Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 108 – Empat Ikatan – Bagian 3

Saudara se-Dharma sekalian, pepatah mengatakan, “Suara guntur dapat menggetarkan langit.” Saat ada suara guntur, mungkin orang yang sedang tidur tak mendengarnya, namun mungkin juga ada orang yang terbangun karena suara guntur tersebut. Dalam kondisi seperti ini, sebagai orang yang masih mempelajari Dharma, kita semua masih merupakan manusia awam. Manusia awam yang hidup dalam ketidaktahuan bagaikan orang yang bermimpi dalam tidurnya. Saat masuk ke vihara dengan tekad melatih diri, mungkin juga masih ada orang yang seperti bermimpi dalam tidur

 Meski ada suara guntur, dia tetap tidak terbangun. Mungkin saja, meski sudah terbangun, dia merasa hari masih gelap, sehingga kembali melanjutkan tidurnya. Mungkin ada yang saat mendengar suara guntur, akan terbangun dengan rasa syukur, karena dapat melakukan lebih banyak hal. Dengan hati penuh rasa syukur, kita terbangun untuk mulai menjalankan tugas dan kewajiban pada hari itu. Demikian pula dengan praktisi Buddhis, baik kaum monastik maupun bukan, akan timbul sukacita saat mendengar Dharma. Kita merasa senang karena telah memahami Dharma. Dapatkah kita mempraktikkannya setelah paham? Atau setelah membangkitkan ikrar dan sanggup mempraktikkannya, dapatkah kita mempertahankannya selamanya? Ada sebuah ungkapan berbunyi, “Mudah untuk membangun tekad, namun sulit untuk mempertahankannya

” Tekad dapat dibangun dengan cepat, namun sangat sulit untuk dipertahankan. Ajaran Buddha bagaikan suara guntur yang dapat membangunkan orang yang tertidur. Akan tetapi, akankah orang yang terbangun ini merasa hari masih terlalu pagi dan ingin melanjutkan tidurnya? Seperti yang sering dikatakan orang, “Saya masih memiliki tanggung jawab.” “Saya masih muda.” “Saya masih harus menunggu.” Banyak alasan bagi mereka untuk menunda. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini tidak kekal. Apakah kita masih punya banyak waktu untuk menunggu? Waktu yang dimiliki tetap akan terbuang sia-sia

 mereka seakan tak mendengarnya. Jadi, berhubung sudah masuk ke vihara, kita harus membangun tekad yang teguh. Jika tidak, kita tidak akan mampu mewujudkan ciri-ciri manusia agung. Menjadi kaum monastik adalah misi manusia agung, bukan sesuatu yang mudah. Berhubung telah bertekad, kita harus bagaikan orang yang terbangun dari mimpi setelah mendengar suara guntur. Kita harus bersyukur atas segala hal yang terjadi hari ini dan segera menjalankan tekad kita. Ini disebut memanfaatkan waktu dalam hidup. Jadi, kita harus dapat memanfaatkan waktu dalam hidup kita sebaik mungkin

 Ajaran Buddha yang begitu baik bukanlah sebatas teori di atas kertas. Bukan. Haruslah kita terapkan dalam keseharian. Saya sering berkata bahwa kita harus belajar lewat praktik nyata, namun lebih jauh lagi kita harus merasakan dan sadar. Di tengah proses belajar dan praktik, kita harus berusaha memahami dan sadar. Kita harus sadar sepenuhnya. Setelah sadar, jangan sampai tersesat lagi bagaikan setelah mendengar suara guntur lalu kembali tertidur. Janganlah demikian

