Sanubari Teduh – 137 – Enam Praktek 10 Keyakinan Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, dalam kondisi yang hening ini, batin kita harus memiliki suatu pikiran yang tidak boleh tidak ada, yakni keyakinan. Orang yang tidak memiliki keyakinan tidak akan berada di sini untuk berlatih, bekerja, dan belajar bersama. Jadi, kita semua sama-sama memiliki keyakinan
Keyakinan sangat penting. Kita telah membahas tentang enam indra, enam kesadaran, enam persepsi, enam sensasi, hingga enam praktik. Enam praktik ini merupakan rangkaian proses dalam pelatihan diri kita. Untuk mencapai kebuddhaan, enam praktik ini tak boleh tidak ada. Enam praktik terbagi lagi ke dalam 10 poin
Pertama adalah sepuluh keyakinan. Kita sudah membahas sepuluh keyakinan ini. Yang pertama adalah keyakinan itu sendiri. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala yang menumbuhkan segala akar kebajikan. Jadi, jika tidak memiliki keyakinan, kita tak dapat memasuki pintu ajaran Buddha, terlebih lagi masuk ke keluarga besar Buddha. Intinya, sepuluh keyakinan adalah landasan dalam praktik menuju tiga jenis kesucian. Tiga kesucian adalah Arhat, Pratyekabuddha, dan Bodhisattva. Inilah tiga jenis kesucian. Demikian pula, untuk menapaki Jalan Bodhisattva, kita harus mulai dari praktik Enam Paramita. Kita semua tahu Enam Paramita, yakni dana, sila, kesabaran, semangat, dan sebagainya. Enam hal tadi dapat dijabarkan dengan lebih terperinci lagi. Mengenai berdana, dalam menghadapi berbagai makhluk yang menderita, sebagai Bodhisattva haruslah membangun tekad. Kita harus merespon segala penderitaan semua makhluk dengan berbagai metode terampil untuk melenyapkan penderitaan itu. Metode terampil ini disesuaikan dengan kebutuhan setiap makhluk. Jadi, dalam menapaki Jalan Bodhisattva, Enam Paramita harus terus dipraktikkan. Praktik Enam Paramita ini harus dilandasi oleh keyakinan. Keyakinan ini adalah yang utama
Jadi, jika kita tidak memiliki keyakinan, maka ke mana kita harus melangkah dan ke mana kita harus masuk, kita tak akan memiliki arahan. Dari sini kita tahu pentingnya keyakinan. Untuk memasuki tataran kesucian dari tataran awam, diperlukan keyakinan sebagai landasan. Keyakinan ini yang akan mengarahkan kita. Jadi, kita harus memulai semuanya dari keyakinan. Keyakinan akan membawa kita masuk pintu Dharma. Akan tetapi, keyakinan saja tidak cukup, kita juga harus memiliki tekad. Jadi, setelah keyakinan bangkit dan mengarahkan kita pada pembangkitan tekad, barulah kita dapat merealisasi sepuluh keyakinan. Jadi, sepuluh keyakinan ini juga merupakan pintu pertama kita dalam melatih diri, juga merupakan metode terampil dalam Jalan Bodhisattva. Siapakah orang yang dapat mengatakan, “Saya sudah mendengar ajaran Buddha, sudah sadar, dan kini sudah menjadi Buddha?” Tidak mungkin. Setiap orang harus melewati jalan ini
Baik keyakinan awal, tekad awal, dan ikrar awal, semuanya harus dimulai dengan teguh. Jadi, pikiran kita harus teguh. Keyakinan sangatlah penting. Dengan memiliki keyakinan yang teguh, barulah kita dapat melenyapkan pemikiran keliru. Yang paling menakutkan adalah jika keyakinan kita ternoda oleh noda batin dan pemikiran keliru. Keyakinan kita yang murni akan mudah terpengaruh. Jadi, kita telah membahas tentang pikiran. Yang kedua adalah pikiran
