Sanubari Teduh – 107 – Empat Ikatan Bagian 2
Saudara Se-Dharma sekalian, berapa banyak yang dibutuhkan dalam hidup seseorang? Berapa banyak nasi yang dapat dimasukkan ke mulut sekali telan? Berapa banyak rasa yang dapat dicicipi dalam satu suapan? Sesungguhnya, rasa manis dan pahit juga harus dicicip secara bergantian, barulah kita bisa tahu manakah yang pahit dan manakah yang manis. Apa pun rasa yang kita pilih, mulut sesungguhnya hanya satu. Begitu juga, kapasitas makan ada batasannya. Sehubungan dengan itu, berapa banyak makanan yang kita butuhkan, padahal sekali makan sudah merasa kenyang? Berapa banyak baju yang dapat dikenakan dalam satu waktu? Dalam cuaca sangat dingin pun kita hanya bisa mengenakan beberapa helai baju. Berapa jenis warna baju yang dapat dikenakan dalam satu waktu? Berapa jenis motif yang dapat dikenakan dalam satu waktu? Begitu juga, tidak bisa dalam satu waktu memakai beragam warna sekaligus pada tubuh. Pada satu tubuh yang sama, beragam jenis baju juga harus dikenakan secara bergantian
Untuk apa tamak? Pakaian hanya untuk menutupi tubuh. Masing-masing orang hanya punya satu tubuh, juga hanya butuh satu tempat tidur. Ukuran tiga atau empat kaki pun sudah cukup untuk berbaring dengan leluasa. Untuk apa harus tamak akan ukuran yang lebih besar? Keran air yang disepuh emas atau perak fungsinya juga tetap sama. Begitu juga yang terbuat dari besi dan timah, hanya sebagai penyalur air. Semuanya memiliki fungsi yang sama. Akan tetapi, kita selalu ingin memiliki sesuatu yang disepuh emas atau perak baik pada lift maupun kamar kecil, dll
Inilah yang sering saya lihat. Setiap kali melihat kondisi seperti itu, hati saya selalu merasa miris. Manusia hidup dalam kegelapan batin dan kebodohan. Dalam kehidupan ini, asalkan kebutuhan sehari-hari terpenuhi secara lancar, bukankah kita seharusnya berpuas diri? Jika melampaui yang dibutuhkan, bukankah materi menjadi berlebihan? Demi mengejar banyak materi yang berwujud seperti itu, kita tahu bahwa manusia begitu bekerja keras, bahkan mengorbankan kesehatan dan nama baik. Bukankah Buddha telah mengajari kita bahwa tidak ada yang perlu dilekati di dunia ini? Jika kita disesatkan oleh kekayaan materi dan hati kita melekat pada semua itu, maka kita tidak akan dapat melepaskan diri. Baik kekayaan materi, keuntungan, maupun popularitas, sungguh dapat menyesatkan kita. Karena itu, banyak Sutra sering mengajarkan kepada kita tentang ketidakkekalan
Segala sesuatu bersifat ilusi bagaikan gelembung air dan bayangan. Mengapa begitu ngotot terhadap materi? Jadi, pengejaran kepentingan pribadi disebabkan oleh adanya ketamakan yang akhirnya membawa masalah. Jadi, kita harus menerapkan ajaran Buddha dalam keseharian kita. Jangan terlalu bersukacita saat hidup nyaman. Tubuh kita akan terbelenggu tanpa disadari. Kita tidak menyadarinya
Karena saat itu terbuai dalam sukacita. maka tanpa disadari, kita terbelenggu dan kehilangan kebebasan. Sungguh kasihan. Ada orang yang hidup berkelimpahan, namuntahu untuk kembali menciptakan berkah. Saya melihat sebuah siaran berita tentang ulang tahun ke-71 ratu Thailand. Bagaimana mereka merayakannya? Kebetulan hari ulang tahunnya bertepatan dengan Hari Ibu di Thailand. Hari Ibu di Thailand bertepatan dengan ulang tahun ratu
Di sana ada sekelompok pemuda yang mengusulkan cara perayaan ultah sang ratu, yaitu membayarkan utang hukuman denda milik sejumlah orang kurang mampu. Adakalanya mereka melanggar hukum karena melacur, berjualan di kaki lima, dll. karena melacur, berjualan di kaki lima, dll. Pemerintah lalu mengeluarkan surat denda. Jika tidak sanggup membayar denda, mereka akan dipenjara. Contohnya, mengendarai kendaraan melampaui batas kecepatan juga akan didenda. Akan tetapi, jika tidak sanggup bayar, mereka akan dipenjara
Ada satu lagi, yaitu melanggar hukum karena mengonsumsi narkoba, kini juga dianggap melanggar hukum di Thailand. Mereka yang melanggarnya akan direhabilitasi, namun jika melanggarnya kembali, mereka akan dipenjara. Untuk pelanggaran seperti ini, ada 309 orang yang tidak sanggup membayar denda. Pada bulan tersebut, kelompok pemuda ini membantu melunasi utang denda mereka agar dapat dibebaskan. Tanpa utang denda, mereka dapat dibebaskan dan dapat kembali ke rumah untuk bekerja, membuka usaha, dan mencari nafkah untuk menyokong keluarga. Lebih dari 2.000 pengguna narkoba yang pelanggarannya lebih ringan dan telah menyesali perbuatan mereka, pun mulai direhabilitasi. Lebih dari 2.000 orang mulai direhabilitasi.