 Sungguh sulit terlahir sebagai manusia, sulit pula bertemu ajaran Buddha, lebih sulit lagi untuk melatih diri. Jadi, baik perumah tangga maupun kaum monastik, harus mempraktikkan ajaran Buddha dalam keseharian. Jika tidak, kita akan mudah terikat. Kita telah membahas tentang Ikatan Ketamakan. Ketamakan telah menyebabkan manusia mengalami penderitaan yang tak terkira. Hal ini bagaikan kita mengikat diri sendiri dengan tali, semakin dililit akan semakin kencang. Inilah noda dan kegelapan batin kita yang terbawa dari kehidupan ke kehidupan. Saat terlahir ke dunia, kita sudah membawa nafsu keinginan. Bukankah saya pernah berkata bahwa begitu bayi dilahirkan, dia sudah ingin makan

? Meski telah makan selama puluhan atau ratusan tahun, mulut manusia tak akan penuh terisi. Demikian pula dengan ketamakan manusia yang tak mengenal rasa puas. Jadi, ketamakan yang tak mengenal puas ini akan menyebabkan kita semakin terperosok ke dalam jurang tanpa dasar. Kita akan terus mengikat diri sendiri. Pada kehidupan ini, demi ketamakan yang tak terpuaskan, betapa banyak kesalahan yang kita lakukan. Jika tak mendapatkan yang diinginkan, kita akan menghalalkan segala cara sehingga menciptakan banyak karma buruk. Jika mendapatkan yang diinginkan, kita menjadi lupa diri dan merasa sangat senang

 Kita menjadi lupa daratan, bersikap angkuh dan sombong. Ini juga berawal dari ketamakan. Intinya, sebuah kata “tamak” saja telah memicu berkembangnya kegelapan batin dan membuat noda batin kita terus bertambah. Mulanya, kita sudah terlahir dengan membawa benih karma, Kini ditambah lagi kondisi masyarakat membuat kita terus menanam karma buruk. Berhubung kini menjadi praktisi Buddhis, janganlah kita menambah karma buruk lagi. Kita seharusnya mengetahui sumber dari noda dan kegelapan batin. Kita harus segera berhenti menciptakan karma buruk. Selain itu, kita juga harus terus berusaha melenyapkan sumber karma

 Inilah tujuan pelatihan diri kita. Jadi, kita harus menumbuhkan jiwa kebijaksanaan dan mengembangkannya. Kebijaksanaan diperoleh dari pengetahuan di masyarakat. Pengetahuan yang tanpa ego dan tanpa noda adalah kebijaksanaan. Pengetahuan berasal dari pengalaman di tengah masyarakat. Jika kita tak terpengaruh kondisi masyarakat, maka noda dan kegelapan batin kita tak akan muncul. Bagaimana cara kita menghadapi keadaan di sekitar kita? Dalam kelompok yang terdiri atas tiga orang, kita pasti dapat menemukan guru. Hal yang baik harus segera kita serap dan pelajari

 Dengan begitu, ini akan meningkatkan keterampilan kita. Ini akan menjadi nutrisi tak berwujud bagi kita yang masih merupakan makhluk awam untuk mencapai tingkat kesucian. Kita harus belajar dan tidak malu untuk bertanya. untuk bersikap waspada di saat menghadapi kondisi yang tidak baik. Saat mendengar orang tidak menaati peraturan dan mendengar kehidupan orang penuh gosip, kita harus berintrospeksi diri  apakah kita juga demikian. Mengapa masih timbul begitu banyak noda batin? Masalah yang tak berhubungan dengan kita, mengapa kita malah menarik hubungan dengannya hingga batin kita terpengaruh? Kita harus segera berintrospeksi diri dan tidak terjerumus dalam masalah. Meskipun hidup mengikuti kondisi, namun janganlah pikiran kita terseret. Hal ini harus dilatih di tengah masyarakat karena di sana baru ada pengetahuan dan pengalaman yang bisa kita dapatkan

