Sanubari Teduh – 140 – Enam Praktek 10 Kediaman Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti mempelajari tentang pikiran, bagaimana menjaga pikiran sendiri dengan baik, dan tidak memengaruhi pikiran orang lain. Sebuah ungkapan berbunyi, “Air sungai boleh bergejolak, tetapi pikiran praktisi tak boleh bergejolak.” Jadi, baik air sungai maupun air sumur, jika Anda ingin mengaduk-aduknya, maka tidak apa-apa, tetapi pikiran seorang praktisi yang mencapai keheningan dengan tidak mudah, jika Anda memengaruhinya, maka bukan hanya mengacaukan keheningan itu, tetapi juga merusak kualitas pelatihan diri sendiri. Jadi, kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita sendiri, juga tak boleh memengaruhi pikiran orang lain. Jadi, kita semua harus hati-hati dalam hal ini
Mengenai praktik sepuluh keyakinan, kita telah membahas sampai dedikasi, sila, dan tekad. Sepuluh keyakinan ini tak boleh kurang satu pun. Jadi, kita semua harus selalu mawas diri. Segala metode ini adalah air Dharma yang dapat membersihkan noda batin kita. Jadi, sebagai makhluk awam, setiap orang dari kita pasti memiliki noda batin. Tujuan melatih diri adalah melenyapkan noda batin. Apa yang dimaksud noda batin? Kita sering menyebut kegelapan batin
Dari mana kegelapan batin ini berasal? Semua itu adalah akibat segala permasalahan yang terus kita simpan di dalam hati sehingga memengaruhi perbuatan kita dan lama-kelamaan menjadi kebiasaan kita. Karena itu, sebuah ungkapan berbunyi, “Sifat hakiki manusia pada dasarnya sama, hanya saja tabiatnya berbeda-beda.” Hati kita pada dasarnya sama dengan Buddha, hanya saja kita sering melekat pada tabiat kita. Karena itu, kelihatannya perilaku setiap orang tidaklah sama. Akibat pengaruh kegelapan batin, tabiat buruk kita terwujud ke dalam perbuatan. Intinya, kita harus sungguh-sungguh menaati sila dan memegang teguh tekad kita. Jika memiliki tekad, kita harus menjunjung sila. Terhadap perbuatan, kita sendiri harus memiliki sistem pedoman dan sila yang kita junjung
Bukan hanya masyarakat yang butuh sistem, diri kita sebagai individu pun juga harus memiliki sebuah sistem. Sistem yang dimaksud adalah sila. Jadi, alangkah baiknya jika kita dapat memiliki sistem untuk mengendalikan perbuatan kita. Yang patut dilakukan harus kita lakukan dengan giat, sedangkan yang tidak patut dilakukan janganlah kita lakukan. Inilah yang disebut damai berdiam dalam sila. Jika kita dapat berdiam dalam sila, maka perbuatan kita akan terhindar dari kesalahan
Inilah kedamaian. Bukankah tujuan melatih diri adalah untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian? Jika kita dapat merasakan kedamaian, maka itulah pembebasan. Dengan demikian, ke mana pun kita pergi, kita akan dapat merasa damai tanpa beban; apa pun yang Anda lakukan akan dapat berjalan sesuai harapan. Saudara sekalian, kita seharusnya masih ingat bahwa untuk mencapai kebuddhaan dari tataran awam, kita harus menyempurnakan enam praktik. Yang pertama telah kita bahas, yakni sepuluh keyakinan, terdiri atas keyakinan, pikiran, semangat, kebijaksanaan, konsentrasi, ketidakmunduran, usaha melindungi Dharma, berikutnya dedikasi, berikutnya lagi? Sila dan tekad. Semua ini tercakup dalam sepuluh keyakinan. Makhluk awam yang ingin mencapai kebuddhaan harus memegang teguh keyakinan
Di dalam keyakinan terdapat sepuluh aspek yang harus dipegang teguh. Dalam enam praktik, setelah sepuluh keyakinan ada sepuluh kediaman. Setelah sepuluh kediaman ada sepuluh praktik, sepuluh dedikasi, sepuluh bhumi, dan pencerahan setara. Setelah itu, masih banyak tahapan yang harus dipraktikkan. Buddha membuka banyak metode terampil bagi kita, semuanya bertujuan agar kita dapat memilih pintu mana yang ingin kita masuki dan memegang teguh keyakinan di dalamnya untuk membenahi perilaku kita. Kita harus membangun keyakinan. Jika tindak-tanduk dan segala yang kita lakukan benar, maka tidak sulit untuk mencapai kebuddhaan
