Sanubari Teduh – 141 – Enam Praktek 10 Kediaman Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, sering dikatakan bahwa pikiran harus dijaga dengan baik. Sungguh, pikiran adalah pelopor segalanya. Inilah yang diajarkan Buddha kepada kita. Di dunia ini, kondisi apa pun yang terwujud, tidak lepas dari pikiran manusia. Jadi, jika dalam pikiran kita dapat senantiasa terdapat ketulusan dan setiap orang dapat berperilaku patut, maka dunia akan damai dan bebas dari bencana
Jadi, kita harus mulai dari diri sendiri. Akhir-akhir ini, semua yang kita bahas tidak lepas dari pikiran. Sebelumnya kita membahas sepuluh keyakinan. Setelah memiliki sepuluh keyakinan, kita harus mempertahankan semua itu. == Jadi, berikutnya adalah sepuluh kediaman. Yang pertama adalah kediaman pembangkitan tekad
Setiap manusia harus membangkitkan tekad untuk mempertahankan sepuluh keyakinan dalam hati kita. Untuk itu, kita harus menggunakan metode terampil. Artinya, kebenaran hakiki hanya satu, tetapi kita dapat menggunakan berbagai metode yang tidak terlepas dari kebenaran itu untuk melatih diri dan membimbing orang lain. Contohnya, saat kita mengambil sebatang kayu, lalu ingin memasukkannya ke dalam ruangan, tetapi pintunya tidak cukup lebar, jika kayu itu kita bawa dalam posisi melintang, ia tentu tak akan bisa masuk. Jadi, kita harus membawanya dalam posisi lurus. Denga begitu, batang kayu ini dapat dibawa masuk tanpa merusak pintu dan tidak menggangu ruangan. Tujuannya hanya untuk memasukkan kayu tadi
Saat ingin memasukkan batang kayu itu, jika tak bisa dibawa dengan cara melintang, maka harus dibawa dengan posisi lurus. Ini yang disebut metode terampil. Jadi begitu banyak metode terampil. Berapa banyak? Dikatakan ada 84.000 pintu Dharma. Tabiat setiap makhluk berbeda-beda
Karena itu, untuk mengubah berbagai tabiat ini, dibutuhkan berbagai cara yang sesuai. Akan tetapi, kita tak boleh meninggalkan sepuluh keyakinan. Jadi, dikatakan, “Menerapkan sepuluh keyakinan sehingga menyatu dengan hati Buddha.” Inilah yang disebut pembangkitan tekad. Kita juga telah membahas kediaman pembenahan. Pembenahan berarti dengan kemurnian hati dan sepuluh keyakinan yang teguh, kita harus melakukan praktik nyata. Pencapaian tak dapat diperoleh hanya dengan berpikir saja
Kebenaran tak dapat dipahami hanya dengan dibicarakan saja. Tidak bisa. Kita harus mempraktikkannya secara nyata. Orang menyebutnya praktik langsung. Teladan nyata lebih baik dari ucapan semata. Jadi, untuk memperoleh pencapaian, Inilah pembenahan menyeluruh. Jika kita dapat melakukan praktik nyata dan membimbing orang lain, maka pencapaian akan tercapai
Inilah yang disebut pembenahan. Berikutnya adalah kediaman praktik latihan. Saudara sekalian, mengenai praktik melatih diri, kita tahu bahwa setiap hari kita harus melatih diri. Baik perumah tangga maupun kaum monastik, semua yang telah menyatakan berlindung kepada Buddha, Dharma, Sangha disebut murid Tiga Permata. Kita harus melatih pikiran. Melatih pikiran, membina karakter, dan meluruskan perilaku, itulah yang disebut melatih diri
Umat perumah tangga menjalankan lima sila dan mempraktikkan sepuluh jenis kebajikan. Lima sila adalah cara berlatih, dan sepuluh kebajikan adalah cara praktik. Ini juga disebut melatih diri. Sebagai kaum monastik, sila yang harus kita jalankan lebih banyak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mematuhi aturan, norma, dan tata krama. Semua ini harus kita terapkan dalam tindakan dan perilaku kita saat berhadapan dengan orang dan masalah
Kita harus memerhatikan pikiran dan perbuatan kita. Jika kita lengah terhadap pikiran, maka perbuatan kita akan menyimpang. Hanya dengan memegang teguh pikiran dan tekad, barulah kita dapat tekun melatih diri dan meluruskan perilaku. Jadi, kini kita membahas praktik latihan. Setiap orang harus ingat untuk melatih diri. Lima puluh satu faktor mental tak terlepas dari pikiran. “Pengetahuan tentang faktor-faktor mental dipahami seluruhnya.” Artinya, segala hal yang kita temui dan faktor-faktor yang kita ketahui dalam pikiran akan dapat kita kenali dan pilah dengan jelas