 Jika dalam kondisi ini kita tak terpengaruh oleh hal buruk dan mampu menyerap hal yang baik, inilah yang disebut mengembangkan kebijaksanaan. Karena itu, kita harus banyak mengembangkan kebijaksanaan dan menciptakan berkah di tengah masyarakat secara bersamaan. Setiap kali kita berkumpul, di usai pertemuan kita selalu mendoakan semua orang agar mengembangkan berkah dan kebijaksanaan. Kata-kata ini sangat mudah diucapkan, namun benarkah kita tulus berharap orang lain mengembangkan berkah dan kebijaksanaan? Kita mendoakan orang lain demikian, namun sudahkah kita sendiri mempraktikkannya? Mendoakan orang lain demikian menandakan bahwa berkah dan kebijaksanaan adalah tujuan kita dalam mencapai kebuddhaan. Dalam mempelajari ajaran Buddha, jika kita tidak menanam berkah dan tidak menjalin jodoh baik dengan semua makhluk, kita tak akan dapat mencapai kebuddhaan karena tidak punya berkah yang cukup. Jika memiliki berkah tanpa kebijaksanaan, meski menjalin jodoh baik dengan banyak orang, kita tidak akan mampu mengajarkan Dharma

 Bagaimana kita bisa menolong diri sendiri dan membimbing orang lain? Jika hanya memiliki berkah tanpa kebijaksanaan, kita tetap akan kesulitan. Jadi, kita harus mengembangkan berkah sekaligus kebijaksanaan. Alkisah ada sepasang kakak beradik. Yang satu mengembangkan berkah, satu lagi mengembangkan kebijaksanaan. Kemudian orang yang mengembangkan berkah ini terlahir sebagai gajah yang tinggal di taman yang dibangun dengan mewah oleh raja. Sang gajah dipakaikan perhiasan emas dan perak

 Ia dipelihara dan dirawat secara istimewa. Berkah yang dimiliki gajah ini berasal dari berkah yang dia tanam pada kehidupan lampau. Yang satu lagi terlahir sebagai petapa, tetapi sering tidak mendapatkan sedekah. Akan tetapi, sebagai petapa dia berbahagia karena dapat mendengar Dharma. Dia punya tekad yang teguh dalam melatih diri. Terlahir sebagai manusia membuat dia dapat mendengarkan Dharma. Intinya, karena memiliki kebijaksanaan, dia tetap terlahir sebagai manusia

 Pada suatu hari, petapa ini berjalan melewati tempat tinggal gajah tersebut. Saat melihat gajah itu, dia merasa seperti mengenalnya. Setelah mengingat kembali, dia berkata kepada gajah tersebut, “Kita pernah menjadi kakak beradik.” “Dahulu, kamu mengembangkan berkah,  namun kurang memiliki kebijaksanaan dan tidak tekun mendalami Dharma.” “Kamu menjalin jodoh baik dengan banyak orang, namun karena tidak serius mendengarkan Dharma, akibatnya kamu terlahir sebagai gajah dengan berkah yang melebihi manusia.” “Sedangkan pada kehidupan lampau, saya hanya peduli mendengarkan Dharma, dan tidak menjalin jodoh baik dengan orang lain.” “Akibatnya, kondisi saya seperti sekarang ini

” “Meski dapat melatih diri, saya selalu hidup kelaparan.” Orang lain tidak suka melihatnya. Lewat cerita ini kita harus paham pentingnya mengembangkan berkah sekaligus kebijaksanaan. Agar memiliki berkah, kita harus merelakan. Selain merelakan hal-hal duniawi seperti kekayaan, keuntungan, dan nama, kita juga harus melepaskan noda batin yang baru saja muncul. Saya rasa inilah yang terpenting. Janganlah menyimpan noda batin. akibat masalah dengan orang lain

