Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 142 – Enam Praktek 10 Kediaman Bagian 3

Saudara se-Dharma sekalian, cuaca di luar saat ini sangat sejuk dan tidak terasa panas. Meski demikian, kita harus tetap waspada dengan hujan badai yang mungkin akan datang tiba-tiba. Yang harus diwaspadai bukan hanya kondisi cuaca, namun yang terpenting adalah pikiran kita. Kita harus waspada atas kapan pikiran kita diterpa angin atau turun hujan. Saat angin musim semi berembus, segala sesuatu di alam dapat tumbuh. Saat angin kegelapan batin berembus, pelatihan diri kita yang sangat tidak mudah dan kondisi batin kita yang damai bisa roboh dalam seketika. Sebuah embusan angin kegelapan batin bisa menghancurkan kondisi batin kita yang damai dan pelatihan diri yang telah kita bina sejak lama

 Selain itu, kita juga akan semakin berjalan menyimpang dari jalan pelatihan diri ini. Karena itu, kita hendaknya senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Kita sudah mengulas yang ketiga dari sepuluh kediaman, yaitu praktik latihan. Kita harus senantiasa ingat bahwa kita adalah praktisi. Sebagai praktisi, kondisi batin kita harus selalu jernih, sadar, dan tidak ternoda sedikit pun. Saat bertemu dengan kondisi luar, kita harus menjaga batin agar tetap jernih dan sadar

 Selain wawasan, kita harus mengembangkan kebijaksanaan agar batin bisa senantiasa jernih. Dengan membangkitkan semangat melatih diri, secara alami pelatihan diri kita tak akan dapat dirintangi oleh apa pun. Yang merintangi hanyalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Jika kita memiliki semangat melatih diri, maka kita akan dapat mencapai yang keempat, yakni pembangkitan kemuliaan. Buddha adalah penyelamat mulia yang membantu mengembangkan kebijaksanaan kita. Segala kebenaran yang diajarkan oleh Buddha harus senantiasa ada di dalam hati kita dan kita wujudkan lewat tindakan nyata

 Inilah hati Buddha. Jadi, kita harus senantiasa berterima kasih kepada Buddha yang telah menjadi penyelamat hidup kita. Sebaliknya, kita juga berharap bisa menjadi penyelamat bagi orang lain. Banyak makhluk hidup di dunia yang hidup menderita. Karenanya, kita harus berusaha membantu mereka dan mendampingi mereka dengan cinta kasih yang paling tulus agar hidup mereka ada harapan. Untuk itu, kita harus mempelajari ajaran Buddha

 Buddha membantu mengembangkan jiwa kebijaksanaan kita. Kita juga harus membimbing semua makhluk. Kita harus berusaha untuk membantu orang-orang yang hidup dalam penderitaan dan menggunakan metode terampil untuk membimbing mereka. Ini merupakan kewajiban kita. Kelima adalah kesempurnaan metode terampil. Kita harus memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Inilah yang disebut kesempurnaan metode terampil

 Metode terampil ini tak terlepas dari kebenaran. Jika kita memiliki kebijaksanaan untuk mengembangkan metode terampil yang tak lepas dari kebenaran, maka jalan pelatihan diri kita akan bebas hambatan. Saya sering berkata bahwa kehidupan kita tak terlepas dari manusia, hal, dan materi. Kehidupan kita sehari-hari tak terlepas dari manusia, tak terlepas dari masalah, dan tak terlepas dari materi. Saat berinteraksi dengan orang, adakalanya kita berbeda pandangan dengan orang lain

 Setiap orang memiliki pandangan dan tabiat yang berbeda-beda. Kita ingin berbuat demikian, tetapi orang lain merasa itu kurang tepat dan mereka pun menyarankan jalan lain bagi kita. Kita harus berhati lapang. Asalkan jalan yang ditunjuk orang itu baik dan tidak menyimpang, kita hendaknya mengesampingkan pendapat kita dan menerima usulan orang tersebut. Terlebih dahulu, kita harus membuka hati dan menerima bimbingan orang lain atau kita bisa mempertimbangkan dahulu cara yang diusulkan oleh mereka. Jika ternyata cara yang mereka usulkan mudah membuat kita berjalan menyimpang atau berbuat keliru, hendaknya kita menggunakan cara kedua, yakni bersabar

 Kita harus bersabar untuk membimbing mereka. Saat bekerja sama, kita bisa perlahan-lahan memengaruhi mereka agar keluar dari jalan yang menyimpang. Tanpa merusak hubungan, kita membimbing mereka agar kembali ke jalan yang benar. Inilah yang disebut memiliki kebijaksanaan. Saat bekerja sama dengan orang lain, kita harus memiliki toleransi