Pemerintah juga memberikan remisi sehingga mereka dapat dibebaskan lebih awal agar dapat memperbaiki kesalahan mereka dan memulai hidup baru. Ulang tahun satu orang saja dapat membuat sekelompok pemuda membayarkan utang denda untuk 300-an orang yang kehilangan kebebasan yang mana sangat dibutuhkan keluarga mereka. Pemerintah Thailand juga merasa prihatin pada orang-orang yang kehilangan kebebasan ini, terlebih mereka sangat dibutuhkan oleh keluarga mereka. Mereka hanya lengah sesaat. Karena itu, mereka diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Untuk pelanggaran yang lebih ringan, dibebaskan dengan pemberian remisi
Lihatlah, dapat memberi kebebasan bagi 2.000-an orang. Ratu Thailand tentu memiliki berkah yang besar. Dia pasti sangat dicintai rakyatnya, barulah perayaan ulang tahunnya dapat membebaskan lebih dari 2.000 orang. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus membina berkah dan kebijaksanaan sekaligus. Dengan berbuat baik dalam keseharian dan menghimpun banyak berkah, manfaatnya bukan hanya dirasakan pada kehidupan ini saja. Di masa yang akan datang pun kita akan membawa benih karma baik
Di mana pun dilahirkan, kita akan membawa berkah. Seperti ratu Thailand, hanya karena ulang tahunnya, banyak orang mendapatkan kebebasan. Ini merupakan berkah yang beliau miliki. Jadi, kita harus menciptakan berkah bagi masyarakat. Jika memiliki kemampuan, janganlah kita bersikap egois. Kita harus mengembangkan cinta kasih dan bersumbangsih untuk masyarakat, barulah jauh dari masalah
Secara luas, ini dapat memberi pengaruh pada masyarakat. Dalam lingkup kecil, dapat memengaruhi keluarga dan kualitas diri sendiri. Sesungguhnya, kualitas diri sangat penting. Janganlah kita menganggap bahwa kita hanyalah rakyat kecil yang tidak berharga dan kualitas diri kita tidaklah berarti. Ketahuilah, setiap orang tidak boleh meremehkan diri sendiri. Setiap orang harus menghormati kualitas diri masing-masing. Jika kita dapat menghormati diri sendiri, orang lain dengan sendirinya akan menghormati kita
Dalam masyarakat zaman sekarang, sungguh dibutuhkan sikap saling mengasihi dan menghormati. Dalam mengasihi orang, kita juga harus menghormati mereka. Orang lain pun dengan sendirinya akan mengasihi dan menghormati kita. Ini merupakan sebuah lingkaran yang bertautan. Karena itu, kita harus mawas diri. Ikatan yang kedua adalah kebencian. Sebelumnya adalah Ikatan Ketamakan
Ketamakan dapat menghilangkan kebebasan kita, membuat tubuh dan pikiran kita mengalami berbagai belenggu noda batin. Kebencian berarti mudah marah. Kebiasaan buruk manusia, salah satunya adalah mudah marah. Ada sekelompok relawan kembali ke Griya Jing Si. ========== Dalam kelompok ini, ada seorang relawan yang sangat berdedikasi. Mereka datang dari luar negeri. Dia bersumbangsih dengan sungguh hati bagi orang sakit dan fakir miskin
Akan tetapi, ada yang berkata kepada saya, “Master, adakalanya orang ini sebenarnya baik, tetapi setiap orang tidak menyukainya, sehingga setiap kegiatan yang dia usulkan, meski benar dan cukup baik, semua orang merasa tidak senang.” Saya lalu bertanya apa sebabnya. Yang harus dilakukan haruslah dilakukan, mengapa harus merasa tidak senang? Mereka berkata, “Temperamennya sangat buruk.” “Bekerja bersamanya memang sudah sepatutnya, kita semua harus mengemban misi Tzu Chi dengan sukacita.” “Akan tetapi, adakalanya dia merasa tidak senang.” “Saat tidak senang pada seseorang, dia akan berkata dia tidak menginginkan dia tidak menginginkan orang ini atau hendak mencari orang lain.” “Meski adakalanya orang lain merasa bahwa usul yang dia ajukan kurang baik atau tidak bisa dijalankan, namun dia bersikeras pada pilihannya
