Sanubari Teduh – 138 – Enam Praktek 10 Keyakinan Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, “Batin-Nya hening dan jernih, tekad-Nya luas dan luhur, teguh tak tergoyahkan dalam masa tak terhingga.” Apakah kita berada dalam kondisi ini? Untuk bisa berada dalam kondisi yang indah itu, kita harus terlebih dahulu menyelaraskan pikiran. Beberapa hari ini kita membahas keyakinan. Dalam sepuluh keyakinan, yang pertama adalah keyakinan itu sendiri. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala yang menumbuhkan segala akar kebajikan
Keyakinan ini sangatlah penting. Jadi, kita semua harus memiliki keyakinan yang teguh. Berikutnya adalah pikiran yang berkesinambungan. Jika pikiran kita senantiasa penuh keyakinan yang murni dan benar, tentu kita akan dapat tekun dan bersemangat serta tidak mundur. Inilah kebijaksanaan. Selain memiliki kebijaksanaan, kita juga harus memiliki kegigihan yang teguh. Beberapa hari ini saya berharap kita semua dapat selamanya berada dalam kondisi hening dan tanpa noda, sungguh-sungguh menjaga tekad kita, mengembangkan kebijaksanaan, dan teguh di jalan pelatihan diri. Semua kondisi ini sangat indah
Sulit terlahir sebagai manusia, sulit bertemu ajaran Buddha, lebih sulit lagi berjalan di Jalan Bodhisattva. Jadi, kita harus memiliki tekad yang teguh. Berikutnya kita akan membahas ketidakmunduran. Ini adalah yang keenam. Jika sudah yakin, maka jangan sampai kita mundur atau berpaling. Jadi, kita harus memiliki keyakinan yang tidak pernah luntur. Jika kita dapat teguh tanpa berpaling, berarti cahaya keteguhan kita telah memancar. Keteguhan dan kebijaksanaan kita dengan sendirinya akan terpancar. Manusia hidup ditengah kebodohan
Kebodohan bagaikan kegelapan. Jika batin kita diliputi kegelapan, kita tak akan memahami diri sendiri, apalagi orang lain, bagaikan sebuah ruangan yang tidak disinari matahari dan tidak memiliki lampu. Berapa banyak pun harta yang ada di dalamnya, betapa pun indahnya permata yang ada di sana, jika ruangan itu tak memiliki penerang atau tidak disinari matahari, maka barang-barang indah di sana tidak akan dapat kita nikmati. Kita juga tak dapat melihat bahwa di dalam ruangan itu terdapat banyak permata. Kita tidak tahu. Jadi, kita harus menggunakan cahaya kebijaksanaan. Saat kebijaksanaan dan keteguhan pikiran kita bergabung, maka dengan sendirinya “cahaya” ini akan terpancar. Dengan demikian, kita dapat mengetahui jalan mana yang yang harus kita pilih. kita pasti tahu jalan mana yang harus kita tempuh dan pasti tidak akan tersesat. Jadi, kita dapat memahami diri sendiri, juga memahami orang lain
Demikianlah jika kita memiliki pikiran yang tidak mundur. Dengan himpunan kebijaksanaan dan konsentrasi pikiran, cahaya keteguhan akan memancar. Artinya, kita dapat melihat jelas hakikat diri sendiri. Di dalam batin, kita sudah dapat memahami bahwa setiap orang dan Buddha pada hakikatnya memiliki cinta kasih yang sama. Inilah hati Buddha. Lebih jauh lagi, kita dapat memahami bahwa makhluk awam dan Buddha pada dasarnya memiliki hakikat murni yang sama. Ini sudah sering kita bahas
Hakikat sejati kita sama dengan Buddha, tidak kurang dan tidak lebih. Buddha tidak lebih dari kita dan kita pun tak kurang dari Buddha dalam hal kemurnian hakikat sejati. Saat kebijaksanaan dan keteguhan kita memancar, kita dapat memahami bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Dengan memahami hal ini, kita akan dapat bersemangat dan selamanya tidak akan mundur. Inilah yang disebut terus maju pantang mundur. kita baru dapat melampaui tataran makhluk awam dan mencapai tingkatan kesucian. Jadi, ketidakmunduran sangatlah penting. Berikutnya adalah tekad melindungi Dharma. Kita harus melindungi Dharma