Mari, kini kita akan membahas sepuluh kediaman. Ini adalah yang kedua dari enam praktik. Kediaman yang dimaksud adalah pikiran yang teguh dalam kebenaran. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita tahu bahwa Buddha berarti Yang Sadar. Sadar berarti memahami kebenaran. Kita telah menyadari kebenaran, tetapi bagaimana agar benar-benar memahaminya? Bagaimana agar kebenaran akan segala sesuatu di dunia dapat menyatu dengan hati kita? Ini sangatlah penting
Jadi, jika hati kita menyatu dengan kebenaran, dengan sendirinya kita akan merasakan ketenangan. Untuk itu, tentu praktik sepuluh keyakinan tidak boleh kurang satu pun. Sepuluh keyakinan ini harus teguh. Tentu, jika sepuluh keyakinan ini telah terbangun, barulah kita dapat menyelami kebenaran. Saat menyelaminya, bagaimana agar kita tidak goyah? Diperlukan praktik sepuluh kediaman. Tentu, dibutuhkan sepuluh metode untuk membuat kita tetap teguh. Yang pertama disebut pembangkitan tekad
Dalam segala sesuatu, kita harus punya tekad. Jika tidak memiliki tekad ini, maka Buddha akan terasa jauh dari kita. Tidak mudah untuk mencapai kebuddhaan. Membangkitkan tekad sangatlah cepat, tetapi apakah kita dapat mempraktikkannya dan teguh di dalam tekad ini? Perjalanannya masih sangat panjang. Ada sebuah ungkapan berbunyi, “Tahun pertama mempelajari ajaran Buddha, Buddha terlihat di depan mata; tahun kedua mempelajari ajaran Buddha, Buddha terlihat di atas langit; tahun ketiga mempelajari ajaran Buddha, Buddha tidak terlihat lagi.” Beberapa patah kalimat ini menggambarkan bahwa saat pertama kali bertekad, manusia sangat tulus, sungguh-sungguh, dan sangat bersemangat, tetapi lama-kelamaan kemalasan mulai menjangkit. Buddha menjadi semakin jauh dari kita, terasa sudah berada di atas langit, sedangkan kita masih di atas bumi. Kita tetap malas, Buddha tetap terasa berada di langit
Akan tetapi, sampai tahun ketiga, Buddha sudah tak lagi terlihat. Buddha tak ada lagi dalam hati kita. Demikianlah makhluk awam, selamanya tetap menjadi makhluk awam. Selain bertekad, kita harus memegang teguh tekad ini. Setelah bertekad, kita harus terus dekat dengan Buddha. Jadi, yang pertama adalah pembangkitan tekad. Yang kedua adalah pembenahan
Kita berada di tataran makhluk awam. Kita harus berusaha agar kondisi sekitar kita tidak memengaruhi kondisi batin kita. Ketiga adalah praktik latihan. Berlatih berarti membina diri sendiri. Kita harus melatih diri sendiri, baru dapat membimbing orang lain. Jadi, kita harus teguh dalam melatih diri. Kita harus selalu ingat bahwa kita adalah praktisi. Keempat adalah pembangkitan kemuliaan. Artinya, kita harus berusaha terbebas dari tataran awam dan masuk ke tataran kesucian
Kelima adalah kesempurnaan metode terampil. Mempelajari ajaran Buddha bertujuan untuk membimbing orang. Jika diri kita sendiri penuh kemelekatan, berarti kita telah membelenggu diri sendiri. Kita harus tahu cara melatih diri sehingga dapat menenangkan batin sendiri serta tahu cara membimbing orang lain. Ini juga sangat penting. Keenam adalah pikiran benar. Pikiran kita harus benar
Pikiran sesat dan menyimpang sangat mengkhawatirkan. Pikiran menyimpang sedikit saja, kita akan jauh tersesat dan mudah terjerumus. Ketujuh adalah ketidakmunduran. Kita tidak boleh menyerah. Bersemangat berarti pantang mundur. Kedelapan adalah kemurnian anak kecil. Batin kita harus sangat murni
Hakikat setiap orang pada dasarnya murni tanpa noda. Lihatlah, bayi yang baru lahir begitu polos dan murni. Batin mereka tidak diliputi kerisauan. Sesungguhnya, melatih diri juga harus seperti itu. Mengenai kemurnian anak kecil, saya pernah berkata bahwa kita harus memiliki hati bagaikan anak kecil, ketahanan bagaikan unta, dan keberanian bagaikan singa. Ini juga merupakan salah satu praktik Bodhisattva
Kesembilan adalah kediaman pangeran Dharma. Artinya, kita harus memikul misi Buddha seperti anak meneruskan cita-cita ayahnya. Kesepuluh adalah penyucian. sepuluh aspek ini terdengar sederhana, tetapi juga mengandung kebenaran yang dalam. Jadi, kita harus memulai dari yang pertama, yakni membangkitkan tekad dan memperkuat daya ingat kita. Mengenai pembangkitan tekad ini dikatakan, “Dengan metode terampil, menerapkan sepuluh keyakinan, sehingga menyatu dengan hati Buddha, inilah kediaman pembangkitan tekad.” Artinya, kita harus menggunakan metode terampil
