Sanubari Teduh – 136 – Enam Praktek 10 Keyakinan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, saat ini, kondisi ini, bagi saya adalah sebuah kondisi yang hening. Suara di luar dapat kita dengan dengan jelas. Baik ada suara maupun tidak, kita dapat mengetahuinya dengan jelas. Inilah kondisi yang hening dan jernih. Kalian mungkin berpikir, “Tiada suara juga merupakan suara.” Tiada suara juga merupakan suara. Kita dapat mendengar suara keheningan
Inilah kondisi batin yang harus selalu kita pertahankan. Yang kita bahas sekarang berkaitan dengan perasaan. Perasaan ini dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah lepas dari batin kita. Jadi, mengenai perasaan, ada beberapa jenis, tepatnya ada enam. Kita telah membahas enam kesadaran. Kesadaran timbul akibat reaksi antara indra dan objek. Dari reaksi ini kita juga merasakan sensasi atau perasaan. Setelah kesadaran bereaksi dan kita dapat merasakan, kita baru dapat membedakan
Jadi, enam sensasi adalah perasaan yang kita rasakan saat kontak antara indra dan objek terjadi. Kini, kita dapat merasakan burung berkicau di luar. Apakah burung hanya berkicau saat ini? Burung berkicau sepanjang hari, hanya saja saat ini kondisi sangat hening, jadi kita dapat lebih jelas mendengarnya. Di luar juga ada serangga yang berderik. Kondisi saat ini sangat hening. Jadi, kita dapat mendengar berbagai suara. Perasaan kita biasanya tidak terlalu peka. Sesungguhnya, kondisi ini selalu ada, kondisi pada pagi hari umumnya sama, hanya saja indra kita belum tentu bersentuhan dengannya. Kalaupun bersentuhan, apakah kita merasakannya? Apakah kita menyadarinya? Dapatkah kita merasakannya? Ada orang yang bilang dirinya tak dapat merasakan rasa makanan
Jelas-jelas sudah mencicipi makanan, tetapi adakalanya kita lupa apakah rasanya manis, asin, atau asam. Lidah kita jelas-jelas bersentuhan dengan makanan itu, tetapi kita tidak bersungguh hati. Mungkin sambil makan, kita sembari mengobrol, maka lupa apa yang sedang kita makan. Demikianlah, meski indra dan objek sudah bersentuhan, tetapi adakalanya kita tidak menyadarinya. Untuk menyadarinya, kita harus merasakan. Jadi, sensasi atau perasaan juga kita alami dalam keseharian. Untuk terlahir sebagai makhluk, ada 12 mata rantai sebab akibat yang harus terpenuhi, termasuk kesadaran, perasaan, indra, dll
Semua ini termasuk dalam 12 mata rantai sebab akibat. Jadi, perasaan pun berawal dari kontak antara indra dan objek. Mengenai perasaan, dalam aktivitas seharian kita, kita tak akan luput dari perasaan ini. Tadi kita membahas bahwa adakalanya, dalam keseharian kita tidak menyadari atau tidak merasakan kontak antara indra dan objek. Hal-hal demikian amat sering terjadi. Dalam satu hari, banyak hal yang tidak kita rasakan dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, enam jenis perasaan ini akan tetap ada
Enam jenis perasaan ini akan terasa baik saat berjalan, berdiri, duduk, tidur, berbicara, diam, bergerak, maupun bergeming. Semua ini pasti dapat kita rasakan. Jika tidak, mungkin saraf kita ada yang rusak atau mengalami disfungsi. Jadi, kita harus tahu bahwa perasaan ini selalu ada dalam keseharian baik saat kita bergerak, berdiam diri, maupun yang lainnya. Kita selalu memiliki perasaan. Hal-hal yang dirasakan sangatlah banyak. Segala aktivitas kita tak lepas dari perasaan, baik gembira, marah, maupun segala reaksi terhadap kondisi
