Sanubari Teduh – 106 – Empat Ikatan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, adakah pikiran kita melekat pada kondisi luar dalam hidup kita? Kemelekatan sungguh membuat kita sangat menderita. Kehidupan manusia hanyalah perpaduan dari 4 unsur. Segala sesuatu di alam semesta yang dapat kita sentuh, manakah yang bukan perpaduan dari 4 unsur? Unsur tanah, air, api, dan angin. Demikianlah segala sesuatu di dunia
Begitu juga dengan tubuh kita. Apa lagi yang perlu kita lekati? Tidak perlu melekat, tetapi makhluk awam malah melekati banyak hal. Selain melekat pada tubuh yang semu dan benda materi di luar diri yang terus kita perebutkan tanpa henti, masih terdapat Empat Ikatan, yaitu 4 hal yang mengikat kita sehingga kita tak bisa terlepas dari penderitaan yang tak terkira. Dari Empat Ikatan, yang pertama adalah Ikatan Ketamakan. Terikat berarti terbelenggu sesuatu, dan tak bisa terlepas dari empat hal, yang pertama adalah ketamakan. Ketamakan dan kehidupan manusia sepertinya memiliki hubungan yang sangat erat
Terutama mengenai noda dan kegelapan batin, semua noda dan kegelapan batin juga tak terlepas dari ketamakan. Dapat diketahui bahwa ketamakan ini sungguh merupakan sumber penderitaan. Sumber penderitaan berasal dari ketamakan. Inilah yang menyebabkan semua makhluk tak dapat terbebas dari penderitaan. Mengenai ketamakan, ada orang menjadi tamak karena tak memiliki apa-apa
Ada yang tamak hingga tak pernah merasa cukup. Ketamakan ini selamanya tidak bisa terpuaskan. Jika tidak dapat merasa puas, seseorang akan terus bersikap tamak. Kita sering mengatakan bahwa krisis ekonomi membuat hidup terasa sulit. Sesungguhnya, lihatlah tempat rekreasi, penjual makanan, dan tempat hiburan, bisnis mereka masih sangat lancar. Semua orang masih sangat suka tempat hiburan
Meski kondisi ekonomi dikatakan tidak baik, namun tempat-tempat untuk membelanjakan uang masih banyak dikunjungi orang. Akan tetapi, banyak juga orang berbuat jahat dengan alasan buruknya kondisi ekonomi. Saya melihat siaran berita yang melaporkan ada sepasang kakak beradik yang masih muda dan berbadan sehat. Mereka menjadikan krisis ekonomi sebagai alasan untuk tidak mencari pekerjaan.
Mereka tidak mempunyai pekerjaan. Jadi, kakak beradik ini memutuskan menjadi pencuri
Selama beberapa bulan, mereka bekerja sama. Jika hasil pencurian mereka dijumlahkan, diperkirakan mencapai jutaan dolar NT. Begitu banyak barang yang mereka curi hanya disembunyikan dan tidak digunakan. Mereka tetap hidup seperti itu selama beberapa bulan. Barang hasil curian hanya terus dikumpulkan. Setelah kasus ini terbongkar, mereka ditangkap. Hal ini berakibat penyesalan dan menjadi catatan kelam dalam hidup mereka
Ini juga disebabkan oleh ketamakan, tamak terhadap kehidupan santai dan tidak mau bekerja keras, karena barang mudah didapat dengan mencuri. Akan tetapi, mereka tidak berpikir bahwa ini adalah perbuatan yang penuh risiko, suatu saat pasti terbongkar, dan pada saat orang mengetahuinya, maka hidup mereka akan benar-benar hancur. Mereka tidak memikirkan hal itu, menganggap barang yang dicuri berarti sudah menjadi milik mereka. Mereka telah menanam kebiasaan buruk ini. Mereka menganggap dalam beberapa bulan itu, mereka tetap hidup dengan baik. Akan tetapi, mulai saat ini, mereka sudah mempunyai catatan buruk, bahkan harus menderita di dalam penjara
Ini juga disebabkan oleh ketamakan yang akhirnya membelenggu kebebasan kita. Jika dapat mengendalikan diri, meski hidup terasa agak berat, namun hati kita merasa sangat bebas. Seorang pencuri, meski setiap kali berhasil mencuri dan tidak ketahuan, namun saya yakin hatinya terbelenggu, diliputi rasa cemas dan takut. Setelah mencuri di suatu tempat, kelak jika kembali melewati tempat itu, hati kita akan merasa tidak leluasa. Demikianlah ketamakan mengikat kita