 Untuk membimbing orang lain agar berjalan ke arah yang benar, kita harus mengembangkan kebijaksanaan dan bersikap penuh pengertian. Dengan begitu, kita baru bisa membimbing orang dari jalan yang salah ke jalan yang benar. Tanpa mendekatkan diri dengan orang, kita tidak bisa membimbing dan memberi manfaat kepada mereka. Jadi, manfaat yang kita peroleh adalah menjalin jodoh baik, sedangkan manfaat bagi mereka adalah bisa terinspirasi. Inilah yang disebut kesempurnaan metode terampil

 Dengan demikian, hati kita akan selalu bersatu dengan kebenaran. Selanjutnya, yang keenam adalah pikiran benar. Sebagai praktisi, pikiran kita harus selalu benar. Terlebih lagi, jika kita berada di tengah masyarakat untuk mengembangkan metode terampil, pikiran kita harus selalu benar

 Tanpa keteguhan pikiran yang kokoh, kita akan mudah terpengaruh sehingga selamanya berada dalam tataran awam. Untuk masuk ke tataran kesucian bukanlah hal yang mudah. Ini membutuhkan keyakinan yang kuat, kebijaksanaan yang kokoh, keteguhan pikiran yang cukup, dan pikiran yang benar. Dengan demikian, pikiran kita akan sama dengan Buddha. Saya sering berkata tentang menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri dan tekad Guru sebagai tekad sendiri. Kata-kata itu sangat sederhana, namun bagaikan cetak biru bagi kita untuk mencapai suatu tujuan

 Sangat mudah untuk membangun tekad, namun sulit untuk mempertahankannya. Hati Buddha tidak jauh dari kita. Setiap orang memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Akan tetapi, hati Buddha yang berada di dalam diri kita telah tertutup oleh kegelapan batin sehingga membuat kita semakin jauh dari hakikat kebuddhaan itu. Ini membuat adanya jalan panjang antara tataran awam dengan kebuddhaan. Sesungguhnya, jalan ini tetap lurus

 Asalkan kita dapat memperkecil jarak dengan menapaki jalan tersebut, maka kita yang berada dalam tataran awam juga akan sampai pada kebuddhaan. Asalkan kita membuka lapis demi lapis kegelapan batin di dalam hati, maka pada akhirnya yang tersisa hanyalah hati Buddha yang murni dan tanpa noda. Jadi, tak peduli seberapa jauhnya perjalanan itu, hati kita dan hati Buddha tidak pernah terputus. Ia hanya terpisah jauh, tidak terputus. Kuncinya ada pada kebenaran. Karena itu, pikiran benar sangat penting

 Kita harus berdiam dalam pikiran benar. Jika pikiran kita dapat selalu benar dan tidak menyimpang, maka kita akan memiliki pikiran yang sama dengan Buddha. Hati kita akan sama dengan hati Buddha. Untuk menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri, kita harus memiliki pikiran benar. Dengan memiliki pikiran benar, kita tidak akan berjalan menyimpang. Jadi, Saudara sekalian, pikiran benar sangatlah penting

 Ia menunjukkan kita jalan yang agung dan lurus. Jadi, kita harus menjaga pikiran dengan baik agar ia tidak menyimpang. Kita sungguh harus melatih pikiran benar. Ini tidaklah sulit

 Makhluk awam bisa mencapainya. Kita dapat melihat banyak kisah seperti ini dalam diri relawan Tzu Chi. Salah satu di antaranya adalah seorang relawan yang dikenal sebagai Anathapindada masa kini. Dia adalah orang yang sangat berwelas asih dan selalu bersedia berdana bagi orang yang hidup kekurangan. Dia adalah Relawan Li Zong-ji. Orang-orang memanggilnya Kakek Li. Mengapa semua orang begitu menghormatinya? Pertama, dia adalah orang yang lurus

 Sejak kecil hingga dewasa, bahkan sebelum bergabung dengan Tzu Chi, dia sudah merupakan anak yang berbakti. Dia merupakan salah seorang anak berbakti yang pernah saya temui. Saya masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya di Griya Jing Si. Saat itu, dia baru berusia 60 tahun. Kebetulan saat itu, proyek pembangunan RS Tzu Chi Hualien tengah berlangsung. Hari itu, dia datang didampingi oleh putrinya

 Di dalam ingatan saya, dia memiliki wajah penuh keberuntungan. Postur tubuh dan wajahnya terlihat penuh keberuntungan. Akan tetapi, langkah kakinya tidak begitu leluasa. Kabarnya, dia pernah mengalami stroke ringan. Saat kami membahas tentang ibunya, dia masih berlinang air mata