Keyakinan harus terus ada dalam pikiran. Yang lebih penting, pikiran ini harus memiliki keyakinan dan kejernihan. Jika kita dapat membuang pemikiran keliru dan memiliki pikiran yang jernih, maka keyakinan ini dengan sendirinya akan sempurna. Jadi, pikiran kita tidak boleh lengah sedikit pun. Setelah memiliki keyakinan, kita harus senantiasa memegang teguh keyakinan ini. Kita harus memperteguh keyakinan kita. Dengan keyakinan yang teguh, barulah kita dapat memahami segala kebenaran. Meski kini mempelajari ajaran Buddha, tidak berarti kita dapat mencapai kebuddhaan dalam satu kehidupan
Kita juga sering mendengar Buddha menyebutkan tentang “tiga Asamkhyeya Kalpa”. Berapa lamakah tiga Asamkhyeya Kalpa? Tidak dapat dihitung. Karena itu, dalam ajaran Buddha sering disebutkan “sejak masa tanpa awal”. Waktu dalam ajaran Buddha sering digambarkan demikian, artinya adalah waktu yang sangat panjang. Inilah masa tanpa awal, tidak berhingga dan tidak berawal. Ini berarti dibutuhkan waktu yang sangat panjang. Jika kita pikir-pikir, pelatihan diri tiada habisnya
Benar, pelatihan diri memang tiada habisnya. Akan tetapi, kondisi batin kita hendaknya senantiasa hening dan jernih. Di tengah proses melatih diri, di dalam kehidupan ini, siapakah orang yang tidak memiliki kerisauan? Siapakah yang tak pernah bertemu kesulitan? Akan tetapi, dalam proses melatih diri ini, segala kerisauan yang kita temui akan dapat kita selesaikan dengan cepat. Kesulitan apa pun yang kita hadapi, asalkan kita memiliki keyakinan dan pikiran jernih, maka kita akan dapat melihat bahwa kesulitan ini sesungguhnya bukan kesulitan, segalanya masih sangat harmonis dan mudah untuk dilalui. Kita harus memiliki keyakinan yang teguh terhadap diri sendiri. Keyakinan ini juga harus terus ada dan tidak boleh terputus. Jika bisa demikian, maka tidak masalah berapa banyak pun kelahiran yang kita alami. Berapa banyak pun kelahiran dan kematian yang kita alami, selama kita memiliki keyakinan, kita akan terus kembali ke dunia ini dengan pikiran yang penuh keyakinan. Bukankah para Buddha dan Bodhisattva demikian? Mereka datang ke dunia untuk menyelamatkan semua makhluk
Mereka datang dengan kekuatan tekad. Jadi, berapa kelahiran pun yang mereka lewati, keyakinan dalam pikiran ini tidak pernah hilang. Saya sering membahas tentang memelihara kebiasaan. Jika kini kita dapat memelihara keyakinan ini, maka dari kehidupan ke kehidupan kita tak akan melupakannya. Pikiran ini akan penuh keyakinan yang teguh. Berikutnya adalah semangat. Pikiran yang penuh keyakinan saja tidak cukup. Kita sungguh harus tekun dan bersemangat
Ada orang berkata, “Kalau baik hati, ada, saya sudah baik hati.” “Saya juga melafalkan nama Buddha, saya juga meyakini Buddha.” “Sungguh, saya tak pernah mencelakai orang.” “Jadi, saya termasuk orang baik.” Memang benar, orang seperti itu berhati baik, senantiasa berpikiran baik, tetapi masih kurang, yakni kurang praktik nyata. Jika memiliki hati yang baik, kita harus melakukan kebaikan. Jika hanya memiliki hati yang baik tanpa berbuat baik, maka masih belum cukup. Jadi, yang ketiga adalah semangat
Kita hendaknya memiliki pikiran penuh semangat, artinya memiliki kecemerlangan yang murni. Jika kita tekun dan bersemangat, berarti kita tak akan terganggu kerisauan dan tidak akan mundur. Pikiran kita harus cemerlang dan murni. Inilah yang disebut kemurnian, amat cemerlang dan jernih, bagaikan bola kristal. Lihatlah wujud rupang Buddha kita. Rupang Buddha ini sangat jernih dengan tangan yang membelai bumi. Bumi itu juga terlihat transparan dan sama jernihnya
