Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 090 – Tiga Racun Batin Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, pada setiap hari dan setiap saat, apakah kita sudah menjaga pikiran kita dengan baik? Jika tidak menjaga pikiran dengan baik, maka Tiga Akar Racun akan terus mengikuti kita bagai bayangan mengikuti bentuk. Karena itu, kita harus sering//mengingatkan diri sendiri. Tiga Racun Batin berawal dari kebodohan batin. Dalam berlatih di jalan Buddha,// kita harus mengembangkan kebijaksanaan. Lawan dari kebijaksanaan adalah kebodohan. Kebodohan adalah noda batin yang menutupi kita dari kebenaran. Kegelapan batin ini menambah lagi noda batin sehingga pikiran menyimpang, pikiran keliru, dan pikiran buruk terus timbul dalam batin kita. Pikiran-pikiran seperti ini dapat meracuni dan membunuh//jiwa kebijaksanaan kita. Saudara sekalian, bukankah Tiga Racun Batin senantiasa membayangi kita setiap hari? Karena itu, kita harus senantiasa// meningkatkan kewaspadaan. Tadi saya sudah berbagi tentang Tiga Racun Batin yang berasal dari kegelapan batin. Noda batin terdiri atas banyak macam, dikelompokkan menjadi satu dan disebut noda batin.

Kegelapan batin adalah sumber noda batin ini. Jika kita dapat memahami hal ini, maka penjelasan yang lebih mendetail akan kembali menekankan hal yang sama, yakni agar kita meningkatkan kewaspadaan. Kita pernah membahas tentang Tiga Racun. Ada yang timbul dari pikiran dan terwujud lewat perbuatan. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan timbul dari pikiran kita sehingga tubuh dan ucapan kita menciptakan tujuh jenis kejahatan, yaitu empat melalui ucapan dan tiga melalui tubuh. Jika tak menjaga pikiran dengan baik, kita akan mudah bertutur kata kasar, berdusta, omong kosong, bergunjing. Kita akan mudah melakukan//kesalahan-kesalahan itu. Setiap perkataan yang kita keluarkan akan menciptakan karma buruk. Adakalanya saat menghadapi kerisauan, berkat berbagai jalinan jodoh yang ada, kita akihrnya dapat menyelesaikan masalah itu, tetapi, saat secara tidak sengaja mendengar orang mengucapkan sesuatu, noda batin yang telah kita atasi ini pun segera timbul kembali.

Noda batin yang awalnya sudah teratasi ini pun timbul kembali. Sungguh, tiada masalah di dunia ini, kita sendirilah yang mengundang masalah. Akibat perkataan seseorang yang tak disengaja, kita pun membangkitkan noda batin yang pernah diatasi dengan susah payah. Siapakah yang bersalah atas hal ini? Apakah orang yang berbicara tanpa disengaja itu? Pada dasarnya kita telah berusaha keras untuk melenyapkan pikiran salah dalam batin, rasa dendam dalam hati, dan kesalahpahaman dalam hati. Akan tetapi, karena tak sengaja mendengar sesuatu, kita pun kembali membangkitkan noda batin terhadap orang, masalah, dan segala sesuatu. Akibatnya, noda batin kita semakin lama semakin tebal hingga pada akhirnya tekad dan akar pelatihan diri kita terputus. Adakalanya, sebuah masalah kecil dan perkataan yang ringan dapat memutuskan tekad dan akar pelatihan seseorang. Karena itu, bukankah kita harus//berhati-hati dalam bertutur kata? Kita harus bersungguh hati dan berhati-hati dengan ucapan kita.