Kebijaksanaan terdiri atas dua aspek, yakni pengetahuan yang dapat membedakan dan kearifan yang memandang setara. Jika faktor-faktor mental bisa kita kendalika, maka pengetahuan kita tadi akan meningkat menjadi kebijaksanaan. Tahu berarti saat melihat sesuatu, kita mengenalinya, seperti, “Ini lampu.” berhubung sudah pernah melihatnya, maka ia tercakup dalam wawasan kita. Kita tahu benda itu bernama lampu, bahkan berapa besar dayanya kita pun tahu. Akan tetapi, kita hanya sebatas tahu, tahu benda itu dapat digunakan untuk menerangi ruangan. Pengetahuan seperti ini disebut kemampuan mengenali dan memilah
Akan tetapi, dalam menghadapi orang atau masalah, bagaimana kita harus bersikap, bagaimana kita harus menerima saat orang lain merasa tidak senang dan menampilkan ekspresi yang kurang baik, serta bagaimana kita harus menghadapi mereka, semua ini membutuhkan kebijaksanaan. Ini tidak sesederhana melihat benda dan mengenali wujud serta namanya. Kita harus melapangkan hati kita dan berusaha mengalah. Dalam hubungan antarsesama, kita mengetahui banyak hal, tetapi adakalanya tidak mengerti untuk sedikit berlapang dada dan mengalah. Kita hanya tahu, tetapi kekurangan cahaya batin. Jika kebijaksanaan Buddha menyinari batin kita, barulah batin kita akan bercahaya. Jika batin kita dapat bercahaya, maka segala kondisi akan dapat dipahami dengan jelas
Sebaliknya, makhluk awam, saat bertemu kondisi yang tidak menyenangkan, akan membangkitkan kegelapan batin. Ingin mengejar saat bertemu yang disukai juga termasuk kegelapan batin. Ia dapat merusak tekad kita sehingga kita mudah tergoda oleh keinginan terhadap sesuatu di luar diri. Demikianlah kegelapan batin. Contohnya, seseorang tahu bahwa dia menyukai seseorang yang lain. Saat mendengar suara orang ini berbicara, timbul rasa senang dalam hatinya. Dengan begitu, dengan cepat dia akan terjerumus ke dalam semua ini
Kegelapan batin pun bangkit. Bagaikan kondisi langit pada cuaca yang tidak baik dan saat awan hitam menebal, membuat kita tak dapat melihat bulan ataupun matahari karena terhalang oleh awan hitam itu, demikianlah energi kegelapan batin menutupi batin kita. Jadi, kita harus mempertahankan samangat melatih diri di dalam hati kita. Dengan begitu, apa pun kondisi yang kita temui akan dapat kita sadari dengan jelas. Segala nafsu keinginan tidak akan dapat merintangi jalan pelatihan diri kita. Jadi dapat merealisasikan hal ini, maka berarti kita telah “menjalankan segala praktik latihan tanpa menyisakan rintangan”. Pengaruh kondisi luar tidak akan menghentikan langkah kita atau merintangi jalan pelatihan diri kita
Inilah kediaman praktik latihan. === sungguh, sepuluh keyakinan yang kita bahas di awal dapat memperkuat kediaman batin kita. Semoga setelah mendengar ini, setiap orang menjadikannya pekerjaan rumah yang harus dipraktikkan dalam keseharian. Karena itulah, semua ini disebut kediaman. Demikianlah kediaman praktik latihan. Yang keempat adalah kediaman pembangkitan kemuliaan
Mengenai hal ini, sebuah ungkapan berbunyi, “Menyatu dengan kebenaran secara mendalam.” Artinya, batin kita setiap saat dan di setiap tempat harus senantiasa bersatu dengan kebenaran. Baik dalam ucapan dan tindakan maupun dalam menghadapi orang dan masalah, kita harus sesuai dengan kesadaran dan kebenaran. Apa artinya? Kita harus memiliki cinta kasih berkesadaran. Kita harus bersatu dengan kesadaran ini dan memberi manfaat bagi semua makhluk. Inilah cinta kasih berkesadaran, bukan demi diri sendiri, melainkan demi semua makhluk. Buddha datang ke dunia juga demi menyelamatkan semua makhluk
Meski terjun ke tengah masyarakat, Beliau tidak terpengaruh kondisi lingkungan. Inilah cinta kasih berkesadaran. Bodhisattva disebut makhluk yang sadar. Jadi, kapan pun, tanpa harus disengaja, segala yang kita lakukan, ucapkan, dan bagaimana cara kita membawa diri dalam masyarakat, semuanya tidak bertentangan dengan kebenaran. Inilah yang disebut bersatu dengan kebenaran. Kapan pun dan di mana pun, segala perbuatan kita selalu sesuai dengan kebenaran