Kita dapat melihatnya dengan jelas dan dapat mencoba merabanya. Permukaannya terasa rata. Kini, semua rupang Buddha yang kita buat sangat baik dan jernih, sungguh terlihat murni. Pembuatannya menggunakan bahan yang menggambarkan batin kita. Pada dasarnya, batin kita penuh dengan kecemerlangan dan semangat. Cemerlang berarti jernih. Selain itu, kita harus terus maju dan tidak berhenti. Dalam mempelajari ajaran Buddha, bukankah kita ingin melatih diri? Kita harus melatih pikiran kita, meneguhkan keyakinan, dan terus melangkah dengan tekun dan bersemangat. Inilah praktik
Inilah praktik melatih diri. Jika ingin melatih diri tanpa praktik, bagaimana bisa kita benar-benar berlatih? Tidak bisa. Karena itu, ada ungkapan berbunyi, “Jika tidak melewati masalah, kebijaksanaan tak akan tumbuh.” Ada orang yang dalam melatih diri berkata, “Saya berlatih dengan menyepi dan menutup diri, tidak bersentuhan dengan dunia luar.” Apakah ini yang disebut melatih diri? Tidak juga. Kita harus banyak menjalin jodoh baik. Sebuah ungkapan berbunyi, “Sebelum menjadi Buddha, harus terlebih dahulu menjalin jodoh baik
” Meski menjalin jodoh dengan banyak orang, tetapi Anda tidak tercemar dan tidak ternoda oleh kerisauan. Akan tetapi, Anda tetap dapat menjalin jodoh baik. Ini juga disebut cemerlang. Jalinan jodoh ini sangat murni dan tidak tercemar. Jadi, Buddha datang ke dunia untuk menyelamatkan semua makhluk, tetapi tanpa jalinan jodoh baik, tak akan dapat menyelamatkan semuanya. Jadi, kita harus banyak menjalin jodoh baik dengan orang. Inilah kecemerlangan dan semangat. Batin kita tetap tidak ternoda. Karena itu, kondisi ini disebut kemurnian yang sempurna
Mengenai kecemerlangan, kita menggunakan Dharma yang luar biasa, sempurna, tanpa noda, dan sangat murni. Saudara sekalian, mendengarnya saja kita mungkin merasa praktik seperti ini sungguh sulit. Menghadapi banyak orang, tetapi tidak terpengaruh, juga tidak dipenuhi noda batin, ini sungguh tidak mudah. justru karena tidak mudah, baru disebut melatih diri. Makhluk awam memang merasa ini sulit. Akan tetapi, berhubung kita ingin menuju tataran kesucian, maka kita harus mengatasi kesulitan itu. Kita harus mengubah kesulitan itu menjadi tiada yang sulit. Inilah yang disebut menjalankan yang sulit dijalankan. Meski menghadapi masalah yang sulit, asalkan kita memiliki ketekunan dan semangat, maka tiada yang tak dapat diatasi. Jadi, kecemerlangan yang murni dan sempurna ini jika dapat kita rasakan dengan sungguh-sungguh, ia merupakan kondisi yang sangat indah. Jadi, kita harus sungguh tekun dan bersemangat
Kita harus terus maju dengan pikiran yang tulus dan murni. Melatih diri bertujuan untuk kembali pada hakikat sejati yang murni. Jadi, terhadap orang-orang yang kita temui dan berbagai masalah yang kita hadapi, pikiran kita harus senantiasa memegang teguh kemurnian ini. Jadi, kita semua harus sangat bersungguh hati, baru dapat membangkitkan hakikat yang murni ini sehingga tidak ternoda dalam usaha kita melatih diri di dunia ini. Berikutnya adalah kebijaksanaan. Untuk dapat bertindak dengan bijaksana, kita harus bersungguh hati. Kebijaksanaan adalah kecemerlangan hati yang terpancar. Ini adalah kecemerlangan yang paling murni. Setelah kita tekun melatih diri, maka batin kita akan terlatih
Tadi kita sudah membahas bahwa kita harus bersemangat dan tidak ternoda dalam menghadapi berbagai masalah. Berhubung telah menghadapi banyak orang dan hal dengan hati yang murni dan tanpa noda, maka kita memperoleh kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah wujud dari kecemerlangan batin. Kecemerlangan ini menggambarkan pikiran yang penuh semangat dan penuh kemurnian. Ini adalah kondisi yang paling murni. Saat kemurnian batin ini terpancar, setiap orang yang kita temui juga akan terlihat murni; segala hal yang kita temui juga akan terlihat tanpa noda. Kita sering mendengar ungkapan, melihat orang dengan hati Buddha, maka setiap orang terlihat seperti apa? Buddha. Inilah batin yang bijaksana
