Sanubari Teduh – 139 – Enam Praktek 10 Keyakinan Bagian 4
Saudara se-Dharma sekalian, keheningan membuat batin kita lebih terbuka. Saat saya belum mulai berbicara, apakah kita mendengar suara? Seharusnya ada. Di luar ada suara kicauan burung. Mereka seakan sedang bercakap-cakap, penuh keharmonisan, sangat damai. Meski masih mendengar suara, tetapi tidak ada suara gaduh
Jadi, dalam kondisi hening ini, saat batin kita tenang, bagaimana pun kondisi di luar, kita tetap akan tenang. Entah bagaimana perasaan kalian. Saya merasa bahwa meski ada kicauan burung dan derik serangga, suasana tetap hening. Kita harus selalu menjaga kondisi batin kita agar senantiasa berada dalam keheningan. Kita sudah membahas sebagian dari enam praktik, yakni tentang sepuluh keyakinan. Selama pembahasan ini, dari sepuluh aspek ini, kita telah membahas kebijaksanaan dan keteguhan pikiran
Kini kita akan membahas ketidakmunduran. Jika kita dapat mulai memiliki keyakinan yang berkesinambungan dalam pikiran, lalu tekun dan bersemangat melatih diri, kita tentu tidak akan mundur. Berikutnya adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini harus teguh. Jadi, dibutuhkan juga keteguhan atau konsentrasi pikiran. Jika berkonsentrasi, pikiran kita akan cemerlang, dan kita tidak akan mundur. Jadi, yang akan kita bahas lebih jauh hari ini adalah ketidakmunduran
Jika kita memiliki hati yang pantang mundur, senantiasa teguh, dan selalu bersemangat, maka kondisi apa pun yang muncul, kita tetap tak akan terpengaruh. Berikutnya adalah usaha melindungi Dharma. Kita harus senantiasa menjaga pikiran kita. Pikiran ini jangan sampai terpengaruh oleh hal-hal negatif di luar yang menggoyahkan keteguhan kita. Kita harus pantang mundur. Kita harus memiliki keteguhan pikiran. Dengan demikian, kita akan dapat sampai kepada yang kedelapan, yakni dedikasi atau pelimpahan jasa. Kita sering mendengar orang berkata, “Setelah melafalkan nama Buddha, sudahkah kamu melakukan pelimpahan jasa?” Ada orang bertanya, “Saya lupa, lalu harus bagaimana?” Apa yang dimaksud pelimpahan jasa? Pelimpahan jasa atau dedikasi yang sesungguhnya adalah menjaga kesadaran murni kita. Kita harus selalu memiliki kesadaran yang cemerlang
Kita tahu bahwa setiap orang pada hakikatnya memiliki kebijaksanaan yang cemerlang. Dengan adanya kebijaksanaan yang cemerlang, kita bisa melihat segala kondisi dengan jelas dan dapat senantiasa memilahnya. Baik orang, hal, materi, maupun kondisi, kita dapat memahami semuanya dengan jelas tanpa ragu sedikit pun. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. setelah menghadapi berbagai kondisi luar, saat kembali melihat ke dalam batin, batin kita tetap murni dan cemerlang. Jadi, dedikasi atau pelimpahan jasa berarti menghadapi segala sesuatu di luar dengan hati yang murni sehingga bebas dari kesalahan. Kemurnian ini akan terpantul kembali
Segala yang kita lakukan di luar selalu kita sadari dengan baik, bagaikan pantulan bayangan pada cermin. Cermin ini merefleksikan semua kondisi di luar, tetapi bayangan dari kondisi luar ini juga terefleksi pada cermin itu sendiri. Inilah yang disebut pantulan. Pantulan kondisi luar dapat ditangkap cermin ini. Inilah cermin kebijaksanaan dalam batin kita, cermin kebijaksanaan sempurna. Apakah kalian mengerti? Batin kita bagaikan sebuah cermin. Segala objek di luar dapat dengan jelas dipantulkan ke dalam cermin