” Saya sering berkata bahwa semua kehidupan bersifat setara. Jika sekelompok orang penuh dengan cinta kasih, maka kelompok ini seharusnya dijaga dengan baik. Setiap orang harus saling bekerja sama. Jika kita berbuat sekehendak hati kita, berpikir yang kita ingin harus ada, yang kita tidak ingin tidak boleh ada, yang ingin kita ganti harus segera diganti, maka meski membawa kebaikan bagi organisasi dan membawa manfaat bagi daerah setempat, namun tetap tak dapat dikatakan sempurna. Bahkan meski dirinya sendiri juga sangat berkontribusi, namun akibat temperamen yang buruk, kemarahannya dapat muncul setiap saat, dapat memarahi siapa saja, sehingga orang lain menjadi tidak suka padanya. Akan tetapi, mereka semua mencintai Tzu Chi, mengasihi orang yang hidup kekurangan dan menderita
Karena itu, mereka sangat peduli dengan masalah ini. Ini hanyalah satu kekurangan kecil. Jika orang ini dapat memperbaiki kebiasaan buruknya,
saya percaya, dia akan dapat bekerja dengan sukacita tanpa mengeluh. Banyak orang akan mau menerimanya dan dapat bekerja dengan sukacita. Masalah dapat muncul hanya karena salah satu anggota yang mudah marah. Saudara sekalian, mungkin orang ini adalah Anda atau saya, yang dapat marah dalam sebuah organisasi. Sebenarnya Anda adalah orang yang sangat baik, begitu juga saya, merupakan orang baik
Saya juga memiliki cinta kasih. Hanya karena tidak dapat menahan emosi, Hanya karena tidak dapat menahan emosi, akibatnya menyusahkan orang di sekitar. Ini bagaikan mengikat dan membelenggu diri sendiri dengan tali. Padahal dia sendiri juga tak ingin seperti itu. Penyebabnya hanyalah emosi sesaat. Dalam kehidupan zaman sekarang, banyak perasaan cinta, benci, dan dendam terus menjerat tiada habisnya. Ada orang yang meski biasanya kita perlakukan dengan baik dan sangat kita kasihi, namun saat sedikit saja kita berbuat kesalahan, dia selalu mengingatnya di dalam hati dan berusaha membalas dendam. Dalam Sutra juga terdapat sebuah kisah tentang seseorang yang sangat tidak bahagia
Mengapa tidak bahagia? Karena dia menyimpan dendam terhadap seseorang. Setiap hari dia selalu berusaha mencari cara menyingkirkan orang tersebut. Dia mencari cara ke mana-mana. Kemudian dia menemukan seorang dukun yang menguasai ilmu mantra. Dia berkata kepada dukun tersebut, “Jika engkau dapat menggunakan mantra untuk mencelakai orang itu, apa pun pengorbanannya akan aku penuhi.” “Ajari aku.” “Aku hendak belajar
” ===== Akan tetapi, dukun ini berkata, “Jika ingin mempelajari mantra Vetala, mantra ini sangat manjur.” “Siapa pun yang ingin engkau celakai, orang itu pasti akan celaka.” “Ini sangat manjur.” “Akan tetapi, ketahuilah, setelah menguasai mantra ini, sebelum mencelakai orang, engkau harus mencelakai diri sendiri dahulu.” Setelah mendengarnya, dia berkata, “Asalkan keinginanku terpenuhi, yaitu dapat mencelakai orang itu, apa pun akibatnya, saya rela.” bukankah ini disebut kebodohan? Dalam kehidupan kita sekarang, bukankah juga banyak kasus seperti itu? Setiap hari, masalah akibat cinta dan dendam sungguh banyak terjadi di tengah masyarakat. Apa penyebab munculnya masalah ini? Ikatan Kebencian
Ikatan Kebencian timbul dari kondisi yang berlawanan dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Contohnya, saya tidak menyukai orang ini, mengapa harus bertemu dengannya? Ini juga adalah kondisi yang berlawanan. Di saat seperti ini, akan muncul kebencian. Ini akan mengikat batin kita sendiri. jika muncul ketamakan dalam batin dan terakumulasi ke dalam perbuatan, maka penderitaannya sungguh tak terkira. Hanya karena kebencian sesaat, bangkitlah amarah. Orang seperti ini mengikat dirinya sendiri hingga batinnya tidak merasa bebas, tidak merasa tenang dan leluasa
Betapa menderitanya. Orang di sekitarnya yang melihat pun juga merasa tidak nyaman. Bukankah ini hanya diakibatkan oleh kebiasaan buruk mudah marah? Lihatlah, betapa menyiksanya kebiasaan itu. Hanya ada satu cara untuk mengatasinya, yaitu membersihkan noda dan kegelapan batin. Karena itu, kita semua harus senantiasa membersihkan kegelapan batin. Kita harus lebih bersungguh hati.