Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 098 – Empat Kediaman Mental Bagian 2

Bagi manusia, ingin batin ini terbebas dari pikiran liar dan ingin batin ini menjadi suci dan hening tidaklah mudah. Orang-orang sering berkata bahwa meditasi duduk bertujuan untuk menjernihkan pikiran. Akan tetapi, saat duduk bermeditasi, objek luar yang tertangkap oleh batin masih tetap berdiam di dalam pikiran kita. Saudara sekalian, ketika duduk bermeditasi, benarkah kita tidak mendengar suara dari luar? Di luar ada suara-suara burung dan serangga. Akan tetapi, yang terpenting adalah suara hati kita. Saat mendengar suara dari objek luar, kita masih dapat mengabaikannya, namun mengenai suara hati kita, ia adalah noda batin. Sesungguhnya, manakah yang lebih banyak, noda batin atau pikiran baik kita? Setelah dapat membedakan mana pikiran baik dan mana pikiran buruk, lalu mampukah kita segera menghilangkan pikiran buruk? Untuk pikiran yang baik, misalnya kita berpikir, “Hari ini saya harus bertekad untuk melakukan satu perbuatan baik dengan sebuah perencanaan yang baik

” Apakah pikiran ini tulus dan teguh? Jika tekad ini dapat diperkuat dan benar-benar diwujudkan, ini disebut menumbuhkan pikiran baik. Bukankah kita sering berkata ketika pikiran jahat muncul, kita harus segera mengingatkan diri untuk melenyapkan pikiran jahat tersebut. Jika pikiran jahat belum muncul, kita harus mewaspadainya agar ia tidak muncul. Jika pikiran baik belum muncul, kita harus menemukan kondisi pendukung yang dapat segera membuatnya muncul. Jika pikiran baik itu telah muncul, kita harus segera meningkatkan kekuatan agar kebajikan tersebut semakin berkembang. Ini adalah salah satu cara praktik yang Buddha ajarkan kepada kita. Praktik ini tercakup dalam 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan

 Dengan kata lain, kita harus memperbanyak kebajikan dan menghindari kejahatan. Semua ini hanya tergantung pada pikiran kita. Pikiran buruk yang muncul harus segera dilenyapkan, sedangkan pikiran baik yang belum muncul harus segera dibangkitkan. Jika dapat melakukan ini, berarti kita benar sedang melatih diri. Jadi, kita harus senantiasa mendengar suara hati, apakah di sana terdapat pikiran baik ataukah buruk. Kita harus mewaspadainya. Sebelumnya kita telah mendiskusikan tentang Empat Kediaman Mental, yaitu noda yang “berdiam” di dalam batin kita

Batin bagaikan sebidang tanah yang luas. Benih apa yang ditanam, maka buah itulah yang akan dihasilkan.  Karena itu, kita harus mewaspadai pikiran yang berdiam di dalam batin kita. Yang pertama, Kediaman Segala Pandangan juga disebut Kediaman Kemelekatan Pandangan. Ini adalah pikiran yang muncul bergantung pada kontak antara 6 indra dengan objek luar. Ia disebut Kediaman Kemelekatan Pandangan, karena kebanyakan manusia memiliki ketamakan. Dengan adanya ketamakan, saat melihat segala sesuatu, keinginan dalam batin akan muncul

 Dengan demikian, ketika mata melihat objek rupa, ketamakan akan muncul dari kesadaran. Hal ini berlaku pada 6 indra, 6 objek, dan 6 kesadaran. Begitulah mereka bereaksi di dalam batin kita. Kita telah mendiskusikan ini sebelumnya. Berikutnya adalah Kediaman Kemelekatan Nafsu. Nafsu keinginan manusia telah ada sejak lahir. Belakangan ini, saya sering menggunakan contoh saat binatang dilahirkan, baik anjing maupun kucing. Induk kucing akan menjilati anak-anaknya

 Anak kucing berdekapan dengan induknya untuk menyusu. Begitu juga dengan babi dan anjing. Anak rusa dapat berdiri begitu dilahirkan. Ia akan berjalan ke arah induknya dan berlutut untuk menyusu. Demikianlah tingkah laku makhluk hidup. Keinginan untuk makan sudah muncul sejak lahir. Akan tetapi, lihatlah kondisi kita sekarang

