Sanubari Teduh – 109 – Empat Ikatan – Bagian 4
Saudara se-Dharma sekalian, hari yang tenang selalu mendatangkan rasa bahagia bagi semua orang. Ketenteraman merupakan berkah. Agar dapat hidup tenteram, kita harus mengendalikan pikiran kita. Jika pikiran tidak stabil, hati kita akan sama seperti badai. hati kita akan sama seperti badai. Setiap saat hati kita akan penuh kerisauan. Setiap saat hati kita akan penuh kerisauan
Gejolak batin seperti ini timbul akibat noda dan kegelapan batin. timbul akibat noda dan kegelapan batin. Pikiran kita selalu risau karena ketamakan dalam diri. Ketamakan di dunia tiada batasnya. Kerisauan muncul saat keinginan tak tercapai, sedangkan keinginan yang tercapai masih akan membuat kita tersesat. Ada pula kebencian. Kita akan marah saat keinginan tak tercapai. Bagi orang yang mudah emosi, jika berhadapan dengan orang dan masalah yang tidak sesuai dengan keinginan, dia tetap akan merasa risau. Kerisauan ini timbul akibat kebencian
Kebencian dan sifat mudah marah ini Kebencian dan sifat mudah marah ini juga dapat membelenggu kita. Mengenai kemarahan, kalian juga tahu bahwa ada ungkapan yang berbunyi, “Terbakar oleh api kemarahan.” Marah bagaikan kegilaan. Ketika sedang marah, Ketika sedang marah, kita tidak peduli dengan siapa pun
Kita tidak bisa membedakan siapa yang ada di depan kita karena sedang marah. Setelah masalahnya berlalu, kita baru menyadari kesalahan dan berpikir mengapa tabiat kita begitu buruk. Setelah tahu diri ini bersalah, hati kita masih tetap terbelenggu. Saat bertemu dengan orang lain, kita akan merasa malu. Orang yang lebih berani akan berkata, “Maaf, saya marah hingga kehilangan kendali.” Orang yang lebih berani akan mengakui kesalahannya, sedangkan orang yang tidak berani, batinnya akan terbelenggu oleh rasa malu. batinnya akan terbelenggu oleh rasa malu. Bagi orang yang diliputi kebodohan, meski telah marah, mereka tetap merasa paling benar. Mereka terus menyimpannya di dalam hati dan selalu merasa orang lainlah yang bersalah. Dia berpikir, “Orang itu membuat saya marah, jadi dia yang salah, bukan saya.” Noda batin seperti ini akan terus membelenggu hati kita. Penderitaan ini sungguh tak terkira. Selain itu, mengenai pelatihan diri, sejak zaman Buddha, sejak zaman Buddha, di India terdapat berbagai keyakinan agama yang juga melakukan pelatihan diri. Sangha yang dipimpin oleh Buddha juga demikian
Akan tetapi, dalam melatih diri, mereka memiliki cara praktik, peraturan, dan sila masing-masing. peraturan, dan sila masing-masing. Saat itu terdapat banyak aliran spiritual. Aliran Brahmanisme saja sangat banyak. Setiap orang berlatih dengan cara yang berbeda. Ada yang berlatih dengan mengandalkan api, air, jenis makanan tertentu, dll. air, jenis makanan tertentu, dll
Beraneka ragam cara yang aneh dan unik pun ada. Tentu saja, dalam komunitas Sangha juga terdapat peraturan sila, namun karena kemampuan setiap makhluk berbeda, maka Buddha membimbing mereka berdasarkan kemampuan masing-masing. Akan tetapi, orang yang penuh kemelekatan akan beranggapan bahwa hanya ajaran Buddha versi merekalah yang benar. Kelompok lainnya juga beranggapan metode ajaran Buddha versi merekalah yang benar. Mereka tidak tahu bahwa karena terdapat banyak orang yang memiliki noda batin dan kemampuan yang berbeda-beda, maka Buddha menerapkan berbagai metode. Dalam Sutra Bunga Teratai, kita melihat Buddha berkata bahwa selama 42 tahun pertama, Beliau hanya mengajar dengan metode terampil
Hingga pembabaran Sutra Bunga Teratai, Beliau baru meninggalkan metode terampil. Dari sana kita dapat mengetahui bahwa Buddha memiliki welas asih dan berharap semua makhluk memperoleh manfaat dari Dharma untuk mengubah kebiasaan buruk mereka. Buddha menggunakan cara yang berbeda-beda sesuai penyakit batin masing-masing makhluk.
