Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 087 – Membangkitkan Niat Baik Demi Membersihkan Noda Batin

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita selalu bertekad agar dapat melenyapkan noda batin. Saya percaya, jika seseorang dapat menyerap Dharma yang bagaikan air  ke dalam batin dengan sungguh-sungguh, maka akan menyadari bahwa noda batin adalah penjerat kita dalam lingkaran samsara. Ini sungguh membawa penderitaan. Jadi, orang yang berniat memperbaiki diri  akan memikirkan tentang bagaimana cara melenyapkan noda batin agar pikiran menjadi murni. Kita tahu bahwa ada niat untuk memperbaiki diri dan waspada agar tidak muncul noda batin dalam pikiran. Akan tetapi, kebanyakan orang bersikap antipati terhadap agama, sebaliknya ada sebagian lainnya yang terlalu melekat pada agama mereka. Baik sikap antipati maupun kemelekatan yang ekstrem merupakan rintangan yang sangat besar dalam pembelajaran dan praktik Dharma. Sikap antipati bukan saja merintangi orang untuk mempelajari Buddhisme, namun juga agama lain. Ada pula yang setelah menganut satu agama, lalu menghina agama lain dan menolaknya dengan berbagai cara. 

Sebagai contoh, ada orang yang begitu percaya terhadap agama mereka sehingga memaksa orang di sekitarnya untuk ikut agama mereka, termasuk orang tua. Saya mengenal seorang wanita, awalnya dia adalah anak yang sangat berbakti. Orang tuanya adalah umat Buddha yang memiliki pandangan yang benar dan banyak mendedikasikan diri// dalam pelayanan masyarakat. Mulanya, putri mereka juga sangat memuji dan mendukung orang tuanya. Keadaan ini berlangsung selama beberapa tahun. Setelah putri mereka menikah dan memiliki keluarga sendiri, mungkin akibat tekanan dalam berumah tangga dan berbagai urusan lainnya, maka teman-temannya membujuknya dan mengajarkan keyakinan lain. Tanpa keteguhan hati pada keyakinan lamanya, dia pun beralih ke keyakinan tersebut.

Setelah ia mengubah keyakinannya, rekan seagamanya lalu berkata, “Kamu harus percaya sepenuhnya, dan yang paling penting adalah kamu harus mengubah keyakinan orang tua, mertua, dan suamimu.” Setelah mendengarnya, dia merasa bahwa itu berarti menyelamatkan keluarganya, maka dia bersedia melakukannya.  Jadi, dia pun berusaha keras. Awalnya dia menggunakan sikap antipati,  menolak keyakinan yang dianut orang tuanya dan menyalahkan segala yang mereka lakukan. Dia selalu berusaha membawa mereka ke jalan yang dia yakini sebagai satu-satunya kebenaran. Dia terus berusaha agar orang tuanya menganut agama yang sama dengannya. Hal ini juga dilakukan kepada ibu mertuanya yang juga seorang umat Buddha. Ibu mertuanya lalu berkata kepadanya, “Setiap orang bebas menentukan keyakinan.” “Apa pun agama yang ingin kamu anut, saya menghormati keputusanmu, namun orang tuamu dan keluarga saya sendiri telah lama menjadi Buddhis, jangan memaksa kami untuk mengubahnya.” “Ini membuat kami semua tidak bahagia.”

Sejak itu, dia mulai memusuhi ibu mertuanya. Dia juga menceritakan hal ini// kepada orang tuanya dengan harapan agar mereka memeluk agama yang sama dengannya. Menurutnya, ibu mertuanya// memeluk keyakinan yang sesat. Orang tuanya tidak setuju dan berkata, “Apa yang kamu lakukan itu salah.” “Setiap orang bebas memilih agama.” “Sebagai orang tua, kami telah memberi kebebasan untukmu, kamu seharusnya bersyukur.” “Janganlah merasa tidak puas, dan berhentilah untuk mencoba membujuk ibu mertuamu ataupun kami.” Kami berasal dari keluarga Buddhis sejak dahulu hingga sekarang, dan kami merasa sangat bahagia.” Sejak saat itu, wanita muda ini berhenti mengunjungi orang tua maupun ibu mertuanya. Dia merasa sangat kesepian, namun tetap bersikeras dengan berkata, “Pandangan kalian tidaklah benar, kalian sangat bodoh,  kalian telah disesatkan.”