 Berapa banyak karma buruk yang telah kita ciptakan demi mendapatkan makanan? Hanya demi memuaskan selera sesaat, kita menyantap segala jenis daging hewan dan menghilangkan nyawa makhluk hidup. Coba bayangkan, dalam satu hari saja, di bumi ini, berapa banyak nyawa hewan yang dihilangkan? Terlebih lagi, untuk memberi makan hewan, jumlah tanaman di muka bumi yang diolah menjadi pakan hewan jauh lebih besar dari jumlah pangan yang dikonsumsi manusia. Jadi, demi memenuhi nafsu makan sesaat manusia, dibutuhkan sejumlah besar tanaman pangan di muka bumi ini untuk dijadikan pakan hewan ternak. Kemudian kotoran yang dibuang hewan-hewan itu dapat mencemari lingkungan. Siklus buruk seperti ini berkontribusi bagi polusi udara masa kini. Tingkat polusi udara yang sangat tinggi menambah efek rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Suhu udara global terus meningkat

 Akibatnya, ada wilayah yang dilanda kekeringan, sedangkan wilayah lain dilanda bencana banjir. Tidak ada keseimbangan. Semua ini berhubungan dengan iklim dan pergerakan aliran udara yang juga dapat dirunut hingga polusi tanah yang berefek pada tercemarnya udara sehingga memengaruhi cuaca dan iklim. Banyak masalah yang bersumber dari nafsu keinginan manusia. Nafsu keinginan sudah ada pada manusia sejak lahir. Lihatlah ruang bayi di rumah sakit bersalin. Setelah ibu melahirkan bayinya, perawat akan membersihkan bayi tersebut dan membungkusnya dengan selimut

 Ia akan dibawa ke ruang bayi dan disuapi air gula. Pada zaman dahulu, orang menggunakan  air gula merah atau air kayu manis, lalu air tersebut diserap dengan kapas dan diletakkan di mulut sang bayi. Bayi akan mulai mengisapnya. Ini adalah cara yang dilakukan di masa lalu. Kini ada juga yang menggunakan air gula yang dimasukkan ke dalam botol susu. Bayi akan mengisapnya saat disodorkan

 Mereka tidak perlu diajari. Keinginan alami terhadap makanan sudah ada sejak lahir. Inilah yang disebut nafsu keinginan. Ia telah muncul saat seseorang dilahirkan. Di samping keinginan akan makanan, ketika seseorang perlahan-lahan tumbuh di dalam lingkungan masyarakat, mereka akan terus digoda oleh segala pola kehidupan dan benda materi. Nafsu keinginan mereka akan terus berkembang. Mereka tidak hanya memiliki nafsu keinginan akan makanan, benda, kekayaan, ketenaran, dan keuntungan, mereka juga punya nafsu seksual. Inilah yang disebut Kediaman Kemelekatan Nafsu. Jenis noda batin ini adalah noda batin kebodohan yang berdiam di dalam batin

 Ada juga orang yang mengalami kerugian besar hanya karena tamak terhadap hal-hal kecil. Dalam Sutra Perumpamaan juga terdapat kisah seperti itu. Ada sepasang suami istri yang kondisi kehidupannya tidak begitu baik dan sering kekurangan makanan. Suatu hari, mereka memperoleh 3 potong biskuit. Mereka merasa sangat senang dan berkata, “Kamu boleh makan sepotong, saya juga makan sepotong.” Mereka masing-masing menyantap satu potong dengan sangat bahagia

 Akan tetapi, sesudah masing-masing dari mereka  selesai makan sepotong biskuit, masih tersisa satu potong lagi. Apa yang harus mereka lakukan? Sang suami berkata,  “Bagian ini milikku.” Sang istri menolak dengan berkata, “Aku bekerja lebih keras di rumah, biskuit itu harus menjadi milikku.” Mereka memperebutkan biskuit tersebut. Akhirnya sang suami menemukan sebuah ide dan berkata, “Begini saja, mari bertaruh atas biskuit ini untuk menentukan pemenangnya.” “Yang menang boleh memakannya, dan yang kalah hanya boleh melihat saja.” “Baiklah, bagaimana pertandingannya?” “Mulai sekarang, kita tidak boleh berbicara.” “Kamu tidak boleh bicara, saya tidak boleh bicara

