asusila,//menghancurkan keluarga orang, merusak diri sendiri, bahkan membunuh orang atau bunuh diri, dsb. Semua ini akibat dari ketamakan. Ketamakan juga bersumber dari kebodohan. Jika memiliki kebijaksanaan, seseorang akan menjalankan kewajibannya, menaati peraturan dan sila.
Dia tidak akan melampaui batas kewajaran. Jika seseorang memiliki kebijaksanaan, dia tidak akan tamak. Demikian pula dengan kebencian. Saat kebencian muncul, lihatlah, konflik antarmanusia terus terjadi. Bagian-bagian dari kebencian seperti kemarahan, penindasan, penyerangan terhadap orang lain, dsb., juga bersumber dari kebodohan. Ketika kebodohan dan kebencian muncul, seseorang akan menghancurkan orang lain dan diri sendiri. Bukankah semua ini merupakan racun? Karena itu, ketamakan, kebencian, dan kebodohan disebut sebagai Tiga Racun. Tiga Racun dapat menciptakan semua kejahatan. Karena itu, Saudara sekalian, kita harus senantiasa berintrospeksi atas noda dan kegelapan batin kita. Pada saat ini, bagaimana kita dapat menyadari betapa besar noda dan kegelapan batin merugikan kita? Bagaimana kita dapat melenyapkan noda batin dan membangkitkan kebijaksanaan? Berapa lama kita dapat mempertahankan sikap batin seperti ini? Saudara Sekalian, semuanya bergantung pada kesungguhan hati kita. Jika kita menghargai Dharma, maka setiap ajaran yang kita dengar bagaikan air yang terserap ke dalam tanah yang memungkinkan benih baru untuk tumbuh. Begitu juga dengan benih kebajikan yang tertanam di lahan batin kita, ia harus dibasahi dengan air. Dharma bagaikan air. Setiap hari, apakah kita sudah menyiramkan air Dharma ke lahan batin kita? Meski pada dasarnya setiap orang memiliki kebijaksanaan dan kebajikan, namun sudahkah kita menciptakan kondisi yang membantu semua itu bertumbuh? Hari terus berganti seiring waktu, usia hidup kita juga semakin berkurang. Apakah jiwa kebijaksanaan kita telah tumbuh berkat siraman air Dharma? Ini bergantung pada kesungguhan hati kita. Jadi, harap semua selalu bersungguh-sungguh.