Selama 49 tahun mengajar di dunia, sebelum membabarkan Sutra Bunga Teratai, dalam kurun 42 tahun pertama, Buddha membabarkan berbagai metode terampil karena kemampuan dan sifat semua makhluk berbeda-beda. Jadi, Buddha memberikan obat sesuai dengan penyakit batin masing-masing makhluk. Beliau mengajar sesuai kemampuan masing-masing orang. Apa penyakit batin yang diderita makhluk itu, Buddha akan memberikan obat yang sesuai. Karena itu, salah satu gelar Buddha adalah Tabib Agung. Beliau tahu setiap makhluk memiliki penyakit batin. Beliau juga tahu resep apa yang harus digunakan untuk mengobati penyakit batin itu. Karena itu, Beliau disebut Tabib Agung
Di zaman sekarang, para dokter juga disebut tabib agung. Para dokter mengobati penyakit fisik, sedangkan Buddha mengobati penyakit batin. Sering dikatakan bahwa kebanyakan bencana alam bersumber dari ulah manusia. Bencana akibat ulah manusia ini berawal dari sebersit niat. Hanya karena penyimpangan batin segelintir orang, dapat menimbulkan gejolak dalam keluarga dan masyarakat. Jadi, semua ini bersumber pada penyakit batin manusia
Buddha Yang Maha Sadar tidak tega melihat semua makhluk tersiksa noda batin dan menderita akibat kekacauan dunia. Karena itu, Beliau datang ke dunia untuk mengajar sesuai sifat setiap makhluk dan memberikan obat sesuai penyakit. Inilah tujuan Buddha datang ke dunia. Jadi, membangkitkan tekad berarti menggunakan metode terampil. Meski merupakan metode terampil, namun di dalamnya juga terkandung kebenaran. Buddha membabarkan kebenaran dengan metode yang sederhana agar semua makhluk yang tersesat dapat memahaminya. Akan tetapi, berbagai metode ini memiliki hakikat kebenaran yang sama
Berbagai metode dapat digunakan untuk membimbing orang mencapai suatu tingkatan tertentu. Karena itu, sering dikatakan bahwa Buddha memandang semua makhluk bagai seorang anak tunggal. Begitu banyak makhluk di dunia ini, namun Buddha memandangnya bagai seorang anak. kebenaran yang disadari Buddha hanya satu, namun noda batin semua makhluk amat beragam. Jadi, dengan satu kebenaran itu, Beliau membuka berbagai pintu metode terampil. Jadi, jika semua makhluk dikatakan memiliki 84.000 jenis noda batin, maka demi mereka semua, Buddha membuka 84
000 pintu Dharma. Inilah metode terampil. Kebenaran hakikinya hanya satu, tetapi metodenya dapat beragam. Ini karena beragamnya penyakit semua makhluk. Jadi, kita harus menggunakan metode yang sesuai kebenaran. Kebenaran di sini adalah kebenaran hakiki. Metode adalah cara untuk memperkenalkan kebenaran
Akan tetapi, ini hanya alat agar semua makhluk dapat memahami kebenaran. Contohnya, sepuluh keyakinan. Sepuluh keyakinan ini juga adalah metode. Sebelumnya, kita telah membahas sepuluh keyakinan ini. Ini adalah metode untuk kita gunakan. Sesungguhnya, makhluk awam dan Buddha adalah satu
Hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Pada hakikatnya, semua adalah satu. Mengapa kini timbul jarak begitu jauh yang menjadi sebuah jalan panjang? Kita harus melewati jalan panjang ini untuk kembali kepada kondisi yang sama dengan Buddha. Untuk itu, kita menggunakan metode praktik sepuluh keyakinan. Dengan demikian, kita akan menjadi satu hati. Hati apakah yang dimaksud di sini? Hati Buddha. Hati makhluk awam dan hati Buddha dapat menyatu. Saya sering mengatakan kepada insan Tzu Chi untuk menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri dan tekad guru sebagai tekad sendiri
Semua orang memiliki welas asih Buddha. Untuk membangkitkannya, kita harus membangun tekad dan ikrar. Prinsipnya sama. Dengan demikian, kita baru dapat menjadi satu hati dengan Buddha. Bukankah kita sering mendengar ungkapan bola kristal berpusat pada satu titik yang sama? Bagai sebuah bola yang bulat, hanya memiliki satu titik pusat. Demikianlah pembangkitan tekad