Jadi, kita harus senantiasa menjaga kesadaran. Dengan menjaga kemurnian kesadaran ini, kita akan memiliki kekuatan luar biasa. Kekuatan ini luar biasa bagai cermin. Bukankah demikian? Saya sering berpikir begitu. Cermin ini selalu merefleksikan kondisi luar. Setelah kondisi itu berlalu, cermin ini tetap seperti sediakala, tidak terpengaruh sama sekali. Ini sungguh luar biasa
Baik gunung, sungai, maupun tanah, baik permata dan benda-benda berharga maupun benda-benda yang kotor, setelah berlalu, sedikit pun tak dapat memengaruhi cermin ini, juga tak dapat mengotorinya. Jika batin setiap orang dari kita dapat seperti cermin ini, maka alangkah baiknya. Jadi, semua fungsi keluar ini sedikit pun tidak berpengaruh terhadap hati Buddha yang kita miliki ini, bagaikan cahaya yang memantul pada cermin. Cermin batin kita ini tetap jernih tanpa noda, tetap menyatu dengan hakikat kebuddhaan. Bagaimana pun peliknya masalah yang kita hadapi, pikiran kita tak akan tergoyahkan. Pikiran kita senantiasa penuh dengan kebijaksanaan murni Buddha
Inilah pantulan atau limpahan cahaya Buddha. Inilah yang disebut pelimpahan jasa. Segala sesuatu yang kita temui di luar tidak merintangi batin kita. Demikianlah pantulan atau limpahan cahaya Buddha dalam batin kita. Inilah pelimpahan jasa atau dedikasi. Jika kita memiliki kebijaksanaan yang sama dengan Buddha, yakni kebijaksanaan yang tidak membedakan, namun mampu memilah, maka apa pun kondisi luar yang kita hadapi, batin kita sedikit pun tidak akan terpengaruh. Inilah kebijaksanaan Buddha. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati
Berhubung tengah melatih diri, jika kita tidak bersungguh hati, maka dalam menghadapi masalah sehari-hari, bukankah pikiran kita akan mudah terpengaruh oleh kondisi luar? Saat kondisi tersebut berlalu, pikiran kita masih terbelenggu olehnya. Benar? Jika kita masih terpaku pada masalah itu, berarti kita tidak memiliki limpahan cahaya Buddha. Jadi, meski banyak hal yang harus kita kerjakan, setelah semua itu selesai, kita harus bagaikan orang berjalan. Saat kaki depan menapak, kaki belakang harus melangkah. Prinsipnya sangat sederhana. Janganlah kita terus ingin menempel pada tanah. Demikian pula batin kita. Saat suatu kondisi yang kita hadapi berlalu, maka kondisi itu jangan sampai terus mencemari batin kita. Dengan begitu, secara alami cahaya Buddha akan memancar
Inilah pelimpahan jasa. Pikiran kita harus mengarah pada Buddha dan senantiasa terkendali. Buddha di dalam kitab Jataka sering dikisahkan memberi banyak pelajaran bagi banyak makhluk. Kita juga pernah mendengar sebuah kisah yang menceritakan bahwa pada suatu kehidupan lampau-Nya, Buddha adalah seorang raja. Raja ini murah hati dan penuh cinta kasih. Terhadap rakyatnya, beliau sangat adil. Beliau sering pergi keluar istana
Setiap kali keluar, beliau selalu membawa kereta yang berisi banyak harta dan makanan. Di mana pun, keluarga mana pun, dan siapa pun, asalkan ada yang kekurangan atau sakit— kekurangan pakaian, makanan, atau obat— beliau segera memberikan bantuan. Saat melihat penderitaan orang lain, beliau selalu membangkitkan tekad untuk memberi manfaat bagi mereka. Tekadnya yang mulia dan kemurahan hatinya membuat sang raja sangat dihormati rakyat seluruh negeri. Jadi, segala hal di negeri tersebut tiada yang membuat sang raja risau. Beliau melihat rakyatnya sungguh berakhlak baik. Rakyat pun memandang sang raja bagaikan orang tua sendiri