” “Siapa yang pertama kali berbicara, berarti dia yang kalah.” “Itu ide bagus.” Pasangan itu kemudian mulai diam. Mereka hanya berfokus pada biskuit tersebut. Selama selang waktu itu, ada seorang pencuri masuk ke rumah mereka. Dia melihat pasangan itu duduk berhadapan tanpa berbicara. Ketika dia sudah masuk ke dalam rumah, pasangan ini tetap tidak berbicara

 Sang pencuri melihat bahwa mereka berdua sepertinya tidak bereaksi apa-apa, maka dia mulai menjelajahi rumah mereka untuk mengambil barang yang berharga dan mulai membungkusnya. Pasangan ini masih tetap seperti semula, tidak berbicara sepatah kata pun. Setelah mengambil begitu banyak barang, sang pencuri melihat mereka masih tetap diam. Kemudian, saat melihat sang istri cukup cantik, maka muncul niat sang pencuri untuk bertindak asusila terhadapnya. Akan tetapi, sang suami masih diam saja. Ketika sang istri sudah nyaris dilecehkan  dan dalam kondisi yang sangat berbahaya,  saat itulah dia mulai berbicara

 Dia berkata, “Tidakkah kamu melihatnya?” “Orang ini mencoba melecehkan saya!” “Apakah kamu buta?” Sang suami kemudian membuka mulut, “Haha, biskuit ini jadi milikku.” Lihatlah pasangan suami istri yang bodoh ini. Hanya demi sepotong biskuit, mereka mengabaikan hal yang lebih penting. Buddha menggunakan kisah ini sebagai perumpamaan bahwa makhluk awam di dunia ini diliputi kebodohan dan ketamakan. Demi mendapatkan keuntungan kecil, mereka malah kehilangan jiwa kebijaksanaan. Itulah yang disebut manusia bodoh. Sesungguhnya, nafsu keinginan ini, selain terhadap seks, adakalanya hanya demi sedikit makanan, berapa banyak makhluk yang dirugikan? Kita juga telah melihat banyak kasus mengenai orang yang kecanduan rokok

 Meski rokok hanyalah batang kecil dan hanya mengeluarkan asap saat diisap, juga tidak mengenyangkan, namun ia dapat merusak organ tubuh kita. Meminta seseorang berhenti merokok sungguh tidak mudah. Hal ini disebabkan oleh noda batin yang telah berdiam di dalam batin mereka. Kemelekatan dan keinginan ini telah berdiam di dalam batin mereka. Sangat sulit bagi mereka untuk mengubahnya. Minuman beralkohol juga tidak baik. Alkohol bagaikan pisau tajam yang dapat melukai usus dan perut seseorang

 Sungguh tidak baik, namun orang sungguh berat melepaskannya. Mereka tidak sanggup berhenti. Bukankah ini kemelekatan yang menyimpang? Mereka rela menyakiti tubuh sendiri karena tidak mampu mengendalikan kebiasaannya. Begitulah makhluk awam yang tamak terhadap hal-hal kecil. Menenggak alkohol, selain dapat merusak kesehatan, juga dapat memengaruhi perilaku, misalnya seseorang yang pada dasarnya jujur, tetapi setelah menenggak alkohol, mereka berkelahi dan bertengkar dengan orang. Berbagai tingkah laku buruk akan bermunculan. Meski menyadari keburukan dari mabuk-mabukan, namun mereka tidak dapat mengendalikannya

 Noda batin dari nafsu keinginan seperti ini telah berdiam di dalam batin seseorang. Mereka tidak dapat mengendalikan keinginannya. Ini juga merupakan sejenis noda batin yang disebut Kediaman Kemelekatan Nafsu. Sesungguhnya, makhluk awam telah melakukan banyak perbuatan buruk.  Ada orang yang pikirannya sangat tamak. Ini disebut Kediaman Kemelekatan Rupa, yaitu yang ketiga dari Empat Kediaman Mental. Kemelekatan rupa  meliputi ketamakan dan keinginan yang sangat banyak terhadap sesuatu