Akan tetapi, manusia diliputi kebodohan. Begitu menerapkan suatu metode, mereka langsung melekat. Karena itu, ada yang disebut Ikatan Sila. Apakah cara kita sudah benar? Kita selalu merasa diri kita benar
Contohnya, Empat Dhyana dan Empat Kekosongan, itu semua sesungguhnya bukan Nirvana, namun orang melekat pada kondisi meditatif tersebut. Mereka menganggap bahwa mencapai Dhyana ke-4 berarti telah mencapai buah akhir atau Nirvana. Sebenarnya, mereka belum mencapainya. Karena itu, disebut keliru dalam melihat benih sebab dan Nirvana. Mereka mengira inilah pencapaian akhir. Ini tidaklah benar
Mereka mengira yang bukan sebab sebagai sebab dan yang bukan buah sebagai buah. Mereka melatih diri sendiri, kemudian menyimpulkan sendiri bahwa itulah pencapaian akhir, padahal mereka belum mencapainya. Kapan baru disebut mencapai pencapaian tertinggi? Saat mencapai kebuddhaan. Lihatlah pencapaian Buddha, Beliau selamanya akan tinggal di Dunia Saha dan terus kembali demi semua makhluk, karena tidak tega melihat mereka menderita. karena tidak tega melihat mereka menderita. Akan tetapi, hakikat kebuddhaan-Nya yang murni tidak akan pernah lenyap. Semua Buddha memiliki cinta kasih yang sama terhadap semua makhluk di dunia. Dalam Sutra Bunga Teratai dikatakan bahwa Tiga Alam bagaikan rumah yang sedang terbakar
Setiap Buddha bagaikan ayah dari Tiga Alam. Tiga Alam ini bagaikan rumah-Nya yang terbakar. Semua makhluk di Tiga Alam ini bagai anak-anak-Nya. Maka, saat melihat rumah yang terbakar ini, Beliau menggunakan berbagai metode terampil agar anak-Nya dapat keluar dari rumah tersebut. Intinya, tingkat pencapaian tertinggi sesungguhnya adalah tingkat kebuddhaan. Akan tetapi, makhluk awam memahami hukum sebab akibat secara keliru memahami hukum sebab akibat secara keliru sehingga menjadi sangat menderita. Contohnya, kudeta militer yang terjadi di Liberia akibat banyak tentara yang tidak puas dengan pemerintahan yang dijalankan presiden. Sesungguhnya, Liberia merupakan negara yang sangat tertinggal
Kita juga pernah memberi bantuan kepada mereka. Kondisi kehidupan mereka sangat minim, rakyatnya hidup kekurangan. Sebenarnya, negara ini sangat kaya akan sumber daya alam. Konflik timbul mungkin karena pemerintahannya tidak berjalan dengan baik, atau pengaruh peradabannya yang tidak maju, atau pengaruh peradabannya yang tidak maju, dan kebutuhan materi yang tidak tercukupi. Sesungguhnya, negeri itu kaya akan sumber daya alam. Kita telah berkunjung ke sana dan merasa betapa semua ini amat disayangkan. Jika pemerintah di sana dapat mendidik rakyat dan meningkatkan motivasi kerja, maka rakyat dapat memperoleh pengetahuan tentang sumber daya alam sehingga mampu memanfaatkannya. Dengan demikian, rakyat di sana tidak akan hidup kekurangan
Mungkin para tentara menginginkan perubahan, maka mereka melakukan pemberontakan. maka mereka melakukan pemberontakan. Tim bantuan internasional dan organisasi kemanusiaan mengetahui bahwa di negara tersebut sedang terjadi kudeta militer yang melumpuhkan semua aktivitas kehidupan. Para pekerja dan pengusaha tidak dapat menjalankan aktivitas mereka. Semua aktivitas di negara itu lumpuh total, sehingga banyak orang menderita kelaparan. Karena itu, tidak ada organisasi kemanusiaan yang berani masuk ke negara tersebut. Kita ingat pada saat itu kita juga pernah mempertimbangkan kasus ini dan memutuskan bahwa belum saatnya untuk masuk ke negara ini. Kita juga merasa daerah ini begitu berbahaya sehingga belum saatnya ke sana