Jika pikiran kita selalu berada di jalan yang lurus ini, kita akan dapat hidup dengan damai, tidak perlu khawatir akan salah jalan atau akan menyimpang. Semua ini tak perlu kita khawatirkan karena pikiran kita, semangat kita, kebijaksanaan kita, konsentrasi atau keteguhan pikiran kita sudah membuat jalan di depan kita terlihat sangat terang. Dengan begitu, kita dapat melangkah maju dengan tenang. Di jalan ini, kita hendaknya tidak hanya berjalan sendiri. Manusialah yang dapat menyebarkan kebenaran, bukan sebaliknya. Buddha datang ke dunia ini untuk membimbing semua makhluk yang tesesat agar dapat memasuki Jalan Bodhisattva yang lapang ini. Demikianlah tujuan Buddha datang ke dunia. Sebagai murid Buddha, kita harus mewariskan misi Buddha dan mewariskan semangat Buddha. Kita harus menyebarkan ajaran Buddha
Karena itu, dikatakan bahwa manusialah yang dapat menyebarkan kebenaran. Ajaran Buddha bisa bertahan lebih dari 2.000 tahun. Zaman kita dan zaman Buddha terpaut lebih dari 2.000 tahun, tetapi ajaran Buddha masih ada hingga kini. Terlebih lagi, ajaran ini semakin terbukti. Ajaran Buddha telah terbukti dari sisi ilmu psikologi, dari sisi pengetahuan ilmiah, serta dari sisi ilmu fisika. Berbagai bidang ilmu di dunia ini sangat sesuai dengan ajaran Buddha dan semakin membuktikan bahwa segala ilmu pengetahuan tersebut tercakup dalam ajaran Buddha
Kita harus semakin yakin bahwa ajaran Buddha sangat bermanfaat bagi umat manusia. Jadi, kita harus membangkitkan tekad untuk menjaga ajaran Buddha agar tidak terdistorsi. Kita bahkan harus lebih aktif dan yakin untuk menyebarkan ajaran ini. Ini sungguh-sungguh merupakan kewajiban kita sebagai murid Buddha. Jadi, selain pantang mundur dan terus melangkah maju dengan tenang di Jalan Bodhisattva ini, kita juga harus bertekad untuk menyebarkan ajaran Buddha. Jangan sampai kita memahami atau mempraktiikan ajaran Buddha secara keliru. Untuk menjadi seorang penyebar Dharma atau seorang pelindung Dharma, kita harus menerapkan ajaran Buddha ini dalam kehidupan sehari-hari, dalam pelatihan kita, agar segala perbuatan kita mencerminkan ajaran Buddha kapan pun dan di mana pun. Kalian mungkin masih ingat suatu hari, saat pertemuan pagi relawan, kita mendengar relawan dari RS Tzu Chi Dalin berbagi tentang seorang bapak. Dia dirawat di RS Tzu Chi Dalin. Dia memiliki seorang putra yang merupakan seorang guru
Putranya ini sangat berbakti. Tak peduli kondisi cuaca, setiap hari dia menjenguk ayahnya. Melihatnya, relawan kita merasa tersentuh. Suatu hari, relawan berkata kepadanya, “Pak guru, Anda sangat berbakti, zaman sekarang sangat sedikit anak yang berbakti seperti Anda.” Guru ini menjawab, “Ini adalah kewajiban sebagai manusia.” “Orang tua telah membesarkan kita, dan kini saat mereka sudah tua, giliran kita yang harus merawat mereka.” “Berhubung kini dia dirawat di rumah sakit, kita harus selalu berada di sisinya.” “Akan tetapi, karena pekerjaan, saya tak bisa menemaninya 24 jam penuh, hanya bisa datang menjenguk sebentar setiap hari.” “Sehari hanya bisa datang dua kali, juga tidak bisa terlalu lama.” “Akan tetapi, kita harus tetap berusaha