 Mereka menginginkan segala hal yang dilihatnya. Keinginan untuk menguasai ini tidak sebatas kekayaan, ketenaran, dan status. Dia menginginkan segala sesuatu yang ada di dalam jangkauan pikirannya. Meski hal itu tidak berada di depannya, dia juga berharap apa yang tidak dilihatnya menjadi bagian dari rencananya. Di surat kabar saya membaca tentang seorang pengusaha  dari Korea Selatan yang merupakan komisaris dari sebuah grup perusahaan. Dia bunuh diri dengan melompat dari lantai 12 gedung perusahaannya. Mengapa dia ingin bunuh diri? Sebagai seorang pengusaha besar, dia juga terlibat dengan dunia politik

 Dia dikatakan ikut andil dalam menyelenggarakan pertemuan bersejarah antara pemimpin Korea Selatan dan Utara. Lebih lanjut, dia terlibat dalam pengiriman 500 juta dolar AS ke Korea Utara untuk menyukseskan pertemuan politik tersebut. Satu-satunya tujuannya adalah agar dapat membuka akses pariwisata  antara Korea Utara dan Selatan      dan dia sendiri mendapatkan hak monopolinya. Itulah sebabnya, dia bersedia mengeluarkan begitu banyak uang. Politik uang dalam jumlah besar ini digunakan untuk mengatur pertemuan kedua pemimpin Korea yang pada dasarnya saling bermusuhan. Negara satu rumpun ini terpecah menjadi dua wilayah.  Dia mampu mempertemukan kedua pemimpin negara. Jika hal ini dapat membawa perdamaian, tentu merupakan perbuatan yang berjasa

 Akan tetapi, jika hanya demi tujuan bisnis, mendapatkan akses pariwisata, dan hak monopoli dalam bidang ini, berarti dia mencari keuntungan pribadi. Kasus ini pun terbongkar. Pemerintah melarangnya keluar negeri dan membatasi kebebasannya. Pengadilan menetapkannya sebagai tersangka, maka dia berada dalam pengawasan. Dia tidak dapat menerima semua ini mengingat dirinya berkedudukan tinggi dan telah melakukan banyak jasa. Kini dia terjerat kasus hukum dan menjadi sasaran kritik masyarakat karena terbongkarnya kasus ini. Masyarakat Korea masih sangat konservatif

 Karena itu, munculnya kasus ini telah menggemparkan seluruh masyarakat Korea. Masalah yang menjerat dirinya ini telah membuatnya kehabisan akal. Akhirnya, dia memilih bunuh diri. Pada hari di mana dia dikabarkan bunuh diri, seluruh harga saham berjatuhan. Seluruh masyarakat Korea digemparkan oleh tindakan bunuh dirinya. Lihatlah, ketamakan akan hal kecil mungkin hanya berdampak pada diri sendiri dan orang sekitar

 Akan tetapi, ketamakan akan hal besar berdampak pada seluruh masyarakat. Ini bisa disebabkan oleh cara pandang. Saat melihat segala sesuatu di dunia ini, nafsu keinginan mulai muncul dalam batin. Ada pula orang yang bergumul dengan nafsu keinginan seksual. Ada pula yang keinginannya bahkan lebih luas. Mereka ingin mendapatkan sesuatu  yang bahkan ada di luar jangkauan mereka

 Ini disebut Kediaman Kemelekatan Rupa. Intinya, alam nafsu, rupa, dan tanpa rupa tidaklah jauh dari sekitar kita. Mengenai lingkup yang lebih jauh dan lebih luas, bahkan hingga ke hal yang tak terlihat, kita selalu memiliki keinginan terhadapnya dan menyebabkan noda batin kita berkembang. Kita sepatutnya menjelaskan Tiga Alam berdasarkan pemahaman seperti ini. Jika kita menjabarkannya sebagaimana pada umumnya, maka akan terasa terlalu jauh dari kita. Sesungguhnya, ajaran Buddha berhubungan erat dengan keseharian kita. Empat Kediaman adalah tempat bagi noda batin yang menyebabkan kita menciptakan karma buruk. Karena itu, sebagai praktisi Buddhis,  kita harus senantiasa melenyapkan noda batin

 Setiap pagi, kita harus mendengarkan suara hati kita dan mengenali pikiran baik dan buruk kita. Kita harus segera melenyapkan pikiran jahat dan mengembangkan pikiran baik. Kita tidak boleh membiarkan nafsu keinginan muncul dalam pikiran kita.  Jika ia berdiam di dalam batin kita,  maka benihnya akan tertanam  dan akan membawa penderitaan yang tak terkira. Jadi, kita harus senantiasa bersungguh-sungguh.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888