 Saya mengira ibunya baru meninggal dunia tidak lama. Ternyata bukan. Ibunya sudah meninggal bertahun-tahun lamanya. Saat membahas tentang ibunya, Dia berkata bahwa sebelum dia duduk di bangku sekolah dasar, ayahnya sudah meninggal dunia. Tak lama kemudian, paman-pamannya juga meninggal dunia sehingga ibunya harus mencari nafkah untuk menopang keluarga

 Tidak mudah baginya untuk bersekolah karena keluarganya sangat kekurangan. Tidak mudah karena ibunya memikul tanggung jawab yang berat. Suatu tahun, saat dia ingin mendaftarkan diri ke sekolah, ibunya berkata padanya, “Saya sudah bekerja begitu keras, apakah kamu masih ingin melanjutkan sekolah?” Dia tahu bahwa ibunya sangat bekerja keras. Dia pun tidak melanjutkan sekolah

 Dia membawa buku-buku sekolahnya dan membakarnya di depan rumah. Setelah itu, dia memutuskan untuk menjadi buruh anak-anak. Dia sangat bekerja keras dan sangat jujur. Melihat dia begitu jujur dan baik hati, atasannya pun ingin mengujinya dengan menaruh uang di sembarang tempat. Saat membersihkan ruangan dan menemukan uang, dia selalu mengembalikannya kepada atasannya. “Saya menemukan uang di bawah kursi.” “Saya menemukan uang di sudut ruangan

” “Saya menemukan uang di…” Atasannya merasa anak ini sangat jujur dan bisa dibina. Atasannya mulai membinanya. Dia adalah orang yang jujur dan sangat setia pada atasannya. Beberapa tahun kemudian, atasannya merasa jika terus berada di sisinya, anak ini akan sulit untuk maju

 Jadi, atasannya mendukungnya dari belakang untuk meniti karier di luar. Kemudian, saat terjadi pergolakan di Tiongkok, dia datang ke Taiwan. Tentu saja, itu semua adalah perjalanan yang sulit. Baik menjadi buruh anak-anak maupun menjadi awak kapal, semua dia lakukan dengan susah payah. Ada pepatah berbunyi, “Asalkan bekerja keras, langit tidak akan mengecewakan orang yang bekerja keras.” Dia sangat berbakti, sangat setia, sangat jujur, dan adil. Tak peduli kendala apa pun yang dihadapi, dia selalu dapat mengatasinya. Bahkan dia juga mendapat pengakuan, kepercayaan, dan rasa hormat dari orang lain

 Dia terus berusaha mengembangkan usahanya dengan susah payah. Dia hidup dengan sangat hemat. Setelah usahanya sedikit stabil, dia segera menjemput ibunya agar bisa berbakti kepada beliau. Dimulai dari usaha kecil, dia terus mengembangkannya hingga menjadi usaha besar. Dimulai dari menjadi awak kapal, dia membeli kapal dan menjalankan usahanya hingga bertaraf internasional. Hingga suatu kali, dia membeli sebuah kapal yang sangat besar. Biasanya, orang selalu mengundang pejabat pemerintah atau orang terkenal untuk meresmikan kapal baru

 Akan tetapi, dia tidak demikian. Dia mengundang ibunya untuk meresmikan kapal itu. Selain itu, dia juga menamai kapal itu dengan nama ibunya. Dari sini, kita dapat melihat betapa berbaktinya dia. Sejak saat itu, usahanya berkembang pesat

 Sang ibu sungguh beruntung karena memiliki anak, menantu, dan cucu-cucu yang baik. Akan tetapi, tak luput dari hukum alam, ibunya akhirnya meninggal dunia. Relawan Li terus mengunjungi makam ibunya. Selama berbulan-bulan, dia tak pernah absen mengunjungi makam ibunya. Selain itu, dia juga pindah ke Yangmingshan agar tidak terlalu jauh dari makam ibunya. Setiap pagi, dia membersihkan makam dan bersembahyang untuk sang ibu

 Belasan tahun kemudian, suatu kali, dia mengajak saya untuk melihat tempat tinggalnya. Dia sangat berharap saya bisa melihat makam ibunya. Saat ke sana, saya melihat makam ibunya sangat bersih. Dia berkata kepada saya, “Setiap pagi, saya datang ke sini untuk menyapu dan bersembahyang.” “Sekarang masih demikian?” “Ya.” “Mengapa tidak mempekerjakan orang lain saja?” “Jika dikerjakan sendiri, semuanya terasa berbeda.” Meski sang ibu sudah meninggal bertahun-tahun lamanya, dia masih sangat berbakti dan mengasihi ibunya