Lihatlah, siapa yang sesungguhnya bodoh? Siapa yang sesat? Demi keyakinannya, dia telah merusak hubungan dengan orang tua dan ibu mertuanya. Siapa yang sesungguhnya salah? Yang salah adalah cara pandangnya. Agama yang sejati tidak diskriminatif. Sebaliknya, mereka dapat saling mengasihi, menghargai, dan saling memuji. Agama harus seperti lautan yang luas. Semua air dari sungai, kali, dan kolam sama-sama dapat mengalir ke lautan luas tanpa ada perbedaan. Ini baru disebut agama yang sejati atau agama yang berkeyakinan benar. Kita harus memiliki hati yang lapang. Sebagai contoh, kita telah membangun  Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi di Indonesia. Lihatlah, sebelumnya mereka adalah warga yang tinggal secara ilegal di bantaran Kali Angke. Tzu Chi membangun rumah susun untuk mereka dengan kapasitas lebih dari seribu keluarga.

Kita telah memberikan warga sebuah tempat huni yang sangat baik. Setelah itu, kita memikirkan cara agar mereka memiliki mata pencaharian dan dapat hidup secara mandiri. Untuk itu, para pengusaha Indonesia yang telah menjadi relawan Tzu Chi menggali keterampilan setiap keluarga yang bisa digunakan untuk mencari nafkah. Sesuai kemampuan dan minat para warga, insan Tzu Chi memikirkan cara untuk mencari lapangan pekerjaan agar warga dapat hidup mandiri. Selain itu, harapan ada pada pendidikan. Karena itu, di perumahan ini kita membangun SD dan sekolah menengah. Kabarnya sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang terindah di seluruh Jakarta. Di perumahan ini, kita juga membangun sebuah masjid untuk para umat Muslim karena 90 persen dari warga setempat menganut agama Islam. Selebihnya adalah umat agama Katolik, Kristen, dan Buddha.

Jadi, untuk menghormati warga yang mayoritas beragama Islam, di perumahan tersebut kita membangun sebuah masjid. Kita juga membangun sebuah ruang bagi jenazah orang yang meninggal karena menurut tradisi Islam, jenazah harus dikuburkan dalam kurun 24 jam setelah meninggal. Dalam masa itu, jenazah perlu dimandikan dan didoakan sebelum dikebumikan. Semua proses ini harus selesai dalam 24 jam. Karena itu, selain masjid, mereka juga membutuhkan ruang khusus untuk memandikan jenazah.  Bentuk bangunan yang didirikan semuanya didesain dan dibangun mengikuti simbol Muslim. Begitulah kita memerhatikan tempat tinggal, pekerjaan, dan pendidikan mereka. Kita bahkan memerhatikan kebutuhan mereka akan tempat untuk menghormati jenazah. Siapakah yang melakukan semua ini? Yakni umat Buddha dan para insan Tzu Chi. Tzu Chi memegang teguh semangat keterbukaan hati yang ada dalam agama untuk menghormati semua orang dan keyakinan mereka.

Kita mengakomodasi kebudayaan dan adat istiadat mereka. Tujuan kita hanyalah agar mereka mendapatkan kedamaian batin, kehidupan yang stabil, dan pendidikan yang baik bagi anak-anak demi membina sumber daya bagi masyarakat. Saya mendengar warga yang tinggal di sana berkata, “Perumahan ini sungguh indah, bahkan ada sekolah di dalamnya.” “Kami telah mendapatkan begitu banyak cinta kasih dari para relawan Tzu Chi dan anak-anak kami mendapatkan pendidikan yang begitu baik.” Mereka berkata, “Dengan pendidikan yang baik, mungkin suatu saat presiden Indonesia akan berasal dari Perumahan Tzu Chi kita.” Pada masa mendatang, mungkin saja ada kesempatan bagi anak-anak dari Perumahan Tzu Chi untuk menjadi presiden Indonesia. Tentu mereka harus dididik sejak dini untuk mengembangkan cinta kasih dan rasa syukur dalam hati mereka. Jika anak-anak ini dapat dididik dengan cara demikian, di masa depan, mereka akan sanggup menjadi pemimpin bagi masyarakat dan negara mereka. Saya percaya, negara tersebut menjadi negara atau masyarakat yang penuh harapan dan cinta kasih.