Jika tidak bersungguh hati dan terbiasa bertutur kata buruk, meski tak disengaja, kita akan menciptakan kesalahan yang besar. Jadi, karma buruk melalui ucapan//paling mudah diciptakan. Karena itu, kita harus berhati-hati//dalam bertutur kata. Mengapa saat berada di vihara kita harus menjaga keheningan? Praktik berdiam diri melatih kita untuk tidak bertindak gegabah. Saat melihat atau mendengar sesuatu, kita sering bereaksi terlalu cepat. Saat mendengar sesuatu,// dan tak segera menjawabnya. Kita harus hening dan memikirkan baik-baik apakah hal yang dikatakan itu benar atau salah. Jadi, saat mendengar suatu perkataan, kita harus belajar bersikap tenang untuk membedakan benar dan salah. Ini juga merupakan metode dalam melatih diri. Saat kita melihat perilaku orang lain, kita juga harus melatih diri agar memiliki kesabaran. Kita harus melihat dan mendengar dengan penuh kesabaran dan kesunguhan hati agar bisa membedakan yang benar dan salah.

Kita harus menahan kemarahan dan tidak segera membalas ucapan orang. Jika segera membalasnya, kita tidak dapat menarik kembali ucapan kita dan mungkin akan merasa sangat menyesal. Karena itu, ada vihara yang meminta orang// untuk tidak berbicara. Saat retret selama tujuh hari, kita lebih banyak melafalkan nama Buddha// dan sedikit berbicara. Ini juga melatih tutur kata kita sekaligus pikiran kita apakah saat mendengar sesuatu, kita bertindak gegabah atau saat melihat orang yang tidak kita sukai, apalah kita akan merasa marah. Ini merupakan cara untuk melatih pikiran. Akan tetapi, jika selama tujuh hari tersebut kita hanya banyak mendengar, namun tidak mengubah pola pikir dan malah berpikir, “Baiklah, saya tak akan berbicara selama tujuh hari, saya hanya akan banyak mendengar dan menyimpan keluhan saya di dalam hati.” “Tunggu saat bisa berbicara dengan orang, saya akan mengadukan semua yang saya dengar, siapa bertindak bagaimana, siapa berkata apa, siapa berucap tidak benar, atau siapa tidak menyukai siapa.” “Saya akan mengingat semuanya di dalam hati.” “Saat masa hening selesai, saya akan membeberkan semuanya.” Banyak orang tak bisa membedakan benar dan salah.

Bahkan ada orang yang merasa tidak enak badan akibat harus menjaga keheningan. Suatu kali, ada seorang cendekiawan  yang mengunjungi saya dan berkata, “Saya akan pergi ke vihara untuk melatih diri selama 10 hari.” “Saya ingin menenangkan diri di sana.” Saya bertanya, “Apa isi pelatihan selama 10 hari di sana?” Ia menjawab, “Yang terpenting tidak berbicara.” Saya berkata, “Selama 10 hari Anda tidak boleh berbicara, jika Anda memiliki suatu pemikiran, Anda harus menahannya.” Saya bertanya, “Apa Anda pernah mengalami hal ini sebelumnya?” Ia menjawab, “Pernah.” “Selama dua tahun ini saya agak sibuk, tetapi dua tahun yang lalu, saya pernah mengikuti retret serupa.” Saya bertanya, “Saat mengikutinya, apakah hatimu merasa nyaman?” Dia menjawab, “Saat tidak berbicara dalam retret, saya merasa sangat tenang karena tidak perlu khawatir salah bicara.” “Akan tetapi, usai retret, saya menjadi tidak terbiasa.” “Saat sedang seorang diri, saya sungguh ingin meluapkan semua perasaan saya.” “Karena itu, sambil berjalan, saya mulai berbicara sendiri.” Saya bertanya, “Jika ada orang melihat Anda berbicara seorang diri, apa tanggapan mereka tentang Anda?” Dia pun tertawa dan berkata, “Ya, saya tidak dapat mengendalikannya.” “Selama sepuluh hari itu, saya merasa tak takut mengatakan sesuatu yang salah.” “Akan tetapi, sepuluh hari kemudian, setelah boleh berbicara kembali, saat sendirian, saya selalu ingin mengajak orang berbincang.”