Akibat krisis ekonomi, ada pula orang yang usahanya tidak dapat berkembang. Banyak juga perusahaan kecil yang bangkrut. Memang ada perusahaan yang bangkrut, tetapi mengapa bisa bangkrut? Apakah hanya karena krisis ekonomi? Sesungguhnya, penyebab terbesar adalah utang. Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan ekonomi dan modal yang cukup, sehingga perencanaannya melebihi jumlah modal. Sehubungan dengan itu, akhirnya mereka mengajukan pinjaman. Meminjam uang dari bank akan terkena bunga. Meminjam dari kreditor swasta juga dikenakan bunga, terlebih lagi meminjam uang dari rentenir
Biasanya ketika bisnis sedang untung, maka demi alasan bisnis juga, orang mengeluarkan biaya untuk menghibur klien, dan membuat mereka semakin terjerumus. Ketika bisnis berjalan lancar, kita hanya menghitung omzet, namun lupa berapa jumlah modal usaha yang kita pinjam dari pihak lain. Kita telah melupakannya. Ditambah kegiatan menghibur klien, kita mudah dipengaruhi kebiasaan buruk, seperti minum alkohol, bersenang-senang, berjudi, dll. Semua kebiasaan buruk tersebut dilakukan pada saat menghibur klien. dilakukan pada saat menghibur klien
Akibatnya, kegigihan dalam menjalani usaha secara perlahan-lahan menjadi kendur. Begitu krisis ekonomi terjadi, kebiasaan mencari hiburan sudah tak bisa diubah lagi. Bunga pinjaman masih harus dikembalikan, jadi kita menghadapi tekanan ganda dan terpaksa mengumumkan kebangkrutan. Ini juga disebabkan oleh ketamakan. Karena itu, saya sering memberi perumpamaan bahwa setelah memperoleh satu manusia menjadi tamak terhadap sembilan lainnya. Manusia selalu merasa kurang
Saat seseorang membuka usaha kecil, maka setelah memperoleh laba 1.000 dolar, dia berharap bisa mendapatkan 9.000 dolar lagi agar menjadi 10.000 dolar. Jika mendapatkan laba 10.000 dolar, dia akan berharap mendapatkan 90.000 dolar lagi.
Setelah mendapatkan 100.000 dolar, dia berharap mendapatkan 900.000 dolar lagi. Begitulah ketamakan yang tiada habisnya, dari yang kecil hingga yang besar. Karena itu, akibat ketamakan ini, manusia sungguh menderita dan tak hentinya mengejar seumur hidup. Ada seorang Tzu Cheng menemani rekannya yang sama-sama komisaris kehormatan kembali ke Griya Jing Si. Relawan ini berkata, “Saya membawa kakak ini kembali ke sini
” Saya berkata, “Oh, bagaimana kabarmu?” “Bukankah kamu sudah jarang kembali ke sini?” Sudah puluhan tahun. Dia adalah seorang anggota komite, juga komisaris kehormatan. Anggota Tzu Cheng tadi berkata, “Sebenarnya, dia yang membawa saya masuk Tzu Chi.” Saya berkata, “Oh, orang yang kamu bawa sekarang sangat tekun, mengapa kamu bisa begitu jauh dari organisasi?” Anggota komite ini menjawab, “Master, saya seperti yang Anda bilang, punya satu kurang sembilan.” “Bisnis saya semakin besar, sehingga saya semakin sibuk dan semakin jauh dari organisasi.” “Saya sering bolak-balik antara Taiwan dan Tiongkok Daratan.” “Saya terikat oleh bisnis.” Benar, dia terikat oleh bisnisnya sendiri, padahal meski tak lagi mengembangkan bisnis, apa yang dia miliki sekarang bahkan tak habis dimakan tiga generasi
Akan tetapi, dia merasa bisnisnya tengah berkembang dan entah berapa lama lagi dia dapat meraih untung sebanyak itu. dan entah berapa lama lagi dia dapat meraih untuk sebanyak itu. Saya bertanya apakah dia punya kerisauan. Mana mungkin ada bisnis tanpa kerisauan. “Tentu ada kerisauan,” ujarnya. Saya berkata, “Lihatlah kakak ini.” Dia lalu menjawab, “Saya sungguh merasa dia adalah teladan bagi saya, maka saat dia mengajak saya kembali, saya bersedia ikut.” “Beberapa tahun ini, saya melihatnya sangat bahagia dan tidak punya kerisauan