 Janganlah tamak dalam mengejar materi yang tiada batasnya. Jika kita sanggup melepaskan semua itu, berarti kita memiliki kebijaksanaan. Dengan begitu, berarti kita mengembangkan berkah dan kebijaksanaan. Selain harus melepaskan masalah duniawi,  kita juga harus melepaskan kesenangan duniawi. Janganlah bersikap tamak. Dengan ketamakan saja sudah bisa mendatangkan banyak masalah, karena segala masalah di dunia ini berasal darinya. Bagaimana jika ketamakan tak terpenuhi? Kebencian dan kemarahan akan muncul. Contohnya, sekelompok anjing atau kucing yang sedang berebut sepotong tulang. Apa yang terjadi jika mereka tak mendapatkannya? Marah

 Mereka yang sudah mendapatkannya dan sedang makan pun masih mau mengincar tulang yang lain. Jika melihat anjing yang lain mendekat, mereka akan segera menggonggong. Begitulah sifat hewan. Manusia juga tak jauh berbeda. Setelah puas menikmati milik sendiri, mereka masih khawatir direbut orang lain. Mereka khawatir orang lain lebih kaya dan usaha orang lain lebih baik

 Mereka khawatir orang lain lebih tenar dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Melihat orang lain sukses, mereka tidak terima dan menjadi marah. Demikianlah noda batin. Kita sering berkata, “Jika kita ingin memperoleh pencapaian, bantulah pencapaian orang lain terlebih dahulu.” Janganlah demi pencapaian pribadi kita menekan orang lain. Ini tidaklah benar. Hidup seperti itu tidaklah baik. Kehidupan yang baik adalah saling membantu. Lihatlah sepasang kembar siam dari Filipina yang menjalani operasi di RS Tzu Chi

 Operasinya sangat berhasil. Setelah kembar siam ini dipisahkan, banyak wartawan datang untuk meliput. Para dokter yang diwawancara pun tidak berkata bahwa merekalah yang berjasa melakukan pembiusan dengan sangat baik dalam takaran yang tepat sehingga operasi berlangsung dengan lancar. Tidak. Mereka menjawab bahwa pembiusan hanyalah bagian dari proses operasi. Sebelum melakukan operasi, memang seharusnya diberi pembiusan. Tidak ada yang istimewa. Yang membuat saya kagum adalah para dokter bedah, yaitu dr

 Li, Wakil Kepala RS Zhang, dan banyak dokter lainnya. Proses bedah pertama berlangsung sangat baik. Saya berkata kepada dr. Li bahwa pendarahan kedua anak ini tidak boleh melebihi 120 cc. Jangan sampai mereka mengeluarkan banyak darah. Dokter Li adalah dokter ahli bedah hati. Dia memikirkan segala cara agar saat pembedahan organ hati tak terjadi pendarahan

 Dia sangat bersungguh hati sehingga tak terjadi pendarahan selama operasi. Saat ditanya, “Cara apa yang Anda gunakan?” Dia menjawab, “Tidak ada yang istimewa.” “Operasi ini berlangsung dengan baik berkat bagian anestesi.” “Bagian anestesi membiusnya dengan baik sehingga saya sangat tenang.” “Dokter Xu dari bagian anestesi juga mengingatkan saya untuk menghindari terjadinya pendarahan.” “Keahliannya dalam membius sangat luar biasa.” “Beliau tahu volume aliran darah kedua anak itu

” “Jadi, ini berkat dokter bagian anestasi.” Kita mendengar para dokter dari berbagai divisi saling memuji. Mereka tak membanggakan diri sendiri. Tahukah kalian bahwa saat mereka mengadakan konferensi pers, di saat yang sama secara langsung saya juga menyaksikan seluruh sesi wawancara mereka, dan saya sungguh merasa tersentuh. Saat mendengar para dokter saling memuji, dalam hati saya berkata, “Luar biasa, mereka sangat terpuji.” Mereka sungguh patut dikasihi

 Setelah mendengar siaran tersebut, saya menyadari bahwa saya sungguh memiliki berkah karena ada banyak dokter muda yang begitu baik perilakunya.  Inilah yang disebut budi pekerti. Memuji orang lain berarti memuliakan diri. Setiap orang dapat saling memuji, ini merupakan suatu kebajikan yang indah. Kita melihat mereka tidak mementingkan diri sendiri, melainkan berbuat demi orang lain. Kedua anak yang selesai dioperasi diperlakukan bagai anak mereka sendiri.