” Relawan kita lalu menjawab, “Tampaknya di keluarga kalian yang berbakti bukan hanya Anda seorang.” Dia menjawab, “Ya, inilah didikan keluarga kami.” “Orang tua kami mendidik kami untuk selalu berbakti, jadi kini kami harus menjalankan ajaran ini.” “Selain itu, saya juga harus mendidik anak saya.” “Selain memberi contoh kepada anak dalam keluarga, saya juga harus menjalankan kewajiban sebagai guru, yang berarti juga harus mendidik anak orang lain.” Relawan kita berkata, “Bagaimana pun, didikan keluarga kalian terlihat sangat baik.” “Kalian sangat berbakti.” Dia menjawab, “Saya bukan hanya menjenguk ayah saya.” “Setiap hari saya senang datang ke rumah sakit karena saat dalam perjalanan dari rumah atau dari sekolah selepas mengajar, di jalan saya selalu merasa melakukan seuatu kebajikan luhur. Relawan kita kembali bertanya, “Mengapa bisa berperasaan seperti itu?” Dia menjawab, “Saat menuju RS ini, saya selalu merasa sukacita karena begitu tiba di sini, yang saya lihat adalah kepala RS, wakil kepala RS, para dokter, para perawat, serta para relawan
” “Setiap hari. saat menuju kemari, sepanjang jalan saya merasa sukacita.” “Saya senang berada di sini karena merasakan harumnya kebajikan yang membuat batin kita terasa jernih.” Hari itu, saat mendengar kisah ini di Dalin, saya juga merasa tersentuh. Lihatlah, rumah sakit juga bisa menjadi ladang pelatihan. Di ladang pelatihan tersebut juga terdapat banyak Buddha dan Bodhisattva hidup yang selalu berusaha menyelamatkan kehidupan, melindungi cinta kasih, melakukan praktik nyata untuk menghibur mereka yang menderita, serta memberi inspirasi bagi banyak keluarga. Inilah ladang pelatihan diri yang penuh dengan harumnya kebajikan. Dia berkata bahwa rumah sakit kita memiliki suasana yang membuat batin orang merasa jernih
Suasana ini tercipta berkat himpunan kebajikan setiap orang. Setibanya di sana, dia merasa seakan mencium harumnya kebajikan. Lihatlah, saat masih dalam perjalanan dia sudah bisa merasakan kebajikan itu. Saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit yang merupakan tujuan, dia bagaikan mencapai suatu kebajikan. Selain itu, berkat didikan keluarga yang diberikan lewat keteladanan sang ayah, día dan saudara-saudaranya sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Mereka memiliki pekerjaan masing-masing, tetapi rasa bakti mereka terus dipraktikkan dan tetap diwariskan sebagai nilai keluarga. Selain diri sendiri yang mempraktikkan, di luar dia juga memberi teladan sebagai guru
Inilah usaha melindungi Dharma. Kalian bayangkan, dia adalah perumah tangga. Benar, meski merupakan umat perumah tangga, asalkan menunaikan kewajiban dengan baik, menjaga nilai-nilai keluarga, dan mematuhi norma di masyarakat, maka setiap orang dapat saling membimbing. Ini juga merupakan sebuah cara untuk dapat saling menginspirasi dan membangkitkan kecemerlangan batin yang sama dengan Buddha sehingga semua orang dapat memahami kebenaran dan berpegang pada norma. Ini juga merupakan cara dalam ajaran Buddha. Bagaimana dengan kita? Sebagai kaum monastik, kita masuk ke dalam keluarga besar Buddha, maka harus memikul misi Buddha dan menyebarkan ajaran Buddha. Jadi kita harus mempraktikkan ajaran Buddha dengan ketulusan dari lubuk hati. Inilah keharuman pelatihan atau kebajikan. Jika kita dapat sungguh tulus dan tidak berpaling; jika kita dapat bersemangat untuk melangkah; jika kita dapat memiliki kebijaksanaan dan keteguhan pikiran, maka kita akan dapat terus maju tanpa henti, tidak akan mundur, dan tidak akan menyimpang