Intinya, dengan adanya kontak antara enam indra dan enam objek, pasti timbul perasaan. Setelah adanya perasaan yang membedakan, barulah karma dapat tercipta. jika kita dapat selalu bersungguh hati, maka saat indra bersentuhan dengan objek, kita dapat mengenali perasaan kita dengan baik. Misalnya, timbul rasa sukacita. Apakah rasa sukacita ini benar atau tidak, kita pun harus harus menyaringnya dengan cermat
Inilah proses terjadinya bentuk-bentuk karma yang halus. Berikutnya, kita akan membahas Enam Praktik. Tadi kita sudah membahas enam jenis perasaan. Semua ini muncul dalam keseharian kita. Saat indra kita bersentuhan dengan objek luar, munculnya perasaan tak dapat dihindari. Setelah membahas enam perasaan ini, kini kita akan membahas Enam Praktik. Ini merujuk pada praktik ajaran Buddha
Kini kita harus bersungguh hati mempelajari ajaran Buddha. Makhluk awam dipengaruhi begitu banyak faktor, seperti indra, kesadaran, perasaan, dll. Kini kita seharusnya tahu bahwa dalam kehidupan ini, kita selalu berhadapan dengan orang dan hal. Terhadap orang, bagaimana kita harus memperlakukan mereka? Terhadap hal, bagaimana kita mengerjakan segala hal? Kita harus memilih apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kita harus memilih mana yang boleh dan tidak boleh dikatakan. Kita harus memilih bimbingan mana yang harus kita berikan. Untuk itu, kita harus mempelajari ajaran Buddha
Enam praktik adalah praktik yang dikembangkan Buddha setelah mencapai pencerahan untuk membimbing semua makhluk. Kita harus meneladani Buddha dalam praktik ini. Meneladani Buddha berarti meneladani tekad dan ikrar Buddha. Metode pelatihan diri Buddha bukanlah mencari pembebasan pribadi. Buddha melatih diri untuk memberi manfaat bagi semua makhluk. Untuk itu, kita harus terlebih dahulu membangun keyakinan. Sebuah ungkapan berbunyi, “Keyakinan adalah ibu dari segala pahala yang menumbuhkan segala akar kebajikan
” Dalam mempelajari ajaran Buddha, jika kita tidak yakin terhadap keluhuran Buddha, maka kita tak akan dapat mencapai kebuddhaan. Jadi, keluhuran dan kesempurnaan tindakan Buddha harus kita yakini dengan teguh. Kita harus menaklukkan keraguan dengan keyakinan. Saat melatih diri, di tengah keheningan, Buddha menaklukkan Mara di dalam batin-Nya. Di dalam Sutra banyak tertulis kisah Buddha yang menaklukkan Mara. Sesungguhnya Mara yang mana yang ditaklukkan? Mara dalam batin. Jadi, saat timbul keraguan, akan banyak pemikiran keliru yang muncul
Jadi, kita harus meneguhkan keyakinan. Terhadap keluhuran Buddha, jangan ada keraguan dalam hati kita. Jadi, kita harus memiliki keyakinan yang teguh. Terlebih dahulu, kita akan membahas Sepuluh Keyakinan. Sepuluh Keyakinan sebagian besar berkaitan dengan praktik pelatihan diri. Ini juga merupakan awal dari praktik tiga jenis kesucian, yakni Arhat, Pratyekabuddha, dan Bodhisattva. Semua itu adalah tingkatan kesucian. Untuk mencapai salah satu dari ketiganya, baik Arhat, Pratyekabuddha, maupun Bodhisattva, kita harus memulainya dengan keyakinan
Jadi, segala praktik melatih diri harus diawali dari keyakinan. Perilaku kita dalam pelatihan diri jika tidak didasari keyakinan yang benar, maka tentu akan mengarah pada ketersesatan. Jadi, kita harus memiliki keyakinan, dan keyakinan ini harus benar. Inilah landasan dari segala praktik. Untuk melampaui tataran makhluk awam dan memasuki tataran kesucian, kita pasti harus terlebih dahulu memiliki keyakinan sebagai petunjuk awal bagi kita. Dengan begitu, barulah kita dapat memasuki arus kesucian. Untuk mencapai buah kesucian apa pun, pasti diperlukan keyakinan sebagai penunjuk awal kita. Sama seperti saat menghadiri rapat, untuk menuju tempat duduk kita, ada orang yang memberi petunjuk, “Mari, di sini tempat duduk Anda.” Inilah keyakinan