  Demikianlah, kehidupan mereka sungguh bebas dari kerisauan diri, sekaligus dapat membebaskan orang lain. Lihatlah kedua anak itu, sejak lahir pinggul mereka saling menyatu

 Satu tahun kemudian kita melakukan pembedahan untuk mereka. Keesokan harinya adalah ulang tahun mereka. Hadiah ulang tahun terindah yang kita berikan kepada mereka adalah memisahkan tubuh mereka. sehingga mereka dapat bergerak bebas. Akhirnya, kedua anak itu dapat mengejar masa depan masing-masing

 Mereka bisa memakai pakaian kesukaan sendiri, makan makanan yang mereka inginkan, menapaki jalan yang mereka sukai, dan mengejar impian sesuai pilihan sendiri. Bayangkan, bukankah mereka telah terbebas? Inilah hadiah ulang tahun pertama yang terbaik untuk mereka. Semua ini berkat kerja sama tim medis, sehingga sepasang kakak beradik ini memperoleh kehidupan yang bebas. Karena itu, para dokter sangat berbahagia. Mereka tidak berkata, “Kalian dapat bergerak bebas berkat jasa kami.” Mereka berbahagia dan bersyukur bahwa sepasang kakak beradik ini memberi mereka kesempatan menguji keahlian

 Karena itu, saya selalu berterima kasih kepada para dokter. Melihat kemampuan mereka membedah tanpa mengakibatkan pendarahan, saya sungguh bersyukur. Mereka selalu berkata, “Tidak.” “Master, kami yang harus berterima kasih kepada mereka.” “Jika bukan karena mereka, kami juga tidak tahu bahwa kami mampu melakukan operasi ini

” Selain bersumbangsih tanpa pamrih, mereka juga menyatakan terima kasih. Coba bayangkan, bukankah ini adalah sikap Bodhisattva? Mereka mampu membebaskan orang lain dan bersumbangsih dengan penuh cinta kasih. Mereka tidak mengingat jasa dalam hati, tidak menyombongkan diri, dan bersumbangsih dengan penuh sukacita. Lihat, dengan adanya sukacita, tiada kebencian. Jika setelah melakukan mereka berkata, “Saya mampu melakukannya, lihatlah, saya melakukan begitu banyak,” maka mungkin mereka akan selalu diliputi kesombongan. Inilah yang disebut lupa daratan.  Mungkin orang lain punya pemikiran seperti itu, tetapi dokter kita tidak demikian. Hal ini sungguh luar biasa

 Jika kita membandingkan kebencian dan sukacita, orang yang memiliki kebencian tidak bisa melihat orang lain sukses dan memiliki berkah. Mereka tak bisa menerima saat melihat kondisi orang lain sangat baik, tak bisa terima saat orang lain sukses. Saat orang lain mencapai harapan dan mendapatkan sesuatu yang baik, dia tidak bisa menerimanya dan menjadi marah. Ada pula orang yang sangat berlapang dada. Mereka bersumbangsih tanpa pamrih sekaligus bersyukur. Inilah Bodhisattva

 Inilah hati Buddha yang tidak tega melihat penderitaan semua makhluk. Mereka bersumbangsih dengan sukarela dan sukacita. Jika dapat melakukan ini, kita tidak akan terbelenggu oleh kebencian. Saudara sekalian, janganlah kita tertidur lagi

 Saat suara guntur sudah menggelegar, kita harus menggenggam setiap waktu untuk menjalankan kewajiban dan tanggung jawab kita. Janganlah kita menunda-nunda karena kehidupan ini tidaklah kekal. Jadi, semua harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888