” “Dia banyak bersumbangsih dalam hidup ini.” Benar. Kerisauan hilang saat kita mampu melepas. Meski mereka sama-sama hidup di dunia ini, namun yang satu telah terbebas dari kerisauan. Meski dalam bersumbangsih bagi masyarakat dan mengemban misi Tzu Chi dia begitu sibuk, namun dia sangat bahagia dan bebas, tidak ada tekanan ataupun kerisauan. Betapa damai hatinya. Jadi, ini semua bergantung pada pikiran. Kapan kita baru dapat benar-benar memperoleh pembebasan? Mengenai pelatihan diri, bukanlah menunggu sampai ada waktu baru kita melatih diri, lalu berharap mencapai pembebasan pada kehidupan mendatang
Sesungguhnya, pembebasan harus diraih saat ini, bukan pada kehidupan yang akan datang. Hidup ini berada di luar kendali kita. Tiada yang dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Kehidupan mendatang tidaklah pasti, bergantung pada karma kita di kehidupan sekarang. Ke manakah buah karma pengondisi membawa kita? Buah karma pengondisi adalah tempat kita dilahirkan. Mungkin saja di Afrika, Rwanda, mungkin juga di Ethiopia. Mungkin juga di tempat-tempat terpencil. Di zaman sekarang masih banyak daerah yang penduduknya masih sangat primitif
Misi Tzu Chi sudah berskala internasional. Kita telah pergi ke banyak negara, baik ke negara yang maju– karena kita punya banyak insan Tzu Chi yang tersebar di berbagai negara– maupun ke daerah terpencil, daerah miskin, dan daerah yang sering dilanda bencana. Entah karena bencana alam atau konflik, insan Tzu Chi pernah pergi ke daerah-daerah itu. Sepulangnya dari menyalurkan bantuan, semua orang mengungkapkan rasa syukur. Kita menjadi tahu betapa beruntungnya tinggal di Taiwan yang kondisinya sangat baik dan masyarakatnya damai serta tenteram. Betapa beruntungnya kita
Insan Tzu Chi pernah mengunjungi Azerbaijan, Chechnya, Afganistan, dan Ethiopia. Negara-negara ini adalah daerah penuh konflik. Konflik di negara-negara tersebut telah menghancurkan banyak keluarga dan menewaskan banyak orang. Gambaran tersebut sungguh menggetarkan hati. Bencana akibat ulah manusia inilah yang paling mengkhawatirkan. Hanya karena pemikiran segelintir orang, mengakibatkan banyak orang menjadi korban. Bayangkan, di dunia ini, betapa banyak hal yang membuat kita tidak merasa damai
Di kota-kota besar, teknologi berkembang pesat, kehidupan sangat makmur, dan segala sesuatu sangat praktis, bagaikan hidup di surga. Akan tetapi, manusia tidak tahu bahwa kehidupan seperti ini juga mengandung risiko. Karena itu, Buddha berkata bahwa saat berkah di surga telah habis, orang akan terjatuh ke tiga alam rendah, karena mereka yang hidup di surga mengandalkan berkah yang dimiliki. Begitu berkah habis, giliran karma buruk yang berbuah, sehingga mereka harus terjatuh ke alam rendah. Ini juga adalah sebuah risiko. Karena itu, Buddha berkata kepada kita untuk tidak hanya menanam berkah agar terlahir di surga, melainkan menanam berkah sekaligus kebijaksanaan. ——– Kita harus berlatih hingga memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui ke mana kita nantinya
Jadi, ke mana buah karma membawa kita kelak? Dalam hidup ini saja kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, apalagi melihat apakah pada kehidupan mendatang kita bisa meraih pembebasan. Ini sungguh hal yang sangat tidak pasti. Selain mengunjungi negara maju yang bagaikan surga, insan Tzu Chi juga pergi ke tempat-tempat terpencil. Bahkan, di Indonesia, ada sebuah pegunungan yang terletak di sebuah pulau kecil. Insan Tzu Chi Indonesia menggunakan helikopter untuk membagikan makanan ke sana. Sesampainya di sana, semua penduduk terlihat tidak berbusana, karena peradaban mereka belum berkembang. Mereka masih hidup secara primitif. Setiap orang, baik pria maupun wanita, tidak berbusana