Kita akan terus maju di jalan ini. Semua ini membantu pelatihan diri kita. Ke mana pun Anda pergi, Anda akan memengaruhi kondisi di sana sehingga penuh dengan semangat ajaran Buddha. Inilah cermin dari moralitas. Moralitas ini tidak perlu dibicarakan, ia akan tercermin lewat perbuatan. Setiap tindakan kita dalam menghadapi orang dan masalah serta ucapan, ekspresi kita, dll., semua ini merupakan cermin dari moralitas
Ini yang sering disebut ciri-ciri luhur. Asalkan saat Anda mengekspresikan sesuatu orang lain yang melihat merasa sukacita serta timbul rasa hormat dalam hatinya, maka inilah keluhuran. Jadi, harumnya kebajikan atau keluhuran dapat tersebar ke segala penjuru. Jalan yang kita tempuh ini adalah benar. Kita harus membimbing orang untuk turut menapakinya. Kita harus sungguh-sungguh membimbingnya. Dengan begitu, kita baru bisa memengaruhinya. Ini yang disebut memberi pengaruh positif
Jadi, harumnya kebajikan dapat menyebar ke segala penjuru dan memengaruhi orang banyak. Saat melihat tindak-tanduk seseorang dan caranya bertutur kata, adakalanya kita ingin mendidiknya. Akan tetapi, jika disebut mendidik, kadang orang lain sulit menerimanya. Kita harus berusaha memengaruhinya. Inilah metode mengajar yang bijaksana. Inilah usaha untuk melindungi Dharma. Saudara sekalian, melindungi Dharma sangatlah penting
Sesungguhnya, dalam hidup ini, selain saat berada dalam kondisi sehat kita dapat melakukan berbagai hal, saat dapat berekspresi pun kita juga dapat memengaruhi banyak orang. Hingga pada akhir hayat, tubuh ini juga dapat kita donorkan bagi sekolah kedokteran agar para mahasiswa dapat memahami anatomi manusia. Begitu banyak misteri pada tubuh manusia. Jika hanya dijelaskan dengan kata-kata, adakalanya tidak begitu jelas. Karena itu, dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam. Saya sudah membaca buku Guru Tanpa Suara yang mengisahkan para Silent Mentor Tzu Chi. Isinya sangat menyentuh. Ada seorang nenek yang sudah berusia sekitar 80 tahun. Dia adalah seorang nenek yang baik. Dia memiliki cucu yang berusia 21 tahun
Cucu ini dan ayahnya adalah anak tunggal. Akan tetapi, sang cucu ini meninggal pada tahun 2002. Nenek ini sangat bijaksana dan tegar. Dia berkata kepada cucunya dalam hati, “Kami semua memutuskan untuk mempersembahkan tubuhmu bagi Tzu Chi.” “Kamu pergi lebih dahulu, nanti nenek akan menyusulmu.” “Kelak kita lahir bersama di keluarga besar Tzu Chi.” “Kamu harus patuh.” “Cucuku, seumur hidup ini kamu sangat patuh, kamu sangat penurut.” “Kamu sekarang sangat beruntung, sudah kami antarkan ke keluarga besar Tzu Chi.” “Kelak nenek juga akan sepertimu, berada di keluarga besar Tzu Chi
” Melihat kisah ini, saya segera mendalaminya. Saya memahami bahwa cucu dari nenek ini sejak duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar sudah sering mengeluh sakit pada kakinya. Berhubung ayahnya juga adalah putra tunggal, maka ayah dan ibu dari sang cucu ini harus bekerja di luar daerah, sedangkan sang cucu diasuh oleh neneknya. Mendengar cucunya sering mengeluh sakit, neneknya mengantarnya ke dokter, tetapi sakitnya tak kunjung membaik. Saat diperiksa di rumah sakit besar, ternyata ototnya mengalami penyusutan. Penyakitnya ini semakin lama semakin parah. Meski telah berobat ke mana-mana, dia tetap tak kunjung sembuh. Akhirnya, dia belajar dengan guru privat di rumah
Dinas pendidikan juga memberi izin. Jadi, anak ini dirawat di rumah oleh kakek dan neneknya. Gurunya juga datang ke rumah untuk mengajarnya hingga lulus sekolah menengah. Guru ini juga mengajari dia menggambar. Pamannya mengajarinya menggunakan komputer. Anak ini sungguh penurut meski tubuhnya memiliki keterbatasan dan sering merasa sakit. Kakek dan neneknya sangat menyayanginya. Kadang mereka mendorongnya dengan kursi roda