Tentu para orang tua sangat berharap anak dan cucu mereka dapat menerima pendidikan yang baik. Kita juga melihat seorang anak//yang sangat menggemaskan yang tinggal di Perumahan Cinta Kasih. Salah seorang relawan kita bertanya kepadanya, “Apa yang paling suka kamu lakukan?” Dia berkata, “Saya ingin belajar dengan giat karena saya suka belajar.” Relawan tersebut kemudian bertanya, “Apa cita-citamu setelah dewasa?” Dia menjawab, “Saya ingin jadi presiden.” Sungguh tinggi cita-cita anak ini. Bukan hanya orang tua yang memiliki harapan besar kepada anak-anak mereka, bahkan anak-anak itu sendiri pun memiliki cita-cita yang tinggi. Kita berharap pendidikan di sana  dapat memperluas wawasan mereka tanpa ada diskriminasi agama.   Ini baru disebut membuka pintu hati, menciptakan berkah bagi semua makhluk. Inilah tanggung jawab agama yang sesungguhnya.

Karena itu, janganlah karena pemahaman yang salah terhadap agama atau karena noda batin dalam diri kita, kita bersikap antipati pada semua agama dengan menganggap semuanya sesat. Sesungguhnya, sikap menolak agama lain juga merupakan pemikiran yang sesat. Ini adalah salah satu bentuk noda dan kegelapan batin. Noda dan kegelapan batin ada banyak jenis, dikatakan ada 84.000.  Karena itu, kita sungguh harus waspada terhadap noda batin dalam pikiran kita. Jika muncul noda dan kegelapan batin,   Jika muncul noda dan kegelapan batin, kita akan menciptakan banyak karma buruk yang membawa buah penderitaan tiada akhir. Kita harus tahu bahwa semua itu disebabkan oleh noda batin. Noda batin adalah penyebab semuanya. Jadi, mulai hari ini, saat ini juga, kita harus menyadari bahwa sejak dahulu kita telah memiliki noda dan kegelapan batin yang membawa banyak kesalahan. Jadi, kita harus segera memperbaiki diri. Saya sering berkata bahwa  menggenggam saat ini// bukan hanya dalam berbuat kebajikan, setelah mendengar Dharma pun kita harus terus menyimpannya dalam hati.

Saat mendengar ajaran baik, dan seketika itu muncul rasa sukacita dan setuju akan ajaran tersebut, maka kita harus memegang teguh  dan tekun menjalankannya.  Jadi, saat kita mendengar ajaran tersebut  dan merasa bahwa itu benar, kita harus memegang teguh ajaran tersebut. Inilah mempertahankan pikiran yang timbul seketika. Ajaran yang didengar pada suatu momen harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Momen tersebut adalah hari ini. Saudara sekalian, hari ini bukan berarti saat ini saja. Dalam setiap hari terdapat momen hari ini. Jika kita lupa terhadap hal-hal yang kita dengar beberapa bulan lalu, janganlah khawatir, mulai hari ini dan saat ini juga, kita harus memanfaatkan pikiran bajik yang mendukung ini untuk memohon belas kasih dan bertobat. Kita harus memanfaatkan momen saat ini. Memanfaatkan berarti bertindak. Tindakan harus muncul dari lubuk hati kita. Kita sering mendengar orang berkata, “Saya sangat tersentuh.” Tersentuh berarti mulai tergugah, namun sekadar tersentuh tidaklah berguna karena perasaan ini akan segera berlalu. Kita harus bertindak. Karena itu, bertindak lebih baik// daripada sekadar tersentuh. Jadi, bukan hanya tersentuh, kita juga harus bertindak, karena memanfaatkan berarti bertindak. Kita harus mulai bertindak cepat dengan segera memanfaatkan pikiran bajik yang mendukung ini. Pada hakikatnya, setiap orang memiliki pikiran yang bajik.  Kita sering berkata bahwa Manusia pada dasarnya bersifat bajik.