Buah kesucian apa pun yang kita tuju, kita tetap membutuhkan keyakinan sebagai penunjuk awal perjalanan kita. Jadi, kita harus mengutamakan keyakinan. Konfusius berkata bahwa manusia tanpa keyakinan bagaikan kereta tanpa penarik, tanpa pengarah. Untuk dapat menarik kereta, dibutuhkan kuda atau sapi. Jadi, manusia harus memiliki keyakinan. maka seperti yang Konfusius katakan, entah apa yang dapat dikerjakan oleh orang seperti itu. Apa yang dapat dia lakukan? Jika keyakinan menyimpang dan goyah, maka kita mungkin akan tersesat jauh. Jika menyimpang dari jalan benar, kita akan mengarah pada jalan yang sesat. Jadi, keyakinan sangatlah penting bagi praktisi Buddhis
Terlebih lagi, keyakinan ini harus benar. Jadi, kita harus membangkitkan tekad. Jika memang memiliki keyakinan, kita harus membangun ikrar agung. Keyakinan adalah dasar, dan ikrar harus dibangun di atasnya. Jadi, jika keyakinan kita benar, maka tekad kita pun pasti benar. Jika keyakinan kita teguh, maka ikrar kita juga akan luhur. Inilah keyakinan, tekad, dan praktik. terutama bagi praktisi Jalan Bodhisattva, keyakinan adalah dasar dari segalanya. Setelah yakin, tekad dan praktik harus mengikuti
Jadi, keyakinan sangatlah penting. Keyakinan juga memiliki banyak aspek. Kini kita akan membahas Sepuluh Keyakinan. Ini adalah metode terampil dalam praktik Bodhisattva. Yang pertama adalah keyakinan. Kita harus terlebih dahulu melenyapkan pemikiran keliru untuk dapat berjalan di Jalan Tengah
Jika tidak melenyapkan pemikiran keliru yang penuh ego, kita akan mudah berjalan menyimpang. Jadi, sebelum memiliki keyakinan yang teguh dan sebelum membangun keyakinan, kita harus melenyapkan segala pemikiran keliru. Dengan demikian, kita baru dapat berjalan di Jalan Tengah yang murni; jalan ini baru dapat kita tapaki dengan lurus tanpa menyimpang. Kedua adalah pikiran. Keyakinan ini harus selalu ada di pikiran kita. Setelah membangun keyakinan, keyakinan ini harus tulus dan jernih. Kita harus selalu menjaga keyakinan ini agar senantiasa jernih. Begitu kita meninggalkannya sebentar saja, maka banyak kegelapan batin akan muncul. Jadi, keyakinan kita yang teguh harus selalu ada dalam pikiran kita. Untuk memiliki keyakinan yang tulus dan jernih, semuanya berawal dari pikiran
Jika dapat merealisasikan ini, kita akan mampu menyerap segala kebenaran dan memaklumi segala hal. Dengan memiliki keyakinan benar, kita akan dapat menerima dengan lapang dada semua orang dan masalah yang kita hadapi. Selama keyakinan kita tidak menyimpang, selama keyakinan ada dalam pikiran kita, maka kita akan dapat melakukan segala hal dengan harmonis dan tidak menyimpang. pertama kita harus membangun keyakinan dan berempati terhadap penderitaan semua makhluk. Di mana pun penderitaan terdapat, kita harus mengulurkan tangan ke sana dan tak hanya berlatih demi pencapaian pribadi. Bencana yang terjadi di dunia berkaitan erat dengan kita. Jadi, kita harus membangun keyakinan, baru dapat membangkitkan tekad. Dengan memiliki tekad besar, barulah kita dapat mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Berikutnya adalah pikiran
Pikiran penuh keyakinan ini harus selalu ada dan tak boleh lenyap sedikit pun. Jika lenyap sebentar saja, maka kegelapan batin akan muncul. Jika demikian, akan sulit untuk mengembalikannya
Saudara sekalian, kita semua harus bersungguh hati. Ingatlah, pertama kita harus memiliki keyakinan; kedua, pikiran ini harus terus terjaga. Keyakinan harus benar dan harus terus ada di dalam pikiran kita. Jangan biarkan keyakinan ini hilang. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.