Setelah mendengar hal ini, saya merasa entah metode retret itu benar atau tidak. Tentu saja, vihara tersebut memiliki alasan sendiri//untuk mempraktikkan keheningan. Tadi saya sudah menjelaskan alasan dari praktik menjaga keheningan. Menjaga keheningan bertujuan//agar kita bisa menenangkan hati dan sungguh-sungguh merenungkan kita memberi respon dengan reaktif. Kita harus melatih diri agar tak emosional saat merasakan sesuatu. Saat dalam kondisi emosi, kita berbicara tanpa memikirkan akibatnya. Kita perlu bertanggung jawab// terhadap apa yang kita katakan. Sebagai contoh, setiap Sutra dimulai dengan kalimat “Demikianlah yang telah kudengar”. Ini adalah tanggung jawab Ananda, karena dialah yang mendengar dan mengulang isi Sutra. “Suatu ketika, Buddha berdiam di…” Dia juga menceritakan siapa// yang berdialog dengan Buddha saat itu. Ini adalah tanggung jawab Ananda.

Sebagai praktisi Buddhis, kita harus bertanggung jawab//dengan perkataan kita. Janganlah berbicara tanpa berpikir panjang. Kita sering mendengar orang lain berkata, “Saya tidak bermaksud demikian.” “Saya hanya mengatakannya saja.” “Mengapa dia menyimpannya dalam hati?” Lihatlah, karena orang lain telah menyimpannya dalam hati, maka perkataan itu telah menjadi racun. Anda mungkin berbicara tanpa bermaksud buruk, namun kata-kata tersebut telah berubah menjadi racun. Kini kita sering mendengar anak-anak membaca Kata Perenungan Jing Si, “Bertutur kata yang baik bagaikan mengeluarkan bunga teratai dari mulut; bertutur kata buruk bagaikan mengeluarkan ular berbisa dari mulut.” Ular berbisa melambangkan keburukan. Jadi, sebuah ucapan yang ringan juga bisa mengandung racun. Meski kita tak bermaksud buruk, namun orang lain telah menyimpannya//di dalam hati. Jadi, karma melalui ucapan ada empat, yakni bertutur kata kasar, berdusta,//omong kosong, bergunjing. Kita harus berhati-hati. Karma buruk melalui tubuh adalah membunuh, mencuri, dan berbuat asusila, semuanya juga berawal dari pikiran.

Mengenai karma buruk lewat pikiran, jika ketamakan, kebencian, dan kebodohan timbul dalam pikiran kita, maka kita akan menciptakan karma buruk lewat tubuh. Betapa banyak keluarga dan betapa banyak orang menderita akibat nafsu seksual. Ada orang yang terburu-buru ingin menikah, namun malah mewariskan penyakit turunan. Di surat kabar, kita sering membaca berita seperti ini. Ankilosing spondilitis adalah salah satu jenis penyakit keturunan. Penyakit gangguan mental//juga ada yang merupakan penyakit keturunan. Kini telah ditemukan banyak sekali penyakit keturunan. Sangat banyak. Akan tetapi, meski tahu ada penyakit keturunan, mereka tetap menikah. Inilah yang disebut karma. Meski tahu penyakit turunan itu akan diwariskan kepada anak-anak mereka, Banyak veteran yang datang ke Taiwan dan masih ingin memiliki keturunan. Lihatlah, banyak dari mereka menikah dengan wanita penderita cacat mental atau penyakit jiwa. Akibatnya, ada sebagian anak terlahir dengan mewarisi penyakit keturunan.

Di antara para penerima bantuan kita, di daerah Shoufeng, ada sekelompok veteran yang telah pensiun. Pemerintah menyediakan sebidang lahan agar setelah pensiun, mereka bisa menggarapnya. Sesungguhnya, usia mereka sudah lanjut. Lahan yang diberikan kepada mereka hampir semuanya adalah lahan baru dan tidak cocok untuk bercocok tanam. Pemerintah memberikan sebidang tanah kepada para veteran untuk bercocok tanam. Akan tetapi, para veteran berpikir bahwa setelah pensiun, kehidupan mereka//akan sangat membosankan. Selain itu, usia mereka juga terus bertambah. Dengan adanya lahan itu, mereka berpikir alangkah baiknya jika memiliki anak dan istri agar kelak ada orang yang merawat mereka dan terus mengelola lahan itu. Jadi, dengan uang pensiun yang sedikit, mereka mencari orang yang bersedia//menikah dengan mereka atau orang tua yang merasa sudah berusia lanjut sehingga ingin menikahkan putrinya agar beban keluarganya berkurang satu orang.