Kerajaan itu bagaikan keluarga besar. Mereka hidup rukun dan harmonis. Saat seorang dewa melihat negeri, rakyat, dan masyarakat itu sangat rukun dan sangat menghormati raja mereka, timbullah rasa takut dalam hatinya. Dia pun menjelma menjadi manusia dan berkata kepada sang raja, “Yang Mulia, cinta kasihmu sangat langka.” “Engkau begitu dihormati rakyat.” “Akan tetapi, engkau berbuat seperti ini, akan mendatangkan kerugian bagi diri sendiri.” Raja bertanya, “Kerugian apa?” Sang dewa menjawab, “Semua makhluk mewarisi karma masing-masing
” “Mereka ada berbuat baik dan buruk.” “Mereka yang harus menderita, jika tidak menderita karena engkau tolong, berarti tidak menerima buah karma, maka engkaulah yang harus menanggung buah karma itu.” Raja bertanya, “Jika aku menanggung buah karma mereka, kelak apa yang akan terjadi padaku?” Sang dewa menjawab, “Kau akan jatuh ke neraka.” Raja menjawab, “Benarkah begitu?” “Jika engkau tidak percaya, tanya saja dia,” jawab sang dewa. “Bertanyalah padanya, sebab dia memahami perihal surga dan neraka.” sebab dia memahami perilah surga dan neraka.” “Yang Mulia boleh bertanya padanya.” Orang di samping sang dewa terlihat memiliki kualitas batin yang tinggi
Dia menajwab, “Benar sekali, orang yang berbuat baik kelak akan jatuh ke neraka dan mengalami berbagai siksaan.” Saat ditanya mengapa, dia mengutarakan alasan yang sama, yakni karena menghalangi orang menerima buah atas perbuatan buruknya. “Dia miskin akibat karma buruknya, tetapi engkau membantunya sehingga dia tidak lagi menderita, Raja berpikir, “Oh, karena harus menanggungnya, maka kelak aku harus jatuh ke neraka.” “Lalu bagaimana orang yang aku bantu?” “Mereka akan lahir di surga,” jawab sang dewa. Mendengarnya, sang raja tersenyum dan berkata kepada dua orang dewa tadi, “Jika begitu, aku rela.” “Tujuanku, harapanku tiada yang lain, hanya ingin semua orang yang menderita dapat tertolong.” “Inilah harapanku
” “Jika dapat mewujudkan harapan ini, aku rela menerima kesulitan apa pun.” Setelah mendengarnya, sang dewa bertanya dengan penuh hormat, “Mengapa engkau memiliki harapan seperti itu?” Raja menjawab, “Keinginanku tiada yang lain, hanya berharap dapat seperti Buddha, Seorang Yang Maha Sadar.” “Sejak dahulu, para Buddha terus datang ke dunia untuk menyelamatkan semua makhluk.” “Aku berharap dapat mengikuti jejak langkah para Buddha, melatih diri dengan tekun dan sepenuh hati.” “Aku tidak memiliki harapan lain.” Setelah mendengarnya, sang dewa menunjukkan wujud aslinya dan berkata, “Aku sungguh menyesal telah menilaimu dengan pemikiran awam.” “Aku mengira kau menciptakan banyak berkah agar dapat lahir di surga dan merebut posisiku.” “Karena itu, aku menjelma menjadi manusia biasa untuk menggoyahkan pikiranmu
” “Tak disangka, pikiranmu telah melampaui tataran awam dan telah mengatasi nafsu keinginan awam.” “Pikiranmu tak bernoda.” “Ternyata, engkau memiliki batin yang suci.” “Meski berada di tengah hal-hal duniawi, tetapi batinmu tetap tak terpengaruh.” “Aku sungguh merasa malu.” Sang dewa berlutut dan menyatakan penyesalan, lalu menghilang. Demikianlah, dalam kehidupan lampau-Nya, Buddha juga pernah melewati perjalanan panjang dengan tekad yang tak mendua
Beliau hanya berfokus pada kebuddhaan yang ingin dicapai-Nya. Segala hal yang terjadi di sekitar-Nya sedikit pun tak mencemari batin-Nya. Inilah semangat, inilah kebijaksanaan, inilah keteguhan pikiran, inilah pelimpahan jasa yang sesungguhnya. Limpahan cahaya Buddha ini selamanya senantiasa bersinar. Kebijaksanaan dalam batin ini begitu cemerlang, tidak tercemar oleh kondisi duniawi. Inilah yang disebut mengarah dan berdiam pada kebuddhaan. Pikiran kita sepenuhnya mengarah pada kebuddhaan dan berdiam pada hati Buddha