Demikian juga, organisasi kemanusiaan dari berbagai negara belum ada yang berani masuk ke sana. Akibat kondisi ini, ribuan massa tidak kuat menahan lapar ribuan massa tidak kuat menahan lapar sehingga membuat kerusuhan dan menuju ke Ibu Kota Monrovia untuk merampok gudang-gudang. Situasinya sangat kacau.
Polisi pun tak sanggup mencegah kerusuhan itu. Akhirnya, pemberontak bergerak untuk menekan kerusuhan yang dilakukan massa yang kelaparan. Setelah menghentikan aksi penjarahan yang sangat kacau ini, pemberontak juga menyadari bahwa jika hal ini terus berkelanjutan, rakyat yang kelaparan pasti akan resah, termasuk para pemberontak sendiri yang juga punya keluarga. Kehidupan mereka sendiri juga tidak dapat terus seperti itu
Entah siapa yang mampu tampil sebagai pemimpin negara. Belum ada yang tahu. Bantuan dari luar juga belum bisa masuk. Jika kondisi itu terus berlanjut, negara itu akan hancur. Rakyat akan mati secara mengenaskan. Karena itu, pemberontak berkenan untuk meninggalkan daerah konflik. Mereka menarik pasukannya dan berharap organisasi kemanusiaan dan berharap organisasi kemanusiaan dapat segera masuk ke Liberia untuk memberikan bantuan
Intinya, demikianlah kehidupan ini. Bagaimana pemerintahan harus berjalan agar rakyat dapat hidup aman dan sentosa? Dengan memanfaatkan sumber daya alam. Semua orang harus berusaha. Jika penguasa dapat memimpin rakyatnya dengan cinta kasih dan kebijaksanaan, negara ini tidak akan menjadi miskin negara ini tidak akan menjadi miskin karena ia kaya akan sumber daya alam. Rakyat hanya butuh penguasa yang baik hati untuk menjaga, mengasihi, dan mendidik mereka dengan bijaksana. Mereka kurang pendidikan dan bimbingan kasih sayang, maka terjerumus ke dalam kemiskinan. Kemudian, akibat dari kemiskinan ini, timbullah kekacauan. Jika pemberontak dapat berunding secara baik-baik dengan pemerintah, maka negara ini akan menjadi aman dan damai
Sebaliknya, mereka malah menggunakan kekuatan senjata untuk menekan sang presiden agar turun dari jabatannya. Akan tetapi, juga tidak ditemukan calon pengganti yang lebih baik, maka situasi menjadi kacau. Bukankah ini serupa dengan Ikatan Sila? Pada dasarnya mereka juga berharap negara ini semakin maju, tetapi karena sejak awal tidak berusaha menanam benih baik dengan sungguh hati, malah menangani kekerasan dengan represif, maka dengan demikian, bagaimana bisa mendapatkan hasil yang baik? Mereka mengira dengan mengganti presiden, semua kondisi akan berubah. Akhirnya mereka salah. Ini juga disebut keliru memahami sebab akibat. Yang bukan sebab dianggap sebagai sebab, yang bukan akibat dianggap sebagai akibat. Ini juga salah