Kita harus bersungguh-sungguh dan menggunakan pikiran yang jernih dalam melihat orang. Dengan demikian, secara alami kondisi batin kita juga akan senantiasa murni. Inilah kebijaksanaan yang murni. Kebijaksanaan yang murni ini pada dasarnya selalu ada dalam batin kita. Batin bagaikan sebuah cermin. Cermin ini selamanya sangat cemerlang. Asalkan kita dapat menggunakan metode yang tadi kita bahas, maka kegelapan dan noda batin dengan sendirinya akan terkikis selapis demi selapis sehingga cermin batin kita ini akan kembali cemerlang. Inilah kebijaksanaan murni yang terbangkitkan dengan sendirinya
Dengan demikian, maka tiada yang sulit. Jadi, dalam melatih diri, yang terpenting adalah melatih kebijaksanaan. Jika kita dapat selalu memiliki pikiran yang cemerlang dan murni, maka kita akan melewati kehidupan kita dengan indah. Ini karena kita telah menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Setiap orang yang kita temui dapat kita kasihi; setiap orang yang bertemu kita dapat mengasihi kita. Rasa hormat dan cinta kasih ini berasal dari kebijaksanaan kita. Semua ini berawal dari munculnya kebijaksanaan murni dalam kehidupan sehari-hari kita. Ini sangatlah penting
Akan tetapi, untuk memperoleh kebijaksanaan ini ada sesuatu yang juga sangat penting. Inilah yang kelima, yakni keteguhan atau konsentrasi pikiran. Artinya, kita harus teguh. Tadi kita telah membahas keyakinan, kini kita akan membahas keteguhan. Jika Anda tidak memiliki keyakinan, tidak memiliki pikiran yang berkesinambungan, bagaimana mungkin kita dapat bersemangat? Jika tidak bersemangat, bagaimana kebijaksanaan akan muncul? Untuk memunculkan kebijaksanaan, kita harus mempertahankan pikiran yang murni. Karena itu, keteguhan pikiran sangatlah penting. Arti dari keteguhan ini adalah menggenggam pengetahuan yang dimiliki dan dapat senantiasa hening. Dengan memiliki keheningan, barulah kita dapat mempraktikkan kebijaksanaan kita; barulah kebijaksanaan kita akan terpancar. Baik berada di tempat yang gaduh, atau tempat yang penuh kepelikan maupun menghadapi berbagai kesulitan, jika pikiran kita tetap teguh, maka kebijaksanaan kita akan muncul dan segala sesuatunya dapat kita hadapi dengan tenang
Kita sering membahas tentang kondisi batin yang hening dan jernih. Bagaimana pun tercemarnya kondisi di luar, sesungguhnya batin kita dapat senantiasa hening, tiada yang dapat memengaruhinya. Sebuah ungkapan berbunyi, “Hening di tengah gejolak.” Melatih diri bukan berarti menghindari gejolak dan pergi ke tempat yang sunyi. Yang harus hening adalah batin kita. Sesungguhnya, di tempat yang semakin sunyi, batin kita akan lebih mudah bergejolak. Kita sering mendengar bahwa orang yang menderita depresi gemar mengurung dirinya sendiri
Dia menutup diri, namun pikiran keliru terus muncul dalam batinnya. Jadi, batinnya pun tak dapat tenang. Terhadap penderita depresi seperti itu, kita mendorongnya untuk keluar, berinteraksi dengan orang lain, berbicara, dan melakukan kegiatan. Di posko daur ulang Tzu Chi, banyak orang yang tadinya menderita depresi, tidak dapat menenangkan hati, dan sering menutup diri dalam kerisauan. Mereka sangat menderita. Semua orang di dunia ini seakan bersalah pada mereka. Semua kesulitan seakan tak mampu mereka lewati. Karena itu, mereka mulai menutup diri. Banyak Bodhisattva dunia atau insan Tzu Chi mulai memberi bimbingan perlahan-lahan setelah mengetahui kisah mereka. Insan Tzu Chi berbicara dengan mereka tentang hal-hal yang dapat membuka pintu hati. Insan Tzu Chi memberi mereka penghiburan