Suatu saat mereka lewat di depan posko daur ulang kita dan melihat seorang relawan daur ulang yang sedang memungut karton dan memilah sampah. Anak ini bertanya, “Untuk apa kalian mengumpulkan semua ini?” “Untuk menyelamatkan bumi,” jawab relawan. “Semua sampah ini dapat didaur ulang.” “Jika kita mengumpulkan dan memilahnya, maka dapat dijual dan hasilnya didonasikan untuk membantu seorang Master di Hualien menolong orang.” “Benarkah begitu?” Sejak saat itu, nenek ini mengajak cucunya melakukan daur ulang. Cucunya duduk di kursi roda. Saat neneknya mendorongnya menuju posko daur ulang, cucunya ini berkata, “Nek, di sana ada botol plastik
” “Nek, di sana ada karton.” Neneknya pun akan memungutnya. Dia lalu membantu neneknya merapikan barang itu. Mereka terus melakukan itu hingga sang cucu berusia 21 tahun. Pada bulan September 2002, neneknya tiba-tiba terkena flu. Sang cucu berkata pada neneknya, “Nek, kalau Nenek sakit, harus pergi ke dokter.” “Nenek harus menjaga kesehatan sendiri.” “Neneknya merasa terhibur saat mendengarnya
” Di hari yang sama, sang cucu berkata, “Nek, saya merasa aneh.” “Saya melihat rumah sudah selesai dibangun.” “Sudah selesai dibangun ya sudah, tetapi mengapa harus diberi dekorasi?” Sang nenek tidak begitu peduli dengan apa yang dikatakan cucunya. Mereka pun pergi tidur. Keesokan harinya, sang cucu sudah tidak bernapas. Dia meninggal dengan tenang. Nenek ini pun merasa cucunya sudah terbebas dari penderitaan. Mereka juga sudah merawatnya dengan baik. Meski menderita sakit dan harus duduk di kursi roda, sang cucu ini sangat penurut. Meski yang merawat hanya kakek dan neneknya, sang cucu ini tetap sangat patuh
Kini sang cucu telah meninggal, apa lagi yang bisa dia lakukan bagi masyarakat? Sang nenek pun memutuskan untuk berunding dengan anaknya dan berkata, “Kita persembahkan saja cucu saya, anakmu, kepada Tzu Chi sebagai Silent Mentor. untuk sekolah kedokteran agar para dokter dan mahasiswa bisa belajar dan meneliti mengapa ada penyakit seperti itu.” Anak sang nenek ini pun sangat berbakti. Dia adalah putra tunggal. Lima orang saudarinya juga sangat berbakti. Mereka menerima usulan sang nenek, lagi pula cucu ini memang dibesarkan olehnya. Sang kakek juga setuju. Jadi, mereka membawa jenazah sang cucu ini dari wilayah tengah ke Hualien
para mahasiswa kita berhubungan dekat dengan keluarga itu. Lima putri sang nenek juga menjadi relawan, sedangkan putra tunggalnya juga telah mengikuti pelatihan dan sudah dilantik. Bahkan sang kakek dan nenek itu sendiri pun juga telah masuk ke dalam keluarga Tzu Chi berkat jalinan jodoh dari sang cucu. Setelah mengenal Tzu Chi lebih dalam, mereka semakin memahami makna kehidupan. Jadi, mereka sekeluarga sama-sama menapaki Jalan Bodhisattva. Bukan hanya itu, mereka juga senantiasa melindungi Dharma. Lihatlah, mereka adalah perumah tangga. Setelah menyerap ajaran Buddha, mereka memahami dan menghormati hukum alam. Setelah sang cucu meninggal, mereka membantunya mendonorkan tubuh untuk membawa manfaat bagi banyak orang
Saudara sekalian, kita semua sebagai praktisi Buddhis hendaknya melenyapkan keakuan. Saat masih dapat melakukan banyak hal, maka segeralah lakukan hal yang benar. Jika tidak, saat ajal menjemput, kehidupan kita akan berakhir tanpa makna. Kita harus memiliki kebijaksanaan. Jadi, kebijaksanaan, keteguhan pikiran, ketidakmunduran, dan usaha melindungi Dharma harus kita miliki. Untuk itu, harap semua lebih bersungguh hati.