Kita harus mulai dari membangkitkan tekad. Kalian semua seharusnya tahu bahwa hati semua makhluk pada hakikatnya sama dengan Buddha. Hanya saja, kita semakin menjauh dari hakikat ini sehingga kita menjadi makhluk awam dan terpisah dari kebuddhaan. Jadi, kini kita harus berusaha mencapai kebuddhaan dari tataran awam dengan menggunakan metode terampil yang mengandung kebenaran hakiki. Kebenaran ini dipraktikkan dengan sepuluh keyakinan. Dengan begitu, kita akan dapat mencapai kebuddhaan
Inilah pembangkitan tekad. Kalian seharusnya dapat memahaminya dengan jelas. Sebelumnya kita telah membahas tentang cermin kebijaksanaan sempurna. Setiap orang memiliki cermin batin yang murni. Cermin ini sangat sempurna dan sangat bersih, dapat merefleksikan segala kondisi dengan jelas. Setelah kondisi berlalu, apa pun kondisi itu, cermin ini tetap tidak terkotori. Inilah pikiran luar biasa. Dengan cermin pikiran seperti ini, kita akan memperoleh pencapaian
Kita sedang melatih diri. Mengenai cermin batin, pada dasarnya cermin itu bersih sempurna, tetapi bagaimana agar kita benar-benar dapat mencapai kondisi bersih seperti itu? Sesungguhnya, bayangan yang terpantul pada cermin hanyalah bayangan kondisi luar. Saat kondisi itu berlalu, di dalam cermin ini tidak ada apa-apa. Akan tetapi, sebagai makhluk awam, untuk mencapai tingkat kebuddhaan seperti itu, kita harus melakukan praktik nyata. Karena itu, tadi kita menyinggung tentang pembenahan. Dalam kehidupan sehari-hari, saat menghadapi berbagai kondisi baik orang, hal, maupun materi, saat kondisi itu bersentuhan dengan batin kita, sesungguhnya apakah kondisi batin kita terpengaruh? Apakah kondisi ini mengganggu batin kita? Kondisi ini adakalanya mengganggu batin kita dan sulit untuk disingkirkan dari pikiran kita. Bayangan gelap ini sering ada dalam batin kita. Dengan begitu, cermin kita tak lagi bersih
Jika batin kita ini tidak rajin kita bersihkan, berarti kita tidak membenahi batin kita. Meski segala kondisi luar ini terus mencemari batin awam kita, kita tetap tidak membenahi batin kita. Sederhananya, saat melatih diri, sudahkah kita membina batin kita dengan baik? Jika batin dibina dengan baik, maka bagaimana pun kondisi di luar, tidak akan memengaruhi tekad kita. Jadi, apakah cermin batin kita ini telah dibersihkan dengan baik? Jika sudah, ia akan selalu bersih. Sama halnya dengan tempat tinggal kita, apakah bersih atau tidak, bergantung pada apakah kita rajin menyapunya. Jika kita rajin menyapunya, maka yang terlihat adalah kondisi yang indah. Jika kita dapat menjaga batin kita, melihat setiap orang dengan hati Buddha, maka setiap orang terlihat seperti Buddha. Dengan begitu, kita akan selalu menghormati setiap orang. Semua ini bergantung pada batin kita
Jadi, pembenahan di sini berkaitan dengan apakah batin kita sering dibersihkan dan apakah batin kita sering terpengaruh kondisi luar. Kita harus tekun dan bersemangat untuk melangkah maju di jalan yang lapang dan lurus ini dan tidak terpengaruh kondisi luar. Inilah pembenahan batin yang sesungguhnya. 把我們的心地治理好 Untuk membenahi batin kita, kita harus teguh. Setelah membangkitkan tekad, kita harus memegang teguh tekad itu. Kita harus berdiam dalam tekad tersebut. Janganlah kita mudah goyah setelah bertekad dan dengan cepat merasa malas
Jadi, kita harus menggunakan kebenaran ini untuk membenahi batin orang lain, tetapi terlebih dahulu kita harus membenahi batin sendiri. Kita harus terlebih dahulu memiliki kesadaran, baru bisa menyadarkan orang lain. Jadi, dalam menggunakan metode terampil, ingatlah bahwa metode yang kita gunakan harus tetap mengandung kebenaran. Metode terampil adalah cara
Kita harus menggunakan suatu cara untuk membenahi batin kita agar batin kita dapat kembali bersih dan kita dapat berjalan di Jalan Bodhisattva ini. Jadi, kita semua harus bersungguh hati dalam membenahi batin sendiri. Intinya, pembangkitan tekad dan pembenahan batin adalah pintu Dharma yang sangat penting bagi kita para praktisi dan semua makhluk. Harap semua orang lebih bersungguh hati.