Akan tetapi, berbicara saja belum cukup. Insan Tzu Chi harus perlahan-lahan membimbing dan mendampingi mereka untuk keluar dari keterpurukan itu. Insan Tzu Chi terlebih dahulu membangun keyakinan mereka agar mereka tahu bahwa kondisi bumi sekarang terus-menerus mengalami kerusakan, dan ini disebabkan oleh ulah manusia yang terus mengeksploitasi alam sehingga keselarasan iklim terganggu. Fungsi konservasi air tidak dijaga, sumber daya alam terus dieksploitasi, sehingga terjadilah pencemaran lingkungan. Ini sangat tidak menguntungkan bagi manusia. Kita semua memiliki tanggung jawab atas semua ini. Kita harus menyelamatkan bumi; kita harus menghargai berkah; kita harus melakukan daur ulang. Ini menciptakan pahala yang tak terhingga. Demikianlah insan Tzu Chi membimbing mereka hingga perlahan-lahan keluar dari keterpurukan. Selama mereka berada di posko daur ulang, banyak orang yang berbagi dengan mereka sehingga mereka merasa gembira dan tidak sendirian
Di saat yang sama, tangan mereka melakukan hal yang dapat menyelamatkan bumi. Mereka mengubah sampah menjadi cinta kasih, dan cinta kasih menjadi aliran jernih yang dapat mengitari dunia. Mereka dapat merasa kehidupan mereka mulai memiliki makna. Mereka sangat gembira saat bersumbangsih. Mulanya, mereka merasa sendirian, asing dari dunia luar, dan sangat kesepian. Di tengah kesendirian, batin mereka malah bergejolak. Pemikiran keliru pun terus muncul. Mereka merasa kehidupan ini sangat menderita. Karena itu, insan Tzu Chi membimbing mereka. Setelah memiliki kegiatan dan ada orang yang mendampingi, secara alami pemikiran keliru mereka perlahan-lahan mulai teratasi
Jadi, mereka melakukan semuanya hingga melupakan kerisauan pribadi. Mereka merasa bahwa dengan melakukan itu, mereka tidak lagi terbelenggu oleh kerisauan di dalam diri mereka. Jadi, apa pun gejolak yang terjadi di sekitar kita, asalkan batin kita terlatih, maka kita tidak akan terpengaruh. Inilah kebijaksanaan. Inilah keteguhan pikiran. Kita juga sering mendengar orang berkata, “Apa yang sedang kamu pikirkan?” “Saya lewat di depanmu, kamu juga tidak tahu.” Apa yang dipikirkan itu adalah pemikiran keliru atau pemikiran ilusif. Akan tetapi, jika Anda sedang melakukan sesuatu, sehingga tidak tahu saat saya lewat, itu malah sangat bagus, karena Anda sangat berkonsentrasi pada pekerjaan itu. Jadi, jika memiliki kebijaksanaan, kita akan dapat senantiasa tenang dan hening, pikiran pun dapat terfokus pada satu kondisi. Kondisi yang hening dan jernih ini adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini membuat kita tidak terpengaruh lingkungan saat melakukan sesuatu
Inilah konsentrasi atau keteguhan pikiran. pelatihan diri memiliki tahapan. Kita hendaknya dapat mengikuti tahapan ini mulai dari enam praktik. Untuk memasuki jalan Buddha, kita harus melewati enam praktik ini. Yang pertama adalah praktik sepuluh keyakinan. Dalam sepuluh keyakinan, kita harus melewati berbagai tahapan yang berkaitan dengan kondisi batin, yakni keyakinan, pikiran, semangat, kebijaksanaan, konsentrasi. Ini baru lima yang pertama. keyakinan adalah ibu dari segala pahala
Harap semua selalu bersungguh hati. Jika di awal kita tidak memiliki keyakinan murni, maka kita tak akan dapat melanjutkan perjalanan ini. Karena itu, senantiasalah bersungguh hati.