Inilah dedikasi atau pelimpahan jasa. Biasanya, kita sering mendengar orang berkata, “Sudahkah melakukan pelimpahan jasa setelah melafalkan nama Buddha?” Sesungguhnya, perlu pelimpahan jasa apa lagi? Kita sudah senantiasa melimpahkan jasa. Hakikat hati kita selamanya sama dengan Buddha. Jika dapat selalu mempertahankan kondisi ini, maka apa lagi yang perlu dilimpahkan? Jika ingin melakukan pelimpahan, maka seharusnya semua dilimpahkan kembali pada batin Buddha. Kesembilan adalah sila. Mengenai sila, ia mutlak diperlukan dalam pelatihan diri. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, sila adalah sistem pedoman bagi kita. Tanpa adanya pedoman ini, kita akan mudah keluar jalur. Jika kita ingin tetap berdiam dalam cahaya kebijaksanaan Buddha dan kondisi batin Buddha, kita tentu harus menjaga sila, karena dengan adanya sila, barulah cahaya batin kita ini dapat memancar secara berkesinambungan dan memantul kembali ke dalam batin kita
“Cahaya batin memancar, berdiam dalam keadaan tanpa kondisi.” Keadaan tanpa kondisi adalah kebuddhaan, artinya keadaan tanpa noda. Jika dapat senantiasa berada dalam keadaan itu, maka cahaya batin kita ini tak akan pudar. Yang terpenting, kita harus menjaga pikiran kita. Jika sila tidak dijaga dengan baik, maka juga sangat berbahaya. Ada sebuah kisah lain. Saat Buddha masih tinggal di dunia, ketika Beliau berdiam di Sravasti, para anggota Sangha ingin pergi mengumpulkan dana makanan
Salah satunya adalah seorang bhiksu muda. Saat pergi mengumpulkan dana makanan, dia bertemu seorang gadis yang cantik. Gadis muda yang cantik ini mengambil dan mengisi mangkuk sang bhiksu, lalu mempersembahkannya dengan kedua tangan. Bhiksu ini melihat gadis itu sungguh cantik. Setelah menerima mangkuknya kembali, dia mulai terus memikirkan rupa gadis itu. Gadis itu terus membayangi pikirannya. Saat akan mulai makan, sang bhiksu tidak berselera. Yang ada dalam pikirannya hanyalah rupa sang gadis yang cantik
Dia terus memikirkannya. Baik saat berjalan, berdiri, duduk, maupun berbaring, bayang-bayang sang gadis tak hilang dari pikirannya. Dia sangat menderita. Dia menyesal telah menjadi bhiksu, menyesal bahwa dia sudah tidak bisa mendapatkan gadis itu. DIa hanya termenung sepanjang hari. Dia tidak mengumpulkan makanan di siang hari, dan tidak bisa tidur pada malam hari. Saat bermeditasi di siang hari, pikirannya penuh dengan bayang-bayang sang gadis— senyumnya, gerak-geriknya, dll. Sang bhiksu akhirnya jatuh sakit. Bhiksu lain pun bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu?” “Beberapa hari ini kau tidak keluar mengumpulkan makanan, juga terlihat sangat gelisah.” “Kini kau terbaring lemah di sini, ada apa sebenarnya?” Dia pun menceritakan isi hatinya
“Dalam pikiranku, bayangan gadis itu terus muncul.” “Apa yang harus kulakukan?” Bhiksu lain ini segera melapor pada Buddha. Buddha pun datang menjenguknya dan bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?” Sang bhiksu kembali bercerita. Buddha lalu berkata, “Apa susahnya?” “Bukankah kau menginginkan gadis itu?” “Itu tidak sulit, mari, bangun, rapikan penampilanmu.” “Aku akan mendampingimu menemui keluarganya.” “Ayo, cepat.” Saat mendengarnya, tenaga sang bhiksu seakan langsung pulih
Dia segera bersiap-siap. Buddha pun mendampinginya. Beberapa bhiksu lain juga ikut memapahnya. Mereka pergi ke rumah keluarga gadis itu. Sebelum tiba di sana, sudah tercium bau busuk. Apa yang terjadi? Setelah mereka bertanya, diketahui bahwa gadis itu tiga hari sebelumnya tanpa sebab yang jelas tiba-tiba meninggal dunia. Orang tuanya merasa tidak rela, tidak rela untuk memakamkannya. Karena itu, jenazahnya dibiarkan membengkak dan membusuk