Melihat kehidupan mereka, sungguh tidak tega rasanya. Bagaimana jika musim dingin tiba? Saya menanyakannya dengan penasaran. Orang yang kembali dari sana melaporkan bahwa musim panas di sana lebih panjang. Cuaca dingin di sana kira-kira seperti musim gugur di sini. Saya berkata, “Malam hari di musim gugur juga sangat dingin, mereka harus bagaimana?” Dia menjawab, “Mereka suka berburu dan menyantap daging hewan.” Mereka mengoleskan berlapis-lapis minyak hewan pada tubuh mereka, lalu melapisinya lagi dengan pasir. Demikianlah cara mereka menghangatkan tubuh. Saudara sekalian, kita mungkin sulit percaya saat mendengarnya
Apakah ini kejadian ribuan tahun yang lalu? Bukan. Ini adalah fakta yang sama-sama ada di masa kini dengan kita. Coba bayangkan, mereka yang terlahir di sana, apakah di kehidupan mendatang sudah pasti kembali terlahir di sana? Belum tentu. Kita yang lahir di Taiwan, apakah pasti akan terlahir kembali di Taiwan? Setelah satu kehidupan ini berakhir, kehidupan baru akan terus berlanjut akibat kekuatan karma yang tidak bisa kita kendalikan. Saya masih ingat ketika pulang dari misi bantuan di Ethiopia, para relawan merekam kehidupan di sana. bukankah saya sering berkata bahwa saya sangat takut? Saya takut bahwa setelah tertidur lelap, saya sudah terlahir di sana saat terbangun. Ini mungkin saja terjadi
Lihatlah, membayangkannya saja saya takut. Akan tetapi, saya tidak semestinya merasa takut. Bodhisattva Ksitigarbha berikrar selama neraka belum kosong, Beliau tidak akan menjadi Buddha. Ethiopia adalah tempat yang penuh penderitaan. Akan tetapi, selama saya punya tekad, maka pergi ke sana bukanlah karena terseret karma, melainkan karena keprihatinan. Saya seharusnya ke sana untuk menolong orang. Akan tetapi, apakah kebanyakan orang dapat pergi ke mana pun sesuai yang ditekadkan? Ini juga sulit dipastikan
Jadi, ada sesuatu yang mengikat kita. Pada saat ini, jika tidak sungguh-sungguh memanfaatkan waktu, sebaliknya hati menyimpan ketamakan, baik ketamakan terhadap perasaan cinta, nafsu antara pria dan wanita, maupun ketamakan terhadap makanan, pakaian, tempat tinggal, pakaian, tempat tinggal, dll., maka sekecil apa pun ketamakan itu, meski itu berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, kita juga akan terikat, apalagi menyangkut urusan bisnis, dll. Semua itu bersumber dari ketamakan. bagaimana cara memulai pelatihan diri untuk meraih pembebasan? Bagaimana cara meraih pembebasan bagi umat awam dan anggota Sangha? Bukan dengan menunggu sampai ada waktu, baru melatih diri agar terbebaskan pada kehidupan mendatang. Tidak mungkin. Setelah mengetahuinya, kita harus segera berlatih. Dalam kehidupan ini, jika noda batin tidak segera dilenyapkan, maka hati kita akan diliputi kerisauan dan tidak bisa kita kendalikan
Dengan demikian, kita tidak mungkin dapat meraih pembebasan. Karena itu, kita seharusnya segera melatih diri saat ini juga. Kehidupan sekarang diliputi banyak persoalan. Jika semua kebutuhan dasar dapat tercukupi, maka itu sudah cukup
Selama dapat hidup layak, itu sudah cukup. Hal lainnya harus kita lepaskan, barulah kita tidak terikat ketamakan. Ikatan ketamakan ini sungguh membawa penderitaan. Terdapat Empat Ikatan, dan ketamakan hanyalah salah satunya. Ketamakan akan mengikat diri kita di 6 alam kehidupan dan 4 jenis kelahiran hingga kita tak dapat mengendalikan diri. Berhubung telah memahaminya, kita harus senantiasa bersungguh-sungguh.