Singkatnya, sebagai masyarakat awam, kita harus menaati peraturan dengan baik. kita hanya perlu menaati peraturan dengan baik. Jangan mengacaukan pikiran dan perilaku kita. Buddha selalu mengajari kita untuk Buddha selalu mengajari kita untuk melakukan segala kebajikan dan menghindari segala kejahatan. Jika setiap orang dapat menunaikan kewajiban, melakukan kebajikan, menghindari kejahatan, serta mengendalikan diri, maka inilah yang disebut umat Buddha. ======== Jangan melekat bahwa metode kita yang benar, sedangkan metode pelatihan orang lain salah, jangan merasa pencapaian kitalah yang tertinggi
Jangan. Kita harus berlatih sesuai ajaran. Selain Ikatan Sila, masih ada Ikatan Pandangan. Hati kita selalu melihat ke sisi luar Pikiran kita selalu melihat ke luar dan tidak pernah bercermin ke dalam diri. Kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, padahal kita selalu membuat rencana-rencana dan terkadang kita menjadi sangat bingung. Kebingungan ini sungguh merisaukan hati. Ini juga merupakan suatu belenggu
Ingatkah sebelumnya kita pernah membicarakan tentang Kemelekatan Pandangan? Ketika melihat sesuatu, kita jarang memikirkan dan merenungkannya dengan tenang dan hening. Kita sering disesatkan oleh kondisi luar. Kita sering disesatkan oleh kondisi luar. Intinya, kita seharusnya berusaha mengendalikan pikiran kita dengan baik. Kadang, orang lain jauh lebih baik dari kita, namun kita menganggap bahwa kita tidak berbeda jauh dengannya
Mengenai apakah benar-benar kita mampu atau tidak, kita tidak pernah berintrospeksi diri. Kita hanya mengandalkan pemikiran sendiri dan berpikir terlalu banyak. Dalam kitab suci, juga terdapat sebuah Koan Zen yang menceritakan tentang seorang suami yang sangat puas terhadap penampilan istrinya yang sangat cantik dan berbudaya. Akan tetapi, setelah diteliti, dia merasa istrinya punya satu kekurangan, yaitu bentuk hidunnya yang kurang menarik. Saat melihat wanita lain memiliki hidung yang lebih indah, dia lalu berpikir, “Istri saya hanya hidungnya saja yang kurang menarik, sedangkan hidung wanita lain lebih indah.” “Jika hidung wanita lain dipasangkan pada istri saya, tentu saya akan sangat puas
” Jadi, dia pun sungguh-sungguh memotong hidung wanita lain. Setelah pulang ke rumah,
dia memanggil istrinya. Istrinya pun bertanya-tanya ada apa. Saat sang istri keluar, ternyata sang suami mengambil pisau dan langsung memotong hidungnya, kemudian dipasangkan hidung wanita lain. Alhasil, istrinya menjerit kesakitan. Akan tetapi, kondisi saat itu berbeda dengan zaman sekarang. Pada masa kini, hidung yang sudah terluka jika segera dibawa ke rumah sakit dapat ditangani dengan bedah plastik dan dapat sembuh kembali. Akan tetapi, pada saat itu, hidung yang sudah dipotong tak akan bisa kembali seperti semula. Memasang hidung orang lain pada wajah istri sendiri, apakah akan terlihat cantik? Kealamian adalah yang tercantik, tetapi begitulah, orang suka bermimpi kosong
Ini tidak benar. Orang masa kini juga ada yang demikian, melihat orang lain melatih diri dengan baik, dipuji banyak orang, dihormati setiap orang, kita merasa tak jauh berbeda dengannya. Kita merasa jika dia bisa dihormati seperti itu, berarti kita seharusnya juga demikian. Kita terus memuji diri sendiri bahwa kita bisa melakukan ini dan itu, bagaikan menempelkan emas di muka sendiri. Apakah ini disebut memiliki kualitas moral? Jika memiliki kualitas moral, perilaku kita baru akan dihormati orang. Jika kekurangan kualitas moral, kita tak akan dapat menunjukkan perilaku yang wajar. Memaksakan diri agar dihormati seperti ini adalah hal yang tidak mungkin