Buddha lalu berkata, “Coba lihat, tubuh begitu tidak bersih.” “Bukankah kau mau melihatnya, mendekatlah ke sana.” Wajah gadis itu sudah membengkak, cairan kotor keluar dari tubuhnya. Kulitnya mulai mengelupas dan aroma tidak sedap mulai tercium. Akhirnya, dengan rasa malu sang bhiksu mengikuti Buddha kembali ke vihara. Sekembalinya Buddha ke vihara, semua bhiksu duduk berkumpul. Buddha kemudian berkata, “Amatilah bahwa tubuh ini tidak bersih, tubuh setiap orang penuh dengan kotoran
” “Bagian tubuh manakah yang bersih?” Dalam melatih diri, jika pikiran kita lengah sedikit, maka setiap wujud yang kita lihat akan kita anggap bersih. Sesungguhnya, tubuh setiap orang tidaklah bersih. Begitu pikiran Anda lengah sedikit saja, Anda akan menganggap segala hal adalah bersih dan terbuai olehnya. Jadi, Buddha berkata, Jika dalam batin kita timbul pikiran, “Cantik sekali, saya suka,” maka muncullah kemelekatan. Kita mendambakan hal itu. Sesungguhnya, jika kemelekatan ini bertambah, maka keinginan kita pun semakin kuat. Dengan begitu, berarti kita membuat penjara bagi diri sendiri. Bukan hanya itu, adakalanya kecantikan rupa bagai sebilah pisau. Banyak manusia menciptakan karma buruk akibat keinginan akan rupa yang cantik
Ini adalah penjara bagi diri sendiri. Jika pikiran kita hanya terus melekat pada cinta yang semu seperti itu, maka kelak batin kita akan terbelenggu, seperti bhiksu tadi, gelisah siang dan malam. Ini adalah neraka batin. Yang terpenting dalam pelatihan diri adalah menjaga kesadaran. Kita harus membangkitkan kesadaran. Kita harus senantiasa mengingatkan diri sendiri. Jika dapat menjaga kesadaran, kita akan dapat melenyapkan nafsu berahi. Kemelekatan antara pria dan wanita seperti itu harus diatasi dengan kesadaran kita. Kita harus sadar bahwa tubuh tidak kekal, sadar jangan sampai pikiran kita tercemar
Jadi, orang yang memiliki kesadaran secara alami akan dapat mengatasi kemelekatan terhadap cinta antara pria dan wanita. Kita harus senantiasa merenungkan bahwa nafsu keinginan tidaklah murni. Kita harus selalu mengingatnya. Orang yang ingin sadar harus tahu bahwa nafsu keinginan ini adalah tidak murni. Jika dapat memahami ini, maka akan dapat keluar dari belenggu sesat dan terbebas dari derita kelahiran kembali. Bukankah setiap orang melatih diri demi terbebas dari enam alam kelahiran kembali? Benar. Jadi, kita harus terlebih dahulu melenyapkan nafsu keinginan, terutama nafsu hubungan pria dan wanita atau hubungan asmara. Kita harus melenyapkan semua itu agar tidak terjerumus noda batin
Praktisi Buddhis tidak memiliki cara lain, satu-satunya cara adalah menjaga pikiran. Jika pikiran dapat dijaga untuk selalu bersih, maka keyakinan kita baru bisa teguh. Jadi, sila sangatlah penting. Kesepuluh adalah tekad. Memiliki tekad berarti kita harus berpegang pada sila sehingga dapat hidup damai dan terhindar dari banyak gangguan. Dengan memiliki batin yang murni, barulah kita dapat merasakan kedamaian di mana pun berada. Kondisi apa pun yang kita hadapi, kita dapat tetap merasa damai. Dengan kedamaian batin seperti ini, kita akan dapat mewujudkan tekad kita
jika kita dapat berlatih sesuai tahapan sepuluh keyakinan ini, saya percaya pelatihan diri dan praktik kita di jalan ini tidak akan menyimpang. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.