Dengan begitu, berarti kita bagai berjalan bersama Buddha. Jalan yang kita tapaki sama dengan Buddha. Sesuai ikrar-Nya, Buddha memandang semua makhluk sebagai anak tunggal. Orang tua selalu menyayangi anak tunggal mereka. Anak ini bagaikan permata berharga. Buddha sendiri hanya memiliki satu putra, yakni Rahula. Saat Rahula ikut melatih diri, Buddha juga menganggapnya sama dengan semua bhiksu dalam persamuhan Sangha. Kasih-Nya terhadap para anggota Sangha sama seperti kasih-Nya terhadap Rahula
Bukan hanya anggota Sangha, Beliau bahkan memandang semua makhluk sama seperti Rahula yang merupakan anak tunggal-Nya. Demikianlah hati orang tua. Saya sering mengatakan kepada kalian bahwa kita harus bisa untuk turut merasakan penderitaan yang dialami orang lain. Hati Buddha dan hati kita seharusnya sama-sama memiliki welas asih, iba melihat penderitaan semua makhluk. Jadi, kita harus bersumbangsih bagi semua makhluk yang menderita. Demikianlah praktik Buddha
Di awal kita telah membahas bahwa selama Anda adalah murid Tiga Permata, maka Anda harus berlatih lima sila dan mempraktikkan sepuluh kebajikan. Umat perumah tangga saja harus mempraktikkan sepuluh kebajikan dalam keseharian, terlebih kita yang meninggalkan keluarga kecil dan masuk ke dalam keluarga Buddha untuk memikul misi Buddha. Misi Buddha harus kita pikul. Apakah misi Buddha? Yaitu tekad Buddha. Tekad apa? Menyelamatkan semua makhluk di dunia. Lihatlah, di New Orleans, Amerika Serikat, saat badai tornado melanda, begitu banyak orang kehilangan tempat tinggal dan terpisah dari keluarga
Betapa banyak orang yang menderita harus mengungsi ke tempat yang jauh. Bayangkan, awalnya mereka memiliki segalanya, seperti harta kekayaan dan usaha. Kita sering mendengar bahwa New Orleans adalah tempat asal musik jaz yang sangat populer. Di daerah itu orang-orang hidup bagai di surga. Akan tetapi, lihatlah, dalam satu malam, seluruh New Orleans berubah menjadi bagaikan neraka panas atau neraka kotoran. Orang-orang yang tak dapat mengungsi setiap hari harus menggunkan air kotor yang beraroma tidak sedap di tengah lingkungan yang tidak bersih, tanpa listrik dan air bersih
Yang tercium hanya aroma tidak sedap. Siapa yang menyangka bahwa sebelum diterpa badai tornado, daerah tersebut bagaikan surga dan merupakan kota yang tak pernah tidur. Lihatlah, inilah ketidakkekalan. Inilah bencana alam. Orang-orang di sana sangat menderita akibat kehilangan tempat tinggal. Dalam kondisi seperti itu, insan Tzu Chi dari Texas pun bergerak
Apakah tenaga mereka cukup? Tidak cukup. Akan tetapi, insan Tzu Chi dari negara bagian lain juga turut bergerak. Saat suatu daerah dilanda bencana, insan Tzu Chi berdatangan dari berbagai penjuru untuk menjadi penyelamat para korban. Saat itu mereka benar-benar menjadi penyelamat kehidupan warga di sana. Saat terkena bencana dan tidak memiliki tempat berteduh, siapakah yang dapat dijadikan sandaran? Tentu orang-orang yang memiliki semangat kemanusiaan, terutama insan Tzu Chi. Mereka bertekad untuk mengemban hati Buddha dan misi Guru
Mereka memiliki hati yang sama dengan Buddha, yakni tak tega melihat makhluk lain menderita. Karena itu, mereka terjun ke daerah bencana, mengesampingkan urusan pribadi, serta meluangkan waktu. Selain memberikan bantuan materi, mereka juga merangkul dan memberi penghiburan bagi warga sehingga menyentuh mereka yang kehilangan tempat tinggal dan kehilangan semangat hidup. Hati mereka pun kembali terbuka dan bagai masuk ke keluarga Buddha. Ini adalah benih kebuddhaan. Karena itu, saya sering berkata bahwa Bodhisattva bagai petani. Kita harus menyebarkan benih cinta kasih Buddha ke seluruh dunia
Dengan demikian, semua orang di dunia akan menjadi bagaikan Buddha dan memiliki cinta kasih sehingga dapat menjadi penyelamat mulia bagi sesama. Inilah yang disebut pembangkitan kemuliaan. semoga dalam pelatihan diri kita, Buddha dan Bodhisattva menjadi penyelamat jiwa kebijaksanaan kita. Dalam melatih diri, kita juga berharap dapat menjadi penyelamat bagi hidup orang lain
Karena itu, kita harus membangkitkan sifat-sifat mulia tadi. Untuk itu, semua harus selalu bersungguh hati.