Jadi, Kemelekatan Pandangan adalah saat melihat keadaan orang lain yang baik, kita juga ingin lebih baik dari mereka. Saat melihat kondisi luar yang baik, kita juga ingin memiliki kondisi yang sama. Bagaimana mungkin jika kita tidak melewati pembelajaran dalam waktu lama, melewati pembelajaran dalam waktu lama, memegang teguh ajaran, dan melaksanakan ajaran? Semua ini adalah proses dari pelatihan diri. Jika orang tidak menerima ajaran, bagaimana dia bisa memegangnya dengan teguh? Jika tidak memegangnya dan tidak melatihnya di dalam batin, bagaimana kita bisa mempraktikkannya ke luar? Karena itu, saya sering membahas mengenai jasa kebajikan (gong de). “Gong” adalah kerendahan hati dalam diri. “De” adalah sikap hormat dan mengalah ke luar. Jika kita tidak berusaha melenyapkan noda dan kegelapan batin melenyapkan noda dan kegelapan batin dengan sebaik-baiknya, maka setiap hari batin kita akan dipengaruhi kondisi luar
Kondisi apa pun yang kita temui akan terus membuat batin kita bergejolak. Kita tidak akan hidup rukun dengan sesama. Jika pembinaan ke dalam diri tidak dilakukan, maka perilaku kita di luar tidak akan membuat orang menaruh hormat. Jika begitu, tidaklah mungkin kita menyamai orang lain. Kita masih sangat jauh dari tingkat kebuddhaan. Jadi, kita belum mencapai pencapaian akhir. Sekarang kita masih merupakan makhluk awam, bahkan masih sangat jauh dari pencapaian Bodhisattva tingkat pertama
Kita hanya baru bertekad. Karena itu, kita semua harus bersikap rendah hati dan mawas diri. Saya sering berkata bahwa kita harus mawas diri dan rendah hati. Janganlah tamak terhadap kondisi luar, begitu juga jangan ada kebencian. Jika memiliki ketamakan dan kebencian, kita akan terbelenggu oleh semua itu. Jika kita selalu menganggap diri kita telah menjalankan sila dengan baik, kita juga akan terbelenggu olehnya. Kita menganggap hanya praktik kita yang benar. Akibatnya, kita pun terbelenggu dan selalu membanding-bandingkan atau merasa telah setara dengan orang lain
Sikap sombong ini tidaklah benar. Jadi, yang terpenting bagi praktisi Buddhis adalah mawas diri dan rendah hati agar tidak terbelenggu oleh noda batin. Saudara sekalian, baik perumah tangga maupun kaum monastik sama-sama dapat melatih kerendahan hati di dalam diri. Inilah yang disebut melatih “gong”. Inilah yang disebut melatih “gong”
Jadi, “gong” adalah kerendahan hati di dalam diri. Setelah berlatih ke dalam batin, maka yang terwujud ke luar dalam perilaku kita saat menghadapi orang dan masalah disebut “de”. Saya sering berkata bahwa jika hubungan antarsesama dan segala hal harmonis, berarti hidup kita selaras dengan kebenaran. Jika antarsesama tidak harmonis, bagaimana kita dapat melakukan segala sesuatu dengan sempurna? Jika kedua hal ini tidak sempurna, maka kebenaran bukanlah kebenaran. Jadi, kita harus senantiasa bersungguh-sungguh.