Dua jenis orang inilah yang mereka cari. Di satu sisi, orang tua ingin segera menikahkan putrinya. Di sisi lain, para veteran merasa mereka ingin menikah dan memiliki keturunan. Mereka tak keberatan meski wanita tersebut memiliki keterbelakangan mental, lagi pula mereka berpikir bahwa di desa mereka memiliki lahan untuk bercocok tanam, maka wanita itu cukup bekerja di ladang dan melahirkan anak. Karena itu, tak sedikit veteran yang menikah dengan perempuan yang// memiliki keterbelakangan mental. Ada seorang ibu yang bahkan tidak menyadari dirinya sudah akan melahirkan. Setiap hari dia tetap bepergian hingga tiba-tiba melahirkan di jalan. Ia bahkan tidak tahu itu disebut melahirkan. Orang yang melihat segera memberi tahu suaminya agar segera membawanya pulang ke rumah dengan tali pusar yang masih melekat padanya. Ia terus melahirkan hingga memiliki tiga anak yang semuanya tidak normal.

Sang istri masih selalu berkeliaran di luar. Veteran itu tidak dapat menghentikannya dan hanya bisa menggendong anaknya sambil mengejar istrinya ke sana kemari. Saat insan Tzu Chi mengetahui kasus ini, mereka memasukkannya sebagai penerima bantuan. Kemudian, kita membawa istrinya ke sebuah rumah sakit di Yuli. Di setiap pembagian bantuan, kita selalu melihat veteran itu membawa anaknya. Dia menggendong seorang anaknya sambil mendorong satu anak di kereta dorong, dan menggandeng satu lagi dengan tangan. Kita terus memberi perhatian dan memberi bantuan dana pendidikan//bagi anak-anaknya. Tzu Chi memerhatikan kasus ini// dalam jangka waktu yang panjang. Banyak sekali kasus seperti ini yang kita terima. Ini semua berawal dari nafsu berahi yang sulit untuk diatasi. Jika di dalam sebuah keluarga setiap orang bisa menjalankan kewajiban, maka tidak masalah. Akan tetapi, ada orang yang sudah menikah, namun tetap berselingkuh di luar, baik itu sang suami maupun sang istri. Ada sebuah berita tentang sebuah keluarga yang awalnya sangat bahagia dan hanya memiliki anak tunggal. Mulanya, anak itu sangat penurut dan sangat berprestasi di kelasnya. Akan tetapi, entah mengapa sang suami bertemu dengan mantan pacarnya dan mulai berubah. Dia mulai berhubungan dengan mantan pacarnya. Saat istrinya mendengar hal ini, dia sangat marah dan ingin membalas dendam.

Dia berpikir, “Kamu berselingkuh, saya pun tidak boleh kalah.” Dia juga mulai berselingkuh. Hal ini membawa dampak buruk bagi keluarga mereka. Akan tetapi, mereka memiliki anak dan sangat mengasihi anak mereka ini. Apa yang harus dilakukan? Demi anak mereka, mereka menjalani hidup masing-masing, namun tetap tinggal dalam satu atap. namun tetap tinggal bersama di rumah yang sama. Akan tetapi, perasaan mereka sudah berubah. Akibatnya, mereka bertengkar setiap hari. Suatu hari, saat pulang sekolah, sang anak mendengar orang tuanya bertengkar dan melempar barang. Pada awalnya, sang anak meminta orang tuanya berhenti bertengkar. Awalnya, dia meminta melalui ucapan. Kemudian, dia mulai mengurung dirinya dan membiarkan orang tuanya bertengkar// ataupun melempar barang di luar. Lambat laun, reaksi anak itu semakin buruk. Pada suatu hari, anak itu tiba-tiba keluar kamar dan berteriak pada orang tuanya, “Diam kalian berdua!” Dia tiba-tiba bertindak seperti itu.