Pada dasarnya kita memiliki pikiran bajik. Hanya saja di kemudian hari lingkungan tempat kita hidup dan interaksi kita dengan orang dan masalah turut memberi pengaruh pada kita. Kita terus terpengaruh hingga memiliki kebiasaan buruk. Perlahan-lahan, pikiran bajik kita tertutup oleh kebiasaan buruk ini. Akibatnya, cahaya kebijaksanaan kita pun tertutup oleh kegelapan. Inilah kegelapan batin yang menghalangi pikiran bajik kita terwujud ke dalam tindakan. Mulai saat ini, karena sudah paham, maka kita harus bertindak dan memanfaatkan jodoh bajik ini. Kita memiliki jodoh untuk berkumpul di sini dan mempraktikkan Dharma bersama. Ini adalah jalinan jodoh pendukung bagi kita. Setelah mengetahui adanya kebajikan dalam diri setiap orang, kita harus segera membangkitkan kebajikan ini dan mewujudkannya dalam tindakan. Manfaatkanlah pikiran bajik yang mendukung ini. Setelah mendengar ajaran ini dan mengetahuinya, kita harus berpikir, “Benar, saya harus segera melenyapkan kebiasaan buruk dan melakukan perbuatan baik.”  Pada saat sekarang ini saya yakin sebagian besar dari kalian telah berpikir ke arah yang bajik. Ini adalah kondisi yang mendukung praktik kita.

Dengan jalinan jodoh yang sangat baik, kita dapat berkumpul bersama di sini, maka gunakanlah jodoh baik ini untuk membangkitkan pikiran bajik kita Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah bertobat dengan sepenuh hati. Kita mungkin akan berpikir, “Membangkitkan pikiran bajik saja cukup, mengapa saya masih perlu bertobat?” Sesungguhnya, kita telah memiliki pikiran bajik sejak lahir dan memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Kita telah memiliki benih welas asih agung. Jadi, pikiran bajik ini sebenarnya telah ada dalam diri kita. Akan tetapi, pada masa lampau kita tidak menerapkan pikiran bajik ini dalam keseharian dan belum membangkitkan kebijaksanaan sehingga hanya menyibukkan diri  dalam menjalani kehidupan awam dengan membawa banyak tabiat buruk. Dengan adanya tabiat buruk ini, kita melakukan banyak kesalahan. Kita mungkin tak dapat// mengingatnya satu per satu, mungkin juga dahulu kita tidak sadar bahwa telah melakukan kesalahan. Sebelumnya kita membahas perbedaan antara kekeliruan dan pelanggaran. Pelanggaran adalah kesalahan yang disengaja.

Misalnya, saat muncul// ketamakan, kebencian, dan kebodohan, kita merugikan orang lain// demi keuntungan pribadi. Dengan demikian, kita menanam benih karma buruk. Berikutnya adalah kekeliruan. Kekeliruan adalah kesalahan yang tidak disengaja atau disadari. Inilah kekeliruan. Jadi, yang disebut pelanggaran adalah kesalahan yang disengaja, sedangkan kekeliruan tidak disengaja. Coba pikirkan, baik kesalahan yang disengaja maupun tidak, semuanya akan menciptakan karma buruk. Jadi, entah berapa banyak karma buruk yang telah kita ciptakan. Kita tidak mampu mengingat semuanya. Kita tidak sanggup melakukannya. Berhubung kini kita telah mengetahui kebenaran, maka kita harus segera memanfaatkan pikiran bajik ini untuk bertobat dengan tulus. Saudara sekalian, kita harus bertobat setiap saat. Pertobatan bagaikan air jernih// yang membersihkan batin. Dharma bagaikan air. Kita harus selalu menggunakan air Dharma untuk menyucikan kekotoran batin kita. Untuk itu, bersungguh-sungguhlah setiap saat.

Leave A Comment