 Ini sangat jarang ditemui. Saat usahanya berkembang pesat, dia membeli banyak kapal. Hingga saat terjadi perang di Vietnam, banyak pengungsi yang terkatung-katung di laut. Mereka tidak punya makanan dan minuman. Karenanya, Relawan Li bertanya kepada awak kapalnya, “Apakah kalian bersedia mengantarkan bahan pangan ke Vietnam untuk membantu para pengungsi?” Banyak yang bersedia. Setelah mengetahui ada orang yang bersedia, Relawan Li mulai membuat perencanaan. Dia membeli asuaransi bagi awak kapal yang bersedia pergi agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, keluarga mereka bisa tetap hidup stabil. Jadi, Relawan Li mengajak para awak kapal mengantarkan bahan pangan ke Vietnam dengan menggunakan kapalnya

 Orang-orang yang bersedia pergi itu dipenuhi rasa syukur. Mereka menggigit jari tangan mereka dan membubuhkan tanda tangan di atas bendera sebagai tanda syukur. Inilah salah satu yang saya sesalkan. Relawan Li menyumbangkan kantor lamanya untuk Tzu Chi. Demi menyumbangkan kantornya kepada Tzu Chi, dia harus mengeluarkan semua perabot. Di tengah kesibukan saat pindah, bendera itu entah tercecer ke mana. Saat saya meminta bendera yang penuh dengan tulisan darah itu, Relawan Li juga mencarinya hingga sangat gusar

 Saya merasa berutang padanya. Sepanjang hidupnya, dia terus mengikuti jejak langkah saya dengan sepenuh hati dan tekad. Harta kekayaannya dibagi menjadi 4 bagian. Salah satu bagian dia donasikan untuk Tzu Chi. Saat pembangunan RS Tzu Chi Dalin maupun pembangunan RS Tzu Chi Hualien, dia juga ikut membantu di lokasi pembangunan. Meski bukan ahli di bidang pembangunan, tetapi dia selalu mengikuti langkah insan Tzu Chi lainnya

 Di Dalin, dia bahkan pernah terjatuh hingga patah tulang. Setelah digips, dia tetap beraktivitas. Hingga suatu tahun, dia mengalami infrak otot jantung. Saat akan menjalani operasi, dia berpesan bahwa jika terjadi sesuatu padanya, dia ingin kembali ke Hualien dan berada dekat dengan saya. “Orang tua memberi saya kehidupan, Master memberi saya jiwa kebijaksanaan.” “Usia kehidupan ada batasnya, tetapi jiwa kebijaksanaan ada selamanya

” Demikianlah dia berpesan. Dia bahkan berkata kepada generasi penerusnya, “Harapan saya pada kehidupan ini adalah semasa hidup saya saya bisa memiliki hati Buddha dan tekad Guru.” Dia mengerahkan seluruh hidupnya untuk mempertahankan  hati Buddha dan tekad Guru. Tekad ini pun ingin dia pertahankan dari kehidupan ke kehidupan. Operasi pada kali itu berlangsung dangan sukses. Akan tetapi, dia meninggal dunia tiga tahun kemudian. Tahun itu dia berusia 76 tahun

 Dia bertemu dengan saya saat berusia 60 tahun dan meninggal dunia pada usia 76 tahun. Putranya sangat berbakti. Putranya mengantarnya pulang sesuai dengan harapannya. Dia bahkan mengantarnya kembali ke Griya Jing Si untuk dilihat oleh saya. Jenazahnya terlihat damai. Setelah itu, dia diantar ke Universitas Tzu Chi untuk menjadi Silent Mentor

 Seusai kelas anatomi, berarti harapannya sudah terwujud. Setelah itu, abunya disebarkan di laut. Dia tak punya kemelekatan. Dia memiliki usaha yang sukses. Dia orang yang sangat berbakti dan penuh cinta kasih

 Dia orang yang sangat setia, bersungguh hati, dan jujur. Selain itu, sejak berusia 60 tahun, hatinya selalu berada dekat dengan saya, dia selalu menjalankan tekad saya. Dia adalah seorang lansia yang sangat setia. Lansia ini adalah murid saya. Dia memiliki pikiran benar, karenanya segala hal yang dilakukannya selalu berhasil dan lancar. Dengan hati yang lapang, dia bekerja sama dengan orang lain

 Dia membangkitkan cinta kasih dan kesabaran untuk memaafkan orang lain. Dia mampu berpegang teguh pada tekad, berbakti, dipenuhi cinta kasih, dan memiliki pikiran benar

 Inilah Bodhisattva dunia. Dalam melatih diri, meski kita menjalani kehidupan makhluk awam, namun apakah kita tak mampu mempraktikkan sikap-sikap tadi? Seharusnya mampu asalkan pikiran kita benar. Saudara sekalian, kita harus senantiasa bersungguh hati dalam menjaga pikiran agar senantiasa benar dan tidak menyimpang. Baiklah. Harap semua orang lebih bersungguh hati.

Leave A Comment