Dia berteriak dengan kasar kepada orang tuanya agar diam. Kedua orang tuanya terkejut dan segera berhenti bertengkar. Lalu, dia kembali berkata kepada orang tuanya, “Berdiri di sana dan jangan bergerak.” “Kalian berdua saya setrap.” “Jika kalian tak berdiri dengan baik, saya akan bunuh diri di depan kalian.” Orang tuanya pun segera diam dan berdiri di tempat. “Tidak boleh bergerak.” “Jika kalian bergerak, Inilah yang pertama kali terjadi. Anak itu merasa caranya ini berguna. Akan tetapi, terkadang dia masih mendengar// orang tuanya bertengkar. Dia mengunci dirinya di dalam kamar hingga orang tuanya pergi tidur. Berhubung tak bisa tidur, dia membangunkan kedua orang tuanya. “Bangun kalian berdua!” Orang tuanya pun bangun dan bertanya ada apa. Dia akan berkata, “Kalian tetap berdiri.” Orang tuanya tak boleh tidur semalaman dan harus tetap berdiri. Hal ini semakin sering terjadi. Jika melihat orang tuanya bergerak, dia akan berteriak dan melempar barang. Berhubung mereka tinggal di apartemen, para tetangga tak bisa lagi menolerasi situasi keluarga tersebut. Karena itu, mereka pun lapor polisi. Ketika polisi datang, mereka memberi tahu polisi//tentang perilaku anak itu.

Dahulu, anak itu hanya akan berlaku begitu saat orang tuanya bertengkar. Akan tetapi, lambat laun menjadi semakin sering. Dia menjadi sering membangunkan orang tuanya dan memerintahkan mereka untuk berdiri. Jika diabaikan, dia mulai melempar barang. Karena itu, polisi berpendapat bahwa anak ini mengalami masalah psikologis. Mereka mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Psikiater di rumah sakit terus berbicara dengan anak tersebut sambil terus mengamati dan memeriksa. Kemudian, Beliau berbicara dengan orang tuanya. Psikiater menyimpulkan bahwa anak tersebut tidak mengalami masalah psikologis. Anak itu sedang berada dalam fase remaja yang gemar memberontak, bukan penyakit jiwa.

Dia berperilaku seperti itu karena sedang dalam masa remaja. Akan tetapi, yang mengalami gangguan jiwa sesungguhnya adalah ibunya. Setiap hari dia dihukum berdiri oleh anaknya, ditambah suaminya berselingkuh dan dirinya sendiri juga berselingkuh. Karena itu, dia mengalami depresi yang sangat parah. Lihatlah, awalnya keluarga itu sangat tenteram dan bahagia, namun mereka tak menjaga hati dengan baik. sehingga cinta lamanya kembali bersemi. Berhubung ingin membalas dendam, sang istri pun ikut berselingkuh. Putranya yang awalnya sangat baik malah menjadi remaja yang memberontak dan berperilaku kasar. Akibatnya, keluarga itu menjadi tak bahagia. Kini ada banyak sekali keluarga yang memiliki masalah//hubungan orang tua dan anak atau hubungan antara suami dan istri. Entah berapa banyak orang yang berselingkuh. Pada masa sekarang, perselingkuhan telah menjadi masalah yang sangat besar.

Jadi, membunuh, mencuri, dan berbuat asusila, semuanya diawali oleh pikiran. Untuk berhenti menciptakan karma buruk melalui tubuh dan ucapan, satu-satunya cara adalah mengendalikan pikiran. Solusinya terletak pada pikiran. Pikiran adalah akar dari segala kejahatan. Kegelapan dan noda batin adalah racun terbesar dalam pikiran. Karena itu, dalam berlatih di jalan Buddha, kita harus berhati-hati dalam keseharian agar akar racun dan pikiran kita tidak saling menyatu. Jika tidak, kita akan sering melakukan kesalahan melalui ucapan dan tubuh. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment